Foto bersama sebelum melaksanakan kunjungan |
Bagi setiap
prajurit TNI, menyanyikan Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” merupakan sesuatu
yang sudah “biasa” karena dalam kesehariannya beraktifitas terkadang sering
bersentuhan dengan lagu dengan pasangan idealnya yakni bendera merah putih.
Namun menyanyikannya di depan anak-anak, terutama anak-anak di daerah penugasan
di Lebanon Selatan, merupakan suatu kejadian langka. Dan kejadian menarik inilah
yang aku alami saat melakukan kunjungan ke sekolah negeri di sebuah desa kecil
bernama Jumayjmah, yang letaknya sekitar 45 menit perjalanan dari markas kami,
MCOU Unifil, Naqoura, South Lebanon.
Desa yang dalam pandangan
misi penugasan kami diberi kode Victor-19 (V-19) ini menjadi salah satu sasaran
kunjungan kami di minggu terakhir bulan Januari 2013 lalu, tepatnya pada Kamis,
31 Januari 2013. Tujuan kami datang ke desa ini adalah untuk memenuhi
permintaan sang Kepala Desa yang seminggu sebelumnya telah kami kunjungi yang
intinya kami diharap untuk sekali-kali menengok dan mengunjungi kondisi sekolah
yang ada di desa tersebut (Perlu
diketahui kami memiliki sebuah tim kecil yang dikenal dengan sebutan Tim
Tactical Outreach yang memiliki tugas
khusus menyampaikan “pesan-pesan perdamaian” secara face to face kepada warga
di mana umumnya target auidence kami adalah local leader atau local people.
Pada saat-saat tertentu tim kecil ini juga melakukan school engagement untuk
menyampaikan pesan-pesan yang sama kepada generasi muda Lebanon).
Seperti kegiatan
School engagement ke beberapa sekolah sebelumnya, bekal kami dalam melakukan
aktifitas school engagement ke Jumayjmah adalah seperangkat buku dan alat-alat
tulis yang nantinya akan kami bagikan kepada pelajar SD Negeri Jumayjmah. Pada
awalnya pihak sekolah menginformasikan jumlah siswa yang akan kami kunjungi ini
berjumlah 50 orang anak. Tetapi sehari sebelum kunjungan, pihak sekolah
meralatnya menjadi 75 siswa dengan alasan ada sekoah lain yang ingin ikut
bergabung. Dengan perubahan informasi tersebut maka akhirnya kami menyiapkan 85
set souvenir yang masing-masing terdiri dari buku tulis, pensil warna, cat air
dan penghapus.
Demikianlah
setelah semua peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa ke Jumayjmah termasuk
sang mangkot Mr. Blue Barrel lengkap dan sudah dimasukkan ke bagasi dua mobil,
kami langsung bergerak menuju Jumayjmah menyusuri jalanan berliku yang penuh
perbukitan khas Lebanon.
![]() |
Menyanyikan "Indonesia Raya" |
Setelah tiba di
lokasi, bertemu dan mengobrol dengan Direktur Sekolah yang didampingi sang
Kepala Desa serta Dewan Guru, saat itu kami pun langsung menjalankan amanat
Unifil untuk mengenalkan hal-hal kecil terkait dengan Unifil maupun pemahaman
tentang Blue Barrel dan Blue Line (garis maya di peta yang menunjukkan
perbatasan Lebanon Israel).
![]() |
Berbincang dengan anak-anak |
Untuk menghidupkan
suasana, sebelum acara, aku mendekati Mrs.
Nisrine Matta, Language Assistant (LA) kami untuk meminta anak-anak menyanyikan
sebuah lagu khas Lebanon. Nisrine setuju dan langsung disampaikan kepada kepada
anak-anak dengan menggunakan bahasa Arab yang kurang aku mengerti. Hasilnya
mereka kemudian secara bersama-sama berdiri dari tempat duduknya dan langsung
menyanyikan lagu kebangsaan Lebanon. Usai mereka menyanyikan lagu khas Lebanon,
mereka ternyata mendaulat kami untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.
Permintaan ini disampaikan Nisrine kepada Perwira tertua kami yang juga
menjabat sebagai Tcot A Leader Kapten Inf Fakhrul. Setelah berkoordinasi kami
akhirnya setuju. Dan sesaat kemudian kami bertiga, Kapten Fakrul, Lettu Nofry
dan aku sendiri berdiri di depan anak-anak menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Suara kami cukup lantang apalagi di dukung suara dari rekan-rekan kami yang
lain yakni Lettu Inf Purwoko, Serda Mes Suprapto, Praka Agus Haryanto dan Prada
Susiswanto yang berdiri di belakang anak-anak. Suasana aula di SD Jumayjmah
seakan pecah dan bergetar ketika diterpa nyanyian “Indonesia Raya”.
Berulangkali anak-anak bertepuk tangan mendengar nyanyian kami yang aku tahu
persis mereka sendiri bingung apa artinya?. Meski demikian aku yakin, paling
tidak sudah tertanam nama “Indonesia” di hati anak-anak Lebanon ini.
Alma
Yang Jadi Rebutan
Setelah acara
pokok School Engagement sesuai pedoman baku penugasan disampaikan dengan lugas
dan lancar oleh Kapten Inf Fakhrul, acara selanjutnya berupa pembagian
“souvenir” berupa buku dan alat-alat tulis serta ditutup dengan acara foto
bersama. Satu kejadian menarik saat acara foto bersama adalah adanya keinginan
sebagian besar dari kami untuk foto bersama dengan anak-anak kecil Lebanon yang
dalam pandangan kami lucu-lucu dan menggemaskan.
Saat itu di
antara puluhan murid SD Jumayjmah, ada seorang gadis kecil mungil berambut
panjang dengan wajah khas Lebanon yang sangat menarik perhatian kami. Sebut
saja namanya Alma. Usianya sekitar 6 tahun. Ia murid kelas pertama di sekolah
tersebut. Saat itu ia duduk di deretan kursi pertama. Sebelum acara foto
bersama, rekan-rekanku sudah saling berbisik mau berfoto bersama dengan gadis
kecil yang murah senyum tersebut. Dan pada akhirnya memang menjadi kenyataan,
selain berfoto bersama dengan anak-anak yang lain, enam orang di antara kami
meminta “tukang jepret” untuk mengabadikan foto bersama dengannya (bahkan aku
sendiri ikut-ikutan). Saat itu aku yakin, Alma pasti kebingungan melayani
permintaan kami untuk berfoto bersama. Ia hanya menurut dan hanya bisa
tersenyum kecil setiap kali kami minta foto.
![]() |
Anak siapa ayo?!!! |










