Monday, September 30, 2013

Catatan ke-52 : Alert Status “Black”, ­­Mundur ke Siprus!

Latihan Pengunduran personel Indo FPC di Soedirman Camp (Foto-Dok Satgas Indo FPC)


Setiap prajurit yang tergabung di dalam pasukan sementara PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (Unifil) pada hakikatnya tidak mengharapkan situasi yang sudah mendingin antara Lebanon-Israel bertambah panas yang berujung kepada pecahnya perang besar seperti yang terjadi pada tahun 2006. Demikian pula dengan pandangan prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda yang merupakan bagian dari sekitar sepuluh ribu lebih  prajurit dari 37 negara yang berkontribusi mengirimkan pasukannya ke Lebanon. Mereka termasuk aku yang ada di dalamnya tidak pula mengharapkan penugasan berakhir di tengah jalan, gara-gara “perang pecah” yang jelas akan merugikan semua pihak utamanya penduduk sipil.
Prolog di atas aku ungkapkan semata-mata berkaca pada sejumlah peristiwa yang terjadi pada  Agustus hingga awal September 2013 lalu di mana terjadi serangkaian peristiwa yang membuat semua prajurit Unifil ikut “ketar-ketir”. Peristiwa pertama adalah ketika sidang Uni Eropa  mengeluarkan putusan mencenggangkan, “mengecap” Hizbullah sebagai kelompok teroris. Keputusan ini tentu saja berimbas langsung kepada situasi politik dalam negeri Lebanon di mana Partai Hizbullah dengan sayap militernya bercokol. Oleh pihak Hizbullah, keputusan yang dianggap sepihak ini ditindaklanjuti dengan serangkaian aksi “perlawanan” terhadap seluruh elemen yang berbau “Eropa”. Dan efeknya tak terkecuali menimpa pula pada Unifil yang notabene, sebagian prajuritnya berasal dari negara-negara Eropa seperti Italia, Perancis, Jerman dan Spanyol. Sebagai aksi “protes” mereka terhadap keputusan tersebut, ada sebagian warga yang melarang prajurit Unifil terutama yang berasal dari Eropa beraktifitas di wilayahnya termasuk adanya beberapa kasus penghadangan terhadap prajurit Unifil. Aksi ini tentu saja sudah menyalahi kesepakatan di mana prajurit Unifil  memiliki kebebasan  bergerak atau “Free of Movement” di area operasi Unifil. Meskipun akhirnya kasus-kasus ini dapat tertangani dengan baik setelah adanya campur tangan petinggi Unifil dan pemerintah Lebanon, namun bagi sebagian prajurit Unifil tentu saja sedikit meninggalkan “trauma”.
Bom Mobil, Beirut 15 Agustus 2013 (foto Rana EL Moussaoui, AFP)
Peristiwa kedua adalah ketika terjadi “perang kecil” antara tentara Lebanon atau Lebanese Armed Force (LAF) dengan kelompok bersenjata Lebanon yang loyal kepada ulama radikal Sheikh Ahmad al-Assir di mana puluhan korban tercatat tewas tertembak sebagian besar di antaranya dari LAF, serta gesekan sektarian antara Suni dengan Syiah yang ditandai dengan sejumlah peristiwa bom bunuh diri di sejumlah tempat di Lebanon yang juga menewaskan puluhan korban jiwa. Meski secara umum, kedua peristiwa penting tersebut berada di luar area operasi Unifil, akan tetapi pada kenyataannya berimbas pula kepada prajurit Unifil dengan adanya “pembatasan” pergerakan seluruh personel Unifil terutama yang bertujuan keluar dari area operasi.
Peristiwa ketiga yang lebih mengkhawatirkan yang terjadi di awal September 2013 lalu, adalah terkait dengan rencana Amerika dan beberapa sekutunya untuk menyerang Suriah. Saat itu dalam bayanganku dan sebagian besar pandangan rekan-rekan Satgas yang lain, bila itu terjadi maka jelas akan memunculkan perang besar yang sebagian orang meramalkan sebagai Perang Dunia Ketiga di mana diyakini Lebanon juga termasuk memegang peran dalam perang besar tersebut.
Itulah sejumlah peristiwa yang dikhawatirkan prajurit Unifil sebagai “pemicu” munculnya perang besar yang akan mengganggu kerja keras mereka sebagai bagian dari pasukan  perdamaian PBB dalam menjaga dan meningkatkan situasi aman di Timur Tengah khususnya di kawasan Lebanon. Akan tetapi pertanyaannya bagaimana kalau memang situasi sudah tidak terkendali dan akhirnya pecah perang besar di kawasan ini, bagaimana dengan prajurit Unifil yang tentunya akan berada di “killing ground” kedua pihak yang bertikai? Jawabannya, semua sudah direncanakan secara matang oleh Unifil dan sudah tercantum dalam Unifil Contigency Plan. Langkah-langkahnya pun disesuaikan dengan alert status yang ada.

Alert Status
Seperti diketahui, dalam menjalankan misi PBB di Lebanon, Unifil  telah menetapkan  suatu prosedur tetap tentang tingkat bahaya yang dihadapi yang lebih dikenal dengan sebutan “Alert Status”. Tingkat Bahaya atau Alert Status ini dibagi ke dalam empat tingkatan dengan menggunakan kode warna yakni Green (Hijau), Yellow (Kuning), Red (Merah) dan Black (hitam).
Dalam materi Role Of Engagement  & Alert Status  yang aku terima saat Pre Deployment Training (PDT) maupun  saat mengikuti Induction Training di Unifil, disebutkan bahwa Kode Hijau (Ancaman Tingkat Rendah), merupakan level terendah di mana situasi aman terkendali, namun ancaman umum terhadap pasukan maupun personel UNIFIL / OGL (Observe Groups of Lebanon), sifat dan tingkatannya tak terduga. Dalam situasi ini maka ditentukan bahwa  aktivitas dan tugas normal, tidak ada pembatasan pergerakan siang hari, gerakan kendaraan tunggal diperbolehkan dengan dua orang awak, kendaraan tidak boleh ditinggalkan tanpa penunggu, penggunaan seragam tempur masing-masing negara dengan topi ringan untuk dipakai di luar kamp, pembawaan senjata atas perintah komandan satuan.
Tugu Alert Status di Soedirman Camp, Naqoura
Kode Kuning yang berarti Ancaman Tingkat Medium diterjemahkan situasi dinilai tegang tetapi masih memungkinkan untuk menjaga stabilitas keamanan wilayah tanpa gangguan yang berarti . Pada kondisi ini juga tidak mempengaruhi kemampuan operasional serta tidak adanya halangan dalam berhubungan dengan otoritas lokal. Dalam situasi ini maka aktifitas dan tugas normal, perjalanan keluar Area Operasi selain bertujuan dinas tidak diperbolehkan kecuali seijin pihak yang berwenang, gerakan kendaraan tunggal diperbolehkan dengan minimal 2 orang kru selama siang hari  dan minimal dua kendaraan dengan empat orang kru pada malam hari, kendaraan tidak boleh ditinggalkan tanpa penunggu, penggunaan seragam tempur nasional dengan topi ringan untuk dipakai di luar kamp, senjata dan helm serta Flack Jacket selalu siap (terutama saat berkendara), peningkatan jumlah penjaga di kamp masing-masing. Khusus untuk senjata bisa dibawa oleh setiap personel yang sedang bertugas dengan munisi (di dalam magazen) terpisah dari senjata.
Kode Merah atau Ancaman Tingkat Signifikan,  ditandai dengan adanya insiden atau ketika diterima informasi yang menunjukkan bahwa akan terjadi beberapa bentuk serangan terhadap pasukan maupun personel Unifil atau OGL (Observe Groups of Lebanon).  Pada kondisi ini maka semua kegiatan perjalanan yang tidak perlu dipanggil kembali atau dihentikan, lalu lintas kendaraan hanya untuk operasional yang diperlukan dengan menggunakan minimal 2 kendaraan, dengan masing-masing kendaraan minimal 2 orang dengan menggunakan seragam tempur masing-masing negara, senjata dan helm tempur termasuk Flack Jacket dikenakan ketika berada di luar kamp, peralatan  perlindungan individu siap di tangan, semua personel siap masuk dengan cepat ke tempat-tempat perlindungan (bunker/ Shelter) yang telah ditentukan. Khusus untuk senjata wajib dibawa setiap personel dengan magazen berisi peluru sudah menempel di senjata tetapi peluru tidak boleh masuk kamar senjata.
Sedangkan bila Alert Status sudah bergeser ke Black atau Hitam (Ancaman Tingkat Tinggi)  maka ini merupakan tingkat tertinggi atau terburuk diimana serangan telah terjadi atau ketika intelijen telah menerima adanya serangan terhadap lokasi tertentu. Dalam situasi seperti ini maka  semua perjalanan yang tidak perlu dipanggil kembali atau dihentikan, operasional kendaraan dimungkinkan namun dengan didampingi minimal 2 kendaraan lapis baja dengan minimal 2 orang di dalam kendaraan, penggunaan seragam tempur masing-masing negara, senjata  dan Helm serta Flack Jacket dikenakan semua personel, peralatan perlindungan individu siap di tangan, semua personel siap masuk dengan cepat ke tempat-tempat perlindungan (bunker/ Shelter) yang telah ditentukan.
Masuk Stelling, siap tembak (foto-dok Satgas Indo FPC)
Dalam pengertian mudahnya, untuk status Green  maka stabilitas keamanan terjaga dengan baik, Yellow, kegiatan masih berjalan seperti biasa, seluruh personel melaksanakan tugas sesuai fungsi dan jabatannya masing-masing tetapi tetap menjaga kewaspadaan. Selanjutnya perubahan status dari Yellow ke Red diberlakukan apabila terjadi gangguan atau serangan senjata lintas datar terhadap pos-pos dan compoun UNIFIL, tindakan yang dilaksanakan  seluruh personel dengan membawa senjata dan perlengkapan perorangan masuk ke tempat stelling masing-masing yang telah ditentukan, dan atas perintah seluruh patroli yang sedang beroperasi diperintahkan untuk segera kembali ke pos/camp masing-masing atau ke pos UNIFIL terdekat.  
Apabila serangan lintas datar berubah menjadi lintas lengkung dan situasi tidak bisa diatasi, maka seluruh personel harus memasuki Shelter atau tempat perlindungan yang telah disiapkan dengan membawa senjata dan perlengkapan perorangan hingga situasi dinyatakan aman. Pada kondisi ini maka alert status ditetapkan warnanya menjadi ”Black”.  Berikutnya dalam status Black-3,  apabila situasi keamanan belum juga mereda tindakan yang dilakukan UNIFIL adalah melakukan evakuasi atau pengunduran pasukan. Dan tempat pengunduran yang menjadi pilihan utama Unifil adalah melalui laut dengan tujuan Siprus dan Mesir.

Mengapa ke Siprus?
Sebelum aku berangkat ke daerah penugasan yakni saat mengikuti latihan pra tugas atau PDT di markas PMPP TNI di Sentul, Bogor, Jawa Barat, hingga saat ini ada satu pertanyaan yang masih mengganjal dalam hati terkait dengan rencana Unifil dalam menghadapi situasi darurat (misal terjadi perang besar), maka seluruh personel akan dievakuasi melalui laut ke Siprus.  Informasi ini disampaikan oleh sejumlah instruktur TNI saat memberikan materi pelajaran tentang segala hal terkait dengan lingkup penugasan kami sebagai prajurit UN. Saat tiba di Lebanon dan mulai menjalankan penugasan, informasi ini juga aku terima dari sejumlah perbincangan kecil dengan rekan militer dari negara lain plus saat aku mengikuti Unifil Induction Training. Semuanya seragam tentang kemungkinan evakuasi prajurit Unifil ke Siprus atau Mesir melalui jalur laut apabila terjadi keadaan gawat atau genting.
Lebanon, Cyprus dan Egypt (Mesir)
Ketika aku mencoba mencari informasi melalui dunia maya tentang hal tersebut, aku pun mendapatkan informasi yang sama, seperti yang dimuat di The Free Library dengan judul artikel, “Ban Discusses Contingency Plans for UNIFIL Evacuation”. Di aline pertama artikel ini tertera kalimat sebagai berikut, “United Nations Secretary General Ban Kimoon is consulting with his political and military advisors about emergency plans to pullout troops serving with the United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) if war between Lebanon and Israel breaks out” serta di aline keduanya, “ ……. Ban and his advisers are contemplating modifying emergency plans for a possible evacuation of the maximum number of UNIFIL forces by sea to Egypt and Cyprus.". Jadi intinya jika terjadi perang besar antara Israel-Lebanon maupun perang lain yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah yang secara langsung membahayakan prajurit Unifil yang sedang bertugas di Lebanon maka seluruh prajurit Unifil direncanakan dievakuasi melalui laut ke Siprus dan Mesir. Pertanyaannya yang juga selalu menjadi pertanyaan favoritku, kenapa harus ke Siprus?
Seperti kita ketahui bersama, Siprus adalah sebuah negara pulau berbentuk Republik yang terletak di Laut Tengah bagian timur, kurang lebih 113 km di sebelah selatan Turki dan 120 km di sebelah barat Suriah.  Luas negara ini cukup kecil, hanya 9.251 km2. Ibu kotanya adalah Lefkosia dengan beberapa nama kota penting seperti Lemesos, Larnaca, Paphos, Ammochostos, dan Kyrenia. Jumlah penduduk negara yang beribukota di Nikosia sekitar 1,129 juta orang  (kepadatan penduduk 68/km2). Bahasa resmi penduduk yang sebagian besar beragama Yunani Ortodoks dan Islam ini adalah bahasa Turki dan Yunani. Beberapa tempat menarik yang sering dikunjungi wisatawan adalah Coral Bay, Cyprus dan Aphrodite Hills. Negara kecil ini terkenal kaya akan barang-barang tambang (besi pint, biji-biji kuningan, gip, ashes, amber). Meski negara ini kecil, akan tetapi negara ini sering diperhitungkan dunia karena cadangan emasnya. Kita masih pada April 2013 lalu di mana dunia diguncangkan dengan harga emas yang turun drastis, di mana salah satu penyebabnya adalah lantaran Siprus berencana menjual cadangan emas mereka sebesar 400 juta euro.
Latihan pengunduran pasukan (foto-dok Satgas Indo FPC)
Dalam pandanganku, tempat “evakuasi” atau pengunduran di negara kecil bernama Siprus atau Cyprus tersebut barangkali karena dari segi tempat yang paling aman dan netral serta mudah terjangkau melalui laut sebagai jalan evakuasi terbaik ketimbang melalui lewat darat atau udara. Demikian pula dengan Mesir yang posisinya berseberangan dengan Siprus (dari Lebanon posisi Siprus berada di barat laut sedang Mesir di selatan). Meski demikian rencana darurat ini terkadang sempat memunculkan sedikit lelucon di antara kami prajurit TNI, “ Sampeyan sich enak mas, tugas di markas besar Unifil dan tinggal di Soedirman Camp yang markasnya dekat laut. Kalau situasi genting, sampeyan dulu yang dievakuasi ke Siprus. Lho kalau kami dari Indobat, butuh dua jam perjalanan darat dulu hingga sampai ke Naqoura atau ke laut!” demikian celoteh rekanku dari Indobatt yang memang markasnya berada di Sector East yang butuh dua jam perjalanan melalui darat dari markasku di Green Hill, Naqoura, South Lebanon.
 Semoga rencana evakuasi atau pengunduran personel Unifil tersebut tidak akan terealisasi untuk “selamanya”, dalam arti tidak terjadi situasi genting yang memaksa digunakannya rencana tersebut.
***

Saturday, September 28, 2013

Catatan ke-51 : “Berlindung” di Dalam Bunker

Bunker atau Shelter tempat perlindungan pada situasi genting (Foto-dok Satgas Indo FPC)



Dalam menghadapi situasi darurat atau genting yang akan mengancam jiwa prajuritnya, Unifil telah mengaturnya secara matang dengan mempersiapkan fasilitas berupa sarana dan prasarana pendukung termasuk piranti lunaknya. Untuk yang pertama terkait dengan sarana dan prasarana pendukung maka pihak Unifil telah menyiapkan puluhan bunker-bunker atau dikenal dengan sebutan “shelter” yang tersebar di seluruh kamp pasukan dan juga di kawasan sekitar perkantoran di mana personel Unifil melaksanakan aktifitasnya. Sedangkan yang kedua terkait piranti lunak adalah tersedianya buku pedoman yang menjadi pegangan setiap kontingen dalam menghadapi situasi bahaya yang terangkum dalam Unifil Contigency Plan.
Bunker/ Shelter di lingkungan kantor
Bunker atau Shelter adalah sebuah bangunan yang dibangun khusus sebagai tempat perlindungan seseorang terhadap bahaya yang mengancamnya. Untuk Unifil, bunker ini dibangun secara permanen sebagai perlindungan terhadap bahaya serangan bom yang berdaya ledak tinggi yang diperkirakan akan mengancam jiwa prajurit. Dengan pemanfaatan tersebut maka bunker atau shelter ini dibangun dengan bahan beton yang cukup kuat dan sebagian besar dibangun di bawah tanah dengan beberapa cerobong udara mencuat keluar sebagai ventilasi udara.
Dengan jumlah personel yang mencapai 10.189 personel dari 37 negara (data Juni 2013 dari http://unifil.unimision.org)  maka shelter yang dibangun Unifil mencapai ratusan Shelter yang tersebar di seluruh tempat dan markas kontingen di area operasi Unifil di South Lebanon. Khusus di lingkungan Unifil HQ (Headquarter)  di mana aku berada di dalamnya,  tercatat ada 64 shelter yang mampu menampung 2.200 orang, dengan masing-masing shelternya dapat menampung 14 sampai 300 personel UNIFIL, baik sipil maupun militer yang berasal dari berbagai negara.  Setiap shelter berisi Compact Ration Pack (CRP) atau ransum siap makan dan air dalam botol yang diperuntukan 3 hari/orang dan juga kelengkapan lainnya untuk menunjang kehidupan dalam kehidupan darurat seperti P3K, komunikasi telepon dan sarana wc darurat.  
Bunker/Shelter di Soedirman Camp
Sebagian besar dari bunker atau shelter itu merupakan tanggung jawab langsung FHQSU (Force Headquarter Support Unit), salah satu Satgas yang dikirim dari Indonesia. Sedangkan selebihnya adalah tanggung jawab satuan-satuan yang berada di lingkungan Unifil HQ. Pengaturan alokasi personel untuk masing-masing shelter dilakukan oleh Force Protection Center (FPC) yang disesuaikan dengan jarak letak kantor dengan shelter serta kapasitas shelter tersebut, sementara Departemen Logistik bertugas melengkapi kebutuhan seluruh shelter. Pengaturan penempatan personel itu tidak saja pada saat jam kerja, akan tetapi juga pada saat di luar jam kerja, ataupun sedang dalam perjalanan.

Alarm Berbunyi, Berlindung ke Bunker!
Dalam menghadapi situasi genting atau darurat yang terjadi di lingkungan Unifil HQ, semisal ada serangan senjata lintas lengkung yang mengancam jiwa personel maka langkah awal yang harus diambil seluruh personel adalah segera berlindung  ke bunker, mencari perlindungan sembari menunggu langkah-langkah strategis selanjutnya dari Unifil Force Commander melalui Joint Operations Command (JOC). Biasanya keadaan bahaya ini ditandai dengan adanya alarm atau sirine yang berbunyi terus menerus selama beberapa menit. Langkah ini merupakan tindakan reaktif yang sudah umum diketahui oleh seluruh personel yang bergabung dengan Unifil.
Perlengkapan yang tersedia di dalam shelter
Dalam beberapa kasus, upaya mencari perlindungan ke bunker sudah direncanakan dan diantisipasi Unifil sebelumnya, dalam arti bukan merupakan tindakan reaktif melainkan tindakan antisipasi khusus karena adanya pertimbangan situasi yang berkembang pada saat itu. Untuk yang satu ini, dapat dicontohkan saat terjadi ketegangan yang memuncak akibat situasi politik di Suriah pada awal September 2013, di mana ada rencana serangan Amerika dan sekutunya terhadap Suriah. Kekhawatiran utama aku dan sebagian besar rekanku saat itu adalah adalah adanya “isu “ bahwa lokasi tempat kami bermarkas akan dijadikan lintasan peluru-peluru meriam kapal perang pihak barat yang akan “membombardir” Suriah melalui laut. Memang sulit dibayangkan bila itu terjadi, di mana langit Naqoura dipenuhi peluru-peluru meriam kapal yang tak henti.
Dalam menghadapi situasi seperti itu maka Unifil mengantisipasinya dengan beberapa tindakan konkret di lapangan antara lain memberikan “warning” kepada seluruh kontingen untuk mempersiapkan segala sesuatu bila terjadi kegentingan mulai dari tingkat awal pemanfaatan shelter hingga rencana darurat yang merupakan pilihan terakhir yakni proses pengunduran pasukan atau kasarnya “evakuasi” ke tempat yang lebih aman dan netral yakni Siprus dan Mesir melalui jalur laut.
Monitor perkembangan status (Foto-dok Satgas Indo FPC)
“Perintah” contingency plan tersebut ditindaklanjuti seluruh kontingen, termasuk kontingen Garuda dari Indonesia. Aku dan seluruh rekan Satgasku yang tergabung dalam Military Community Outreach Unit (MCOU) tidak terkecuali mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan rencana darurat tersebut. Pada langkah awal, kami sudah diberi perintah untuk menyiapkan seluruh perlengkapan darurat penting yang dimasukkan dalam satu ransel tempur yang akan dibawa bila terjadi “pengunduran”. Senjata organik laras panjang SS-1 yang sebelumnya disimpan di dalam gudang juga segera dikeluarkan untuk menemani senjata laras pendek pistol yang selama ini kami bawa dalam tugas harian.  Dua senjata laras pendek dan panjang beserta satu ransel tempur harus siap di Korimek, mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi “chaos” sehingga memudahkan kami untuk membawanya ke shelter maupun melakukan operasi pengunduran. Untuk menjaga tingkat reaksi kami terhadap situasi tersebut, kami pun melakukan sejumlah latihan di Kamp bergabung dengan rekan-rekan dari Satgas lain.
Akan tetapi, waktu yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Alert Status atau tingkatan bahaya yang berlaku Unifil tetap Yellow atau Kuning, tidak ada perubahan ke status Red (Merah) atau bahkan Black (Hitam).  “Deadline” yang diberikan Amerika terlewati dan akhirnya tidak jadi terlaksana karena satu persatu negara pendukungnya “mundur”, di samping itu karena tidak adanya dukungan dari konggres di lingkup negara adi daya tersebut. Kami pun menarik nafas lega dan kembali melakukan aktifitas sehari-hari sesuai bidang tugas masing-masing.
***


Sunday, September 22, 2013

Catatan ke-50 : Mengikuti Kemeriahan Medal Parade KRI Diponegoro

Medal Parade KRI Diponegoro di Dermaga Militer Beirut, Lebanon
KRI Diponegoro merupakan kapal korvet TNI AL kelas Sigma berteknologi modern yang kini sedang bergabung dengan gugus tugas maritim PBB di Lebanon. Kapal yang memiliki nomor lambung 365 ini ternyata bukan saja menjadi andalan PBB dalam mengamankan perairan Lebanon, akan tetapi lebih dari itu ternyata kapal ini ditukangi ABK-ABK bertalenta tinggi. Dan ini dibuktikan ketika pada 20 September 2013 lalu saat pelaksanaan penganugerahan Medali Penghargaan PBB, puluhan tentara “bule” dibuat terpesona dan terkesima dengan atraksi keterampilan ABK KRI Diponegoro dalam memainkan musik dan lagu serta improvisasi bahasa tubuh mereka dalam bungkusan tari perang Papua dan Saman melalui gerakan-gerakan yang sangat variatif, atraktif, enerjik, dinamis serta konkordan. Luar biasa!
Seperti diketahui, dalam misi penugasan PBB di Lebanon, Indonesia mengirimkan sejumlah Satgas (Satuan Tugas) dengan bendera dan nama Kontingen Garuda yang berbeda. Satgas-Satgas yang dikirim tersebut antara lain Satgas Batalyon Mekanik (Indonesian Battallion-Indobatt), Military Community Outreach Unit (MCOU), Force Protection Company (FPC), Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Level II Hospital, Sector East Military Police (Sempu), Civil Military Coordination (Cimic) serta sejumlah Staff Officer yang berada di luar organik Kontingen Garuda Indonesia.
KRI Diponegoro-365, menjadi bagian dari MTF Unifil
Di luar Satgas-Satgas tersebut yang bidang tugasnya di darat, Indonesia juga mengirimkan Satgas maritim dengan dilibatkannya sebuah kapal perang Indonesia (KRI) beserta 100 personelnya untuk bergabung dalam wadah Unifil Maritime Task Force (MTF).
Sesuai mandat United Nations Security Council Resolution 1701 tahun 2006, Satgas Maritime ini bertugas untuk melaksanakan Surveilance & Maritime Interdiction Operation (MIO) sepanjang 180 km garis pantai Lebanon untuk mencegah masuknya senjata ilegal dan bahan terkait lainnya masuk melalui perairan Lebanon serta melatih Lebanese Armed Force (LAF) Navy dalam menjaga perairannya.
Saat ini kapal-kapal multi nasional yang bergabung dengan MTF Unifil dalam wadah CTF-448 adalah Kri Diponegoro (Indonesia), TCG Barbaros (Turki), Fgs Hermelin dan Fgs Gepard (Jerman), Brs Constituição (Brazil), , Bns Madhumati dan Bns Osman  (Bangladesh) serta Hs Kasos dari Yunani.
ABK KRI Diponegoro, masa penugasannya berdurasi 6 bulan
KRI Diponegoro  yang memiliki nomor lambung 365 adalah korvet kelas Sigma yg dibuat di galangan kapal di Belanda yg dimiliki TNI AL  sejak September 2006. KRI Diponegoro di tugaskan sebagai kapal patroli dengan berkemampuan anti kapal selam, anti aircraft, dan anti kapal permukaan. Kapal ini di buat di galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding (SNS), Vlissingen, Belanda, bersamaan dengan KRI Hasanudin (366). Kapal ini mulai ditugaskan pada tanggal 2 Juli 2007 dan sampai sekarang masih bertugas. Pada bulan April 2009 kapal ini juga pernah tergabung dalam satuan maritim UNIFIL, yg berada di bawah komando Commander Task Force ( CTF-448) di Lebanon. Sedangkan sejak April hingga awal Oktober 2013, kapal kebanggaan Indonesia ini melaksanakan misi penugasan yang kedua di Lebanon.
Berbeda dengan “ Satgas Darat” yang masa penugasannya satu tahun (dua periode) maka Satgas Laut atau Maritim yang saat ini diwakili KRI Diponegoro, penugasannya di Lebanon hanya berdurasi 1 periode atau 6 bulan. Dan menjelang akhir penugasannya yang dimulai pada April 2013 lalu, pada September 2013 ini, PBB menggelar acara penganugerahan UN Peacekeeping Medal untuk seluruh personel yang terlibat dalam Satgas MTF tersebut. Acara ini digelar pada Jumat, 20 September 2013 di dermaga militer Beirut, Lebanon, di mana KRI Diponegoro bersandar.

Mengintip “Jeroan” KRI Diponegoro
Kesempatan untuk mengikuti prosesi upacara Medal Parade di KRI Diponegoro aku peroleh ketika diajak Kolonel Laut (P) Retiyono Kunto, Chief Of Staf Maritime Task Force (COS MTF) atau Kepala Staf Gugus tugas Maritim Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon) untuk mendampinginya hadir dalam kegiatan penganugerahan UN Peacekeeping Medal KRI Diponegoro tersebut. Kolonel Laut yang juga merangkap Deputy MTF yang kenyang pengalaman di kapal ini juga merupakan salah satu personel yang akan memperolah penghargaan UN Peacekeeping Medal.
Meskipun sesuai rencana, acara Medal Parade akan dilaksanakan pada pukul 05.00 PM, namun kami berangkat dari kantor MTF di Naqoura pada pukul 09.30 PM bersama sejumlah pejabat MTF dengan menggunakan dua mobil Unifil. Dan setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya kami sampai juga di dermaga militer Beirut, di mana KRI Diponegoro bersandar.
KRI Diponegoro, Korvet modern kelas Sigma
Sembari menunggu waktu acara yang cukup lama, usai tiba di geladak kapal, aku dengan didampingi sejumlah rekan ABK berkesempatan untuk melihat-lihat dari dekat “jeroan” KRI Diponegoro sekaligus mencari informasi kelebihan dari kapal yang menjadi salah satu andalan Unifil dalam mengamankan perairan Lebanon sesuai mandat PBB.
Secara umum KRI Diponegoro memiliki panjang 90,71 m dan Lebar mencapai 13,02 m. Dengan menggunakan Mesin 2 shaft V28-33D STC MAN Diesel 8.900 kW, kapal perang modern ini mampu melaju di laut dengan Kecepatan 28 knot dan jarak tempuh yang lumayan jauh yakni 540 km. Sebagai kapal korvet yang siap “tempur”, peralatan persenjataan kapal ini cukup lengkap antara lain dua peluncur torpedo B515 tipe 3A 244S mode II/MU90, 4 peluncur rudal anti kapal permukaan MBDA MM40 Exocet block 2, 2x4 peluncur rudal anti kapal udara MBDA Mistral Tetral, kanon 76mm Oto Melara dan dua 20mm vector G12 kanon anti kapal udara.
Sistem senjata yang cukup canggih
Daya gempur yang telah teruji dalam latihan
 Untuk peralatan elektroniknya, KRI Diponegoro juga tak kalah dengan kapal modern sejenis. Bila kita masuk ke dalamnya, kita akan melihat peralatan Sonar Thales Kingklip frekuensi menengah aktif/pasif ASW hull mounted sonar, Radar MW08 3D multibeam surveillance radar, LIROD Mk 2 tracking radar dan Sperry Marine BridgeMasterE ARPA radar. Ada pula perlengkapan Thales TSB 2525 Mk XA (integrated with MW08). Untuk sistem pengendali tempur, kapal ini dilengkapi dengan Thales Group TACTICOS with 4 x Multifunction Operator Console Mk 3 2H, Satellite Comms  Nera F series, Navigation System Raytheon Anschutz integrated navigation didukung  ESM (Thales DR3000), ECM (Racal Scorpion 2L) dan Decoy (TERMA SKWS, DLT-12T 130mm decoy launchers, port, starboard).
Penggunaan teknologi modern
Melihat persenjatan serta peralatan pendukungnya tersebut, adalah sesuatu yang cukup pantas dan memang sudah semestinya apabila KRI Diponegoro menjadi salah satu andalan CTF-448 MTF Unifil dalam melaksanakan misinya di Lebanon. Belum lagi dengan adanya dukungan Helikopter Bolkow TNI AL yang siap mengudara di geladak Helinya, maka lengkaplah sudah kelebihan kapal kebanggaan Indonesia ini untuk bisa diandalkan dalam menjalankan misi PBB di Lebanon.
Penilaianku terhadap kelebihan KRI Diponegoro ini semakin memuncak ketika aku berkesempatan melihat dari dekat sebuah kapal perang dari sebuah Negara berbendera UN yang saat itu juga sedang sandar tak jauh dari KRI Diponegoro. Dari kondisi fisiknya saja, aku merasa heran dan sedikit bertanya dalam hati, “ Kenapa UN terutama MTF kok bisa mengoperasikan kapal setua ini” karena kondisinya yang menurut penglihatanku sudah terbilang tua, kurang terurus dengan catnya yang pudar dan berkarat di beberapa bagian kapal. Belum lagi ketika aku berkesempatan menjenguk ke dalamnya, “sangat berbeda “ dengan kondisi jeroan KRI Diponegoro. Kepala ini juga masih terasa pusing  “kepentok” atap pintu kabin yang “sangat sempit” saat mau keluar dari kapal.

Prosesi Medal Parade
Penyematan UN Medal kepada Deputy MTF
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, tepat pukul 05.00 PM, upacara Medal Parade yang diperuntukkan bagi seluruh personel KRI Diponegoro dimulai. Acara ini diawali dengan kedatangan tamu undangan yang terdiri dari pejabat MTF Unifil, para Komandan Kapal MTF dan tamu undangan lainnya. Hadir pula tamu-tamu eksklusif seperti Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Lebanon Drs. Dimas Samodra Rum, MBA dan Kolonel Marinir Ipung Purwadi yang menjadi Atase Pertahanan Indonesia di Mesir.
Acara dimulai sesaat setelah kedatangan Rear Admiral Joese Leandro, MaritimeTask Force Commander Unifil yang selanjutnya mengambil tempat di mimbar Inspektur Upacara. Saat itu, ABK yang terlibat dalam upacara terdiri dari dua peleton Bintara dan Tamtama dengan seragam kebesaran Black Navy dengan baret biru UN di kepala. Mereka berbaris rapi di dermaga, menghadap tamu undangan dengan background KRI Diponegoro.
Penyematan UN Medal kepada ABK KRI Diponegoro
Setelah penghormatan umum pasukan kepada Irup dan dikumandangkannya lagu kebangsaan Lebanon dan Indonesia Raya maka dimulailah prosesi penyematan UN Peace Keeping Medal. Pada moment ini, medali PBB pertama kali disematkan Rear Admiral Joese Leandro kepada Kolonel Laut (P) Retiyono Kunto Deputy MTF Commander/ MTF COS, kemudian Komandan KRI Diponegoro Letkol Laut (P) Hersan, SH, untuk selanjutnya disematkan pula secara langsung kepada sejumlah Perwira KRI Diponegoro. Berikutnya usai penyematan, amanat Irup serta sesi foto bersama, acara pun dilanjutkan dengan cocktail party yang dilaksanakan di geladak KRI Diponegoro.

Atraksi Prajurit Laut yang Memukau

Dalam acara ramah tamah yang digelar di geladak kapal, seluruh tamu undangan bukan saja memperoleh kesempatan mencicipi makanan khas Indonesia yang cukup enak dan lezat, akan tetapi juga mendapat hiburan yang cukup atraktif dari ABK.
Hiburan pertama yang disuguhkan ABK adalah penampilan “KRI Diponegoro Band” dengan personel yang piawai memainkan drum, gitar, keyboard serta vokalis yang memiliki suara cukup lengkap dalam menyanyikan lagu-lagu popular barat dan Indonesia.  Para tamu undangan seakan ikut terbawa oleh syair dan hentakan music yang dibawakan grup band ABK ini sehingga tak jarang mereka ikut terbawa untuk bernyanyi atau juga sekedar menggoyangkan badannya sembari menikmati hidangan khas Indonesia.
Atraksi tari perang Papua yang cukup menarik


Kehebatan prajurit laut dalam memberikan sesuatu yang berbeda kepada tamu-tamu kehormatan mereka semakin terlihat ketika sejumlah ABK menyuguhkan pertunjukkan tari perang khas Papua dengan pakaian tradisionalnya. Pada awal penampilannya, pertunjukkan ini sedikit monoton dan diperkirakan kurang mendapat aplaus dari tamu undangan karena hanya menampilkan sedikit drama tratikal yang menyuguhkan kekerasan dengan penggunaan senjata panah. Akan tetapi, tak berapa lama, para tamu undangan dibuat terhenyak dan kagum ketika delapan penari menampilkan gerakan atraktif yang cukup dinamis dan rapi serta kompak dalam bungkusan tari papua yang enerjik. Aku sendiri memberikan aplaus dengan ikut bertepuk tangan mengikuti aplaus tamu undangan yang hadir saat itu.
Menjelang malam ketika sebagian tamu undangan mulai “kekenyangan” karena sorti makanan yang tidak pernah habis, untuk kedua kalinya KRI Diponegoro menyuguhkan sebuah demo keterampilan prajurit. Kali ini yang disuguhkan adalah tari Saman yang merupakan tarian khas popular Indonesia dari Aceh. Tarian ini dimainkan oleh 12 ABK dengan menggunakan pakaian tradisional Aceh yang mengandalkan kain bercorak warna cerah.
Tari Saman yang mendapat aplaus luar biasa
Saat menyaksikan tarian ini, para tamu undangan dibuat geleng-geleng kepala dan seakan mata mereka tidak pernah berkedip untuk menyaksikan gerakan demi gerakan yang sangat kompak, enerjik, dinamis serta konkordan, mengalir dengan sempurna secara bergantian antara penari yang satu dengan penari lainnya yang tentu saja memiliki  tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi mereka yang memainkannya. Aplaus luar biasa diberikan para tamu undangan setelah para prajurit laut memainkan tarian ini.
Usai mendapat hiburan yang cukup menarik dan unik dari prajurit KRI Diponegoro hingga pukul 09.30 PM, para tamu undangan pun secara bertahap, satu per satu meninggalkan geladak kapal menuju ke tempat tujuan masing-masing. Namun ….. sebelum turun dari kapal, aku menyempatkan diri melihat buku tamu yang sebelumnya diisi MTF Commander Rear Admiral Leandro, di situ tertera coretan tangannya “Congratulation for the commander and the crew of Diponegoro fool demonstration professionalism at sea to accomplish all the task in excellence way as brave sailors and to keep the mind and heart open to all good things the seaman needs to do, thank you very much for sailing together. Fear winds and following for seas, Bravo Zulu… Garuda!!!.
Luar biasa!!! Demikian kata hatiku sembari mengikuti sang Kolonel dan rombongannya, kembali menyusuri jalanan kota Beirut dan Saida menuju ke homebase kami di Naqoura, South Lebanon.
***