Saturday, December 7, 2013

Catatan ke-60 : Selamat Tinggal Lebanon


Selamat Jalan Garuda!!!!!!!!!
Tanggal tiga belas di bulan Desember tahun dua ribu tiga belas........ Tak terasa sudah setahun plus tiga belas hari, masa penugasanku sebagai “Peace Keeper” di bumi Lebanon. Berbagai macam rasa bercampur aduk menjadi satu ketika badan ini bersiap meninggalkan bumi Lebanon. Saat itu hari Jumat petang menjelang malam, dalam suasana rintik hujan dan mendung tebal menggelayut di langit Lebanon, satu persatu kami bergerak ke lapangan Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon di mana sebuah bus besar berkapasitas 50 penumpang siap mengantarkan kami ke Bandara Internasional Rafic Hariri Beirut.
Setelah menempuh 3 jam perjalanan Naqoura-Beirut, kami pun tiba di area Marshailling Area (MA) Beirut yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari bandara. Di tempat ini rombongan kami bertemu dengan rombongan pasukan dari Indobatt (Indonesian Battalion) yang juga akan menjadi kawan perjalanan kami menuju tanah air. Usai istirahat makan dan sholat, kami pun sebanyak 234 personel gabungan Kontingen Garuda segera “digiring” ke bandara yang selanjutnya menerima tiga koper besar kami yang dikeluarkan dari kontainer, langsung check in, menunggu dan tepat pukul 23.00 LT, kami pun masuk ke Airbus Jordan Aviation yang menjadi langganan kami selama proses pemberangkatan dan pemulangan dari dan ke tanah air.
Ada rasa sedih ketika mata ini mengintip keluar dari jendela kaca pesawat saat pesawat mulai tinggal landas dari Rafic Hariri International Airport, terlihat kerlip-kerlip lampu yang bertebaran di kawasan yang sudah satu tahun aku berada di dalamnya. Mereka seakan mengucapkan salam perpisahan kepada kami, serombongan prajurit dari kawasan yang jaraknya sekitar 8.250 kilimeter yang telah membantu mereka dalam menciptakan suasana damai di Lebanon.
Banyak kenangan menarik yang aku peroleh dari tanah Lebanon ini. Kenangan ketika kami bahu membahu bekerja dalam satu atap dengan rekan kerja Italia, kenangan ketika berinteraksi dengan militer dari puluhan negara yang berbeda karakter dan budaya, kenangan kepada Sodirman Camp yang menjadi tempat tinggalku selama setahun hingga kenangan kepada anak-anak Lebanon yang lucu-lucu dan pintar ketika kami melakukan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah mereka. Semua kenangan ini akan tercatat indah dalam memori hidupku, menjadi bekal penugasanku di masa mendatang.
Ketika aku kembali mengintip suasana di luar pesawat lewat jendela bulat lonjong yang belum aku tutup, titik-titik lampu seperti kunang-kunang yang bertebaran di bawah pesawat masih terlihat samar-samar tertutup awan musim dingin yang mulai menyelimuti udara Lebanon. Aku menghela nafas, ada sesuatu yang aku pikirkan kembali tentang bumi Lebanon ini.
Aku prihatin dengan konflik berkepanjangan yang seakan tak pernah surut menimpa negeri ini. Dalam hati aku juga sedikit heran, sudah 35 tahun Unifil yang merupakan kepanjangan tangan dari Dewan Keamanan PBB melaksanakan tugasnya menjaga perdamaian di negeri ini. Suatu waktu yang menurutku cukup lama dan juga merupakan rekor penugasan PBB yang terlama. Akan tetapi hasilnya? Menurutku pribadi masih “kurang memuaskan” meski secara umum sudah cukup baik dan berhasil. Keberadaan PBB di negeri ini juga seakan kurang memberi dampak  “kapok” untuk Israel yang merupakan seteru abadi Lebanon dalam menjalankan aksi-aksinya. Untuk pelanggaran wilayah udara misalnya, tidak ada kata “segan” apalagi takut bagi pesawat Israel ini untuk “menyeberang” seenaknya melewati perbatasan terutama untuk jenis pesawat tanpa awaknya yakni Unmanned Aerial Vehicle atau UAV. Belum lagi dalam mengurusi dalam negeri Lebanon yang terkadang sering “cakar-cakaran” sendiri antara kelompok/ golongan. Entah berapa tahun lagi, Unifil harus angkat kaki dari bumi Lebanon dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat dengan jaminan tidak ada lagi “perang” yang memicu terganggunya perdamaian dunia utamanya di kawasan Timur Tengah. Tentu saja ini hanya sekilas pemikiran seorang prajurit yang tidak tahu menahu urusan “politik” tingkat atas, apalagi hingga tingkat tataran PBB.
Walaupun demikian tidak ada kata pesimis bagi prajurit TNI dalam melaksanakan misi penugasan di bumi Lebanon. Misi yang telah kami selesaikan dan kini dilanjutkan oleh rekan-rekan sesama TNI, secara bertahap pasti akan selalu meningkat hasilnya yang titik klimaksnya tentu saja ditandai dengan ditariknya tentara Unifil beserta perangkatnya dari Lebanon, sebagai awal terciptanya perdamaian yang hakiki bagi masyarakat Lebanon-Israel pada khususnya dan dunia internasional pada umumnya.

Gembira Bertemu Keluarga
Selain rasa sedih dan duka meninggalkan bumi Lebanon, ada pula rasa lain yang menyelimuti hati ini ketika pesawat mulai terbang jauh ke awan-awan tertinggi di atas 30000 feet, sehingga ketika melongok ke jendela, seakan-akan langit tanpa batas. Rasa tersebut adalah kegembiraan yang luar biasa apabila mengingat beberapa jam lagi aku dan juga seluruh rekanku satu pesawat akan kembali bertemu dengan keluarga di tanah air.
Bila mengingat keluarga, aku membayangkan betapa bahagia, gembira dan leganya hati ini bisa kembali bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga. Sesuai perjanjian awal, keluargaku akan langsung menungguku di bandara. Dan saat-saat inilah yang menurutku sangat menggembirakan dan sekaligus mengharukan. Aku yakin anakku paling bungsu Vio (4 tahun) dan Lita (9 tahun) dan juga isteriku pasti akan lari menubrukku ketika aku nongol dan keluar dari bandara dengan 3 tas bawaanku yang cukup berat. Selanjutnya si kecil ini pasti minta digendong, dan ini aku turuti meski badan ini masih terasa capai setelah menempuh sekitar 13 jam perjalanan melalui udara. Demikian pula dengan si Lita, ia juga tak mau kalau dengan adiknya dengan bergelayutan di tanganku diiringi dengan pertanyaan ini itu yang aku jawab dengan penuh sabar dan sayang. Tapi sayang bayangan itu sirna ketika pesawat yang membawa kami Landing di Halim PK Jakarta pada Sabtu, 14 Desember 2013 tepat pukul 19.00 WIB, kami diwajibkan masuk “karantina” sebelum bertemu keluarga, harus cek kesehatan lengkap esok harinya. Kalau hasilnya tidak ada “kelainan” kami pun nantinya diijinkan untuk bertemu keluarga. Dengan adanya aturan ini maka akhirnya aku bisa bertemu keluarga di esok harinya, menjelang malam. Betapa bahagia dan gembiranya hati ini melihat mereka, suatu kebahagiaan yang sulit digambarkan.
Aku dan keluargaku tercinta
 Memang, sebuah kebahagiaan dan kegembiraan yang aku rasakan sangat luar biasa setelah setahun kami tak bertemu secara langsung dikarenakan tugas di sebuah negara yang bernama Lebanon. Selamat Tinggal Lebanon! Dan ….  selamat bertemu kembali Indonesiaku tercinta!
***


Catatan ke-59 : “Penghargaan” yang Aku Terima


UN Medal, Brevet garuda dan MCOU Unifil

 Sebagai prajurit TNI, meninggalkan keluarga untuk menjalankan tugas yang dibebankan negara merupakan suatu hal yang biasa. Bagi prajurit penugasan itu merupakan suatu kehormatan, kepercayaan dan juga penghargaan yang harus dilaksanakan dengan baik. Meski pun penugasan itu membutuhkan waktu yang lama serta jarak yang cukup jauh, serta juga terkadang mengandung risiko, mengorbankan “nyawa” sekalipun, itu tetap harus dilaksanakan.
Dalam prakteknya di lapangan, tugas itu dilaksanakan dengan tidak meminta pamrih apapun. Semua tugas bermuara kepada satu kata, “berhasilnya tugas pokok” dengan tidak mengharapkan imbalan apa pun, tidak mengharapkan penghargaan dan juga tidak mengharapkan suatu pujian. Kendati penghargaan dan pujian pada beberapa penugasan kadang-kadang “diterima” seiring dengan “berhasilnya” penugasan, namun pada gilirannya, sekedar dijadikan “feedback result” yang akan disandingkan dengan sejumlah kekurangan yang ada dalam tahap evaluasi penugasan..
“Moto” ini umum menjadi pegangan setiap prajurit utamanya para Komandan Satuan dalam “mengeksekusi” suatu tugas yang dibebankan kepadanya atau kepada Satuannya. Dan pemahaman terhadap tugas, risiko dan hasilnya ini akan semakin menguat apabila lingkup penugasannya sudah bukan saja membawa nama satuan atau TNI melainkan membawa nama negara dan bangsa, seperti halnya penugasan luar negeri di bawah bendera PBB. Pada konteks ini maka diyakini seluruh personel TNI akan berusaha bekerja maksimal sesuai bidang tugasnya masing-masing, berbuat  sesuatu yang terbaik dan juga berusaha menjadi yang terbaik. Mereka ini sadar, kesalahan sedikit saja, akan berimbas bukan saja pada nama satuan, angkatan dan TNI, namun juga imbasnya hingga ke tingkat negara di mana nama bendera “merah putih” lah yang dipertaruhkan.
Dengan pedoman tersebut di mana keberhasilan tugas pokok menjadi “main target” maka hal-hal lain yang mengiringinya seperti adanya penghargaan atau rewards dari orang, golongan, maupun negara lain hanyalah dianggap sebagai sesuatu yang “biasa” atau berpijak pada uraian sebelumnya, akan dijadikan bahan sandingan dalam tahap evaluasi penugasan dalam rangka mencapai format ideal untuk penugasan sejenis di masa yang akan datang.

Berinteraksi Dengan Seluruh Komponen
Di dalam kamus bebas “The Free Dictionary by Farlex”, rewards atau penghargaan diartikan sebagai, “ Something given or received in recompense for worthy behavior or in retribution for evil acts; a satisfying return or result; benefit resulting from some event or action; profit and psychology the return for performance of a desired behavior; positive reinforcement” (Sesuatu yang diberikan atau diterima sebagai balasan untuk perilaku yang layak atau retribusi untuk tindakan jahat, kembali memuaskan atau hasil, manfaat atau keuntungan yang dihasilkan dari sejumlah peristiwa atau tindakan; keuntungan psikologi untuk kinerja perilaku yang diinginkan, serta penguatan positif).
Berangkat dari pengertian reward atau penghargaan tersebut di atas maka rewards pada intinya merupakan suatu “balas jasa” terhadap apa yang telah kita lakukan dan kita berbuat. Terkait dengan ini maka aku akan sedikit memberi gambaran sejumlah “rewards” yang aku terima selama menjadi bagian dari “peacekeeper” PBB di Lebanon.
Seperti yang pernah diulas dalam tulisan sebelumnya, aku tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda XXX-C untuk misi Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon). Satgas yang berjumlah 18 prajurit TNI ini bergabung dengan Unifil di dalam unit Military Community Outreach Unit (MCOU). Unit kecil yang bertanggung jawab langsung kepada Unifil Chief Of Staff (COS) ini terdiri dari personel gabungan yakni Indonesia (18 personel), Italia (6 personel) dan Lebanon (6 personel). Secara sederhana tugas unit gabungan ini adalah melakukan kunjungan ke desa/ kelurahan di seluruh area operasi Unifil untuk bertemu dengan local leader/ local people (Mayor/ Mukhtar) dalam rangka “meningkatkan” kerjasama Unifil dengan masyarakat serta mengetahui permasalahan yang mereka hadapi. Desa-desa ini umumnya “dikuasai” atau menjadi tanggung jawab sejumlah kontingen pasukan dari berbagai negara termasuk Kontingen dari Indonesia (Indobatt).
Volume kunjungan ke desa-desa Lebanon tersebut terbilang cukup tinggi yakni 2-3 kali kunjungan dalam seminggu untuk dua tim (Italia dan Indonesia), yang berarti dalam seminggu MCOU melakukan kunjungan 4-6 kali kunjungan ke desa-desa Lebanon. Selain itu sekali dalam seminggu MCOU ini juga melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah  yang ada di area operasi untuk mengenalkan Unifil sekaligus memberikan bantuan alat tulis maupun peralatan sekolah. Dalam setiap kunjungan ini maka kami selalu didampingi oleh satu tim dari pasukan Lebanese Armed Forces (LAF) untuk mengamankan sekaligus membantu kelancaran tugas kami tersebut.
Dari pola kerja tersebut maka tim kami dari Indonesia, setiap harinya bersentuhan / berinteraksi dengan rekan kerja dari Italia, Lebanon termasuk LAF dan juga seluruh kontingen pasukan dari berbagai negara yang memiliki “otoritas” terhadap desa-desa yang kami kunjungi.
Dengan jalinan kerjasama yang tertata rapi dan erat tersebut akhirnya menjelang akhir penugasan, aku dan rekan-rekan mendapat sejumlah penghargaan atau rewards dari mereka, tak terkecuali penghargaan tertinggi bagi setiap prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian PBB yakni UN Peacekeeping Medal.

Penghargaan yang aku Terima
Tanda jasa gabungan dalam dan luar negeri
Selama menjalani penugasan di Lebanon dan menjadi bagian dari pasukan Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), aku dan rekan-rekan Satgas MCOU mendapatkan sejumlah penghargaan resmi antara lain UN Peacekeeping Medal. Penghargaan ini merupakan penghargaan yang diberikan PBB kepada setiap prajurit yang telah berpartisipasi dalam menjalankan tugas-tugas perdamaian di bawah payung PBB. Aku menerima Medali ini bertepatan dengan upacara Indonesia Medal Parade, 30 Agustus 2013 lalu, yakni upacara pemberian UN Medal kepada seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda. Sertifikat UN Medal ini ditandatangani oleh Komandan tertinggi pasukan Unifil atau dikenal dengan sebutan Unifil Head of Mission/ Force Commander Mayjen Paolo Serra.
Sebagian sertifikat
Berikutnya adalah Brevet Garuda, dengan sertifikat resmi yang ditandatangani Komandan Kontingen Garuda. Brevet yang sah untuk dipasang di baju PDH dan PDL TNI, merupakan tanda bahwa yang bersangkutan pernah menjadi bagian dari Kontingen “Garuda” Indonesia dalam penugasan PBB di luar negeri. Brevet lainnya antara lain Dixi Suasi Vici. Brevet ini identik dengan logo MCOU yang dibawahnya tertulis Motto, “Dixi, Suasi, Vici” (Speak, Change the Opinion, Win in the batle). Motto ini kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia adalah “ Mendatangi target audience, berbicara dengan mereka secara persuasi, berusaha membangun dan mengubah pendapat/ opini mereka, maka kita akan memenangkan segala pertempuran/ berhasil dalam melaksanakan tugas pokok”. Brevet ini diperoleh melalui program MCOU Induction Training yang juga merupakan Psyops Training, sedangkan untuk “prakteknya” diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari ketika melakukan kunjungan ke local leader/ local people atau kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada di seluruh area operasi Unifil. Brevet ini diberikan langsung oleh Komandan MCOU.
Selain penghargaan tersebut, kami juga menerima brevet dan sejumlah medali dari rekan kerja dari negara lain seperti dari pemerintah Lebanon, Italia, LAF, Paz Spanyol, CISM, dan juga sertifikat antara lain sertifikat Unifil Induction Training, MCOU Induction Training, Unifil Conduct And Dicipline, Peace Operation Training Insitute, Intermediate dan Advance Engglish Course.
***

Catatan ke-58 : “Menghitung” Uang Saku dari Lebanon

Daily Allowned yang diterimakan setiap bulan oleh prajurit TNI di Lebanon
 Berapa sih gaji atau uang saku yang diterima prajurit TNI yang bertugas di luar negeri salah satunya di Lebanon? Pertanyaan ini memang terkadang dilontarkan teman-teman atau justru oleh personel TNI yang belum mendapatkan informasi atau kebetulan belum mengalami penugasan ke luar negeri. Sedikit gambaran yang mereka tahu bahwa apabila seorang prajurit TNI yang mendapat kehormatan tugas ke luar negeri pasti gajinya “dobel” dan dalam bentuk dolar!. Yach memang betul, di Indonesia gaji utuh, dan di daerah penugasan luar negeri pun mereka mendapatkan gaji atau tepatnya “uang saku” tambahan dari PBB.  Akan tetapi, berapa sich nominalnya?. Inilah yang sedikit akan aku ulas dalam tulisan ringa ini (tulisan ini sekedar memberikan info kepada rekan-rekan di tanah air). 
Sebelum mengarah ke jumlah nominal gaji yang diterima prajurit TNI di Lebanon atau yang bertugas di negara konflik lainnya, aku akan sedikit memberi gambaran umum bahwa tidak semua prajurit yang tergabung dalam misi PBB mendapatkan jumlah uang saku atau gaji yang sama. Bahkan di dalam penugasan di Negara yang sama pun belum tentu mendapatkan gaji atau uang saku yang sama. Di sini di kenal tiga tingkatan status penugasan dengan tingkatan gaji yang berbeda pula. Dari urutan gaji atau uang saku terbesar adalah Military Observer (Milobs) yang umumnya diambil dari Perwira Menengah (Pamen) TNI, selanjutnya Staff Officer (SO) atau bisa disebut dengan Military Staff (Milstaf) yang umumnya juga diambil dari kalangan Perwira. Yang terakhir adalah mereka yang tergabung dalam Kontingen besar yang umumnya dikepalai oleh Seorang Komandan Kontingen, yang selanjutnya kita kenal dengan sebutan Kontingen Garuda.
Selain tingkatan status penugasan, daerah penugasan pun mempengaruhi nominal uang saku yang diberikan PBB terhadap setiap prajurit yang berpartisipasi di dalamnya. Seorang prajurit dengan status kontingen misalnya akan lebih tinggi uang sakunya ketika ditugaskan PBB di daerah konflik dengan status yang cukup rawan, dibandingkan seorang prajurit lain yang ditugaskan di daerah yang relative aman dan terkendali. Istilah yang digunakan PBB dalam “intervensi” nya di daerah konflik antara lain  dikenal dengan Peace Enforcement dengan mendasarkan pada Chapter VII Piagam PBB yakni adanya penggunaan angkatan bersenjata untuk memelihara dan memulihkan perdamaian dan keamanan Internasional dalam rangka menghadapi ancaman perdamaian, pelanggaran perdamaian, atau tindakan agresi. Sedangkan lainnya  adalah Peacekeeping berupa operasi yang digelar PBB dalam rangka menjamin proses perdamaian yang disepakati oleh masing-masing pihak, dan dalam mendukung usaha untuk meningkatkan keamanan dan saling percaya untuk mencapai penyelesaian perdamaian dalam jangka panjang.
Dari kategori tingkat “kerawanan” tersebut maka seluruh prajurit TNI yang sedang ditugaskan di Lebanon merupakan “Peacekeeper” dengan gaji sesuai standard PBB untuk seorang Peacekeeper dengan Chapter VI dari Piagam PBB yang menjadi landasannya.

Lebih Besar dan Lebih Kecil
Saat ini, prajurit TNI yang tergabung dalam misi penugasan PBB di Lebanon terbagi dalam beberapa Satuan Tugas (Satgas) dengan nomor Kontingen Garuda yang juga berbeda.  Satgas tersebut adalah Batalyon Mekanis Indonesia atau akrab dikenal dengan sebutan Indonesian Batalyon (Indobatt), Force Protection Company (FPC), Sector East Military Police Unit (Sempu), Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Military Community Outreach Unit (MCOU), Level II Hospital, dan Civil Military Coordination (Cimic) dan sejumlah personel yang bertugas di Sektor (Sector  East maupun Sector West Unifil).
Seluruh Personel TNI tersebut di atas memiliki ciri pengenal ID berklasifikasi MI (Military). Dan kalau berbicara masalah “uang saku” yang diterima selama masa penugasan, maka mereka ini mendapatkan hak  yang sama dari PBB dengan tidak mengenal pangkat maupun jabatan. Hak tersebut adalah mendapatkan uang saku US $1106  per bulan (sekitar Rp. 12.166.000,- dengan kurs satu dolarnya Rp. 11.000,-). Selain uang saku atau juga akrab dikenal dengan sebutan “gaji UN”, setiap prajurit juga menerima uang harian (daily allowned) sebesar $1,27 per harinya atau sekitar US $ 38-39 (sekitar Rp. 418.000 – Rp. 429.000,-, dengan kurs dolar Rp. 11.000,- per satu dolarnya). Ada pula tambahan uang spesialisasi yang nilainya hampir sama dengan nilai uang harian (pengelolaannya diserahkan ke Satgas masing-masing). Jadi total dalam sebulan, selain gaji di dalam negeri yang tetap utuh, setiap prajurit TNI menerima “gaji” tambahan dari UN sekitar 12 juta lebih.
Bagaimana dengan gaji tentara dari negara lain yang bertugas di Unifil? Dari beberapa pertemuan dan perbincanganku dengan rekan-rekan tentara dari Negara lain, ternyata gaji atau uang saku mereka bervariasi, ada yang lebih besar, ada pula yang lebih kecil dengan standard gaji yang diterima prajurit TNI. Sebagai gambaran, untuk tentara Kamboja yang bermarkas di Marjeyoun, mereka menerima gaji UN sesuai dengan strata kepangkatannya. Untuk yang Tamtama US$ 600, Bintara US$ 800 dan untuk Perwiranya US$ 1000. Gaji yang diterima prajurit Kamboja ini tidak jauh berbeda dengan gaji yang diterima prajurit dari Nepal, Bangladesh, Srilanka yang bervariasi dalam kisaran angka tersebut. Dengan angka ini maka gaji yang diterima prajurit TNI, Alhamdulillah lebih besar dari gaji yang mereka dapatkan selama misi penugasan di PBB.
Dibandingkan Tanzania, Nepal dan Srilanka, alhamdulillah lebih besar
Bagaimana pula dengan gaji tentara UN dari Negara-negara Eropa seperti Perancis, Italia, Jerman, Spanyol dan sebagainya? Ternyata kita masih kalah jauh. Dalam sebuah percakapan ringan dengan OF1 Rosari Talarico, rekan kerjaku dari Italia, ia mengaku digaji sebagai Officer sebesar 150 Euro per hari ( atau sekitar Rp.2,25 juta dengan kurs 15 ribu per 1 Euronya) atau kalau dihitung dalam sebulan (30 hari) maka ia mendapatkan gaji sebesar 4500 Euro atau setara dengan 67,5 juta per bulannya dengan menggunakan angka kurs yang sama. Jumlah ini jelas lebih besar lima kali lipat dengan jumlah yang diterima oleh prajurit TNI. Tapi jangan pesimis dulu, gaji sebesar itu sebenarnya tidak beda jauh nilainya bila dibelanjakan di Negara masing-masing. Sebagai contoh yang paling gampang jika rokok Marlboro di Indonesia misalnya dijual seharga Rp 15.000,- maka Marlboro di Negara Piza Itali dijual dengan harga 6 Euro atau sekitar Rp.90.000,-., Dengan harga ini maka terlihat bahwa harga Marlboro di Italia enam kali lipat lebih mahal dibandingkan Indonesia. Demikian pula dengan beberapa harga kebutuhan pokok yang lain yang jelas akan lebih mahal beberapa kali lipat dengan harga di Indonesia. Dalam arti gaji yang lima kali lipat dari Indonesia akan “hampir sama” nilainya dari segi pemanfaatannya. Dari beberapa sumber, gaji UN yang diterima prajurit dari Eropa ini sebenarnya berada pada kisaran gaji prajurit TNI, akan tetapi jumlah itu melonjak dengan adanya subsidi dari negara masing-masing agar proporsional dengan gaji yang mereka terima di negaranya.
Dengan tentara Italia, uang saku kita "masih kalah"
Kembali ke masalah gaji UN, untuk gaji civilian (tenaga kerja kontrak dari kalangan sipil)  terutama mereka yang berasal dari penduduk asli Lebanon maka gajinya pun bervariasi. Seorang “tukang sapu” di kantor kami yang telah mengabdi beberapa tahun di UN mengaku mendapatkan gaji dari UN sebesar US$ 800 (Rp.8, 8 juta dengan kurs satu dolarnya Rp. 11 ribu). Sedangkan untuk mereka yang bergabung sebagai Language Assistant  (LA) yang tersebar hampir di seluruh unit Unifil baik staff maupun kontingen pasukan, rata-rata memperoleh gaji sebesar US$3000 (Rp. 33 juta dengan kurs yang sama untuk satu dolarnya yakni Rp. 11 ribu). Gaji sebesar ini juga hampir tak jauh beda dari nilai pemanfaatannya  di mana beaya hidup di Lebanon terbilang tinggi bila dibandingkan dengan beaya hidup di Indonesia.
Selain mereka yang tergabung dalam kontingen besar yakni Kontingen Garuda dengan gaji standard MI dengan nilai yang telah diuraikan sebelumnya, Indonesia juga mengirimkan sejumlah prajurit (umumnya Perwira dan sebagian dari Bintara) yang status IDnya berkode SO atau Staff Officer. Untuk golongan mereka ini, gajinya berbeda dengan personel kontingen atau MI, di mana mereka mendapatkan gaji atau uang saku sebesar US$ 77 per hari plus uang harian (minus uang spesialisasi). Bila dikalikan 30 maka gaji SO ini mencapai US$ 2310 atau sekitar Rp. 25,41 juta, cukup besar bukan? Tapi tunggu dulu, itu pendapatan kotor karena mereka harus membayar sendiri seluruh beaya akomodasi seperti penginapan, komunikasi termasuk pula makan mereka sehari. Untuk makan saja, misalnya yang disediakan di International Mess (ruang makan international), mereka yang tergabung dalam SO in harus merogoh kocek sebesar US$ 8 dengan perincian 2 dolar untuk makan pagi, 3 dolar makan siang dan 3 dolar untuk makan malamnya. Jadi kalau mereka mengandalkan makan di tempat ini maka untuk sebulan, mereka harus mengeluarkan uang sekitar US$ 240. Belum lagi untuk pengeluaran lain di mana mereka harus mandiri. Dari informasi sebagian dari golongan ini yang telah pulang ke tanah air, maka mereka bisa menyisihkan gaji UN per bulannya sekitar US$ 1500-US$ 1800 atau sekitar  Rp.16, 5 juta hingga Rp 19,8 juta per bulannya, tergantung dari pemakaian masing-masing personel.

Pengeluaran
Sekarang pertanyaannya, berapa sich uang yang bisa disisihkan oleh setiap prajurit TNI yang tergabung dalam kontingen Garuda berstatus MI  dengan uang  saku sebesar US $1106 per bulan plus uang harian (daily allowned) sebesar $1,27 per harinya dan uang spesialisasi yang nilainya hampir sama dengan uang harian?
Jawabannya, tergantung dari pengeluaran si prajurit TNI itu sendiri. Secara umum memang tidak ada pengeluaran resmi seperti halnya personel TNI yang berstatus Staff Officer yang harus menyisihkan gajinya untuk beaya akomodasi termasuk makan yang nilainya ratusan dolar, semua dukungan untuk prajurit yang bertitel MI sudah terpenuhi semua oleh Unifil, mulai dari asrama (korimek), makanan hingga dukungan menu  tambahan/ nutrisi seperti roti, susu, jus, buah-buahan dan lainnya yang cukup berlebihan. Dengan dukungan yang mencukupi ini maka logikanya memang sudah cukup untuk bisa hidup di Lebanon, akan tetapi terkadang “sebagian” prajurit masih menonjolkan “aji mumpung”, mumpung ada duit tambahan sehingga akhirnya budaya “belanjalah” yang menjadi pilihan utama terutama belanja peralatan elektronik seperti computer Laptop, Notebook, HP, Ipad, jam tangan dan pakaian merk terkenal yang harganya mencapai 300 – 800 dolar. Akibatnya, sebagian gaji cash yang mereka terima di daerah penugasan yang rata-rata US$ 300 “habis” untuk keperluan belanja tersebut (seperti diketahui, sebagian Satgas memilih kebijakan menyisakan sebagian besar gaji prajurit TNI dalam tabungan di Indonesia serta sebagian kecil lainnya diberikan langsung dalam bentuk cash/ tunai di daerah penugasan Lebanon untuk per bulannya).
Pengeluaran lain yang menyedot beaya cukup besar adalah ketika musim cuti tiba di mana umumnya dimanfaatkan untuk Umroh  atau pulang ke Indonesia atau kedua-duanya, Umroh dan juga pulang ke Indonesia. Untuk Umroh ke tanah suci Mekah rata-rata membutuhkan beaya lebih dari US$ 1000 (plus oleh-oleh, untuk umroh sendiri beayanya sekitar US$750) sedangkan untuk pulang Indonesia dengan tiket pesawat rata-rata US$900 pada umumnya bisa menyedot beaya lebih dari US$1500 (plus oleh-oleh). Belum lagi bagi mereka yang memilih kedua-duanya, Umroh dan juga pulang ke Indonesia yang tentunya bisa menyedot beaya sekitar 2000-2500 US Dolar (sekitar Rp 21 juta – 26, 25 juta). Bagaimana kalau mereka yang dua kali pulang ke Indonesia dalam dua kesempatan cuti tahunan yang diberikan UN, pengeluaran tentu saja lebih besar dibandingkan mereka yang hanya sekali pulang atau bahkan mereka yang tidak pernah pulang ke Indonesia dan hanya menikmati cuti atau liburan di seputar Lebanon/ lingkungan Kamp saja.
Pengeluaran dan beaya ekstra akan bertambah pula menjelang kepulangan prajurit TNI dari daerah penugasan Lebanon. Untuk yang satu ini umumnya mereka termasuk aku mencari sejumlah kenang-kenangan unik yang jarang ditemui di Indonesia mulai dari barang perhiasan dan baranng pecah belah, makanan seperti Coklat dan buah tin, minyak zaitun, dan pernak-pernik lain yang kiranya pantas untuk oleh-oleh keluarga dan handai taulan di tanah air.
Untuk aku sendiri dengan gaji utuh di tanah air serta uang saku dari daerah penugasan memang sedikit banyak “menambah” jumlah tabunganku. Namun demikian jumlah yang aku peroleh tidaklah bulat seperti hitungan gampang matematika. Seperti halnya hampir seluruh rekan kontingen garuda, sebagian gaji dari UN ini dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari di Lebanon, melaksanakan ibadah Umroh ke tanah suci Mekah dan juga pulang ke tanah air sewaktu musim cuti, serta tak lupa untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga dan rekan-rekan di tanah air. Dari sini tentunya dapat ditebak berapa jumlah tabungan rata-rata prajurit sepulang dari daerah penugasan Lebanon.
Uang saku gaji “dobel” dari daerah penugasan tersebut sebenarnya bila dihitung-hitung sesuai dengan perjuangan para prajurit. Mereka harus melaksanakan tugas berisiko tinggi dan juga jauh dari keluarga serta mereka harus pula melalui seleksi yang cukup ketat dengan Pre Dployment Training (PDT) yang juga cukup berat. Belum lagi sebagian besar dari mereka, terutama yang ditugaskan di pos-pos strategis, harus menguasai bahasa Inggris dengan baik dan lancar
***

Saturday, October 19, 2013

Catatan ke-57 : “Hunting” Oleh-Oleh Khas Lebanon


Coklat Khas Lebanon
Membawa oleh-oleh untuk keluarga tercinta serta kerabat dekat termasuk para sahabat merupakan budaya yang sangat kental bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi bila tempat bepergiannya terbilang jauh semisal dari luar negeri, tentunya terasa kurang lengkap dan kurang afdol bila saat pulang ke tanah air “lenggang kangkung” atau tanpa membawa apa yang namanya oleh-oleh ini. Demikian pula dengan prajurit TNI yang sedang melaksanakan misi penugasan PBB di Lebanon, mereka juga memiliki pandangan yang sama, paling tidak membawa oleh-oleh dari daerah penugasan.
Aneka jajanan coklat yang cocok untuk oleh-oleh
Berbicara tentang oleh-oleh ini maka ada beberapa jenis oleh-oleh yang menjadi favoritku dan juga rekan-rekan Satgas yang lain. Oleh-oleh yang pertama adalah coklat khas Lebanon. Coklat dari negara yang sering dilanda konflik dengan Israel ini terkenal karena rasa dan kualitasnya yang terbilang tinggi. Bahkan untuk kawasan Timur Tengah, coklat Lebanon dianggap yang paling bagus dari segi rasa maupun variasinya. Aku yang beberapa kali mencobanya juga terasa ada “taste” yang berbeda, ada rasa gurih, renyah, manis dan harum dengan rasa coklat yang sangat terasa melekat di setiap gigitannya.
Salah satu toko coklat yang menjadi langganan prajurit TNI serta prajurit Unifil dari sejumlah negara lainnya adalah toko kepunyaan Ali, seorang pemuda Lebanon yang mewarisi usaha coklat dari keluarganya. Ali dengan dua saudara dan dua kawannya membuka sebuah toko coklat di kawasan pantai wisata Tyre, Lebanon. Di toko yang letaknya di seberang jalanan pantai yang ramai dikunjungi orang ini, tersedia coklat dengan puluhan rasa dan bentuknya yang unik. Coklat-coklat berukuran kecil ini dikemas dengan kertas pembungkus dengan pita kecil berwarna emas maupun perak yang menyolok dengan pilihan bentuknya yang unik seperti bulat, persegi panjang, kotak, lonjong dan sebagainya. Untuk harga 1 kilogram dengan kualitas coklat yang baik, Ali mematok harga US$ 8,00 atau sekitar Rp.84.000,- (untuk isi kemasan 1 kilo berisi sekitar 50 coklat kecil). Memang dibandingkan dengan Indonesia kelewat mahal, akan tetapi dengan melihat keunikan dan rasanya, harga tersebut malah terbilang murah.
Warung coklat di Tyre, Lebanon
Selain coklat, di toko Ali ini juga tersedia aneka panganan. Untuk yang satu ini, aku dan rekanku biasanya membeli buah tin yang sudah dikeringkan seharga US$ 10,00 untuk 3 bungkusnya. Kami juga membeli buah tin yang sudah dikemas rapi seberat 3 kilogram seharga US$ 20,00.  Buah Tin jenis ini rasanya kenyal dan manis dengan kemasan unik di mana setiap bijinya dibungkus tersendiri.

Dari Sunto, Oakley 
hingga “Tas Murah”
Untuk pernak-pernik lain sebagai oleh-oleh pulang tanah air, sebagian dari rekanku umumnya mengejar beberapa produk jam tangan, kacamata maupun sepatu. Produk-produk ini dijual lumayan cukup murah di toko milik Mahdi di Menghy Street, Naqoura, South Lebanon. Di toko yang juga menjual peralatan elektronik seperti laptop dan notebook ini, ratusan jam tangan dengan merk dan kualitas serta harga berbeda terpajang rapi. Untuk oleh-oleh, sebagian rekanku membeli beberapa jam tangan merk Casio yang cukup murah dengan harga rata-rata US$ 25-100, Edifice US$ 80-200, G-Shock US$ 100-300, atau ada pula yang membeli jam tangan merk Sunto Ambit yang harganya mencapai 350 Euro atau sekitar Rp. 5.250.000,- (bila 1 Euro dihitung Rp 15 ribu).
Sunto, tas militer dan kacamata Oakley
Barang lain yang paling sering dibeli untuk oleh-oleh adalah sepatu dan kacamata. Merk yang sering diincar adalah Oakley yang cukup mahal dengan kisaran harga lebih dari US$ 100,00. Oleh-oleh ini biasanya disiapkan untuk kerabat maupun titipan untuk “sang Komandan” satuan masing-masing. Barang-barang ini dapat dijumpai di sejumlah military shop/ store yang berada di sepanjang Menghy Street Naqoura atau Marjeyoun. Ada pula yang menjelajah di sejumlah PX atau Post Exchange (di Indonesia mirip Koperasi satuan/ lembaga) seperti di PX Internasional, PX Indonesia maupun PX Perancis yang terkenal dengan kelengkapan barangnya.
Selain jam tangan, sepatu dan kacamata, ada pula barang lain yang menjadi favorit oleh-oleh rekan-rekan Satgas Garuda, yakni pernak pernik tas militer. Tas model “Combat Pack” seperti tas punggung maupun tas pinggang dengan pilihan warna doreng gurun maupun doreng hijau merupakan yang paling banyak dibeli prajurit TNI. Tas dengan kualitas bahan dan jahitan yang cukup bagus dan kuat ini dibeli dengan harga bervariasi mulai dari harga termurah US$ 10 hingga US$ 100 dolar. Toko yang menyediakan peralatan dan barang ini ada di sepanjang Menghy Street Naqoura di Toko Mahmud, Abah Ali atau yang paling lengkap di toko milik George dan H. Nurdin di Marjeyoun.

Minyak dan Pohon Zaitun
Oleh-oleh favorit lainnya yang banyak dibawa prajurit Kontingen Garuda dari Lebanon adalah minyak dan pohon Zaitun. Minyak zaitun ini merupakan ektrak pertama dari buah zaitun tanpa campuran bahan kimia dan mempunyai kadar asid yang rendah. Khasiat dan manfaat minyak zaitun asli adalah bisa mengobati berbagai penyakit. Di pasaran minyak zaitun ini dikenal dengan sebutan “Virgin Olive Oil”. Beberapa khasiat dan manfaat minyak Zaitun antara lain  untuk mencerahkan wajah, anti penuaan dan untuk awet muda, mengobati sakit lutut, arthritis dan mengobati sendi-sendi yang ngilu, mengobati leukemia, obat sakit gigi dan gusi, mengobati sakit jantung, dijadikan minyak pijat atau urut serta menumbuhkan rambut.
Dengan pertimbangan khasiat minyak Zaitun yang sangat bermanfaat bagi keluarga dan banyak orang di tanah air tersebut maka hampir seluruh prajurit membawa minyak jenis ini untuk oleh-oleh pulang ke tanah air, meski pun hanya sekedar satu atau dua liter saja. Store atau toko oleh-oleh yang menyiapkan minyak Zaitun ini cukup banyak seperti yang ada di sepanjang jalan menuju kota Tyre, Marjayeoun hingga Naqoura. Ada pula yang lebih lengkap dengan variasi kemasan yang beraneka macam yang dijual dan tersedia di Super Market Al-Janaoub di kawasan Tyre, Lebanon. Harga per kilonya untuk minyak jenis ini cukup bervariasi sekitar US$ 8 hingga US$ 15 tergantung kualitas dan kemasannya (asli atau campuran). Aku sendiri untuk oleh-oleh jenis ini membawa sekitar 5 kilogram dengan harga per kilonya US$ 13,00 yang aku beli dari Jihad, seorang Language Assistant asli Lebanon yang mengaku memiliki usaha bisnis minyak zaitun, patungan dengan kerabatnya di Lebanon. Untuk membawanya ke tanah air harus dengan kemasan khusus karena barang ini merupakan salah satu jenis barang yang “haram” dibawa dengan pesawat terbang.
Minyak Zaitun (kiri), Pohon Zaitun dan Pohon Tin (kanan)
Selain minyak Zaitun, pohon Zaitun juga menjadi salah satu incaran prajurit TNI untuk dijadikan oleh-oleh dari daerah penugasan Lebanon. Pohon yang dibawa pulang ini umumnya berukuran kecil hasil dari stek yang dibeli dari beberapa tempat jual beli tanaman hias dengan harga sekitar 5- 10 dolar atau dari hasil cangkok sendiri. Ada pula pohon lain yang banyak dibawa rekan-rekan termasuk aku sendiri yakni pohon Tin yang pembudidayaannya lebih gampang dengan cara distek (di Indonesia seperti menanam singkong). Untuk membawanya, pohon Zaitun dan Tin dikemas sederhana, dengan menggunakan kemasan kecil Aqua botol sebagai potnya, kemudian dibungkus dengan kain atau kaos kaki bekas dan selanjutnya bisa dimasukkan ke dalam tas/ koper yang berukuran cukup besar.
Oleh-oleh tambahan lain yang juga sering dibawa rekan-rekan dari daerah Satgas Lebanon adalah pakaian untuk keluarga maupun kerabat. Kelebihan membeli oleh-oleh jenis ini adalah dari segi mutu dan kualitas yang umumnya cukup bagus dan selalu mengikuti trend mode mutakhir. Berbicara masalah harga, secara umum memang relatif mahal ketimbang pakaian sejenis yang dijajakan di boutiqe atau distro-distro yang ada di Indonesia. Meski demikian ada rasa kepuasan melihat kualitas dan mode yang ditampilkan.
Khusus untuk oleh-oleh berupa kaos penugasan yang umumnya akan dibagikan kepada teman-teman kantor atau saudara, sebagian besar prajurit memesannya langsung ke Indonesia lewat sejumlah rekan Satgas yang memiliki link langsung ke pabrik kaos. Umumnya kaos ini dipesan dalam jumlah yang cukup banyak sekitar 50-100 pieces dengan harga yang bervariasi dari 30 hingga 60 ribu rupiah. Untuk yang ini, aku sendiri memesan 100 kaos seharga 36 ribu per bijinya atau total US$ 343,00  yang aku pesan di salah seorang rekan Satgas Indo FPC yang memiliki pabrik kaos di Bandung.

“Wanti-Wanti” Kelebihan Muatan
Membawa oleh-oleh yang cukup banyak dari daerah penugasan sebenarnya merupakan idaman setiap prajurit untuk memuaskan permintaan maupun keinginan keluarga, saudara atau teman yang ada di tanah air. Akan tetapi semua itu tentu ada batasannya terutama terkait “jatah” bawaan masing-masing orang yang ditentukan agar bisa masuk pesawat dan bisa terbawa hingga ke tanah air.
Diperiksa dulu oleh MP Tanzania sebelum di bawa ke bandara
Tidak seperti halnya pesawat komersil yang mematok jatah bagasi penumpang sekitar 40 kg dan kabin 8 kg, maka untuk pesawat yang membawa aku dan rekan-rekan Satgas kembali ke tanah air merupakan pesawat carteran PBB dengan ketentuan bagasi yang lumayan lebih longgar. Sesuai dengan ketentuan yang disepakati, masing-masing dari kami mendapat jatah bagasi maksimal 100 kg. Jatah bagasi ini belum dikurangi barang perlengkapan Satgas seperti senjata dan peralatan organik lainnya yang memakan bagasi 25 kg per orang. Jadi setiap orang mendapat jatah bersih untuk barang di bagasi pesawat seberat 75 kg. Jumlah yang tentunya cukup lumayan buat mengangkut seluruh perlengkapan dan tentu saja oleh-oleh.
Dengan jumlah tersebut bagi yang “hobi” belanja memang terbilang masih kurang. Alhasil mereka pun akhirnya membatasi jumlah bawaan mereka terutama yang kecil-kecil tetapi cukup berat seperti minyak zaitun, coklat dan sebagainya. Mereka memilih aman mengurangi beban oleh-oleh, ketimbang “dipaksakan” dibawa, toh akhirnya tidak bisa masuk bagasi, dan akhirnya “terbuang” karena kelebihan muatan.
***