Pak
Ardi (nama samaran), adalah salah seorang rekanku yang kini sedang melaksanakan
tugas dalam misi United Nation Interim Force in Lebanon (Unifil). Bedanya kalau
aku tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Military Community Outreach Unit
(MCOU), pak Ardi ini tergabung dalam Satgas
Force Protector Company (FPC) atau yang lebih dikenal dengan IndoFPC.
Aku
mengenal baik pak Ardi yang kini berpangkat Sersan Mayor (Serma), bukan sekedar
karena kami dari kesatuan yang sama yakni Korps Marinir TNI AL, lebih dari itu
karena kami pernah bertugas di Batalyon infanteri yang sama, kompi senapan yang
sama dan juga peleton senapan yang sama, yakni sewaktu kami bersama-sama
menjadi bagian dari pasukan Candraca Yonif-4, Brigif-2 Marinir, Cilandak,
Jakarta Selatan pada sekitar tahun 1990 hingga 1994.
Sebelum
keberangkatanku ke Lebanon, ketika nama pak Ardi pertama kali aku lihat dalam
daftar personel satgas Kontingen Garuda 2012-2013 (sekitar Nopember 2012
lalu), bayanganku saat itu terfokus pada
sosok prajurit militan khas Marinir dengan
perawakannya yang kekar dan baju licin yang selalu “dikanji” serta
kedisiplinannya yang luar biasa. Selain itu yang paling menonjol dalam
ingatanku adalah kelebihannya dalam hal kesamaptaan jasmani sehingga selalu
menjadi andalan batalyon kami dalam lomba pembinaan satuan mulai dari lomba
regu tangguh, peleton tangkas maupun kompi teladan. Ia memiliki tenaga yang
kuat sehingga dulu dijuluki “Ardi Badak”, ia mampu mengangkat dua tiga orang
sekaligus ketika rekan-rekannya kesulitan menaklukan nomor “pensil” pada saat pertandingan
halang rintang. Ia pun tidak segan-segan membawakan dua-tiga senjata SS-1 rekan
kami sekaligus, ketika rekan-rekan kami “sudah tak bertenaga” dalam
menyelesaikan lomba Cross Country (CC) atau pun “kebut gunung”. Dengan kemampuan dan prestasinya tersebut
maka tidaklah salah bila satuan akhirnya tetap mempertahankannya hingga
terakhir pangkat Sersan Satu.
Sebagian
kenangan tersebut ternyata masih membekas di hatiku, ketika untuk kedua kalinya
aku bertemu dengan pria kelahiran Garut, Jawa Barat ini di Camp Soedirman,
Naqoura, South Lebanon yang menjadi tempat tinggal kami selama masa penugasan
di Lebanon. Sikapnya masih tak berubah, khas Marinir dengan semangat kerja yang
tak pernah surut. Satu yang membedakan dari pak Ardi ini, adalah mukanya yang
sudah mulai sedikit berkerut dimakan usia. Tempat tinggal kami (berupa
korimek-baca catatan tentang korimek) berseberangan. Aku menempati barisan
korimek F sedangkan pak Ardi tinggal di barisan korimek C, persis berseberangan,
aku di depan, pak Ardi di belakangku.
Perbedaan
lain yang aku lihat sepintas dari beberapa pertemuanku dengan bapak dua anak
ini adalah sikapnya yang sering termenung dan tidak seceria dulu. Sering aku
mengintip dari balik jendela kecil korimekku, ia sedang termenung sendiri atau
sedang melakukan olah raga rutin joging
di sekitar kamp Soedirman dengan muka yang kelihatan kurang ceria. Ada apa yach
dengan perubahan sikap seniorku yang satu ini? Demikian terkadang aku bertanya
dalam hati memperhatikan perubahan sikapnya. Namun beberapa hari kemudian,
akhirnya terjawab juga rasa penasaran dalam hatiku. Di minggu pagi, di awal
Februari lalu, ketika aku sedang asyik memetik gitar kecilku, tiba-tiba datang
pak Ardi ke kamarku. Saat itu aku langsung tawarkan ia untuk bernyanyi bersama.
Ia menggeleng. Aku persilahkan ia duduk di samping pembaringanku. Ia pun
menurut. Aku pun berniat untuk melanjutkan nyanyianku yang tadi terpotong
akibat kedatangannya yang tiba-tiba di kamarku tersebut. Tetapi ketika aku
memandangnya untuk kembali mengajak ia bernyanyi, aku kaget setengah mati. Aku
lihat matanya berlinangan air mata. Seketika juga aku letakkan gitar di atas
tempat tidur dan memandangnya. Apa yang menyebabkan orang setegar pak Ardi bisa
menangis? Demikian hati kecilku bertanya. Akhirnya dengan suara terbata-bata ia
bercerita. Sebuah cerita sedih dan duka yang membuat hatiku tersentuh dan ikut
hanyut dalam ceritanya tersebut.
“
Aku dapat telepon anakku yang sulung, Weni (nama
samaran), isteriku ngedrop lagi, isteriku kelihatan sudah menyerah. Apalagi
si Weni ngomongnya juga sudah tidak karuan “ demikian kalimat awal yang
meluncur dari mulut pak Ardi yang mampir di telingaku. “ Tenang dulu pak,
sabar” kataku menyabarkan, “ Memangnya isteri bapak sakit apa? “ lanjutku
bertanya pelan. Ia menarik nafas sebentar sembari mengusap air matanya. “ Gula
darah isteriku kambuh lagi. Sekarang sudah tidak bisa jalan. Berbaring saja di
tempat tidur” katanya dengan nada sedih. “ Sudah dibawa ke dokter” tanyaku. “
Sudah. Tapi belum ada perubahan. Si Wenie kebingungan. Kalau Mamanya sakit,
siapa yang mau urus Anto (nama samaran)
adiknya” katanya lagi dengan mata kembali berkaca-kaca karena linangan air
mata. “ Ya sudah pak, yang penting sekarang isteri bapak dulu yang diutamakan
kesehatannya. Bapak komunikasikan lagi dengan anak bapak atau saudara untuk
membantu merawat isteri bapak” kataku sedikit memberi jalan keluar. “Sudah,
tapi siapa yang mau merawat dan mengawasi Anto. Si Weni sudah bolos kuliah dan
ngajar …. untuk membantu mengurus Mama dan adiknya tersebut” Lanjutnya dengan
terbata-bata. “ Memang kenapa lagi dengan si Anto? “ tanyaku. “ Anto perlu
perhatian khusus karena sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan
selama ini, isteriku yang mengurus. Kalau isteriku sakit siapa yang
mengurusnya?” lanjutnya dengan kata-kata yang membuat aku kembali menghela
nafas. Dapat aku bayangkan betapa beratnya cobaan yang sedang dihadapi rekanku
yang satu ini.
Setelah
memberi sedikit masukan dan nasehat kepada Pak Ardi yang sudah makan asam garam
penugasan di dalam negeri seperti di Timor Timur (sekarang Timor Leste),
Natuna, Aceh, Ambon dan Irian ini, akhirnya perbincangan kecil di minggu pagi
tersebut berakhir. Pak Ardi kembali ke korimeknya dan aku pun melanjutkan
kesibukanku, menyiapkan seragam yang akan aku pakai esok paginya.
Antara Tugas Negara dan Keluarga
Seminggu
setelah perbincangan kecil di kamarku tersebut, di Minggu pagi usai
melaksanakan kegiatan rutin berupa pembersihan lingkungan korimek, aku
menyempatkan diri mampir ke kamarnya di korimek-C1. Kami berbincang-bincang
cukup lama dengan tak lupa terlebih dahulu menanyakan masalah kondisi kesehatan
keluarganya yang menurutnya sudah agak baikkan.
Dari
perbincangan tersebut ada beberapa hal yang membuat aku sedikit kaget. Ternyata
keberangkatannya ke Lebanon kurang direstui oleh isterinya. “ Isteriku terus
terang saja kurang menyetujui saya berangkat ke Lebanon ini. Katanya aku sudah
tua, sebentar lagi pensiun dan juga kasihan dengan si Anto” kata pak Ardi yang
kelahiran 8 April 1961, yang berarti pada 8 April 2013 mendatang, ia memasuki
Masa Persiapan Pensiun (MPP). “ Terus bagaimana dengan pandangan bapak sendiri?
“ tanyaku memancing. “ Sebenarnya terus terang saja. Saya berangkat ke Lebanon
ini antara siap dan tidak siap. Namun ini khan tugas negara dan juga perintah
dari pimpinan, maka mau apa lagi. Terpaksa, saya tetap memilih tugas ini “.
Katanya menjelaskan.
Pendiriannya
yang teguh dan komitmennya yang masih sangat luar biasa terhadap dinas patut
aku acungi jempol. Meski menjelang pensiun, ia masih bersemangat untuk
menjalankan tugas. Tapi menurutku ada sedikit kekeliruan. Ia kurang
mempertimbangkan kondisi keluarganya yang butuh perhatian terutama untuk anak
keduanya, Anto, yang menurutnya sejak kecil sudah menunjukkan kelainan. Semenjak
SD hingga sekarang sudah duduk di bangku SMP, selalu dijaga dan ditemani
isterinya. Dalam kondisi seperti itu apabila isterinya sakit maka Anto kurang
mendapat perhatian khusus sehingga dikhawatirkan terjadi sesuatu padanya.
Demikian pula si Weni, putri sulungnya, aktifitasnya sehari-hari yang padat
untuk kuliah dan praktek mengajar otomatis akan terganggu pula karena harus
mengurus ibu dan adiknya yang sakit tersebut.
Memang
kita akui, sebuah dilema bagi seorang prajurit TNI bila dihadapkan pada situasi
seperti itu. Dua pilihan yang cukup
membingungkan, antara tugas dan juga kepentingan keluarga. Tetapi menurutku,
alangkah baiknya apabila pilihan kedua yakni “kepentingan keluarga” lah yang
hendaknya diutamakan. Kita yakin dinas pun mengerti dengan posisi kita. Dinas
atau negara pasti akan cenderung memilih mereka yang “lebih siap” daripada
mereka yang “dipaksakan” yang dampaknya jelas akan berpengaruh pada kinerja si
prajurit ketika berada di daerah penugasan, apalagi penugasan luar negeri.
Kembali
kepada masalah yang sedang dihadapi rekanku, pak Ardi ini, aku Cuma hanya bisa
membantu berdoa kepada Tuhan YME agar kesehatan isteri dan anaknya pulih
seperti sediakala sehingga tidak mempengaruhi tugasnya sebagai duta bangsa
dalam misi penugasan di Lebanon. Ya Allah, bantulah rekanku yang satu
ini……………….
***







