Monday, February 4, 2013

Catatan ke-20 : Pengemis Kecil di Pusat Kota Tyre




 Pada awal Januari 2013, aku diminta mengantar tiga rekanku (dua orang driver dan satu mekanik) mencari pengganti sparepart untuk mobil Ford Everest milik satgasku di kota Tyre (kota terbesar ke-4 di Lebanon) yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Markasku di Naqoura, Lebanon Selatan. Sebenarnya aku kurang mengetahui seluk beluk sparepart mobil, tetapi karena aku diminta mendampingi untuk sekedar membantu proses komunikasi (bahasa inggrisku dianggap lumayan) maka akhirnya aku pun berangkat berempat dengan Ford Everest menyusuri jalanan pinggir pantai sepanjang jalan Naqoura ke pusat kota Tyre.
Tiba di pusat kota Tyre, hari mulai siang. Suasana jalanan saat itu cukup macet, meski kendaraan tidak terlalu berjubel seperti di Jakarta. Mobil kami dengan tulisan Unifil di plat dan body kendaraan ditambah dengan sebuah bendera biru berlogo UN yang dipasang di belakang, mulai mencari-cari tempat parkir yang kosong. Sembari mencari parkir di pinggir jalanan kota, aku dan seorang rekanku turun dari mobil dan mulai bertanya-tanya kepada warga tentang toko atau bengkel yang menyediakan sparepart mobil Ford Everest.

Pengemis kecil di kota Tyre

Saat aku keluar dari sebuah toko untuk menanyakan letak toko yang bersangkutan, aku melihat seorang pengemis dengan pakaian yang khas, kumal, berusia sekitar 10-13 tahun sedang “merayu” rekanku agar mau memberikan sedekah. Aku mendatangi mereka. Tiba-tiba si pengemis cilik berubah arah meminta dengan sangat memelas kepadaku sembari berkata, “ one dolar…. One dolar ……(dilanjutkan dengan kata-kata dalam bahasa Arab yang tidak aku mengerti). Aku menggeleng sambil memandangnya. Ia tambah memelas dengan tidak melepaskan kata-kata yang sama, “ one dolar …. One dolar… “. Aku ragu antara memberi dan tidak. Saat itu, rekanku memberi kode agar aku tidak memberi sedekah kepadanya. Akhirnya aku menggeleng kembali, sambil mengajak rekanku mencari sebuah toko sesuai informasi yang aku terima saat aku bertanya-tanya tadi.
Setelah beranjak dari tempat tersebut, sang pengemis cilik ini ternyata tetap mengikuti kami dengan kata-kata memelas yang tidak pernah berubah, “ one dolar …. One dolar (dengan tambahan kalimat dalam bahasa Arab yang tidak juga aku mengerti)”. Aku tetap menggeleng. Tetapi ia tidak putus asa untuk selalu “mengejar” kami. Dua rekanku yang baru bergabung setelah memarkir mobilpun tak luput dari rayuan sang pengemis cilik. Kami ternyata memiliki pemikiran yang sama, “jangan diberi!”. Tetapi untuk beberapa lama sang pengemis tetap saja mengikuti kemana saja kami pergi sehingga kami merasa rikuh (apalagi karena suasana jalanan yang macet membuat kami menjadi pusat perhatian para pengguna jalan).
Dalam situasi yang kurang menguntungkan tersebut, seorang warga Kota Tyre berusaha membantu kami mengusir sang pengemis cilik dengan cara menghardik dengan bahasa Lebanon yang kurang aku mengerti. Si pengemis cilik itu menurut dan menjauh dari kami. Tetapi ia kembali mengejar kami sambil tetap mengharapkan kami mau memberinya uang satu dolar. Aku menghadapinya dengan satu senyuman diiringi gelengan kepala. Si pengemis akhirnya menyerah dan kami pun bebas dari kejaran sang pengemis cilik. Dalam hati aku merasa “berdosa” karena tidak bisa memberikan sesuatu yang mungkin saat itu ia sangat memerlukannya. Tetapi rasa kemanusiaanku termasuk rekan-rekanku saat itu tertindih oleh seragam yang melekat di baju kami, yakni seragam UN.
Sebagai manusia, kami tahu persis,  pengemis merupakan orang yang patut dikasihani. Apalagi bila teringat kata-kata para ulama, bahwa sebagian dari harta kita adalah “milik” mereka, sehingga dalam beberapa kesempatan kalau kita bertemu dengan orang-orang yang patut “dikasihani” seperti mereka (asalkan benar-benar sesuai dengan keadaan mereka yang miskin), tidak segan-segan kita merogoh kocek untuk mereka.
Namun untuk memberikan sedikit “uluran tangan” kepada pengemis di daerah penugasan seperti Lebanon ini  perlu ekstra hati-hati karena beberapa hal. Pertama, kalau kita memberi “uang” kepada mereka maka tak berapa lama akan “diserbu” oleh pengemis lain (teman-temannya yang sengaja dipanggil/ diundang) yang selanjutnya meminta “sedekah” yang sama. Coba bayangkan, betapa repotnya  kalau sudah dikerubuti para pengemis yang sebagian diantaranya tidak segan-segan untuk merogoh sendiri dompet yang ada di saku celana kita. Kejadian ini pernah dialami rekanku (dari satgas lain)  yang “kelabakan” dirubungi puluhan pengemis, gara-gara ia memberi sedekah satu dolar kepada seorang pengemis kecil. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah status kami sebagai pasukan perdamaian dunia yang bernaung di bawah Unifil yang harus memegang teguh sikap netral dan imparsial. Suatu ketika Unifil pernah mendapatkan klaim dari Israel gara-gara seorang prajuritnya memberikan “sedekah” kepada seorang pengemis. Selidik punya selidik, saat sang tentara memberikan sedekah,  ternyata terekam oleh salah seorang anggota LSM Israel yang banyak beroperasi di Lebanon. Hasil jepretan kamera mini tersebut selanjutnya dipublikasikan yang kemudian berujung dikeluarkannya nota protes kepada petinggi Unifil di Naqoura.
Pengalaman-pengalaman tersebut itulah yang membuat aku dan juga rekan-rekanku menjadi “raja tega”terhadap nasib para pengemis termasuk seorang pengemis kecil yang aku temui di kota Tyre.
 ***

Catatan Ke-19 : Sulitnya Mengambil Gambar



 Di daerah penugasan Lebanon, pengambilan gambar yang diabadikan dalam bentuk foto maupun video adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Kita tidak bisa sembarangan untuk mengambil foto seperti di Indonesia, jepret sana jepret sini maupun rekam sana rekam sini untuk sesuatu hal yang menurut kita patut dan layak didokumentasikan. Di Lebanon, sebagian besar warga sangat “alergi” dengan apa yang namanya foto/ video. Apalagi bila yang melakukan adalah prajurit Unifil, mereka dengan seenaknya akan merebut kameranya dan bahkan “mengamankan” si pelaku untuk “diinterogasi”.
Kejadian terakhir yang kami rekam dari kasus “alerginya” warga Lebanon terhadap mereka yang mengambil gambar dengan kamera foto dan video adalah peristiwa yang terjadi di Aita Al-Shaab, sebuah desa kecil di perbatasan Israel-Lebanon pada 6 Januari 2013 lalu. Insiden berawal ketika dua mobil Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL yang di dalamnya ikut pula empat wartawan Italia bepergian ke desa kecil tersebut. Di tempat ini, mereka mengabadikan beberapa moment yang mereka anggap penting. Saat itulah kedua mobil UNIFIL ini dihentikan dan diblokir oleh sekelompok warga sipil.  Para warga ini kemudian mengambil dan merampas sejumlah barang dan peralatan milik pasukan penjaga perdamaian Unifil dan juga perlengkapan wartawan. Mereka akhirnya tertahan sebentar sebelum akhirnya dibebaskan dengan bantuan tentara Lebanon yang dikenal dengan LAF (Lebanese Armed Force). Kejadian ini merupakan  untuk kelima kalinya sejak September tahun lalu dan untuk kali keempat belas dalam kurun waktu satu tahun.  UNIFIL secara serius prihatin dengan kejadian ini yang menurutnya bisa menghambat kebebasan pergerakan UNIFILdalam melaksanakan tugasnya sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701.
Kasus serupa pernah pula dialami tentara Indonesia, ketika beberapa waktu lalu, sebuah patroli dari Batalyon Indonesia (Indobatt) dihentikan warga karena sambil patroli mereka mengabadikan beberapa gambar penting di sepanjang rute patroli. Saat itu warga juga menghentikan patroli dan meminta kameranya. Meski beberapa hari setelahnya, kamera tersebut dikembalikan dalam keadaan utuh (terkecuali memory cardnya yang kosong), namun ini pun sudah mencerminkan betapa alerginya warga terhadap “jepretan kamera” terutama yang dilakukan oleh orang asing, meski itu dari tentara Unifil.
Mendapatkan gambaran peristiwa dan kejadian “perampasan kamera” serta ditambah pula dengan himbauan dan perintah untuk tidak sembarangan mengambil gambar baik itu foto maupun video maka kami pun tidak bisa berbuat banyak dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari terutama saat engagement ke sekolah atau assessment ke tokoh masyarakat. Apabila kami dibekali kamera video dan foto maka peralatan ini akan disimpan dan tidak bisa dimanfaatkan selama perjalanan. Setelah tiba di lokasi pun, kami harus berkoordinasi dengan pihak yang bersangkutan. Misalkan bila berkunjung ke sekolah-sekolah maka kami harus meminta ijin dulu kepada sang Kepala Sekolah. Demikian pula bila berkunjung ke tokoh masyarakat/ pejabat pemerintah (Mayor/ Muhtar), kita pun terlebih dahulu harus ijin untuk mendokumentasikan kegiatan. Bila ada kata-kata’ “ No photo … no camera!” maka peralatan pun tidak mungkin dikeluarkan.
“Ketakutan “ warga terhadap orang asing yang mengambil gambar dirinya termasuk tempat tinggalnya menurut beberapa sumber karena situasi dan kondisi konflik di Lebanon yang tiada berakhir, sehingga siapa pun lebih memilih untuk tidak dipublikasikan maupun diabadikan dengan peralatan digital yang disebut kamera foto dan video tersebut. Enam Language Assistant (LA) kami yang asli Lebanon pun terkadang kurang begitu suka diambil gambarnya, dengan beberapa alas an di antaranya karena factor keamanan dan faktor lainnya yang tidak bisa disebutkan.

***

Catatan ke-18 : “ Halo Indonesia!”



Halo Indonesia!!!

  Pada pertengahan bulan desember lalu, tepatnya pada 13 Desember 2012, aku mengikuti tim Tactical Community Outrech (TCot) melakukan kunjungan ke salah satu sekolah dasar di Yarin, Lebanon Selatan, yang masih berada di daerah operasi Unifil. Ini merupakan kali kedua dengan tim yang sama yakni dari Italia (yang pertama pada  11 Desember kunjungan ke sekolah swasta di Dibil sekitar 10 kilometer dari lokasi yang kedua).
Saat kunjungan tersebut aku ditemani dua orang rekanku, Sertu Hendra dan Serda Nieckson. Sedangkan tim Community Outrech dari Italia adalah Chief PDMC Pier Paolo De Salvo, Chief TCos WO3 Fabio Cortesse,dan OR4 Maria De Fonzo, dan Ghea El Bardan, Language Assistant dari lebanon. Kami ke lokasi kunjungan menggunakan dua mobil. Kami bertiga dari Indonesia ditambah Ghea naik mobil Ford Everest milik Indonesia, sedangkan tim Italia naik mobil Iveco Italia yang setiap dindingnya dilapisi dengan plat baja.
Kunjungan ini merupakan kunjungan rutin ke berbagai sekolah di Lebanon yang bertujuan menyampaikan pesan-pesan perdamaian kepada warga sesuai dengan United Nations Security Council Resolution (UNSCR) 1701. Khusus untuk anak-anak termasuk di Yarin Public School, pesan yang kami sampaikan dalam bentuk pengenalan mengenai simbol-simbol unifil dari uniform yang dikenakan dan sebagian tugas-tugasnya serta pengenalan tentang blue line. Pada akhir acara, pada umumnya kami mendapatkan feedback tentang materi yang telah disampaikan di mana sebagian besar anak-anak di kawasan Lebanon ini mengerti dan memahami tentang Unifil maupun Blue Line.
Agar “pesan perdamaian” tersebut bisa dipahami dan diterima anak-anak sekolah dasar (kelas I hingga kelas III), kami membawa beberapa peralatan yang menjadi andalan kami dalam melaksanakan tugas-tugas sejenis. Peralatan tersebut berupa dua mascot Mr. Blue Barrel (terbuat dari galon bekas air mineral, satu sbg kepala dan lainnya sebagai kaki yang dihubungkan dengan badan terbuat dari pralon, ditambah dengan sepasang tangan. Maskot kami ini telah diakui dan terpasang di sepanjang garis maya “blue line” sepanjang garis perbatasan Israel-Lebanon dengan bahan utama drum bekas minyak dan besi).
Dari kunjungan ke dua sekolah yang berbeda tersebut, ada perbedaan yang sangat menyolok antara kondisi sekolah swasta (Private School) dengan sekolah negeri (Public School). Pada kunjungan pertama ke Dibil Private School, aku menjumpai sarana dan prasarana pendidikan yang cukup baik dengan murid-murid yang juga cukup “berkelas” dilihat dari tampilan pakaian yang mereka kenakan. Sebaliknya ketika kunjungan ke Yarin Public School, aku menjumpai hal yang cukup berbeda. Gedung yang kurang terurus meski berlantai tiga, ruangan kelas yang kotor dengan kursi-kursi tua serta yang paling pokok dengan kondisi murid-muridnya yang terlihat dari pakaiannya dari warga yang kurang mampu.
Dari perbincanganku dengan Nisrinne Matta, seorang Language Assistant yang menemani kami berkunjung ke salah satu sekolah swasta di kawasan Dibil, Lebanon Selatan pada 11 Desember 2012, diperoleh informasi bahwa demikianlah kondisi pendidikan di Lebanon. Menurutnya, pendidikan formal di Lebanon dimulai untuk anak usia 3 sampai 4 tahun. Pendidikan dasar terdiri dari dua tingkat, : dasar dan menengah. Tingkat dasar dimulai dari kelas 1 sampai 3 (siklus 1) dan kelas 4 sampai 6 (siklus 2). Tingkat menengah adalah kelas 7 sampai 9 (siklus 3). Untuk pendidikan menengahnya terdiri dari kelas 10 sampai 12 (masuk siklus 4)
Sistem pendidikan di Lebanon terpusat dan dikelola melalui biro pendidikan daerah yang berada di bawah naungan kementerian pendidikan. Sekolah umum diawasi oleh biro pendidikan daerah yang berada di masing-masing distrik atau gubernuran. Biro pendidikan daerah ini berfungsi sebagai penghubung antara sekolah umum dan direktorat pendidikan di kantor pusat kementerian pendidikan Lebanon. Sedangkan sekolah swasta memiliki organisasi sendiri, meski masih tunduk pada otoritas kementerian pendidikan. Sekolah publik (negeri) dibeayai oleh Kementerian Pendidikan, sedangkan untuk sekolah swasta dibeayai oleh siswa (sebagian besar orang tua siswa dari sekolah ini umumnya memiliki perekonomian yang cukup mapan). Sebagian beaya pendidikan di Lebanon diambil dari dana non-pemerintah seperti bantuan dari perusahaan-perusahaan swasta hingga badan-badan internasional seperti Bank Dunia (Word Bank) dan United Nation Development Program (UNDP).

Halo Indonesia!

Halo Indonesia!!

Dalam kunjungan kami ke Public School di Yarin, banyak kenangan menarik yang kami dapatkan, terutama bagiku yang jarang memiliki kesempatan berbincang-bincang dan berkenalan dengan anak-anak Lebanon. Saat kunjungan ke sekolah yang jaraknya sekitar 45 menit perjalanan dari markas kami di Naqoura, Lebanon Selatan, anak-anak berusia 5-7 tahun di sekolah ini langsung menyongsong kedatangan kami. Dengan “malu-malu kucing” didampingi seorang guru pendamping, mereka mengerubungi kami. Sebagian bertanya dalam bahasa Arab yang kurang aku mengerti. Sebagian lagi melihat-lihat kamera Nikon yang aku pegang. Demikian pula kedua rekanku mulai berkenalan dengan anak-anak lucu dengan bahasa yang aku yakin “tidak menyambung”. Kadang terdengar kata-kata bahasan Arab dari mulut kecil si anak, kadang bahasa Inggris dengan campuran bahasa Indonesia dari kedua temanku yang memang seringkali konyol.
Melihat kesempatan yang cukup bagus tersebut aku langsung mengabadikan aktifitas mereka dalam kamera bawaanku. Kesempatan ini sulit didapatkan karena pada umumnya warga Lebanon termasuk alergi terhadap kamera. Namun kali ini tidak. Beberapa kali aku jeprat-jepret mengambil gambar, mereka senang demikian pula guru pendamping. Ketika aku minta untuk mengucap dua kata sembari berfoto, “ Halo Indonesia!” mereka pun mau dan menurut. Secara tidak langsung aku berusaha memasukkan satu kata dalam memori anak-anak tersebut dengan satu kata baru, “Indonesia” yang aku yakin mereka sendiri bingung, apa itu Indonesia.
 ***

Catatan ke-17: Mendapat Acungan Dua Jempol



 Terkadang dalam beraktifitas sehari-hari, ada sebagian tugas yang menurut perkiraan orang lain “imposible” dikerjakan karena beberapa hal seperti waktunya yang terbatas (karena deadline terlewati) atau karena hasilnya yang diyakini tidak mungkin maksimal atau bisa pula disebabkan karena peralatan yang kurang mendukung.
Untuk yang satu ini ada pengalaman menarik yang terjadi pada satgas kami di mana kami diserahi tugas untuk “menyulap” sesuatu yang menurut perkiraan orang lain “tidak mungkin (imposible) “ menjadi sesuatu yang “possible”. Pengalaman menarik ini terjadi pada minggu kedua penugasan (pertengahan Desember 2012) lalu.
Cerita berawal ketika pada 12 Desember 2012, Chief Product Development And Media Centre (PDMC) Mayor Pier Paolo De Salvo bersama Chief TCos (Tactical Community Outrechs) MCOU datang ke ruangan kerjaku. Mereka berdua memintaku memutar video “ Mr. Blue Barrel” (mascot yang dipasang di sepanjang Blue Line hasil kreasi rekan-rekan kami dari Satgas MCOU sebelumnya yang terbuat dari dua bekas galon air sebagai kepada dan kaki yang dihubung dengan pipa pralon di tengah-tengahnya, tangan terbuat dari bekas pipa pembuangan mesin cuci dengan tangan terbungkus sarung tangan bola).
Perlu diketahui video Mr Blue Barrel yang akan aku putar saat itu sebenarnya bukan dalam bentuk video melainkan bentuk gambar hidup yang dikemas seara apik dengan menggunakan Microsoft Power Point yang dipoles dengan beberapa tampilan kartun bergerak yang lucu. Kelemahan dari tampilannya adalah ketiadaan background suara dan juga tulisan bisu dalam bahasa arab gundul seperti kata-kata “ Hallo, saya Mr. Blue Barrel” dan lainnya. Video ini selalu diputar kami setiap melakukan kunjungan (enggagement) ke sekolah-sekolah yang ada di lebanon. Tujuannya adalah mengenalkan garis maya pemisah antara Lebanon dan Israel yang disebut Blue Line melalui maskot bernama Blue Barrel ini.

Mr. Blue Barrel yang dipasang di Blue Line

Setelah menyaksikan video Mr. Blue Barrel dengan video projector yang aku siapkan, kedua orang anggota Resimen 28 Pesaro, Italia yang menjadi “mitra kerjaku” ini selanjutnya bertanya kepadaku. “Can you change this video with something more interesting, more beautiful. Because, tomorrow morning, this video will be show to the children (Bisakah anda mengubah video ini dengan sesuatu yang lebih menarik, lebih indah. Sebab, besok pagi video ini akan diperlihatkan kepada anak-anak)” demikian Chiefku, Mayor Paolo bertanya kepadaku dengan logat Italianya yang masih sangat kental. “ Okay, I can do it. But… I need someone .. who can fill … with the sound of the words according to the Arabic language in this video (Oke, saya bisa mengerjakannya. Tetapi saya butuh seseorang yang dapat mengisi suara dengan kata-kata yang sesuai dengan bahasa arab dalam video ini) “ jawabku sedikit terbata-bata. “  Good, we will call Ghea to help fill out the sound in this video (Baik, kami akan minta Ghea untuk membantu mengisi suara dalam video ini) “ katanya. Aku mengangguk. Mereka berdua keluar dari ruang kerjaku. Ghea atau lengkapnya ghea El Bardan adalah salah satu mitra kerja kami, asli Lebanon yang menjalankan tugas sebagai Language Assistant (LA) MCOU. Orangnya cukup cantik dengan kecantikan khas wanita timur tengah. Umurnya saat itu aku taksir sekitar 25 tahun.
Satu jam kemudian, tiba-tiba Ghea muncul di ruang kerjaku dengan ditemani oleh Chiefku Mayor Paolo, Chief Tcos WO3 Fabio dan juga Chief MCOU Mayor Antonio Caragnano. Aku dan seorang rekanku, Nieckson, anggota Paskhas yang mahir editing segera menyiapkan alat rekam. Sesaat kemudian suara Ghea pun kami rekam. Tapi hasil rekaman tersebut ternyata volumenya terlalu kecil (karena memang tipe suaranya yang tidak bisa bersuara keras), kami ulangi lagi, rekaman terganggu dengan kalimat yang sering terputus atau salah membaca teks. Kami coba rekaman ketiga, suara helikopter milik Italia yang terbang rendah mengganggu proses rekaman ditambah lagi dengan slide yang gambar dan tampilan kalimatnya yang tidak sesuai. “If this result, not good, it is imposible! Tommorow, we can not show with video and voice like this. Stop! (Kalau begini hasilnya, jelek/ tidak bagus, ini sesuatu yang tidak mungkin. Besok pagi, kita tidak bisa menampilkan video dan suara seperti ini. Hentikan saja!) “ demikian kata Chief MCOU Mayor Antonio Caragnano pasrah melihat hasil rekaman dan video yang “amburadul”.  Mereka bertiga akhirnya keluar dengan perasaan hati yang aku pikir, sangat kecewa, padahal besok pagi mereka harus memutarkan video tersebut di depan anak-anak.
Setelah mereka berempat keluar, tinggal lah aku berdua dengan Niekson, rekan kerjaku. Melihat kekecewaan orang-orang Italia ini, aku sendiri mempunyai pikiran lain dan segera berkata kepada rekan kerjaku yang satu ini. “ Niek, coba kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mampu. Kita coba mengubah sesuatu yang imposible seperti kata mereka menjadi sesuatu yang posible. Kamu setuju” tanyaku. “ Oke bang. Aku setuju!” jawabnya merasa tertantang. “ Baik, sekarang juga, coba kamu olah hasil rekaman yang amburadul tadi. Potong-potong menjadi beberapa bagian. Aku akan memoles file power pointnya. Setelah selesai serahkan pada saya dan kita coba lihat hasilnya nanti” pintaku kepadanya yang ditanggapi dengan anggukan kepala.
Kami berdua akhirnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku memoles file power pointnya sedangkan Nieckson sibuk dengan mencoba mengolah hasil rekaman yang amburadul tadi. Dua jam kemudian kami selesai dan langsung digabungkan. Hasilnya lumayan tetapi masih ada kekurangan karena belum ada tambahan musik yang sesuai dengan tampilan gambarnya. Karena penasaran, usai jam kerja sekitar pukul 18.00 LT, kami berdua searching di internet, mendownload beberapa musik MP3 khas Lebanon yang cocok dengan dunia anak-anak. Setelah berhasil dan langsung digabungkan, hasilnya cukup bagus. Kami pun lega.
Esok harinya sekitar pukul 08.15 LT, setelah kami menyiapkan seluruh peralatan yang akan dibawa dalam kegiatan kunjungan ke Public School di Yarin, kami memanggil Mayor Paolo dan Fabio untuk menyaksikan “kerja keras “ kami. Hasilnya di luar dugaan. “ Very… … very good… it’s imposible!” demikian mereka berkata sembari secara bersamaan mengacungkan dua jempol tangannya kemudian memeluk kami berdua. Ghea, sang Language Assistant yang tidak berapa lama kemudian datang juga ke tempat kami setelah dipanggil juga menyatakan keheranan dan kekagumannya kepada hasil kerja kami. Gambar, suara dan juga musik latarnya cocok dengan seleranya. Saat pemutaran di depan puluhan anak-anak di Public School di Yarin, hasilnya pun tidak mengecewakan. Mereka puas, kami juga ikut puas. Bahkan sang Chief MCOU sempat juga menyalami kami. “The best our team” demikian kata Mayor Paolo kepada Mayor Antonio, sang Chief. Dalam hati, kami heran. Sedemikian “hebatnya” penghargaan mereka kepada kami karena sesuatu hal yang menurut kami sebenarnya merupakan hal yang biasa dalam tugas-tugas kami di tanah air.
                                                                                                     ***