Saturday, December 7, 2013

Catatan ke-58 : “Menghitung” Uang Saku dari Lebanon

Daily Allowned yang diterimakan setiap bulan oleh prajurit TNI di Lebanon
 Berapa sih gaji atau uang saku yang diterima prajurit TNI yang bertugas di luar negeri salah satunya di Lebanon? Pertanyaan ini memang terkadang dilontarkan teman-teman atau justru oleh personel TNI yang belum mendapatkan informasi atau kebetulan belum mengalami penugasan ke luar negeri. Sedikit gambaran yang mereka tahu bahwa apabila seorang prajurit TNI yang mendapat kehormatan tugas ke luar negeri pasti gajinya “dobel” dan dalam bentuk dolar!. Yach memang betul, di Indonesia gaji utuh, dan di daerah penugasan luar negeri pun mereka mendapatkan gaji atau tepatnya “uang saku” tambahan dari PBB.  Akan tetapi, berapa sich nominalnya?. Inilah yang sedikit akan aku ulas dalam tulisan ringa ini (tulisan ini sekedar memberikan info kepada rekan-rekan di tanah air). 
Sebelum mengarah ke jumlah nominal gaji yang diterima prajurit TNI di Lebanon atau yang bertugas di negara konflik lainnya, aku akan sedikit memberi gambaran umum bahwa tidak semua prajurit yang tergabung dalam misi PBB mendapatkan jumlah uang saku atau gaji yang sama. Bahkan di dalam penugasan di Negara yang sama pun belum tentu mendapatkan gaji atau uang saku yang sama. Di sini di kenal tiga tingkatan status penugasan dengan tingkatan gaji yang berbeda pula. Dari urutan gaji atau uang saku terbesar adalah Military Observer (Milobs) yang umumnya diambil dari Perwira Menengah (Pamen) TNI, selanjutnya Staff Officer (SO) atau bisa disebut dengan Military Staff (Milstaf) yang umumnya juga diambil dari kalangan Perwira. Yang terakhir adalah mereka yang tergabung dalam Kontingen besar yang umumnya dikepalai oleh Seorang Komandan Kontingen, yang selanjutnya kita kenal dengan sebutan Kontingen Garuda.
Selain tingkatan status penugasan, daerah penugasan pun mempengaruhi nominal uang saku yang diberikan PBB terhadap setiap prajurit yang berpartisipasi di dalamnya. Seorang prajurit dengan status kontingen misalnya akan lebih tinggi uang sakunya ketika ditugaskan PBB di daerah konflik dengan status yang cukup rawan, dibandingkan seorang prajurit lain yang ditugaskan di daerah yang relative aman dan terkendali. Istilah yang digunakan PBB dalam “intervensi” nya di daerah konflik antara lain  dikenal dengan Peace Enforcement dengan mendasarkan pada Chapter VII Piagam PBB yakni adanya penggunaan angkatan bersenjata untuk memelihara dan memulihkan perdamaian dan keamanan Internasional dalam rangka menghadapi ancaman perdamaian, pelanggaran perdamaian, atau tindakan agresi. Sedangkan lainnya  adalah Peacekeeping berupa operasi yang digelar PBB dalam rangka menjamin proses perdamaian yang disepakati oleh masing-masing pihak, dan dalam mendukung usaha untuk meningkatkan keamanan dan saling percaya untuk mencapai penyelesaian perdamaian dalam jangka panjang.
Dari kategori tingkat “kerawanan” tersebut maka seluruh prajurit TNI yang sedang ditugaskan di Lebanon merupakan “Peacekeeper” dengan gaji sesuai standard PBB untuk seorang Peacekeeper dengan Chapter VI dari Piagam PBB yang menjadi landasannya.

Lebih Besar dan Lebih Kecil
Saat ini, prajurit TNI yang tergabung dalam misi penugasan PBB di Lebanon terbagi dalam beberapa Satuan Tugas (Satgas) dengan nomor Kontingen Garuda yang juga berbeda.  Satgas tersebut adalah Batalyon Mekanis Indonesia atau akrab dikenal dengan sebutan Indonesian Batalyon (Indobatt), Force Protection Company (FPC), Sector East Military Police Unit (Sempu), Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Military Community Outreach Unit (MCOU), Level II Hospital, dan Civil Military Coordination (Cimic) dan sejumlah personel yang bertugas di Sektor (Sector  East maupun Sector West Unifil).
Seluruh Personel TNI tersebut di atas memiliki ciri pengenal ID berklasifikasi MI (Military). Dan kalau berbicara masalah “uang saku” yang diterima selama masa penugasan, maka mereka ini mendapatkan hak  yang sama dari PBB dengan tidak mengenal pangkat maupun jabatan. Hak tersebut adalah mendapatkan uang saku US $1106  per bulan (sekitar Rp. 12.166.000,- dengan kurs satu dolarnya Rp. 11.000,-). Selain uang saku atau juga akrab dikenal dengan sebutan “gaji UN”, setiap prajurit juga menerima uang harian (daily allowned) sebesar $1,27 per harinya atau sekitar US $ 38-39 (sekitar Rp. 418.000 – Rp. 429.000,-, dengan kurs dolar Rp. 11.000,- per satu dolarnya). Ada pula tambahan uang spesialisasi yang nilainya hampir sama dengan nilai uang harian (pengelolaannya diserahkan ke Satgas masing-masing). Jadi total dalam sebulan, selain gaji di dalam negeri yang tetap utuh, setiap prajurit TNI menerima “gaji” tambahan dari UN sekitar 12 juta lebih.
Bagaimana dengan gaji tentara dari negara lain yang bertugas di Unifil? Dari beberapa pertemuan dan perbincanganku dengan rekan-rekan tentara dari Negara lain, ternyata gaji atau uang saku mereka bervariasi, ada yang lebih besar, ada pula yang lebih kecil dengan standard gaji yang diterima prajurit TNI. Sebagai gambaran, untuk tentara Kamboja yang bermarkas di Marjeyoun, mereka menerima gaji UN sesuai dengan strata kepangkatannya. Untuk yang Tamtama US$ 600, Bintara US$ 800 dan untuk Perwiranya US$ 1000. Gaji yang diterima prajurit Kamboja ini tidak jauh berbeda dengan gaji yang diterima prajurit dari Nepal, Bangladesh, Srilanka yang bervariasi dalam kisaran angka tersebut. Dengan angka ini maka gaji yang diterima prajurit TNI, Alhamdulillah lebih besar dari gaji yang mereka dapatkan selama misi penugasan di PBB.
Dibandingkan Tanzania, Nepal dan Srilanka, alhamdulillah lebih besar
Bagaimana pula dengan gaji tentara UN dari Negara-negara Eropa seperti Perancis, Italia, Jerman, Spanyol dan sebagainya? Ternyata kita masih kalah jauh. Dalam sebuah percakapan ringan dengan OF1 Rosari Talarico, rekan kerjaku dari Italia, ia mengaku digaji sebagai Officer sebesar 150 Euro per hari ( atau sekitar Rp.2,25 juta dengan kurs 15 ribu per 1 Euronya) atau kalau dihitung dalam sebulan (30 hari) maka ia mendapatkan gaji sebesar 4500 Euro atau setara dengan 67,5 juta per bulannya dengan menggunakan angka kurs yang sama. Jumlah ini jelas lebih besar lima kali lipat dengan jumlah yang diterima oleh prajurit TNI. Tapi jangan pesimis dulu, gaji sebesar itu sebenarnya tidak beda jauh nilainya bila dibelanjakan di Negara masing-masing. Sebagai contoh yang paling gampang jika rokok Marlboro di Indonesia misalnya dijual seharga Rp 15.000,- maka Marlboro di Negara Piza Itali dijual dengan harga 6 Euro atau sekitar Rp.90.000,-., Dengan harga ini maka terlihat bahwa harga Marlboro di Italia enam kali lipat lebih mahal dibandingkan Indonesia. Demikian pula dengan beberapa harga kebutuhan pokok yang lain yang jelas akan lebih mahal beberapa kali lipat dengan harga di Indonesia. Dalam arti gaji yang lima kali lipat dari Indonesia akan “hampir sama” nilainya dari segi pemanfaatannya. Dari beberapa sumber, gaji UN yang diterima prajurit dari Eropa ini sebenarnya berada pada kisaran gaji prajurit TNI, akan tetapi jumlah itu melonjak dengan adanya subsidi dari negara masing-masing agar proporsional dengan gaji yang mereka terima di negaranya.
Dengan tentara Italia, uang saku kita "masih kalah"
Kembali ke masalah gaji UN, untuk gaji civilian (tenaga kerja kontrak dari kalangan sipil)  terutama mereka yang berasal dari penduduk asli Lebanon maka gajinya pun bervariasi. Seorang “tukang sapu” di kantor kami yang telah mengabdi beberapa tahun di UN mengaku mendapatkan gaji dari UN sebesar US$ 800 (Rp.8, 8 juta dengan kurs satu dolarnya Rp. 11 ribu). Sedangkan untuk mereka yang bergabung sebagai Language Assistant  (LA) yang tersebar hampir di seluruh unit Unifil baik staff maupun kontingen pasukan, rata-rata memperoleh gaji sebesar US$3000 (Rp. 33 juta dengan kurs yang sama untuk satu dolarnya yakni Rp. 11 ribu). Gaji sebesar ini juga hampir tak jauh beda dari nilai pemanfaatannya  di mana beaya hidup di Lebanon terbilang tinggi bila dibandingkan dengan beaya hidup di Indonesia.
Selain mereka yang tergabung dalam kontingen besar yakni Kontingen Garuda dengan gaji standard MI dengan nilai yang telah diuraikan sebelumnya, Indonesia juga mengirimkan sejumlah prajurit (umumnya Perwira dan sebagian dari Bintara) yang status IDnya berkode SO atau Staff Officer. Untuk golongan mereka ini, gajinya berbeda dengan personel kontingen atau MI, di mana mereka mendapatkan gaji atau uang saku sebesar US$ 77 per hari plus uang harian (minus uang spesialisasi). Bila dikalikan 30 maka gaji SO ini mencapai US$ 2310 atau sekitar Rp. 25,41 juta, cukup besar bukan? Tapi tunggu dulu, itu pendapatan kotor karena mereka harus membayar sendiri seluruh beaya akomodasi seperti penginapan, komunikasi termasuk pula makan mereka sehari. Untuk makan saja, misalnya yang disediakan di International Mess (ruang makan international), mereka yang tergabung dalam SO in harus merogoh kocek sebesar US$ 8 dengan perincian 2 dolar untuk makan pagi, 3 dolar makan siang dan 3 dolar untuk makan malamnya. Jadi kalau mereka mengandalkan makan di tempat ini maka untuk sebulan, mereka harus mengeluarkan uang sekitar US$ 240. Belum lagi untuk pengeluaran lain di mana mereka harus mandiri. Dari informasi sebagian dari golongan ini yang telah pulang ke tanah air, maka mereka bisa menyisihkan gaji UN per bulannya sekitar US$ 1500-US$ 1800 atau sekitar  Rp.16, 5 juta hingga Rp 19,8 juta per bulannya, tergantung dari pemakaian masing-masing personel.

Pengeluaran
Sekarang pertanyaannya, berapa sich uang yang bisa disisihkan oleh setiap prajurit TNI yang tergabung dalam kontingen Garuda berstatus MI  dengan uang  saku sebesar US $1106 per bulan plus uang harian (daily allowned) sebesar $1,27 per harinya dan uang spesialisasi yang nilainya hampir sama dengan uang harian?
Jawabannya, tergantung dari pengeluaran si prajurit TNI itu sendiri. Secara umum memang tidak ada pengeluaran resmi seperti halnya personel TNI yang berstatus Staff Officer yang harus menyisihkan gajinya untuk beaya akomodasi termasuk makan yang nilainya ratusan dolar, semua dukungan untuk prajurit yang bertitel MI sudah terpenuhi semua oleh Unifil, mulai dari asrama (korimek), makanan hingga dukungan menu  tambahan/ nutrisi seperti roti, susu, jus, buah-buahan dan lainnya yang cukup berlebihan. Dengan dukungan yang mencukupi ini maka logikanya memang sudah cukup untuk bisa hidup di Lebanon, akan tetapi terkadang “sebagian” prajurit masih menonjolkan “aji mumpung”, mumpung ada duit tambahan sehingga akhirnya budaya “belanjalah” yang menjadi pilihan utama terutama belanja peralatan elektronik seperti computer Laptop, Notebook, HP, Ipad, jam tangan dan pakaian merk terkenal yang harganya mencapai 300 – 800 dolar. Akibatnya, sebagian gaji cash yang mereka terima di daerah penugasan yang rata-rata US$ 300 “habis” untuk keperluan belanja tersebut (seperti diketahui, sebagian Satgas memilih kebijakan menyisakan sebagian besar gaji prajurit TNI dalam tabungan di Indonesia serta sebagian kecil lainnya diberikan langsung dalam bentuk cash/ tunai di daerah penugasan Lebanon untuk per bulannya).
Pengeluaran lain yang menyedot beaya cukup besar adalah ketika musim cuti tiba di mana umumnya dimanfaatkan untuk Umroh  atau pulang ke Indonesia atau kedua-duanya, Umroh dan juga pulang ke Indonesia. Untuk Umroh ke tanah suci Mekah rata-rata membutuhkan beaya lebih dari US$ 1000 (plus oleh-oleh, untuk umroh sendiri beayanya sekitar US$750) sedangkan untuk pulang Indonesia dengan tiket pesawat rata-rata US$900 pada umumnya bisa menyedot beaya lebih dari US$1500 (plus oleh-oleh). Belum lagi bagi mereka yang memilih kedua-duanya, Umroh dan juga pulang ke Indonesia yang tentunya bisa menyedot beaya sekitar 2000-2500 US Dolar (sekitar Rp 21 juta – 26, 25 juta). Bagaimana kalau mereka yang dua kali pulang ke Indonesia dalam dua kesempatan cuti tahunan yang diberikan UN, pengeluaran tentu saja lebih besar dibandingkan mereka yang hanya sekali pulang atau bahkan mereka yang tidak pernah pulang ke Indonesia dan hanya menikmati cuti atau liburan di seputar Lebanon/ lingkungan Kamp saja.
Pengeluaran dan beaya ekstra akan bertambah pula menjelang kepulangan prajurit TNI dari daerah penugasan Lebanon. Untuk yang satu ini umumnya mereka termasuk aku mencari sejumlah kenang-kenangan unik yang jarang ditemui di Indonesia mulai dari barang perhiasan dan baranng pecah belah, makanan seperti Coklat dan buah tin, minyak zaitun, dan pernak-pernik lain yang kiranya pantas untuk oleh-oleh keluarga dan handai taulan di tanah air.
Untuk aku sendiri dengan gaji utuh di tanah air serta uang saku dari daerah penugasan memang sedikit banyak “menambah” jumlah tabunganku. Namun demikian jumlah yang aku peroleh tidaklah bulat seperti hitungan gampang matematika. Seperti halnya hampir seluruh rekan kontingen garuda, sebagian gaji dari UN ini dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari di Lebanon, melaksanakan ibadah Umroh ke tanah suci Mekah dan juga pulang ke tanah air sewaktu musim cuti, serta tak lupa untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga dan rekan-rekan di tanah air. Dari sini tentunya dapat ditebak berapa jumlah tabungan rata-rata prajurit sepulang dari daerah penugasan Lebanon.
Uang saku gaji “dobel” dari daerah penugasan tersebut sebenarnya bila dihitung-hitung sesuai dengan perjuangan para prajurit. Mereka harus melaksanakan tugas berisiko tinggi dan juga jauh dari keluarga serta mereka harus pula melalui seleksi yang cukup ketat dengan Pre Dployment Training (PDT) yang juga cukup berat. Belum lagi sebagian besar dari mereka, terutama yang ditugaskan di pos-pos strategis, harus menguasai bahasa Inggris dengan baik dan lancar
***

22 comments:

  1. Lumayan ya om..plng indonesia kurs dolar lg tinggi hehe..

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah.... tapi yg penting tugas lancar, aman dan sukses. Tulisan di atas hanya sekedar berbagi informasi, tdk ada tujuan lain. Tks

    ReplyDelete
  3. Slm utk temanku yg sempat lost contak, masAli Agus, & smoga slalu ada kemudahan & kebahagiaan buat kalian semua yg msh bertugas d sana,,,*v*

    ReplyDelete
  4. Mas mau nanya..???kalo brangkat bulan agustus 2013..kira2 pulangnya kapan ya??

    ReplyDelete
  5. Selama ini untuk penugasan luar negeri, termasuk di Lebanon, rata-rata jangka waktunya 1 tahun penugasan (kecuali Satgas Maritim yang rata-rata berdurasi 6 bulan). Untuk kontingen besar (Garuda) umumnya dilakukan pada akhir tahun (Desember) hingga bulan yang sama pada tahun berikutnya. Tks

    ReplyDelete
  6. ohh biasanya akhir taon ya,??
    pikir sy,pas buLan itu juga,udah dikrim,karna tiba2 Lost contact gtu,hampir 1th ini,
    mksiH mas,
    atas jawabannya,
    sukses sLaLu buat Anda,:)

    ReplyDelete
  7. Pak klo setahun biasa dapat kesempatan cuti brp kali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk satu periode penugasan (6 bulan) PBB memberi kesempatan cuti sekali, Untuk 2 periode penugasan (satu tahun) seperti yang dialami kontingen Indonesia maka cuti biasanya, bisa dilaksanakan dua kali. Tks

      Delete
  8. Apakah pasukan garuda Ada yg pernah jadi korban tewas di Sana?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya, personel Garuda yang ditugaskan di Lebanon hingga saat ini belum ada yang menjadi korban tewas. Tks atas atensinya

      Delete
  9. Gaji kontingen dgn milstaf sama aja y mas apa beda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gaji kontingen dengan Milstaf atau Staf Officer (SO) beda. Gaji Milstaf lebih besar dibanding mereka yang tergabung dalam kontingen. Mohon dibaca kembali artikel di atas. Tks

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Pak trims atas infonya kebetulan suami sy baru tiba dilebanon tgl 15 des 15 kmrin dan dapat kompi B.sy bs tau gambaran lokasi disana katanya ada kompi A B C D apa berbedaan antara kompi2 tersebut dan kompi mana yg termasuk daerah rawan?mohon dibantu ya pak soalnya sy sgt tertarik dgn blog bpk ini sy ingin tau sekali.sbg istri kadang sy merasa khawatir.trims sebelumnya pak M.syarifudin

    ReplyDelete
  12. Sebelumnya saya ucapkan selamat bertugas kepada suami ibu. Untuk Indonesia Battalion (Indobatt) atau dikenal dengan Batalyon Mekanik (Yonmek) sesuai struktur organisasinya memang dibagi ke dalam 4 kompi mekanis(A,B,C,D) plus I kompi bantuan. Markas keempat kompi ini tersebar di beberapa tempat yakni di UN Posn 7-1 meliputi Markas Batalyon, Kompi Delta dan Kompi Bantuan, Kompi C di UNP 9-2 desa Az Ziqiyah,Kompi B di UN Posn 7-2 Marjayoun dan Kompi A di El Adaisse UN Posn 9-63 serta UN Posn 9-15 di Kafarkilla. Tingkat kerawanan di daerah yang menjadi tanggung jawab masing-masing kompi ini secara umum berimbang. Jadi ibu nggak usah khawatir dengan keamanan para personel Satgas Garuda khususnya suami ibu yang bergabung di kompi B. Kita doakan bersama semoga mereka dapat menjalankan tugas dengan baik dan Insya Allah kembali ke tanah air dalam keadaan sehat, tak kurang suatu apa pun. Amien.

    ReplyDelete
  13. Amin...
    Ijin bg slam jnal saya sertu komang pk 13 dan saya suaminya irna yg menanyakan keadaan disini trimakasih bnyak bg sdh memberikan pencerahan pada istri saya

    ReplyDelete
  14. Amin...
    Ijin bg slam jnal saya sertu komang pk 13 dan saya suaminya irna yg menanyakan keadaan disini trimakasih bnyak bg sdh memberikan pencerahan pada istri saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal kembali mas. Itu hanya sekedar info yang saya tahu. Selamat bertugas dan tetap semangat. Semoga keluarga yang ditinggal di tanah air juga tetap diberi kesehatan, kesabaran dan semangat hingga penugasan selesai. Tks

      Delete
  15. trmkasih senior atas tulisan nya ,mntabz dan lengkap mhon doanya agar misi kami disni lancar aman sukses dan selamat pulang lagi keindoneisa

    ReplyDelete
  16. Selamat bertugas Bang Dody Sandra, semoga sehat, diberi keselamatan dan sukses sampai akhir penugasan
    Salam kenal abang M Syafrudin
    Dri Serka Andhika/Pk 12

    ReplyDelete