Thursday, June 27, 2013

Catatan ke-37 : Raih Medali Perak Turnamen Bulutangkis Unifil


Kegembiraan tim MCOU Unifil ketika aku berhasil meraih medali Perak


Dalam rangka menggalang kerjasama dan persahabatan seluruh kontingen yang terdiri dari 35 negara, United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil) yang merupakan kepanjangan tangan Dewan Keamanan PBB dalam melaksanakan tugas “peace keeping” di negara yang tengah dilanda konflik dengan Israel ini, menyelenggarakan beberapa event olah raga yang digelar secara rutin setiap tahunnya. Beberapa cabang olah raga yang digelar antara lain menembak, tarik tambang, tenis meja, volley ball, futsal, basket, bulutangkis, tenis lapangan dan lainnya. Peserta event tahunan ini terdiri dari perwakilan seluruh kontingen yang ada ditambah civilian yang dipekerjakan PBB untuk membantu tugas-tugas Unifil.
Melihat banyaknya kontingen yang berkontribusi dan jumlah personel yang mencapai puluhan ribu personel dari 35 negara, event olah raga ini pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat “prestisius” dan selalu menjadi rebutan bagi seluruh kontingen yang terlibat di dalamnya. Semua kontingen/ negara mengharapkan menjadi yang terbaik, sehingga dalam pelaksanaannya terjadi persaingan yang sangat ketat demi “gengsi” negara/ kontingen masing-masing.
Dari beberapa event olah raga yang digelar Unifil ini, aku gambarkan salah satu cabang olah raga di mana aku sendiri termasuk salah satu personel yang terlibat di dalamnya, yakni cabang olah raga bulutangkis atau badminton. Pertandingan cabang olah raga ini digelar Unifil dengan panitia penyelenggara dari Force Headquarter Support Unit (FHQSU) pada 20- 25 Juni 2013 lalu di Unifil Rub Hall, Naqoura, South Lebanon.

Mempertaruhkan gengsi Kontingen

Untuk tahun 2013 ini, pesertanya mencapai 16 kontingen terdiri dari Kontingen Indonesia Batalyon (Indobatt), Malaysia Batalyon (Malbatt), Nepal Batalyon (Nepbatt), Indian Batalyon (Indbatt), China Batalyon (Chinbatt), Korea Batalyon (Rokbatt), Irlandia Batalton (Irishfinbatt), Indonesian Force Protection Company (IndoFPC), FHQSU, Indian Hospital, Indonesian Military Police (IndoMP), Belarusia, FCR, civilan dan Military Community Outreach Unit (MCOU). Kategori yang dipertandingkan meliputi Tunggal dan Ganda Putra/Putri, Ganda Campuran serta Tunggal dan ganda putra 45 tahun ke atas. Setiap kontingen berhak mengirimkan dua tunggal putra dan maksimal 4 ganda putra, 2 tunggal dan ganda putri serta ganda campuran. Sistem pertandingan dan penilaian mengikuti aturan IBF dengan reli point. Waktu pertandingan pukul 09.00-12.00 Am untuk sesi pertama dan pukul 02.00-06.00 PM untuk sesi kedua dengan menggunakan 4 lapangan yang tersedia di Rubb Hall Unifil.

Berada di “Grup Neraka”
Dalam mengikuti “Open Tournament” bulutangkis yang digelar Unifil tersebut, aku tergabung dalam kontingen MCOU. Dibandingkan dengan kontingen lain yang cukup besar jumlahnya seperti dari batalyon yang rata-rata jumlahnya mencapai 850 personel semisal Indobatt, Malbatt dll, kontingen MCOU ini termasuk “anak bawang” dengan jumlah personel sebanyak 24 orang (gabungan Indonesia dan Italia). Dengan jumlah personel yang minim ini, maka praktis tidak banyak pilihan dalam menyusun formasi tim yang akan diikutkan dalam turnamen tersebut.

Tim kecil MCOU Unifil

Setelah melakukan latihan ringan seminggu sebelum pelaksanaan pertandingan, akhirnya terbentuk tim kecil MCOU terdiri dari 5 personel (semuanya dari Indonesia) yakni Major Roy Fakhrul Rozi (merangkap Kapten Tim), Capt Purwoko, 2nd Sgt Suprapto dan aku sendiri CSgt M. Syafrudin, SH, MH serta 1st Sgt Wahidin Sutanto sebagai ofisial. Tim kecil ini terbagi menjadi dua tunggal dan dua ganda putra. Major Fakhrul Tunggal Pertama, aku tunggal kedua. Sedangkan untuk ganda putra aku berpasangan dengan Major Fakhrul dan  Capt Purwoko berpasangan dengan  2nd Sgt Suprapto.
Dari hasil Technical Meeting yang digelar pada 18 Juni 2013, MCOU masuk dalam “Grup Neraka” di mana tim-tim yang akan dihadapi cukup berat yakni dari Korea dan Malaysia di babak awal serta dari kontingen Indonesia lainnya di babak selanjutnya seperti dari FHQSU, IndoMP dan Indobatt yang jelas merupakan tim-tim berat dan langganan juara.

Capt Purwoko dan Sgt Suprapto saat pertandingan

Pada tanggal 20 Juni 2013 tepat pukul 09.00 AM, turnamen terbuka bulutangkis pun dibuka oleh Komandan FHQSU Kolonel Inf Karmin Suharma. Sesuai jadwal, pada babak awal, kami harus menghadapi tim berat Korea (Rokbatt) untuk seluruh kategori yang kami ikuti. Namun hingga siang, lawan kami dari Korea tak kunjung datang. Informasi dari Panitia, tim Korea “mengundurkan diri” karena sedang mempersiapkan “Medal Parade”. Akhirnya panitia pun menyatakan tim MCOU menang WO melawan tim Korea. Akan tetapi pada pertandingan sesi kedua yang dilaksanakan usai makan siang, tim ganda putra kami diminta untuk menghadapi tim FCR (Perancis). Kami pun menurut dan itu dilayani dengan baik oleh ganda putra kedua kami. Capt Purwoko berpasangan dengan  2nd Sgt Suprapto mampu menang mudah melawan FCR.
Esoknya, sesuai dengan hasil technical meeting, kami harus menghadapi tim kuat Malaysia yang pada babak awal mengalahkan dengan mudah tim FCR. Pada pertandingan ini aku yang tergabung dalam Grup B diturunkan pertama kali melawan tunggal pertama andalan Malaysia. Alhamdulillah dengan bekal latihan rutin selama bergabung dengan “PB Baros” di kawasan Karang Tengah, Jakarta Selatan, aku berhasil menang mudah straight set dengan skor 21-14 dan 21-11. Sayang, keberhasilanku tidak diikuti rekanku di mana Major Fakhrul yang berada di Grup A harus mengakui keunggulan tunggal putra Malaysia.

Saat menang lawan Malaysia

Di sektor Ganda Grup A yang dipertandingkan pada 22 Juni 2013, aku yang berpasangan dengan Major Fakhrul pun harus mengakui ketangguhan ganda putra Malaysia melalui pertandingan yang cukup alot dengan rubber set. Demikian pula ganda putra MCOU lainnya yang berada di Grup B, Capt Purwoko yang berpasangan dengan  2nd Sgt Suprapto harus mengakui keunggulan ganda putra Malaysia dengan dua set langsung.
Pada tanggal 23 Juni 2013, aku sebagai satu-satunya personel yang tersisa dari MCOU, dalam pertandingan semifinal Grup B harus menghadapi rekan dari

Dukungan dari rekan kerja Italia

Indonesia yakni tunggal putera andalan FHQSU Serka Saniyo yang terkenal dengan smash kencangnya. Serka yang satu ini pada babak perempat final berhasil mematahkan perlawanan tunggal pertama Indobatt. Saat pertandingan, aku yang sudah mengetahui ciri permainannya berhasil meredam kegarangannya di lapangan dengan menang dua set langsung 21-17 dan 21-16. Aku pun melenggang ke final grup yang akan digelar esok harinya. Lawan di final grup B sudah menanti, Praka Desta Arianto dari IndoFPC yang pada pertandingan sebelumnya telah mengalahkan andalan China.

Mengalahkan CPvt Desta di final Grup B

Esok harinya, pada 24 Juni 2013, aku pun melakoni pertandingan final Grup B. Dukungan rekan-rekan MCOU termasuk Chief PDMC, Of1 Sara Mariani dari pinggir lapangan membuat semangatku bertambah untuk bisa memenangkan pertandingan. Pada babak pertama, aku sempat kewalahan meladeni permainan Praka Desta yang mengandalkan kecepatan dan smash-smash tajam. Namun berkat pengalaman selama latihan, akhirnya aku bisa menutup set pertama dengan skor 21-19. Sedangkan di babak kedua, aku berhasil mengendalikan permainan dan berhasil menutup game kedua dengan skor 21-9. Aku pun lolos menjadi juara Grup B.

Raih Medali Perak
Sebagai Juara Grup B maka di babak Final aku harus menghadapi Juara Grup A untuk kategori tunggal putra. Di babak bergengsi ini, aku harus menghadapi andalan tunggal putera IndoFPC lainnya yakni Captain Hariadi Ramdani. Pada pertandingan sebelumnya, sang Kapten ini berhasil mengalahkan andalan tunggal putera Indobatt Koptu Yan Talomanake dengan dua set langsung.
Menghadapi partai bergensi ini, sebenarnya aku pesimis bisa memenangkan pertandingan. Bukan karena aku “takut” sebelum bertanding, melainkan karena aku tahu persis tipe dan karakter permainan calon musuhku ini. Sebagai pemain bekas jebolan klub profesional Jayaraya, teknik pukulan sang Kapten ini cukup lengkap, smash, dropshot, backhand/forehand dan fisiknya yang mendukung, membuat aku sendiri dan juga sebagian rekan memprediksi aku akan sulit memenangkan pertandingan final nanti. Apalagi kebetulan aku dan timnya sering latihan bersama, bahkan sering berlatih tunggal bersama di mana aku memang sulit untuk mengalahkannya. Meski di atas kertas aku “kalah” namun aku bertekad untuk berupaya menyingkirkannya dan meraih yang terbaik di kategori tunggal putra.

Memperebutkan Medali Emas

Pertandingan yang ditunggu-tunggu pun terlaksana pada esok paginya, Selasa, 25 Juni 2013. Aku turun ke lapangan dengan menggunakan seragam kontingen Indonesia, Merah dan hitam. Rekan-rekan dari MCOU yang tidak ada kegiatan “outreach mission” pun turut hadir termasuk MCOU Commander dari Italia Letcol Gerald Murra. Mereka hadir untuk mendukung dan memberi semangat kepadaku yang merupakan satu-satunya wakil dari MCOU yang tersisa dalam turnamen ini.

Pemain Malaysia yang mendukungku

Usai penyerahan sertifikat Juara

Dengan dukungan rekan-rekan MCOU dan sebagian dari pemain Malaysia yang dari awal tertarik dengan permainanku, aku pun mulai melakoni pertandingan final di sektor tunggal putra ini. Di set pertama, aku berhasil mengimbangi permainan Captain Ramdani, dengan angka yang tidak terpaut jauh, 1-0, 1-1, 2-1, 2-2, 3-2, 3-3, 4-4, 6-6, dan seterusnya.. Aku mulai sedikit optimis untuk bisa mengalahkannya. Akan tetapi usai papan skor menunjukkan angka 10-10, aku mulai sedikit goyah dengan staminaku yang mulai “anjlok” (maklum usiaku terpaut jauh, 10 tahun). Aku mulai terpengaruh dengan gaya permainannya yang mengandalkan skill dan juga teknik untuk menguras tenaga lawan. Akhirnya di set pertama ini, aku menyerah dengan skor 21-14 untuk kemenangan lawan.
Di babak kedua, aku tidak bisa mengembangkan permainanku sendiri. Permainanku mudah dibaca lawan. Arahan dari ofisialku, 1st Sgt Wahidin Sutanto yang mengharapkan aku harus ini-itu untuk mematikan permainan lawan, agak sulit diterapkan di lapangan. Kemanapun bola yang aku arahkan lewat smash tajam kanan-kiri, reli panjang, dropshot menyilang, hingga permainan netku tidak bisa membuahkan hasil karena berhasil

Ucapan selamat dari Komandan Indobatt

dipatahkan oleh pemain andalan IndoFPC ini. Belum lagi staminaku yang menurun drastis. Akhirnya, aku pun menyerah di set kedua ini dengan hanya mengumpulkan 9 point dari 21 point penentu kemenangan.
Dengan kekalahan tersebut akhirnya aku hanya bisa meraih Medali Perak (Silver Medal) untuk kategori Tunggal Putra Turnamen Bulutangkis Unifil 2013. Bagiku, hasil tersebut sudah cukup luar biasa dan patut aku syukuri serta menjadi moment terindah pada pertengahan misi penugasanku di Lebanon.

Indonesia Juara Umum
Dari hasil perhelatan turnamen bulutangkis Unifil 2013 yang ditutup secara resmi oleh Komandan Indobatt Letkol Lucky Avianto (mewakili Komandan FHQSU) tersebut, diperoleh fakta bahwa pemain Indonesia yang tergabung dalam beberapa Satgas berhasil mendominasi di hampir seluruh kategori yang dipertandingkan. Bila di tunggal putera terjadi all indonesia final, di sektor lainnya seperti ganda putera pun terjadi all Indonesia Final. Dari tujuh emas yang diperebutkan (dari tujuh kategori yang dipertandingkan), Indonesia berhasil menyabet 4 Medali Emas,  5 perak dan 5 perunggu.

Foto bersama kontingen Indonesia yang berhasil meraih Juara Umum


Hasil selengkapnya dari turnamen ini adalah untuk tunggal putra, Juara I Captain Hariadi Ramdani (IndoFPC), Juara II CSgt M.Syafrudin, SH, MH (MCOU) dan Juara III 1st Cpl Yan Talomanake (Indobatt).  Ganda Putra, Juara I Capt Hariadi Ramdani/ CPvt Desta Arianto (IndoFPC), Juara II CSgt Lilik Agus R/ CPvt Priyono (IndoFPC) dan Juara III Maj Abdullah/ Cpl Mohd Redzuan (Malbatt). Tunggal Putri, Juara I  Cne Landini (FCR), Juara II Maj Riana Dewi (Indobatt) dan Juara III CSgt Jatmikowati (Indobatt). Ganda Putri, Juara I 1st Sgt Titin Mulyati/ 2nd Sgt Fitri Ayundari (IndoMP), Juara II Snr Srgn Maria C/ Snr Srgn Olesya E (Belarus) dan Juara III Maj Riana Dewi/ 1st Sgt Darmaliyanti (Indobatt). Ganda Campuran, Juara I 2nd Sgt Fitri Ayundari/ 1st Cpl Suhardi (IndoMP), Juara II 1st Sgt Nicky N./ 1st Cpl Yan Talomanake (Indobatt) dan Juara III Maj Abdullah/ .. (Malbatt). Tunggal Putra di atas 45 tahun, Juara I Maj Abdullah (Malbatt), Juara II Manoj Bhatnagar (Civilian) dan Juara III Capt Januddin (Indobatt). Untuk Ganda Putra di atas 45 tahun, Juara I Manoj Bhatnagar/ Modabber (Civilian), Juara II Maj Sri Depranoto/ WO Tustanto (Indobatt) dan Juara III Capt Janudin/ CSgt Didik Arif Rusdi (Indobatt). Sedangkan untuk The Best Player putra pada turnamen bergengsi ini jatuh pada Captain Hariadi Ramdani (IndoFPC) yang berhasil menggondol dua emas, Cne Landini (FCR) untuk putri dan Maj Abdullah (Malbatt) untuk kategori di atas 45 tahun.
***

Catatan ke-36 : Menghadapi Mayor yang Ketus dan Ramah



Penulis bersama TCot B Leader, Mayor yang ramah dan Language Assistant

 Sesuai mandat  Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon), Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit) bertugas memberikan informasi dan mempengaruhi penduduk lokal Lebanon tentang misi dan kegiatan UNIFIL melalui media massa serta komunikasi langsung, sehingga tercipta suasana yang mendukung untuk pencapaian operasi militer di bawah mandat Dewan Keamanan PBB, sesuai dengan resolusi DK PBB Nomor 1701.
 Komunikasi langsung yang dilakukan tim MCOU dengan masyarakat dikenal dengan istilah “Outreach” atau juga “komunikasi tatap muka-face to face communication”. Komunikasi ini dijalankan secara rutin dua hingga tiga kali seminggu dengan sasaran Local Leader seperti Mukhtar (di Indonesia setingkat Kepala Dusun) atau Mayor (setingkat Kepala Desa atau Camat). Untuk waktu dan lokasi pertemuan ditentukan sesuai kesepakatan dari pihak Unifil (MCOU) dengan pihak Mukhtar/ Mayor yang juga harus diketahui oleh pihak LAF (Lebanese Armed Force) yang bertanggung jawab masalah keamanan selama kegiatan berlangsung. Waktu pertemuan umumnya dari Senin hingga Jumat, sedangkan untuk tempatnya di kediaman sang Local Leader atau di Municipality (kantor lurah atau camat).

Dalam satu kegiatan outreach atau assesment ini, MCOU mengirimkan satu team Outreach, biasanya terdiri dari empat personel yakni satu orang Outreach Leader dengan seorang pendamping, satu orang Language Assistant (asli Lebanon) dan seorang Driver. Satu team outreach ini bisa bertambah sesuai dengan kebutuhan termasuk di dalamnya tatkala melakukan outreach dengan sasaran lembaga pendidikan (school engagement) yang biasanya menyertakan satu team Engagement dengan peralatan lengkapnya seperti TV Spot, Video camera dan Photo camera. Untuk kegiatan yang terakhir ini, personel yang terlibat bisa 7-8 orang.

 “Mayor “ yang Ketus dan Ramah
Kegiatan outreach/ assesment atau kunjungan ke beberapa local leader (kepala Desa) yang dilakukan team outreach MCOU pada beberapa kasus terkadang membawa sejumlah cerita suka maupun duka. Cerita dukanya antara lain, ketika team outreach MCOU Indonesia melakukan kunjungan ke daerah yang dipetakan Unifil (MCOU) sebagai daerah yang kurang support dengan Unifil (low confidence), di mana mereka harus dihadapkan dengan Mayor/ Mukhtar yang kurang familiar dengan adanya kunjungan tersebut. Penyebabnya mungkin karena merasa daerahnya kurang diperhatikan Unifil, tidak pernah mendapatkan proyek, klaim atau “protes” nya tidak pernah ditindaklanjuti Unifil, atau mungkin pernah “berbenturan” dengan prajurit Unifil serta penyebab lainnya.
Dalam situasi tersebut maka praktis, team outreach MCOU kurang “leluasa” dalam membeberkan “talking point” sesuai mandat Unifil. Yang ada, mereka selalu mendengarkan “ceramah” sang Mayor yang isinya “tuntutan” atau klaim mengenai ini-itu, tuntutan mengenai realisasi proyek yang dijanjikan Unifil (biasanya dijanjikan satgas lain pada pertemuan sebelumnya), klaim terhadap tingkah laku atau mobilitas kendaraan Unifil yang melewati daerahnya dan klaim-klaim lain yang terkadang membuat kuping team outreach pedas. “ Anda tidak perlu menjelaskan apa itu peranan Unifil di sini, mengenai kondisi perbatasan, blue line dan lainnya. Kami sudah paham itu. Yang penting bagaimana realisasinya di lapangan. Bagaimanan dengan janji anda atau kalau bukan dari tim anda sekarang, dari team lain yang menjanjikan ini-itu tetapi realisasinya mana? ” demikian kata sang Mayor kepada team outreach MCOU ketika suatu saat berkunjung ke kawasan yang memang sudah dicap Unifil sebagai daerah yang kurang mendukung keberadaan Unifil di Lebanon. Bagaimana jalan keluarnya? Dalam menghadapi situasi seperti itu maka team outreach MCOU hanya bisa “berjanji” untuk menyampaikannya kepada Unifil sesuai rantai komando yang ada, sembari tetap memberi pengertian dan pemahaman serta berusaha “meluruskan” pandangan sang Mayor yang keliru sehingga diharapkan di masa yang akan datang, pandangannya terhadap Unifil dapat berubah.

Saat kunjungan ke kawasan Dibine, menjumpai Mayor  yang ramah

Gambaran kasus di atas anggap saja sebagai pengalaman “apes” team outreach MCOU ketika berkunjung ke kawasan yang memang daerahnya “kurang welcome” terhadap kedatangan prajurit Unifil. Bagaimana dengan daerah lain? Sebagian besar tidak ada masalah. Sang local leader sangat “welcome” menerima kunjungan team outreach MCOU, apalagi ketika berkunjung ke daerah-daerah yang berada di bawah Area Operation (AO) batalyon beberapa negara yang sangat “royal” memberikan bantuan proyek kepada penduduk yang ada di Oanya, dijamin kunjungan akan berjalan mulus, diterima dengan ramah serta disuguhi makanan ringan dan minuman yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Untuk yang terakhir ini, aku berikan satu gambaran kecil ketika team outreach MCOU dari Indonesia melakukan kunjungan ke seorang Mayor yang memimpin sebuah desa yang cukup ramai di kawasan South Lebanon. Oleh Unifil, desa yang dipimpin sang Mayor ini diberi kode V24 dengan nama Tibnin. Dalam lingkup tugas kami, desa ini berada di Sector East. Posisinya sekitar 1 jam perjalanan dari kantor kami di Naqoura, South Lebanon. Populasi penduduknya cukup padat, mencapai sekitar 3000 orang dengan mayoritas penduduknya beraliran Shiah. Desa yang sebagian besar politic affiliation condong ke  Amal-Hisbullah ini berada di daerah operasi Batalyon Indonesia (Indobatt).
Sebagaimana kunjungan ke desa-desa lainnya, team tactical outreach MCOU mengirimkan empat personel untuk berkunjung ke V24 Tibnin ini. Saat itu team kami terdiri dari Mayor Roy Fakhrul Rozi, aku sendiri Csgt M.Syafrudin, Jihad Choufani sebagai Language Assistant dan 2nd PVT Agus Hariyanto sebagai Driver. Dari kantor MCOU, kami berangkat pukul 09.00 LT, menggunakan satu mobil Ford Everest putih dengan tulisan UN di kanan kiri bodi mobil serta plat Unifil. Sesuai kesepakatan, pertemuan akan dilakukan di Municipality pukul 10.00 LT.
Setelah melewati jalanan khas Lebanon, menyusuri jalanan pinggir pantai Naqoura dan Tyre, tepat pukul 09.50 kami tiba di Tibnin dan langsung menuju ke kantor kepala desa (municipality). Tiba di depan pintu gerbang kantor Kepala Desa ini, satu mobil LAF dengan tiga personelnya sudah menunggu. Setelah menyapa mereka, aku, Mayor Fakhrul dan Jihad pun segera masuk ke ruangan sang Mayor, sedangkan driver kami tetap di dalam mobil, siap untuk “escape” apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.  Setelah masuk dan berkenalan, pertemuan dan “bincang-bincang” pun dimulai. Kami berbicara dengan bahasa Inggris, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh LA, dijawab dengan bahasa Arab oleh sang Mayor yang selanjutnya disampaikan kepada kami dalam bahasa Inggris. Memang sedikit lucu. Tetapi demikianlah kondisinya, bahkan terkadang menurut informasi, sang Mayor sebenarnya fasih berbahasa Inggris, tetapi dalam komunikasi dengan kami, ia tetap menggunakan bahasa Arab yang selanjutnya diterjemahkan oleh LA kami.
Dalam pandangan kami, sang Mayor ini termasuk kategori yang cukup ramah, berbanding terbalik dengan gambaran cerita kunjungan “apes” di atas. Di lihat dari sikap maupun tutur katanya cukup baik. Seratus persen ia mendukung Unifil dan kegiatannya, bahkan berterima kasih mendapatkan kunjungan kami dari MCOU Indonesia. Ia sangat terbuka dan luwes dalam menerima kunjungan tersebut. Bukti keramahannya pun ditunjukkan dengan dikeluarkannya kopi khas Lebanon (terasa pahit namun enak), serta beberapa makanan kecil. Bahkan saking “ramahnya” dalam menawarkan makanan ringan kecil seperti roti terbungkus kertas (di Indonesia sejenis jajanan pasar), ia justru yang membuka bungkusnya melihat kami “pura-pura tidak mau”. Saat itu jelas kami merasa tidak enak, karena di Indonesia belum pernah kami ditawarkan makanan ringan di mana kertas kuenya sudah dibukakan sehingga “kurang sopan”dalam pandangan budaya Indonesia (di Lebanon ternyata sudah terbiasa dan lumrah terutama ketika ditujukan kepada tamu yang mereka hormati. Bukan hanya kue, pisang pun mereka kupasin apabila menawarkan kepada tamu sehingga tamu pun akan menerima, meski terkadang sedikit “terpaksa”).
Usai mencicipi makanan dan minuman yang disediakan, kami pun pamitan untuk kembali ke kantor kami di MCOU, Naqoura, South Lebanon. Namun meski sudah pamitan, sang Mayor mengajak kami sedikit “berkeliling” ke beberapa gedung di dalam kantornya sembari memberikan beberapa penjelasan. Kami pun menurut dan merasa lebih akrab dengan sang “Mayor” yang ramah. Setelah puas berkeliling, kami pun pamitan dan kembali ke Naqoura, menyiapkan tugas-tugas selanjutnya.

Persepsi masyarakat Lebanon terhadap Unifil

Keramahan dan keterbukaan masyarakat Lebanon juga sangat ditunjukkan ketika kami melaksanakan kegiatan outreach dengan sasaran lingkungan pendidikan yang kami sebut School Engagement (dilaksanakan 2-3 kali dalam sebulan dengan sasaran sekolah-sekolah yang ada di seluruh area operasi Unifil). Di lingkungan pendidikan ini kami benar-benar diterima dengan baik dan bisa membaur bersama anak-anak Lebanon. Keseriusan mereka ketika kami memberi penjelasan tentang Unifil, tentang Blue Line dan Blue Barrelnya membuat kami bertambah semangat dalam menjalankan peran dan tugas kami. Apalagi ketika melihat keceriaan dan kegembiraan mereka di saat menerima sejumlah souvenir (novelty items) berupa peralatan tulis seperti buku tulis, buku gambar, buku sticker, pensil warna, cat air, penghapus, bola volley/ sepak bola, menjadi kenangan tersendiri bagi kami.
Demikianlah sedikit gambaran bagaimana suka dukanya personel MCOU dalam melakukan “outreach mission” dengan sasaran masyarakat lebanon, Local Leader, local people dan lingkungan pendidikan. 
***

Sunday, June 23, 2013

Catatan ke-35 : Gara-Gara Meletus di Jalan


Bersama anak-anak dengan salah satu novelty items yang dibagikan

Dalam setiap kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada di area operasi Unifil Lebanon, tim Mcou yang terdiri dari satu tim Tactical Outreach dan satu tim Engagement School selalu membawa oleh-oleh atau souvenir untuk murid-murid sekolah yang bersangkutan. Souvenir yang biasanya kami bawa (sesuai dengan stok barang yang ada) adalah buku tulis arabic, buku mewarnai berstiker, mini color pencil, color set, penghapus, majalah Al Janoub, leaflet dan bola kaki. Jumlah yang kami bawa ini disesuaikan dengan jumlah murid sesuai yang diperjanjikan.
Satu masalah yang sering kami hadapi dalam kegiatan outreach ke lingkungan pendidikan ini adalah keterbatasan souvenir atau dalam istilah kami novelty items yang akan dibagikan ke siswa. Dengan mempertimbangkan stok yang ada di gudang kami, maka MCOU Unifil hanya bisa melakukan outreach ke sekolah yang jumlah muridnya tidak lebih dari 80 orang. Kebijakan ini ternyata dalam beberapa kasus menjadi kendala dalam kegiatan kunjungan ke dunia pendidikan ini, karena ada beberapa sekolah yang terkadang menyiapkan lebih dari seratus bahkan duaratus orang muridnya yang siap menerima kunjungan kami.
Salah satu contoh yang dapat disebutkan di sini, sebulan lalu kami berniat berkunjung ke sebuah sekolah di sektor timur area operasi Unifil. Pada awal kesepakatan, pihak sekolah menginformasikan bahwa target audience (siswa di sekolahnya) 80 orang dan kami menyetujuinya. Akan tetapi tiga hari sebelum kunjungan pihak sekolah menginformasikan kembali bahwa siswanya bertambah sekitar 150 orang karena gabungan beberapa kelas kecil. Dengan perubahan jumlah ini, maka souvenir yang harus kami siapkan otomatis melebihi kuota yang telah kami alokasikan untuk satu sekolah. Kami keberatan dan memberikan satu solusi yaitu dari 80 paket yang masing-masing berisi 6 items dibagi rata untuk 150 orang di mana masing-masing siswa nantinya mendapatkan 3 items plus buku tulis arabic yang stoknya masih cukup banyak. Solusi ini ternyata tidak bisa diterima pihak sekolah dengan alasan, menghindari saling “iri” antara siswa di mana items pembagian tidak sama (pihak sekolah menginformasikan kalau yang satu dapat bola maka yang lain pun harus dapat bola- alasan ini memang sesuai dengan pandangan umum masyarakat Lebanon). Dengan argumen ini akhirnya kunjungan pun terpaksa dibatalkan.

 Meletus di Jalan
Untuk menghindari adanya “pertambahan” jumlah siswa pada saat pelaksanaan kunjungan sekolah, pihak MCOU Unifil umumnya menyiapkan sepuluh paket cadangan. Dan paket cadangan ini umumnya benar-benar habis didistribusikan karena memang jumlah muridnya bertambah atau kalau ada kelebihan diserahkan ke pihak guru atau sekolah.
Khusus mengenai ketersediaan paket cadangan untuk siswa sekolah, ada pengalaman menarik yang akhirnya menjadi evaluasi pihak MCOU dalam penyiapan paket ini. Pengalaman ini terjadi pada Selasa, 28 Mei 2013 lalu ketika kami melaksanakan kunjungan ke public school di Sh’atiyah, South Lebanon. Saat itu kebetulan aku sendiri terlibat dalam kunjungan ke sekolah yang letaknya di area dengan kode Unifil Y23, telah menyiapkan 50 paket souvenir dengan 10 paket cadangan. Dalam setiap paketnya berisi buku tulis arabic, buku mewarnai berstiker, mini color pencil, color set, penghapus, majalah Al Janoub, leaflet dan bola kaki.
Dalam tahap penyiapan, untuk bola kaki, berdasarkan pengalaman sebelumnya ada masukan dari warga untuk diberi bola yang sudah siap pakai (sudah dipompa), maka aku dan rekan-rekan MCOU sebelum berangkat, memompa 60 bola kaki yang akan kami bawa. Selanjutnya setelah selesai, kami pun langsung berangkat ke sekolah yang bersangkutan dengan megendari tiga mobil, dua mobil dari Indonesia dan satunya dari Italia. Bola kaki yang berjumlah 60 buah ini kami letakkan di mobil Italia yang kapasitas muatnya lebih besar.
Setelah sekitar 45 menit perjalanan dari kantor kami di Naqoura, South Lebanon, aku dan rombongan akhirnya tiba di lokasi. Menurunkan seluruh barang yang ada dan berkoordinasi dengan Direktur Sekolah.
Keceriaan anak-anak Lebanon bersama tim outreach MCOU
Usai melaksanakan kegiatan pokok yang menjadi rutinitas kami dalam kunjungan sekolah seperti pengenalan tentang simbol Unifil, profil prajurit, peran dan tugasnya, dan blue line ditambah pula dengan pemutaran video Unifil serta pengenalan Mr. Blue Barrel, aku dan rekan-rekan MCOU lainnya segera memberikan novelty items kepada seluruh siswa yang mengikuti kegiatan kami. Jumlah siswa yang ada saat itu memang lebih dari 50 orang, akan tetapi kami tidak merasa khawatir karena memiliki cadangan sejumlah 10 paket.
Saat pembagian, ternyata ada sedikit masalah di mana bola kaki yang kami bagikan tidak mencukupi jumlah siswa yang ada, padahal untuk items yang lain cukup. Ada tiga siswa yang tidak kebagian bola kaki. Kami sempat kelabakan dan merasa kecolongan, dimana bola yang lain? Padahal sesuai perhitungan kami, semua siswa bisa menerima seluruh items yang kami bawa. Usut punya usut ternyata ada lima bola kaki yang meletus di jalan saat perjalanan dari kantor ke sekolah serta dua bola lainnya diminta tentara Lebanese Armed Force yang mendampingi kami selama kunjungan berlangsung. Kenapa bisa meletus di jalan? Mengisi angin atau memompanya terlalu penuh sehingga meletus di jalan! O, begitu…. demikian dalam hati aku dan rekan-rekan yang akhirnya sedikit malu terhadap Direktur sekolah yang juga meminta bola kepada kami untuk ia bawa pulang. Yang sedikit melegakan adalah, tiga siswa yang tidak kebagian bola tidak menangis (karena sudah agak besar). Coba kalau yang tidak kebagian bola anak yang kecil dan selanjutnya menangis meraung-raung! bisa berabe! Bisa-bisa kami tidak diijinkan pulang, sebelum kiriman bola dari kantor datang!.
***