Setelah kurang lebih tiga hari tiga malam
berada di Madinah, pada tanggal 14 April 2013, usai sholat terakhir di Raudhah,
aku dan rombongan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Mekah. Sesuai petunjuk
guide, aku dan rombongan sudah siap dengan pakaian ihram (Pakaian ihram bagi
laki-laki adalah 2 lembar kain yang tidak berjahit yang dipakai untuk bagian
bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan. Sedangkan pakaian
wanita ihram adalah menutup semua badannya kecuali muka dan telapak tangan
seperti pakaian ketika sholat. Warna pakaian ihram disunatkan putih).
Usai bersantap siang dengan menu khas
Indonesia, ikan goreng, sayur sop, sambal, tahu tempe, ikan asin, krupuk dan
sejumlah lalapan, aku dan rombongan segera menuju bus jemputan yang telah
menunggu di depan hotel. Dan tepat pukul 02.00 waktu Arab Saudi, rombongan kami
pun bergerak menyusuri jalanan mulus Madinah menuju kota suci Mekah al Karomah.
Persiapan menuju ke tempat Miqat di Bier Ali |
Dengan pakaian Ihram yang melekat di badan
sebenarnya kami agak “risih” duduk dalam kendaraan, karena terkadang tanpa
sengaja posisi pakaian tanpa jahitan ini akan bergeser sedemikian rupa sehingga
membuat kami sedikit kurang leluasa dalam bergerak. Tetapi karena niat kami
memang ikhlas ingin menunaikan ibadah Umroh, semua itu kami anggap sebagai
tantangan yang harus kami lewati dengan baik.
Sebelum tiba di Mekah Al karomah, seperti
lazimnya para jemaah yang ingin menunaikan ibadah haji/ umroh maka kami harus
mengambil “Miqat” (dalam bahasa Arab Miqat adalah
batas bagi dimulainya ibadah haji batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila
melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain
ihram dan memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan
Umrah. Miqat terdiri dari dua jenis yakni Miqat Zamani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﺯﻣﺎﻧﻲ)
- batas yang ditentukan berdasarkan waktu dan Miqat Makani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﻣﻛﺎﻧﻲ)
batas yang ditentukan berdasarkan tempat. Untuk yang kedua ini karena kami
datang dari Madinah maka kami menuju ke Dzulhulaifah Bir Ali (Abyar 'Ali)
(ﺫﻭﺍﻟﺣﻠﻴﻔﻪ ﺍﺑﻳﺎﺭ ﻋﻠﻲ).
Setelah
tiba di Mesjid Bir Ali, kami pun segera mengambil wudlu, melaksanakan sholat
sunnah dua rakaat dan mengambil niat umrah. Niat ini merupakan salah satu rukun
yang harus dilakukan
saat beribadah umrah dan tidak sah umrahnya apabila meninggalkan salah satu
rukun (Rukun umrah ada 5 yaitu niat, Tawaf yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7
kali, Sa'I yaitu lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah 7x, dan Tahallul
artinya melepaskan diri dari larangan ihram. Caranya dengan menggunting minimal
3 helai atau memotong rambut setelah selesai tawaf dan sa'i. Serta Tertib yaitu
seluruh prosesi 1 sampai 4 harus urut).
Miqat di Bier Ali |
Dari Bier Ali setelah dibekali dengan niat
Umroh maka kami pun melanjutkan perjalanan menuju Mekah. Selama perjalanan,
tidak henti-hentinya kami mengumandangkan kalimat Talbiyah, “Labbaika llahumma
labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal
mulka.laa syarika laka (Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu
bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.Tiada sekutu
bagiMu). Talbiyah ini kami baca secara terus menerus dalam hati atau secara
berbarengan dengan suara yang agak keras mengikuti irama sang guide.
Setelah mampir di sebuah tempat yang
disiapkan untuk transit rombongan jamaah yang akan melaksanakan Umroh dengan
melaksanakan sholat Maghrib dan Isya (dijamak) maka tepat pukul sepuluh malam,
rombongan kami memasuki kota Mekah. Di kota ini kami langsung check in hotel.
Dan sesuai kesepakatan, pukul sebelas malam, aku dan rombongan akan langsung
melaksanakan umroh.
Pelaksanaan Umroh
Tepat pukul sebelas malam, aku dan rombongan
keluar hotel secara bersama-sama berjalan menuju Masjidil Haram yang jaraknya
sekitar 150 meter dari tempat kami menginap tersebut. Sepanjang perjalanan,
kalimat Talbiyah kami bacakan terus menerus membuat ratusan jamaah yang
berpapasan di sepanjang jalan hotel-Masjidil Haram memandang dan melihat kami
sebagai rombongan yang agak unik. Aku
yakin, pemandangan ini bagi para jamaah yang berpapasan atau sejalan dengan
langkah kami merupakan hal biasa, karena memang itu disunnatkan. Mungkin yang
sedikit membedakan adalah kalau umumnya rombongan jamaah Umroh terutama dari
Indonesia berusia lanjut, namun kami sedikit berbeda dengan usia yang relatif
muda dan postur serta style yang khas tentara dengan rambut “cepaknya” . Inilah
yang sedikit membuat rombongan kami menjadi pusat perhatian selama perjalanan
hotel-Masjidil Haram (dan ini berlanjut hingga pelaksanaan ibadah umroh
selesai).
Suasana Kabah dengan Jamaah yang sedang Thawaf |
Tiba di masjidil Haram, tepatnya di depan
pintu King Abdul Aziz, aku dan rombongan berhenti. Di sini pemimpin rombongan
memimpin doa untuk selanjutnya secara rapi dan teratur, satu persatu, kami
memasuki Masjidil Haram, sebuah tempat suci yang menjadi idaman kami
sebagaimana layaknya seorang Muslim. Dan sesaat kemudian kami pun kembali
berhenti di depan pintu masuk bagi jamaah yang akan melaksanakan Thawaf. Di
sinilah untuk kali pertama, aku dan sebagian besar rombongan tidak hentinya-hentinya
memandang Kabah dengan kebesarannya yang membuat hati kami saat itu begetar. Di
tempat ini pula kami memanjatkan doa sesuai yang disunnatkan bila seseorang
melihat Kabah. Setelah itu barulah kami menuruni undakan, turun ke area
pelaksanaan Thawaf.
Secara umum
pengertian Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali. Sedangkan
Tata cara melaksanakan Tawaf antara lain
diawali dengan niat Thawaf, dimulai dan berakhir pada garis coklat atau
sejajar Hajar Aswad (ditandai dengan lampu menyala di sebelah kiri atas berwana
hijau). Pada saat memulai tawaf putaran pertama mengangkat tangan kearah Hajar
Aswad dengan mengucapkan : لبسم الله والله اكبر disunatkan menghadap ka’bah.
Pada tawaf putaran ke dua dan seterusnya cukup dengan menolehkan muka ke Hajar
Aswad dengan mengangkat tangan dan mengucapnya sambil membaca: لبسم الله والله اكبر,
Mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali dengan posisi Ka’bah selalu berada
disebelah kiri dengan membaca doa tawaf, Setiap sampai di rukun Yamani usahakan
mengusapnya atau cukup mengangkat tangan(tanpa mencium) dan dilanjutkan dengan
membaca doa tawaf, Setelah selesai tawaf bila keadaan memungkinkan hendaknya melaksanakan
Shalat sunnat tawaf di makam Ibrahim, Shalat sunnat mutlak di Hijir Ismail dan Minum
air Zam-zam.
Dalam melaksanakan Thawaf ini ada sesuatu
yang membuat aku sedikit kurang nyaman yakni dalam membaca doa thawaf dari
putaran pertama hingga putaran terakhir. Aku lihat seluruh anggota rombongan
dan juga sebagian jemaah Umroh lain sembari melaksanakan putaran, mata mereka
terfokus pada buku panduan yang mereka bawa masing-masing. Memang dengan doa
yang cukup panjang dan berbeda-beda antara putaran satu hingga putaran ketujuh,
sebagian jamaah akhirnya membawa buku panduan karena belum hafal dengan doa-doa
tersebut. Tetapi menurut pendapat aku pribadi, itu justru membuat sedikit
kurang menikmati kebesaran Kabah yang selalu berada di sebelah kiriku dalam
setiap putaran thawaf. Dengan pandangan seperti itu, akhirnya aku menyimpan
buku panduan di dalam tas kecilku, untuk selanjutnya dalam beberapa bagian doa
yang belum aku hafal, menirukan bacaan doa sang guide sehingga pada akhirnya
aku lebih merasa nyaman dan khusuk dalam pelaksanaan Thawaf, sembari menikmati
kebesaran Kabah dengan ribuan umatnya yang tidak henti-hentinya berputar
mengelilinginya berlawanan arah jarum jam.
Usai pelaksanaan Thawaf |
Setelah rukun Thawaf terlewati yang ditandai
dengan pelaksanaan sholat sunah Thawaf, aku dan rombongan bergerak ke pintu
sebelah kiri, menuju pelaksanaan Sai. Lokasi Sai ini
sudah menyatu dengan Masjidil Haram, dan lokasinya berada di lantai dua di mana
fasilitas tangga eskalator sudah disediakan dan bergerak secara terus menerus
24 jam mengantarkan mereka yang akan melaksanakan Sai. Di tempat ini bayangan Sai
berupa bukit Sofa dan Marwah dengan sendirinya akan pupus karena kini sudah
disulap menjadi lorong indah berlantaikan marmer kualitas terbaik, penerangan
lampu yang cukup, serta ketersediaan galon-galon air zam-zam dingin yang siap
mengobati dahaga para jamaah. Tempat Sai ini dibagi menjadi dua jalur besar
antara Sofa dan Marwah dengan dua jalur kecil yang khusus diperuntukkan bagi
mereka yang menggunakan kursi roda.
Ibadah Sa'i merupakan
salah satu rukun Haji dan umrah yang dilakukan dengan
berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua
bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. Ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang
terletak diantara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu
neon berwarna hijau) para jama'ah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil
sedangkan untuk jama'ah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan
dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas.
Lorong Sai yang penuh dengan Jamaah |
Setiba di tempat ini, aku dan
rombongan segera melaksanaan Sai sesuai tuntunan sunnah Rasulullah saw. Antara
lain ketika mendekati Shofa membaca bacaan yang artinya: Sesungguhnya Shofa dan
Marwah adalah termasuk tanda-tanda (peribadatan kepada) Allah. Aku memulai dari
apa yang Allah memulai darinya. Naik ke atas Shofa menghadap ke Ka'bah, lalu
mengangkat kedua tangan dan membaca bacaan yang artinya: Allah Maha Besar,
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Tiada
sekutu bagiNya. Ke punyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian. Dan Ia
berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Ia lestarikan
janjinya. Dan Ia tolong hambaNya. Dan Ia hancurkan sendiri tentara-tentara
(musuh). Bacaan itu diulang tiga kali dan diselingi dengan doa sesuai kemauan
kita. Selanjutnya turun dari Shofa berjalan menuju Marwah. Sesampai di batas
tiang hijau berlari-lari kecil sampai ke batas tiang hijau berikutnya
(Lari-lari kecil itu hanya untuk laki-laki. Bagi perempuan tidak usah lari-lari
kecil, tapi berjalan biasa). Lalu berjalan biasa sampai ke Marwah. Di antara
dua tiang hijau itu dahulu adalah jurang tempat Nabi saw. berlari-lari kecil
Sekarang tempat itu sudah dibuat rata dan diberi tanda tiang hijau berlampu dan
beralas marmer. Begitu juga Shofa dan Marwah sudah tidak tampak seperti gunung
kecil lagi, tapi hanya tampak seperti tanjakan. Tiba di atas Marwah seperti di
atas Shofa, selanjutnya menghadap ke Ka'bah dan membaca doa, kemudian kembali
menuju bukit Shafa. Begitulah hal tersebut di lakukan tujuh kali, perginya
adalah satu putaran yaitu dari shafa ke marwah dan sekembalinya dari
marwah ke shafa adalah satu putaran.
Seperti
halnya pelaksanaan Thawaf yang bagi sebagian jemaah terutama yang berusia
lanjut, sangat menguras tenaga, pelaksanaan Sai pun tidak berbeda jauh, menguras
tenaga karena harus berjalan “bolak-balik” dari Sofa-Marwah yang jaraknya
sekitar 400 meter tersebut. Meski demikian, bagi kami kegiatan ini justru
benar-benar dinikmati dan tidak ada rasa capai maupun lelah (maklum sebagai
prajurit, kami sudah terlatih dan terbiasa melaksanakan lari, jalan cepat atau
long march dengan kondisi fisik yang hampir sama antara satu dengan lainnya). Seperti
halnya di tempat lain, rombongan kami pun yang rata-rata masih muda dengan
potongan khas serdadu menjadi pusat perhatian jemaah lainnya. Tetapi ini tidak
kami hiraukan, fokus kami adalah melaksanakan ibadah Umroh dengan
sebaik-baiknya.
Berdoa di Bukit Marwah usai pelaksanaan Sai |
Usai
Sai tujuh putaran, kami semua berkumpul di bukit Marwah, melaksanakan sholat
sunnah, berdoa dan diakhiri dengan pemotongan rambut yang merupakan tanda kami
bertahalul. Sampai di sini, Umroh kami pun usai. Aku dan rombongan segera
keluar dari tempat Sai, keluar dari area masjidil Haram.
Tiba di pelataran masjidil Haram, jam sudah
menunjukkan pukul 12.30 Waktu Arab Saudi, rombongan kami terpisah, sebagian
langsung ke hotel, sedangkan aku dan sebagian rekan lainnya berniat
melaksanakan Badal Umroh. Untuk melaksanakan ini aku dan sembilan rekan lainnya
yang masih mengenakan kain ihram harus kembali ke Miqat, di mana tempat Miqat
terdekat adalah di Masjid Tham’in. Karena tidak memungkinkan untuk menggunakan
bus jemputan kami, maka kami naik taksi yang sudah siap menunggu, mengantarkan
ke tempat Miqat terdekat ini. Hasil negosiasi dengan dua pengemudi taksi,
diperoleh kesepakatan, masing-masing dari kami harus mengeluarkan beaya sepuluh
real. Akhirnya kami pun berangkat dengan dua taksi tersebut menuju ke Miqat
terdekat.
Thawaf pada Badal Umroh yang pertama |
Setelah menyita waktu sekitar 40 menit, kami
pun tiba kembali ke Masjidil Haram, dan langsung melaksanakan rukun Umroh lainnya
seperti Thawaf, Sai dan Tahalul yang kami kerjakan hingga menjelang adzan
Subuh. Usai pelaksanaan sholat Subuh dengan masih mengenakan kain Ihram, kami
pun kemudian kembali ke Hotel, istirahat. Badal Umroh yang pertama ini aku
peruntukkan bagi almarhum ayahanda tercinta yang telah berpulang ke
Rakhmatullah pada 1999.
Esoknya seperti biasa kami melaksanakan
ibadah di Masjidil Haram dengan rombongan Satgasku, sekaligus “hunting” moment
dan gambar terbaik di sekeliling Kabah. Sayang kondisi Masjidil Haram yang kini
sedang direnovasi untuk perluasan area sholat, membuat gambar-gambar yang
dihasilkan dari kamera yang kami bawa kurang maksimal karena banyaknya
peralatan berat yang mengganggu keindahan masjid. Meski demikian, kamera yang
aku bawa tidak henti-hentinya “ceprat-cepret” bila aku bawa naik ke lantai tiga
dan diarahkan ke area thawaf. Di area ini, kerumunan jamaah yang berjubel,
bergerak seirama berlawanan dengan jarum jam, selalu menyentak hatiku akan
kebesaran Allah SWT. Betapa tidak, detik demi detik, menit demi menit, jam demi
jam dan seterusnya, arus jamaah tidak terputus-putus. Bila ada rombongan yang
selesai, muncul rombongan baru, demikian seterusnya dari pagi hingga malam.
Kabah di waktu malam yang tidak pernah sepi |
Kipas pendingin raksasa yang berada di depan masjidil haram |
Malamnya usai melaksanakan ibadah sholat
Isya, aku berniat kembali melaksanakan Badal Umroh. Kali ini aku peruntukkan
bagi ibunda tercinta. Meski beliau masih hidup, tetapi melihat kondisinya yang
tidak memungkinkan karena usia lanjut serta setelah mendengar pertimbangan dari
sang guide yang “membolehkan”, maka aku putuskan untuk mem”badal” umrohnya. Aku
mengajak rekan lainnya yang juga berniat sama. Sekitar sembilan orang setuju,
maka berangkatlah kami ke Miqat untuk berniat Badal Umroh. Dan ini bisa kami
selesaikan dalam waktu relatif lebih pendek, sekitar dua jam hingga pelaksanaan
Tahallul yang menjadi bagian akhir dari kegiatan Umroh. Khusus untuk Badal
Umroh ini, ada sebagian rekanku yang seperti “mengejar setoran”. Di antara
mereka itu, ada yang Badal Umroh hingga tiga kali, empat kali hingga ada juga
yang sampai lima kali!! Luar biasa!. “ Mumpung di sini mas, saya manfaatkan
untuk memBadal Umroh, orang tua, mertua dan juga kakek yang sudah meninggal”
kata seorang rekanku dari Marinir yang di Lebanoin tergabung dalam Satgas Indo
FPC Unifil.
Berpose dengan rekanku di Jabal Rahmah |
| Masjid Terapuing di Laut Merah |
Pada tanggal 18 April 2013, aku dan rombongan
diajak berkeliling oleh guideku, ziarah ke beberapa tempat menarik dan
bersejarah seperti mengunjungi Padang Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina,
Jabal Nur, Jabal Tsur, Masjid Jin, Masjid Jaronah dan tempat lainnya. Sedangkan
pada hari terakhir, tepatnya Jumat 19 April 2013, kami check out hotel menuju
Jeddah untuk city tour seperti mengunjungi Laut Merah dan mesjid terapung serta
menyambangi pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Makkah Ballad & Corniche. Dan
usai mengikuti sholat Jumat di masjid terapung, rombongan kami segera menuju
King Abdul Aziz International Airport, terbang kembali ke Beirut, Lebanon. Dari
Beirut ini, sebagian dari kami kembali ke basis di Soedirman Camp, Naqoura,
South Lebanon, sedangkan 17 orang lainnya termasuk aku sendiri, langsung
terbang dengan Qatar Airways menuju Soekarno Hatta International Airport,
Jakarta, Indonesia. Menghabiskan sisa cuti bersama keluarga tercinta di Jakarta
dan juga menengok orang tua di kampung kelahiranku, Tegal.
***