![]() |
| Garuda sebagai Lambang Negara kebanggaan Indonesia |
Siapa pun yang mengaku orang Indonesia, bila
mendengar kalimat dalam judul tersebut di atas apalagi dilontarkan oleh orang “bule”
tentu akan marah, tersinggung dan buntutnya bisa jadi si bule yang mengucapkan
kalimat itu akan “dilabrak” habis-habisan, tanpa kompromi sebagai bentuk
berontaknya “nasionalisme” yang melekat pada jiwanya. Akan tetapi aku sebagai “Indonesia
tulen” tidak demikian menanggapinya. Bukan karena aku sudah tak peduli lagi dengan
apa itu yang namanya nasionalisme, bukan pula karena aku “takut” karena yang
mengucapkan kalimat itu bule bertubuh tinggi besar. Bukan itu! Aku tidak marah karena itu
hanyalah sebuah “majas”, sebuah gaya bahasa, sebuah majas “interjeksi
preterito”, sebuah ungkapan hati seseorang
berupa penegasan tentang sesuatu dengan menyembunyikan maksud yang
sebenarnya. Aku pun tidak marah karena kalimat lanjutannya justru menambah
kebanggaanku terhadap Indonesia, “ Wow…
Indonesian people crasy! ….. wonderfuf, fantastic
….. …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it". Nah, dengan melihat kalimat
lengkapnya si bule ini, semoga anda akan “mengampuni” aku yang tidak marah
dengan kata-kata si bule tadi ” Indonesian people crazy!”.
Sebaris kalimat ungkapan tersebut aku rekam
dalam memori ingatanku ketika suatu sore, di hari Minggu, di akhir bulan September
2013 lalu, aku bertemu dengan seorang kenalanku, seorang Officer dari sebuah
negara di kawasan Eropa yang kini sama-sama sedang menjalankan misi perdamaian PBB
di Lebanon. Aku kenal dengan sang Officer beberapa bulan sebelumnya ketika
mengikuti program Induction Training yang dilaksanakan Unifil (United Interim
Force In Lebanon). Aku bertemu dengannya
sore itu ketika aku baru keluar dari pagar markasku di Soedirman Camp, jalan
kaki, dengan pakaian olah raga lengkap mau cari keringat, bermain bulutangkis
di Unifil Rub Hall seperti kebiasaanku di waktu senggang atau hari libur.
Perjumpaan yang tak terduga itu akhirnya
melahirkan sedikit perbincangan yang ujung-ujungnya ia menunjuk sebuah patung
garuda raksasa yang saat itu kelihatan dari jalanan pintu gerbang yang sedang
digarap rekanku dari Satgas Force Protection Company (FPC). Dan kalimat-kalimat
itulah yang terlontar dari mulutnya sembari geleng-geleng kepada, ” “ Wow… Indonesian people crasy! ….. wonderfuf, fantastic ….. …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it". Sebuah kalimat pujian yang membuat kepalaku sebagai warga Indonesia
seakan “membesar” sehingga aku hanya menanggapinya dengan singkat, “ Thank
you for your apreciation and your praise, Sir!” . Selanjutnya setelah “basa basi” mengucapkan
salam perpisahan, aku pun melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan aspal
berkelok-kelok di Green Hill, Naqoura, South Lebanon.
Kelebihan Tentara Indonesia
Obyek utama yang
menjadi fokus perbincangan kami dalam perjumpaan dengan rekanku di atas adalah
terkait dengan pembangunan sebuah patung Garuda raksasa di sisi tengah lapangan
upacara Soedirman Camp. Pembangunan ini sebenarnya sesuatu yang menurut kami
“wajar” dan mungkin sudah “biasa” bila itu dikerjakan di tanah air, di
masing-masing satuan TNI yang ada di Indonesia, sebuah pembangunan monumen/
patung yang umumnya akan dijadikan “maskot” satuan atau lambang satuan. Akan
tetapi ini benar-benar menjadi sesuatu yang luar biasa karena dikerjakan di negeri
orang, di negeri yang rentan konflik dengan Israel yang bernama Lebanon.
Uniknya lagi, pembangunan patung ini dikerjakan oleh prajurit TNI, bukan dibuat
oleh profesional, seorang pematung, pemahat atau ahli pembuat monumen. Pun
“penggarapannya” dengan mengorbankan waktu senggang mereka, waktu “rehat” dari
kesibukan menjaga perdamaian di bumi Lebanon. Dan hasilnya, benar-benar luar
biasa, sebuah patung garuda raksasa yang cukup megah dengan warna bulunya yang
hitam, leher dan ekornya putih dan paruhnya kuning keemasan.
Sebuah
“ketidakwajaran” dan “ketidakbiasaan” dalam pembuatan patung garuda raksasa
itulah yang diyakini menimbulkan interjeksi yang bernada positif penuh dengan
kekaguman dan ketakjuban atas kreatifitas tentara Indonesia. “Luar biasa,
kok sempat-sempatnya membangun patung sebesar itu di daerah penugasan”
demikian mungkin ungkapan kata hati mereka yang salah satunya sudah dilontarkan
rekanku, sang Officer tadi. Maklum, seperti diketahui mereka itu memang umumnya
benar-benar “terbelengu” pada kata-kata profesional yang melekat pada
profesinya sebagai militer. Tugasnya itu yach itu, tidak ada embel-embel lain,
semisal tambahannya ini dan itu juga!. Berbeda dengan tentara Indonesia yang
sudah “terbiasa” multi fungsi dan multi tugas sebagai pengejawantahan tangan
“yang tidak mau diam” alias gatal kalau tidak berkreasi dengan sesuatu yang
unik, terasa “pusing”, meski itu harus mengorbankan waktu istirahat.
![]() |
| Proses pembuatan |
Patung garuda
raksasa yang dibangun di Soedirman Camp hanyalah satu dari sekian banyak kreasi
tangan-tangan terampil tentara Indonesia selama menjalankan misi penugasan di
lebanon. Patung yang hampir sejenis, beberapa tahun sebelumnya dibangun pula di
Markas Batalyon Mekanis Indonesia di Adchit Al Qusyair. Belum lagi dengan
kreasi para prajurit Indonesia dalam menata lingkungan korimek berupa
pembangunan taman-taman cantik nan asri sebagai sesuatu yang sebenarnya agak
“ganjil” bila dibandingkan dengan lingkungan korimek sejumlah markas tentara
dari negara lain yang umumnya “gersang” tidak tersentuh tangan apalagi dibangun
taman indah dengan tanaman hiasnya.
Menurut Serma
Muhidin, ketua tim pembuatan patung garuda di Soedirman Camp, ide pembuatan
patung berasal dari Komandannya, “ Ide awal pembuatan patung ini datang dari
Komandan kami, Komandan IndoFPC Letkol Yuri Elias Mamahi. Awalnya ia
menginginkan sesuatu yang akan dijadikan maskot markas IndoFPC di Lebanon, dan
pilihannya adalah pembuatan patung burung garuda yang juga menjadi lambang
negara Indonesia, dan ini sesuai pula dengan julukan kita di sini sebagai
pasukan Garuda “ kata sang Serma awal Oktober 2013 lalu, saat aku memiliki
kesempatan berbincang-bincang dengannya di sela-sela kesibukannya memimpin
“polesan” terakhir terhadap karya sensasionalnya itu.
Tanpa Pola, Bahan Seadanya, Hasil Maksimal
Sulit dibayangkan
bila ingin merealisasikan sebuah “proyek besar”, akan tetapi hanya dengan pola
atau gambar sederhana. Dan inilah yang dilakukan prajurit FPC dalam menggarap
patung garuda raksasa. “Boro-boro” memanfaatkan keunggulan teknologi komputer
seperti penggunaan Adobe Ilustrator atau 3D Max atau software yang lain dalam
pembuatan pola atau gambar konsepnya, bahan dasarnya pun “seadanya”,
memanfaatkan barang bekas di sekeliling Kamp.
Pada langkah awal
pembuatan, sang Komandan FPC yang terkenal memiliki ide-ide kreatif ini
mengungkapkan gambaran awal bentuk sang Garuda yang selanjutnya ditindaklanjuti
dengan pembuatan pola sederhana, mengandalkan secarik kertas dengan coretan di
sana-sini yang setiap waktu “gampang” diubah-ubah, sesuai petunjuk sang
Komandan atau mengikuti “feeling” sang pembuat gambar. Berikutnya direkrutlah
sebanyak lima orang yang “dianggap” mampu mengeksekusi proyek tersebut. Dan
pilihan jatuh kepada Serma Muhidin dibantu keempat rekannya yakni Sertu
Gunawan, Sertu Ibnu, Kopda Nainggolan dan Kopda Simson S. Team ini disebut “team khusus”, bukan karena
kemampuan dan pengalaman mereka dalam menangani “proyek khusus” tersebut,
melainkan karena mereka sebagian justru berkualifikasi sebagai anggota pasukan
khusus TNI, yang merupakan ciri khas pasukan IndoFPC Unifil.
Setelah tim
terbentuk, maka mulailah proyek tersebut dikerjakan secara maraton dari jam
sembilan pagi hingga jam satu siang, istirahat makan siang, dilanjutkan lagi
pukul satu hingga pukul enam sore. Dan itu dikerjakan secara bergantian
menyesuaikan waktu senggang team pembuat. Maklum, mereka ini tetap mengutamakan
tugas pokok sebagai anggota IndoFPC yang bertanggung jawab terhadap keamanan
Unifil HQ Naqoura, jadi kalau saat “jatah” mereka hasrus melakukan patroli,
yach mereka harus ikut patroli dulu, baik jalan kaki maupun menggunakan
kendaraan tempur Anoa produksi Pindad. Usai tugas pokok terlaksana, barulah
mereka lepas baju dan perlengkapan tempur, menggantinya dengan seragam “tukang
batu”, bersenjata cangkul, sendok semen dan mesin las.
Untuk bahan
pembuatan patung garuda dengan ukuran sayap mengembang 9 meter dan tinggi
sekitar 5 meter ini juga “seadanya” dan cukup unik, “ Untuk bahan kami
peroleh dari barang-barang bekas yang ada di lingkungan korimek. Besi-besi
sebagian kami peroleh dari barang yang sudah tak terpakai, sedangkan untuk
bagian bulu-bulunya kami potong-potong dari bekas potongan atap korimek
berbahan seng yang sudah tak terpakai” tutur Serma Muhidin yang diiyakan
rekan-rekan timnya.
![]() |
| Menjawab kritikan dengan hasil yang luar biasa |
Dengan pola “tak
jelas” dan bahan seadanya tersebut, pada awalnya memang ada rasa pesimis.
Apalagi ketika suatu ketika seorang “engineer” kawakan dari Unifil menyambangi
proyek tersebut dan akhirnya melontarkan sebuah kritikan pedas, “Dengan pola
tak jelas begini, kalian bisa membuat proyek sebesar ini? You’re crazy!” demikian
cerita Muhidin, mengingat kata-kata “sang pakar” yang langsung disampaikan
kepadanya saat awal pembuatan patung.
Semua kritikan itu
akhirnya menjadi cambuk panas yang berharga bagi team untuk membuktikan, bahwa
“Indonesia Bisa!” . Dan dengan “zero experience” tim khusus yang sebagian
berasal dari pasukan khusus TNI ini akhirnya tetap melakukan eksekusi. Akan
tetapi, karena targetnya sebuah “patung garuda raksasa”, hasilnya pun tidak
sesuai dengan kualifikasi mereka sebagai prajurit khusus TNI. Mereka “gagal”
melakukan eksekusi “sasaran” dalam hitungan menit sesuai “pakem universal” yang
berlaku dalam operasi “serbuan kilat” pasukan khusus. Mereka ini justru
“santai”, tidak terburu-buru oleh waktu dan akhirnya memakan waktu eksekusi
yang cukup lama, empat bulan!
![]() |
| Empat dari lima personel "Team Khusus" |
Meskipun menyita
waktu dan rekor terlama dalam pelaksanaan “operasi khusus “ oleh prajurit
khusus, namun bukan dari kacamata itu yang
yang kita nilai, kita lihat jenis target dan hasilnya yang memang
sesuatu yang seakan “imposible menjadi posible”, akan tetapi hasilnya, “Whole
Mission Accomplished, perfect!” sehingga “mencenggangkan” banyak orang,
salah satunya rekanku, si “bule” yang aku ceritakan pada awal tulisan ini dan
juga personel PBB lainnya. Bahkan sesuai informasi yang aku terima, pimpinan
tertinggi pasukan perdamaian PBB di Lebanon atau biasa dikenal dengan sebutan
Head Of Mission (HOM) /Force Commander (FC) Mayor Jenderal Paolo Serra, ikut
mengapresiasi karya cipta dan karsa tentara Indonesia yang luar biasa tersebut
sehingga pada akhir Oktober 2013 ini, berencana meresmikan dan membubuhkan
tanda tangan di dalam prasasti yang akan dibangun di depan monumen Garuda. Luar
biasa!
Melihat prestasi
rekanku IndoFPC tersebut, aku pun semakin bangga dan cinta dengan negeri yang
bernama Indonesia, yang sudah aku tinggalkan sepuluh bulan lamanya untuk
bertugas di negeri yang berjarak 8.257 km dari kampung halamanku. Namun terkadang
aku malu pada diriku, “Apa yang telah aku berikan kepada Indonesia”. Aku
hanya merupakan “butiran kerikil” dari ratusan ribu prajurit TNI, dan hanya
“butiran debu” dari ratusan juta penduduk Indonesia. Kalau ada orang lain yang bertanya,
“Apa jasaku?”, tentu aku akan menjawab sembari tersipu malu, “ tidak
ada!” karena aku hanya sekedar bisa mengungkapkan “kebanggaanku terhadap
Indonesia” melalui goresan kecil tak berujung dari komputer bututku ini. Bravo
Indonesia!!!!
***




Kalau ada orang lain yang bertanya, “Apa jasaku?”, tentu aku akan menjawab sembari tersipu malu, “ tidak ada!” karena aku hanya sekedar bisa mengungkapkan “kebanggaanku terhadap Indonesia” melalui goresan kecil tak berujung dari komputer bututku ini. Bravo Indonesia!!!!
ReplyDeleteTerus terang saja, saya terharu dengan kata-kata tersebut. Menurut saya pribadi, andalah yang justru paling berjasa karena dapat membuka mata dunia lewat tulisan anda yang luar biasa ini. Harusnya pemimpin TNI lebih memperhatikan orang-orang dengan kemampuan seperti anda ini. Teruslah berkarya untuk Indonesia.
Tks atas pujian mas/ mbak. Saya hanya bisa "berbuat" apa yang bisa saya perbuat sesuai porsi saya, tidak ada tendensi lain. Salam kenal. Tks n salam garuda dari bumi lebanon.
DeleteAyah saya baru saja berpulang dari lebanon untuk kedua kalinya. Dari kecil Hinggayg tidak tau apa apa dan kedua di unur saya yg ke 24 ini. saya cari lah coklat yg enak ini siapa tau ada yg jual di indonesia
ReplyDelete