Thursday, October 10, 2013

Catatan ke-56 : Sulitnya “Menghitung” Hari



Oktober .... Nopember  ..... Desember...... pulang kembali ke tanah air! .........
 Menghitung hari, detik demi detik. Masa kunanti apakan ada. Jalan cerita kisah yang panjang. Menghitung hari …. Itulah satu bait syair lagu dari penyanyi kondang Krisdayanti. Dari syair lagu yang bermakna romantis itu, aku bukan mau menceritakan tentang kerinduanku atau kegundahan rekan-rekanku terhadap seseorang yang dinanti-nanti nun jauh di sana, melainkan sedikit mengekspresikan apa yang aku rasakan dan juga rekan-rekan Satgas yang lain ketika berbicara masalah waktu di tempat penugasan kami saat ini, yakni Lebanon.
Seperti diketahui, aku dan juga sebagian rekan-rekan dari Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit)  tiba di daerah penugasan Lebanon tepat ketika kalender menunjukkan angka satu di bulan Desember 2012. Kalau sekarang sudah masuk di bulan Oktober 2013, di tanggal yang sama pula yakni tanggal satu maka tak terasa sudah sepuluh bulan aku dan rekan-rekanku berada di daerah penugasan. Suatu waktu yang terbilang “cukup lama” bagiku untuk meninggalkan keluarga tercinta di tanah air.
Dengan “kontrak” penugasan yang berdurasi satu tahun, maka aku dan rekan-rekan Satgas yang tergabung dalam Kontingen Garuda akan menghabiskan waktu dua bulan lagi ke depan hingga Desember 2013 sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Dan masa/ waktu yang dua bulan lagi inilah yang aku kaitkan dengan penggalan syair lagu sebagai pembuka catatan kecil ini.
Sebagaimana pengalamanku dalam sejumlah penugasan, bulan-bulan pertama dan akhir penugasan merupakan bulan-bulan yang cukup rawan yang perlu diwaspadai oleh setiap personel. Sedangkan berbicara masalah waktu, bulan-bulan itu pula boleh dikatakan sebagai bulan di mana minggu dan harinya seakan berjalan amat lambat. Sebagai contoh, pada bulan pertama penugasan dengan durasi penugasan satu tahun, maka hari-hari akan selalu dianggap lambat perputarannya, “ Hari ini Senin, tanggal 15 Desember, baru 15 hari penugasan, kurang 350 hari lagi! “ demikian celoteh sebagian rekanku sembilan bulan lalu yang waktu itu sempat juga membuat aku merenung, “ Betul juga baru 15 hari, kurang 350 hari atau sebelas bulan lagi untuk bisa kembali ke tanah air!”. Namun perasaan “lambatnya” sang waktu ini akan terhapus dengan sendirinya tatkala kami sudah beradaptasi dengan situasi dan kondisi daerah penugasan termasuk mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Dan akhirnya bulan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya berjalan dengan cepat, di mana kami mulai menikmati pekerjaan dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi menjelang akhir penugasan, perasaan yang muncul saat awal penugasan pada umumnya “kambuh” kembali. Waktu pun seakan kembali berjalan dengan lambatnya, hari, minggu, bulan, terasa enggan untuk berganti.
Perasaan lambatnya sang waktu terutama untuk bulan-bulan akhir penugasan umumnya dapat dimaklumi karena beberapa hal seperti munculnya kejenuhan dalam melakukan aktifitas sehari-hari yang “itu-itu saja” dan juga mulai timbulnya rasa “kangen” yang berlebih terhadap keluarga mengingat dalam hitungan hari akan bertemu dengan mereka. Pada kondisi ini maka seakan betapa sulitnya “menghitung hari”, Senin … Selasa …. Rabu …. dan seterusnya, kembali ke Senin ….. lama sekali!” Inilah bagi mereka yang terlibat dalam lingkaran “menghitung hari” menunggu saat-saat kembali ke tanah air.

Meningkatkan Aktifitas Olah Raga
Untuk menghilangkan kejenuhan setelah sepuluh bulan di daerah penugasan, terutama untuk membuang perasaan lamanya perputaran sang waktu, aku dan rekan-rekan Satgas memilih melaksanakan aktifitas olah raga. Beberapa jenis olah raga favorit yang dipilih oleh rekan-rekanku adalah  joging, lari, renang, voli, tenis meja, tenis lapangan, volley ball, voli pantai, futsal, bulutangkis dan juga bina raga.
Fasilitas untuk semua jenis olah raga tersebut sebagian tersedia di Soedirman Camp, yang menjadi markas kami dan sebagian lagi di beberapa area Markas Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Bagi yang hobi lari, tersedia track yang cukup lumayan tantangannya dengan jalanan aspal naik turun yang terbentang sepanjang area Camp Soerdiman di Grren Hill hingga Camp Tara di kawasan Unifil HQ. Untuk tenis meja, tersedia 3 meja untuk latihan di Soedriman Camp.
Sebagian fasilitas OR di Unifil HQ Naqoura
Untuk mereka yang hobi Futsal, selain bisa memanfaatkan lapangan yang ada di Soedirman Camp juga dapat memanfaatkan lapangan Futsal Unifil. Demikian pula untuk renang dan bina raga (Gymnastik), Unifil menyiapkan sarana untuk kedua jenis olah raga ini berdampingan dan lokasinya persis di pinggir pantai Naqoura. Untuk penggemar tenis lapangan, disediakan pula 3 lapangan tenis yang cukup mewah dengan lokasi yang juga berada di pinggir pantai, berdampingan dengan Rubb Hall yang menyediakan 5 lapangan bulu tangkis bagi mereka yang hobi dengan olah raga ini.
Semua fasilitas olah raga yang tersedia di Soedirman Camp maupun di kawasan Unifil HQ tersebut dapat dimanfaatkan dengan gratis oleh seluruh personel Unifil mulai pagi, siang hingga malam hari, menyesuaikan jadwal yang ada di masing-masing fasilitas olah raga tersebut. Khusus untuk rekan-rekan Satgas dari Kontingen Indonesia, kegiatan olah raga ini umumnya dilakukan setelah kegiatan harian usai di sore maupun malam hari. Sedangkan di hari Minggu, umumnya di lakukan pada pagi, sore dan juga malam hari.
Dari semua jenis olah raga dengan fasilitas yang tersedia tersebut, aku pribadi lebih suka memilih olah raga bulu tangkis yang menurutku lebih banyak mengeluarkan keringat bila dimainkan secara perorangan. Di lingkungan Unifil, olah raga yang aku sukai ini juga tidak sekedar menjagi hobi, akan tetapi sekaligus menjadi olah raga prestasi. Pada Juni 2013 lalu, aku berhasil meraih medali perak untuk kelompok single putra prestasi pada Turnamen Bulutangkis Unifil yang diikuti pemain dari sejumlah negara kuat bulutangkis seperti Cina, Korea, Malaysia dan India serta tentu saja sejumlah pemain dari Indonesia (lebih lengkapnya lihat Catatan ke-37, http://lebanonku.blogspot.com/2013/06/catatan-ke-37-raih-medali-perak.html ).
Untuk bermain olah raga bulu tangkis ini,  aku bergabung dengan rekan-rekan dari Satgas FPC (Force Protection Company) dan FHQSU (Force Headquarter Support Unit) dengan jadwal latihan sore hari dari jam lima usai pulang kantor hingga menjelang Maghrib. Pada saat-saat tertentu, untuk meningkatkan semangat latihan, pemain-pemain terbaik dari kami yang berada di kawasan Naqoura, menyelenggarakan turnamen sendiri dengan hadiah dari “iuran” masing-masing pemain. Hadiahnya pun diusahakan untuk “makan bersama” sehingga dapat lebih meningkatkan kerjasama dan persahabatan di antara kami.

Menghadapi Masa Kritis
Selain melakukan kegiatan olah raga, aktifitas penting lain yang dapat “membunuh” kejenuhan dan bisa “menambah” cepatnya perputaran sang waktu adalah dengan tetap fokus pada pekerjaan sehari-hari. Dan inilah hal penting yang kami waspadai dalam menjalani misi PBB di Lebanon menjelang akhir penugasan. Ada pepatah yang sering menjadi pedoman kami dalam menjalankan suatu penugasan, “ Masa awal dan menjelang akhir penugasan adalah masa yang paling kritis”. Maksudnya adalah bahwa masa-masa itu terutama menjelang akhir penugasan mengandung lebih banyak tantangan. Pada masa ini, karena sudah dianggap biasa dalam menghadapi suatu pekerjaan, sebagian personel umumnya kurang memperhatikan kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga pada gilirannya justru memunculkan masalah baru yang merugikan diri sendiri dan juga satuan.
Melihat risiko besar yang muncul pada bulan-bulan terakhir penugasan maka sesuai kesepakatan, aku dan rekan-rekan Satgas tetap memfokuskan diri pada pekerjaan dan tugas pokok masing-masing. Semua tugas yang menjadi makanan kami sehari-hari tetap kami kerjakan dengan baik dan berusaha menghindari kesalahan sekecil apapun.
Kunjungan ke sekolah, dapat membunuh "kejenuhan"
Khusus untuk Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit) di mana aku bertugas, bulan-bulan akhir penugasan (Oktober-Desember) justru menjadi bulan yang “Super Sibuk” dilihat dari intensitas kegiatan kunjungan. Bila bulan-bulan sebelumnya, kunjungan Tim Tactical Community Outreach (Tcot) hanya terfokus pada kunjungan ke Local Leader dan Local People, maka pada bulan-bulan akhir penugasan itu, lokasi kunjungan kembali seperti semula yaitu ditambah dengan kunjungan ke sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh area operasi Unifil (Juni-September, seluruh sekolah di Lebanon libur musim panas-Summer Holiday).
Padatnya jadwal kunjungan tersebut, diperkirakan dapat membunuh “kejenuhan” dan bisa melewatkan “masa kritis” kami di akhir penugasan. Pertemuan-pertemuan kami dengan anak-anak TK dan SD saat kunjungan ke sekolah menjadi daya tarik tersendiri bagi kami, apalagi bila teringat senyum dan ketawa mereka ketika menyambut kedatangan kami dan  juga melihat kegembiraannya ketika mendapat “hadiah” yang kami bawa, sungguh sesuatu yang sulit dilupakan. Inilah salah satu faktor yang akhirnya membuat kami tetap optimis untuk tetap bekerja dengan maksimal hingga akhir penugasan, sehingga tidak ada kesulitan bagi kami untuk “menghitung hari”.

***

2 comments:

  1. Betul pak, tetap tunjukkan yg terbaik demi merah putih. Sabar adalah salah satu kuncinya. Saya doakan semoga tetap sukses sampai akhir misi dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga di tanah air. Salam Garuda!!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks. kami akan selalui berusaha tetap menunjukkan yang terbaik hingga akhir misi. Salam Garuda!

      Delete