Friday, May 31, 2013

Catatan Ke-34 : Menikmati Kebesaran Kabah



Setelah kurang lebih tiga hari tiga malam berada di Madinah, pada tanggal 14 April 2013, usai sholat terakhir di Raudhah, aku dan rombongan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Mekah. Sesuai petunjuk guide, aku dan rombongan sudah siap dengan pakaian ihram (Pakaian ihram bagi laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit yang dipakai untuk bagian bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan. Sedangkan pakaian wanita ihram adalah menutup semua badannya kecuali muka dan telapak tangan seperti pakaian ketika sholat. Warna pakaian ihram disunatkan putih).
Usai bersantap siang dengan menu khas Indonesia, ikan goreng, sayur sop, sambal, tahu tempe, ikan asin, krupuk dan sejumlah lalapan, aku dan rombongan segera menuju bus jemputan yang telah menunggu di depan hotel. Dan tepat pukul 02.00 waktu Arab Saudi, rombongan kami pun bergerak menyusuri jalanan mulus Madinah menuju kota suci Mekah al Karomah.

Persiapan menuju ke tempat Miqat di Bier Ali

Dengan pakaian Ihram yang melekat di badan sebenarnya kami agak “risih” duduk dalam kendaraan, karena terkadang tanpa sengaja posisi pakaian tanpa jahitan ini akan bergeser sedemikian rupa sehingga membuat kami sedikit kurang leluasa dalam bergerak. Tetapi karena niat kami memang ikhlas ingin menunaikan ibadah Umroh, semua itu kami anggap sebagai tantangan yang harus kami lewati dengan baik.
Sebelum tiba di Mekah Al karomah, seperti lazimnya para jemaah yang ingin menunaikan ibadah haji/ umroh maka kami harus mengambil “Miqat” (dalam bahasa Arab Miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan Umrah. Miqat terdiri dari dua jenis yakni Miqat Zamani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﺯﻣﺎﻧﻲ) - batas yang ditentukan berdasarkan waktu dan Miqat Makani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﻣﻛﺎﻧﻲ) batas yang ditentukan berdasarkan tempat. Untuk yang kedua ini karena kami datang dari Madinah maka kami menuju ke Dzulhulaifah Bir Ali (Abyar 'Ali) (ﺫﻭﺍﻟﺣﻠﻴﻔﻪ ﺍﺑﻳﺎﺭ ﻋﻠﻲ).
Setelah tiba di Mesjid Bir Ali, kami pun segera mengambil wudlu, melaksanakan sholat sunnah dua rakaat dan mengambil niat umrah. Niat ini merupakan salah satu rukun yang harus dilakukan saat beribadah umrah dan tidak sah umrahnya apabila meninggalkan salah satu rukun (Rukun umrah ada 5 yaitu niat, Tawaf yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, Sa'I yaitu lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah 7x, dan Tahallul artinya melepaskan diri dari larangan ihram. Caranya dengan menggunting minimal 3 helai atau memotong rambut setelah selesai tawaf dan sa'i. Serta Tertib yaitu seluruh prosesi 1 sampai 4 harus urut).

Miqat di Bier Ali

Dari Bier Ali setelah dibekali dengan niat Umroh maka kami pun melanjutkan perjalanan menuju Mekah. Selama perjalanan, tidak henti-hentinya kami mengumandangkan kalimat Talbiyah, “Labbaika llahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.laa syarika laka (Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.Tiada sekutu bagiMu). Talbiyah ini kami baca secara terus menerus dalam hati atau secara berbarengan dengan suara yang agak keras mengikuti irama sang guide.
Setelah mampir di sebuah tempat yang disiapkan untuk transit rombongan jamaah yang akan melaksanakan Umroh dengan melaksanakan sholat Maghrib dan Isya (dijamak) maka tepat pukul sepuluh malam, rombongan kami memasuki kota Mekah. Di kota ini kami langsung check in hotel. Dan sesuai kesepakatan, pukul sebelas malam, aku dan rombongan akan langsung melaksanakan umroh.

Pelaksanaan Umroh
Tepat pukul sebelas malam, aku dan rombongan keluar hotel secara bersama-sama berjalan menuju Masjidil Haram yang jaraknya sekitar 150 meter dari tempat kami menginap tersebut. Sepanjang perjalanan, kalimat Talbiyah kami bacakan terus menerus membuat ratusan jamaah yang berpapasan di sepanjang jalan hotel-Masjidil Haram memandang dan melihat kami sebagai rombongan yang agak unik.  Aku yakin, pemandangan ini bagi para jamaah yang berpapasan atau sejalan dengan langkah kami merupakan hal biasa, karena memang itu disunnatkan. Mungkin yang sedikit membedakan adalah kalau umumnya rombongan jamaah Umroh terutama dari Indonesia berusia lanjut, namun kami sedikit berbeda dengan usia yang relatif muda dan postur serta style yang khas tentara dengan rambut “cepaknya” . Inilah yang sedikit membuat rombongan kami menjadi pusat perhatian selama perjalanan hotel-Masjidil Haram (dan ini berlanjut hingga pelaksanaan ibadah umroh selesai).

Suasana Kabah dengan Jamaah yang sedang Thawaf

Tiba di masjidil Haram, tepatnya di depan pintu King Abdul Aziz, aku dan rombongan berhenti. Di sini pemimpin rombongan memimpin doa untuk selanjutnya secara rapi dan teratur, satu persatu, kami memasuki Masjidil Haram, sebuah tempat suci yang menjadi idaman kami sebagaimana layaknya seorang Muslim. Dan sesaat kemudian kami pun kembali berhenti di depan pintu masuk bagi jamaah yang akan melaksanakan Thawaf. Di sinilah untuk kali pertama, aku dan sebagian besar rombongan tidak hentinya-hentinya memandang Kabah dengan kebesarannya yang membuat hati kami saat itu begetar. Di tempat ini pula kami memanjatkan doa sesuai yang disunnatkan bila seseorang melihat Kabah. Setelah itu barulah kami menuruni undakan, turun ke area pelaksanaan Thawaf.
Secara umum pengertian Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali. Sedangkan Tata cara melaksanakan Tawaf antara lain  diawali dengan niat Thawaf, dimulai dan berakhir pada garis coklat atau sejajar Hajar Aswad (ditandai dengan lampu menyala di sebelah kiri atas berwana hijau). Pada saat memulai tawaf putaran pertama mengangkat tangan kearah Hajar Aswad dengan mengucapkan : لبسم الله والله اكبر disunatkan menghadap ka’bah. Pada tawaf putaran ke dua dan seterusnya cukup dengan menolehkan muka ke Hajar Aswad dengan mengangkat tangan dan mengucapnya sambil membaca: لبسم الله والله اكبر, Mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali dengan posisi Ka’bah selalu berada disebelah kiri dengan membaca doa tawaf,  Setiap sampai di rukun Yamani usahakan mengusapnya atau cukup mengangkat tangan(tanpa mencium) dan dilanjutkan dengan membaca doa tawaf, Setelah selesai tawaf bila keadaan memungkinkan hendaknya melaksanakan Shalat sunnat tawaf di makam Ibrahim, Shalat sunnat mutlak di Hijir Ismail dan Minum air Zam-zam.
Dalam melaksanakan Thawaf ini ada sesuatu yang membuat aku sedikit kurang nyaman yakni dalam membaca doa thawaf dari putaran pertama hingga putaran terakhir. Aku lihat seluruh anggota rombongan dan juga sebagian jemaah Umroh lain sembari melaksanakan putaran, mata mereka terfokus pada buku panduan yang mereka bawa masing-masing. Memang dengan doa yang cukup panjang dan berbeda-beda antara putaran satu hingga putaran ketujuh, sebagian jamaah akhirnya membawa buku panduan karena belum hafal dengan doa-doa tersebut. Tetapi menurut pendapat aku pribadi, itu justru membuat sedikit kurang menikmati kebesaran Kabah yang selalu berada di sebelah kiriku dalam setiap putaran thawaf. Dengan pandangan seperti itu, akhirnya aku menyimpan buku panduan di dalam tas kecilku, untuk selanjutnya dalam beberapa bagian doa yang belum aku hafal, menirukan bacaan doa sang guide sehingga pada akhirnya aku lebih merasa nyaman dan khusuk dalam pelaksanaan Thawaf, sembari menikmati kebesaran Kabah dengan ribuan umatnya yang tidak henti-hentinya berputar mengelilinginya berlawanan arah jarum jam.

Usai pelaksanaan Thawaf

Setelah rukun Thawaf terlewati yang ditandai dengan pelaksanaan sholat sunah Thawaf, aku dan rombongan bergerak ke pintu sebelah kiri, menuju pelaksanaan Sai. Lokasi Sai ini sudah menyatu dengan Masjidil Haram, dan lokasinya berada di lantai dua di mana fasilitas tangga eskalator sudah disediakan dan bergerak secara terus menerus 24 jam mengantarkan mereka yang akan melaksanakan Sai. Di tempat ini bayangan Sai berupa bukit Sofa dan Marwah dengan sendirinya akan pupus karena kini sudah disulap menjadi lorong indah berlantaikan marmer kualitas terbaik, penerangan lampu yang cukup, serta ketersediaan galon-galon air zam-zam dingin yang siap mengobati dahaga para jamaah. Tempat Sai ini dibagi menjadi dua jalur besar antara Sofa dan Marwah dengan dua jalur kecil yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang menggunakan kursi roda.
Ibadah Sa'i merupakan salah satu rukun Haji dan umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. Ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama'ah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama'ah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas.

Lorong Sai yang penuh dengan Jamaah


Setiba di tempat ini, aku dan rombongan segera melaksanaan Sai sesuai tuntunan sunnah Rasulullah saw. Antara lain ketika mendekati Shofa membaca bacaan yang artinya: Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah termasuk tanda-tanda (peribadatan kepada) Allah. Aku memulai dari apa yang Allah memulai darinya. Naik ke atas Shofa menghadap ke Ka'bah, lalu mengangkat kedua tangan dan membaca bacaan yang artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Tiada sekutu bagiNya. Ke punyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian. Dan Ia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Ia lestarikan janjinya. Dan Ia tolong hambaNya. Dan Ia hancurkan sendiri tentara-tentara (musuh). Bacaan itu diulang tiga kali dan diselingi dengan doa sesuai kemauan kita. Selanjutnya turun dari Shofa berjalan menuju Marwah. Sesampai di batas tiang hijau berlari-lari kecil sampai ke batas tiang hijau berikutnya (Lari-lari kecil itu hanya untuk laki-laki. Bagi perempuan tidak usah lari-lari kecil, tapi berjalan biasa). Lalu berjalan biasa sampai ke Marwah. Di antara dua tiang hijau itu dahulu adalah jurang tempat Nabi saw. berlari-lari kecil Sekarang tempat itu sudah dibuat rata dan diberi tanda tiang hijau berlampu dan beralas marmer. Begitu juga Shofa dan Marwah sudah tidak tampak seperti gunung kecil lagi, tapi hanya tampak seperti tanjakan. Tiba di atas Marwah seperti di atas Shofa, selanjutnya menghadap ke Ka'bah dan membaca doa, kemudian kembali menuju bukit Shafa. Begitulah hal tersebut di lakukan tujuh kali, perginya adalah satu  putaran yaitu dari shafa ke marwah dan sekembalinya dari marwah ke shafa adalah satu putaran.
Seperti halnya pelaksanaan Thawaf yang bagi sebagian jemaah terutama yang berusia lanjut, sangat menguras tenaga, pelaksanaan Sai pun tidak berbeda jauh, menguras tenaga karena harus berjalan “bolak-balik” dari Sofa-Marwah yang jaraknya sekitar 400 meter tersebut. Meski demikian, bagi kami kegiatan ini justru benar-benar dinikmati dan tidak ada rasa capai maupun lelah (maklum sebagai prajurit, kami sudah terlatih dan terbiasa melaksanakan lari, jalan cepat atau long march dengan kondisi fisik yang hampir sama antara satu dengan lainnya). Seperti halnya di tempat lain, rombongan kami pun yang rata-rata masih muda dengan potongan khas serdadu menjadi pusat perhatian jemaah lainnya. Tetapi ini tidak kami hiraukan, fokus kami adalah melaksanakan ibadah Umroh dengan sebaik-baiknya.

Berdoa di Bukit Marwah usai pelaksanaan Sai

Usai Sai tujuh putaran, kami semua berkumpul di bukit Marwah, melaksanakan sholat sunnah, berdoa dan diakhiri dengan pemotongan rambut yang merupakan tanda kami bertahalul. Sampai di sini, Umroh kami pun usai. Aku dan rombongan segera keluar dari tempat Sai, keluar dari area masjidil Haram.
Tiba di pelataran masjidil Haram, jam sudah menunjukkan pukul 12.30 Waktu Arab Saudi, rombongan kami terpisah, sebagian langsung ke hotel, sedangkan aku dan sebagian rekan lainnya berniat melaksanakan Badal Umroh. Untuk melaksanakan ini aku dan sembilan rekan lainnya yang masih mengenakan kain ihram harus kembali ke Miqat, di mana tempat Miqat terdekat adalah di Masjid Tham’in. Karena tidak memungkinkan untuk menggunakan bus jemputan kami, maka kami naik taksi yang sudah siap menunggu, mengantarkan ke tempat Miqat terdekat ini. Hasil negosiasi dengan dua pengemudi taksi, diperoleh kesepakatan, masing-masing dari kami harus mengeluarkan beaya sepuluh real. Akhirnya kami pun berangkat dengan dua taksi tersebut menuju ke Miqat terdekat.

Thawaf pada Badal Umroh yang pertama

Setelah menyita waktu sekitar 40 menit, kami pun tiba kembali ke Masjidil Haram, dan langsung melaksanakan rukun Umroh lainnya seperti Thawaf, Sai dan Tahalul yang kami kerjakan hingga menjelang adzan Subuh. Usai pelaksanaan sholat Subuh dengan masih mengenakan kain Ihram, kami pun kemudian kembali ke Hotel, istirahat. Badal Umroh yang pertama ini aku peruntukkan bagi almarhum ayahanda tercinta yang telah berpulang ke Rakhmatullah pada 1999.
Esoknya seperti biasa kami melaksanakan ibadah di Masjidil Haram dengan rombongan Satgasku, sekaligus “hunting” moment dan gambar terbaik di sekeliling Kabah. Sayang kondisi Masjidil Haram yang kini sedang direnovasi untuk perluasan area sholat, membuat gambar-gambar yang dihasilkan dari kamera yang kami bawa kurang maksimal karena banyaknya peralatan berat yang mengganggu keindahan masjid. Meski demikian, kamera yang aku bawa tidak henti-hentinya “ceprat-cepret” bila aku bawa naik ke lantai tiga dan diarahkan ke area thawaf. Di area ini, kerumunan jamaah yang berjubel, bergerak seirama berlawanan dengan jarum jam, selalu menyentak hatiku akan kebesaran Allah SWT. Betapa tidak, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dan seterusnya, arus jamaah tidak terputus-putus. Bila ada rombongan yang selesai, muncul rombongan baru, demikian seterusnya dari pagi hingga malam.

Kabah di waktu malam yang tidak pernah sepi

Kipas pendingin raksasa yang berada di depan masjidil haram

Malamnya usai melaksanakan ibadah sholat Isya, aku berniat kembali melaksanakan Badal Umroh. Kali ini aku peruntukkan bagi ibunda tercinta. Meski beliau masih hidup, tetapi melihat kondisinya yang tidak memungkinkan karena usia lanjut serta setelah mendengar pertimbangan dari sang guide yang “membolehkan”, maka aku putuskan untuk mem”badal” umrohnya. Aku mengajak rekan lainnya yang juga berniat sama. Sekitar sembilan orang setuju, maka berangkatlah kami ke Miqat untuk berniat Badal Umroh. Dan ini bisa kami selesaikan dalam waktu relatif lebih pendek, sekitar dua jam hingga pelaksanaan Tahallul yang menjadi bagian akhir dari kegiatan Umroh. Khusus untuk Badal Umroh ini, ada sebagian rekanku yang seperti “mengejar setoran”. Di antara mereka itu, ada yang Badal Umroh hingga tiga kali, empat kali hingga ada juga yang sampai lima kali!! Luar biasa!. “ Mumpung di sini mas, saya manfaatkan untuk memBadal Umroh, orang tua, mertua dan juga kakek yang sudah meninggal” kata seorang rekanku dari Marinir yang di Lebanoin tergabung dalam Satgas Indo FPC Unifil.

Berpose dengan rekanku di Jabal Rahmah

Masjid Terapuing di Laut Merah
Pada tanggal 18 April 2013, aku dan rombongan diajak berkeliling oleh guideku, ziarah ke beberapa tempat menarik dan bersejarah seperti mengunjungi Padang Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina, Jabal Nur, Jabal Tsur, Masjid Jin, Masjid Jaronah dan tempat lainnya. Sedangkan pada hari terakhir, tepatnya Jumat 19 April 2013, kami check out hotel menuju Jeddah untuk city tour seperti mengunjungi Laut Merah dan mesjid terapung serta menyambangi pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Makkah Ballad & Corniche. Dan usai mengikuti sholat Jumat di masjid terapung, rombongan kami segera menuju King Abdul Aziz International Airport, terbang kembali ke Beirut, Lebanon. Dari Beirut ini, sebagian dari kami kembali ke basis di Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon, sedangkan 17 orang lainnya termasuk aku sendiri, langsung terbang dengan Qatar Airways menuju Soekarno Hatta International Airport, Jakarta, Indonesia. Menghabiskan sisa cuti bersama keluarga tercinta di Jakarta dan juga menengok orang tua di kampung kelahiranku, Tegal.
***

Catatan Ke-33 : Ibadah di Mesjid Nabawi



Suasana malam hari usai Sholat Maghrib di pelataran mesjid Nabawi
Pada Minggu, 14 April 2013, sekitar pukul 11.00, aku dan rombongan tiba di Madinah. Aku dan rombongan sedikit bersyukur karena ditempatkan di sebuah hotel dengan nama Al Mubaroq yang cukup lumayan fasilitas dan pelayanannya dengan jarak yang relatif dekat dengan Mesjid Nabawi, Medinah yaitu sekitar 100 meter. Setelah check-in, aku dan rombongan segera memasuki kamar masing-masing, mempersiapkan diri untuk segera melihat kebesaran dan keindahan mesjid Nabawi. Di hotel Al Mubarok ini, aku menempati sebuah kamar yang cukup lumayan untuk beristirahat dengan tiga orang rekanku dari satgas yang sama.
     Usai santap siang bersama di ruang makan yang posisinya di lantai bawah, aku dan rombongan segera bergegas pergi menuju mesjid Nabawi. Dan rasa syukur segera menyeruak dalam hatiku ketika untuk pertama kalinya aku mulai memasuki area mesjid Nabawi dari gate sembilan. Aku benar-benar mengagumi desain arsitekturnya yang sangat luar biasa. Belum lagi ditambah puluhan payung raksasa yang mengembang di sekeliling halaman mesjid, depan, kanan, kiri dan juga belakang. Saat aku memasuki pelataran mesjid, payung ini sedang mengembang untuk memayungi para jamaah yang ada di bawahnya dari terik langsung sinar matahari. Menurut informasi yang aku terima, menjelang maghrib, payung ini akan menutup secara otomatis dan akan membuka kembali esok harinya.

Mesjid Nabawi di siang hari
Dari beberapa literatur, Mesjid Nabawi adalah Mesjid tempat Rasulullah SAW memimpin para sahabatnya dalam “mendirikan salat, berkhutbah, mengajarkan hadits dan memusyawarahkan urusan-urusan umat Islam. Selama kepemimpinan khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Masjid Nabawi ini tetap menjadi pusat perkembangan Islam (sebelum akhirnya dipindahkan oleh Muawiyah ke Damaskus).
Saat ini Mesjid Nabawi menjadi tujuan penting kedua bagi umat Islam sedunia yang akan melaksanakan Haji maupun Umroh (setelah Masjidil Haram di Makkah dengan Kabah sebagai Pusatnya).  Kelebihan dari mesjid ini adalah di dalamnya terdapat makam Rasulullah SAW, sehingga Masjid ini memiliki sebuah peran yang tak tergantikan, yakni tempat umat Islam berziarah kepada Nabinya. Dan karena ini pula, Masjid Nabawi selalu menyimpan pesonanya tersendiri dan menjadi tempat yang “wajib” didatangi terutama bagi mereka yang akan melaksanakan ibadah haji maupun umroh.
Secara umum luas ruangan dalam Masjid Madinah sekitar 98.326 m2, dan mampu menampung lebih dari 178.000 Jamaah. Bila musim haji tiba maka kapasitas ruangan ibadah ini jelas tidak bisa menampung seluruh jamaah (untuk jamaah haji dari Indonesia saja jumlahnya lebih dari 200 ribu). Dapat dibayangkan betapa padat dan ramainya suasana mesjid di waktu musim haji tiba.
Arsitektur yang luar biasa
Dengan arsitektur dan desain interior yang mewah dan elegan, mesjid Nabawi ini selalu memberikan rasa nyaman bagi jamaahnya meski setiap saat dipadati jemaah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Kemegahan mesjid ini juga sangat kentara dengan melihat pilar-pilar besar penyangga atap yang memiliki kelebihan sebagai sumber sanitasi utama udara di seluruh ruangan Masjid. Udara dingin keluar dari “akar-akar pilar” dari tembaga berlobang yang dilalui udara dingin. Melalui lobang-lobang di “akar” pilar ini, angin-angin dingin dari AC central didistrubusikan ke seluruh ruangan Masjid Nabawi. Fasilitas lain di setiap lorong, pojok, dengan jarak yang tak begitu jauh berderet puluhan drum berisi air zam-zam yang siap minum. Di samping itu terdapat ratusan rak Al Qur’an yang tertata rapi yang dapat dimanfaatkan para jamaah dalam mengalunkan kala Ilahi.
Salah satu keistimewaan lain Masjid Nabawi adalah adanya Roudhoh (Tempat antara kamar Rasulullah SAW dan Mimbar Masjid Nabawi). Tempat ini memiliki pesona dan daya tarik tersendiri bagi umat Muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat yang berada di posisi terdepan ini ditandai dengan karpetnya yang berwarna hijau (karpet lain semuanya berwana merah).
Selama 3 hari berturut-turut aku dan rombongan berada di Madinah. Waktu yang sangat sempit ini kami manfaatkan untuk beribadah di mesjid Nabawi, mulai dari sholat Tahajud, Subuh, Dhuhur, Azhar, Maghrib dan Isya. Dengan interval waktu ibadah sholat fardhu yang pendek tersebut maka praktis, aku dan rombongan hanya beberapa jam saja istirahat di hotel (jam 10 malam hingga pukul 2 pagi).
Dengan seorang rekanku usai sholat Isya
Sesekali untuk membayar keingintahuan kami tentang kondisi mesjid Nabawi, kami sempatkan pula beberapa menit untuk “berbelanja oleh-oleh” khas Medinah, mulai dari pakaian/ baju muslim, sajadah, parfum, hingga peralatan ibadah lainnya. Aku sendiri cuma berbelanja oleh-oleh sesuai pesanan anak dan isteriku seperti baju muslim, “pacar/ tatoo arab”, dan baju Gamis plus beberapa sorban untuk kepentinganku sendiri. Oleh-oleh khas Madinah ini tersebar di hampir setiap pojok jalanan, bahkan bagi mereka yang ingin mencari harga yang miring dapat mendapatkannya di sepanjang lorong Gate masuk mesjid Nabawi. Khusus yang terakhir ini, umumnya dijajakan oleh perempuan-perempuan berbaju hitam bercadar (kelihatan matanya saja) yang didominasi oleh perempuan “berkulit gelap”.  Keunikan para penjual “kaki lima” yang hingga kini masih aku ingat adalah aksi para penjual lelakinya yang bersuara keras dalam menjajakan dagangannya. Bahkan untuk kelompok penjual kerudung wanita, sang penjual memiliki trik sendiri dalam mencari minat pembeli. Dengan ratusan kerudung yang terhampar luas di area jualannya, sang penjual berdiri di atasnya dengan “segepok” kerudung, lalu sembari berjalan dilemparkannya kerudung itu satu persatu ke atas. Kelihatan aneh memang, tapi aku sendiri salut dengan trik semacam ini yang aku yakin dapat menarik minat para pembeli.
Kembali ke masalah ibadah di mesjid Nabawi. Di mesjid ini benar-benar aku merasakan suasana ibadah yang belum pernah aku alami sebelumnya. Aku dan dua rekanku satu Satgas, Serda Suprapto dan Kopda Agus, sering bertafakur di mesjid ini, melaksanakan sholat-sholat fardhu dan sunat serta tidak henti-hentinya mengagumi keindahan dan kebesaran mesjid ini. 

Raudha dan makam Nabi Muhammad SAW
Khusus agar bisa melaksanakan sholat di Raudhah dengan khusyu, kami pun akhirnya bersepakat untuk saling “melindungi” agar kami bisa ruku dan sujud dengan benar, serta tidak tergeser oleh orang lain (perlu diketahui sholat di tempat ini cukup sulit karena harus berebutan dengan ratusan jemaah lainnya yang juga berniat sama. Sedangkan usai sholat Isya hingga menjelang Adzan Subuh, tempat ini hanya diperuntukkan bagi jemaah perempuan). Meski berhasil beberapa kali sholat di tempat ini dengan kawalan dua rekanku secara bergantian, namun aku merasa sholatku belum”khusyu” karena terganggu jemaah lain yang terus berdesakan “memaksa” masuk ke area Roudah. Kekhusukan dalam sholatku baru tercapai pada hari ketiga, saat mau meninggalkan Medinah dan berniat “pamitan” ke makam rasulullah. Saat itu, sekitar jam sembilan pagi,  jemaah Roudhah yang biasanya berdesakan diatur sedemikian rupa oleh 6 orang petugas yang mengatur jalan masuk dan keluar para jemaah. Jemaah yang terlalu lama di tempat ini diminta segera keluar melalui dua pintu keluar untuk selanjutnya digantikan jemaah baru dari satu pintu masuk. Cara ini seharusnya bisa dipertahankan karena sangat membantu jemaah khususnya dalam mencari kekhusukan dalam beribadah.
Ziarah ke beberapa tempat bersejarah
Tepat tiga hari usai beribadah penuh di mesjid Nabawi serta menyempatkan diri untuk berziarah di tempat-tempat bersejarah seperti pemakaman Baqi, mesjid-mesjid sahabat Rasulullah yang letaknya tak jauh dari Nabawi, mengunjungi mesjid Quba, Jabal Uhud, mesjid Qiblatain dan Khandak serta mampir di pasar/ kebun kurma, akhirnya perjalanan religi kami di kota Madinah berakhir. Pada Selasa siang, 16 April 2013, usai makan siang dan sholat Dhuhur, aku dan rombongan check-out hotel, berangkat ke Mekah dengan pakaian ihram, siap untuk melaksanakan Umroh.
****

Catatan Ke-32 : Peristiwa Yang Tak Terduga



Setelah keluar dari area bandara menuju Madinah, aku dan rekan-rekan yang berada di dalam bus mulai melihat pemandangan di kanan kiri jalanan. Kesan yang kami tangkap, kondisi daerah negara yang terkenal kaya minyak ini sebenarnya mirip dengan daerah penugasan kami di Lebanon. Perbedaannya mungkin kalau di Lebanon lebih banyak dataran tingginya dengan jalan yang berkelok-kelok, naik turun serta didominasi pohon-pohon penghasil minyak zaitun. Akan tetapi di Arab ini, jalanan mulus dengan kualitas bahan yang aku yakin bagus pula, tetapi datarannya relatif rata, gersang dengan bukit-bukit batu dan tanah hitam yang gundul tanpa pepohonan serta tak ketinggalan dominasi pohon kurma yang memang menjadi ikon negeri tujuan “wisata religi” umat Islam sedunia. Melihat kondisi dataran Arab ini, aku tetap bersyukur dilahirkan di Indonesia dengan hamparan sawah yang hijau nan indah dan nyaman. Seperti bayanganku di Lebanon, aku rasa tidak akan “krasan” hidup di negara dengan kontur daerah yang berbalik 100 derajat dengan Indonesia, khususnya kampung halamanku di Tegal.
Setelah melewati daerah-daerah dengan kontur khas Arab Saudi, tak terasa tiga jam telah berlalu, dan tiba-tiba adzan Subuh sayup-sayup terdengar dari dalam bus yang kami tumpangi. Pemandu kami yang asli Madura dan sudah dua tahun tinggal di Arab Saudi meminta sopir untuk berhenti di mesjid yang tak jauh dari jalan. Sopir menurut, dan pada suatu tempat ia membelokkan kendaraannya keluar dari jalan raya, berhenti tak jauh dari sebuah mesjid yang lumayan besar berwarna putih dengan arsitektur bangunan khas mesjid Timur Tengah.
Di tempat ini, aku dan rombongan turun dan segera mengambil air wudlu yang berada di belakang mesjid. Saat itu Sholat Subuh berjamaah telah usai. Rombongan kami pun segera memasuki mesjid. Ketika kami akan melaksanakan sholat Subuh berjamaah, seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun dengan jubah berbalut sorban tiba-tiba mendatangi rombongan kami dan berbicara dengan seorang rekanku yang berniat menjadi imam sholat kami. Rekanku ini setuju, ia mempersilahkan sang lelaki tadi untuk “mengimami” kami. Sholat pun dimulai dan akhirnya selesai meski bagiku dan sebagian rekanku terasa kurang lengkap karena tidak ada “doa qunut”nya serta surat pilihan pada rakaat pertama (setelah al Fatihah) yang cukup panjang yakni “Surat Al Baqarah” yang kurang lazim bagiku yang sering menggunakan surat-surat pendek.
Usai sholat, satu persatu, kami keluar dari mesjid, kembali ke bus untuk meneruskan perjalanan. Akan tetapi di pintu keluar mesjid, kami melihat sesuatu yang cukup mengagetkan, sang lelaki yang menjadi imam sholat kami tadi sedang beradu mulut dengan seorang laki-laki tua penduduk lokal yang juga menjadi jamaah sholat Subuh. Kata-kata keras keluar secara bergantian dari mulut mereka berdua, memecahkan kesunyian di waktu Subuh itu. Bahkan hampir saja terjadi baku hantam, seandainya tidak dipisahkan olehku dan sebagian warga lokal. Usut punya usut, dari keterangan pemandu kami, sang lelaki tua menegur sang imam karena ada bacaan sholat yang “keliru” serta inisiatifnya menjadi imam kami adalah “tidak tepat” karena sebelumnya ia telah melaksanakan sholat fardhu Subuh. Menurut sang lelaki tua, tidak boleh seorang muslim sholat berjamaah di mana imam dan makmum niat sholatnya berlainan. Sang Imam niatnya sholat sunnah dan makmum sholat fardhu.
Kejadian tersebut membuat hatiku sedikit miris, baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Arab, kok sudah disuguhi dengan peristiwa semacam itu! Meski demikian, peristiwa tersebut tidak melunturkan niat kami untuk melaksanakan ibadah Umroh. Sebelum berangkat pun sebenarnya kami sudah dibekali dengan beberapa gambaran kehidupan beragama di tanah Arab yang multi madzhab/ aliran. Semuanya benar dan “tidak ada yang salah” sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing, ikut madzhab A atau B, C atau bahkan D tidak ada masalah.
Setelah kami mengadakan diskusi kecil mengupas kejadian “unik” tersebut, akhirnya pemimpin rombongan meminta kami semua untuk kembali ke dalam bus. Kami menurut. Dan dua jam kemudian, bus yang kami tumpangi akhirnya tiba di kota Madinah .