![]() |
| Oktober .... Nopember ..... Desember...... pulang kembali ke tanah air! ......... |
Menghitung
hari, detik demi detik. Masa kunanti apakan ada. Jalan cerita kisah yang
panjang. Menghitung hari …. Itulah satu bait syair lagu dari penyanyi
kondang Krisdayanti. Dari syair lagu yang bermakna romantis itu, aku bukan mau
menceritakan tentang kerinduanku atau kegundahan rekan-rekanku terhadap
seseorang yang dinanti-nanti nun jauh di sana, melainkan sedikit
mengekspresikan apa yang aku rasakan dan juga rekan-rekan Satgas yang lain
ketika berbicara masalah waktu di tempat penugasan kami saat ini, yakni Lebanon.
Seperti diketahui,
aku dan juga sebagian rekan-rekan dari Satgas MCOU (Military Community Outreach
Unit) tiba di daerah penugasan Lebanon
tepat ketika kalender menunjukkan angka satu di bulan Desember 2012. Kalau
sekarang sudah masuk di bulan Oktober 2013, di tanggal yang sama pula yakni
tanggal satu maka tak terasa sudah sepuluh bulan aku dan rekan-rekanku berada
di daerah penugasan. Suatu waktu yang terbilang “cukup lama” bagiku untuk
meninggalkan keluarga tercinta di tanah air.
Dengan “kontrak”
penugasan yang berdurasi satu tahun, maka aku dan rekan-rekan Satgas yang
tergabung dalam Kontingen Garuda akan menghabiskan waktu dua bulan lagi ke
depan hingga Desember 2013 sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Dan masa/
waktu yang dua bulan lagi inilah yang aku kaitkan dengan penggalan syair lagu
sebagai pembuka catatan kecil ini.
Sebagaimana
pengalamanku dalam sejumlah penugasan, bulan-bulan pertama dan akhir penugasan
merupakan bulan-bulan yang cukup rawan yang perlu diwaspadai oleh setiap
personel. Sedangkan berbicara masalah waktu, bulan-bulan itu pula boleh
dikatakan sebagai bulan di mana minggu dan harinya seakan berjalan amat lambat.
Sebagai contoh, pada bulan pertama penugasan dengan durasi penugasan satu tahun,
maka hari-hari akan selalu dianggap lambat perputarannya, “ Hari ini Senin, tanggal 15 Desember, baru 15
hari penugasan, kurang 350 hari lagi! “ demikian celoteh sebagian rekanku
sembilan bulan lalu yang waktu itu sempat juga membuat aku merenung, “ Betul juga baru 15 hari, kurang 350 hari
atau sebelas bulan lagi untuk bisa kembali ke tanah air!”. Namun perasaan
“lambatnya” sang waktu ini akan terhapus dengan sendirinya tatkala kami sudah
beradaptasi dengan situasi dan kondisi daerah penugasan termasuk mulai
disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Dan akhirnya bulan kedua, ketiga,
keempat dan seterusnya berjalan dengan cepat, di mana kami mulai menikmati
pekerjaan dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi menjelang akhir penugasan,
perasaan yang muncul saat awal penugasan pada umumnya “kambuh” kembali. Waktu
pun seakan kembali berjalan dengan lambatnya, hari, minggu, bulan, terasa
enggan untuk berganti.
Perasaan lambatnya
sang waktu terutama untuk bulan-bulan akhir penugasan umumnya dapat dimaklumi
karena beberapa hal seperti munculnya kejenuhan dalam melakukan aktifitas
sehari-hari yang “itu-itu saja” dan juga mulai timbulnya rasa “kangen” yang
berlebih terhadap keluarga mengingat dalam hitungan hari akan bertemu dengan
mereka. Pada kondisi ini maka seakan betapa sulitnya “menghitung hari”, Senin … Selasa …. Rabu …. dan seterusnya,
kembali ke Senin ….. lama sekali!” Inilah bagi mereka yang terlibat dalam
lingkaran “menghitung hari” menunggu saat-saat kembali ke tanah air.
Meningkatkan
Aktifitas Olah Raga
Untuk menghilangkan
kejenuhan setelah sepuluh bulan di daerah penugasan, terutama untuk membuang
perasaan lamanya perputaran sang waktu, aku dan rekan-rekan Satgas memilih
melaksanakan aktifitas olah raga. Beberapa jenis olah raga favorit yang dipilih
oleh rekan-rekanku adalah joging, lari,
renang, voli, tenis meja, tenis lapangan, volley ball, voli pantai, futsal,
bulutangkis dan juga bina raga.
Fasilitas untuk semua
jenis olah raga tersebut sebagian tersedia di Soedirman Camp, yang menjadi
markas kami dan sebagian lagi di beberapa area Markas Besar Unifil di Naqoura,
South Lebanon. Bagi yang hobi lari, tersedia track yang cukup lumayan
tantangannya dengan jalanan aspal naik turun yang terbentang sepanjang area
Camp Soerdiman di Grren Hill hingga Camp Tara di kawasan Unifil HQ. Untuk tenis
meja, tersedia 3 meja untuk latihan di Soedriman Camp.
![]() |
| Sebagian fasilitas OR di Unifil HQ Naqoura |
Untuk mereka yang
hobi Futsal, selain bisa memanfaatkan lapangan yang ada di Soedirman Camp juga
dapat memanfaatkan lapangan Futsal Unifil. Demikian pula untuk renang dan bina
raga (Gymnastik), Unifil menyiapkan sarana untuk kedua jenis olah raga ini
berdampingan dan lokasinya persis di pinggir pantai Naqoura. Untuk penggemar
tenis lapangan, disediakan pula 3 lapangan tenis yang cukup mewah dengan lokasi
yang juga berada di pinggir pantai, berdampingan dengan Rubb Hall yang
menyediakan 5 lapangan bulu tangkis bagi mereka yang hobi dengan olah raga ini.
Semua fasilitas olah
raga yang tersedia di Soedirman Camp maupun di kawasan Unifil HQ tersebut dapat
dimanfaatkan dengan gratis oleh seluruh personel Unifil mulai pagi, siang
hingga malam hari, menyesuaikan jadwal yang ada di masing-masing fasilitas olah
raga tersebut. Khusus untuk rekan-rekan Satgas dari Kontingen Indonesia,
kegiatan olah raga ini umumnya dilakukan setelah kegiatan harian usai di sore
maupun malam hari. Sedangkan di hari Minggu, umumnya di lakukan pada pagi, sore
dan juga malam hari.
Dari semua jenis olah
raga dengan fasilitas yang tersedia tersebut, aku pribadi lebih suka memilih
olah raga bulu tangkis yang menurutku lebih banyak mengeluarkan keringat bila
dimainkan secara perorangan. Di lingkungan Unifil, olah raga yang aku sukai ini
juga tidak sekedar menjagi hobi, akan tetapi sekaligus menjadi olah raga
prestasi. Pada Juni 2013 lalu, aku berhasil meraih medali perak untuk kelompok
single putra prestasi pada Turnamen Bulutangkis Unifil yang diikuti pemain dari
sejumlah negara kuat bulutangkis seperti Cina, Korea, Malaysia dan India serta
tentu saja sejumlah pemain dari Indonesia (lebih lengkapnya lihat Catatan ke-37, http://lebanonku.blogspot.com/2013/06/catatan-ke-37-raih-medali-perak.html ).
Untuk bermain olah
raga bulu tangkis ini, aku bergabung
dengan rekan-rekan dari Satgas FPC (Force Protection Company) dan FHQSU (Force
Headquarter Support Unit) dengan jadwal latihan sore hari dari jam lima usai
pulang kantor hingga menjelang Maghrib. Pada saat-saat tertentu, untuk
meningkatkan semangat latihan, pemain-pemain terbaik dari kami yang berada di
kawasan Naqoura, menyelenggarakan turnamen sendiri dengan hadiah dari “iuran”
masing-masing pemain. Hadiahnya pun diusahakan untuk “makan bersama” sehingga
dapat lebih meningkatkan kerjasama dan persahabatan di antara kami.
Menghadapi
Masa Kritis
Selain melakukan kegiatan
olah raga, aktifitas penting lain yang dapat “membunuh” kejenuhan dan bisa “menambah”
cepatnya perputaran sang waktu adalah dengan tetap fokus pada pekerjaan
sehari-hari. Dan inilah hal penting yang kami waspadai dalam menjalani misi PBB
di Lebanon menjelang akhir penugasan. Ada pepatah yang sering menjadi pedoman
kami dalam menjalankan suatu penugasan, “ Masa
awal dan menjelang akhir penugasan adalah masa yang paling kritis”.
Maksudnya adalah bahwa masa-masa itu terutama menjelang akhir penugasan
mengandung lebih banyak tantangan. Pada masa ini, karena sudah dianggap biasa
dalam menghadapi suatu pekerjaan, sebagian personel umumnya kurang
memperhatikan kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga pada gilirannya justru
memunculkan masalah baru yang merugikan diri sendiri dan juga satuan.
Melihat risiko besar
yang muncul pada bulan-bulan terakhir penugasan maka sesuai kesepakatan, aku
dan rekan-rekan Satgas tetap memfokuskan diri pada pekerjaan dan tugas pokok
masing-masing. Semua tugas yang menjadi makanan kami sehari-hari tetap kami
kerjakan dengan baik dan berusaha menghindari kesalahan sekecil apapun.
![]() |
| Kunjungan ke sekolah, dapat membunuh "kejenuhan" |
Khusus untuk Satgas
MCOU (Military Community Outreach Unit) di mana aku bertugas, bulan-bulan akhir
penugasan (Oktober-Desember) justru menjadi bulan yang “Super Sibuk” dilihat
dari intensitas kegiatan kunjungan. Bila bulan-bulan sebelumnya, kunjungan Tim
Tactical Community Outreach (Tcot) hanya terfokus pada kunjungan ke Local
Leader dan Local People, maka pada bulan-bulan akhir penugasan itu, lokasi
kunjungan kembali seperti semula yaitu ditambah dengan kunjungan ke
sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh area operasi Unifil (Juni-September,
seluruh sekolah di Lebanon libur musim panas-Summer Holiday).
Padatnya jadwal
kunjungan tersebut, diperkirakan dapat membunuh “kejenuhan” dan bisa melewatkan
“masa kritis” kami di akhir penugasan. Pertemuan-pertemuan kami dengan
anak-anak TK dan SD saat kunjungan ke sekolah menjadi daya tarik tersendiri
bagi kami, apalagi bila teringat senyum dan ketawa mereka ketika menyambut
kedatangan kami dan juga melihat
kegembiraannya ketika mendapat “hadiah” yang kami bawa, sungguh sesuatu yang
sulit dilupakan. Inilah salah satu faktor yang akhirnya membuat kami tetap
optimis untuk tetap bekerja dengan maksimal hingga akhir penugasan, sehingga tidak
ada kesulitan bagi kami untuk “menghitung hari”.
***



Betul pak, tetap tunjukkan yg terbaik demi merah putih. Sabar adalah salah satu kuncinya. Saya doakan semoga tetap sukses sampai akhir misi dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga di tanah air. Salam Garuda!!!!!
ReplyDeleteTks. kami akan selalui berusaha tetap menunjukkan yang terbaik hingga akhir misi. Salam Garuda!
Delete