Wednesday, October 2, 2013

Catatan ke-53 : No Sir, You Moslem, This is Pork!



Salah satu pelayanan makan di International Mess Unifil, Naqoura, South Lebanon

 Dari data yang dirilis situs resmi United Nations Interim Forces In Lebanon (Unifil) pada 19 Juni 2013, tercatat sekitar 10.189 personel dari 37 negara Troop Contributing Countries-TCC atau negara-negara yang berkontribusi mengirim pasukan untuk bergabung dalam misi PBB di Lebanon. Dari jumlah tersebut 1288 di antaranya adalah personel dari Indonesia, yang merupakan negara pengirim personel terbesar saat ini menandingi Italia dan Perancis.
Ribuan personel tersebut tersebar di seluruh area operasi Unifil di Lebanon Selatan yang terbagi dalam dua sektor (Sector West dan Sector East). Khusus untuk TCC yang mengirim pasukan dalam bentuk kontingen besar, baik itu dalam wadah organisasi setingkat Kompi atau batalyon, maka mereka diserahi tanggung jawab untuk “mengelola” suatu wilayah yang umumnya terdiri dari puluhan desa/village dengan pertanggungjawaban kepada Komandan Sektor di mana pasukan itu bermarkas.
Selama ini semua kontingen besar yang tersebar di seluruh area operasi Unifil tersebut mengelola makanan sendiri dengan “Chef” yang mereka bawa dari negara masing-masing. Untuk bahan makanannya semua didrop dari Unifil sesuai daftar permintaan, disesuaikan dengan bahan yang tersedia serta jumlah personel yang ada. Jadi intinya seluruh kontingen yang ada di Unifil umumnya mempunyai dapur dan “tukang masak” sendiri yang sebagian besar beralasan karena pertimbangan menu dan rasa masakan yang disesuaikan dengan lidah personel negara yang bersangkutan. Apa yang dilakukan kontingen Indonesia adalah salah satu contohnya di mana tiga Satgas besar seperti Indonesian Mechanic Battalion  (Indobatt), Sector East Military Police (Sempu) dan Satgas FPC (Force Protection Company) mengolah sendiri bahan makanan dari Unifil dengan menu cita rasa khas masakan Indonesia.

Unifil International Mess
Bagaimana dengan mereka yang berada di luar kontingen seperti mereka yang tergabung dalam Staff Officer atau Satgas dengan jumlah personel kecil? Untuk yang satu ini, khusus di lingkungan Unifil Headquarter Naqoura, Unifil telah menyiapkan puluhan Chef berpengalaman untuk melayani mereka tersebut dengan menu-menu pilihan cita rasa masakan internasional yang dimungkinkan bisa diterima oleh seluruh lidah personel dari berbagai negara. Unifil juga menyiapkan  satu ruang makan besar yang disebut dengan International Mess atau ada juga yang menyebut International Dinning Hall yang letaknya di pusat Unifil HQ, menghadap pantai serta tidak jauh dari kantor Unifil Force Commander.
Ruang makan dengan daya tampung yang cukup besar
International Mess ini di bawah pengawasan Unifil Force Headquarte Support Unit (FHQSU) yang merupakan salah satu Satgas bagian dari Kontingen Indonesia. Beberapa orang personel Indonesia dari Satgas ini setiap hari secara bergantian menjaga ketertiban pelaksanaan makan personel Unifil yang mendapat jatah makan di tempat ini.
Secara umum ruang makan internasional terdiri dari beberapa bagian mulai dari bagian register/ pencatatan yang dijaga tentara Indonesia, ruang makan yang terdiri dari ratusan kursi dengan puluhan meja panjang dan tempat mengambil makanan yang dijaga oleh para pelayan yang umumnya dari warga Lebanon. Di tempat ini juga tersedia ruang makan khusus untuk personel yang berpangkat Letnan Kolonel ke atas dan civilian dengan jabatan setingkat serta sejumlah “Gazebo” unik tempat menikmati hidangan makan yang posisinya persis menghadap ke pantai Naqoura, hanya terhalang oleh sebuah pagar kawat yang dibangun Unifil.
Proses registrasi yang diawasi personel dari Indonesia
Internasional Mess ini dibuka setiap hari, Senin hingga Jumat antara pukul 06.30-08.00 AM untuk Breakfast, 11.30 AM - 13.30 PM (Lunch) dan 17.30-19.30 PM untuk Dinner. Sedangkan untuk Weekend (Sabtu dan Minggu) dibuka pada pukul 08.00-09.00 AM (Breakfast), 11.30 AM-13.30 PM (Lunch) dan 17.30-19.30 PM untuk Dinner
Untuk menu yang disajikan karena namanya saja menu internasional yang diharapkan bisa dinikmati semua orang dari 37 negara maka nama menunya juga cukup antik. Sebagai contoh aku ambil menu hari Rabu untuk kalender menu tertanggal 25 September 2013- 1 Oktober 2013 yang aku download dari komputer Lotusku di MCOU sebagai berikut, untuk menu makan pagi atau Breakfast, International Mess ini menyiapkan Egg / Alternatives (boiled eggs , scrambled  eggs ,  Spanish egg,  bacon, stir fried  Beef sausage & boiled chicken sausage), Grain / Cereals (corn flakes, alpen muesli,  Rice crispy, steamed rice, Pancake  , Indian Dhal), Fruit / Juice ( Drink, fruit yoghurt , portion Butter, Fresh Vegetable), Milk / Alternative (hot and cold milk,  white cheese , yellow cheese, beef , chicken , pork  ham), Jams / Spreads (Jam, chocolate, honey), Hot Beverages (Tea, Coffee).
Sebagian dari sejumlah menu yang tersedia
Untuk Lunch atau Makan Siang pada hari yang sama, disiapkan mulai Starter / Entrée berupa Cream of vegetable soup dan Salad Bar, Main Dish (Wiener Schnitzel, Pasta Mama Rose, Bavarian Veal With Asparagus) dan Side Dish (All spice string beans, Grilled Pork Chops Sour Krout, Herbs mashed potato), Fruit / Juice (Drink, Banana), Dessert (Cinamon rolls, Butter), Grain / Cereals (Steamed Rice, Biryani rice, Dhall Fry, Egg Curry) dan Hot Beverages (Tea, Coffee). Sedangkan untuk Makan Malam (Dinner) diawali dengan Starter / Entrée (Aima Lebanese soup, Salad Bar), Main Dish (Grilled Chicken With Cajun Spice, Beef Kafta With tomato Sauce, Baked Fish AlFredo), Side Dish (Beans kidney dried olives, Baked potato Home Fried, Pasta Geno Westa), Fruit / Juice (Drink, Banana), Dessert (Cinamon rolls, Butter), Grain / Cereals (Steamed Rice, Fried Rice, Dhall Fry, Egg Curry) dan Hot Beverages (Tea, Coffee).
Khusus untuk hari-hari tertentu terutama untuk memperingati HUT Kemerdekaan negara yang berkontribusi dalam pengiriman pasukan ke Lebanon, International Mess ini menyiapkan menu khusus dari negara tersebut dengan Chef yang sebagian besar juga diambil dari negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, saat memperingati HUT Kemerdekaan RI, international Mess menyiapkan menu spesial  Indonesia seperti nasi putih, nasi goreng udang, gulai kambing, ayam goreng, mie goreng dan sayuran hijau plus sambal.
Antrian panjang untuk registrasi saat penyajian Menu Indonesia
Anggota kontingen Indonesia yang masuk dalam daftar makan di International Mess adalah beberapa orang yang berstatus SO yang tersebar di beberapa unit dan sembilan orang dari Satgas Hospital Level II Naqoura. Khusus untuk personel FHQSU mereka mengajukan “request” makan di tempat ini hanya untuk “lunch” atau makan siang, selebihnya untuk makan pagi dan makan malam di tempat tinggal pasukannya yang berada di Soedirman Camp. Sedangkan aku dan rekanku dari Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU) yang berjumlah 18 orang, karena pertimbangan tempat dan kantor yang tidak jauh dari kamp  kami di Soedirman Camp, Green Hill, Naqoura,  maka diambil kebijakan untuk akomodasi makan bergabung dengan rekan-rekan kami dari Satgas FPC yang juga bermarkas di Soedirman Camp.

Sekali Makan 3 Dolar!
Berbeda dengan makan “gratis” di kamp yang dikelola masing-masing kontingen, makan di international Mess Unifil selain mereka yang berada dalam daftar, wajib menggunakan kupon yang dibeli senilai US$ 3 untuk makan siang (Lunch), US$ 3 untuk makan malam (Dinner) dan US$ 1.5  untuk makan pagi (breakfast). Mereka yang berada di kelompok ini umumnya personel SO dari berbagai negara yang bertugas di Unifil HQ, beberapa di antaranya dari Indonesia. Untuk kuponnya dapat dibeli di Fransa Bank Menghy Street yang letaknya tak jauh dari Unifil HQ.
Kupon makan siang/ malam seharga 3 dolar
Seorang rekanku dari SO, mengaku peraturan tersebut cukup wajar dan merasa tidak berkeberatan untuk membeli kupon. “Dengan gaji yang memang lebih tinggi dari MI atau kontingen, konsekuensinya semua akomodasi memang kami yang menanggung sendiri termasuk urusan makan “ kata prajurit TNI yang kini ditugaskan di Joint Operations Centre (JOC)  yang mengaku membeli beberapa bendel kupon khusus makan siang. Untuk makan pagi dan malamnya? Ia mengaku lebih enak masak sendiri dengan lauk “sederhana” khas prajurit di daerah penugasan.
Dengan adanya peraturan tersebut maka bagi siapa saja  yang tidak berada di dalam daftar “jatah” makan serta mereka yang tidak memiliki kupon, tidak diperbolehkan makan di tempat ini. Bila ini dilanggar maka sejumlah personel dari Satgas FHQSU yang menjaga ruang makan ini akan “melarang” mereka untuk memasuki ruang makan. Tentunya dengan bahasa komunikasi yang halus sesuai dengan budaya Indonesia yang terkenal dengan kesopanan dan keramahannya.

No Sir, You Moslem, This is Pork!
Meskipun tidak memiliki “hak” untuk makan di international mess Unifil, akan tetapi sungguh disayangkan apabila mereka yang pernah bertugas di lingkungan Unifil HQ akan tetapi belum pernah mencicipi menu masakan yang ada di International Mess, demikian kata rekan-rekanku dari Satgas MCOU sebelumnya. Kata-kata ini membuat aku penasaran sehingga akhirnya benar-benar aku buktikan dengan mencoba bergabung makan siang di international mess ini.
Personel Level II Hospital (kiri) 
Kesempatan pertama makan di tempat ini adalah ketika diajak oleh rekanku dari Satgas  Hospital Level II yang memang memiliki jatah di situ, diikuti kesempatan-kesempatan berikutnya ketika bergabung dengan rekan-rekan FHQSU atau terkadang datang sendiri, kalau benar-benar “kepepet” di mana kegiatanku tidak jauh dari lokasi international mess. Bila datang sendiri atau berdua dengan rekan Satgasku, biasanya kami tidak mendapatkan kesulitan untuk masuk ke ruang makan meski kami tidak ada dalam daftar makan dan tidak memiliki kupon makan. Sang penjaga yang juga rekan kami dari Satgas FHQSU biasanya tidak berkeberatan dan mengarahkan kami untuk mencatat di “Daftar Cadangan” (dengan catatan tidak setiap hari atau setiap minggu yang tentunya ada sedikit rasa “malu” juga makan gratis di tempat yang seharusnya “tidak gratis” tersebut).
Pork (kiri), Beef (tengah) dan Chicken (kanan), harus hati-hati!!
Pada pengalaman awal masuk ke ruang makan internasional, ada rasa “kikuk” juga dalam hatiku melihat ratusan orang bergiliran makan dengan seragam campuran. Kikuk di sini dalam arti “takut salah” dan mungkin “takut dianggap kampungan” kalau tidak mengikuti kebiasaan dan aturan yang ada di ruang makan tersebut. Akhirnya ketika saat mengantri makanan dengan nampan di tangan dengan piring, mangkuk sayur,  serta sendok garpu, aku sekedar mengikuti apa yang dilakukan rekan-rekanku dari baris antrian di depan, menyodorkan nampan kepada sejumlah pelayan yang menjaga makanan, tunjuk ini-itu, piring pun di isi olehnya sesuai dengan takaran dan permintaan. Akan tetapi ada satu pengalaman menarik di sini, ketika tiba di rak makanan terakhir, setelah mangkuk terisi sop, piring terisi nasi, sayuran mentah dan ayam bakar yang saat itu tersedia, aku tertarik dengan menu irisan besar daging bakar yang ikut menggoda selera makanku. Aku berdiri di depan sang pelayan yang menunggunya dan menunjuk daging tersebut. Sesaat sang pelayan memandangku, dan sebelum aku bertanya lebih lanjut, ia sudah berkata, “You moslem, Indonesia! No Sir, This is Pork!” katanya sambil menunjuk sebuah kertas bertuliskan “Pork” di depan rak makanan. Oalah!!!! Mataku saat itu tidak melihat tulisan tersebut, yang tertuju hanya makanannya saja. "Kenapa harus ditaruh berdampingan dengan makanan yang halal bisa saja menjebak orang yang tidak tahu" demikian pikirku saat itu.  Akhirnya aku cuma sekedar mengangkat tangan dan ngloyor pergi menuju tempat makan yang tersedia. Sedikit malu juga, tapi biarlah, namanya saja orang baru, demikian aku berpikir waktu itu.
Sebagian personel UN yang "kuat" makan
Selain makanan pokok yang harus antri pengambilannya, di ruang makan ini juga tersedia puding, buah-buahan, beraneka macam jenis minuman serta roti raksasa yang pengambilannya disesuaikan dengan kebutuhan perut masing-masing. Untuk yang satu ini, ada satu hal yang membuat aku terkadang geleng-geleng kepala di mana sebagian rekan kami (bukan dari Indonesia) dengan santai dan enaknya saja mengambil hampir semua jatah makanan yang tersedia. Bahkan meski piring dan mangkuk sudah terisi penuh hampir tumpah, masih ditambah pula dengan roti berukuran besar. Dan sepengetahuanku, semua makanan itu bisa ludas masuk perut. Sulit dibayangkan dengan kata-kata, menu makanannya yang kelewat enak atau mereka yang “rakus” mengikuti kebiasaan “makan sebakul” di negaranya.
Bagiku sendiri, selama mendapat kesempatan makan di ruang makan interasional, ada satu catatan penting yang mungkin juga menjadi catatan sebagian rekan satgasku, yakni rasa makanan nya kurang cocok dengan lidah orang Indonesia yang terkenal dengan pedas, asin dan tentu saja diiringi dengan bumbu penyedap rasa. Intinya, bagiku pribadi dan sebagian rekan Satgas, “Mendingan makan di Kamp, dengan cita rasa khas masakan Indonesia!”. Bravo Masakan Indonesia.
***

12 comments:

  1. Aku kok g di ajak makan yaaa... lainnya hdr smua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan2 nanti aku traktir makan. Silahkan hubungi saya di nomor yang tercantum di FB. Tks

      Delete
  2. Kalo di indonesia, misalkan, di kandang menjangan menu masakannya berdasarkan menu daerah dari para prajurit yang ada di sana pasti lebih ribet ya dari pada yang di libanon...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk mengatur menu makan untuk orang-orang satu "rumpun" dengan makanan pokok yang sama seperti di Indonesia jauh lebih mudah ketimbang mengurus menu makanan untuk orang-orang dari negeri yang berbeda dengan makanan pokok berbeda, selera beda, porsi beda, rasa beda, dan juga kebiasaan dan etika makan yang beda. Tks atensinya

      Delete
    2. Salam Garuda Dari Bamak FPC 2013

      Delete
  3. Yg bagian "no sir, this is pork" itu bagus menurutku karena org sana ternyata masih sadar buat saling mengingatkan

    Kadang malah di warteg2 indonesia sendiri itu orang udah tau dia muslim tapi makan yg gak boleh malah dibiarin aja soalnya "urusanmu bukan urusanku"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, kebetulan memang itu terjadi di dalam situasi penugasan, di mana SOP selalu menjadi pegangan dalam pelaksanaan tugas. Sang pelayan memiliki kewajiban untuk mengingatkan dan mengarahkan sang tamu agar tidak salah makan. Untuk di Indonesia, saya tidak bisa berkomentar banyak .... tks atensinya.

      Delete
  4. Keren Mas ceritanya, harusnya kehidupan yg mas ceritakan ada juga di film I leave myheart in Lebanon ya?

    ReplyDelete
  5. Terima kasih. Cerita ringan yang ada di blog ini hanya sekedar pelengkap/ referensi awal untuk semua orang yang memerlukan gambaran "kasar" bagaimana kehidupan prajurit di daerah penugasan.

    ReplyDelete
  6. ceritanya apik, ngalir apa adanya, dan mudah dipahami. jadi enaken bacanya. ini harapan suamiku juga bisa tugas luar negeri dan bisa umroh. semoga bisa tercapai. anyway, thanks a bunch for sharing your precious story from Libanon pak. this is inspiring.

    ReplyDelete