Friday, July 26, 2013

Catatan ke-40 : Menghadiri Pesta Pernikahan Khas Lebanon




Tradisi pernikahan khas Lebanon yang meriah
  Pada Sabtu malam, 20 Juli 2013, aku dan seluruh anggota MCOU (Military Community Outreach Unit) Unifil Kontingen  Garuda XXX-C mendapat undangan kehormatan untuk hadir dalam pesta pernikahan rekan kerja kami Elie AKL, anggota Languange Assistant (LA) MCOU yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah di kawasan Marjayeoun, South Lebanon. Elie AKL yang berbadan subur ini menghabiskan masa lajangnya dengan mengawini Caroline, seorang gadis Lebanon yang cantik.
Kami berangkat dari Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon pukul 06.00 PM dengan mengendarai tiga mobil. Waktu pemberangkatan ini disesuaikan dengan rencana kami di mana kami harus tiba di markas Satgas Military Police Indonesia yakni Sector East Military Police Unit (Sempu) Marjayeoun sekitar pukul 08.00 PM di mana waktu tersebut adalah waktu berbuka puasa untuk kawasan South Lebanon. Dan perkiraan ini tidak meleset, tiga mobil kami memasuki markas Sempu ini tepat waktu berbuka. Setelah menggugurkan puasa dengan takjil yang telah disediakan rekan-rekan dari Sempu, kami melaksanakan sholat Maghrib berjamaah yang selanjutnya bergeser ke ruang makan untuk berbuka puasa bersama. Menu yang tersedia saat itu cukup menggugah selera makan kami, ayam goreng, soto kambing dan lalapan dengan rasa khas Indonesia yang sedap, gurih, pedas dan sedikit manis. Usai makan, tepat pukul 08.45 PM, kami pun keluar dari markas Sempu menuju tempat pesta pernikahan.

Masakan yang Asing
Salah satu rombongan Satgasku di depan meja makan
Pertama kali datang sekitar pukul 09.00 PM, rombongan kami langsung disambut oleh sepuluh orang laki-laki dan perempuan setengah baya dengan pakaian yang campuran (aku yakin mereka ini adalah kerabat maupun rekan-rekan). Setelah menerima ucapan selamat datang dari mereka ini, kami selanjutnya diarahkan menuju sebuah meja kecil yang ditunggui empat gadis Lebanon dengan pakaiannya yang cukup seksi, corak-corak putih berenda dengan belahan yang terbuka cukup lebar. Bagi kami mereka cukup anggun dengan kecantikan khas gadis Timur Tengah. Setelah perwakilan kami menulis dan menjelaskan tentang rombongan kami, keempat gadis tersebut dengan ramah mengarahkan kami untuk segera memasuki area pesta yang berada di halaman samping hotel berupa area taman hijau yang cukup luas dengan sebuah kolam renang kecil di tengah-tengahnya.
Saat kami memasuki area pesta taman ini, hampir seluruh meja bundar yang bernomor dengan sepuluh kursi yang mengelilinya telah terisi dengan para undangan. Tiga orang gadis cantik penerima tamu yang dandanannya tidak berbeda jauh dengan empat gadis yang pertama, mengantarkan rombongan kami ke dua buah meja yang tidak berada jauh dari tempat masuk yang saat itu masih belum terisi. Kami pun segera menempati tempat ini.
Menu masakan yang terasa asing untuk lidah Indonesia
Di atas meja kami masing-masing sudah tersedia makanan dan minuman yang cukup banyak. Kami tidak tahu persis apa namanya, akan tetapi setelah kami coba satu persatu, rasanya terlalu asing bagi kami dan tidak memungkinkan kami untuk memakannya. Aku dan rekan-rekan akhirnya hanya menghabiskan makanan ringan berupa kacang-kacangan serta beberapa piring cumi goreng tepung yang rasanya hampir sama dengan masakan Indonesia. Ketika acara selesai dan para pelayan menyuguhkan sekitar empat kali masakan baru, rasanya tetap saja, tidak sesuai dengan lidah dan rasa Indonesia. Untuk minumannya pun aku dan rekan-rekan hanya menghabiskan empat botol coca cola besar dan air putih. Sedangkan dua botol anggur “black label” yang berada diatas meja sedari kami datang tidak kami sentuh sama sekali. “ Hati-hati, ini bulan puasa, dan ini bisa membuat mabuk” demikian kata salah seorang senior kami mengingatkan agar kami tidak usah menyentuh minuman tersebut. Kami semua menurut. Jadi praktis, bila meja-meja lain di sekeliling kami makanannya cepat ludas dan cepat diganti dengan makanan baru yang mereka sukai, meja kami tetap utuh, sesekali kami hanya minta tambahan kacang goreng/kwaci, cumi goreng tepung, air putih maupun coca cola. 

Menikmati dan Mencoba Tarian “Dabke”
Setelah seperempat jam kami mencoba menikmati makanan khas Lebanon, acara pernikahan yang kami tunggu-tunggu pun dimulai. Tiba-tiba dengan diiringi musik Lebanon yang cukup keras, muncul enam orang penari pria dan empat penari wanita dengan dandanan khas yang unik, baju kedodoran warna putih kombinasi hitam dengan corak yang mengingatkan kita akan baju tokoh cerita “Ali Baba” berlari menuju pusat acara, yakni sebuah panggung yang dipayungi tenda warna biru yang berada di pinggir kolam. Dua di antara penari pria ini memainkan alat musik seperti drum dan rebana yang dipukul keras-keras mengiringi gerakan mereka.
Aksi penari tradisional Dabke
Tiba di tengah panggung, para penari ini selanjutnya melenggak-lenggokkan badannya mengikuti irama musik remix Lebanon yang keras dengan gerakan tangan dan langkah kaki yang teratur dan serempak. Gerakan-gerakan tari mereka ini cenderung mengandalkan koordinasi gerakan kaki yang menghentak-hentak lantai dengan keras yang sesekali diiringi dengan loncatan-loncatan kecil yang cukup dinamis dan menarik.
Dari informasi yang aku terima saat itu, yakni setelah berbincang-bincang dengan rekan Language Assitant MCOU lainnya yang hadir seperti Habib, Nisrine dan Jihad, aku dan rekan-rekan Satgas baru mengetahui bila tarian yang mereka mainkan tersebut dinamakan “Dabke”.  Dabke ini adalah tarian nasional Lebanon yang dilakukan hampir di setiap acara-acara penting keluarga seperti pernikahan dan juga di klub malam, restoran, dan tempat hiburan lainnya. Tarian Dabke ini akan selalu muncul untuk mewarnai kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Ciri khas tarian Dabke dengan kaki yang menghentak lantai
Pada awalnya "Dabke" adalah tarian yang dilakukan oleh penduduk yang berbeda dari kawasan pegunungan yang terbentang di antara pantai Mediterania dan Sungai Tigriss. Oleh karena itu tarian ini hanya milik desa-desa dan kota-kota kecil di Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Irak. Popularitas Dabke di pedesaan Lebanon pada akhirnya membawa keragaman irama tarian ini mulai dari sangat lambat hingga sangat cepat, langkah-langkah (mtanniye, mtallate, arja), dan lagu-lagu berirama dan melodi (dal'ouna, houwara, nadda, haykalo, zayno, dll). Tarian Dabke yang aku saksikan malam tersebut, kini merupakan landasan dari seni tari Lebanon modern meskipun gayanya  berbeda banyak dengan tarian lainnya.
Para penari Dabke, pemuda dan pemudi pada umumnya mengenakan pakaian meriah. Para wanita mengenakan rok terusan dengan balutan kemeja dan rompi panjang ditambah kerudung dan hiasan kepala dengan dekorasi yang indah dan manik-manik rumit yang menghiasi kepala mereka. Sedangkan para pria mengenakan sherwals dan labbadeh (celana baggy dan merasa topi) dengan rompi warna-warni di atas kemeja dan sepatu bot mereka. Dua diantaranya membawa derbake (drum kecil yang terbuat dari tanah liat kulit kambing silinder dan membentang).
Menyambut kedatangan pengantin wanita
Ketika musik mulai menghentak-hentak dengan suara keras dan membisingkan telinga, para penari ini berpegangan tangan dan mulai menari dengan iringan lagu daloonah, dasar lagu dari semua tarian Dabkes. Selanjutnya mereka menginjak-injak tanah dengan kaki yang kompak dan sementara yang lain bertepuk tangan sehingga tercipta suasana yang tepat.
Setelah sekitar sepuluh menit, para penari Dabke ini mempertontonkan kepiawaiannya dalam mengatur gerak dan lagu dalam alunan Dabke yang menghentak-hentak, tiba-tiba muncul rombongan pria yang mengantarkan Elie AKL sang pengantin pria menuju panggung tarian. Dan tiba di tempat ini, aku sempat kaget karena sang pengantin dan rombongannya langsung berbaur dengan “Dabke”. Sang pengantin yang berkemeja putih dengan dibalut jas hitam ternyata cukup mahir mengikuti gerakan para penari utama. Bahkan terkadang gerakannya lebih luwes meski harus menopang tubuhnya yang subur dan gempal.
Pengantin berbaur dalam tarian Dabke
Sepuluh menit kemudian, musik berganti lembut dan seluruh pandangan mata yang hadir saat itu dilayangkan ke pintu masak taman. Dari tempat ini, Caroline sang pengantin wanita dengan diiringi dua “dayang” wanitannya terlihat mulai memasuki tempat acara. Cara masuk mereka cukup unik, sang pengantin wanita yang mengenakan baju pengantin putih bak putri istana berjalan perlahan menembus gulungan asap putih dan percikan kembang api. Usai di panggung, seperti halnya pengantin pria, pengantin wanita ini pun langsung berbaur dan menyatu dalam hentakan tarian Dabke.
Demikianlah, selama kurang lebih dua jam setengah, kami disuguhi hentakan musik keras ala Lebanon untuk mengiringi tarian Dabke. Para undangan secara bergantian mengiringi kedua pengantin nge”dabke”. Bahkan secara khusus, sang pengantin mendatangi meja kami yang mungkin dianggap paling antik karena dari “Indonesia” yang sedikit berbeda budaya untuk ikut larut dalam kebahagiannya dengan mencoba dan merasakan tarian Dabke. Kami pun menurut, mencoba tarian Dabke degan gaya kami masing-masing.
Pemotongan kue perkawinan dengan pedang kehormatan
Acara pernikahan yang kami hadiri tersebut berakhir pada pukul 12.15 AM yang sebelumnya ditandai dengan pemotongan kue raksasa yang dipotong dengan menggunakan pedang kehormatan.
Dari tempat pesta, rombongan kami selanjutnya bergerak menuju markas Indobatt untuk beristirahat malam. Kami memilih menginap di markas rekan kami tersebut ketimbang langsung pulang ke Naqoura, dengan pertimbangan cukup berisiko karena kondisi yang cukup lelah, jalanan rawan karena dikelilingi jurang serta faktor keamanan lainnya. Esoknya usai melaksanakan Sahur dan sholat Subuh berjamaah, rombongan kami bergerak kembali ke Naqoura.

Usia Nikah dan Amplop Pernikahan
Menurut Elie, usia rata-rata pernikahan di Lebanon terutama yang berpendidikan dan tinggal di kota-kota besar adalah 30 tahun untuk perempuan dan usia 35 tahun untuk laki-laki.  Menurutnya banyak alasan di balik pernikahan yang kelewat lambat di antaranya karena faktor ekonomi seperti adanya upah yang cukup rendah sehingga mempengaruhi kesiapan calon suami maupun isteri, perumahan mahal, efek emigrasi pada kedua jenis kelamin, pernikahan laki-laki untuk pasangan asing, dan harapan hidup yang disebabkan oleh konsumerisme. Pencapaian pendidikan perempuan, kebebasan dari kontrol ekonomi laki-laki, dan ambisi karir juga memberikan kontribusi faktor.
Fotoku dengan kedua pengantin
Dari beberapa sumber lain terkait dengan tradisi pernikahan masyarakat Lebanon ini, di antara orang Islam dan Kristen, ada preferensi tradisional untuk pernikahan dengan seorang sepupu patrilineal. Namun, praktek ini telah ditinggalkan di beberapa kawasan kecuali kawasan / daerah yang paling konservatif atau kolot memegang aturan ini.  Meskipun poligami diperbolehkan di bawah hukum Islam, praktik ini jarang terjadi dalam budaya Lebanon. Hal ini dianggap sebagai tidak praktis karena beban keuangan akan semakin membengkak dan pada banyak kasus memunculkan komplikasi pribadi. Usia pernikahan pun bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Di beberapa desa, perempuan menikah di akhir remaja dan anak laki-laki menikah di awal dua puluhan. Di daerah perkotaan, pemuda menikah pada usia yang relatif lambat. Mereka yang berpendidikan tinggi menunda pernikahan mereka sampai akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Sedangkan  khusus untuk pernikahan antar agama dan pernikahan sipil tidak diizinkan. Akan tetapi banyak pasangan yang terkena aturan ini bepergian ke luar negeri dan menikah di negara tujuan, karena pernikahan sipil asing diakui oleh pemerintahan Lebanon.
Foto bersama pengantin dan Satgas MCOU
Bagaimana dengan amplop pernikahan? Seperti halnya di Indonesia, sebagian besar masyarakat Lebanon terutama yang berada di pedesaan, memberikan sekedar tanda tali kasih kepada mereka yang sedang berbahagia melaksanakan pernikahan dalam bentuk barang maupun uang. Untuk pemberian dalam bentuk uang, jumlahnya tidak dibatasi sesuai dengan kemampuan, tetapi rata-rata minimal 10 ribu liban untuk ekonomi kelas bawah ($1 = 1500 liban).
Tradisi lain yang sedikit berbeda adalah untuk perkawinan yang dilaksanakan oleh mereka yang dianggap kelas menengah ke atas yang pesta pernikahannya umumnya dilaksanakan di gedung-gedung maupun hotel-hotel, tidak ada amplop atau kotak amplop dalam acara mereka. Seperti halnya pernikahan rekan kami Elie AKL, amplop tali kasih dari undangan sudah diterima sebelum acara dalam bentuk tranfer antar rekening. Jadi pada umumnya Undangan Perkawinan yang mereka sebarkan itu, di dalamnya sudah tercantum nomor rekening calon pengantin. Model ini menurutku cukup praktis, sebab calon pengantin dapat merencanakan pesta sesuai dengan jumlah tamu undangan dan juga menyesuaikan dengan jumlah uang yang mereka terima dalam rekeningnya. 
***  

Friday, July 19, 2013

Catatan ke-39 : Dari Sambel Pecel hingga Bakwan Goreng


Menyiapkan menu tambahan selain menu dapur

 Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sekitar 200 personel gabungan yang terdiri dari 150 orang personel Satgas Indonesian Force Protection Company IndoFPC), 50 orang Satgas Force Headquarter Support Unit (FHQSU), 18 orang Satgas Military Community Outreach Uniti (MCOU) dan 6 orang Satgas Cimic (Civic Military Coordination), pihak Unifil melalui Indo FPC yang merupakan “tuan rumah” Soedirman Camp di mana kami bertempat tinggal selama penugasan telah menyiapkan makanan dan minuman khas Indonesia dengan memanfaatkan fasilitas pendukung yang ada. Menunya cukup komplit dan melimpah dengan dominasi makanan berkoleterol tinggi seperti ayam (boiler dan kalkun), daging / hati sapi, daging kambing, udang, ikan laut/ tuna, cumi, sosis, ikan kalengan dan sebagainya yang diolah dengan ragam dan variasi menu ditambah sayuran hijau yang tidak pernah telat dalam setiap penyajiannya.
Meskipun telah disiapkan menu khas Indonesia, akan tetapi pada saat-saat tertentu terutama di kala bulan puasa saat ini, sebagian dari kami membuat racikan makanan sendiri. Ada yang cuma sekedar mengolah dengan menambahkan beberapa bumbu tertentu ke dalam menu makanan yang telah tersedia, ada pula yang “sengaja” membuat lauk tambahan karena dianggap makanan yang tersedia kurang memenuhi selera pada saat itu.
Membuat bakwan goreng di dalam korimek
Untuk contoh yang terakhir adalah seperti apa yang dilakukan olehku dan rekan-rekan seKorimek. Bila suatu kali mendapat bocoran dari “orang dapur” tentang lauk yang akan disajikan pada buka puasa ternyata menurut kami kurang mengundang selera makan meskipun “cukup mewah” maka biasanya kami mencari alternatif lauk tambahan yang kami siapkan secara bersama-sama. Menunya terkadang cukup sederhana, nasi goreng plus krupuk, tumis kangkung, sambal pecel dan terasi atau sambal petai cina yang bahannya tersedia di kebun korimek, atau pun membuat bakwan goreng yang bahannya sebagian di beli di warung langganan kami  di luar camp seharga 2-3 dolar. Untuk gizi dalam kondisi ini tidak kami permasalahkan, yang penting bisa menikmati buka puasa dan makan sahur dengan menu yang menurut kami saat itu paling enak (menu sederhana ini tidak ditemui di Lebanon kalau tidak kami sendiri yang mecari bahan dan membuatnya).
Bila menginginkan sesuatu yang sedikit “mewah” dibandingkan dengan masakan dapur, maka biasanya kami secara bersama-sama dengan rekan-rekan satu Satgas, satu atau dua korimek “saweran” beberapa dolar untuk membeli bahan masakan yang menurut kami bisa mengurangi rasa “kangen” kami terhadap masakan tertentu. Menu favorit yang kami sukai antara lain ayam dan ikan bakar, sate kambing dengan sejumlah menu pelengkapnya seperti nasi goreng, nasi putih, mie goreng, sambal terasi plus lalapan mentimun/kubis, krupuk dan lain-lainnya. Kalau sudah matang maka jadilah pesta kecil di mana kami bisa bersantap secara bersama-sama dengan iringan lagu khas Indonesia, dangdut. Untuk “pesta kecil” ini biasanya membutuhkan waktu penyiapan dan pengolahan yang cukup lama sehingga umumnya hanya bisa terlaksana di saat-saat senggang seperti malam minggu atau malam liburan lainnya dengan tempat memasak di halaman korimek atau di dapur kantor.
Bagaimana sich dengan rasanya? Jangan ditanya, meski kami semua adalah serdadu, akan tetapi untuk masalah masakan ini sebagian besar dari kami tidak alergi dengan apa yang namanya dapur, sehingga setiap bahan makanan yang kami olah umumnya menghasilkan makanan yang cita rasanya “luar biasa”.  Belum lagi dengan adanya satu-dua orang dari kami yang ternyata memang “jago masak”, maka hasil masakannya pun benar-benar enak dan gurih, “mak nyus!” demikian seperti kata pak Bondan, host khusus “pencicip makanan”  dalam salah satu acara televisi di Indonesia.  
Buka puasa bersama dengan menu khas Indonesia
Sebagai contoh betapa hebatnya “koki-koki” kami adalah ketika kami mengolah masakan seperti bakwan goreng. Rasanya dijamin jauh lebih enak dibandingkan dengan hasil olahan mbok-mbok atau mas-mas penjual gorengan yang menjajakan gorengannya dengan gerobak dorong di pinggir-pinggir jalan di ibukota Jakarta. Demikian pula untuk nasi goreng dan yang lain, meski pun bumbunya terkadang “pas-pasan” akan tetapi hasilnya cukup enak dan sanggup menggugah selera makan bagi siapa saja yang melihat dan mencium bau masakannya
Rasa yang terasa lebih enak dan nikmat bisa jadi dikarenakan jarangnya kami menikmati masakan tersebut, demikian seorang rekanku berseloroh yang menurutku masuk akal juga. Semakin lama kita tidak berjumpa dengan sesuatu maka bila suatu kali berjumpa dengannya maka rasanya akan melebihi dari perjumpaan yang pertama. Demikian juga dengan masalah masakan ini yang disadari atau tidak bila lama tidak menikmatinya, maka bila suatu kali bertemu maka rasanya jelas akan terasa lebih enak dan nikmat, meski dibuat dari bahan yang sama, bumbu-bumbu dan tempat yang sama serta diolah oleh orang yang sama pula.
Terkait dengan kegiatan masak memasak ini, memang terkesan sedikit aneh bila melihat prajurit TNI yang tergabung dalam misi PBB Unifil pada saat-saat senggang tersebut bergelut dengan kompor dan penggorengan, pisau dan bahan-bahan mentah masakan. Tapi keanehan itu aku yakin akan pupus bila anda terlibat di dalamnya atau pun melihat keseharian kami. Yang jelas bagi kami kebersamaan dalam “memasak” menurut kami bahkan bukan sekedar untuk menghilangkan sedikit kerinduan kepada makanan populer yang tidak kami rasakan selama berbulan-bulan di daerah penugasan, akan tetapi lebih dari itu, media “masak memasak “ ini semakin memperkuat persaudaran dan kerjasama kami sehingga pada gilirannya akan berpengaruh pula pada tingkat keberhasilan tugas yang kami emban selama menjalankan misi PBB di Lebanon.
***

Catatan ke-38 : Merasakan Ramadhan di Lebanon



Pelaksanaan Sholat Tarawih di Soedirman Camp
  Dengan rotasi penugasan yang berdurasi satu tahun maka setiap personel Kontingen Garuda yang terlibat dalam misi perdamaian PBB di Lebanon akan “berjumpa” dengan peristiwa-peristiwa penting tahunan yang tercatat dalam kalender, baik yang berpatokan pada kalender Masehi atau Hijriyah. Demikian pula denganku yang tergabung dalam personel Kontingen Garuda XXX-C MCOU Unifil, dengan awal penugasan pada 1 Desember 2012 lalu dan direncanakan berakhir pada akhir Nopember atau awal Desember 2013, maka aku dan juga rekan-rekan personel Garuda lainnya akan mengalami “perjumpaan” dan merasakan sejumlah “peringatan” peristiwa penting tersebut.
Bagiku dan sebagian besar personel Satgas Garuda yang beragama Islam maka salah satu peristiwa penting yang tidak mungkin terlewati dalam kurun masa penugasan yang satu tahun tersebut adalah dijumpainya bulan suci Ramadhan. Untuk tahun ini bulan yang penuh berkah yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam sedunia tersebut jatuh pada bulan Juli.  Dan kebetulan keputusan awal Ramadhan (awal puasa) ternyata tidak berbeda antara pemerintah Indonesia dan Lebanon yakni pada Rabu, 10 Juli 2013.

Sahur-Buka Butuh Waktu 16 Jam
Seperti halnya Ramadhan di tanah air, pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan di Lebanon praktis tidak ada perbedaan. Semuanya sesuai dengan tuntunan Alquran maupun hadits hadits Nabi Muhammad SAW. Untuk masalah makanan, seperti biasanya juga tidak ada perubahan. Untuk personel yang tinggal di Soedirman Camp misalnya, menu yang disajikan untuk buka puasa dan sahur tetap menu khas Indonesia dengan bumbu penyedap rasa dan sambal pedasnya. Sedangkan untuk mereka yang mendapatkan jatah makan di international mess (dinning room) seperti personel dari Indomedic dan Staf Officer (SO) juga tetap menikmati menu internasional yang sebenarnya kurang cocok dengan lidah Indonesia.
Tentara Tanzania yang mengikuti Sholat Tarawih di Soedirman Camp
Satu yang terasa berbeda dengan suasana Ramadhan di Indonesia adalah waktu puasa yang cukup panjang. Bila di Indonesia jedah waktu dari Imsyak hingga berbuka puasa sekitar 14 jam, misalnya untuk Indonesia bagian barat, Imsyak pukul 04.00 WIB maka waktu berbuka puasa sekitar pukul 18.00 WIB.  Sedangkan untuk di Lebanon, Imsyak 04.00 AM maka waktu berbuka pukul 08.00 PM. Jadi jedah waktu dari Imsyak ke waktu berbuka puasa membutuhkan waktu 16 jam, terpaut dua jam lebih lama dengan waktu berbuka puasa di Indonesia.
Perbedaan waktu yang cukup panjang ini tak terlepas dengan kondisi cuaca Lebanon yang kini memasuki musim panas (summer) di mana waktu siang lebih panjang ketimbang malam. Bila di Indonesia matahari terbenam sekitar pukul 18.00 WIB (waktu maghrib) yang ditandai dengan gelapnya cuaca (petang mendekati malam), maka untuk Lebanon matahari terbenar sekitar pukul 08.00 PM (waktu maghrib) dengan cuaca justru masih terlihat terang. Kondisi ini terkadang memang sering “ menipu” kami di mana cuaca masih terlihat sore dengan matahari masih terlihat di garis batas cakrawala laut Mediterania, tetapi sebenarnya waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 PM.
melaksanakan kegiatan rutin bekerjasama dg rekan kerja Italia
Dengan lebih panjangnya siang ketimbang malam tersebut, maka berpengaruh pula terhadap waktu istirahat, terutama di bulan puasa saat ini. Bila magrib pukul 08.00 PM, dan Isya pukul 09.30 PM, maka merupakan tantangan tersendiri bagi seluruh personel TNI yang beragama Islam dalam mengatur waktu istirahat dihadapkan dengan waktu ibadah yang mengiringi bulan puasa tersebut seperti waktu ibadah Tarawih, tadarus Al Quran dan sebagainya. Alhasil dengan mempertimbangkan rutinitas kegiatan malam yang ada maka hhusus untuk ibadah Tarawih, sesuai kesepakatan dipilih pelaksanaan ibadah tarawih delapan rakaat dan Witir tiga rakaat dengan pelengkap Kultum (kuliah tujuh menit). Imam Sholat pada pelaksanaan ibadah ini adalah rekan-rekan kami yang telah berpengalaman dalam memimpin ibadah sholat di tanah air yang ditunjuk secara bergiliran. Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan ibadah ini berkisar antara 45 menit hingga satu jam, yang berarti pelaksanaan ibadah tarawih berakhir sekitar pukul 10.30 PM.
Dengan pelaksanaan ibadah Tarawih yang rata-rata berakhir pada pukul 10.30 PM maka dari pengalaman pribadiku sendiri dan sejumlah rekan-rekan Satgas, waktu istirahat malam kami berkisar antara 2-3 jam yakni rata-rata pada pukul 12.00 PM hingga menjelang waktu sahur pukul 03.00 AM. Meski waktu istirahat cukup singkat, namun bukanlah merupakan suatu halangan bagi kami untuk tetap melaksanakan kegiatan sehari-hari di Unifil yang tidak mengalami perubahan yakni dari Pukul 08.00 AM  hingga pukul  05.00 PM (terkecuali Indo FPC 24 jam non stop yang dilaksanakan secara bergantian).
           ***