 |
| Daily Allowned yang diterimakan setiap bulan oleh prajurit TNI di Lebanon |
Berapa sih gaji atau uang saku yang diterima prajurit TNI yang bertugas di luar negeri salah satunya di Lebanon? Pertanyaan ini memang terkadang dilontarkan teman-teman atau justru oleh personel TNI yang
belum mendapatkan informasi atau kebetulan belum mengalami penugasan ke luar
negeri. Sedikit gambaran yang mereka tahu bahwa apabila seorang prajurit TNI
yang mendapat kehormatan tugas ke luar negeri pasti gajinya “dobel” dan dalam
bentuk dolar!. Yach memang betul, di Indonesia gaji utuh, dan di daerah
penugasan luar negeri pun mereka mendapatkan gaji atau tepatnya “uang saku”
tambahan dari PBB. Akan tetapi, berapa
sich nominalnya?. Inilah yang sedikit akan aku ulas dalam tulisan ringa ini (tulisan ini sekedar memberikan info kepada rekan-rekan di tanah air).
Sebelum mengarah
ke jumlah nominal gaji yang diterima prajurit TNI di Lebanon atau yang bertugas
di negara konflik lainnya, aku akan sedikit memberi gambaran umum bahwa tidak
semua prajurit yang tergabung dalam misi PBB mendapatkan jumlah uang saku atau
gaji yang sama. Bahkan di dalam penugasan di Negara yang sama pun belum tentu
mendapatkan gaji atau uang saku yang sama. Di sini di kenal tiga tingkatan status
penugasan dengan tingkatan gaji yang berbeda pula. Dari urutan gaji atau uang
saku terbesar adalah Military Observer (Milobs) yang umumnya diambil dari
Perwira Menengah (Pamen) TNI, selanjutnya Staff Officer (SO) atau bisa disebut
dengan Military Staff (Milstaf) yang umumnya juga diambil dari kalangan
Perwira. Yang terakhir adalah mereka yang tergabung dalam Kontingen besar yang
umumnya dikepalai oleh Seorang Komandan Kontingen, yang selanjutnya kita kenal
dengan sebutan Kontingen Garuda.
Selain tingkatan
status penugasan, daerah penugasan pun mempengaruhi nominal uang saku yang
diberikan PBB terhadap setiap prajurit yang berpartisipasi di dalamnya. Seorang
prajurit dengan status kontingen misalnya akan lebih tinggi uang sakunya ketika
ditugaskan PBB di daerah konflik dengan status yang cukup rawan, dibandingkan
seorang prajurit lain yang ditugaskan di daerah yang relative aman dan
terkendali. Istilah yang digunakan PBB dalam “intervensi” nya di daerah konflik
antara lain dikenal dengan Peace
Enforcement dengan mendasarkan pada Chapter VII Piagam PBB yakni adanya
penggunaan angkatan bersenjata untuk memelihara dan memulihkan perdamaian dan
keamanan Internasional dalam rangka menghadapi ancaman perdamaian, pelanggaran
perdamaian, atau tindakan agresi. Sedangkan lainnya adalah Peacekeeping berupa operasi yang
digelar PBB dalam rangka menjamin proses perdamaian yang disepakati oleh
masing-masing pihak, dan dalam mendukung usaha untuk meningkatkan keamanan dan
saling percaya untuk mencapai penyelesaian perdamaian dalam jangka panjang.
Dari kategori
tingkat “kerawanan” tersebut maka seluruh prajurit TNI yang sedang ditugaskan
di Lebanon merupakan “Peacekeeper” dengan gaji sesuai standard PBB untuk
seorang Peacekeeper dengan Chapter VI dari Piagam PBB yang menjadi landasannya.
Lebih
Besar dan Lebih Kecil
Saat ini, prajurit
TNI yang tergabung dalam misi penugasan PBB di Lebanon terbagi dalam beberapa Satuan
Tugas (Satgas) dengan nomor Kontingen Garuda yang juga berbeda. Satgas tersebut adalah Batalyon Mekanis Indonesia
atau akrab dikenal dengan sebutan Indonesian Batalyon (Indobatt), Force
Protection Company (FPC), Sector East Military Police Unit (Sempu), Force
Headquarter Support Unit (FHQSU), Military Community Outreach Unit (MCOU),
Level II Hospital, dan Civil Military Coordination (Cimic) dan sejumlah
personel yang bertugas di Sektor (Sector
East maupun Sector West Unifil).
Seluruh Personel
TNI tersebut di atas memiliki ciri pengenal ID berklasifikasi MI (Military).
Dan kalau berbicara masalah “uang saku” yang diterima selama masa penugasan,
maka mereka ini mendapatkan hak yang
sama dari PBB dengan tidak mengenal pangkat maupun jabatan. Hak tersebut adalah
mendapatkan uang saku US $1106 per bulan
(sekitar Rp. 12.166.000,- dengan kurs satu dolarnya Rp. 11.000,-). Selain uang
saku atau juga akrab dikenal dengan sebutan “gaji UN”, setiap prajurit juga
menerima uang harian (daily allowned) sebesar $1,27 per harinya atau sekitar US
$ 38-39 (sekitar Rp. 418.000 – Rp. 429.000,-, dengan kurs dolar Rp. 11.000,- per
satu dolarnya). Ada pula tambahan uang spesialisasi yang nilainya hampir sama
dengan nilai uang harian (pengelolaannya diserahkan ke Satgas masing-masing).
Jadi total dalam sebulan, selain gaji di dalam negeri yang tetap utuh, setiap
prajurit TNI menerima “gaji” tambahan dari UN sekitar 12 juta lebih.
Bagaimana dengan
gaji tentara dari negara lain yang bertugas di Unifil? Dari beberapa pertemuan
dan perbincanganku dengan rekan-rekan tentara dari Negara lain, ternyata gaji
atau uang saku mereka bervariasi, ada yang lebih besar, ada pula yang lebih
kecil dengan standard gaji yang diterima prajurit TNI. Sebagai gambaran, untuk
tentara Kamboja yang bermarkas di Marjeyoun, mereka menerima gaji UN sesuai
dengan strata kepangkatannya. Untuk yang Tamtama US$ 600, Bintara US$ 800 dan
untuk Perwiranya US$ 1000. Gaji yang diterima prajurit Kamboja ini tidak jauh
berbeda dengan gaji yang diterima prajurit dari Nepal, Bangladesh, Srilanka
yang bervariasi dalam kisaran angka tersebut. Dengan angka ini maka gaji yang
diterima prajurit TNI, Alhamdulillah lebih besar dari gaji yang mereka dapatkan
selama misi penugasan di PBB.
 |
| Dibandingkan Tanzania, Nepal dan Srilanka, alhamdulillah lebih besar |
Bagaimana pula
dengan gaji tentara UN dari Negara-negara Eropa seperti Perancis, Italia,
Jerman, Spanyol dan sebagainya? Ternyata kita masih kalah jauh. Dalam sebuah
percakapan ringan dengan OF1 Rosari Talarico, rekan kerjaku dari Italia, ia
mengaku digaji sebagai Officer sebesar 150 Euro per hari ( atau sekitar Rp.2,25
juta dengan kurs 15 ribu per 1 Euronya) atau kalau dihitung dalam sebulan (30
hari) maka ia mendapatkan gaji sebesar 4500 Euro atau setara dengan 67,5 juta
per bulannya dengan menggunakan angka kurs yang sama. Jumlah ini jelas lebih
besar lima kali lipat dengan jumlah yang diterima oleh prajurit TNI. Tapi
jangan pesimis dulu, gaji sebesar itu sebenarnya tidak beda jauh nilainya bila
dibelanjakan di Negara masing-masing. Sebagai contoh yang paling gampang jika
rokok Marlboro di Indonesia misalnya dijual seharga Rp 15.000,- maka Marlboro
di Negara Piza Itali dijual dengan harga 6 Euro atau sekitar Rp.90.000,-.,
Dengan harga ini maka terlihat bahwa harga Marlboro di Italia enam kali lipat
lebih mahal dibandingkan Indonesia. Demikian pula dengan beberapa harga
kebutuhan pokok yang lain yang jelas akan lebih mahal beberapa kali lipat
dengan harga di Indonesia. Dalam arti gaji yang lima kali lipat dari Indonesia
akan “hampir sama” nilainya dari segi pemanfaatannya. Dari beberapa sumber,
gaji UN yang diterima prajurit dari Eropa ini sebenarnya berada pada kisaran
gaji prajurit TNI, akan tetapi jumlah itu melonjak dengan adanya subsidi dari
negara masing-masing agar proporsional dengan gaji yang mereka terima di
negaranya.
 |
| Dengan tentara Italia, uang saku kita "masih kalah" |
Kembali ke
masalah gaji UN, untuk gaji civilian (tenaga kerja kontrak dari kalangan
sipil) terutama mereka yang berasal dari
penduduk asli Lebanon maka gajinya pun bervariasi. Seorang “tukang sapu” di
kantor kami yang telah mengabdi beberapa tahun di UN mengaku mendapatkan gaji
dari UN sebesar US$ 800 (Rp.8, 8 juta dengan kurs satu dolarnya Rp. 11 ribu).
Sedangkan untuk mereka yang bergabung sebagai Language Assistant (LA) yang tersebar hampir di seluruh unit
Unifil baik staff maupun kontingen pasukan, rata-rata memperoleh gaji sebesar US$3000
(Rp. 33 juta dengan kurs yang sama untuk satu dolarnya yakni Rp. 11 ribu). Gaji
sebesar ini juga hampir tak jauh beda dari nilai pemanfaatannya di mana beaya hidup di Lebanon terbilang
tinggi bila dibandingkan dengan beaya hidup di Indonesia.
Selain mereka
yang tergabung dalam kontingen besar yakni Kontingen Garuda dengan gaji standard
MI dengan nilai yang telah diuraikan sebelumnya, Indonesia juga mengirimkan
sejumlah prajurit (umumnya Perwira dan sebagian dari Bintara) yang status IDnya
berkode SO atau Staff Officer. Untuk golongan mereka ini, gajinya berbeda
dengan personel kontingen atau MI, di mana mereka mendapatkan gaji atau uang
saku sebesar US$ 77 per hari plus uang harian (minus uang spesialisasi). Bila
dikalikan 30 maka gaji SO ini mencapai US$ 2310 atau sekitar Rp. 25,41 juta,
cukup besar bukan? Tapi tunggu dulu, itu pendapatan kotor karena mereka harus
membayar sendiri seluruh beaya akomodasi seperti penginapan, komunikasi
termasuk pula makan mereka sehari. Untuk makan saja, misalnya yang disediakan
di International Mess (ruang makan international), mereka yang tergabung dalam
SO in harus merogoh kocek sebesar US$ 8 dengan perincian 2 dolar untuk makan
pagi, 3 dolar makan siang dan 3 dolar untuk makan malamnya. Jadi kalau mereka
mengandalkan makan di tempat ini maka untuk sebulan, mereka harus mengeluarkan
uang sekitar US$ 240. Belum lagi untuk pengeluaran lain di mana mereka harus
mandiri. Dari informasi sebagian dari golongan ini yang telah pulang ke tanah
air, maka mereka bisa menyisihkan gaji UN per bulannya sekitar US$ 1500-US$
1800 atau sekitar Rp.16, 5 juta hingga Rp
19,8 juta per bulannya, tergantung dari pemakaian masing-masing personel.
Pengeluaran
Sekarang
pertanyaannya, berapa sich uang yang bisa disisihkan oleh setiap prajurit TNI
yang tergabung dalam kontingen Garuda berstatus MI dengan uang
saku sebesar US $1106 per bulan plus uang harian (daily allowned)
sebesar $1,27 per harinya dan uang spesialisasi yang nilainya hampir sama
dengan uang harian?
Jawabannya,
tergantung dari pengeluaran si prajurit TNI itu sendiri. Secara umum memang
tidak ada pengeluaran resmi seperti halnya personel TNI yang berstatus Staff
Officer yang harus menyisihkan gajinya untuk beaya akomodasi termasuk makan
yang nilainya ratusan dolar, semua dukungan untuk prajurit yang bertitel MI
sudah terpenuhi semua oleh Unifil, mulai dari asrama (korimek), makanan hingga
dukungan menu tambahan/ nutrisi seperti
roti, susu, jus, buah-buahan dan lainnya yang cukup berlebihan. Dengan dukungan
yang mencukupi ini maka logikanya memang sudah cukup untuk bisa hidup di
Lebanon, akan tetapi terkadang “sebagian” prajurit masih menonjolkan “aji
mumpung”, mumpung ada duit tambahan sehingga akhirnya budaya “belanjalah” yang
menjadi pilihan utama terutama belanja peralatan elektronik seperti computer
Laptop, Notebook, HP, Ipad, jam tangan dan pakaian merk terkenal yang harganya
mencapai 300 – 800 dolar. Akibatnya, sebagian gaji cash yang mereka terima di
daerah penugasan yang rata-rata US$ 300 “habis” untuk keperluan belanja
tersebut (seperti diketahui, sebagian Satgas memilih kebijakan menyisakan sebagian
besar gaji prajurit TNI dalam tabungan di Indonesia serta sebagian kecil
lainnya diberikan langsung dalam bentuk cash/ tunai di daerah penugasan Lebanon
untuk per bulannya).
Pengeluaran lain
yang menyedot beaya cukup besar adalah ketika musim cuti tiba di mana umumnya
dimanfaatkan untuk Umroh atau pulang ke
Indonesia atau kedua-duanya, Umroh dan juga pulang ke Indonesia. Untuk Umroh ke
tanah suci Mekah rata-rata membutuhkan beaya lebih dari US$ 1000 (plus
oleh-oleh, untuk umroh sendiri beayanya sekitar US$750) sedangkan untuk pulang
Indonesia dengan tiket pesawat rata-rata US$900 pada umumnya bisa menyedot
beaya lebih dari US$1500 (plus oleh-oleh). Belum lagi bagi mereka yang memilih
kedua-duanya, Umroh dan juga pulang ke Indonesia yang tentunya bisa menyedot
beaya sekitar 2000-2500 US Dolar (sekitar Rp 21 juta – 26, 25 juta). Bagaimana
kalau mereka yang dua kali pulang ke Indonesia dalam dua kesempatan cuti
tahunan yang diberikan UN, pengeluaran tentu saja lebih besar dibandingkan
mereka yang hanya sekali pulang atau bahkan mereka yang tidak pernah pulang ke
Indonesia dan hanya menikmati cuti atau liburan di seputar Lebanon/ lingkungan
Kamp saja.
Pengeluaran dan
beaya ekstra akan bertambah pula menjelang kepulangan prajurit TNI dari daerah
penugasan Lebanon. Untuk yang satu ini umumnya mereka termasuk aku mencari
sejumlah kenang-kenangan unik yang jarang ditemui di Indonesia mulai dari
barang perhiasan dan baranng pecah belah, makanan seperti Coklat dan buah tin,
minyak zaitun, dan pernak-pernik lain yang kiranya pantas untuk oleh-oleh
keluarga dan handai taulan di tanah air.
Untuk aku
sendiri dengan gaji utuh di tanah air serta uang saku dari daerah penugasan
memang sedikit banyak “menambah” jumlah tabunganku. Namun demikian jumlah yang
aku peroleh tidaklah bulat seperti hitungan gampang matematika. Seperti halnya
hampir seluruh rekan kontingen garuda, sebagian gaji dari UN ini dimanfaatkan
untuk keperluan sehari-hari di Lebanon, melaksanakan ibadah Umroh ke tanah suci
Mekah dan juga pulang ke tanah air sewaktu musim cuti, serta tak lupa untuk
membeli oleh-oleh untuk keluarga dan rekan-rekan di tanah air. Dari sini
tentunya dapat ditebak berapa jumlah tabungan rata-rata prajurit sepulang dari
daerah penugasan Lebanon.
Uang saku gaji
“dobel” dari daerah penugasan tersebut sebenarnya bila dihitung-hitung sesuai
dengan perjuangan para prajurit. Mereka harus melaksanakan tugas berisiko
tinggi dan juga jauh dari keluarga serta mereka harus pula melalui seleksi yang
cukup ketat dengan Pre Dployment Training (PDT) yang juga cukup berat. Belum
lagi sebagian besar dari mereka, terutama yang ditugaskan di pos-pos strategis,
harus menguasai bahasa Inggris dengan baik dan lancar
***