![]() |
| Salah satu pelayanan makan di International Mess Unifil, Naqoura, South Lebanon |
Dari data yang dirilis situs resmi
United Nations Interim Forces In Lebanon (Unifil) pada 19 Juni 2013, tercatat
sekitar 10.189 personel dari 37 negara Troop Contributing Countries-TCC atau
negara-negara yang berkontribusi mengirim pasukan untuk bergabung dalam misi
PBB di Lebanon. Dari jumlah tersebut 1288 di antaranya adalah personel dari
Indonesia, yang merupakan negara pengirim personel terbesar saat ini menandingi
Italia dan Perancis.
Ribuan personel tersebut tersebar di
seluruh area operasi Unifil di Lebanon Selatan yang terbagi dalam dua sektor
(Sector West dan Sector East). Khusus untuk TCC yang mengirim pasukan dalam
bentuk kontingen besar, baik itu dalam wadah organisasi setingkat Kompi atau
batalyon, maka mereka diserahi tanggung jawab untuk “mengelola” suatu wilayah
yang umumnya terdiri dari puluhan desa/village dengan pertanggungjawaban kepada
Komandan Sektor di mana pasukan itu bermarkas.
Selama ini semua kontingen besar yang
tersebar di seluruh area operasi Unifil tersebut mengelola makanan sendiri
dengan “Chef” yang mereka bawa dari negara masing-masing. Untuk bahan
makanannya semua didrop dari Unifil sesuai daftar permintaan, disesuaikan
dengan bahan yang tersedia serta jumlah personel yang ada. Jadi intinya seluruh
kontingen yang ada di Unifil umumnya mempunyai dapur dan “tukang masak” sendiri
yang sebagian besar beralasan karena pertimbangan menu dan rasa masakan yang
disesuaikan dengan lidah personel negara yang bersangkutan. Apa yang dilakukan kontingen
Indonesia adalah salah satu contohnya di mana tiga Satgas besar seperti
Indonesian Mechanic Battalion
(Indobatt), Sector East Military Police (Sempu) dan Satgas FPC (Force
Protection Company) mengolah sendiri bahan makanan dari Unifil dengan menu cita
rasa khas masakan Indonesia.
Unifil
International Mess
Bagaimana dengan mereka yang berada di
luar kontingen seperti mereka yang tergabung dalam Staff Officer atau Satgas
dengan jumlah personel kecil? Untuk yang satu ini, khusus di lingkungan Unifil
Headquarter Naqoura, Unifil telah menyiapkan puluhan Chef berpengalaman untuk
melayani mereka tersebut dengan menu-menu pilihan cita rasa masakan
internasional yang dimungkinkan bisa diterima oleh seluruh lidah personel dari
berbagai negara. Unifil juga menyiapkan
satu ruang makan besar yang disebut dengan International Mess atau ada
juga yang menyebut International Dinning Hall yang letaknya di pusat Unifil HQ,
menghadap pantai serta tidak jauh dari kantor Unifil Force Commander.
![]() |
| Ruang makan dengan daya tampung yang cukup besar |
International Mess ini di bawah
pengawasan Unifil Force Headquarte Support Unit (FHQSU) yang merupakan salah
satu Satgas bagian dari Kontingen Indonesia. Beberapa orang personel Indonesia
dari Satgas ini setiap hari secara bergantian menjaga ketertiban pelaksanaan
makan personel Unifil yang mendapat jatah makan di tempat ini.
Secara umum ruang makan internasional
terdiri dari beberapa bagian mulai dari bagian register/ pencatatan yang dijaga
tentara Indonesia, ruang makan yang terdiri dari ratusan kursi dengan puluhan
meja panjang dan tempat mengambil makanan yang dijaga oleh para pelayan yang
umumnya dari warga Lebanon. Di tempat ini juga tersedia ruang makan khusus
untuk personel yang berpangkat Letnan Kolonel ke atas dan civilian dengan
jabatan setingkat serta sejumlah “Gazebo” unik tempat menikmati hidangan makan
yang posisinya persis menghadap ke pantai Naqoura, hanya terhalang oleh sebuah
pagar kawat yang dibangun Unifil.
![]() |
| Proses registrasi yang diawasi personel dari Indonesia |
Internasional Mess ini dibuka setiap
hari, Senin hingga Jumat antara pukul 06.30-08.00 AM untuk Breakfast, 11.30 AM -
13.30 PM (Lunch) dan 17.30-19.30 PM untuk Dinner. Sedangkan untuk Weekend (Sabtu
dan Minggu) dibuka pada pukul 08.00-09.00 AM (Breakfast), 11.30 AM-13.30 PM
(Lunch) dan 17.30-19.30 PM untuk Dinner
Untuk menu yang disajikan karena namanya
saja menu internasional yang diharapkan bisa dinikmati semua orang dari 37
negara maka nama menunya juga cukup antik. Sebagai contoh aku ambil menu hari
Rabu untuk kalender menu tertanggal 25 September 2013- 1 Oktober 2013 yang aku
download dari komputer Lotusku di MCOU sebagai berikut, untuk menu makan pagi
atau Breakfast, International Mess ini menyiapkan Egg / Alternatives (boiled
eggs , scrambled eggs , Spanish egg,
bacon, stir fried Beef sausage
& boiled chicken sausage), Grain / Cereals (corn flakes, alpen muesli, Rice crispy, steamed rice, Pancake , Indian Dhal), Fruit / Juice ( Drink, fruit
yoghurt , portion Butter, Fresh Vegetable), Milk / Alternative (hot and cold
milk, white cheese , yellow cheese, beef
, chicken , pork ham), Jams / Spreads (Jam,
chocolate, honey), Hot Beverages (Tea, Coffee).
![]() |
| Sebagian dari sejumlah menu yang tersedia |
Untuk Lunch atau Makan Siang pada hari
yang sama, disiapkan mulai Starter / Entrée berupa Cream of vegetable soup dan Salad
Bar, Main Dish (Wiener Schnitzel, Pasta Mama
Rose, Bavarian Veal With Asparagus) dan Side Dish (All
spice string beans, Grilled Pork Chops Sour Krout, Herbs
mashed potato), Fruit / Juice (Drink, Banana),
Dessert (Cinamon rolls, Butter), Grain / Cereals (Steamed Rice, Biryani rice, Dhall
Fry, Egg Curry) dan Hot Beverages (Tea, Coffee).
Sedangkan untuk Makan Malam (Dinner) diawali dengan Starter
/ Entrée (Aima Lebanese soup, Salad Bar), Main
Dish (Grilled Chicken With Cajun Spice, Beef Kafta With tomato Sauce, Baked
Fish AlFredo), Side Dish (Beans kidney dried
olives, Baked potato Home Fried, Pasta Geno Westa), Fruit
/ Juice (Drink, Banana), Dessert (Cinamon
rolls, Butter), Grain / Cereals (Steamed Rice,
Fried Rice, Dhall Fry, Egg Curry) dan Hot Beverages (Tea,
Coffee).
Khusus untuk hari-hari tertentu terutama
untuk memperingati HUT Kemerdekaan negara yang berkontribusi dalam pengiriman pasukan
ke Lebanon, International Mess ini menyiapkan menu khusus dari negara tersebut
dengan Chef yang sebagian besar juga diambil dari negara yang bersangkutan.
Sebagai contoh, saat memperingati HUT Kemerdekaan RI, international Mess menyiapkan
menu spesial Indonesia seperti nasi putih,
nasi goreng udang, gulai kambing, ayam goreng, mie goreng dan sayuran hijau
plus sambal.
![]() |
| Antrian panjang untuk registrasi saat penyajian Menu Indonesia |
Anggota kontingen Indonesia yang masuk
dalam daftar makan di International Mess adalah beberapa orang yang berstatus
SO yang tersebar di beberapa unit dan sembilan orang dari Satgas Hospital Level
II Naqoura. Khusus untuk personel FHQSU mereka mengajukan “request” makan di
tempat ini hanya untuk “lunch” atau makan siang, selebihnya untuk makan pagi
dan makan malam di tempat tinggal pasukannya yang berada di Soedirman Camp.
Sedangkan aku dan rekanku dari Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU)
yang berjumlah 18 orang, karena pertimbangan tempat dan kantor yang tidak jauh
dari kamp kami di Soedirman Camp, Green
Hill, Naqoura, maka diambil kebijakan
untuk akomodasi makan bergabung dengan rekan-rekan kami dari Satgas FPC yang
juga bermarkas di Soedirman Camp.
Sekali Makan 3
Dolar!
Berbeda dengan makan “gratis” di kamp
yang dikelola masing-masing kontingen, makan di international Mess Unifil
selain mereka yang berada dalam daftar, wajib menggunakan kupon yang dibeli
senilai US$ 3 untuk makan siang (Lunch), US$ 3 untuk makan malam (Dinner) dan
US$ 1.5 untuk makan pagi (breakfast).
Mereka yang berada di kelompok ini umumnya personel SO dari berbagai negara
yang bertugas di Unifil HQ, beberapa di antaranya dari Indonesia. Untuk kuponnya
dapat dibeli di Fransa Bank Menghy Street yang letaknya tak jauh dari Unifil
HQ.
![]() |
| Kupon makan siang/ malam seharga 3 dolar |
Seorang rekanku dari SO, mengaku
peraturan tersebut cukup wajar dan merasa tidak berkeberatan untuk membeli
kupon. “Dengan gaji yang memang lebih tinggi dari MI atau kontingen,
konsekuensinya semua akomodasi memang kami yang menanggung sendiri termasuk
urusan makan “ kata prajurit TNI yang kini ditugaskan di Joint Operations
Centre (JOC) yang mengaku membeli
beberapa bendel kupon khusus makan siang. Untuk makan pagi dan malamnya? Ia
mengaku lebih enak masak sendiri dengan lauk “sederhana” khas prajurit di
daerah penugasan.
Dengan adanya peraturan tersebut maka
bagi siapa saja yang tidak berada di
dalam daftar “jatah” makan serta mereka yang tidak memiliki kupon, tidak
diperbolehkan makan di tempat ini. Bila ini dilanggar maka sejumlah personel
dari Satgas FHQSU yang menjaga ruang makan ini akan “melarang” mereka untuk
memasuki ruang makan. Tentunya dengan bahasa komunikasi yang halus sesuai
dengan budaya Indonesia yang terkenal dengan kesopanan dan keramahannya.
No Sir, You Moslem, This is
Pork!
Meskipun tidak memiliki “hak” untuk
makan di international mess Unifil, akan tetapi sungguh disayangkan apabila mereka
yang pernah bertugas di lingkungan Unifil HQ akan tetapi belum pernah mencicipi
menu masakan yang ada di International Mess, demikian kata rekan-rekanku dari
Satgas MCOU sebelumnya. Kata-kata ini membuat aku penasaran sehingga akhirnya
benar-benar aku buktikan dengan mencoba bergabung makan siang di international
mess ini.
| Personel Level II Hospital (kiri) |
Kesempatan pertama makan di tempat ini
adalah ketika diajak oleh rekanku dari Satgas Hospital Level II yang memang memiliki jatah
di situ, diikuti kesempatan-kesempatan berikutnya ketika bergabung dengan
rekan-rekan FHQSU atau terkadang datang sendiri, kalau benar-benar “kepepet” di
mana kegiatanku tidak jauh dari lokasi international mess. Bila datang sendiri
atau berdua dengan rekan Satgasku, biasanya kami tidak mendapatkan kesulitan
untuk masuk ke ruang makan meski kami tidak ada dalam daftar makan dan tidak
memiliki kupon makan. Sang penjaga yang juga rekan kami dari Satgas FHQSU biasanya
tidak berkeberatan dan mengarahkan kami untuk mencatat di “Daftar Cadangan”
(dengan catatan tidak setiap hari atau setiap minggu yang tentunya ada sedikit
rasa “malu” juga makan gratis di tempat yang seharusnya “tidak gratis”
tersebut).
![]() |
| Pork (kiri), Beef (tengah) dan Chicken (kanan), harus hati-hati!! |
Pada pengalaman awal masuk ke ruang
makan internasional, ada rasa “kikuk” juga dalam hatiku melihat ratusan orang
bergiliran makan dengan seragam campuran. Kikuk di sini dalam arti “takut
salah” dan mungkin “takut dianggap kampungan” kalau tidak mengikuti kebiasaan
dan aturan yang ada di ruang makan tersebut. Akhirnya ketika saat mengantri
makanan dengan nampan di tangan dengan piring, mangkuk sayur, serta sendok garpu, aku sekedar mengikuti apa
yang dilakukan rekan-rekanku dari baris antrian di depan, menyodorkan nampan
kepada sejumlah pelayan yang menjaga makanan, tunjuk ini-itu, piring pun di isi
olehnya sesuai dengan takaran dan permintaan. Akan tetapi ada satu pengalaman
menarik di sini, ketika tiba di rak makanan terakhir, setelah mangkuk terisi
sop, piring terisi nasi, sayuran mentah dan ayam bakar yang saat itu tersedia,
aku tertarik dengan menu irisan besar daging bakar yang ikut menggoda selera
makanku. Aku berdiri di depan sang pelayan yang menunggunya dan menunjuk daging
tersebut. Sesaat sang pelayan memandangku, dan sebelum aku bertanya lebih
lanjut, ia sudah berkata, “You moslem,
Indonesia! No Sir, This is Pork!” katanya sambil menunjuk sebuah kertas
bertuliskan “Pork” di depan rak makanan. Oalah!!!! Mataku saat itu tidak
melihat tulisan tersebut, yang tertuju hanya makanannya saja. "Kenapa harus ditaruh berdampingan dengan makanan yang halal bisa saja menjebak orang yang tidak tahu" demikian pikirku saat itu. Akhirnya aku cuma
sekedar mengangkat tangan dan ngloyor pergi menuju tempat makan yang tersedia.
Sedikit malu juga, tapi biarlah, namanya saja orang baru, demikian aku berpikir
waktu itu.
![]() |
| Sebagian personel UN yang "kuat" makan |
Selain makanan pokok yang harus antri
pengambilannya, di ruang makan ini juga tersedia puding, buah-buahan, beraneka
macam jenis minuman serta roti raksasa yang pengambilannya disesuaikan dengan
kebutuhan perut masing-masing. Untuk yang satu ini, ada satu hal yang membuat
aku terkadang geleng-geleng kepala di mana sebagian rekan kami (bukan dari Indonesia) dengan santai dan enaknya
saja mengambil hampir semua jatah makanan yang tersedia. Bahkan meski piring
dan mangkuk sudah terisi penuh hampir tumpah, masih ditambah pula dengan roti
berukuran besar. Dan sepengetahuanku, semua makanan itu bisa ludas masuk perut.
Sulit dibayangkan dengan kata-kata, menu makanannya yang kelewat enak atau
mereka yang “rakus” mengikuti kebiasaan “makan sebakul” di negaranya.
Bagiku sendiri, selama mendapat
kesempatan makan di ruang makan interasional, ada satu catatan penting yang
mungkin juga menjadi catatan sebagian rekan satgasku, yakni rasa makanan nya
kurang cocok dengan lidah orang Indonesia yang terkenal dengan pedas, asin dan
tentu saja diiringi dengan bumbu penyedap rasa. Intinya, bagiku pribadi dan
sebagian rekan Satgas, “Mendingan makan
di Kamp, dengan cita rasa khas masakan Indonesia!”. Bravo Masakan Indonesia.
***








Aku kok g di ajak makan yaaa... lainnya hdr smua
ReplyDeleteKapan2 nanti aku traktir makan. Silahkan hubungi saya di nomor yang tercantum di FB. Tks
DeleteKalo di indonesia, misalkan, di kandang menjangan menu masakannya berdasarkan menu daerah dari para prajurit yang ada di sana pasti lebih ribet ya dari pada yang di libanon...
ReplyDeleteUntuk mengatur menu makan untuk orang-orang satu "rumpun" dengan makanan pokok yang sama seperti di Indonesia jauh lebih mudah ketimbang mengurus menu makanan untuk orang-orang dari negeri yang berbeda dengan makanan pokok berbeda, selera beda, porsi beda, rasa beda, dan juga kebiasaan dan etika makan yang beda. Tks atensinya
DeleteSalam Garuda Dari Bamak FPC 2013
DeleteYg bagian "no sir, this is pork" itu bagus menurutku karena org sana ternyata masih sadar buat saling mengingatkan
ReplyDeleteKadang malah di warteg2 indonesia sendiri itu orang udah tau dia muslim tapi makan yg gak boleh malah dibiarin aja soalnya "urusanmu bukan urusanku"
Betul mas, kebetulan memang itu terjadi di dalam situasi penugasan, di mana SOP selalu menjadi pegangan dalam pelaksanaan tugas. Sang pelayan memiliki kewajiban untuk mengingatkan dan mengarahkan sang tamu agar tidak salah makan. Untuk di Indonesia, saya tidak bisa berkomentar banyak .... tks atensinya.
Deletetest
ReplyDeleteKeren Mas ceritanya, harusnya kehidupan yg mas ceritakan ada juga di film I leave myheart in Lebanon ya?
ReplyDeleteTerima kasih. Cerita ringan yang ada di blog ini hanya sekedar pelengkap/ referensi awal untuk semua orang yang memerlukan gambaran "kasar" bagaimana kehidupan prajurit di daerah penugasan.
ReplyDeletesangat bagus infox..Thx
ReplyDeleteceritanya apik, ngalir apa adanya, dan mudah dipahami. jadi enaken bacanya. ini harapan suamiku juga bisa tugas luar negeri dan bisa umroh. semoga bisa tercapai. anyway, thanks a bunch for sharing your precious story from Libanon pak. this is inspiring.
ReplyDelete