Tuesday, February 26, 2013

Catatan ke-24 : Menyanyikan “Indonesia Raya” di Depan Anak-Anak Lebanon


Foto bersama sebelum melaksanakan kunjungan

   Bagi setiap prajurit TNI, menyanyikan Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” merupakan sesuatu yang sudah “biasa” karena dalam kesehariannya beraktifitas terkadang sering bersentuhan dengan lagu dengan pasangan idealnya yakni bendera merah putih. Namun menyanyikannya di depan anak-anak, terutama anak-anak di daerah penugasan di Lebanon Selatan, merupakan suatu kejadian langka. Dan kejadian menarik inilah yang aku alami saat melakukan kunjungan ke sekolah negeri di sebuah desa kecil bernama Jumayjmah, yang letaknya sekitar 45 menit perjalanan dari markas kami, MCOU Unifil, Naqoura, South Lebanon.
Desa yang dalam pandangan misi penugasan kami diberi kode Victor-19 (V-19) ini menjadi salah satu sasaran kunjungan kami di minggu terakhir bulan Januari 2013 lalu, tepatnya pada Kamis, 31 Januari 2013. Tujuan kami datang ke desa ini adalah untuk memenuhi permintaan sang Kepala Desa yang seminggu sebelumnya telah kami kunjungi yang intinya kami diharap untuk sekali-kali menengok dan mengunjungi kondisi sekolah yang ada di desa tersebut (Perlu diketahui kami memiliki sebuah tim kecil yang dikenal dengan sebutan Tim Tactical Outreach yang  memiliki tugas khusus menyampaikan “pesan-pesan perdamaian” secara face to face kepada warga di mana umumnya target auidence kami adalah local leader atau local people. Pada saat-saat tertentu tim kecil ini juga melakukan school engagement untuk menyampaikan pesan-pesan yang sama kepada generasi muda Lebanon).
Seperti kegiatan School engagement ke beberapa sekolah sebelumnya, bekal kami dalam melakukan aktifitas school engagement ke Jumayjmah adalah seperangkat buku dan alat-alat tulis yang nantinya akan kami bagikan kepada pelajar SD Negeri Jumayjmah. Pada awalnya pihak sekolah menginformasikan jumlah siswa yang akan kami kunjungi ini berjumlah 50 orang anak. Tetapi sehari sebelum kunjungan, pihak sekolah meralatnya menjadi 75 siswa dengan alasan ada sekoah lain yang ingin ikut bergabung. Dengan perubahan informasi tersebut maka akhirnya kami menyiapkan 85 set souvenir yang masing-masing terdiri dari buku tulis, pensil warna, cat air dan penghapus.
Demikianlah setelah semua peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa ke Jumayjmah termasuk sang mangkot Mr. Blue Barrel lengkap dan sudah dimasukkan ke bagasi dua mobil, kami langsung bergerak menuju Jumayjmah menyusuri jalanan berliku yang penuh perbukitan khas Lebanon.

Menyanyikan "Indonesia Raya"

Setelah tiba di lokasi, bertemu dan mengobrol dengan Direktur Sekolah yang didampingi sang Kepala Desa serta Dewan Guru, saat itu kami pun langsung menjalankan amanat Unifil untuk mengenalkan hal-hal kecil terkait dengan Unifil maupun pemahaman tentang Blue Barrel dan Blue Line (garis maya di peta yang menunjukkan perbatasan Lebanon Israel).

Berbincang dengan anak-anak

Untuk menghidupkan suasana, sebelum acara, aku mendekati  Mrs. Nisrine Matta, Language Assistant (LA) kami untuk meminta anak-anak menyanyikan sebuah lagu khas Lebanon. Nisrine setuju dan langsung disampaikan kepada kepada anak-anak dengan menggunakan bahasa Arab yang kurang aku mengerti. Hasilnya mereka kemudian secara bersama-sama berdiri dari tempat duduknya dan langsung menyanyikan lagu kebangsaan Lebanon. Usai mereka menyanyikan lagu khas Lebanon, mereka ternyata mendaulat kami untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Permintaan ini disampaikan Nisrine kepada Perwira tertua kami yang juga menjabat sebagai Tcot A Leader Kapten Inf Fakhrul. Setelah berkoordinasi kami akhirnya setuju. Dan sesaat kemudian kami bertiga, Kapten Fakrul, Lettu Nofry dan aku sendiri berdiri di depan anak-anak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suara kami cukup lantang apalagi di dukung suara dari rekan-rekan kami yang lain yakni Lettu Inf Purwoko, Serda Mes Suprapto, Praka Agus Haryanto dan Prada Susiswanto yang berdiri di belakang anak-anak. Suasana aula di SD Jumayjmah seakan pecah dan bergetar ketika diterpa nyanyian “Indonesia Raya”. Berulangkali anak-anak bertepuk tangan mendengar nyanyian kami yang aku tahu persis mereka sendiri bingung apa artinya?. Meski demikian aku yakin, paling tidak sudah tertanam nama “Indonesia” di hati anak-anak Lebanon ini.

Alma Yang Jadi Rebutan

Setelah acara pokok School Engagement sesuai pedoman baku penugasan disampaikan dengan lugas dan lancar oleh Kapten Inf Fakhrul, acara selanjutnya berupa pembagian “souvenir” berupa buku dan alat-alat tulis serta ditutup dengan acara foto bersama. Satu kejadian menarik saat acara foto bersama adalah adanya keinginan sebagian besar dari kami untuk foto bersama dengan anak-anak kecil Lebanon yang dalam pandangan kami lucu-lucu dan menggemaskan.
Saat itu di antara puluhan murid SD Jumayjmah, ada seorang gadis kecil mungil berambut panjang dengan wajah khas Lebanon yang sangat menarik perhatian kami. Sebut saja namanya Alma. Usianya sekitar 6 tahun. Ia murid kelas pertama di sekolah tersebut. Saat itu ia duduk di deretan kursi pertama. Sebelum acara foto bersama, rekan-rekanku sudah saling berbisik mau berfoto bersama dengan gadis kecil yang murah senyum tersebut. Dan pada akhirnya memang menjadi kenyataan, selain berfoto bersama dengan anak-anak yang lain, enam orang di antara kami meminta “tukang jepret” untuk mengabadikan foto bersama dengannya (bahkan aku sendiri ikut-ikutan). Saat itu aku yakin, Alma pasti kebingungan melayani permintaan kami untuk berfoto bersama. Ia hanya menurut dan hanya bisa tersenyum kecil setiap kali kami minta foto.

Anak siapa ayo?!!!

Foto bersama dengan obyek yang menarik merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilewatkan, apalagi kalau obyek tersebut sesuatu yang jarang ditemui dalam kesehariannya. Demikian pula dengan kami personel Satgas Garuda XXX-C MCOU 2012-2013, hampir di setiap kesempatan bila  menjumpai obyek foto yang dianggap menarik, langka dan sulit untuk terulang kembali di kesempatan lain, foto lah yang akhirnya menjadi salah satu media paling tepat untuk mengabadikan moment tersebut. Dan inilah yang mungkin menjadi “pembenar” bagi kami untuk sekedar meminta foto dengan satu obyek yang sama seperti dengan si Alma, gadis kecil manis asli Lebanon ini.

Catatan ke-23 : Unifil ID Card dan Kredit Barang Elektronik


Bentuk Unifil ID Card yang digantung di saku kiri baju dinas


  Dalam menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon, personel Unifil (United Interim Force In Lebanon) termasuk di dalamnya dari Kontingen Garuda Indonesia yang saat ini terdiri dari beberapa Satuan Tugas yakni Indobatt, IndoFPC, FHQSU, SeMPU, Cimic, MCOU dan Military Staff, masing-masing dibekali dengan Unifil ID Card yakni Kartu identitas kecil yang dalam keseharian bertugas digantung dengan gantungan kecil berlogo Unifil di saku baju kiri.
Di dalam kartu ID ini tercatat dengan jelas nama lengkap si pemegang, nomor ID, golongan darah, masa akhir berlakunya kartu, tanda tangan dan foto diri si pemegang dengan baju dinas tanpa tutup kepala.
Kartu identitas dengan dominasi warna putih dengan garis biru bertuliskan “United Nations, Nations Unies” ini kegunaannya jelas sangat penting dalam menjalankan tugas-tugas keseharian membawa nama Unifil. Dengan kartu ini maka kita dapat melakukan pergerakan “secara bebas” di daerah operasi Unifil (tentunya didukung dengan ciri lain sebagai anggota Unifil seperti Uniform dsb).
Selain Kegunaan “mutlak” tersebut, Unifil ID Card juga bisa digunakan sebagai “senjata” untuk memperoleh kemudahan. Sebagai contoh, dengan ID Card, seluruh personel Unifil dapat menikmati rokok murah di PX (Post Exchange) Naqoura, dengan hanya membayar 3 dolar untuk satu slopnya yang berisi 10 bungkus (satu ID Card maksimal tiga slop untuk masa transaksi satu bulan). Kemudahan lain, kartu identitas ini dapat dijadikan “barang jaminan” saat melakukan transaksi jual beli dengan pihak lain di luar Unifil seperti dengan pedagang dari warga setempat.

Kemudahan Kredit di Toko Mahdi dan Sam
Dua toko yang menjual barang-barang elektronik yang sering menjadi langganan tentara Indonesia adalah toko Sam dan Mahdi. Kedua toko ini letaknya sekitar 3 km dari kamp Soedirman, Naqoura, South Lebanon (keluar dari Main Gate Unifil Head Quarter yang dijaga tentara Indonesia dari FPC, belok kanan menyusuri Minstry Street, melewati pos jaga LAF, 300 meter berhenti di pertokoan besar di sebelah kanan jalan).

Aku dan Mahdi di toko elektroniknya

Dua toko tersebut seakan bersaing dalam menjajakan dagangannya termasuk kepada tentara Indonesia baik dalam segi pelayanan maupun harga. Dalam hal kemudahan bertransaksi, dua toko juga bersaing. Mereka tidak hanya melayani pembelian semua produk barang dengan cash, tetapi juga bisa dengan cara mencicil atau “kredit”. Persyaratannya juga cukup mudah, tinggal tawar menawar, harga cocok, bayar cash atau kalau mau kredit, berani “berapa kali bayar”  baru catat nomor ID, dan selanjutnya barang yang kita inginkan pun bisa langsung dibawa pulang ke Korimek.
Bagaimana dengan harganya? Harga barang-barang di Mahdi dan Sam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga Indonesia. Beberapa barang tertentu bisa jadi lebih mahal dibandingkan beli Indonesia, namun ada kalanya bisa pula lebih murah. Khusus untuk barang elektronik, ada kecenderungan harga lebih murah dibandingkan harga yang dibanderol di Indonesia. Contoh, Januari lalu seorang rekanku membutuhkan Laptop berkecepatan tinggi merk HP Pavilion Dv7. Dari informasi yang ia baca di internet, kelebihan laptop jenis ini terletak pada prosessornya berupa intel quad core i5 yang dijalankan dengan until turbo boost teknologi (Teknologi ini merupakan teknologi mutakhir yang dapat mencapai 2,6 GHz dengan kecepatan tinggi sehingga dapat digunakan dengan cepat. Laptop HP Pavilion Dv7 ini merupakan laptop yang hemat energy dengan sistem ATI Radeon nya. Model dasar dari laptop ini memiliki lebar sebesar 17.3 inchi dan ini termasuk laptop yang besar).
Berbekal dari informasi tersebut, rekanku selanjutnya berangkat menuju kedua toko “sahabat” tentara Indonesia tersebut. Ia langsung mendatangi toko Mahdi dan berbicara langsung dengannya. Tak berapa lama oleh Mahdi ditunjukkan HP Pavillion DV-7 dengan spesifikasi antara lain prosesor Intel Core i5-3210 2,56 GHz, 750 GB HDD, 8 GB memory DDR3, 2 baris Graphics adapter : NVIDIA GeForce 2 GB dan At Radeon 4 GB  dengan monitor 17’3 LED. Melihat modelnya, ia pun langsung tertarik dan terjadilah tawar menawar. Mahdi memasang harga 800 dolar amerika, tidak boleh kurang. Tetapi akhirnya dengan tambahan kata-kata, “ baiklah untuk Indonesia saya kasih 785 dolar, ambilah!” akhirnya transaksi pun deal dan disetujuti kedua pihak. Bagaimana dengan pembayarannya, “ Terserah anda, mau cash atau berapa kali kamu mampu bayar?”demikian kata Mahdi yang sedikit banyak mengerti bahasa Indonesia. Dengan kalimat ini akhirnya rekanku menyetujui untuk membayar dengan cara mencicil selama 4 kali. Mahdi setuju, rekanku serahkan Unifil ID Card, Mahdi mencatat nomornya, laptop pun sudah berpindah tangan dan langsung di bawa ke korimek. Mudah khan! Bagaimana dengan harga di Indonesia. Saat aku searching di internet harganya cukup lumayan antara 1000-1100 dolar, yang berarti lebih murah di Lebanon.
Untuk “kredit” barang elekronik lainnya seperti External HDD, LED TV, Audio, jam tangan dan lainnya, prosesnya tidak berbeda jauh. Tinggal lihat barang, tertarik, tawar menawar, setuju, bayar cash atau kredit dengan menyerahkan nomor Unifil ID Card, dan terakhir bawa ke korimek, selesai. Inilah salah satu bukti “saktinya” ID Card yang dikeluarkan Unifil untuk personelnya. Meskipun demikian ada satu catatan penting, silahkan “kredit” barang semaunya sesuai kebutuhan dan kemampuan, asalkan sebelum berakhirnya penugasan, “kreditan” sudah lunas. Kalau belum lunas, jangan harap bisa tenang ketika sudah kembali ke Indonesia. Bisa-bisa si personel yang bermasalah suruh balik lagi ke Lebanon (tentunya dengan beaya sendiri), sekedar untuk “melunasi” hutangnya kepada Mahdi atau Sam. Kalau ini terjadi, malu juga merah putih. 
***

Sunday, February 17, 2013

Catatan ke-22: Melepas Kerinduan Keluarga dengan “Skype”


"Skype" media pelepas kerinduan keluarga


 Keluarga bagi seorang prajurit TNI merupakan faktor yang sangat penting. Apalagi bila si prajurit sedang melaksanakan tugas yang lumayan jauh semisal tergabung dalam penugasan luar negeri. Dalam kondisi ini maka untuk menjalin komunikasi dengan keluarga, umumnya para prajurit TNI ini memanfaatkan sarana komunikasi yang ada seperti lewat Hand Phone (via BBM) atau fasilitas lain yang dapat mendukung terjadinya komunikasi antara prajurit dan keluarganya di tanah air.

Berskype sambil menyetrika baju

Salah satu media komunikasi yang paling sering digunakan prajurit TNI di daerah penugasan Lebanon adalah dengan menggunakan “skype”. Skype adalah sebuah program komunikasi dengan teknologi P2P (Peer to Peer). Program ini merupakan program bebas yang dapat diunduh (didownload secara gratis) dan dibuat dengan tujuan untuk menyediakan sarana komunikasi suara (voice) berkualitas tinggi yang murah berbasiskan internet untuk semua orang di berbagai belahan dunia. Pengguna skype dapat berbicara dengan pengguna skype lainnya dengan gratis alias tidak dipungut beaya, menghubungi telepon tradisional dengan beaya (skyput), menerima panggilan dari telepon tradisional (skypeln) dan menerima pesan suara. Aktifitas ini dapat didapatkan secara gratis (untuk semua pengguna skype) dan berbayar bila skype digunakan untuk menelepon ke pesawat telepon genggam. Komunikasi ini bisa dilangsungkan antar pengguna (dua orang) sampai dengan lima orang sekaligus. Keuntungan lain dari program skype ini adalah penggunaannya yang mudah. Untuk pengguna yang telah biasa menggunakan pengiriman-penerima pesan instan internet, perangkat lunak skype akan dirasakan lebih mudah. Pengguna hanya diharuskan untuk memiliki komputer dengan spesifikasi teknis tertentu, headset yang memiliki mike dan speaker serta sambungan internet. Kualitas yang  lebih baik dibandingkan dengan Voip pendahulunya. Kegunaan dasar pembicaraan telepon melalui komputer di manapun pengguna berada (dengan koneksi internet secara gratis).

Tampilan halaman skype di Notebook

Untuk bisa akses internet, sebagian besar kami menggunakan jasa Wifi yang merupakan kependekan dari Wireless Fidelity yaitu sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks - WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Awalnya Wi-Fi ini ditujukan untuk pengunaan perangkat nirkabel dan Jaringan Area Lokal (LAN), namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet. Hal ini memungkinan seseorang dengan komputer dengan kartu nirkabel (wireless card) atau personal digital assistant (PDA) untuk terhubung dengan internet dengan menggunakan titik akses (atau dikenal dengan hotspot) terdekat. Wifi yang kami gunakan  saat ini merupakan bagian dari jaringan Alfa dengan beaya akses per bulannya sebesar 40 dolar. Beaya ini biasanya ditanggung secara bersama untuk satu korimek (4-5 orang).
Dengan kemudahan dan kelebihan yang ditawarkan Skype maka pada akhirnya skype ini jugalah yang menjadi salah satu media pelipur lara bagi sebagian besar prajurit yang kini bertugas di Lebanon (termasuk juga penulis). Dengan skype ini, kita bisa “chat video” secara bebas dengan keluarga di tanah air, tanpa khawatir diganggu orang lain (setingannya disesuaikan, misalnya hanya untuk kontak tertentu saja seperti keluarga yang dapat kita ubah sewaktu-waktu sesuai kebutuhan).
Problem utama komunikasi dengan keluarga di tanah air dengan menggunakan skype ini adalah, masalah waktu yang harus menyesuaikan dengan kondisi kerja. Aku dan rekan-rekan di Korimek, hanya bisa melakukan komunikasi dengan keluarga pada jam-jam tertentu seperti pagi jam enam pagi hingga jam tujuh. Selanjutnya saat istirahat siang jam setengah satu hingga jam setengah dua. Sedangkan saat pulang kerja sekitar jam enam, aktifitas berskype dengan keluarga ini tidak bisa terlaksana, karena kondisi di tanah air yang jelas sudah malam sekitar jam dua belas malam (disebabkan perbedaan zona waktu yang berbeda antara Jakarta (GMT+2) dengan waktu Lebanon, Beirut (GMT+7). Meskipun pada saat-saat tertentu seperti hari libur, kegiatan ini bisa terlaksana dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu dengan keluarga yang ada di tanah air.
Keluargaku di Indonesia
Beberapa hal yang menarik dari aktifitas berskype ria dengan keluarga ini adalah ketika semua orang yang ada di satu korimek melaksanakan aktifitas skype secara bersamaan. Bisa dibayangkan, bagaimana ramainya suasana korimek apabila semua penghuni berbicara dengan keluarganya masing-masing. Ada yang sedang bercengkerama dengan pacarnya (bagi rekan yang belum berkeluarga atau masih bujangan), ada yang sedang menasehati anaknya yang kelewat bandel setelah ditinggal tugas oleh bapaknya, ada yang pusing memikirkan anaknya yang sedang sakit hingga  ada pula yang berkomunikasi tentang hal-hal kecil sesuai dengan kepentingan si prajurit masing-masing.
Bagiku sendiri, skype ini merupakan jembatan komunikasi yang sangat bermanfaat untuk mengisi waktu senggang dan juga sebagai sarana untuk melepas kejenuhan dan kerinduan dengan keluarga yang ada di tanah air. Lewat skype ini aku bisa bertukar informasi, bersenda gurau dengan keluarga,  serta juga sebagai sarana “kendali” untuk membina keharmonisan keluarga. Bahkan dalam beberapa kesempatan lewat skype ini, aku dapat secara langsung membantu anakku sulung (Talita Tsabitah Syafanti-9 th) mengerjakan PR sekolahnya serta juga membantu si kecil yang lucu, Vio Sandya Yoghama (3,9 th) menggambar beberapa gambar kesukaannya.
***

Catatan Ke-21 : Mahalnya Rokok Indonesia, Murahnya Rokok Unifil


Rokok Indonesia (kanan) dan Rokok Unifil (kiri)


          Bagi seorang pecandu rokok, sehari tidak merokok, mungkin dianggap ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Bagi pecandu yang lain, menikmati rokok di luar kesukaannya juga kurang lebih merasakan hal yang sama, ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Demikian juga dengan kondisi sebagian prajurit TNI yang sedang melaksanakan penugasan di Lebanon. Memasuki bulan kedua penugasan, di bulan Februari ini, sebagian prajurit TNI yang sudah “kecanduan” rokok mulai “bergerilya” mencari rokok alternatif dikarenakan “stok” rokok yang mereka bawa dari Indonesia sudah habis.

Bentuk rokok Uniifil yang kecil

 Bagi perokok “kelas berat” yang tidak “pilih-pilih” jenis rokok yang mau dihisap, Unifil menyediakan alternatif pilihan dengan menyediakan rokok “murah meriah”. Dan alternatif inilah yang akhirnya dipilih sebagian prajurit TNI. Harganya, jangan kaget! Satu slop rokok (isi 10 bungkus) dengan merk “Allure” jenis super slim harganya cuma 3 dolar Amerika ! (kalau dirupiahkan Rp. 28.500,- yang berarti untuk setiap bungkusnya cuma Rp.2.850,-). Rokok murah khas Unifil produksi Jerman ini juga memiliki kelebihan yakni cukup rendah tar dan nikotinnya. Di dalam kemasannya yang mungil dengan 3 warna pilihan tercatat

Rokok subsidi Unifil, cuma 3 dolar per slop

nikotinnya cuma 0,6 gr dan 6 mg tar. Di Indonesia, isi rokok “Allure” ini sekilas mirip rokok Sampoerna Avolution produksi PT Sampoerna. Perbedaannya hanya pada bungkusnya. Jika Sampoerna Avolution bentuknya kotak, kecil, panjang dengan diameter batang kira-kira 5,14 cm dan panjang 100 mm, sedangkan Allure yang menjadi rokok alternatif prajurit Unifil bentuknya segiempat kecil (seperti Sampoerna Mild). Isinya pun berbeda untuk perbungkusnya, yakni untuk Sampoerna Avolution 16 batang, Alure 20 batang. Perbedaan lain yang menyolok, jelas pada harganya. Bila Sampoerna Avolution Indonesia dijual dengan harga Rp. 12.000,-, tetapi kalau Allure cuma Rp. 2.850.-. per bungkusnya!.
Harga yang sangat “miring” tersebut akhirnya benar-benar menjadi pilihan prajurit TNI terutama bagi perokok berat yang tidak mempermasalahkan merk dan kualitas rokok. Apalagi selain Allure tersedia juga merk lain yang harganya tidak berbeda seperti Elegance, Grand dan Three Star yakni 3 dolar per 10 bungkus. “Pada umumnya kami tidak terlalu mempermasalahkan merk rokok, yang penting keluar asap. Murah lagi” demikian kata Sertu Wahidin Sutanto, rekanku satu satgas dan juga satu korimek yang asli Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Ayah dua orang anak ini mengaku menjadi “kutu loncat “ dari rokok kesukaannya Djarum/

PX di Kamp Soedirman, Naqoura

Gudang Garam kepada Allure Unifil, setelah stok rokok yang dibawa dari Indonesia sejak akhir Januari lalu habis.
Meskipun rokok yang “disediakan” Unifil untuk kesejahteraan prajuritnya di Lebanon sangat murah, tetapi untuk mendapatkannya harus sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku. Unifil hanya menyediakan rokok murah di PX (Post Exchange-di Indonesia seperti koperasi satuan tetapi dikelola oleh orang luar) yang berada di Markas Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Setiap prajurit Unifil (diwakili oleh ID card masing-masing) hanya berhak membeli maksimal 3 bungkus rokok untuk jatah 1 bulan. Dengan hanya terkonsentrasi pada satu tempat, maka prajurit Indonesia yang bertugas di luar Naqoura seperti Indobatt (Batalyon Mekanis Indonesia) yang markas batalyonnya di Asdith Al Qusyair maupun personel Sempu (Sector East Military Police) yang bermarkas di Marjayoun, yang jaraknya sekitar 2-3 jam perjalanan dari Naqoura, terpaksa harus mencari waktu yang tepat agar bisa berbelanja rokok dengan harga murah ini. Terkadang untuk menyiasati, mereka berbelanja secara kolektif. Pernah aku temui beberapa personel Indobatt yang sengaja belanja rokok di PX Unifil Naqoura dengan membawa ID Card rekan-rekannya sebanyak 80 buah yang berarti 30 x 80 = 240 slop rokok. “ Saya bawa 80 ID Card untuk tukar rokok bang. Bahkan saya bawa dua mobil untuk membawa pesanan rokok kawan-kawan kami ini. Lumayan satu slop cuma 3 dolar, bisa ngirit untuk pengeluaran rokok kami di daerah penugasan Lebanon ini” demikian kata salah seorang dari mereka ketika aku menanyakan pesanan rokoknya yang kelewat banyak.

Dji Sam Soe 3 Dolar

Rokok Indonesia yang nilai jualnya cukup tinggi


     Bagaimana dengan harga rokok produksi asli Indonesia. Harganya ternyata kelewat mahal. Rokok Dji Sam Soe kretek misalnya, harganya mencapai 3 dolar per bungkusnya. “Dji Sam Soe cigaretes, if you buy one, three dolars, but if you need two, only five dolars” demikian kata seorang pemuda Lebanon penunggu PX Indobatt di Asdith Al Qusyair ketika pada awal Februari lalu aku dan sebagian rekan Satgas berkesempatan mampir ke markas Indobatt ini. Rokok lain seperti Gudang Garam Filter, U Mild, Sampoerna Mild, Sampoerna Kretek, Star Mild harganya tak jauh beda, berkisar antara 2 hingga 3 dolar per bungkusnya. Mahalnya rokok Indonesia itulah yang akhirnya membuat hampir sebagian besar prajurit TNI yang senang merokok beralih dengan rokok yang lebih murah, yakni rokok yang disubsidi Unifil seperti merk Allure, Elegance, Grand, Three Star dan sebagainya.

Meski demikian, kondisi mahalnya rokok Indonesia ini juga sebagian dimanfaatkan oleh rekan-rekan Satgas untuk mencoba mengadu untung dengan berbisnis kecil-kecilan. Teknik yang digunakan, umumnya mereka membawa stok rokok lumayan banyak dari Indonesia untuk selanjutnya pada bulan kedua atau ketiga, dijual ke PX, rekan Satgas atau ke personel Satgas lain yang membutuhkan. Serda Mes Suprapto, rekan satgasku dari Surabaya misalnya. Ia sengaja membawa beberapa slop rokok untuk “dijual kembali”, padahal ia sendiri bukanlah perokok. Hasilnya lumayan! Dua slop rokok Gudang Garam Filter (isi 20 bungkus) laku terjual ke rekan-rekan satgas dari Malaysia dengan harga 200 dolar (sekitar Rp.1.9 juta dengan kurs Rp.9.500,- untuk satu dolarnya). Padahal modal awal untuk dua slop rokok itu Cuma sekitar Rp. 800 ribu-an. “ Lumayan bisa dimanfaatkan untuk tambahan beaya Umroh dan pulang ke Indonesia” kata Bintara Dispen Armatim yang tinggal satu korimek denganku ini yang berencana umroh dan pulang Indonesia saat pelaksanaan cuti periode pertama awal April 2013 mendatang. “ Sayang aku cuma bawa dikit, kalau banyak lumayan juga buat bisnis kecil-kecilan sembari melaksanakan tugas” lanjutnya sambil tersenyum.
Demikianlah gambaran kecil tentang perbandingan harga rokok produksi Indonesia dengan rokok luar negeri yang telah mendapat subsidi dari Unifil yang sebagian pada akhirnya menjadi alternatif pengganti rokok Indonesia dan juga bisa menjadi moment bisnis “kecil-kecilan”.
***