Setelah disambut secara resmi oleh Dubes RI
untuk Lebanon Dimas Samodra Rum di Beirut, rombongan
kami bergerak menuju markas Unifil di Naqoura, Lebanon Selatan, Sabtu, 1
Desember 2012 pukul 02.15 LT.
Selama
perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam, seluruh personel Satgas
diperintahkan untuk mengenakan perlengkapan tempur standard Unifil berupa rompi
anti peluru (life jacket) dan helm tempur.
Dengan dua perlengkapan yang cukup berat, helm di kepala dan rompi anti
peluru yang menempel di badan, ingatanku teringat pada masa-masa penugasan tempur.
Bagiku meski
helm tempur lumayan berat, namun fungsinya cukup penting untuk pengamanan diri
terutama melindungi kepala dari terjangan pelor panas maupun serpihan granat
atau mortir di saat terjadi pertempuran. Sedangkan rompi anti peluru yang
kelewat berat, fungsinya juga tidak kalah vital, karena dengan rompi, tubuh
kita terutama organ penting seperti jantung dan sebagainya dapat terlindungi
dari terjangan munisi lawan (asal jangan roket maupun munisi lain yang
kalibernya non konvensional).
Selama perjalanan, di dalam bus, aku amati dan
pegang rompi anti peluru yang akan melindungi kami dalam kondisi darurat ini.
Aku yakin seperti yang pernah aku tahu, rompi anti peluru ini terbuat dari
keramik, lempengan logam atau komposit. Bentuknya yang tebal dan berat
menjadikannya tidak nyaman digunakan, hingga jarang dikenakan dalam tugas
keseharian. Hanya dalam tugas khusus yang beresiko tinggi seperti di Lebanon
saat ini, operasi militer atau operasi khusus lainnya.
Prinsip kerja rompi anti
peluru ini adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi kinetik
peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk menyerap energi
laju tersebut dan memecahnya ke penampang rompi anti peluru yang luas, sehingga
energi tersebut tidak cukup lagi untuk membuat peluru dapat menembus rompi anti
peluru. Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang.
Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain.
Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi kinetik bola tersebut
akan diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali di sekitarnya bertambah
panjang dan kemudian tekanan tali akan dialirkan ke tiang gawang. Dalam
menyerap laju energi peluru, kevlar mengalami deformasi yang menekan ke arah
dalam, tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna.
Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh lebih dari 44 mm. Jika batasan
tersebut dilewati, maka pengguna rompi anti peluru akan mengalami luka dalam
yang tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa.
Meski aku merasa aman dengan
menggunakan rompi anti peluru, namun anggapan bahwa pemakai rompi anti peluru
dapat terhindar sepenuhnya dari cidera yang dihasilkan oleh tembakan adalah
salah. Perlu diketahui, fungsi utama rompi anti peluru hanyalah untuk menahan
peluru sehingga peluru tidak sampai masuk ke dalam tubuh pemakai rompi anti
peluru. Tidak jarang akibat tekanan yang ditimbulkan peluru tadi, pemakai rompi
anti peluru akan menderita luka memar hingga patah tulang. Tentunya cidera juga
tergantung dari jenis rompi anti peluru yang digunakan. Ini menunjukkan bahwa
istilah rompi anti peluru (bullet proof vest) tidaklah tepat, istilah yang
benar adalah rompi balistik (ballistic vest). Standar rompi balistik yang
paling banyak digunakan adalah standar NIJ (National Institute of Justice)
Amerika. Berdasarkan standar ini, rompi balistik dibagi menjadi beberapa
tingkatan (level), yaitu level I, II-A, II, III-A, III, dan IV. Level I adalah
tingkatan yang terendah, rompi balistik hanya dapat menahan peluru yang
berkaliber kecil. Sedangkan mulai level III rompi balistik akan dilengkapi
dengan lempengan besi, sehingga mampu untuk menahan shotgun. Dengan menggunakan
material yang sekarang, makin tinggi tingkat keamanan yang diberikan, maka akan
semakin tebal dan berat rompi balistik yang harus dikenakan. Dengan gambaran
tersebut, aku yakin rompi anti peluru yang aku pakai saat itu dan selama
penugasan di Lebanon berada pada level III atau bahkan IV, melihat beratnya yang
“nggak ketulungan”.Itulah sekelumit informasi tentang rompi peluru yang aku pakai
bersama rombongan selama perjalanan dari Beirut ke Naqoura, Lebanon Selatan.
Selanjutnya selama
perjalanan dari Beirut ke markas Unifil di Naqoura yang memakan waktu sekitar 3
jam tersebut, tidak ada kejadian yang mengkhawatirkan rombongan kami. Di sepanjang
perjalanan, dari balik kaca bus yang membawa aku dan rombongan, aku hanya
melihat satu atau dua orang penduduk asli Lebanon yang pada jam-jam tersebut
masih terlihat di jalanan. Satu kejadian yang menurutku agak aneh adalah ketika
rombongan sudah berjalan sekitar satu setengah jam, iring-iringan mobil kami
tiba-tiba berhenti. Aku lihat pengemudi busa yang orang Austria keluar dari bus,
menancapkan bendera UN selebar 90 cm yang telah terikat di sepotong besi di
sisi kiri bus bagian depan. Aku tanya pada sang pengemudi, “What happen, sir?”.
Sang pengemudi dengan santai menjawab pendek, “ SOP sir” (maksudnya sesuai
dengan Standard Operation Procedure yang telah ditetapkan Unifil). Padahal
kalau dipikir terasa aneh, mobil UN jelas berbeda dengan mobil umum, berwarna
putih dengan tulisan UN di sisi kanan kirinya. Kenapa harus ditambah dengan
bendera UN lagi (Pertanyaan ini terjawab setelah tiba di markas Unifil, di mana
pemasangan bendera itu wajib digunakan oleh setiap mobil Unifil ketika sudah
memasuki Area Operation).
“Orientasi
“ yang Menjengkelkan
Setelah menempuh perjalanan
sekitar 3 jam dari Beirut, akhirnya kami tiba di Markas Unifil di Naqoura,
Lebanon Selatan. Kami diturunkan di Main Gate (pintu gerbang utama) Unifil yang
dijaga dengan super ketat oleh pasukan Garuda dan pasukan “Jambo “ dari
Tanzania. Namun saat kami tiba di tempat ini, suasana cukup sepi dan gelap.
Saat itu kami diterima oleh
seorang Perwira senior dari kontingen Garuda yang rencana tugasnya akan kami
gantikan. Dengan suara berapi-api, sang Perwira menyatakan kata-kata selamat
datang kepada kami semua. “ Selamat datang kami ucapkan kepada rekan-rekan,
yang baru datang dari Indonesia. Inilah markas besar pasukan Unifil di Lebanon,
di mana kalian akan menjadi bagian dari mereka”. Demikian sang Perwira berkata
kepada kami sesaat setelah kami turun dari kendaraan dan usai pengecekan
perlengkapan dan personel. “Kalian lihat di sebelah sana, itulah kamp Sudirman,
di mana kalian akan bertempat tinggal selama penugasan kalian di Lebanon”.
Perwira itu menunjuk perbukitan tinggi di depan kami yang saat itu cukup gelap.
Sebagian di antara perbukitan tersebut terlihat kerlap kerlip lampu, tempat
inilah yang ditunjuk oleh sang Perwira tadi. “ Agar kalian lebih mengenal
tempat penugasan di Lebanon ini, maka kami sengaja menurunkan kalian di sini.
Sedangkan untuk mencapai kamp Sudirman kalian harus berjalan kaki. Kalian
mengerti!? “ . Berjalan kaki, melewati perbukitan yang menurut kami cukup
tinggi dan cukup jauh? Kami semua terdiam. “ Hei, Kalian dengar, prajurit! Kalian
prajurit bukan!!!!” kata-kata keras mulai terlontar dari mulut sang Perwira
melihat kami hanya terdiam dan dari raut muka terpancar rasa ketidaksetujuan. Kami semua hampir berpikiran sama, ini daerah
operasi mas!, di mana profesionalisme lah yang diutamakan, bukan latihan fisik
lagi seperti di pendidikan! Demikian celoteh kami dalam hati. Lagipula sang
Perwira lupa bahwa di antara rombongan kami, terdapat beberapa perwira
seniornya yang berpangkat Perwira Menengah yang ikut berbaris mendengarkan “kutbahnya”.
Dalam hati aku berpikir, “kena nich Perwira ini!”
Perhitunganku dan
rekan-rekan lain yang menilai sang Perwira penyambut rombongan sudah “keterlaluan”
akhirnya terbukti. Meski aku tidak bisa “menguping” pembicaraannya, beberapa
perwira menengah kami mulai “protes” kepadanya. Hanya kedengaran kata-kata, “
Siap! Siap!” (kena juga khan!!!). Meski demikian pada akhirnya atas perintah
Komandan Satgas masing-masing, kami pun mengikuti perintah awal, yaitu berjalan
kaki naik menyusuri jalan ke markas kami di Kamp Sudirman.
![]() |
Berjalan kaki menuju kamp Soedirman |
Seandainya tidak dalam
kondisi capai setelah menempuh perjalanan selama puluhan jam dari Jakarta dan
perjalanan darat dari Beirut- Naqoura, perjalalanan dari bawah ke atas menuju
kamp Soedirman sebenarnya cukup nyaman dan indah meski suhu udara saat itu
cukup dingin, seakan menusuk tulang. Tetapi karena kondisi capai ditambah beban
berat rompi anti peluru dan helm baja di kepala, pemandangan indah di pagi hari
sepanjang jalan menuju kamp menjadi kurang indah. Yang ada hanya rasa “mendongkol”
yang dikeluarkan dengan kata-kata lirih “duancuk!!!!”.
Setelah kurang lebih 20
menit berjalan, akhirnya kami tiba juga di Kamp Sudirman. Di tempat ini kami
merasakan suasana yang lebih ramah, beda jauh dengan penerimaan di tempat yang
pertama. Inilah penyambutan khas militer Indonesia ketika melihat rekan penggantinya
datang. Kami diterima dengan ramah dan selanjutnya masing-masing Satgas
diarahkan menuju tempat yang telah ditentukan.








