![]() |
| Peserta Induction Training Unifil yang merupakan perwakilan dari sejumlah negara |
Setiap prajurit yang tergabung dalam misi
perdamaian PBB di Lebanon dalam wadah United Nations Interim Force In Lebanon
(Unifil) mempunyai kewajiban mutlak (mandatory) untuk mengikuti program
Induction Training. Program ini diselenggarakan untuk membekali dan mengenalkan
kepada setiap prajurit tentang garis besar tugas Unifil beserta perangkatnya,
pemahaman terhadap norma dan aturan baku yang berlaku bagi prajurit UN/ Unifil,
pemahaman terhadap lingkup tugas satuan/ unit lain serta juga pengenalan
terhadap area operasi Unifil di South Lebanon.
Program Induction Training ini seharusnya
diikuti oleh setiap prajurit terutama untuk lingkup Perwira yang idealnya
diikuti pada bulan-bulan pertama berada di daerah penugasan. Meski demikian karena
sesuatu hal, program ini baru aku ikuti di bulan Agustus 2013 atau 8 bulan
setelah aku berada di daerah penugasan. Tidak ada kata terlambat, demikian kataku
dalam mengikuti program wajib Unifil ini. Aku merasa seperti ada sesuatu yang
kurang dalam penugasan di Lebanon bila tidak mengikuti program ini, apalagi ada
sertifikatnya yang lumayan buat menambah koleksi sertifikat yang aku dapatkan
dalam menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon ini.
Dengan prinsip seperti itu akhirnya aku dan
seorang rekanku Serka Sumarlin Nasution mendaftarkan diri mewakili satgasku
Military Community Outreach Unit (MCOU) untuk mengikuti program tersebut. Dan
dari hasil “final military participant list for induction training” yang
dikeluarkan Unifil J7 branch, aku dan rekanku tersebut mendapatkan jatah (seat)
untuk mengikuti program ini pada 19 hingga 22 Agustus 2013. Program ini diikuti
oleh 45 personel militer dari sejumlah negara seperti Spanyol, Perancis,
Jerman, Srilanka, Malaysia, Irlandia, India, Ghana, Turki, Italia, Nepal,
Finlandia, Tanzania. Sebagian besar dari mereka (31 personel) berpangkat
Perwira menengah mulai dari Mayor hingga Kolonel, sedangkan sisanya Perwira Pertama
dan Bintara. Lokasi ruang kelas program Inducton Training ini terletak di
lingkungan J7 Branch tepatnya di International Room, yang berada di kawasan
Unifil HQ, Naqoura, South Lebanon.
![]() |
| Penyampaian materi dari salah seorang Instruktur |
Materi yang diajarkan dalam program wajib
prajurit UN ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan materi di saat aku dan
rekanku digodok dalam program Pre Deployment Training (PDT) di markas PMPP,
Sentul, Bogor, Jawa Barat, sebelum pemberangkatan ke Lebanon pada Agustus 2012
lalu. Di hari pertama pelatihan misalnya, aku mengikuti beberapa materi yang
boleh dikatakan persis sama dengan apa yang aku peroleh dari program PDT
seperti materi Political Briefing, UNSCR 1701, Unifil Mandate and Tasks, Human
Right, Child Protection, Environmental Protection, Gender in Peace Keeping
Operations, UN Values, Competencies & UN System, Conduct and Discipline/
Directives for Disciplinary Matters, Culture Awareness, Communications in
Unifil. Sedikit berbeda hanya materi Familiarization Tour Briefing yang isinya
sekedar menggambarkan secara teknis kegiatan “jalan-jalan” di hari terakhir
untuk seluruh peserta pelatihan.
Pada hari kedua pelatihan, ada beberapa
materi baru yang belum aku peroleh sehingga secara umum dapat menambah
wawasanku. Materi pelatihan di hari kedua ini antara lain menjelaskan tentang HIV
/ AIDS and Sexually Transmitted Disease, Security Briefing, Unifil Mission
Structure/ Logistics, Aviation, Vehicle Maintenance/ Servicing, ICT Security
Awareness, Health, Hygiene, Medevac and Nine Lines Message, Land Mines/ UXO
Briefing, Stress Management, Best Practice in Peacekeeping Ops, Camp Regulation
and Service, Management of Stray and Owned Dogs and Cats in Unifil, UN
Evaluation Report, Leave Regulations, and Welfare & Recreation.
Untuk hari Ketiga, tidak berbeda seperti hari
kedua. Materi pelatihan dengan topik-topik umum sebagian besar telah aku
pahami, di samping sebagian materi baru. Materi di hari ketiga ini menjelaskan
tentang beberapa masalah seperti mengenai Civilian-Military Coordination,
Military Information, Rules of Engagement/ State of Alert, MTF Mission, Main
Task and Organization, Lebanese Army/ Identification of Weapon/ Equipment,
Structure and Function of the Liaison
Branch, ICRC Mandate and Activities in Lebanon Relations ICRC-Unifil,
Investigation Team, Blue Line and Technical Fence and Integrated Outreach
Operations Coordination Cell Briefing.
Penyajian Materi yang
“Menjenuhkan”
Selama tiga hari mengikuti pelatihan dalam
program Induction Training yang diselenggarakan Unifil tersebut, kesan yang aku
tangkap sebenarnya kurang begitu bagus dan sempurna. Menurutku ada beberapa
kekurangan dan kelemahan yang seharusnya dapat segera diperbaiki oleh Uniifil
agar program Induction Training ini dapat diambil manfaatnya secara optimal
oleh para peserta.
![]() |
| Penyajian materi yang sangat padat, "kejar waktu" |
Beberapa kekurangan tersebut antara lain dari
sisi instruktur yang sebagian “kurang siap” dalam menyajikan materi dan juga
dari teknik penyajian materi yang
sebagian besar terkesan membosankan. Memang bisa dimaklumi dengan materi yang
cukup padat yang diberikan secara maraton dari pagi (08.00 am) hingga sore hari
(04.30 pm), sebagian besar peserta jelas merasa “kewalahan”. Apalagi umumnya
sebagian besar instruktur mengajar dengan bahan/materi yang cukup banyak tetapi
alokasi waktu yang diberikan panitia terlalu sedikit (sekitar 30 menit),
alhasil mereka menjejali materi-materi tersebut kepada peserta pelatihan dengan
teknik “kejar waktu”, seakan tanpa memberi kesempatan kepada para peserta
untuk memalingkan sejenak pandangan matanya ke arah lain selain kepada slide
yang terpampang di depan kelas. Belum lagi dengan bahasa penyajian sang
Instruktur, yang terkadang agak sulit ditangkap penjelasannya. Meski
menggunakan bahasa internasional (bahasa Inggris) tetapi tidak akan terlepas
dari logat bahasa asli negara sang instruktur seperti instruktur Italia
mengucapkan kata-kata “good” saja, di telinga kita menjadi“ gud’e” atau
instruktur dari Ghana menyebut “peace keeper”
dalam telinga kita menjadi “ pis kipah”.
![]() |
| Kemampuan Instruktur, perlu dibenahi |
Dari beberapa kekurangan tersebut maka ke
depan seharusnya Unifil dapat merevisi ulang kegiatan program induction
Training ini misalnya dengan menambah waktu pelatihan dan memilih instruktur yang
benar-benar profesional dalam menyiapkan dan menyajikan materi. Satu materi
yang menurutku sangat bermanfaat dan tidak membosankan adalah ketika di hari
kedua aku dan rekan-rekanku diperintahkan oleh instruktur untuk membentuk
beberapa kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang.
Selanjutnya masing-masing orang dari kelompok tersebut diberi selembar kertas
berisi uraian sekilas tentang beberapa hal yang akan dialami selama penugasan
di Unifil seperti tentang transfer of authority, hand over notes dan
sebagainya. Masing-masing orang dalam kelompoknya kemudian harus bisa
menjelaskan topik yang diterimanya tersebut kepada kedua rekannya dengan
menggunakan bahasa Inggris. Dalam sesi ini aku kebetulan bergabung dengan dua
prajurit Malaysia berpangkat Letkol dan Mayor. Alhamdulillah aku bisa
menjelaskan secara gamblang kepada dua perwira dari Malaysia ini meski dengan
bahasa Inggris yang sedikit “patah-patah”.
Tour Blue Line
Pada hari keempat sebagai hari terakhir
program Unifil Induction Training, seluruh peserta program pelatihan ini
“diajak” berkeliling ke sejumlah tempat penting di area operasi Unifil. Panitia
bekerjasama dengan Movcon Unifil menyiapkan 3 bus sedang untuk peserta dan
sejumlah kendaraan pengiring diantaranya dua kendaraan Jammer serta didukung
dua kendaraan dari Military Police Tanzania yang mengawal rombongan selama tour
berlangsung.
![]() |
| Mayor Made dari Indonesia, memimpin Tour Blue Line |
Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah
Markas Besar Sektor Barat Unifil (Sector West Headqurter) yang berada di United
Nations Pos (UNP) 2-3 di Shama, South Lebanon. Di lokasi yang juga menjadi
markas batalyon Italia ini, rombongan kami menerima gambaran singkat mengenai
situasi dan kondisi sektor barat di area operasi Unifil termasuk gambaran
tugas, kekuatan serta penjelasan mengenai sejumlah wilayah yang menjadi hot
spot yang patut diwaspadai oleh seluruh personel Unifil.
Dari lokasi pertama tersebut secara
beriringan kami bergerak mengunjungi makam Sheikh Abad Tomb di UNP 8-33 yang
kini dijaga pasukan dari Nepal untuk selanjutnya menuju Panorama Point yang
merupakan tempat strategis di mana kami dapat melihat secara luas daerah
perbatasan Israel-Lebanon. Dari tempat ini kami kemudian dibawa mengunjungi
markas besar Unifil yang berada di Sektor Timur (Sector East Headqurter).
Selanjutnya kami mengunjungi Ghajar Village sebelum berangkat ke lokasi
kunjungan terakhir yaitu Force Commando Regiment (FCR), yang merupakan salah
satu satuan lengkap Unifil dari Perancis.
***












