Sunday, December 30, 2012

Catatan ke-5 : Menuju Kamp Sudirman


Setelah disambut secara resmi oleh Dubes RI untuk Lebanon Dimas Samodra Rum di Beirut, rombongan kami bergerak menuju markas Unifil di Naqoura, Lebanon Selatan, Sabtu, 1 Desember 2012 pukul 02.15 LT.
Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam, seluruh personel Satgas diperintahkan untuk mengenakan perlengkapan tempur standard Unifil berupa rompi anti peluru (life jacket) dan helm tempur.  Dengan dua perlengkapan yang cukup berat, helm di kepala dan rompi anti peluru yang menempel di badan, ingatanku teringat pada masa-masa penugasan tempur.
Bagiku meski helm tempur lumayan berat, namun fungsinya cukup penting untuk pengamanan diri terutama melindungi kepala dari terjangan pelor panas maupun serpihan granat atau mortir di saat terjadi pertempuran. Sedangkan rompi anti peluru yang kelewat berat, fungsinya juga tidak kalah vital, karena dengan rompi, tubuh kita terutama organ penting seperti jantung dan sebagainya dapat terlindungi dari terjangan munisi lawan (asal jangan roket maupun munisi lain yang kalibernya non konvensional).
Selama perjalanan, di dalam bus, aku amati dan pegang rompi anti peluru yang akan melindungi kami dalam kondisi darurat ini. Aku yakin seperti yang pernah aku tahu, rompi anti peluru ini terbuat dari keramik, lempengan logam atau komposit. Bentuknya yang tebal dan berat menjadikannya tidak nyaman digunakan, hingga jarang dikenakan dalam tugas keseharian. Hanya dalam tugas khusus yang beresiko tinggi seperti di Lebanon saat ini, operasi militer atau operasi khusus lainnya.
Prinsip kerja rompi anti peluru ini adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi kinetik peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk menyerap energi laju tersebut dan memecahnya ke penampang rompi anti peluru yang luas, sehingga energi tersebut tidak cukup lagi untuk membuat peluru dapat menembus rompi anti peluru. Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain. Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi kinetik bola tersebut akan diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali di sekitarnya bertambah panjang dan kemudian tekanan tali akan dialirkan ke tiang gawang. Dalam menyerap laju energi peluru, kevlar mengalami deformasi yang menekan ke arah dalam, tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh lebih dari 44 mm. Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna rompi anti peluru akan mengalami luka dalam yang tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa.
Meski aku merasa aman dengan menggunakan rompi anti peluru, namun anggapan bahwa pemakai rompi anti peluru dapat terhindar sepenuhnya dari cidera yang dihasilkan oleh tembakan adalah salah. Perlu diketahui, fungsi utama rompi anti peluru hanyalah untuk menahan peluru sehingga peluru tidak sampai masuk ke dalam tubuh pemakai rompi anti peluru. Tidak jarang akibat tekanan yang ditimbulkan peluru tadi, pemakai rompi anti peluru akan menderita luka memar hingga patah tulang. Tentunya cidera juga tergantung dari jenis rompi anti peluru yang digunakan. Ini menunjukkan bahwa istilah rompi anti peluru (bullet proof vest) tidaklah tepat, istilah yang benar adalah rompi balistik (ballistic vest). Standar rompi balistik yang paling banyak digunakan adalah standar NIJ (National Institute of Justice) Amerika. Berdasarkan standar ini, rompi balistik dibagi menjadi beberapa tingkatan (level), yaitu level I, II-A, II, III-A, III, dan IV. Level I adalah tingkatan yang terendah, rompi balistik hanya dapat menahan peluru yang berkaliber kecil. Sedangkan mulai level III rompi balistik akan dilengkapi dengan lempengan besi, sehingga mampu untuk menahan shotgun. Dengan menggunakan material yang sekarang, makin tinggi tingkat keamanan yang diberikan, maka akan semakin tebal dan berat rompi balistik yang harus dikenakan. Dengan gambaran tersebut, aku yakin rompi anti peluru yang aku pakai saat itu dan selama penugasan di Lebanon berada pada level III atau bahkan IV, melihat beratnya yang “nggak ketulungan”.Itulah sekelumit informasi tentang rompi peluru yang aku pakai bersama rombongan selama perjalanan dari Beirut ke Naqoura, Lebanon Selatan.
Selanjutnya selama perjalanan dari Beirut ke markas Unifil di Naqoura yang memakan waktu sekitar 3 jam tersebut, tidak ada kejadian yang mengkhawatirkan rombongan kami. Di sepanjang perjalanan, dari balik kaca bus yang membawa aku dan rombongan, aku hanya melihat satu atau dua orang penduduk asli Lebanon yang pada jam-jam tersebut masih terlihat di jalanan. Satu kejadian yang menurutku agak aneh adalah ketika rombongan sudah berjalan sekitar satu setengah jam, iring-iringan mobil kami tiba-tiba berhenti. Aku lihat pengemudi busa yang orang Austria keluar dari bus, menancapkan bendera UN selebar 90 cm yang telah terikat di sepotong besi di sisi kiri bus bagian depan. Aku tanya pada sang pengemudi, “What happen, sir?”. Sang pengemudi dengan santai menjawab pendek, “ SOP sir” (maksudnya sesuai dengan Standard Operation Procedure yang telah ditetapkan Unifil). Padahal kalau dipikir terasa aneh, mobil UN jelas berbeda dengan mobil umum, berwarna putih dengan tulisan UN di sisi kanan kirinya. Kenapa harus ditambah dengan bendera UN lagi (Pertanyaan ini terjawab setelah tiba di markas Unifil, di mana pemasangan bendera itu wajib digunakan oleh setiap mobil Unifil ketika sudah memasuki Area Operation).

“Orientasi “ yang  Menjengkelkan
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Beirut, akhirnya kami tiba di Markas Unifil di Naqoura, Lebanon Selatan. Kami diturunkan di Main Gate (pintu gerbang utama) Unifil yang dijaga dengan super ketat oleh pasukan Garuda dan pasukan “Jambo “ dari Tanzania. Namun saat kami tiba di tempat ini, suasana cukup sepi dan gelap.
Saat itu kami diterima oleh seorang Perwira senior dari kontingen Garuda yang rencana tugasnya akan kami gantikan. Dengan suara berapi-api, sang Perwira menyatakan kata-kata selamat datang kepada kami semua. “ Selamat datang kami ucapkan kepada rekan-rekan, yang baru datang dari Indonesia. Inilah markas besar pasukan Unifil di Lebanon, di mana kalian akan menjadi bagian dari mereka”. Demikian sang Perwira berkata kepada kami sesaat setelah kami turun dari kendaraan dan usai pengecekan perlengkapan dan personel. “Kalian lihat di sebelah sana, itulah kamp Sudirman, di mana kalian akan bertempat tinggal selama penugasan kalian di Lebanon”. Perwira itu menunjuk perbukitan tinggi di depan kami yang saat itu cukup gelap. Sebagian di antara perbukitan tersebut terlihat kerlap kerlip lampu, tempat inilah yang ditunjuk oleh sang Perwira tadi. “ Agar kalian lebih mengenal tempat penugasan di Lebanon ini, maka kami sengaja menurunkan kalian di sini. Sedangkan untuk mencapai kamp Sudirman kalian harus berjalan kaki. Kalian mengerti!? “ . Berjalan kaki, melewati perbukitan yang menurut kami cukup tinggi dan cukup jauh? Kami semua terdiam. “ Hei, Kalian dengar, prajurit! Kalian prajurit bukan!!!!” kata-kata keras mulai terlontar dari mulut sang Perwira melihat kami hanya terdiam dan dari raut muka terpancar rasa ketidaksetujuan.  Kami semua hampir berpikiran sama, ini daerah operasi mas!, di mana profesionalisme lah yang diutamakan, bukan latihan fisik lagi seperti di pendidikan! Demikian celoteh kami dalam hati. Lagipula sang Perwira lupa bahwa di antara rombongan kami, terdapat beberapa perwira seniornya yang berpangkat Perwira Menengah yang ikut berbaris mendengarkan “kutbahnya”. Dalam hati aku berpikir, “kena nich Perwira ini!”
Perhitunganku dan rekan-rekan lain yang menilai sang Perwira penyambut rombongan sudah “keterlaluan” akhirnya terbukti. Meski aku tidak bisa “menguping” pembicaraannya, beberapa perwira menengah kami mulai “protes” kepadanya. Hanya kedengaran kata-kata, “ Siap! Siap!” (kena juga khan!!!). Meski demikian pada akhirnya atas perintah Komandan Satgas masing-masing, kami pun mengikuti perintah awal, yaitu berjalan kaki naik menyusuri jalan ke markas kami di Kamp Sudirman.

Berjalan kaki menuju kamp Soedirman

Seandainya tidak dalam kondisi capai setelah menempuh perjalanan selama puluhan jam dari Jakarta dan perjalanan darat dari Beirut- Naqoura, perjalalanan dari bawah ke atas menuju kamp Soedirman sebenarnya cukup nyaman dan indah meski suhu udara saat itu cukup dingin, seakan menusuk tulang. Tetapi karena kondisi capai ditambah beban berat rompi anti peluru dan helm baja di kepala, pemandangan indah di pagi hari sepanjang jalan menuju kamp menjadi kurang indah. Yang ada hanya rasa “mendongkol” yang dikeluarkan dengan kata-kata lirih “duancuk!!!!”.
Setelah kurang lebih 20 menit berjalan, akhirnya kami tiba juga di Kamp Sudirman. Di tempat ini kami merasakan suasana yang lebih ramah, beda jauh dengan penerimaan di tempat yang pertama. Inilah penyambutan khas militer Indonesia ketika melihat rekan penggantinya datang. Kami diterima dengan ramah dan selanjutnya masing-masing Satgas diarahkan menuju tempat yang telah ditentukan.

Catatan ke-4 : Bahasa Tarsan


Sebagai bagian dari Satgas MCOU Unifil yang personelnya dituntut untuk mahir berbahasa asing terutama Inggris baik lisan maupun tulisan, maka aku berusaha untuk mencari sasaran untuk “mengetes” kemampuan bahasa Inggrisku ketika pertama kali tiba di Beirut, Lebanon. Dan kesempatan itu terbuka lebar ketika kami sedang rehat menunggu acara penyambutan rombongan kontingen garuda oleh Dubes RI untuk Lebanon. Saat itu aku lihat sekitar 6 orang prajurit LAF (Lebanese Armed Force), tentara regulernya Lebanon yang mengawal rombongan kami sedang berbincang-bincang di belakang bus-bus kami.

Foto bersama dengan tentara LAF

Saat aku berusaha datang, tiga orang dari mereka pergi bergeser entah ke mana, sedangkan yang tiga orang masih berbincang-bincang. Sekitar lima langkah dari mereka, aku membuka perkenalan dengan mereka dengan kata-kata universal, “ Halo!” mereka menjawab juga dengan kata yang sama. “ You”re LAF?” mereka bingung saling lirik, “ You’re from Lebanese Armed Force?”. Mereka menjawab hampir serempak, “ Yes, yes, “.  Aku ngomong lagi, “ I’m from Indonesia, can you help me?” mereka mengangguk, entah mengerti atau tidak. “You know, how long the trip from Beirut to Naqoura using vehicle like that?” tanyaku sambil menunjuk bus putih bertuliskan UN yang ada di depan kami.  Setelah mendengar pertanyaan ini, mereka saling lirik dan bengong untuk menjawabnya. Aku juga mulai kebingungan, bahasa Inggrisku yang enggak bener atau mereka yang “kurang mengerti”. Akhirnya aku ulangi, “ Sorry, I ask you, how long the trip from Beirut to Naqoura using vehicle like that?” mereka tambah kebingungan. Seorang di antara mereka bahkan menjawab dengan bahasa Arab yang kurang kumengerti. Akhirnya  aku tak kehilangan akal, bahasa Tarzan pun mulai diterapkan.  Aku berkata, “ Beirut-Naqoura, three or two hours or…. “ dengan dua jari atau tiga jari tangan terangkat secara bergantian. Mereka tersenyum dan berganti mengangkat 3 jari tangan. “ So, Beirut- Lebanon …. Wahid, Isnen, Salasa, … tiga jam?” (bahasaku mulai campur aduk). Mereka malah ketawa ngakak, “ yes, yes …. Anan. Wahied, itnan, talata ….. “ mereka mengangkat 3 jari tangan. Selanjutnya menjabat tanganku dengan erat, “Ahlan wa sahlan, Lebanon”. Aku jawab “ Thank You, terima kasih, Garuda!”

Three Mohamad
Setelah perkenalan singkat tersebut, selanjutnya kami berkenalan, masih dengan menggunakan bahasa Tarzan. Dua dari tiga orang tentara LAF yang aku jumpai ini mengaku bernama Mohamad. Aku pun mengenalkan diri dengan nama yang sama. Mereka tertawa, satu di antaranya berkata, “ Three Mohammad! “ sambil mengangkat tiga jari tangan kanannya. Aku ikut tertawa dan mengangguk-angguk tanda setuju. Akhirnya meski dengan bahasa Tarzan, kami mulai berkomunikasi dengan mereka. Rekan-rekan kamipun mulai ikut nimbrung sehingga awal perkenalan kami dengan tentara LAF ini bertambah hidup dan akrab. Perkenalan tak resmi ini ditutup dengan kegiatan foto bersama

Catatan ke-3 : Tiba di Lebanon

Tiba di Bandar Udara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon

 Setelah transit satu jam di Karachi, Pakistan, Airbus A330-200 yang kami tumpangi “landing” dengan mulus di Bandar Udara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon. Jam G-Shock yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan angka 6.30 WIB, sedangkan BB Gemini hadiah ulang tahuh dari anakku menunjukkan waktu 01.30 Local Time, waktu Beirut, emenjadi zona waktu Beirut (+2) di mana ada selisih waktu 5 jam.
Keluar dari badan pesawat yang berbadan lebar tersebut, hawa dingin sudah mulai menusuk, sehingga kami pun memanfaatkan jaket tebal bermotif  loreng gurun berlogo unifil di lengan kanan, merah putih di kiri, dengan segaris bordiran nama “indonesia” di atas saku kiri dan nama identitas masing-masing personel di atas saku sebelah kanan. Di balik kaca peron kami lihat ratusan rekan-rekan kami yang mau balik ke Indonesia (dengan memanfaatkan pesawat yang sama) memberi salam dengan lambaian tangan, seakan mereka berkata, “ Selamat datang di Lebanon!”.
Setelah mengantri untuk “sekedar” menunjukkan “ini lho pasport saya!” kepada dua orang petugas imigrasi bandara yang didampingi seorang Perwira Indonesia dan Polisi Militer Unifil yang selanjutnya saya ketahui dari Tanzania, kami akhirnya bisa keluar dari area bandara. Selanjutnya di luar bandara, sudah menunggu puluhan bus eksekutif  warna putih bertuliskan United State. Aku dan rekan-rekan naik kendaraan ini, kemudian berjalan secara beriringan (konvoi) dengan kawalan PM Unifil dari Tanzania menuju tempat penjemputan/ pengantaran seluruh personel Unifil ketika terjadi rotasi penugasan yang jaraknya kurang lebih 5 km dari bandara Rafic Hariri.

Disambut Dubes

Apel kesiapan sebelum disambut Dubes

Pada 30 Desember 2012 pukul  02.00 LT, rombongan kami disambut oleh Duta Besar (Dubes) RI untuk Lebanon  Dimas Samodra Rum. Dalam arahannya, pertama-tama Dubes mengucapkan selamat Datang kepada rombongan kami. Selanjutnya Dubes mengharapkan, seluruh personel Satgas segera menyesuaikan diri dengan daerah penugasan. Dubes juga berpesan agar kami dapat mempertahankan citra positif Kontingen Garuda yang telah dibangun oleh Kontingen Garuda sebelumnya.
Dalam bagian lain arahannya, Dubes berjanji untuk membantu semaksimal mungkin kebutuhan Satgas terutama dalam hal proses perijinan keluar Lebanon (saat masa cuti ke tanah air maupun cuti umroh). “ Pintu Dubes terbuka lebar untuk kalian semua. Akan kami bantu semaksimal mungkin keperluan dan kepentingan kalian selama berada di daerah penugasan Lebanon ini” demikian janji Dubes kepada kami.
Pada akhir arahan, Dubes mengucapkan selamat bertugas kepada seluruh personel satgas Kontingen Garuda dan sekali lagi berpesan untuk menjaga dan meningkatkan prestasi pasukan Garuda dalam misi Unifil di lebanon.
Usai arahan tersebut, selanjutnya kami naik kendaraan dan secara berkonvoi bergerak menuju kamp-kamp yang akan menjadi markas kami selama penugasan di lebanon. Sebagian bergerak ke markas Indobat di Adshit Al Qusayr, Lebanon Selatan dan sebagian lagi termasuk di dalamnya  aku yang menjadi bagian dari Satgas MCOU XXX-C, Satgas FHQSU (Force Headquarter Support Unit), FPC (Force Protector Company)  dan Cimic (Civilian Military Coordination)  bergerak ke markas besar Unifil di Naqoura di mana Kamp Sudirman yang menjadi markas kami berada di dalamnya.
                                                                    ***

Catatan ke-2 : Menikmati Kenyamanan Airbus A330-200


Meskipun hati ini masih sedih melihat malaikat kecilku masih dirawat di Rumah Sakit Marinir Cilandak, namun akhirnya aku putuskan untuk tetap dalam rombongan sorti pertama terbang ke Lebanon. Dan pada 30 Nopember 2012, pukul 14.45 WIB,  pesawat Airbus A330-200 Jordan Aviation yang nongkrong di landasan pacu Halim PK mulai “take off” membawa rombongan kontingen garuda sorti pertama (rencana 5 sorti) ke daerah penugasan di Lebanon di mana di antara 253 penumpang, aku termasuk di dalamnya.

Situasi di dalam A330-200 Jordan Aviation

Adalah sesuatu yang cukup menarik pertama terbang dengan pesawat jenis ini. Jauh beda dengan si burung besi Hercules C-130  yang sering mengangkut kami dalam sebuah penugasan di dalam negeri. Kalau berada di Hercules, telinga ini seakan masih ditembusi suara gerengannya yang membisingkan telingan meskipun telingan sudah “disumpel” dengan earphone, namun di Airbus ini kenyamanan mulai sedikit terasa (maklum penulis belum merasakan kenyamanan dengan penerbangan lain, sekelas Garuda misalnya).
Meski nyaman berada di dalamnya, tetapi saya yang kebetulan duduk dekat jendela di deretan nomor 7 dari depan pada ketinggian sekitar 5000 feet sedikit ngeri bila melihat sayap kanan pesawat yang senantiasa bergoyang-goyang, naik turun seakan sayapnya “mau patah” ketika melewati gumpalan awan tebal maupun angin yang cukup kencang. Tetapi saya yakin dengan kehandalan pesawat jenis ini.
Menuru informasi yang saya terima dari beberapa sumber (kebetulan saya hobi baca), varian Airbus A330-200 ini dikembangan untuk menyaingi kehandalan Boeing 767-300ER, yang pada saat itu giat melakukan penetrasi pasar. Pengembangan varian ini dilakukan karena penjualan A330-300 yang kurang menggembirakan, serta permintaan maskapai akan pesawat yang lebih kecil dan jarak yang lebih jauh. A330-200 mirip dengan A340-200 atau merupakan versi pendeknya A330-300. Dengan penjualan A340-200 yang kurang (hanya 28 pesawat yang dibuat), Airbus memutuskan untuk menggunakan badan pesawat A340-200 dengan sayap dan mesin A330-300. Secara signifikan memperbaiki ekonomi pesawat dan membuat model tersebut makin populer daripada varian empat mesin. sirip vertikalnya lebih tinggi daripada A330-300 untuk mengembalikan efektivitasnya karena pendeknya badan pesawat. Varian ini memiliki kapasitas bahan bakar tambahan dan, seperti A330-300, memiliki MTOW 233 ton. Jarak tempuh dengan 253 penumpang pada konfigurasi tiga kelas adalah 12,500 km (6,750 mil nautikal).
Itulah sekilas pesawat Airbus A330-200 Jordan Aviation yang kami tumpangi dari Halim PK Jakarta menuju Beirut, Lebanon. Perjalanan Jakarta-Beirut menurut perkiraan sekitar 10-12 jam. Suatu perjalanan yang cukup melelahkan bagiku seperti naik kereta api Argo Bromo Anggrek Gambir-Pasar Turi.

Dasar “Katrok”
Ada pengalaman menarik selama menumpang burung besi jenis A330-200 ini. Ceritanya ketika kami baru terbang kurang lebih 3 jam di mana saat itu sudah mulai “suntuk”  karena monitor TV di depan kami hanya menampilkan “iklan” biro perjalanan serta monitor kedudukan pesawat. Saat itu, pesawat termonitor baru lepas dari gugusan kepulauan Indonesia. Dua pramugari pesawat yang lumayan cantik khas wanita Timur Tengah didampingi dua “pramugara” pesawat mulai membagikan boks makanan yang terbungkus plastik sebagai menu makan malam kami saat itu. Karena saking laparnya tanpa “ba-bi-bu” kami langsung membukanya. Bungkusan pertama yang kami cari, tentu bisa ditebak, nasi. Yach di dalamnya memang tersedia satru kotak berisi nasi putih panas yang setelah kami amati agak berbeda dengan nasi putih khas Indonesia. Kalau nasi putih Indonesia besar-besar dan tidak terlalu putih, tapi nasi yang ada di hadapan kami saat itu adalah nasi putih bersih yang bentuknya kecil-kecil, lembut, lonjong. Di sampingnya ada potongan kecil-kecil daging panas (saya yakin daging sapi) yang dimasak ala masakan rendang khas Indonesia. Karena lapar, maka yang kami “sikat” makanan ini terlebih dahulu.
Setelah makanan pokok ludes masuk perut, aku dan seorang Perwira dari Satgas Military Police Unit (MPU) yang duduk di sebalhku, mulai beralih ke makanan lain yang ada di dalam boks. Di situ masih tersisa satu kotak sayuran, sepotong daging panggang diiris tipis, sepotong roti, salad, sauce, tusuk gigi dan sebungkus tisu. Aku dan Rekanku yang dari MPU ini mulai tengok ke rekan-rekanku yang duduk di sebelah kiri, terlihat 4 orang yang duduk di posisi tengah dan dua orang di ujung sebelah kiri tempat duduk kami, sedang enak menikmati sayuran dalam kotak tadi dengan potongan daging. Melihat mereka itu, aku lihat sang Perwira MPU akhirnya mengikuti memakan sayuran campur daging dalam kotak itu. Secara otomatis aku pun mengikuti mereka. Mengambil kotak sayuran dan seiris daging, menambah salad ditambah sauce di atasnya, mengaduknya lalu mencoba rasa sayuran itu. Pertama merasakan sayuran yang merupakan campuran potongan kecil wortel, kubis dan lain-lain serta daging yang diiris tipis, bagiku terasa membingungkan dan menimbulkan pertanyaan dalam hati, “ ini makanan penutup model apa?” sayuran dengan campuran salad dan sauce plus daging. Meski demikian karena masih terasa lapar, aku teruskan juga menyantap “makanan penutup” tersebut.
Karena bingung dengan cara makan teman-teman yang asal “nyaplok”,  sembari menghabiskan sisa sayuran, aku mengamati kembali sisa makanan yang ada di dalam boks. Di situ ada roti dan dibaliknya terdapat sebuah pisau kecil terbuat dari plastik yang terbungkus kertas tisu. Melihat ini aku tertawa ngakak dalam hati. Seharusnya roti tawar yang ada di dalam boks kita ambil terlebih dahulu, kita belah pakai pisau yang tersedia, dan barulah diatasnya kita taruh irisan daging panggang dan  potongan sayuran plus salad dan sauce secukupnya, lalu ditutup dengan roti belahan satunya, jadilah “humberger”.
Setelah memakan sayuran, aku lihat rekan-rekan di sebelah kiri mulai bisik-bisik setelah mulai mencicipi roti tawar yang merupakan makanan terakhir kami. Rasanya memang “lebih hambar” dari rasa sayuran tadi, karena namanya roti tawar yach, tanpa rasa. Yang salah siapa? pihak maskapai yang setengah-setengah menyuguhkan “humberger”sehingga kami yang diharuskan menjadi “kokinya” atau memang kami sendiri yang “katrok” (kampungan/ ndeso dll)? Jawabnya, bisa anda tebak sendiri.

Catatan ke-1 : Berangkat ke Lebanon


Pemberangkatan Sorti pertama Kontingen Garuda ke Lebanon dari Halim PK, Jakarta



 Catatan Kecil Dari Lebanon “ ini aku awali dari catatan awal keberangkatanku  ke Lebanon. Seperti diketahui aku adalah salah satu dari sekitar 1200 personel TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda yang ditugaskan ke Lebanon dalam misi United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil) 2012-2013. Aku tergabung dalam unit kecil berjumlah 18 personel TNI yang dikenal dengan Satgas Military Community Outrech Unit (MCOU) XXX-C. Dari 18 personel TNI ini 15 orang adalah dari TNI AD, 2 personel TNI AL (termasuk aku dari Korps Marinir TNI AL) dan 1 orang dari Paskhas TNI AU.  MCOU ini bertugas merencanakan dan melaksanakan tugas pendekatan kepada masyarakat secara face to face (bertatap muka) dengan didukung media lain yang telah ditentukan Unifil.

Salah satu kegiatan di MA
Sebelum diberangkatkan ke daerah penugasan, kami “dikarantina” selama kurang lebih 1 bulan di Marshalling Area (MA), kawasan Halim, Jakarta. Di areal yang menjadi “daerah persiapan” bagi setiap pergerakan pasukan yang menggunakan pesawat ini, kami mendapatkan puluhan perlengkapan yang sebagian diantaranya bagi kami merupakan perlengkapan yang relatif baru kami kenal. Ada dua stel pakaian doreng gurun dengan kualitas yang cukup bagus dan model jahitan yang berbeda dengan doreng TNI pada umumnya. Ada juga jaket doreng dengan corak gurun yang cukup tebal yang kalau dipakai membuat badan kami bertambah “mekar” karena tebalnya. Ada pula 3 stel long jhon (baju ketat yang sering dipakai ibu-ibu untuk"daleman" baju muslim) yang kalau dipakai persis Hanoman,  tokoh kera dalam cerita pewayangan. Demikian pula untuk tutup kepala, kami mendapatkan topi bulu tebal mirip topi bulu tentara mongol ditambah dengan “kerpus” ala ninja. Untuk perlengkapan sehari-hari lainnya, kami juga dibekali dengan “lips gloss” (mirip “lipstik” untuk pemanis bibir wanita) untuk mengantisipasi bibir kami yang pecah-pecah. Sesuai dengan informasi yang aku terima, bekal sebagian peralatan ini adalah untuk menjaga kesiapan dan kebugaran pasukan Garuda Indonesia dalam menghadapi kondisi wilayah penugasan yang kebetulan sudah mulai memasuki musim dingin (winter).

Selain menyiapkan sejumlah peralatan yang akan kami bawa ke daerah pnugasan, di Marshalling Area ini juga kami tetap menyiapkan beberapa keperluan lain yang berkaitan dengan lingkup penugasan kami di Lebanon. Selain itu sembari menunggu jadwal keberangkatan, kami tetap tidak lupa untuk melaksanakan kegiatan pokok yang telah ditetapkan komando atas termasuk mengingat-ingat kembali materi yang telah kami dapatkan ketika berada di PDT (Pre Deployment Training) di  markas PMPP (Pusat Misi Pemeliharaan Dunia) TNI, kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Waktu tunggu di MA yang terkesan "membosankan"
Setelah beberapa minggu di MA, kami merasa “waktu tunggu”  pemberangkatan pasukan, bagi kami serasa “membosankan dan menjenuhkan”, apalagi karena informasi jadwal penerbangan yang tidak menentu, “sering diundur”. Untung kebosanan itu sedikit mencair setelah “gaji pertama” (uang saku bulan pertama penugasan luar negeri) cair sehingga sebagian anggota dapat lebih mempersiapkan peralatan pribadi yang belum sempat “dibeli” untuk bekal di daerah penugasan seperti beli Laptop untuk main chat video/ skype dengan keluarga di Indonesia, hingga beli bumbu-bumbu dapur untuk mengantisipasi masakan di Lebanon yang katanya hambar atau “kurang bumbu”.

Setelah menikmati “ suka duka” tinggal di MA dari tanggal 9 Nopember 2012, pada 30 Nopember 2012, chalk (sorti) pertama penerbangan akhirnya diberangkatkan dari Halim Perdana Kusuma Jakarta. Aku termasuk 9 orang dari Satgas kami yang masuk dalam sorti pertama ini. Sedangkan sisanya tergabung dalam sorti ketiga.

 

Malaikat Kecilku

Vio (3,5), malaikat kecilku
Hari keberangkatan kami pada 30 Nopember 2012 pukul 14.00 WIB, disambut gembira oleh rekan-rekan kami, karena “hari membosankan dan menjenuhkan” telah berakhir. Kegembiraan ini juga aku sambut dengan suka cita. Namun kegembiraan ini aku tunjukkan sepintas, karena betapa tidak, saat hari keberangkatan, malaikat kecilku (Vio Sandya Yoghama, anak ke-2/ 3,5 th) tergolek lemah di atas sprei putih Rumah Sakit Marinir Cilandak, Jakarta. Menurut dokter yang menangani, dari hasil cek darah di laboratorium, leukositnya naik. “ Kemungkinan ada luka dalam saluran pencernaannya “ demikian kata dokter jaga yang pertama menangani malaikat kecilku saat pertama kali dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

Meski “tak tega” meninggalkan malaikat kecilku yang selalu menjadi pelita hatiku tergolek lemah, tak berdaya di rumah sakit, namun dengan mengucap “bismillahirokhman nirokhim” akhirnya kaki ini melangkah pula dengan sedikit terseok-seok menaiki tangga pesawat Air Bus A330-200 milik Jordan Aviation yang akan membawa kami dari Indonesia ke Lebanon. Saat "burung besi"  lepas landas, aku berdoa, “ Ya Allah, sembuhkan penyakit malaikat kecilku, dan berilah kami keselamatan saat mengikuti penerbangan Jakarta- Lebanon”. Usai berdoa, hatiku sedikit tenang dan lega. Aku juga sangat berterima kasih kepada para dokter Rumah Sakit Marinir Cilandak yang menenangkan hati, “ Jangan khawatir pak, silahkan bapak berangkat tugas ke Lebanon, percayakan anak bapak dalam perawatan kami”. Terima kasih yang Allah!. 
(Catatan: beberapa hari setelah tiba di daerah penugasan, Vio akhirnya sembuh dan bisa keluar dari Rumah Sakit Marinir CIlandak)
                                                                ***