Saturday, March 30, 2013

Catatan ke-27: Pak Ardi, Rekanku yang Sedang Dirundung "Malang"





Pak Ardi (nama samaran), adalah salah seorang rekanku yang kini sedang melaksanakan tugas dalam misi United Nation Interim Force in Lebanon (Unifil). Bedanya kalau aku tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Military Community Outreach Unit (MCOU), pak Ardi ini tergabung dalam Satgas  Force Protector Company (FPC) atau yang lebih dikenal dengan IndoFPC.
Aku mengenal baik pak Ardi yang kini berpangkat Sersan Mayor (Serma), bukan sekedar karena kami dari kesatuan yang sama yakni Korps Marinir TNI AL, lebih dari itu karena kami pernah bertugas di Batalyon infanteri yang sama, kompi senapan yang sama dan juga peleton senapan yang sama, yakni sewaktu kami bersama-sama menjadi bagian dari pasukan Candraca Yonif-4, Brigif-2 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan pada sekitar tahun 1990 hingga 1994. 
Sebelum keberangkatanku ke Lebanon, ketika nama pak Ardi pertama kali aku lihat dalam daftar personel satgas Kontingen Garuda 2012-2013 (sekitar Nopember 2012 lalu),  bayanganku saat itu terfokus pada sosok prajurit militan khas Marinir dengan  perawakannya yang kekar dan baju licin yang selalu “dikanji” serta kedisiplinannya yang luar biasa. Selain itu yang paling menonjol dalam ingatanku adalah kelebihannya dalam hal kesamaptaan jasmani sehingga selalu menjadi andalan batalyon kami dalam lomba pembinaan satuan mulai dari lomba regu tangguh, peleton tangkas maupun kompi teladan. Ia memiliki tenaga yang kuat sehingga dulu dijuluki “Ardi Badak”, ia mampu mengangkat dua tiga orang sekaligus ketika rekan-rekannya kesulitan menaklukan nomor “pensil” pada saat pertandingan halang rintang. Ia pun tidak segan-segan membawakan dua-tiga senjata SS-1 rekan kami sekaligus, ketika rekan-rekan kami “sudah tak bertenaga” dalam menyelesaikan lomba Cross Country (CC) atau pun “kebut gunung”.  Dengan kemampuan dan prestasinya tersebut maka tidaklah salah bila satuan akhirnya tetap mempertahankannya hingga terakhir pangkat Sersan Satu.
Sebagian kenangan tersebut ternyata masih membekas di hatiku, ketika untuk kedua kalinya aku bertemu dengan pria kelahiran Garut, Jawa Barat ini di Camp Soedirman, Naqoura, South Lebanon yang menjadi tempat tinggal kami selama masa penugasan di Lebanon. Sikapnya masih tak berubah, khas Marinir dengan semangat kerja yang tak pernah surut. Satu yang membedakan dari pak Ardi ini, adalah mukanya yang sudah mulai sedikit berkerut dimakan usia. Tempat tinggal kami (berupa korimek-baca catatan tentang korimek) berseberangan. Aku menempati barisan korimek F sedangkan pak Ardi tinggal di barisan korimek C, persis berseberangan, aku di depan, pak Ardi di belakangku.
Perbedaan lain yang aku lihat sepintas dari beberapa pertemuanku dengan bapak dua anak ini adalah sikapnya yang sering termenung dan tidak seceria dulu. Sering aku mengintip dari balik jendela kecil korimekku, ia sedang termenung sendiri atau sedang melakukan olah raga rutin  joging di sekitar kamp Soedirman dengan muka yang kelihatan kurang ceria. Ada apa yach dengan perubahan sikap seniorku yang satu ini? Demikian terkadang aku bertanya dalam hati memperhatikan perubahan sikapnya. Namun beberapa hari kemudian, akhirnya terjawab juga rasa penasaran dalam hatiku. Di minggu pagi, di awal Februari lalu, ketika aku sedang asyik memetik gitar kecilku, tiba-tiba datang pak Ardi ke kamarku. Saat itu aku langsung tawarkan ia untuk bernyanyi bersama. Ia menggeleng. Aku persilahkan ia duduk di samping pembaringanku. Ia pun menurut. Aku pun berniat untuk melanjutkan nyanyianku yang tadi terpotong akibat kedatangannya yang tiba-tiba di kamarku tersebut. Tetapi ketika aku memandangnya untuk kembali mengajak ia bernyanyi, aku kaget setengah mati. Aku lihat matanya berlinangan air mata. Seketika juga aku letakkan gitar di atas tempat tidur dan memandangnya. Apa yang menyebabkan orang setegar pak Ardi bisa menangis? Demikian hati kecilku bertanya. Akhirnya dengan suara terbata-bata ia bercerita. Sebuah cerita sedih dan duka yang membuat hatiku tersentuh dan ikut hanyut dalam ceritanya tersebut.
“ Aku dapat telepon anakku yang sulung, Weni (nama samaran), isteriku ngedrop lagi, isteriku kelihatan sudah menyerah. Apalagi si Weni ngomongnya juga sudah tidak karuan “ demikian kalimat awal yang meluncur dari mulut pak Ardi yang mampir di telingaku. “ Tenang dulu pak, sabar” kataku menyabarkan, “ Memangnya isteri bapak sakit apa? “ lanjutku bertanya pelan. Ia menarik nafas sebentar sembari mengusap air matanya. “ Gula darah isteriku kambuh lagi. Sekarang sudah tidak bisa jalan. Berbaring saja di tempat tidur” katanya dengan nada sedih. “ Sudah dibawa ke dokter” tanyaku. “ Sudah. Tapi belum ada perubahan. Si Wenie kebingungan. Kalau Mamanya sakit, siapa yang mau urus Anto (nama samaran) adiknya” katanya lagi dengan mata kembali berkaca-kaca karena linangan air mata. “ Ya sudah pak, yang penting sekarang isteri bapak dulu yang diutamakan kesehatannya. Bapak komunikasikan lagi dengan anak bapak atau saudara untuk membantu merawat isteri bapak” kataku sedikit memberi jalan keluar. “Sudah, tapi siapa yang mau merawat dan mengawasi Anto. Si Weni sudah bolos kuliah dan ngajar …. untuk membantu mengurus Mama dan adiknya tersebut” Lanjutnya dengan terbata-bata. “ Memang kenapa lagi dengan si Anto? “ tanyaku. “ Anto perlu perhatian khusus karena sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan selama ini, isteriku yang mengurus. Kalau isteriku sakit siapa yang mengurusnya?” lanjutnya dengan kata-kata yang membuat aku kembali menghela nafas. Dapat aku bayangkan betapa beratnya cobaan yang sedang dihadapi rekanku yang satu ini.
Setelah memberi sedikit masukan dan nasehat kepada Pak Ardi yang sudah makan asam garam penugasan di dalam negeri seperti di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Natuna, Aceh, Ambon dan Irian ini, akhirnya perbincangan kecil di minggu pagi tersebut berakhir. Pak Ardi kembali ke korimeknya dan aku pun melanjutkan kesibukanku, menyiapkan seragam yang akan aku pakai esok paginya.

Antara Tugas Negara dan Keluarga
Seminggu setelah perbincangan kecil di kamarku tersebut, di Minggu pagi usai melaksanakan kegiatan rutin berupa pembersihan lingkungan korimek, aku menyempatkan diri mampir ke kamarnya di korimek-C1. Kami berbincang-bincang cukup lama dengan tak lupa terlebih dahulu menanyakan masalah kondisi kesehatan keluarganya yang menurutnya sudah agak baikkan.
Dari perbincangan tersebut ada beberapa hal yang membuat aku sedikit kaget. Ternyata keberangkatannya ke Lebanon kurang direstui oleh isterinya. “ Isteriku terus terang saja kurang menyetujui saya berangkat ke Lebanon ini. Katanya aku sudah tua, sebentar lagi pensiun dan juga kasihan dengan si Anto” kata pak Ardi yang kelahiran 8 April 1961, yang berarti pada 8 April 2013 mendatang, ia memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP). “ Terus bagaimana dengan pandangan bapak sendiri? “ tanyaku memancing. “ Sebenarnya terus terang saja. Saya berangkat ke Lebanon ini antara siap dan tidak siap. Namun ini khan tugas negara dan juga perintah dari pimpinan, maka mau apa lagi. Terpaksa, saya tetap memilih tugas ini “. Katanya menjelaskan.
Pendiriannya yang teguh dan komitmennya yang masih sangat luar biasa terhadap dinas patut aku acungi jempol. Meski menjelang pensiun, ia masih bersemangat untuk menjalankan tugas. Tapi menurutku ada sedikit kekeliruan. Ia kurang mempertimbangkan kondisi keluarganya yang butuh perhatian terutama untuk anak keduanya, Anto, yang menurutnya sejak kecil sudah menunjukkan kelainan. Semenjak SD hingga sekarang sudah duduk di bangku SMP, selalu dijaga dan ditemani isterinya. Dalam kondisi seperti itu apabila isterinya sakit maka Anto kurang mendapat perhatian khusus sehingga dikhawatirkan terjadi sesuatu padanya. Demikian pula si Weni, putri sulungnya, aktifitasnya sehari-hari yang padat untuk kuliah dan praktek mengajar otomatis akan terganggu pula karena harus mengurus ibu dan adiknya yang sakit tersebut.
Memang kita akui, sebuah dilema bagi seorang prajurit TNI bila dihadapkan pada situasi seperti itu.  Dua pilihan yang cukup membingungkan, antara tugas dan juga kepentingan keluarga. Tetapi menurutku, alangkah baiknya apabila pilihan kedua yakni “kepentingan keluarga” lah yang hendaknya diutamakan. Kita yakin dinas pun mengerti dengan posisi kita. Dinas atau negara pasti akan cenderung memilih mereka yang “lebih siap” daripada mereka yang “dipaksakan” yang dampaknya jelas akan berpengaruh pada kinerja si prajurit ketika berada di daerah penugasan, apalagi penugasan luar negeri.
Kembali kepada masalah yang sedang dihadapi rekanku, pak Ardi ini, aku Cuma hanya bisa membantu berdoa kepada Tuhan YME agar kesehatan isteri dan anaknya pulih seperti sediakala sehingga tidak mempengaruhi tugasnya sebagai duta bangsa dalam misi penugasan di Lebanon. Ya Allah, bantulah rekanku yang satu ini……………….

***

Catatan ke-26: Budaya “ngebut” Pengendara Lebanon



 
Salah satu "Geng Motor" saat beraksi di jalanan
 Dalam berkendaraan di jalan raya (terutama mobil), setiap orang pasti menghindari apa yang namanya “kecelakaan”. Jenisnya, ada yang dalam bentuk kecelakaan tunggal seperti menabrak dinding pembatas karena ngantuk dan sebagainya atau juga dalam bentuk kecelakaan ganda yang melibatkan pihak lain, entah menabrak atau ditabrak. Semua jenis kecelakaan ini akibatnya berujung pada satu kata, “rugi”. Kerugian yang diderita umumnya dari segi materiel, mulai dari badan mobil yang lecet, penyok, hingga hancur tak berbentuk. Sedangkan kerugian personel, bisa cuma sekedar badan lecet-lecet, patah tulang, hingga yang paling fatal meregang nyawa.
Untuk menghindari risiko buruk kecelakaan di jalan raya, semua orang akhirnya berusaha untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan dengan cara mengedepankan sikap kehati-hatian dalam berkendara. Contoh gampang, membawa kendaraan (baik mobil atau kendaraan roda dua) tidak dengan secara ugal-ugalan, tidak ngebut, tidak main potong jalan orang dan sebagainya. Dengan sikap ini maka selain tidak membahayakan diri sendiri, juga tidak membahayakan pula bagi orang lain.
Pengendara khas Lebanon dg motor kecilnya
Akan tetapi sikap kehati-hatian tersebut, ternyata tidak dimiliki sebagian warga Lebanon dalam berkendara di jalan raya. Untuk pengendara motor misalnya, bila kami “ berjalan-jalan” menyusuri jalanan dari kota Beirut ke kota Tyre, sering kami temui sekelompok geng motor yang melakukan aksinya terutama dengan “Standing free style”. Kalau sudah bertemu dengan kelompok pengendara ini maka kami pun harus ekstra hati-hati. “mendingan ngalah, daripada bermasalah” demikian prinsip kami, sehingga kalau belum diberi kesempatan untuk mendahului maka biasanya kami pun sabar, sembari menunggu akrobatik jalanan Lebanon itu beraksi di depan mata kami.
Lain kendaraan roda dua, lain pula dengan kendaraan roda empat. Untuk yang satu ini “lebih gila lagi!”. Pertama kali kami datang ke penugasan, kami sudah disuguhi dengan pengendara mobil yang  “ugal-ugalan”, asal menyalip, asal belok, asal menyeberang, asal ngerem dan asal-asalan lainnya. Beberapa kali aku melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah di area operasi Unifil pun, aku jarang melihat pengendara mobil yang benar-benar santun, mau mengalah, memberi jalan, menunggu dan sebagainya. Oleh karena itu untuk menghindari sesuatu yang tidak kami inginkan, biasanya kami benar-benar mengalah, mengalah kepada mobil yang mau masuk ke jalan dari gang sempit, mengalah kepada truk besar yang ingin mendahului termasuk juga terkadang mengalah kepada mobil bobrok yang “mengambil” hak jalan mobil kami.
Ciri khas mobil Unifil
Awalnya, kami membayangkan mobil Unifil bila di jalanan Lebanon bisa jadi akan menjadi “raja jalanan”. Kenyataannya sangat bertolak belakang. Meski semua jenis mobil Unifil sudah dibekali dengan ciri khusus seperti warnanya yang putih, tulisan UN di samping kanan dan kiri body mobil, plat mobil bertuliskan UNIFIL ….. dan sebuah bendera UN di tiang kecil yang tertancap di bagian belakang mobil, namun semua identitas ini seakan hanya sebagai pertanda bahwa itu mobil Unifil. Mobil Unifil meski sebagian besar lumayan bagus, tetap saja harus mengalah dengan mobil mana pun di Lebanon. Ini pula yang sering didengungkan oleh “petinggi” Unifil hingga tingkat Kontingen dari seluruh negara, intinya memang hanya satu, “mengalah daripada mencari perkara”.
Jalanan khas Lebanon yg lenggang tapi "rawan"
“Budaya mengalah” yang ditanamkan kepada seluruh prajurit Unifil dalam berkendara di jalan raya, selain mempertimbangkan kondisi jalanan Lebanon yang “kurang bersahabat” sebenarnya juga dikarenakan belajar dari pengalaman beberapa peristiwa kecelakaan lalu lintas yang dialami prajurit Unifil sebelumnya. Dari beberapa kasus Laka Lalin tersebut, meski dalam kondisi “normal” prajurit Unifil dalam posisi yang benar, umumnya mereka tetap “kalah” yang ujung-ujungnya harus membayar “uang damai” yang dipatok rata-rata 100 dolar per kasus. Alhasil, belajar dari kenyataan ini maka ada pameo di kalangan prajurit Unifil seperti, “kalau mau berkendara di jalan raya, siapkan minimal uang 100 dolar!” yang tujuannya untuk mengantisipasi terjadinya “tabrakan” atau “ditabrak”. Lucunya, peluang ini ditangkap pula oleh sebagian warga sehingga terkadang mereka sengaja “menabrak” atau “minta ditabrak” mobil Unifil, biar dapat ganti rugi sebesar itu. Hebat!
***

Catatan Ke-25 : Kejutan di Hari Ultahku



Aku dilahirkan di sebuah desa kecil di kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.  Namanya cukup antik “Getaskerep”. Sesuai catatan kelahiran termasuk semua data administrasi  yang aku miliki, kelahiranku tercatat pada 24 Februari. Bagiku pribadi, tanggal tersebut, bukanlah merupakan hari yang sangat istimewa. Bukan berarti karena aku termasuk orang yang “kurang menghargai” hari kelahiran yang bagi sebagian orang termasuk sangat istimewa, melainkan karena aku memiliki prinsip bahwa pada hakikatnya semua hari, semua tanggal adalah sama.
 Suatu hal yang selalu menjadi catatan dalam benakku, bila kalender sudah bergeser ke angka 24 di bulan Februari maka aku hanya bisa mensyukuri bahwa aku masih diberi anugerah kesehatan, keselamatan dan umur panjang oleh Allah SWT. Selebihnya aku selalu berdoa semoga di sisa hidupku, dengan umur bertambah tetapi “usia” justru berkurang, aku bisa berbuat sesuatu yang lebih baik dari garis batas di angka 24 Februari tersebut.
Semenjak kecil, seperti kebiasan sebagian besar warga desa lainnya, aku tidak pernah merasakan apa namanya kue “tart” ulang tahun, kue bulat terbuat dari coklat yang disusun sedemikian rupa dengan beberapa batang lilin kecil di atasnya. Demikian juga setelah aku dewasa hingga kemudian bergabung dengan kesatuan Korps Marinir, aku belum juga terlalu merisaukan dan “mendewakan” hari ulang tahunku yang semestinya bagi sebagian orang dirayakan. Namun kondisi ini sedikit berubah ketika aku mulai membina rumah tangga. Isteriku tercinta sering mengingatkanku tentang tanggal bersejarah tersebut. Meskipun tanpa perayaan, terkadang tanpa sepengetahuanku, tepat di pergantian tanggal 23 ke 24 Februari, tengah malam buta, aku dibangunkan, sekedar untuk meniup lilin yang tertancap di kue tart kecil segede kue donat. Aku bangga, betapa besar perhatian isteriku tercinta. Aku salut dengan perjuangannya! Meskipun yang disodorkan cuma kue tart kecil seharga 10 ribu rupiah, aku tetap bangga dan bahagia dengan kepedulian dan perhatian isteriku tersebut. Belum lagi bila esok paginya ia bersusah payah membuat nasi kuning plus goreng ayam dan “urab” yang sebagian dibagikan kepada tetangga, aku tambah merasa betapa hebatnya ia di mataku.
Kenangan yang seakan mulai mengingatkanku akan arti sebuah hari ulang tahun, sedikit demi sedikit mulai hilang dalam ingatanku ketika aku jauh dari keluargaku seperti saat sekarang ini, isteri dan kedua malaikat kecilku (anakku tersayang) di Jakarta, sedangkan aku di Naqoura, South Lebanon yang jaraknya sekitar delapan ribu lima ratus kilometer. Karena kesibukanku dalam misi penugasan Unifil Lebanon ini, aku tidak begitu mempedulikan lagi masalah ulang tahun. Aku yakin tidak ada kue tart kecil seharga sepuluh ribu, aku juga yakin tidak akan ada lagi nasi kuning, plus ayam goreng dengan uraban pedas kesukaanku. Oleh karena itu, menjelang peringatan hari kelahiranku, tepatnya pada pertengahan Februari lalu, kembali aku berpikir bahwa tidak ada sesuatu yang istimewa, semua berjalan apa adanya. Mengalir ibarat air.

Kejutan pertama
Pada 19 Februari 2013, menjelang kepulangaku dari tugas sehari-hari di MCOU UNIFIL, Naqoura, South Lebanon, dua rekan kerjaku dari Italia yakni PDMC Chief Major Pier Paolo De Salvo dan TAA/ TE Chief WO3 Gabriele de Vico, mendatangi tempat kerjaku dan meminta menyiapkan hasil editing video maupun foto kunjungan kami ke desa As Sidiqin. Besok pagi harus selesai karena akan dibawa dan diantar ke Direktur Public School di As Sidiqin, demikian pesan mereka kepadaku. Dengan kondisi yang cukup lelah bagi kami karena sebelumnya, seharian kami harus mengolah dan mengintegrasikan hasil rekaman suara Lama Kadado, Langguage Assistant kami ke dalam video yang akan diputar di depan anak-anak sekolah baik untuk versi arab maupun inggrisnya, kami seharusnya agak berkeberatan dengan perinta tersebut. Tetapi karena itu sudah merupakan risiko tugas maka akhirnya kami bersepakat untuk melaksanakan perintah itu.
Setelah berkutat cukup lama dengan peralatan andalam kami yakni komputer dari pukul 16.00 LT hingga pukul 22.15 LT, akhirnya perintah itu dapat terselesaikan dengan baik melalui kerjasama yang cukup baik antara aku dengan ketiga rekanku. Kami pun puas sehingga pada pukul 22.30 LT, aku putuskan untuk kembali ke korimek, istirahat.
Terima kasih atas perhatiannya, kawan!
Setelah kurang lebih sepuluh menit menyusuri jalanan beraspal di grren hill, yang berada di kawasan markas Unfil di Naqoura, akhirnya kami pun tiba di korimek. Saat itu aku masuk terlebih dahulu memasuki korimek yang menjadi tempat tinggal sementara selama penugasan kami dalam misi Unifil di Lebanon. Namun saat aku mau buka sepatu bootku yang bagiku mulai terasa berat, aku dikejutkan oleh kedatangan si Wahidin, tentara tulen asli Ajibarang, Bumiayu yang sebelumnya ikut “nglembur” dan juga tinggal sekorimek denganku. Dia menyodorkan sesuatu yang sesaat membuat aku bingung, sebuah kotak pipih berukuran segi empat terbuat dari karton. Aku disuruh membuka. Aku menurut. Dan isinya, …. sebuah piza kesukaanku. Dan saat itu juga ketiga rekanku yang lain, serentak menyanyikan lagu “happy birthday!”. Aku tambah bingung. Ternyata itulah hadiah “awal” menjelang hari ulang tahun kelahiranku di tanggal 24 bulan Februari. Saat itu keharuanku menyeruak. Aku teringat kepada isteriku yang selalu mengingatkanku akan hari ulang tahunku. Sekarang di sini, di Lebanon, jauh dari Jakarta, seseorang kembali mengingatkanku tentang hari “istimewa” tersebut. Bahkan ia rela menyisihkan sebagian uang sakunya untuk memberikan sesuatu yang menurutku sungguh sangat berkesan. Terima kasih kawan. 

Kejutan Kedua
Pada Sabtu sore, 23 Februari 2013, rekan-rekan Satgasku membuat acara sederhana, “masak-masak” kecil dengan membuat sejumlah menu makanan khas Indonesia, nasi goreng plus campuran ayam goreng dan ati ampela, mie goreng, dan bakwan. Aku dan sebagian rekan kami yang terkenal jago masak ikut menyiapkan segala keperluan acara ini.
Malam "eksekusi"
Malamnya, usai menyantap makanan yang jarang kami temui di daerah penugasan Lebanon tersebut, aku pun ikut bergabung dengan sebagian rekanku di luar korimek “welfare” yang menjadi tempat acara makan. Namun betapa kagetnya ketika aku sedang duduk dengan enaknya sembari menikmati musik yang mengalun merdu, tiba-tiba tanpa ba-bi-bu seorang rekanku dari samping sudah mengguyur kepalaku dengan seember air, “byur!!!!”. Gila! “ancaman” rekan-rekanku yang akan “mengeksekusiku” di malam ulang tahunku ternyata menjadi kenyataan. Tadinya aku pikir, itu cuma sekedar ancaman karena tindakan tersebut menurutku “kurang mendidik”.
Setelah merasakan seember air dingin, aku tetap tidak beranjak dari tempatku. Aku tetap mengobrol dengan sebagian rekanku yang masih tertawa-tawa melihat sikapku yang tidak berubah, tidak marah dan dendam kepada rekanku yang menyiramku dengan seember air. Bahkan dalam kesempatan obrolan kecil tersebut aku sempat “kelepasan ngomong” yang intinya “mengecilkan” rekan-rekanku yang cuma berani “mengguyurku” dengan air. Kata-kata inilah yang menjadi bumerang bagiku. Untuk keduakalinya, tanpa sepengetahuanku guyuran air dari ember yang telah disiapkan rekanku menimpa kepalaku, byur!!! Dan untuk keduakalinya, aku terperangah kaget. Bahkan kekagetanku bertambah ketika seorang rekanku melemparku dengan sebungkus tepung beras yang menimpa kepalaku. Busyet! Ini sich sudah bukan main-main lagi, demikian kataku dalam hati antara percaya dan tidak melihat kondisiku saat itu. Akan tetapi apa yang bisa aku perbuat? Ledakan tawa rekan-rekanku akhirnya justru membuatku sadar. Akupun ikut tertawa lepas. Ini memang hari ulang tahunku!
Esoknya di hari Senin, 25 Februari, sesuai tradisi di kantorku, secara resmi aku menerima ucapan “Ulang Tahun” dari seluruh personel Satgas MCOU, 17 personel dari Indonesia, 6 personel dari Italia dan 6 orang Language Assistant. Pada kesempatan ini pula aku menerima kado kartu ucapan ulang tahun yang cukup indah yang ditandatangani dan disampaikan langsung MCOU Commander Maj Antonio Caragnano.  Dengan adanya “penghargaan” ini maka lengkaplah sudah peringatan hari ulang tahunku yang akan aku jadikan sandaran dalam menapak kehidupanku di masa mendatang. Aku menyadari, dengan bertambahnya umur ini maka aku harus bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga.
***