Sunday, August 25, 2013

Catatan ke-45: Induction Training ala Unifil



Peserta Induction Training Unifil yang merupakan perwakilan dari sejumlah negara
 Setiap prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon dalam wadah United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil) mempunyai kewajiban mutlak (mandatory) untuk mengikuti program Induction Training. Program ini diselenggarakan untuk membekali dan mengenalkan kepada setiap prajurit tentang garis besar tugas Unifil beserta perangkatnya, pemahaman terhadap norma dan aturan baku yang berlaku bagi prajurit UN/ Unifil, pemahaman terhadap lingkup tugas satuan/ unit lain serta juga pengenalan terhadap area operasi Unifil di South Lebanon.
Program Induction Training ini seharusnya diikuti oleh setiap prajurit terutama untuk lingkup Perwira yang idealnya diikuti pada bulan-bulan pertama berada di daerah penugasan. Meski demikian karena sesuatu hal, program ini baru aku ikuti di bulan Agustus 2013 atau 8 bulan setelah aku berada di daerah penugasan. Tidak ada kata terlambat, demikian kataku dalam mengikuti program wajib Unifil ini. Aku merasa seperti ada sesuatu yang kurang dalam penugasan di Lebanon bila tidak mengikuti program ini, apalagi ada sertifikatnya yang lumayan buat menambah koleksi sertifikat yang aku dapatkan dalam menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon ini.
Dengan prinsip seperti itu akhirnya aku dan seorang rekanku Serka Sumarlin Nasution mendaftarkan diri mewakili satgasku Military Community Outreach Unit (MCOU) untuk mengikuti program tersebut. Dan dari hasil “final military participant list for induction training” yang dikeluarkan Unifil J7 branch, aku dan rekanku tersebut mendapatkan jatah (seat) untuk mengikuti program ini pada 19 hingga 22 Agustus 2013. Program ini diikuti oleh 45 personel militer dari sejumlah negara seperti Spanyol, Perancis, Jerman, Srilanka, Malaysia, Irlandia, India, Ghana, Turki, Italia, Nepal, Finlandia, Tanzania. Sebagian besar dari mereka (31 personel) berpangkat Perwira menengah mulai dari Mayor hingga Kolonel, sedangkan sisanya Perwira Pertama dan Bintara. Lokasi ruang kelas program Inducton Training ini terletak di lingkungan J7 Branch tepatnya di International Room, yang berada di kawasan Unifil HQ, Naqoura, South Lebanon.
Penyampaian materi dari salah seorang Instruktur
Materi yang diajarkan dalam program wajib prajurit UN ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan materi di saat aku dan rekanku digodok dalam program Pre Deployment Training (PDT) di markas PMPP, Sentul, Bogor, Jawa Barat, sebelum pemberangkatan ke Lebanon pada Agustus 2012 lalu. Di hari pertama pelatihan misalnya, aku mengikuti beberapa materi yang boleh dikatakan persis sama dengan apa yang aku peroleh dari program PDT seperti materi Political Briefing, UNSCR 1701, Unifil Mandate and Tasks, Human Right, Child Protection, Environmental Protection, Gender in Peace Keeping Operations, UN Values, Competencies & UN System, Conduct and Discipline/ Directives for Disciplinary Matters, Culture Awareness, Communications in Unifil. Sedikit berbeda hanya materi Familiarization Tour Briefing yang isinya sekedar menggambarkan secara teknis kegiatan “jalan-jalan” di hari terakhir untuk seluruh peserta pelatihan.
Pada hari kedua pelatihan, ada beberapa materi baru yang belum aku peroleh sehingga secara umum dapat menambah wawasanku. Materi pelatihan di hari kedua ini antara lain menjelaskan tentang HIV / AIDS and Sexually Transmitted Disease, Security Briefing, Unifil Mission Structure/ Logistics, Aviation, Vehicle Maintenance/ Servicing, ICT Security Awareness, Health, Hygiene, Medevac and Nine Lines Message, Land Mines/ UXO Briefing, Stress Management, Best Practice in Peacekeeping Ops, Camp Regulation and Service, Management of Stray and Owned Dogs and Cats in Unifil, UN Evaluation Report, Leave Regulations, and Welfare & Recreation.
Untuk hari Ketiga, tidak berbeda seperti hari kedua. Materi pelatihan dengan topik-topik umum sebagian besar telah aku pahami, di samping sebagian materi baru. Materi di hari ketiga ini menjelaskan tentang beberapa masalah seperti mengenai Civilian-Military Coordination, Military Information, Rules of Engagement/ State of Alert, MTF Mission, Main Task and Organization, Lebanese Army/ Identification of Weapon/ Equipment, Structure and Function of the Liaison  Branch, ICRC Mandate and Activities in Lebanon Relations ICRC-Unifil, Investigation Team, Blue Line and Technical Fence and Integrated Outreach Operations Coordination Cell Briefing.

Penyajian Materi yang “Menjenuhkan”
Selama tiga hari mengikuti pelatihan dalam program Induction Training yang diselenggarakan Unifil tersebut, kesan yang aku tangkap sebenarnya kurang begitu bagus dan sempurna. Menurutku ada beberapa kekurangan dan kelemahan yang seharusnya dapat segera diperbaiki oleh Uniifil agar program Induction Training ini dapat diambil manfaatnya secara optimal oleh para peserta.
Penyajian materi yang sangat padat, "kejar waktu"
Beberapa kekurangan tersebut antara lain dari sisi instruktur yang sebagian “kurang siap” dalam menyajikan materi dan juga dari teknik penyajian materi  yang sebagian besar terkesan membosankan. Memang bisa dimaklumi dengan materi yang cukup padat yang diberikan secara maraton dari pagi (08.00 am) hingga sore hari (04.30 pm), sebagian besar peserta jelas merasa “kewalahan”. Apalagi umumnya sebagian besar instruktur mengajar dengan bahan/materi yang cukup banyak tetapi alokasi waktu yang diberikan panitia terlalu sedikit (sekitar 30 menit), alhasil mereka menjejali materi-materi tersebut kepada peserta pelatihan dengan teknik “kejar waktu”, seakan tanpa memberi kesempatan kepada para peserta untuk memalingkan sejenak pandangan matanya ke arah lain selain kepada slide yang terpampang di depan kelas. Belum lagi dengan bahasa penyajian sang Instruktur, yang terkadang agak sulit ditangkap penjelasannya. Meski menggunakan bahasa internasional (bahasa Inggris) tetapi tidak akan terlepas dari logat bahasa asli negara sang instruktur seperti instruktur Italia mengucapkan kata-kata “good” saja, di telinga kita menjadi“ gud’e” atau instruktur dari Ghana menyebut “peace keeper”  dalam telinga kita menjadi “ pis kipah”.
Kemampuan Instruktur, perlu dibenahi
Dari beberapa kekurangan tersebut maka ke depan seharusnya Unifil dapat merevisi ulang kegiatan program induction Training ini misalnya dengan menambah waktu pelatihan dan memilih instruktur yang benar-benar profesional dalam menyiapkan dan menyajikan materi. Satu materi yang menurutku sangat bermanfaat dan tidak membosankan adalah ketika di hari kedua aku dan rekan-rekanku diperintahkan oleh instruktur untuk membentuk beberapa kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Selanjutnya masing-masing orang dari kelompok tersebut diberi selembar kertas berisi uraian sekilas tentang beberapa hal yang akan dialami selama penugasan di Unifil seperti tentang transfer of authority, hand over notes dan sebagainya. Masing-masing orang dalam kelompoknya kemudian harus bisa menjelaskan topik yang diterimanya tersebut kepada kedua rekannya dengan menggunakan bahasa Inggris. Dalam sesi ini aku kebetulan bergabung dengan dua prajurit Malaysia berpangkat Letkol dan Mayor. Alhamdulillah aku bisa menjelaskan secara gamblang kepada dua perwira dari Malaysia ini meski dengan bahasa Inggris yang sedikit “patah-patah”.

Tour Blue Line
Pada hari keempat sebagai hari terakhir program Unifil Induction Training, seluruh peserta program pelatihan ini “diajak” berkeliling ke sejumlah tempat penting di area operasi Unifil. Panitia bekerjasama dengan Movcon Unifil menyiapkan 3 bus sedang untuk peserta dan sejumlah kendaraan pengiring diantaranya dua kendaraan Jammer serta didukung dua kendaraan dari Military Police Tanzania yang mengawal rombongan selama tour berlangsung.
Mayor Made dari Indonesia, memimpin Tour Blue Line
Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Markas Besar Sektor Barat Unifil (Sector West Headqurter) yang berada di United Nations Pos (UNP) 2-3 di Shama, South Lebanon. Di lokasi yang juga menjadi markas batalyon Italia ini, rombongan kami menerima gambaran singkat mengenai situasi dan kondisi sektor barat di area operasi Unifil termasuk gambaran tugas, kekuatan serta penjelasan mengenai sejumlah wilayah yang menjadi hot spot yang patut diwaspadai oleh seluruh personel Unifil.
Dari lokasi pertama tersebut secara beriringan kami bergerak mengunjungi makam Sheikh Abad Tomb di UNP 8-33 yang kini dijaga pasukan dari Nepal untuk selanjutnya menuju Panorama Point yang merupakan tempat strategis di mana kami dapat melihat secara luas daerah perbatasan Israel-Lebanon. Dari tempat ini kami kemudian dibawa mengunjungi markas besar Unifil yang berada di Sektor Timur (Sector East Headqurter). Selanjutnya kami mengunjungi Ghajar Village sebelum berangkat ke lokasi kunjungan terakhir yaitu Force Commando Regiment (FCR), yang merupakan salah satu satuan lengkap Unifil dari Perancis.

***

Catatan ke-44: Terharu Melihat Merah Putih Berkibar di Lebanon



Bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Lebanon, 
Bpk Drs. Dimas Samodra Rum, MBA dan Ibu
 Tanggal 17 di bulan Agustus, merupakan tanggal yang istimewa dan bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal inilah terjadi moment penting dikumandangkannya kemerdekaan Indonesia tepatnya di tahun 1945. Kini seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tanggal dan bulan itu seluruh rakyat Indonesia mengadakan perayaan kemerdekaan dengan versi dan tradisi kelompok, golongan maupun perorangan masing-masing.
Khusus untuk institusi militer, lembaga pemerintah termasuk lembaga-lembaga pendidikan, perayaan ulang tahun kemerdekaan tersebut pada umumnya senantiasa diiringi dengan diselenggarakannya upacara penaikan bendera merah putih. Demikian pula bagi kami, duta bangsa yang tergabung dalam Kontingen Garuda yang sedang bertugas dalam misi perdamaian PBB di bumi Lebanon, pada tanggal dan bulan bersejarah tersebut tidak lupa untuk menyelenggarakan upacara penaikan bendera merah putih. Upacara ini dipusatkan di dua tempat terpisah yang menjadi basis prajurit TNI di Lebanon, di Adchit Al Qusyair yang menjadi markas batalyon Indonesia di Lebanon dan Soedirman Camp, Green Hill, Naqoura, South Lebanon.
Selain upacara yang dipusatkan di dua tempat terpisah tersebut, sebagian dari kami diperintahkan untuk mewakili Kontingen Garuda mengikuti upacara penaikan bendera merah putih di KBRI di Beirut, Lebanon. Aku dan seorang rekanku dari Satgas MCOU kebetulan yang ditunjuk sebagai perwakilan.
Karena jarak Naqoura-Lebanon cukup jauh dan memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan darat, maka kami berangkat beramai-ramai dari Naqoura pada pukul 05.00 AM, sedangkan upacaranya sendiri direncanakan pada pukul 09.00 AM. Karena kami cuma menjadi perwakilan upacara maka perlengkapan yang kami bawa tidak terlalu banyak, yakni satu seragam loreng gurun dan sepatunya yang menempel di badan, kaca mata anti panas matahari, scarf biru UN, sarung tangan serta senjata organik perorangan (aku memilih membawa pistol yang lebih simpel ketimbang SS-1 yang aku tinggal di korimek). Selain perlengkapan perorangan tersebut kami juga diharuskan membawa helm biru bertuliskan UN serta life jacket yang beratnya cukup lumayan yang berguna untuk melindungi bagian tubuh vital kami dari serangan peluru tajam. Tidak lupa pula untuk mengabadikan kegiatan penting di Beirut nanti, aku sengaja membawa kamera foto Unifil, Canon EOS-1Ds Mark III pinjaman dari kantor.
Persiapan Upacara di halaman Kedubes RI Lebanon di Beirut
Tepat jam 05.00 AM, kami pun berangkat secara beriringan dengan berkonvoi empat mobil di mana salah satu mobil ditumpangi pula Komandan Kontingen Garuda di Lebanon Kolonel Karmin Suharma yang menjadi chief convoi. Karena Beirut merupakan kawasan yang berada di luar area operasi Unifil maka semua bendera UN yang berada di masing-masing mobil kami dicopot agar tidak menyolok, serta menghindari “gangguan” di tengah jalan terutama setelah melewati Litani (sungai Litani) yang menjadi batas terluar area operasi Unifil di Lebanon.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam yang cukup melelahkan, tepat pada pukul 07.35 AM, rombongan kami mulai memasuki kawasan kedutaan besar RI di Beirut, Lebanon, tepatnya di Presidential Palace Avenue, Rue 68 Sector 3, No. 3237 (P.O.BOX 4007) Baabda, Lebanon (kalau yang mau kontak ke nomor Phone : (961-5) 924-682, 924-683, 924-676 Fax : (961-5) 924-678 Email : indobey@cyberia.net.lb Website : www.kbri-beirut.org).
Tidak seperti kawasan Lebanon pada umumnya, kawasan KBRI di Beirut ini cukup nyaman dengan pohon-pohon tinggi yang cukup rindang. Letaknya berada di ketinggian dengan beberapa lembah berpohon lebat di dalamnya. Bahkan di belakangnya persis terdapat dataran rendah yang memiliki pemandangan alam yang cukup indah. Bila naik ke lantai teratas gedung ini (lantai lima), kemudian pandangan mata di arahkan ke sebelah kiri maka terhampar luas pemandangan kota Beirut yang dipadati dengan gedung-gedung pencakar langitnya.

Terharu Melihat Merah Putih
Pengibaran Merah Putih
Bagi prajurit TNI, upacara pengibaran bendera merah putih merupakan sesuatu yang sudah biasa karena rutin dilaksanakan dalam berbagai kesempatan di satuan maupun tempat lain. Begitupun saat melihat bentangan kain segi empat bercorak merah dan putih dengan seutas talinya perlahan-lahan merayap naik ke puncak tertinggi tiang panjang terbuat dari besi, semuanya dianggap sesuatu yang biasa. Tetapi kondisi ini berbeda saat kami mengikuti upacara penaikan bendera di KBRI Beirut Lebanon ini. Saat itu sebagian petugas upacara dari personel Satgas Indobat mulai dari Komandan Upacara hingga petugas penaikan bendera. Sedangkan yang bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Lebanon bapak Drs. Dimas Samodra Rum, MBA.
Penghormatan kepada Merah Putih
Saat ketiga orang petugas penaik bendera melaksanakan tugasnya menaikkan bendera merah putih secara perlahan-lahan menyesuaikan tempo lagu Indonesia Raya, menurutku ada sesuatu yang membuat hatiku tercekat dan terharu. Keterharuanku ini aku yakin karena aku membayangkan betapa bahagianya para pahlawan pendiri kemerdekaan Indonesia melihat bendera yang dulu mereka perjuangkan untuk berkibar dengan taruhan jiwa dan raganya, kini berkibar di negeri orang, negeri sarat konflik, negeri di mana lebih dari seribu prajurit TNI juga ikut bergabung dalam misi perdamaian PBB sekaligus memperjuangkan harkat dan martabat merah putih.
Keterharuanku ini ternyata cukup beralasan karena beberapa orang yang ikut dalam penaikan bendera merah putih itu, ternyata merasakan sesuatu yang sama. Hal ini aku ketahui setelah aku menanyakan kepada beberapa orang dari rekan Satgas Garuda usai upacara penaikan bendera tersebut. Mereka juga merasa terharu saat detik-detik penaikan bendera merah putih.

Jumpa dengan Mahasiswa dan TKI
Selain rekan-rekan dari Satgas Garuda yang bertugas di Lebanon, dalam upacara penaikan bendera di KBRI Beirut, Lebanon, hadir pula beberapa peserta upacara undangan khusus dari Kedubes yakni dari kalangan mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Lebanon serta sejumlah TKI yang mencari nafkah di bumi Lebanon ini.
Karena kangen lama tak berjumpa dengan kalangan mahasiswa (maklum karena penulis pernah juga menjadi mahasiswa di tiga universitas yang berbeda), saat acara ramah tamah sembari menyantap menu khas lndonesia yang disiapkan pihak KBRI, ayam goreng, ikan tongkol dan “urab-uraban”, aku menyempatkan berbincang-bincang dengan sebagian dari mereka. Dan dari keterangan mereka inilah aku mendapatkan sejumlah informasi penting tentang kehidupan mahasiswa di Lebanon ini.
Salah satu di antara mereka tersebut, sebut saja Ahmad Husein, salah satu mahasiswa Indonesia asal Aceh yang kini tercatat sebagai mahasiswa jurusan Dakwah di Beirut Islamic University, Lebanon. Menurut pemuda berperawakan kurus ini, sudah kali kedua ia mendapat undangan kehormatan Kedubes RI di Beirut untuk mengikuti upacara tujuhbelasan. Sedangkan terkait dengan kondisi mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon, menurutnya sebagian besar berbekal bea siswa meski ada beberapa di antaranya dengan menggunakan beaya pribadi. “ Secara umum mereka ini ada yang kuliah di Lebanese American University, Jamiah Al-Azhar, Global University dan Beirut Islamic University” katanya sembari diamini oleh rekan-rekannya yang saat itu ikut berbincang-bincang dengan kami.
Sebagian Mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon
Foto bersama dengan Dubes dan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Lebanon
Bagaimana dengan sistem pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di Lebanon? Menurut mereka sistem pendidikan di Lebanon untuk tingkat universitasnya hampir sama, meski secara umum masih kalah baik dan profesional dibandingkan dengan kuliah di tanah air. “ Sebagian perguruan tinggi di sini masih menggunakan sistem paket dengan sistem belajar hafalan, sedangkan sebagian lagi sudah menggunakan sistem SKS seperti di Indonesia “ kata Ansori, kolega Husein dari kampus yang sama. “Untuk kehidupan mahasiswa di sini sebenarnya dikatakan enak yach enak, tidak enak yach memang terkadang kurang mengenakkan “ lanjutnya. Menurutnya yang terkadang membuat tidak enak adalah beaya hidup yang cukup mahal dan kurang bisa terjangkau bila sang mahasiswa berasal dari keluarga yang pas-pasan serta tidak ada usaha lain selain menunggu kiriman dari tanah air. “ Terkadang susah mas di sini. Mau jalan, beaya angkot mahal, mau minum termasuk minum aqua pun sudah mahal, belum lagi jajanan maupun makanan yang tidak cocok dengan selera kita. Akhirnya terpaksa kita benar-benar fokus ke pendidikan dan belajar, daripada jalan-jalan atau makan-makan yang berbeaya besar dan menguras jatah dapur kita” katanya yang kembali diamini oleh rekan-rekannya.
Mendengar keterangan mereka tersebut, aku hanya bisa sekedar memberi nasehat untuk tetap fokus pada pendidikan dan bisa menjaga diri baik-baik agar apa yang mereka cita-citakan dapat tercapai dengan baik dan sempurna. Sebenarnya aku ingin berbincang-bincang agak lama dengan mereka, namun karena waktu yang tidak mengizinkan di mana aku harus segera kembali ke Naqoura, maka aku pun segera pamit kepada mereka untuk bergabung dengan rombonganku.
***

Catatan ke-43: Merasakan “Ketupat” Lebanon



 Setelah menjalani ibadah puasa yang cukup “memberatkan” di tengah teriknya panas matahari di musim panas, tibalah hari yang kami nantikan, hari kemenangan “Idul Fitri”. Seperti halnya pemerintah Indonesia yang menetapkan Idul Fitri pada Kamis, 8 Agustus 2013, pemerintah Lebanon pun menetapkan hari yang sama untuk “pesta” kemenangan bagi warga yang merayakannya.
Bagiku pribadi, meski ada pengalaman tersendiri bisa merasakan idul fitri di negeri orang, akan tetapi tetap saja ada sesuatu yang kurang. Di malam takbir misalnya, tidak ada kumandang takbir dari si kecil Vio, anakku bungsu yang melafalkan takbir dengan kalimatnya yang lucu dan kurang lengkap, “ Allah……hu… wa bar, …. Allah……hu… wa bar …. “ atau suara anakku sulung Lita yang melantunkan takbir dengan suaranya yang cukup merdu. Tidak ada pula suara-suara ramai di dapur, suara isteriku memasak menu khusus special lebaran kesukaan keluarga kami. Ini bila aku dan keluargaku merayakan lebaran di Jakarta. Bila kami merayakan di kampung kelahiranku di Tegal, maka praktis lebih seru lagi karena selain bisa bertemu dengan seluruh keluarga besarku, juga aku dapat melihat “pawai obor” yang dilakukan anak-anak kampungku, berjalan kaki, ratusan orang jumlahnya, tua muda, memegang obor, sebagian mendorong gerobak berisi  bedug atau “dug dag” plus sound systemnya. Dan ini jelas tidak bisa aku temui di daerah penugasan Lebanon ini.
Sesuatu yang kurang tersebut sedikit terobati ketika akhirnya kami dan sejumlah rekan-rekan Satgas, usai sholat Isya berjamaah, melaksanakan “takbiran” dengan mencoba tradisi khas Indonesia. Untuk sekedar mengingat kebiasaan kami di Indonesia terutama di masa kecil, suara takbir yang kami kumandangkan lewat loud speaker yang bersuara keras di atas “mesjid” Indonesia di Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon, kami iring dengan “tetabuhan”. Karena tidak ada bedug, maka kami menggunakan 3 buah galon plastik bekas air mineral plus tempat sayur alumunium yang kami jadikan musik pengiring. Hasilnya luar biasa, lantunan kalimat takbir yang tadinya “monoton” menjadi hidup dan akhirnya membuat suasana mesjid menjadi lebih ramai, karena banyak rekan yang tertarik untuk ikut meramaikan suasana malam takbiran tersebut.
Bersama jamaah sholat Ied dari Tanzania
Esoknya, aku dan rekan-rekan dari seluruh Satgas Indonesia yang bermarkas di Naqoura, ditambah beberapa jamaah tamu dari sejumlah negara seperti Turki, Malaysia, Tanzania, Perancis, Belarusia dan lainnya yang selama ini sering sholat berjamaah di mesjid kami, melaksanakan sholat Idul Fitri. Komandan Kontingen Garuda yakni Kolonel Karmin Suharma saat itu bertindak sebagai khotib sekaligus imamnya. Sholat Ied ini berjalan dengan lancar dan tertib yang kemudian dilanjutkan dengan acara “salam-salaman”, saling memaafkan satu sama lain seperti halnya tradisi yang ada di tanah air.
Saat salam-salaman ini aku teringat dengan kebiasaanku di tanah air terutama ketika merayakan lebaran di kampung halaman. Secara bergiliran mulai dari saudara kami yang tertua beserta keluarganya bersimpuh di pangkuan Mamaku, memohon maaf serta mohon doanya buat keselamatan dan kesuksesan kami sebagai anak-anaknya. Saat itu hampir dipastikan aku dan saudaraku pasti akan meneteskan air mata. Dan inilah yang aku ingat ketika aku mulai bersalam-salaman dengan rekan-rekanku. Aku teringat Mamaku yang masih sakit, sehingga tanpa terasa ada butiran air mata yang mengalir dari mataku. “Mama, maafkan aku yang tidak bisa bersimpuh di pangkuanmu di hari yang fitri ini” demikian tangis hatiku. Meski dibalut duka dan kesedihan, aku tetap mengikuti acara salam-salaman ini hingga acara makan pagi bersama yang diadakan di ruang makan kamp kami.

Ketupat Lebanon
Sebagaimana tradisi di tanah air di mana makanan khas perayaan hari kemenangan Idul Fitri di hari pertama bisa dikatakan tak lepas dari “Ketupat Lebaran” maka di Lebanon ini ternyata tak jauh berbeda. Aku sendiri dan sejumlah rekan Satgas yang lain sempat kaget ketika memasuki ruang makan, menu khas lebaran ini sudah tertata rapi di atas meja. Saat itu ada ketupat yang telah dipotong segi empat kecil-kecil, opor dengan gumpalan daging ayam yang cukup besar, sambal goreng kentang, mie goreng, krupuk dan sambal. Melihat menu ini maka sedikit banyak kesedihanku agak berkurang karena benar-benar terasa berada di tanah air.
Makan "ketupat" Lebanon yang lumyan enak
Saat itu aku kagum dengan sang juru masak yang mampu menghadirkan menu khas lebaran tersebut kepada kami. Kekagumanku bertambah ketika mendengar teknik memasak ketupat yang sedikit berbeda dengan cara memasaknya di tanah air. Kalau di tanah air, masak ketupat cukup mudah. Tinggal mengisi beras ke dalam bahan pembungkus ketupat yang umumnya terbuat dari daun kelapa yang telah dianyam sedemikian rupa, masukkan ke d alam panci yang telah diisi dengan air, rebus dan tunggu hingga matang. Bagaimana dengan di Lebanon ini? Tidak ada bahan pembungkus ketupat yang terbuat dari daun pohon kelapa. Bahkan untuk membuat “saudaranya” ketupat yakni lontong pun ternyata cukup sulit karena sukar untuk mencari daun pisang sebagai pembungkusnya maupun plastik pembungkus berukuran kecil. Untuk menyiasati kesulitan ini ternyata, sang juru masak memiliki trik tersendiri dengan langsung membuat adonan ketupat di atas cetakan besar persegi empat panjang dari bahan alumunium yang biasanya kami jadikan sebagai tempat sayuran. Nasi lembek yang sengaja mereka buat selanjutnya dimasukkan ke dalam tempat ini. Dibiarkan dingin dan akhirnya benar-benar menjadi ketupat “Lebanon”. Cara menyajikannya pun cukup praktis dengan memotongnya kecil-kecil dengan ukuran segi empat seperti saat kita memotong agar-agar buatan sendiri.
Cara pembuatan ketupat dengan teknik seperti itu ternyata lebih praktis dalam situasi ketiadaan bahan pembuat ketupat terutama dari segi pembungkusnya. Sayang teknik ini belum bisa dipahami oleh sebagian dari kami sehingga terkadang bagi mereka yang ingin mencoba membuatnya, justru kegagalam yang mereka alami. Untuk yang satu ini, seperti yang dialami rekanku di satu jalur korimek di Soedirman Camp. Ketupat Lebaran buatannya yang dengan susah payah dibuat di malam takbiran akhirnya “mubadzir” karena gagal “menjadi ketupat”. Kegagalannya itu memang disebabkan karena ketiadaan bahan pembuat ketupat ini. Karena tidak ada plastik berukuran kecil (seperti di Indonesia platik kecil untuk ukuran ons, seperempat, setengah kilo) maka ia menggunakan plastik berukuran besar yang dibelinya di Super Market terkenal di Tyre Al Janaoub (mungkin ukuran satu kilo) yang selanjutnya dilipat menjadi dua dengan cara membakar sisi lipatannya dengan lilin. Setelah diisi beras dan air kemudian dimasukkan ke dalam panci, ternyata tidak berapa lama kemudian, plastiknya jebol, tidak kuat menahan proses pemuaian beras. Akhirnya dengan kecewa terpaksa gagal lah pembuatan ketupat tersebut karena “ketupat” tidak bisa matang dengan sempurna.
Teknik pembuatan ketupat Lebanon dari kreasi sang juru masak tersebut seharusnya bisa dijadikan acuan untuk Kontingen Garuda berikutnya. Kalau tidak dengan jalan itu maka bisa pula dengan tetap menggunakan cara konvensional seperti di tanah air, akan tetapi sebelumnya harus menyiapkan bahan utama pembungkusnya yakni daun kelapa dengan menanam kelapanya terlebih dahulu di lingkungan sekitar Kamp.
***