Saturday, October 19, 2013

Catatan ke-57 : “Hunting” Oleh-Oleh Khas Lebanon


Coklat Khas Lebanon
Membawa oleh-oleh untuk keluarga tercinta serta kerabat dekat termasuk para sahabat merupakan budaya yang sangat kental bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi bila tempat bepergiannya terbilang jauh semisal dari luar negeri, tentunya terasa kurang lengkap dan kurang afdol bila saat pulang ke tanah air “lenggang kangkung” atau tanpa membawa apa yang namanya oleh-oleh ini. Demikian pula dengan prajurit TNI yang sedang melaksanakan misi penugasan PBB di Lebanon, mereka juga memiliki pandangan yang sama, paling tidak membawa oleh-oleh dari daerah penugasan.
Aneka jajanan coklat yang cocok untuk oleh-oleh
Berbicara tentang oleh-oleh ini maka ada beberapa jenis oleh-oleh yang menjadi favoritku dan juga rekan-rekan Satgas yang lain. Oleh-oleh yang pertama adalah coklat khas Lebanon. Coklat dari negara yang sering dilanda konflik dengan Israel ini terkenal karena rasa dan kualitasnya yang terbilang tinggi. Bahkan untuk kawasan Timur Tengah, coklat Lebanon dianggap yang paling bagus dari segi rasa maupun variasinya. Aku yang beberapa kali mencobanya juga terasa ada “taste” yang berbeda, ada rasa gurih, renyah, manis dan harum dengan rasa coklat yang sangat terasa melekat di setiap gigitannya.
Salah satu toko coklat yang menjadi langganan prajurit TNI serta prajurit Unifil dari sejumlah negara lainnya adalah toko kepunyaan Ali, seorang pemuda Lebanon yang mewarisi usaha coklat dari keluarganya. Ali dengan dua saudara dan dua kawannya membuka sebuah toko coklat di kawasan pantai wisata Tyre, Lebanon. Di toko yang letaknya di seberang jalanan pantai yang ramai dikunjungi orang ini, tersedia coklat dengan puluhan rasa dan bentuknya yang unik. Coklat-coklat berukuran kecil ini dikemas dengan kertas pembungkus dengan pita kecil berwarna emas maupun perak yang menyolok dengan pilihan bentuknya yang unik seperti bulat, persegi panjang, kotak, lonjong dan sebagainya. Untuk harga 1 kilogram dengan kualitas coklat yang baik, Ali mematok harga US$ 8,00 atau sekitar Rp.84.000,- (untuk isi kemasan 1 kilo berisi sekitar 50 coklat kecil). Memang dibandingkan dengan Indonesia kelewat mahal, akan tetapi dengan melihat keunikan dan rasanya, harga tersebut malah terbilang murah.
Warung coklat di Tyre, Lebanon
Selain coklat, di toko Ali ini juga tersedia aneka panganan. Untuk yang satu ini, aku dan rekanku biasanya membeli buah tin yang sudah dikeringkan seharga US$ 10,00 untuk 3 bungkusnya. Kami juga membeli buah tin yang sudah dikemas rapi seberat 3 kilogram seharga US$ 20,00.  Buah Tin jenis ini rasanya kenyal dan manis dengan kemasan unik di mana setiap bijinya dibungkus tersendiri.

Dari Sunto, Oakley 
hingga “Tas Murah”
Untuk pernak-pernik lain sebagai oleh-oleh pulang tanah air, sebagian dari rekanku umumnya mengejar beberapa produk jam tangan, kacamata maupun sepatu. Produk-produk ini dijual lumayan cukup murah di toko milik Mahdi di Menghy Street, Naqoura, South Lebanon. Di toko yang juga menjual peralatan elektronik seperti laptop dan notebook ini, ratusan jam tangan dengan merk dan kualitas serta harga berbeda terpajang rapi. Untuk oleh-oleh, sebagian rekanku membeli beberapa jam tangan merk Casio yang cukup murah dengan harga rata-rata US$ 25-100, Edifice US$ 80-200, G-Shock US$ 100-300, atau ada pula yang membeli jam tangan merk Sunto Ambit yang harganya mencapai 350 Euro atau sekitar Rp. 5.250.000,- (bila 1 Euro dihitung Rp 15 ribu).
Sunto, tas militer dan kacamata Oakley
Barang lain yang paling sering dibeli untuk oleh-oleh adalah sepatu dan kacamata. Merk yang sering diincar adalah Oakley yang cukup mahal dengan kisaran harga lebih dari US$ 100,00. Oleh-oleh ini biasanya disiapkan untuk kerabat maupun titipan untuk “sang Komandan” satuan masing-masing. Barang-barang ini dapat dijumpai di sejumlah military shop/ store yang berada di sepanjang Menghy Street Naqoura atau Marjeyoun. Ada pula yang menjelajah di sejumlah PX atau Post Exchange (di Indonesia mirip Koperasi satuan/ lembaga) seperti di PX Internasional, PX Indonesia maupun PX Perancis yang terkenal dengan kelengkapan barangnya.
Selain jam tangan, sepatu dan kacamata, ada pula barang lain yang menjadi favorit oleh-oleh rekan-rekan Satgas Garuda, yakni pernak pernik tas militer. Tas model “Combat Pack” seperti tas punggung maupun tas pinggang dengan pilihan warna doreng gurun maupun doreng hijau merupakan yang paling banyak dibeli prajurit TNI. Tas dengan kualitas bahan dan jahitan yang cukup bagus dan kuat ini dibeli dengan harga bervariasi mulai dari harga termurah US$ 10 hingga US$ 100 dolar. Toko yang menyediakan peralatan dan barang ini ada di sepanjang Menghy Street Naqoura di Toko Mahmud, Abah Ali atau yang paling lengkap di toko milik George dan H. Nurdin di Marjeyoun.

Minyak dan Pohon Zaitun
Oleh-oleh favorit lainnya yang banyak dibawa prajurit Kontingen Garuda dari Lebanon adalah minyak dan pohon Zaitun. Minyak zaitun ini merupakan ektrak pertama dari buah zaitun tanpa campuran bahan kimia dan mempunyai kadar asid yang rendah. Khasiat dan manfaat minyak zaitun asli adalah bisa mengobati berbagai penyakit. Di pasaran minyak zaitun ini dikenal dengan sebutan “Virgin Olive Oil”. Beberapa khasiat dan manfaat minyak Zaitun antara lain  untuk mencerahkan wajah, anti penuaan dan untuk awet muda, mengobati sakit lutut, arthritis dan mengobati sendi-sendi yang ngilu, mengobati leukemia, obat sakit gigi dan gusi, mengobati sakit jantung, dijadikan minyak pijat atau urut serta menumbuhkan rambut.
Dengan pertimbangan khasiat minyak Zaitun yang sangat bermanfaat bagi keluarga dan banyak orang di tanah air tersebut maka hampir seluruh prajurit membawa minyak jenis ini untuk oleh-oleh pulang ke tanah air, meski pun hanya sekedar satu atau dua liter saja. Store atau toko oleh-oleh yang menyiapkan minyak Zaitun ini cukup banyak seperti yang ada di sepanjang jalan menuju kota Tyre, Marjayeoun hingga Naqoura. Ada pula yang lebih lengkap dengan variasi kemasan yang beraneka macam yang dijual dan tersedia di Super Market Al-Janaoub di kawasan Tyre, Lebanon. Harga per kilonya untuk minyak jenis ini cukup bervariasi sekitar US$ 8 hingga US$ 15 tergantung kualitas dan kemasannya (asli atau campuran). Aku sendiri untuk oleh-oleh jenis ini membawa sekitar 5 kilogram dengan harga per kilonya US$ 13,00 yang aku beli dari Jihad, seorang Language Assistant asli Lebanon yang mengaku memiliki usaha bisnis minyak zaitun, patungan dengan kerabatnya di Lebanon. Untuk membawanya ke tanah air harus dengan kemasan khusus karena barang ini merupakan salah satu jenis barang yang “haram” dibawa dengan pesawat terbang.
Minyak Zaitun (kiri), Pohon Zaitun dan Pohon Tin (kanan)
Selain minyak Zaitun, pohon Zaitun juga menjadi salah satu incaran prajurit TNI untuk dijadikan oleh-oleh dari daerah penugasan Lebanon. Pohon yang dibawa pulang ini umumnya berukuran kecil hasil dari stek yang dibeli dari beberapa tempat jual beli tanaman hias dengan harga sekitar 5- 10 dolar atau dari hasil cangkok sendiri. Ada pula pohon lain yang banyak dibawa rekan-rekan termasuk aku sendiri yakni pohon Tin yang pembudidayaannya lebih gampang dengan cara distek (di Indonesia seperti menanam singkong). Untuk membawanya, pohon Zaitun dan Tin dikemas sederhana, dengan menggunakan kemasan kecil Aqua botol sebagai potnya, kemudian dibungkus dengan kain atau kaos kaki bekas dan selanjutnya bisa dimasukkan ke dalam tas/ koper yang berukuran cukup besar.
Oleh-oleh tambahan lain yang juga sering dibawa rekan-rekan dari daerah Satgas Lebanon adalah pakaian untuk keluarga maupun kerabat. Kelebihan membeli oleh-oleh jenis ini adalah dari segi mutu dan kualitas yang umumnya cukup bagus dan selalu mengikuti trend mode mutakhir. Berbicara masalah harga, secara umum memang relatif mahal ketimbang pakaian sejenis yang dijajakan di boutiqe atau distro-distro yang ada di Indonesia. Meski demikian ada rasa kepuasan melihat kualitas dan mode yang ditampilkan.
Khusus untuk oleh-oleh berupa kaos penugasan yang umumnya akan dibagikan kepada teman-teman kantor atau saudara, sebagian besar prajurit memesannya langsung ke Indonesia lewat sejumlah rekan Satgas yang memiliki link langsung ke pabrik kaos. Umumnya kaos ini dipesan dalam jumlah yang cukup banyak sekitar 50-100 pieces dengan harga yang bervariasi dari 30 hingga 60 ribu rupiah. Untuk yang ini, aku sendiri memesan 100 kaos seharga 36 ribu per bijinya atau total US$ 343,00  yang aku pesan di salah seorang rekan Satgas Indo FPC yang memiliki pabrik kaos di Bandung.

“Wanti-Wanti” Kelebihan Muatan
Membawa oleh-oleh yang cukup banyak dari daerah penugasan sebenarnya merupakan idaman setiap prajurit untuk memuaskan permintaan maupun keinginan keluarga, saudara atau teman yang ada di tanah air. Akan tetapi semua itu tentu ada batasannya terutama terkait “jatah” bawaan masing-masing orang yang ditentukan agar bisa masuk pesawat dan bisa terbawa hingga ke tanah air.
Diperiksa dulu oleh MP Tanzania sebelum di bawa ke bandara
Tidak seperti halnya pesawat komersil yang mematok jatah bagasi penumpang sekitar 40 kg dan kabin 8 kg, maka untuk pesawat yang membawa aku dan rekan-rekan Satgas kembali ke tanah air merupakan pesawat carteran PBB dengan ketentuan bagasi yang lumayan lebih longgar. Sesuai dengan ketentuan yang disepakati, masing-masing dari kami mendapat jatah bagasi maksimal 100 kg. Jatah bagasi ini belum dikurangi barang perlengkapan Satgas seperti senjata dan peralatan organik lainnya yang memakan bagasi 25 kg per orang. Jadi setiap orang mendapat jatah bersih untuk barang di bagasi pesawat seberat 75 kg. Jumlah yang tentunya cukup lumayan buat mengangkut seluruh perlengkapan dan tentu saja oleh-oleh.
Dengan jumlah tersebut bagi yang “hobi” belanja memang terbilang masih kurang. Alhasil mereka pun akhirnya membatasi jumlah bawaan mereka terutama yang kecil-kecil tetapi cukup berat seperti minyak zaitun, coklat dan sebagainya. Mereka memilih aman mengurangi beban oleh-oleh, ketimbang “dipaksakan” dibawa, toh akhirnya tidak bisa masuk bagasi, dan akhirnya “terbuang” karena kelebihan muatan.
***

Thursday, October 10, 2013

Catatan ke-56 : Sulitnya “Menghitung” Hari



Oktober .... Nopember  ..... Desember...... pulang kembali ke tanah air! .........
 Menghitung hari, detik demi detik. Masa kunanti apakan ada. Jalan cerita kisah yang panjang. Menghitung hari …. Itulah satu bait syair lagu dari penyanyi kondang Krisdayanti. Dari syair lagu yang bermakna romantis itu, aku bukan mau menceritakan tentang kerinduanku atau kegundahan rekan-rekanku terhadap seseorang yang dinanti-nanti nun jauh di sana, melainkan sedikit mengekspresikan apa yang aku rasakan dan juga rekan-rekan Satgas yang lain ketika berbicara masalah waktu di tempat penugasan kami saat ini, yakni Lebanon.
Seperti diketahui, aku dan juga sebagian rekan-rekan dari Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit)  tiba di daerah penugasan Lebanon tepat ketika kalender menunjukkan angka satu di bulan Desember 2012. Kalau sekarang sudah masuk di bulan Oktober 2013, di tanggal yang sama pula yakni tanggal satu maka tak terasa sudah sepuluh bulan aku dan rekan-rekanku berada di daerah penugasan. Suatu waktu yang terbilang “cukup lama” bagiku untuk meninggalkan keluarga tercinta di tanah air.
Dengan “kontrak” penugasan yang berdurasi satu tahun, maka aku dan rekan-rekan Satgas yang tergabung dalam Kontingen Garuda akan menghabiskan waktu dua bulan lagi ke depan hingga Desember 2013 sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Dan masa/ waktu yang dua bulan lagi inilah yang aku kaitkan dengan penggalan syair lagu sebagai pembuka catatan kecil ini.
Sebagaimana pengalamanku dalam sejumlah penugasan, bulan-bulan pertama dan akhir penugasan merupakan bulan-bulan yang cukup rawan yang perlu diwaspadai oleh setiap personel. Sedangkan berbicara masalah waktu, bulan-bulan itu pula boleh dikatakan sebagai bulan di mana minggu dan harinya seakan berjalan amat lambat. Sebagai contoh, pada bulan pertama penugasan dengan durasi penugasan satu tahun, maka hari-hari akan selalu dianggap lambat perputarannya, “ Hari ini Senin, tanggal 15 Desember, baru 15 hari penugasan, kurang 350 hari lagi! “ demikian celoteh sebagian rekanku sembilan bulan lalu yang waktu itu sempat juga membuat aku merenung, “ Betul juga baru 15 hari, kurang 350 hari atau sebelas bulan lagi untuk bisa kembali ke tanah air!”. Namun perasaan “lambatnya” sang waktu ini akan terhapus dengan sendirinya tatkala kami sudah beradaptasi dengan situasi dan kondisi daerah penugasan termasuk mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Dan akhirnya bulan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya berjalan dengan cepat, di mana kami mulai menikmati pekerjaan dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi menjelang akhir penugasan, perasaan yang muncul saat awal penugasan pada umumnya “kambuh” kembali. Waktu pun seakan kembali berjalan dengan lambatnya, hari, minggu, bulan, terasa enggan untuk berganti.
Perasaan lambatnya sang waktu terutama untuk bulan-bulan akhir penugasan umumnya dapat dimaklumi karena beberapa hal seperti munculnya kejenuhan dalam melakukan aktifitas sehari-hari yang “itu-itu saja” dan juga mulai timbulnya rasa “kangen” yang berlebih terhadap keluarga mengingat dalam hitungan hari akan bertemu dengan mereka. Pada kondisi ini maka seakan betapa sulitnya “menghitung hari”, Senin … Selasa …. Rabu …. dan seterusnya, kembali ke Senin ….. lama sekali!” Inilah bagi mereka yang terlibat dalam lingkaran “menghitung hari” menunggu saat-saat kembali ke tanah air.

Meningkatkan Aktifitas Olah Raga
Untuk menghilangkan kejenuhan setelah sepuluh bulan di daerah penugasan, terutama untuk membuang perasaan lamanya perputaran sang waktu, aku dan rekan-rekan Satgas memilih melaksanakan aktifitas olah raga. Beberapa jenis olah raga favorit yang dipilih oleh rekan-rekanku adalah  joging, lari, renang, voli, tenis meja, tenis lapangan, volley ball, voli pantai, futsal, bulutangkis dan juga bina raga.
Fasilitas untuk semua jenis olah raga tersebut sebagian tersedia di Soedirman Camp, yang menjadi markas kami dan sebagian lagi di beberapa area Markas Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Bagi yang hobi lari, tersedia track yang cukup lumayan tantangannya dengan jalanan aspal naik turun yang terbentang sepanjang area Camp Soerdiman di Grren Hill hingga Camp Tara di kawasan Unifil HQ. Untuk tenis meja, tersedia 3 meja untuk latihan di Soedriman Camp.
Sebagian fasilitas OR di Unifil HQ Naqoura
Untuk mereka yang hobi Futsal, selain bisa memanfaatkan lapangan yang ada di Soedirman Camp juga dapat memanfaatkan lapangan Futsal Unifil. Demikian pula untuk renang dan bina raga (Gymnastik), Unifil menyiapkan sarana untuk kedua jenis olah raga ini berdampingan dan lokasinya persis di pinggir pantai Naqoura. Untuk penggemar tenis lapangan, disediakan pula 3 lapangan tenis yang cukup mewah dengan lokasi yang juga berada di pinggir pantai, berdampingan dengan Rubb Hall yang menyediakan 5 lapangan bulu tangkis bagi mereka yang hobi dengan olah raga ini.
Semua fasilitas olah raga yang tersedia di Soedirman Camp maupun di kawasan Unifil HQ tersebut dapat dimanfaatkan dengan gratis oleh seluruh personel Unifil mulai pagi, siang hingga malam hari, menyesuaikan jadwal yang ada di masing-masing fasilitas olah raga tersebut. Khusus untuk rekan-rekan Satgas dari Kontingen Indonesia, kegiatan olah raga ini umumnya dilakukan setelah kegiatan harian usai di sore maupun malam hari. Sedangkan di hari Minggu, umumnya di lakukan pada pagi, sore dan juga malam hari.
Dari semua jenis olah raga dengan fasilitas yang tersedia tersebut, aku pribadi lebih suka memilih olah raga bulu tangkis yang menurutku lebih banyak mengeluarkan keringat bila dimainkan secara perorangan. Di lingkungan Unifil, olah raga yang aku sukai ini juga tidak sekedar menjagi hobi, akan tetapi sekaligus menjadi olah raga prestasi. Pada Juni 2013 lalu, aku berhasil meraih medali perak untuk kelompok single putra prestasi pada Turnamen Bulutangkis Unifil yang diikuti pemain dari sejumlah negara kuat bulutangkis seperti Cina, Korea, Malaysia dan India serta tentu saja sejumlah pemain dari Indonesia (lebih lengkapnya lihat Catatan ke-37, http://lebanonku.blogspot.com/2013/06/catatan-ke-37-raih-medali-perak.html ).
Untuk bermain olah raga bulu tangkis ini,  aku bergabung dengan rekan-rekan dari Satgas FPC (Force Protection Company) dan FHQSU (Force Headquarter Support Unit) dengan jadwal latihan sore hari dari jam lima usai pulang kantor hingga menjelang Maghrib. Pada saat-saat tertentu, untuk meningkatkan semangat latihan, pemain-pemain terbaik dari kami yang berada di kawasan Naqoura, menyelenggarakan turnamen sendiri dengan hadiah dari “iuran” masing-masing pemain. Hadiahnya pun diusahakan untuk “makan bersama” sehingga dapat lebih meningkatkan kerjasama dan persahabatan di antara kami.

Menghadapi Masa Kritis
Selain melakukan kegiatan olah raga, aktifitas penting lain yang dapat “membunuh” kejenuhan dan bisa “menambah” cepatnya perputaran sang waktu adalah dengan tetap fokus pada pekerjaan sehari-hari. Dan inilah hal penting yang kami waspadai dalam menjalani misi PBB di Lebanon menjelang akhir penugasan. Ada pepatah yang sering menjadi pedoman kami dalam menjalankan suatu penugasan, “ Masa awal dan menjelang akhir penugasan adalah masa yang paling kritis”. Maksudnya adalah bahwa masa-masa itu terutama menjelang akhir penugasan mengandung lebih banyak tantangan. Pada masa ini, karena sudah dianggap biasa dalam menghadapi suatu pekerjaan, sebagian personel umumnya kurang memperhatikan kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga pada gilirannya justru memunculkan masalah baru yang merugikan diri sendiri dan juga satuan.
Melihat risiko besar yang muncul pada bulan-bulan terakhir penugasan maka sesuai kesepakatan, aku dan rekan-rekan Satgas tetap memfokuskan diri pada pekerjaan dan tugas pokok masing-masing. Semua tugas yang menjadi makanan kami sehari-hari tetap kami kerjakan dengan baik dan berusaha menghindari kesalahan sekecil apapun.
Kunjungan ke sekolah, dapat membunuh "kejenuhan"
Khusus untuk Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit) di mana aku bertugas, bulan-bulan akhir penugasan (Oktober-Desember) justru menjadi bulan yang “Super Sibuk” dilihat dari intensitas kegiatan kunjungan. Bila bulan-bulan sebelumnya, kunjungan Tim Tactical Community Outreach (Tcot) hanya terfokus pada kunjungan ke Local Leader dan Local People, maka pada bulan-bulan akhir penugasan itu, lokasi kunjungan kembali seperti semula yaitu ditambah dengan kunjungan ke sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh area operasi Unifil (Juni-September, seluruh sekolah di Lebanon libur musim panas-Summer Holiday).
Padatnya jadwal kunjungan tersebut, diperkirakan dapat membunuh “kejenuhan” dan bisa melewatkan “masa kritis” kami di akhir penugasan. Pertemuan-pertemuan kami dengan anak-anak TK dan SD saat kunjungan ke sekolah menjadi daya tarik tersendiri bagi kami, apalagi bila teringat senyum dan ketawa mereka ketika menyambut kedatangan kami dan  juga melihat kegembiraannya ketika mendapat “hadiah” yang kami bawa, sungguh sesuatu yang sulit dilupakan. Inilah salah satu faktor yang akhirnya membuat kami tetap optimis untuk tetap bekerja dengan maksimal hingga akhir penugasan, sehingga tidak ada kesulitan bagi kami untuk “menghitung hari”.

***

Wednesday, October 9, 2013

Catatan Ke-55 : “Indonesian People Crazy!”



Garuda sebagai Lambang Negara kebanggaan Indonesia

 Siapa pun yang mengaku orang Indonesia, bila mendengar kalimat dalam judul tersebut di atas apalagi dilontarkan oleh orang “bule” tentu akan marah, tersinggung dan buntutnya bisa jadi si bule yang mengucapkan kalimat itu akan “dilabrak” habis-habisan, tanpa kompromi sebagai bentuk berontaknya “nasionalisme” yang melekat pada jiwanya. Akan tetapi aku sebagai “Indonesia tulen” tidak demikian menanggapinya. Bukan karena aku sudah tak peduli lagi dengan apa itu yang namanya nasionalisme, bukan pula karena aku “takut” karena yang mengucapkan kalimat itu bule bertubuh tinggi besar.  Bukan itu! Aku tidak marah karena itu hanyalah sebuah “majas”, sebuah gaya bahasa, sebuah majas “interjeksi preterito”, sebuah ungkapan hati seseorang  berupa penegasan tentang sesuatu dengan menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Aku pun tidak marah karena kalimat lanjutannya justru menambah kebanggaanku terhadap Indonesia, “ Wow… Indonesian people crasy!  ….. wonderfuf, fantastic …..  …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it".  Nah, dengan melihat kalimat lengkapnya si bule ini, semoga anda akan “mengampuni” aku yang tidak marah dengan kata-kata si bule tadi ” Indonesian people crazy!”.
Sebaris kalimat ungkapan tersebut aku rekam dalam memori ingatanku ketika suatu sore, di hari Minggu, di akhir bulan September 2013 lalu, aku bertemu dengan seorang kenalanku, seorang Officer dari sebuah negara di kawasan Eropa yang kini sama-sama sedang menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. Aku kenal dengan sang Officer beberapa bulan sebelumnya ketika mengikuti program Induction Training yang dilaksanakan Unifil (United Interim Force In Lebanon).  Aku bertemu dengannya sore itu ketika aku baru keluar dari pagar markasku di Soedirman Camp, jalan kaki, dengan pakaian olah raga lengkap mau cari keringat, bermain bulutangkis di Unifil Rub Hall seperti kebiasaanku di waktu senggang atau hari libur.
Perjumpaan yang tak terduga itu akhirnya melahirkan sedikit perbincangan yang ujung-ujungnya ia menunjuk sebuah patung garuda raksasa yang saat itu kelihatan dari jalanan pintu gerbang yang sedang digarap rekanku dari Satgas Force Protection Company (FPC). Dan kalimat-kalimat itulah yang terlontar dari mulutnya sembari geleng-geleng kepada, ” “ Wow… Indonesian people crasy!  ….. wonderfuf, fantastic …..  …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it".  Sebuah kalimat pujian yang membuat kepalaku sebagai warga Indonesia seakan “membesar” sehingga aku hanya menanggapinya dengan singkat, “ Thank you for your apreciation and your praise, Sir!” .  Selanjutnya setelah “basa basi” mengucapkan salam perpisahan, aku pun melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan aspal berkelok-kelok di Green Hill, Naqoura, South Lebanon.

Kelebihan Tentara Indonesia
Obyek utama yang menjadi fokus perbincangan kami dalam perjumpaan dengan rekanku di atas adalah terkait dengan pembangunan sebuah patung Garuda raksasa di sisi tengah lapangan upacara Soedirman Camp. Pembangunan ini sebenarnya sesuatu yang menurut kami “wajar” dan mungkin sudah “biasa” bila itu dikerjakan di tanah air, di masing-masing satuan TNI yang ada di Indonesia, sebuah pembangunan monumen/ patung yang umumnya akan dijadikan “maskot” satuan atau lambang satuan. Akan tetapi ini benar-benar menjadi sesuatu yang luar biasa karena dikerjakan di negeri orang, di negeri yang rentan konflik dengan Israel yang bernama Lebanon. Uniknya lagi, pembangunan patung ini dikerjakan oleh prajurit TNI, bukan dibuat oleh profesional, seorang pematung, pemahat atau ahli pembuat monumen. Pun “penggarapannya” dengan mengorbankan waktu senggang mereka, waktu “rehat” dari kesibukan menjaga perdamaian di bumi Lebanon. Dan hasilnya, benar-benar luar biasa, sebuah patung garuda raksasa yang cukup megah dengan warna bulunya yang hitam, leher dan ekornya putih dan paruhnya kuning keemasan.
Sebuah “ketidakwajaran” dan “ketidakbiasaan” dalam pembuatan patung garuda raksasa itulah yang diyakini menimbulkan interjeksi yang bernada positif penuh dengan kekaguman dan ketakjuban atas kreatifitas tentara Indonesia. “Luar biasa, kok sempat-sempatnya membangun patung sebesar itu di daerah penugasan” demikian mungkin ungkapan kata hati mereka yang salah satunya sudah dilontarkan rekanku, sang Officer tadi. Maklum, seperti diketahui mereka itu memang umumnya benar-benar “terbelengu” pada kata-kata profesional yang melekat pada profesinya sebagai militer. Tugasnya itu yach itu, tidak ada embel-embel lain, semisal tambahannya ini dan itu juga!. Berbeda dengan tentara Indonesia yang sudah “terbiasa” multi fungsi dan multi tugas sebagai pengejawantahan tangan “yang tidak mau diam” alias gatal kalau tidak berkreasi dengan sesuatu yang unik, terasa “pusing”, meski itu harus mengorbankan waktu istirahat.
Proses pembuatan
Patung garuda raksasa yang dibangun di Soedirman Camp hanyalah satu dari sekian banyak kreasi tangan-tangan terampil tentara Indonesia selama menjalankan misi penugasan di lebanon. Patung yang hampir sejenis, beberapa tahun sebelumnya dibangun pula di Markas Batalyon Mekanis Indonesia di Adchit Al Qusyair. Belum lagi dengan kreasi para prajurit Indonesia dalam menata lingkungan korimek berupa pembangunan taman-taman cantik nan asri sebagai sesuatu yang sebenarnya agak “ganjil” bila dibandingkan dengan lingkungan korimek sejumlah markas tentara dari negara lain yang umumnya “gersang” tidak tersentuh tangan apalagi dibangun taman indah dengan tanaman hiasnya.
Menurut Serma Muhidin, ketua tim pembuatan patung garuda di Soedirman Camp, ide pembuatan patung berasal dari Komandannya, “ Ide awal pembuatan patung ini datang dari Komandan kami, Komandan IndoFPC Letkol Yuri Elias Mamahi. Awalnya ia menginginkan sesuatu yang akan dijadikan maskot markas IndoFPC di Lebanon, dan pilihannya adalah pembuatan patung burung garuda yang juga menjadi lambang negara Indonesia, dan ini sesuai pula dengan julukan kita di sini sebagai pasukan Garuda “ kata sang Serma awal Oktober 2013 lalu, saat aku memiliki kesempatan berbincang-bincang dengannya di sela-sela kesibukannya memimpin “polesan” terakhir terhadap karya sensasionalnya itu.

Tanpa Pola, Bahan Seadanya, Hasil Maksimal
Sulit dibayangkan bila ingin merealisasikan sebuah “proyek besar”, akan tetapi hanya dengan pola atau gambar sederhana. Dan inilah yang dilakukan prajurit FPC dalam menggarap patung garuda raksasa. “Boro-boro” memanfaatkan keunggulan teknologi komputer seperti penggunaan Adobe Ilustrator atau 3D Max atau software yang lain dalam pembuatan pola atau gambar konsepnya, bahan dasarnya pun “seadanya”, memanfaatkan barang bekas di sekeliling Kamp.
Pada langkah awal pembuatan, sang Komandan FPC yang terkenal memiliki ide-ide kreatif ini mengungkapkan gambaran awal bentuk sang Garuda yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan pembuatan pola sederhana, mengandalkan secarik kertas dengan coretan di sana-sini yang setiap waktu “gampang” diubah-ubah, sesuai petunjuk sang Komandan atau mengikuti “feeling” sang pembuat gambar. Berikutnya direkrutlah sebanyak lima orang yang “dianggap” mampu mengeksekusi proyek tersebut. Dan pilihan jatuh kepada Serma Muhidin dibantu keempat rekannya yakni Sertu Gunawan, Sertu Ibnu, Kopda Nainggolan dan Kopda Simson S.  Team ini disebut “team khusus”, bukan karena kemampuan dan pengalaman mereka dalam menangani “proyek khusus” tersebut, melainkan karena mereka sebagian justru berkualifikasi sebagai anggota pasukan khusus TNI, yang merupakan ciri khas pasukan IndoFPC Unifil.
Setelah tim terbentuk, maka mulailah proyek tersebut dikerjakan secara maraton dari jam sembilan pagi hingga jam satu siang, istirahat makan siang, dilanjutkan lagi pukul satu hingga pukul enam sore. Dan itu dikerjakan secara bergantian menyesuaikan waktu senggang team pembuat. Maklum, mereka ini tetap mengutamakan tugas pokok sebagai anggota IndoFPC yang bertanggung jawab terhadap keamanan Unifil HQ Naqoura, jadi kalau saat “jatah” mereka hasrus melakukan patroli, yach mereka harus ikut patroli dulu, baik jalan kaki maupun menggunakan kendaraan tempur Anoa produksi Pindad. Usai tugas pokok terlaksana, barulah mereka lepas baju dan perlengkapan tempur, menggantinya dengan seragam “tukang batu”, bersenjata cangkul, sendok semen dan mesin las.
Untuk bahan pembuatan patung garuda dengan ukuran sayap mengembang 9 meter dan tinggi sekitar 5 meter ini juga “seadanya” dan cukup unik, “ Untuk bahan kami peroleh dari barang-barang bekas yang ada di lingkungan korimek. Besi-besi sebagian kami peroleh dari barang yang sudah tak terpakai, sedangkan untuk bagian bulu-bulunya kami potong-potong dari bekas potongan atap korimek berbahan seng yang sudah tak terpakai” tutur Serma Muhidin yang diiyakan rekan-rekan timnya. 
Menjawab kritikan dengan hasil yang luar biasa
Dengan pola “tak jelas” dan bahan seadanya tersebut, pada awalnya memang ada rasa pesimis. Apalagi ketika suatu ketika seorang “engineer” kawakan dari Unifil menyambangi proyek tersebut dan akhirnya melontarkan sebuah kritikan pedas, “Dengan pola tak jelas begini, kalian bisa membuat proyek sebesar ini? You’re crazy!” demikian cerita Muhidin, mengingat kata-kata “sang pakar” yang langsung disampaikan kepadanya saat awal pembuatan patung.
Semua kritikan itu akhirnya menjadi cambuk panas yang berharga bagi team untuk membuktikan, bahwa “Indonesia Bisa!” . Dan dengan “zero experience” tim khusus yang sebagian berasal dari pasukan khusus TNI ini akhirnya tetap melakukan eksekusi. Akan tetapi, karena targetnya sebuah “patung garuda raksasa”, hasilnya pun tidak sesuai dengan kualifikasi mereka sebagai prajurit khusus TNI. Mereka “gagal” melakukan eksekusi “sasaran” dalam hitungan menit sesuai “pakem universal” yang berlaku dalam operasi “serbuan kilat” pasukan khusus. Mereka ini justru “santai”, tidak terburu-buru oleh waktu dan akhirnya memakan waktu eksekusi yang cukup lama, empat  bulan!
Empat dari lima personel "Team Khusus"
Meskipun menyita waktu dan rekor terlama dalam pelaksanaan “operasi khusus “ oleh prajurit khusus, namun bukan dari kacamata itu yang  yang kita nilai, kita lihat jenis target dan hasilnya yang memang sesuatu yang seakan “imposible menjadi posible”, akan tetapi hasilnya, “Whole Mission Accomplished, perfect!” sehingga “mencenggangkan” banyak orang, salah satunya rekanku, si “bule” yang aku ceritakan pada awal tulisan ini dan juga personel PBB lainnya. Bahkan sesuai informasi yang aku terima, pimpinan tertinggi pasukan perdamaian PBB di Lebanon atau biasa dikenal dengan sebutan Head Of Mission (HOM) /Force Commander (FC) Mayor Jenderal Paolo Serra, ikut mengapresiasi karya cipta dan karsa tentara Indonesia yang luar biasa tersebut sehingga pada akhir Oktober 2013 ini, berencana meresmikan dan membubuhkan tanda tangan di dalam prasasti yang akan dibangun di depan monumen Garuda. Luar biasa!
Melihat prestasi rekanku IndoFPC tersebut, aku pun semakin bangga dan cinta dengan negeri yang bernama Indonesia, yang sudah aku tinggalkan sepuluh bulan lamanya untuk bertugas di negeri yang berjarak 8.257 km dari kampung halamanku. Namun terkadang aku malu pada diriku, “Apa yang telah aku berikan kepada Indonesia”. Aku hanya merupakan “butiran kerikil” dari ratusan ribu prajurit TNI, dan hanya “butiran debu” dari ratusan juta penduduk Indonesia. Kalau ada orang lain yang bertanya, “Apa jasaku?”, tentu aku akan menjawab sembari tersipu malu, “ tidak ada!” karena aku hanya sekedar bisa mengungkapkan “kebanggaanku terhadap Indonesia” melalui goresan kecil tak berujung dari komputer bututku ini. Bravo Indonesia!!!!

***