| Tradisi pernikahan khas Lebanon yang meriah |
Pada Sabtu malam, 20 Juli 2013, aku dan
seluruh anggota MCOU (Military Community Outreach Unit) Unifil Kontingen Garuda XXX-C mendapat undangan kehormatan
untuk hadir dalam pesta pernikahan rekan kerja kami Elie AKL, anggota Languange
Assistant (LA) MCOU yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah di kawasan
Marjayeoun, South Lebanon. Elie AKL yang berbadan subur ini menghabiskan masa
lajangnya dengan mengawini Caroline, seorang gadis Lebanon yang cantik.
Kami berangkat dari Soedirman Camp, Naqoura,
South Lebanon pukul 06.00 PM dengan mengendarai tiga mobil. Waktu
pemberangkatan ini disesuaikan dengan rencana kami di mana kami harus tiba di
markas Satgas Military Police Indonesia yakni Sector East Military Police Unit
(Sempu) Marjayeoun sekitar pukul 08.00 PM di mana waktu tersebut adalah waktu
berbuka puasa untuk kawasan South Lebanon. Dan perkiraan ini tidak meleset,
tiga mobil kami memasuki markas Sempu ini tepat waktu berbuka. Setelah
menggugurkan puasa dengan takjil yang telah disediakan rekan-rekan dari Sempu, kami
melaksanakan sholat Maghrib berjamaah yang selanjutnya bergeser ke ruang makan
untuk berbuka puasa bersama. Menu yang tersedia saat itu cukup menggugah selera
makan kami, ayam goreng, soto kambing dan lalapan dengan rasa khas Indonesia
yang sedap, gurih, pedas dan sedikit manis. Usai makan, tepat pukul 08.45 PM,
kami pun keluar dari markas Sempu menuju tempat pesta pernikahan.
Masakan yang Asing
| Salah satu rombongan Satgasku di depan meja makan |
Pertama
kali datang sekitar pukul 09.00 PM, rombongan kami langsung disambut oleh sepuluh
orang laki-laki dan perempuan setengah baya dengan pakaian yang campuran (aku
yakin mereka ini adalah kerabat maupun rekan-rekan). Setelah menerima ucapan
selamat datang dari mereka ini, kami selanjutnya diarahkan menuju sebuah meja
kecil yang ditunggui empat gadis Lebanon dengan pakaiannya yang cukup seksi,
corak-corak putih berenda dengan belahan yang terbuka cukup lebar. Bagi kami
mereka cukup anggun dengan kecantikan khas gadis Timur Tengah. Setelah
perwakilan kami menulis dan menjelaskan tentang rombongan kami, keempat gadis
tersebut dengan ramah mengarahkan kami untuk segera memasuki area pesta yang
berada di halaman samping hotel berupa area taman hijau yang cukup luas dengan
sebuah kolam renang kecil di tengah-tengahnya.
Saat
kami memasuki area pesta taman ini, hampir seluruh meja bundar yang bernomor
dengan sepuluh kursi yang mengelilinya telah terisi dengan para undangan. Tiga
orang gadis cantik penerima tamu yang dandanannya tidak berbeda jauh dengan
empat gadis yang pertama, mengantarkan rombongan kami ke dua buah meja yang
tidak berada jauh dari tempat masuk yang saat itu masih belum terisi. Kami pun
segera menempati tempat ini.
![]() |
| Menu masakan yang terasa asing untuk lidah Indonesia |
Di atas
meja kami masing-masing sudah tersedia makanan dan minuman yang cukup banyak.
Kami tidak tahu persis apa namanya, akan tetapi setelah kami coba satu persatu,
rasanya terlalu asing bagi kami dan tidak memungkinkan kami untuk memakannya.
Aku dan rekan-rekan akhirnya hanya menghabiskan makanan ringan berupa
kacang-kacangan serta beberapa piring cumi goreng tepung yang rasanya hampir
sama dengan masakan Indonesia. Ketika acara selesai dan para pelayan
menyuguhkan sekitar empat kali masakan baru, rasanya tetap saja, tidak sesuai
dengan lidah dan rasa Indonesia. Untuk minumannya pun aku dan rekan-rekan hanya
menghabiskan empat botol coca cola besar dan air putih. Sedangkan dua botol
anggur “black label” yang berada diatas meja sedari kami datang tidak kami
sentuh sama sekali. “ Hati-hati, ini bulan puasa, dan ini bisa membuat mabuk”
demikian kata salah seorang senior kami mengingatkan agar kami tidak usah
menyentuh minuman tersebut. Kami semua menurut. Jadi praktis, bila meja-meja
lain di sekeliling kami makanannya cepat ludas dan cepat diganti dengan makanan
baru yang mereka sukai, meja kami tetap utuh, sesekali kami hanya minta
tambahan kacang goreng/kwaci, cumi goreng tepung, air putih maupun coca
cola.
Menikmati dan Mencoba Tarian “Dabke”
Setelah
seperempat jam kami mencoba menikmati makanan khas Lebanon, acara pernikahan
yang kami tunggu-tunggu pun dimulai. Tiba-tiba dengan diiringi musik Lebanon
yang cukup keras, muncul enam orang penari pria dan empat penari wanita dengan
dandanan khas yang unik, baju kedodoran warna putih kombinasi hitam dengan
corak yang mengingatkan kita akan baju tokoh cerita “Ali Baba” berlari menuju
pusat acara, yakni sebuah panggung yang dipayungi tenda warna biru yang berada
di pinggir kolam. Dua di antara penari pria ini memainkan alat musik seperti
drum dan rebana yang dipukul keras-keras mengiringi gerakan mereka.
| Aksi penari tradisional Dabke |
Tiba di
tengah panggung, para penari ini selanjutnya melenggak-lenggokkan badannya
mengikuti irama musik remix Lebanon yang keras dengan gerakan tangan dan
langkah kaki yang teratur dan serempak. Gerakan-gerakan tari mereka ini
cenderung mengandalkan koordinasi gerakan kaki yang menghentak-hentak lantai
dengan keras yang sesekali diiringi dengan loncatan-loncatan kecil yang cukup
dinamis dan menarik.
Dari
informasi yang aku terima saat itu, yakni setelah berbincang-bincang dengan
rekan Language Assitant MCOU lainnya yang hadir seperti Habib, Nisrine dan
Jihad, aku dan rekan-rekan Satgas baru mengetahui bila tarian yang mereka
mainkan tersebut dinamakan “Dabke”. Dabke ini adalah tarian nasional Lebanon yang dilakukan hampir di setiap acara-acara penting keluarga seperti pernikahan dan juga di klub malam, restoran, dan
tempat hiburan lainnya. Tarian Dabke ini akan selalu
muncul untuk mewarnai kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang terlibat di
dalamnya.
| Ciri khas tarian Dabke dengan kaki yang menghentak lantai |
Pada awalnya "Dabke" adalah tarian yang dilakukan oleh
penduduk yang berbeda dari kawasan pegunungan yang terbentang di antara pantai Mediterania dan Sungai Tigriss. Oleh karena itu
tarian ini hanya milik desa-desa dan kota-kota kecil di Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Irak. Popularitas Dabke di pedesaan Lebanon pada akhirnya membawa keragaman irama tarian ini mulai dari sangat lambat
hingga sangat cepat, langkah-langkah (mtanniye, mtallate, arja), dan lagu-lagu berirama dan melodi (dal'ouna, houwara, nadda, haykalo, zayno, dll).
Tarian Dabke yang aku saksikan malam
tersebut, kini merupakan landasan dari seni tari Lebanon modern meskipun gayanya berbeda banyak
dengan tarian lainnya.
Para penari Dabke, pemuda dan pemudi pada umumnya mengenakan pakaian meriah. Para wanita mengenakan rok terusan dengan balutan kemeja dan rompi panjang ditambah kerudung dan hiasan kepala dengan dekorasi yang indah dan
manik-manik rumit yang menghiasi kepala mereka. Sedangkan para pria mengenakan sherwals dan labbadeh (celana baggy
dan merasa topi) dengan rompi warna-warni di atas kemeja dan sepatu bot mereka. Dua diantaranya membawa derbake (drum kecil yang terbuat
dari tanah liat kulit kambing silinder dan membentang).
| Menyambut kedatangan pengantin wanita |
Ketika
musik mulai menghentak-hentak dengan suara keras dan membisingkan telinga, para
penari ini berpegangan
tangan dan mulai menari dengan
iringan lagu
daloonah, dasar lagu dari semua tarian Dabkes. Selanjutnya
mereka menginjak-injak
tanah dengan kaki yang kompak
dan sementara
yang lain bertepuk tangan sehingga
tercipta suasana
yang tepat.
Setelah
sekitar sepuluh menit, para penari Dabke ini mempertontonkan kepiawaiannya
dalam mengatur gerak dan lagu dalam alunan Dabke yang menghentak-hentak,
tiba-tiba muncul rombongan pria yang mengantarkan Elie AKL sang pengantin pria
menuju panggung tarian. Dan tiba di tempat ini, aku sempat kaget karena sang
pengantin dan rombongannya langsung berbaur dengan “Dabke”. Sang pengantin yang
berkemeja putih dengan dibalut jas hitam ternyata cukup mahir mengikuti gerakan
para penari utama. Bahkan terkadang gerakannya lebih luwes meski harus menopang
tubuhnya yang subur dan gempal.
| Pengantin berbaur dalam tarian Dabke |
Sepuluh
menit kemudian, musik berganti lembut dan seluruh pandangan mata yang hadir
saat itu dilayangkan ke pintu masak taman. Dari tempat ini, Caroline sang
pengantin wanita dengan diiringi dua “dayang” wanitannya terlihat mulai
memasuki tempat acara. Cara masuk mereka cukup unik, sang pengantin wanita yang
mengenakan baju pengantin putih bak putri istana berjalan perlahan menembus
gulungan asap putih dan percikan kembang api. Usai di panggung, seperti halnya
pengantin pria, pengantin wanita ini pun langsung berbaur dan menyatu dalam
hentakan tarian Dabke.
Demikianlah,
selama kurang lebih dua jam setengah, kami disuguhi hentakan musik keras ala
Lebanon untuk mengiringi tarian Dabke. Para undangan secara bergantian
mengiringi kedua pengantin nge”dabke”. Bahkan secara khusus, sang pengantin
mendatangi meja kami yang mungkin dianggap paling antik karena dari “Indonesia”
yang sedikit berbeda budaya untuk ikut larut dalam kebahagiannya dengan mencoba
dan merasakan tarian Dabke. Kami pun menurut, mencoba tarian Dabke degan gaya
kami masing-masing.
| Pemotongan kue perkawinan dengan pedang kehormatan |
Acara
pernikahan yang kami hadiri tersebut berakhir pada pukul 12.15 AM yang
sebelumnya ditandai dengan pemotongan kue raksasa yang dipotong dengan
menggunakan pedang kehormatan.
Dari
tempat pesta, rombongan kami selanjutnya bergerak menuju markas Indobatt untuk
beristirahat malam. Kami memilih menginap di markas rekan kami tersebut
ketimbang langsung pulang ke Naqoura, dengan pertimbangan cukup berisiko karena
kondisi yang cukup lelah, jalanan rawan karena dikelilingi jurang serta faktor
keamanan lainnya. Esoknya usai melaksanakan Sahur dan sholat Subuh berjamaah,
rombongan kami bergerak kembali ke Naqoura.
Usia Nikah dan Amplop
Pernikahan
Menurut Elie, usia rata-rata pernikahan di Lebanon terutama yang berpendidikan dan tinggal di
kota-kota besar adalah 30 tahun untuk perempuan
dan usia
35 tahun
untuk laki-laki.
Menurutnya banyak alasan di balik pernikahan yang kelewat lambat
di antaranya karena faktor ekonomi seperti adanya upah yang cukup rendah
sehingga mempengaruhi kesiapan calon suami maupun isteri, perumahan mahal, efek emigrasi pada kedua jenis kelamin, pernikahan
laki-laki untuk pasangan asing, dan harapan hidup yang disebabkan oleh
konsumerisme. Pencapaian pendidikan perempuan, kebebasan dari kontrol ekonomi
laki-laki, dan ambisi karir juga memberikan kontribusi faktor.
| Fotoku dengan kedua pengantin |
Dari beberapa sumber
lain terkait dengan tradisi pernikahan masyarakat Lebanon ini, di antara orang
Islam dan Kristen, ada preferensi tradisional untuk pernikahan dengan seorang
sepupu patrilineal. Namun, praktek ini telah ditinggalkan di beberapa kawasan kecuali kawasan / daerah yang paling konservatif atau
kolot memegang aturan ini. Meskipun poligami diperbolehkan di bawah hukum Islam, praktik ini jarang terjadi dalam budaya Lebanon. Hal
ini dianggap sebagai tidak praktis karena beban keuangan akan
semakin membengkak dan pada banyak kasus memunculkan komplikasi pribadi.
Usia pernikahan pun bervariasi tergantung
pada beberapa faktor. Di beberapa desa,
perempuan menikah di akhir remaja dan anak
laki-laki menikah di awal dua
puluhan. Di daerah perkotaan, pemuda
menikah pada usia yang relatif lambat. Mereka yang berpendidikan tinggi menunda
pernikahan mereka sampai akhir dua puluhan atau awal
tiga puluhan. Sedangkan khusus untuk pernikahan antar agama dan
pernikahan sipil tidak
diizinkan. Akan tetapi banyak pasangan yang
terkena aturan ini bepergian ke luar negeri dan menikah di negara
tujuan, karena pernikahan sipil asing diakui oleh pemerintahan
Lebanon.
| Foto bersama pengantin dan Satgas MCOU |
Bagaimana dengan amplop pernikahan? Seperti
halnya di Indonesia, sebagian besar masyarakat Lebanon terutama yang berada di
pedesaan, memberikan sekedar tanda tali kasih kepada mereka yang sedang
berbahagia melaksanakan pernikahan dalam bentuk barang maupun uang. Untuk
pemberian dalam bentuk uang, jumlahnya tidak dibatasi sesuai dengan kemampuan,
tetapi rata-rata minimal 10 ribu liban untuk ekonomi kelas bawah ($1 = 1500
liban).
Tradisi lain yang sedikit berbeda adalah
untuk perkawinan yang dilaksanakan oleh mereka yang dianggap kelas menengah ke
atas yang pesta pernikahannya umumnya dilaksanakan di gedung-gedung maupun
hotel-hotel, tidak ada amplop atau kotak amplop dalam acara mereka. Seperti
halnya pernikahan rekan kami Elie AKL, amplop tali kasih dari undangan sudah
diterima sebelum acara dalam bentuk tranfer antar rekening. Jadi pada umumnya
Undangan Perkawinan yang mereka sebarkan itu, di dalamnya sudah tercantum nomor
rekening calon pengantin. Model ini menurutku cukup praktis, sebab calon
pengantin dapat merencanakan pesta sesuai dengan jumlah tamu undangan dan juga
menyesuaikan dengan jumlah uang yang mereka terima dalam rekeningnya.
***






