Thursday, October 10, 2013

Catatan ke-56 : Sulitnya “Menghitung” Hari



Oktober .... Nopember  ..... Desember...... pulang kembali ke tanah air! .........
 Menghitung hari, detik demi detik. Masa kunanti apakan ada. Jalan cerita kisah yang panjang. Menghitung hari …. Itulah satu bait syair lagu dari penyanyi kondang Krisdayanti. Dari syair lagu yang bermakna romantis itu, aku bukan mau menceritakan tentang kerinduanku atau kegundahan rekan-rekanku terhadap seseorang yang dinanti-nanti nun jauh di sana, melainkan sedikit mengekspresikan apa yang aku rasakan dan juga rekan-rekan Satgas yang lain ketika berbicara masalah waktu di tempat penugasan kami saat ini, yakni Lebanon.
Seperti diketahui, aku dan juga sebagian rekan-rekan dari Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit)  tiba di daerah penugasan Lebanon tepat ketika kalender menunjukkan angka satu di bulan Desember 2012. Kalau sekarang sudah masuk di bulan Oktober 2013, di tanggal yang sama pula yakni tanggal satu maka tak terasa sudah sepuluh bulan aku dan rekan-rekanku berada di daerah penugasan. Suatu waktu yang terbilang “cukup lama” bagiku untuk meninggalkan keluarga tercinta di tanah air.
Dengan “kontrak” penugasan yang berdurasi satu tahun, maka aku dan rekan-rekan Satgas yang tergabung dalam Kontingen Garuda akan menghabiskan waktu dua bulan lagi ke depan hingga Desember 2013 sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Dan masa/ waktu yang dua bulan lagi inilah yang aku kaitkan dengan penggalan syair lagu sebagai pembuka catatan kecil ini.
Sebagaimana pengalamanku dalam sejumlah penugasan, bulan-bulan pertama dan akhir penugasan merupakan bulan-bulan yang cukup rawan yang perlu diwaspadai oleh setiap personel. Sedangkan berbicara masalah waktu, bulan-bulan itu pula boleh dikatakan sebagai bulan di mana minggu dan harinya seakan berjalan amat lambat. Sebagai contoh, pada bulan pertama penugasan dengan durasi penugasan satu tahun, maka hari-hari akan selalu dianggap lambat perputarannya, “ Hari ini Senin, tanggal 15 Desember, baru 15 hari penugasan, kurang 350 hari lagi! “ demikian celoteh sebagian rekanku sembilan bulan lalu yang waktu itu sempat juga membuat aku merenung, “ Betul juga baru 15 hari, kurang 350 hari atau sebelas bulan lagi untuk bisa kembali ke tanah air!”. Namun perasaan “lambatnya” sang waktu ini akan terhapus dengan sendirinya tatkala kami sudah beradaptasi dengan situasi dan kondisi daerah penugasan termasuk mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Dan akhirnya bulan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya berjalan dengan cepat, di mana kami mulai menikmati pekerjaan dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi menjelang akhir penugasan, perasaan yang muncul saat awal penugasan pada umumnya “kambuh” kembali. Waktu pun seakan kembali berjalan dengan lambatnya, hari, minggu, bulan, terasa enggan untuk berganti.
Perasaan lambatnya sang waktu terutama untuk bulan-bulan akhir penugasan umumnya dapat dimaklumi karena beberapa hal seperti munculnya kejenuhan dalam melakukan aktifitas sehari-hari yang “itu-itu saja” dan juga mulai timbulnya rasa “kangen” yang berlebih terhadap keluarga mengingat dalam hitungan hari akan bertemu dengan mereka. Pada kondisi ini maka seakan betapa sulitnya “menghitung hari”, Senin … Selasa …. Rabu …. dan seterusnya, kembali ke Senin ….. lama sekali!” Inilah bagi mereka yang terlibat dalam lingkaran “menghitung hari” menunggu saat-saat kembali ke tanah air.

Meningkatkan Aktifitas Olah Raga
Untuk menghilangkan kejenuhan setelah sepuluh bulan di daerah penugasan, terutama untuk membuang perasaan lamanya perputaran sang waktu, aku dan rekan-rekan Satgas memilih melaksanakan aktifitas olah raga. Beberapa jenis olah raga favorit yang dipilih oleh rekan-rekanku adalah  joging, lari, renang, voli, tenis meja, tenis lapangan, volley ball, voli pantai, futsal, bulutangkis dan juga bina raga.
Fasilitas untuk semua jenis olah raga tersebut sebagian tersedia di Soedirman Camp, yang menjadi markas kami dan sebagian lagi di beberapa area Markas Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Bagi yang hobi lari, tersedia track yang cukup lumayan tantangannya dengan jalanan aspal naik turun yang terbentang sepanjang area Camp Soerdiman di Grren Hill hingga Camp Tara di kawasan Unifil HQ. Untuk tenis meja, tersedia 3 meja untuk latihan di Soedriman Camp.
Sebagian fasilitas OR di Unifil HQ Naqoura
Untuk mereka yang hobi Futsal, selain bisa memanfaatkan lapangan yang ada di Soedirman Camp juga dapat memanfaatkan lapangan Futsal Unifil. Demikian pula untuk renang dan bina raga (Gymnastik), Unifil menyiapkan sarana untuk kedua jenis olah raga ini berdampingan dan lokasinya persis di pinggir pantai Naqoura. Untuk penggemar tenis lapangan, disediakan pula 3 lapangan tenis yang cukup mewah dengan lokasi yang juga berada di pinggir pantai, berdampingan dengan Rubb Hall yang menyediakan 5 lapangan bulu tangkis bagi mereka yang hobi dengan olah raga ini.
Semua fasilitas olah raga yang tersedia di Soedirman Camp maupun di kawasan Unifil HQ tersebut dapat dimanfaatkan dengan gratis oleh seluruh personel Unifil mulai pagi, siang hingga malam hari, menyesuaikan jadwal yang ada di masing-masing fasilitas olah raga tersebut. Khusus untuk rekan-rekan Satgas dari Kontingen Indonesia, kegiatan olah raga ini umumnya dilakukan setelah kegiatan harian usai di sore maupun malam hari. Sedangkan di hari Minggu, umumnya di lakukan pada pagi, sore dan juga malam hari.
Dari semua jenis olah raga dengan fasilitas yang tersedia tersebut, aku pribadi lebih suka memilih olah raga bulu tangkis yang menurutku lebih banyak mengeluarkan keringat bila dimainkan secara perorangan. Di lingkungan Unifil, olah raga yang aku sukai ini juga tidak sekedar menjagi hobi, akan tetapi sekaligus menjadi olah raga prestasi. Pada Juni 2013 lalu, aku berhasil meraih medali perak untuk kelompok single putra prestasi pada Turnamen Bulutangkis Unifil yang diikuti pemain dari sejumlah negara kuat bulutangkis seperti Cina, Korea, Malaysia dan India serta tentu saja sejumlah pemain dari Indonesia (lebih lengkapnya lihat Catatan ke-37, http://lebanonku.blogspot.com/2013/06/catatan-ke-37-raih-medali-perak.html ).
Untuk bermain olah raga bulu tangkis ini,  aku bergabung dengan rekan-rekan dari Satgas FPC (Force Protection Company) dan FHQSU (Force Headquarter Support Unit) dengan jadwal latihan sore hari dari jam lima usai pulang kantor hingga menjelang Maghrib. Pada saat-saat tertentu, untuk meningkatkan semangat latihan, pemain-pemain terbaik dari kami yang berada di kawasan Naqoura, menyelenggarakan turnamen sendiri dengan hadiah dari “iuran” masing-masing pemain. Hadiahnya pun diusahakan untuk “makan bersama” sehingga dapat lebih meningkatkan kerjasama dan persahabatan di antara kami.

Menghadapi Masa Kritis
Selain melakukan kegiatan olah raga, aktifitas penting lain yang dapat “membunuh” kejenuhan dan bisa “menambah” cepatnya perputaran sang waktu adalah dengan tetap fokus pada pekerjaan sehari-hari. Dan inilah hal penting yang kami waspadai dalam menjalani misi PBB di Lebanon menjelang akhir penugasan. Ada pepatah yang sering menjadi pedoman kami dalam menjalankan suatu penugasan, “ Masa awal dan menjelang akhir penugasan adalah masa yang paling kritis”. Maksudnya adalah bahwa masa-masa itu terutama menjelang akhir penugasan mengandung lebih banyak tantangan. Pada masa ini, karena sudah dianggap biasa dalam menghadapi suatu pekerjaan, sebagian personel umumnya kurang memperhatikan kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga pada gilirannya justru memunculkan masalah baru yang merugikan diri sendiri dan juga satuan.
Melihat risiko besar yang muncul pada bulan-bulan terakhir penugasan maka sesuai kesepakatan, aku dan rekan-rekan Satgas tetap memfokuskan diri pada pekerjaan dan tugas pokok masing-masing. Semua tugas yang menjadi makanan kami sehari-hari tetap kami kerjakan dengan baik dan berusaha menghindari kesalahan sekecil apapun.
Kunjungan ke sekolah, dapat membunuh "kejenuhan"
Khusus untuk Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit) di mana aku bertugas, bulan-bulan akhir penugasan (Oktober-Desember) justru menjadi bulan yang “Super Sibuk” dilihat dari intensitas kegiatan kunjungan. Bila bulan-bulan sebelumnya, kunjungan Tim Tactical Community Outreach (Tcot) hanya terfokus pada kunjungan ke Local Leader dan Local People, maka pada bulan-bulan akhir penugasan itu, lokasi kunjungan kembali seperti semula yaitu ditambah dengan kunjungan ke sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh area operasi Unifil (Juni-September, seluruh sekolah di Lebanon libur musim panas-Summer Holiday).
Padatnya jadwal kunjungan tersebut, diperkirakan dapat membunuh “kejenuhan” dan bisa melewatkan “masa kritis” kami di akhir penugasan. Pertemuan-pertemuan kami dengan anak-anak TK dan SD saat kunjungan ke sekolah menjadi daya tarik tersendiri bagi kami, apalagi bila teringat senyum dan ketawa mereka ketika menyambut kedatangan kami dan  juga melihat kegembiraannya ketika mendapat “hadiah” yang kami bawa, sungguh sesuatu yang sulit dilupakan. Inilah salah satu faktor yang akhirnya membuat kami tetap optimis untuk tetap bekerja dengan maksimal hingga akhir penugasan, sehingga tidak ada kesulitan bagi kami untuk “menghitung hari”.

***

Wednesday, October 9, 2013

Catatan Ke-55 : “Indonesian People Crazy!”



Garuda sebagai Lambang Negara kebanggaan Indonesia

 Siapa pun yang mengaku orang Indonesia, bila mendengar kalimat dalam judul tersebut di atas apalagi dilontarkan oleh orang “bule” tentu akan marah, tersinggung dan buntutnya bisa jadi si bule yang mengucapkan kalimat itu akan “dilabrak” habis-habisan, tanpa kompromi sebagai bentuk berontaknya “nasionalisme” yang melekat pada jiwanya. Akan tetapi aku sebagai “Indonesia tulen” tidak demikian menanggapinya. Bukan karena aku sudah tak peduli lagi dengan apa itu yang namanya nasionalisme, bukan pula karena aku “takut” karena yang mengucapkan kalimat itu bule bertubuh tinggi besar.  Bukan itu! Aku tidak marah karena itu hanyalah sebuah “majas”, sebuah gaya bahasa, sebuah majas “interjeksi preterito”, sebuah ungkapan hati seseorang  berupa penegasan tentang sesuatu dengan menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Aku pun tidak marah karena kalimat lanjutannya justru menambah kebanggaanku terhadap Indonesia, “ Wow… Indonesian people crasy!  ….. wonderfuf, fantastic …..  …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it".  Nah, dengan melihat kalimat lengkapnya si bule ini, semoga anda akan “mengampuni” aku yang tidak marah dengan kata-kata si bule tadi ” Indonesian people crazy!”.
Sebaris kalimat ungkapan tersebut aku rekam dalam memori ingatanku ketika suatu sore, di hari Minggu, di akhir bulan September 2013 lalu, aku bertemu dengan seorang kenalanku, seorang Officer dari sebuah negara di kawasan Eropa yang kini sama-sama sedang menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. Aku kenal dengan sang Officer beberapa bulan sebelumnya ketika mengikuti program Induction Training yang dilaksanakan Unifil (United Interim Force In Lebanon).  Aku bertemu dengannya sore itu ketika aku baru keluar dari pagar markasku di Soedirman Camp, jalan kaki, dengan pakaian olah raga lengkap mau cari keringat, bermain bulutangkis di Unifil Rub Hall seperti kebiasaanku di waktu senggang atau hari libur.
Perjumpaan yang tak terduga itu akhirnya melahirkan sedikit perbincangan yang ujung-ujungnya ia menunjuk sebuah patung garuda raksasa yang saat itu kelihatan dari jalanan pintu gerbang yang sedang digarap rekanku dari Satgas Force Protection Company (FPC). Dan kalimat-kalimat itulah yang terlontar dari mulutnya sembari geleng-geleng kepada, ” “ Wow… Indonesian people crasy!  ….. wonderfuf, fantastic …..  …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it".  Sebuah kalimat pujian yang membuat kepalaku sebagai warga Indonesia seakan “membesar” sehingga aku hanya menanggapinya dengan singkat, “ Thank you for your apreciation and your praise, Sir!” .  Selanjutnya setelah “basa basi” mengucapkan salam perpisahan, aku pun melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan aspal berkelok-kelok di Green Hill, Naqoura, South Lebanon.

Kelebihan Tentara Indonesia
Obyek utama yang menjadi fokus perbincangan kami dalam perjumpaan dengan rekanku di atas adalah terkait dengan pembangunan sebuah patung Garuda raksasa di sisi tengah lapangan upacara Soedirman Camp. Pembangunan ini sebenarnya sesuatu yang menurut kami “wajar” dan mungkin sudah “biasa” bila itu dikerjakan di tanah air, di masing-masing satuan TNI yang ada di Indonesia, sebuah pembangunan monumen/ patung yang umumnya akan dijadikan “maskot” satuan atau lambang satuan. Akan tetapi ini benar-benar menjadi sesuatu yang luar biasa karena dikerjakan di negeri orang, di negeri yang rentan konflik dengan Israel yang bernama Lebanon. Uniknya lagi, pembangunan patung ini dikerjakan oleh prajurit TNI, bukan dibuat oleh profesional, seorang pematung, pemahat atau ahli pembuat monumen. Pun “penggarapannya” dengan mengorbankan waktu senggang mereka, waktu “rehat” dari kesibukan menjaga perdamaian di bumi Lebanon. Dan hasilnya, benar-benar luar biasa, sebuah patung garuda raksasa yang cukup megah dengan warna bulunya yang hitam, leher dan ekornya putih dan paruhnya kuning keemasan.
Sebuah “ketidakwajaran” dan “ketidakbiasaan” dalam pembuatan patung garuda raksasa itulah yang diyakini menimbulkan interjeksi yang bernada positif penuh dengan kekaguman dan ketakjuban atas kreatifitas tentara Indonesia. “Luar biasa, kok sempat-sempatnya membangun patung sebesar itu di daerah penugasan” demikian mungkin ungkapan kata hati mereka yang salah satunya sudah dilontarkan rekanku, sang Officer tadi. Maklum, seperti diketahui mereka itu memang umumnya benar-benar “terbelengu” pada kata-kata profesional yang melekat pada profesinya sebagai militer. Tugasnya itu yach itu, tidak ada embel-embel lain, semisal tambahannya ini dan itu juga!. Berbeda dengan tentara Indonesia yang sudah “terbiasa” multi fungsi dan multi tugas sebagai pengejawantahan tangan “yang tidak mau diam” alias gatal kalau tidak berkreasi dengan sesuatu yang unik, terasa “pusing”, meski itu harus mengorbankan waktu istirahat.
Proses pembuatan
Patung garuda raksasa yang dibangun di Soedirman Camp hanyalah satu dari sekian banyak kreasi tangan-tangan terampil tentara Indonesia selama menjalankan misi penugasan di lebanon. Patung yang hampir sejenis, beberapa tahun sebelumnya dibangun pula di Markas Batalyon Mekanis Indonesia di Adchit Al Qusyair. Belum lagi dengan kreasi para prajurit Indonesia dalam menata lingkungan korimek berupa pembangunan taman-taman cantik nan asri sebagai sesuatu yang sebenarnya agak “ganjil” bila dibandingkan dengan lingkungan korimek sejumlah markas tentara dari negara lain yang umumnya “gersang” tidak tersentuh tangan apalagi dibangun taman indah dengan tanaman hiasnya.
Menurut Serma Muhidin, ketua tim pembuatan patung garuda di Soedirman Camp, ide pembuatan patung berasal dari Komandannya, “ Ide awal pembuatan patung ini datang dari Komandan kami, Komandan IndoFPC Letkol Yuri Elias Mamahi. Awalnya ia menginginkan sesuatu yang akan dijadikan maskot markas IndoFPC di Lebanon, dan pilihannya adalah pembuatan patung burung garuda yang juga menjadi lambang negara Indonesia, dan ini sesuai pula dengan julukan kita di sini sebagai pasukan Garuda “ kata sang Serma awal Oktober 2013 lalu, saat aku memiliki kesempatan berbincang-bincang dengannya di sela-sela kesibukannya memimpin “polesan” terakhir terhadap karya sensasionalnya itu.

Tanpa Pola, Bahan Seadanya, Hasil Maksimal
Sulit dibayangkan bila ingin merealisasikan sebuah “proyek besar”, akan tetapi hanya dengan pola atau gambar sederhana. Dan inilah yang dilakukan prajurit FPC dalam menggarap patung garuda raksasa. “Boro-boro” memanfaatkan keunggulan teknologi komputer seperti penggunaan Adobe Ilustrator atau 3D Max atau software yang lain dalam pembuatan pola atau gambar konsepnya, bahan dasarnya pun “seadanya”, memanfaatkan barang bekas di sekeliling Kamp.
Pada langkah awal pembuatan, sang Komandan FPC yang terkenal memiliki ide-ide kreatif ini mengungkapkan gambaran awal bentuk sang Garuda yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan pembuatan pola sederhana, mengandalkan secarik kertas dengan coretan di sana-sini yang setiap waktu “gampang” diubah-ubah, sesuai petunjuk sang Komandan atau mengikuti “feeling” sang pembuat gambar. Berikutnya direkrutlah sebanyak lima orang yang “dianggap” mampu mengeksekusi proyek tersebut. Dan pilihan jatuh kepada Serma Muhidin dibantu keempat rekannya yakni Sertu Gunawan, Sertu Ibnu, Kopda Nainggolan dan Kopda Simson S.  Team ini disebut “team khusus”, bukan karena kemampuan dan pengalaman mereka dalam menangani “proyek khusus” tersebut, melainkan karena mereka sebagian justru berkualifikasi sebagai anggota pasukan khusus TNI, yang merupakan ciri khas pasukan IndoFPC Unifil.
Setelah tim terbentuk, maka mulailah proyek tersebut dikerjakan secara maraton dari jam sembilan pagi hingga jam satu siang, istirahat makan siang, dilanjutkan lagi pukul satu hingga pukul enam sore. Dan itu dikerjakan secara bergantian menyesuaikan waktu senggang team pembuat. Maklum, mereka ini tetap mengutamakan tugas pokok sebagai anggota IndoFPC yang bertanggung jawab terhadap keamanan Unifil HQ Naqoura, jadi kalau saat “jatah” mereka hasrus melakukan patroli, yach mereka harus ikut patroli dulu, baik jalan kaki maupun menggunakan kendaraan tempur Anoa produksi Pindad. Usai tugas pokok terlaksana, barulah mereka lepas baju dan perlengkapan tempur, menggantinya dengan seragam “tukang batu”, bersenjata cangkul, sendok semen dan mesin las.
Untuk bahan pembuatan patung garuda dengan ukuran sayap mengembang 9 meter dan tinggi sekitar 5 meter ini juga “seadanya” dan cukup unik, “ Untuk bahan kami peroleh dari barang-barang bekas yang ada di lingkungan korimek. Besi-besi sebagian kami peroleh dari barang yang sudah tak terpakai, sedangkan untuk bagian bulu-bulunya kami potong-potong dari bekas potongan atap korimek berbahan seng yang sudah tak terpakai” tutur Serma Muhidin yang diiyakan rekan-rekan timnya. 
Menjawab kritikan dengan hasil yang luar biasa
Dengan pola “tak jelas” dan bahan seadanya tersebut, pada awalnya memang ada rasa pesimis. Apalagi ketika suatu ketika seorang “engineer” kawakan dari Unifil menyambangi proyek tersebut dan akhirnya melontarkan sebuah kritikan pedas, “Dengan pola tak jelas begini, kalian bisa membuat proyek sebesar ini? You’re crazy!” demikian cerita Muhidin, mengingat kata-kata “sang pakar” yang langsung disampaikan kepadanya saat awal pembuatan patung.
Semua kritikan itu akhirnya menjadi cambuk panas yang berharga bagi team untuk membuktikan, bahwa “Indonesia Bisa!” . Dan dengan “zero experience” tim khusus yang sebagian berasal dari pasukan khusus TNI ini akhirnya tetap melakukan eksekusi. Akan tetapi, karena targetnya sebuah “patung garuda raksasa”, hasilnya pun tidak sesuai dengan kualifikasi mereka sebagai prajurit khusus TNI. Mereka “gagal” melakukan eksekusi “sasaran” dalam hitungan menit sesuai “pakem universal” yang berlaku dalam operasi “serbuan kilat” pasukan khusus. Mereka ini justru “santai”, tidak terburu-buru oleh waktu dan akhirnya memakan waktu eksekusi yang cukup lama, empat  bulan!
Empat dari lima personel "Team Khusus"
Meskipun menyita waktu dan rekor terlama dalam pelaksanaan “operasi khusus “ oleh prajurit khusus, namun bukan dari kacamata itu yang  yang kita nilai, kita lihat jenis target dan hasilnya yang memang sesuatu yang seakan “imposible menjadi posible”, akan tetapi hasilnya, “Whole Mission Accomplished, perfect!” sehingga “mencenggangkan” banyak orang, salah satunya rekanku, si “bule” yang aku ceritakan pada awal tulisan ini dan juga personel PBB lainnya. Bahkan sesuai informasi yang aku terima, pimpinan tertinggi pasukan perdamaian PBB di Lebanon atau biasa dikenal dengan sebutan Head Of Mission (HOM) /Force Commander (FC) Mayor Jenderal Paolo Serra, ikut mengapresiasi karya cipta dan karsa tentara Indonesia yang luar biasa tersebut sehingga pada akhir Oktober 2013 ini, berencana meresmikan dan membubuhkan tanda tangan di dalam prasasti yang akan dibangun di depan monumen Garuda. Luar biasa!
Melihat prestasi rekanku IndoFPC tersebut, aku pun semakin bangga dan cinta dengan negeri yang bernama Indonesia, yang sudah aku tinggalkan sepuluh bulan lamanya untuk bertugas di negeri yang berjarak 8.257 km dari kampung halamanku. Namun terkadang aku malu pada diriku, “Apa yang telah aku berikan kepada Indonesia”. Aku hanya merupakan “butiran kerikil” dari ratusan ribu prajurit TNI, dan hanya “butiran debu” dari ratusan juta penduduk Indonesia. Kalau ada orang lain yang bertanya, “Apa jasaku?”, tentu aku akan menjawab sembari tersipu malu, “ tidak ada!” karena aku hanya sekedar bisa mengungkapkan “kebanggaanku terhadap Indonesia” melalui goresan kecil tak berujung dari komputer bututku ini. Bravo Indonesia!!!!

***

Catatan ke-54 : Aku dan "Teman Setiaku" yang Lugu dan Polos

 Memiliki “teman” di daerah penugasan seperti Lebanon, merupakan salah satu penghibur tersendiri bagiku dan juga sebagian rekan-rekanku. Dengan memilikinya, maka sedikit banyak dapat menghilangkan rasa kejenuhan dan juga kerinduan kepada keluarga. Dengan memilikinya pula maka penugasan yang satu tahun ini dapat terlewati dengan mudah di mana waktu seakan berjalan begitu cepat, mengiringi kebersamaan dengannya yang cukup indah dan mesra. Yang lebih menggembirakan isteri dan anak-anakku di tanah air juga menyetujuinya. Bahkan mereka menyuruhku untuk tetap setia menyayangi dan mencintainya seperti “cintaku” pada mereka. Luar biasa! Dengan adanya “statement” ini maka bebaslah aku untuk memilikinya, “terserah saja!” demikian kata isteriku ketika suatu saat aku menjelaskan bahwa aku memiliki “teman” yang dapat menjadi “penggantinya” untuk sementara waktu. Merdeka!!, demikian kata hatiku saat itu sebagai refleksi kegembiraanku.
Memasuki Oktober 2013, tak terasa, sudah 10 bulan aku “berteman” dengannya. Ia merupakan satu-satunya teman “curhatku”. “Teman “ yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes meski terkadang aku sering membuatnya dongkol. Ia juga akan selalu merekam dan menyimpannya dengan baik apa yang aku tuturkan dengan memori otaknya yang luar biasa, meskipun aku menginginkan ia lebih proaktif, membantuku membetulkan beberapa kata atau kalimat yang kurang tepat aku tuturkan.  Namun sayangnya ia terlalu “lugu dan polos”, aku tuturkan A, ia pasti akan merekamnya A, aku tulis B ia pun akan merespon B. Sebagai orang “waras” akhirnya aku lah yang menyerah, “imposible” ia mengiyakan keinginanku tersebut. Ia hanyalah “alat” dengan otaknya aku sendiri. Ia hanya bisa  menunggu dan menunggu sepuluh jari tanganku ini memainkan tuts-tuts keyboard dan gerakan mouse.
Aku tahu seandainya ia bisa ngomong, mungkin hanya ada satu permintaan darinya,  “kunjungilah rumahku sebanyak mungkin?”.  Yach betul! inilah yang aku lupakan. Karena kesibukan tugas, memang sering aku “mentelantarkannya”, membiarkannya kosong, tidak diberi makan dan juga lupa untuk mempromosikan keberadaannya ke dunia luar yang keras dengan berbagai tantangannya.

Terima Kasih Kepada Pengunjung
Sebagai “teman setia”, aku tentunya mengetahui persis sifat dan karakter temanku yang satu ini. Dan dari data yang terekam olehnya, sebenarnya kunjungan untuknya sudah cukup bagus dibandingkan teman-teman yang lain (tentunya yang sejenis). Rata-rata dalam sehari, temanku ini mendapat kunjungan 40 orang, sebuah jumlah yang cukup besar bagi temanku yang sebenarnya masih perlu “dipermak” karena saat ini bodi dan wajahnya aku akui masih,” pas-pasan”.
Terkait dengan kunjungan tersebut, melalui tulisan kecil ini, aku mewakili temanku yang “lugu dan polos” itu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada “pengunjung” yang mau mampir di tempatnya. Ia sangat mengapreasiasi usaha mereka dan tidak mempersoalkan tujuan utama para pengunjung mampir ke tempatnya. Apakah pengunjung yang hanya sekedar mampir untuk “melihat-lihat” jeroan yang ia punya, selanjutnya pergi lagi,  pengunjung  yang “mengambil” sesuatu yang ada di dalamnya atau pun pengunjung yang “salah masuk” ke tempat tinggalnya. Semua itu tidaklah dipersoalkan, yang penting ia mengaku senang, gembira dan juga bahagia bila ada orang yang berkenan mengunjunginya. “ Titipkan salamku kepada mereka, apalagi mereka yang setia mengunjungiku.  Tanpa mereka, hidupku hampa bahkan dipastikan akan mati, karena keberadaanku  hanyalah untuk mereka” demikian pesannya dengan suara yang memelas.

Kado Istimewa 
Setelah sepuluh bulan ber “kasih mesra” bersama dan mengakui “kesetiaannya” yang luar biasa yang aku nilai lebih dari seratus persen, akhirnya aku memiliki suatu niat untuk sedikit membahagiakannya. Dan ini aku coba dengan memanfaatkan moment HUT ke-68 TNI yang jatuh pada 5 Oktober 2013 lalu. Sehari, usai perayaan ulang tahun tersebut tepatnya di Minggu sore 6 Oktober 2013 pukul 15.34, aku mencoba mempromosikan “keunikan” temanku ini ke tanah air, tanah kelahiranku di Indonesia. Tentunya dengan harapan, ada rekan-rekan di tanah air yang mencoba melirik “wajah” temanku yang sederhana tersebut.
Sebagai “umpan” pancingan yang aku taruh di mata kailku, aku pilih burung garuda yang merupakan lambang negara Indonesia dan juga menjadi julukan pasukan kami di daerah penugasan.  Burung ini sedang dibangun dengan ukuran “raksasa” di Soedirman Camp yang menjadi markasku. Hasil pembangunannya yang luar biasa ini akhirnya menelurkan sejumlah tanggapan dari personel PBB dari manca negara seperti, “ Indonesian People Crazy!”. Dan tanggapan inilah yang akhirnya aku pilih menjadi “umpan utama” untuk mengail ikan besar di sungai yang sudah terkenal di Indonesia, yaitu www.kompasiana.com
Artikelku "Indonesian People Crazy!" muncul di Head Line

Umpanku dengan nama  http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/10/06/indonesian-people-crazy-598134.htm,  ternyata “tepat”, setelah diupload  pada tanggal dan jam tersebut , satu jam sesudahnya, ia langsung tancap gas nongkrong di Head Line (HL) sehingga menyedot perhatian ribuan orang/ kompasianer. Setelah bosan nongkrong seharian di HL, ia pun turun panggung dan hanya meninggalkan catatan ringan yakni jumlah pengunjung  2276 dengan 34 tanggapan dan 22 penilaian (update Selasa, 8 Oktober 2013 pukul 19.00 waktu Lebanon).
Rating pembaca, komentar dan penilaian di Kompasiana
Imbas dari hasil tangkapan yang bagus itulah yang aku jadikan kado istimewa buat temanku tersebut.  Total selama tiga hari, pengunjung yang mampir ke rumahnya  mencapai 1803 dengan perincian pada 6 Oktober  807 pengunjung, 7 Oktober 687 pengunjung dan pada 8 Oktober 2013 pukul 19.00 sejumlah 309 pengunjung.  Jumlah pengunjung yang cukup membludak di mana rata-rata per hari 600 pengunjung tersebut tentu membuatnya kaget, apalagi bila dibandingkan hari biasa yang umumnya 50 pengunjung. Aku tahu, ia pasti bahagia dan gembira luar biasa mendapatkan kado istimewa itu. Saat ini tercatat orang yang telah mengunjungi rumahnya 12.383 orang, jumlah yang menurutku sudah cukup lumayan bagi sebuah “rumah baru” seperti milik temanku yang satu ini.

Dengan kunjungan yang membludak tersebut, untuk yang kedua kalinya juga, aku mewakili temanku yang “lugu dan polos” itu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pengunjung yang mau mampir ke teman setiaku tersebut. Kunjungan tersebut merupakan kado istimewa baginya di tengah-tengah kemeriahan HUT ke-68 TNI tahun 2013. Kami juga mohon maaf apabila “suguhan” yang kami hidangkan kurang  variatif dan jauh dari sempurna serta kurang cocok bagi pengunjung semua. Akan tetapi yakinlah kami ikhlas membaginya, walau itu cuma dalam bentuk kue yang dikemas dengan plastik “cerita ringan”.
Ke depan, harapan kami tetap tidak terlalu muluk-muluk, jika ada kesempatan dan waktu luang, mampirlah ke temanku tersebut. Kami menyadari, “tempat” kami cukup sederhana, akan tetapi bagi siapa saja yang berkenan “melangkahkan kakinya” untuk mampir, kami berjanji akan terus membagi sesuatu yang kami punya, sesuatu yang  kami olah dengan mengorbankan waktu istirahat.
Bagi mereka yang belum mengetahui nama teman setiaku yang lugu dan polos tersebut, silahkan mampir ke mbah Google dulu, lantas tanyalah, “Catatan Kecil Dari Lebanon”. Mbah google pasti akan mengarahkannya dengan betul. Atau bisa juga langsung mampir ke rumahnya di http://lebanonku.blogspot.com. Aku dan teman setiaku pasti akan menyambutnya dengan suka cita.
Akhirnya, sekali lagi kami ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pengunjung “blog” sederhana yang menjadi teman setiaku selama penugasan. Dan terimalah salam hormat kami dari bumi Lebanon!.

***

Wednesday, October 2, 2013

Catatan ke-53 : No Sir, You Moslem, This is Pork!



Salah satu pelayanan makan di International Mess Unifil, Naqoura, South Lebanon

 Dari data yang dirilis situs resmi United Nations Interim Forces In Lebanon (Unifil) pada 19 Juni 2013, tercatat sekitar 10.189 personel dari 37 negara Troop Contributing Countries-TCC atau negara-negara yang berkontribusi mengirim pasukan untuk bergabung dalam misi PBB di Lebanon. Dari jumlah tersebut 1288 di antaranya adalah personel dari Indonesia, yang merupakan negara pengirim personel terbesar saat ini menandingi Italia dan Perancis.
Ribuan personel tersebut tersebar di seluruh area operasi Unifil di Lebanon Selatan yang terbagi dalam dua sektor (Sector West dan Sector East). Khusus untuk TCC yang mengirim pasukan dalam bentuk kontingen besar, baik itu dalam wadah organisasi setingkat Kompi atau batalyon, maka mereka diserahi tanggung jawab untuk “mengelola” suatu wilayah yang umumnya terdiri dari puluhan desa/village dengan pertanggungjawaban kepada Komandan Sektor di mana pasukan itu bermarkas.
Selama ini semua kontingen besar yang tersebar di seluruh area operasi Unifil tersebut mengelola makanan sendiri dengan “Chef” yang mereka bawa dari negara masing-masing. Untuk bahan makanannya semua didrop dari Unifil sesuai daftar permintaan, disesuaikan dengan bahan yang tersedia serta jumlah personel yang ada. Jadi intinya seluruh kontingen yang ada di Unifil umumnya mempunyai dapur dan “tukang masak” sendiri yang sebagian besar beralasan karena pertimbangan menu dan rasa masakan yang disesuaikan dengan lidah personel negara yang bersangkutan. Apa yang dilakukan kontingen Indonesia adalah salah satu contohnya di mana tiga Satgas besar seperti Indonesian Mechanic Battalion  (Indobatt), Sector East Military Police (Sempu) dan Satgas FPC (Force Protection Company) mengolah sendiri bahan makanan dari Unifil dengan menu cita rasa khas masakan Indonesia.

Unifil International Mess
Bagaimana dengan mereka yang berada di luar kontingen seperti mereka yang tergabung dalam Staff Officer atau Satgas dengan jumlah personel kecil? Untuk yang satu ini, khusus di lingkungan Unifil Headquarter Naqoura, Unifil telah menyiapkan puluhan Chef berpengalaman untuk melayani mereka tersebut dengan menu-menu pilihan cita rasa masakan internasional yang dimungkinkan bisa diterima oleh seluruh lidah personel dari berbagai negara. Unifil juga menyiapkan  satu ruang makan besar yang disebut dengan International Mess atau ada juga yang menyebut International Dinning Hall yang letaknya di pusat Unifil HQ, menghadap pantai serta tidak jauh dari kantor Unifil Force Commander.
Ruang makan dengan daya tampung yang cukup besar
International Mess ini di bawah pengawasan Unifil Force Headquarte Support Unit (FHQSU) yang merupakan salah satu Satgas bagian dari Kontingen Indonesia. Beberapa orang personel Indonesia dari Satgas ini setiap hari secara bergantian menjaga ketertiban pelaksanaan makan personel Unifil yang mendapat jatah makan di tempat ini.
Secara umum ruang makan internasional terdiri dari beberapa bagian mulai dari bagian register/ pencatatan yang dijaga tentara Indonesia, ruang makan yang terdiri dari ratusan kursi dengan puluhan meja panjang dan tempat mengambil makanan yang dijaga oleh para pelayan yang umumnya dari warga Lebanon. Di tempat ini juga tersedia ruang makan khusus untuk personel yang berpangkat Letnan Kolonel ke atas dan civilian dengan jabatan setingkat serta sejumlah “Gazebo” unik tempat menikmati hidangan makan yang posisinya persis menghadap ke pantai Naqoura, hanya terhalang oleh sebuah pagar kawat yang dibangun Unifil.
Proses registrasi yang diawasi personel dari Indonesia
Internasional Mess ini dibuka setiap hari, Senin hingga Jumat antara pukul 06.30-08.00 AM untuk Breakfast, 11.30 AM - 13.30 PM (Lunch) dan 17.30-19.30 PM untuk Dinner. Sedangkan untuk Weekend (Sabtu dan Minggu) dibuka pada pukul 08.00-09.00 AM (Breakfast), 11.30 AM-13.30 PM (Lunch) dan 17.30-19.30 PM untuk Dinner
Untuk menu yang disajikan karena namanya saja menu internasional yang diharapkan bisa dinikmati semua orang dari 37 negara maka nama menunya juga cukup antik. Sebagai contoh aku ambil menu hari Rabu untuk kalender menu tertanggal 25 September 2013- 1 Oktober 2013 yang aku download dari komputer Lotusku di MCOU sebagai berikut, untuk menu makan pagi atau Breakfast, International Mess ini menyiapkan Egg / Alternatives (boiled eggs , scrambled  eggs ,  Spanish egg,  bacon, stir fried  Beef sausage & boiled chicken sausage), Grain / Cereals (corn flakes, alpen muesli,  Rice crispy, steamed rice, Pancake  , Indian Dhal), Fruit / Juice ( Drink, fruit yoghurt , portion Butter, Fresh Vegetable), Milk / Alternative (hot and cold milk,  white cheese , yellow cheese, beef , chicken , pork  ham), Jams / Spreads (Jam, chocolate, honey), Hot Beverages (Tea, Coffee).
Sebagian dari sejumlah menu yang tersedia
Untuk Lunch atau Makan Siang pada hari yang sama, disiapkan mulai Starter / Entrée berupa Cream of vegetable soup dan Salad Bar, Main Dish (Wiener Schnitzel, Pasta Mama Rose, Bavarian Veal With Asparagus) dan Side Dish (All spice string beans, Grilled Pork Chops Sour Krout, Herbs mashed potato), Fruit / Juice (Drink, Banana), Dessert (Cinamon rolls, Butter), Grain / Cereals (Steamed Rice, Biryani rice, Dhall Fry, Egg Curry) dan Hot Beverages (Tea, Coffee). Sedangkan untuk Makan Malam (Dinner) diawali dengan Starter / Entrée (Aima Lebanese soup, Salad Bar), Main Dish (Grilled Chicken With Cajun Spice, Beef Kafta With tomato Sauce, Baked Fish AlFredo), Side Dish (Beans kidney dried olives, Baked potato Home Fried, Pasta Geno Westa), Fruit / Juice (Drink, Banana), Dessert (Cinamon rolls, Butter), Grain / Cereals (Steamed Rice, Fried Rice, Dhall Fry, Egg Curry) dan Hot Beverages (Tea, Coffee).
Khusus untuk hari-hari tertentu terutama untuk memperingati HUT Kemerdekaan negara yang berkontribusi dalam pengiriman pasukan ke Lebanon, International Mess ini menyiapkan menu khusus dari negara tersebut dengan Chef yang sebagian besar juga diambil dari negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, saat memperingati HUT Kemerdekaan RI, international Mess menyiapkan menu spesial  Indonesia seperti nasi putih, nasi goreng udang, gulai kambing, ayam goreng, mie goreng dan sayuran hijau plus sambal.
Antrian panjang untuk registrasi saat penyajian Menu Indonesia
Anggota kontingen Indonesia yang masuk dalam daftar makan di International Mess adalah beberapa orang yang berstatus SO yang tersebar di beberapa unit dan sembilan orang dari Satgas Hospital Level II Naqoura. Khusus untuk personel FHQSU mereka mengajukan “request” makan di tempat ini hanya untuk “lunch” atau makan siang, selebihnya untuk makan pagi dan makan malam di tempat tinggal pasukannya yang berada di Soedirman Camp. Sedangkan aku dan rekanku dari Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU) yang berjumlah 18 orang, karena pertimbangan tempat dan kantor yang tidak jauh dari kamp  kami di Soedirman Camp, Green Hill, Naqoura,  maka diambil kebijakan untuk akomodasi makan bergabung dengan rekan-rekan kami dari Satgas FPC yang juga bermarkas di Soedirman Camp.

Sekali Makan 3 Dolar!
Berbeda dengan makan “gratis” di kamp yang dikelola masing-masing kontingen, makan di international Mess Unifil selain mereka yang berada dalam daftar, wajib menggunakan kupon yang dibeli senilai US$ 3 untuk makan siang (Lunch), US$ 3 untuk makan malam (Dinner) dan US$ 1.5  untuk makan pagi (breakfast). Mereka yang berada di kelompok ini umumnya personel SO dari berbagai negara yang bertugas di Unifil HQ, beberapa di antaranya dari Indonesia. Untuk kuponnya dapat dibeli di Fransa Bank Menghy Street yang letaknya tak jauh dari Unifil HQ.
Kupon makan siang/ malam seharga 3 dolar
Seorang rekanku dari SO, mengaku peraturan tersebut cukup wajar dan merasa tidak berkeberatan untuk membeli kupon. “Dengan gaji yang memang lebih tinggi dari MI atau kontingen, konsekuensinya semua akomodasi memang kami yang menanggung sendiri termasuk urusan makan “ kata prajurit TNI yang kini ditugaskan di Joint Operations Centre (JOC)  yang mengaku membeli beberapa bendel kupon khusus makan siang. Untuk makan pagi dan malamnya? Ia mengaku lebih enak masak sendiri dengan lauk “sederhana” khas prajurit di daerah penugasan.
Dengan adanya peraturan tersebut maka bagi siapa saja  yang tidak berada di dalam daftar “jatah” makan serta mereka yang tidak memiliki kupon, tidak diperbolehkan makan di tempat ini. Bila ini dilanggar maka sejumlah personel dari Satgas FHQSU yang menjaga ruang makan ini akan “melarang” mereka untuk memasuki ruang makan. Tentunya dengan bahasa komunikasi yang halus sesuai dengan budaya Indonesia yang terkenal dengan kesopanan dan keramahannya.

No Sir, You Moslem, This is Pork!
Meskipun tidak memiliki “hak” untuk makan di international mess Unifil, akan tetapi sungguh disayangkan apabila mereka yang pernah bertugas di lingkungan Unifil HQ akan tetapi belum pernah mencicipi menu masakan yang ada di International Mess, demikian kata rekan-rekanku dari Satgas MCOU sebelumnya. Kata-kata ini membuat aku penasaran sehingga akhirnya benar-benar aku buktikan dengan mencoba bergabung makan siang di international mess ini.
Personel Level II Hospital (kiri) 
Kesempatan pertama makan di tempat ini adalah ketika diajak oleh rekanku dari Satgas  Hospital Level II yang memang memiliki jatah di situ, diikuti kesempatan-kesempatan berikutnya ketika bergabung dengan rekan-rekan FHQSU atau terkadang datang sendiri, kalau benar-benar “kepepet” di mana kegiatanku tidak jauh dari lokasi international mess. Bila datang sendiri atau berdua dengan rekan Satgasku, biasanya kami tidak mendapatkan kesulitan untuk masuk ke ruang makan meski kami tidak ada dalam daftar makan dan tidak memiliki kupon makan. Sang penjaga yang juga rekan kami dari Satgas FHQSU biasanya tidak berkeberatan dan mengarahkan kami untuk mencatat di “Daftar Cadangan” (dengan catatan tidak setiap hari atau setiap minggu yang tentunya ada sedikit rasa “malu” juga makan gratis di tempat yang seharusnya “tidak gratis” tersebut).
Pork (kiri), Beef (tengah) dan Chicken (kanan), harus hati-hati!!
Pada pengalaman awal masuk ke ruang makan internasional, ada rasa “kikuk” juga dalam hatiku melihat ratusan orang bergiliran makan dengan seragam campuran. Kikuk di sini dalam arti “takut salah” dan mungkin “takut dianggap kampungan” kalau tidak mengikuti kebiasaan dan aturan yang ada di ruang makan tersebut. Akhirnya ketika saat mengantri makanan dengan nampan di tangan dengan piring, mangkuk sayur,  serta sendok garpu, aku sekedar mengikuti apa yang dilakukan rekan-rekanku dari baris antrian di depan, menyodorkan nampan kepada sejumlah pelayan yang menjaga makanan, tunjuk ini-itu, piring pun di isi olehnya sesuai dengan takaran dan permintaan. Akan tetapi ada satu pengalaman menarik di sini, ketika tiba di rak makanan terakhir, setelah mangkuk terisi sop, piring terisi nasi, sayuran mentah dan ayam bakar yang saat itu tersedia, aku tertarik dengan menu irisan besar daging bakar yang ikut menggoda selera makanku. Aku berdiri di depan sang pelayan yang menunggunya dan menunjuk daging tersebut. Sesaat sang pelayan memandangku, dan sebelum aku bertanya lebih lanjut, ia sudah berkata, “You moslem, Indonesia! No Sir, This is Pork!” katanya sambil menunjuk sebuah kertas bertuliskan “Pork” di depan rak makanan. Oalah!!!! Mataku saat itu tidak melihat tulisan tersebut, yang tertuju hanya makanannya saja. "Kenapa harus ditaruh berdampingan dengan makanan yang halal bisa saja menjebak orang yang tidak tahu" demikian pikirku saat itu.  Akhirnya aku cuma sekedar mengangkat tangan dan ngloyor pergi menuju tempat makan yang tersedia. Sedikit malu juga, tapi biarlah, namanya saja orang baru, demikian aku berpikir waktu itu.
Sebagian personel UN yang "kuat" makan
Selain makanan pokok yang harus antri pengambilannya, di ruang makan ini juga tersedia puding, buah-buahan, beraneka macam jenis minuman serta roti raksasa yang pengambilannya disesuaikan dengan kebutuhan perut masing-masing. Untuk yang satu ini, ada satu hal yang membuat aku terkadang geleng-geleng kepala di mana sebagian rekan kami (bukan dari Indonesia) dengan santai dan enaknya saja mengambil hampir semua jatah makanan yang tersedia. Bahkan meski piring dan mangkuk sudah terisi penuh hampir tumpah, masih ditambah pula dengan roti berukuran besar. Dan sepengetahuanku, semua makanan itu bisa ludas masuk perut. Sulit dibayangkan dengan kata-kata, menu makanannya yang kelewat enak atau mereka yang “rakus” mengikuti kebiasaan “makan sebakul” di negaranya.
Bagiku sendiri, selama mendapat kesempatan makan di ruang makan interasional, ada satu catatan penting yang mungkin juga menjadi catatan sebagian rekan satgasku, yakni rasa makanan nya kurang cocok dengan lidah orang Indonesia yang terkenal dengan pedas, asin dan tentu saja diiringi dengan bumbu penyedap rasa. Intinya, bagiku pribadi dan sebagian rekan Satgas, “Mendingan makan di Kamp, dengan cita rasa khas masakan Indonesia!”. Bravo Masakan Indonesia.
***