Meskipun hati ini masih sedih
melihat malaikat kecilku masih dirawat di Rumah Sakit Marinir Cilandak, namun
akhirnya aku putuskan untuk tetap dalam rombongan sorti pertama terbang ke
Lebanon. Dan pada 30 Nopember 2012, pukul 14.45 WIB, pesawat Airbus A330-200 Jordan Aviation yang
nongkrong di landasan pacu Halim PK mulai “take off” membawa rombongan kontingen
garuda sorti pertama (rencana 5 sorti) ke daerah penugasan di Lebanon di mana
di antara 253 penumpang, aku termasuk di dalamnya.
![]() |
Situasi di dalam A330-200 Jordan Aviation |
Adalah sesuatu yang cukup menarik
pertama terbang dengan pesawat jenis ini. Jauh beda dengan si burung besi
Hercules C-130 yang sering mengangkut
kami dalam sebuah penugasan di dalam negeri. Kalau berada di Hercules, telinga
ini seakan masih ditembusi suara gerengannya yang membisingkan telingan
meskipun telingan sudah “disumpel” dengan earphone, namun di Airbus ini
kenyamanan mulai sedikit terasa (maklum penulis belum merasakan kenyamanan dengan
penerbangan lain, sekelas Garuda misalnya).
Meski nyaman berada di dalamnya,
tetapi saya yang kebetulan duduk dekat jendela di deretan nomor 7 dari depan
pada ketinggian sekitar 5000 feet sedikit ngeri bila melihat sayap kanan
pesawat yang senantiasa bergoyang-goyang, naik turun seakan sayapnya “mau
patah” ketika melewati gumpalan awan tebal maupun angin yang cukup kencang.
Tetapi saya yakin dengan kehandalan pesawat jenis ini.
Menuru informasi yang saya terima
dari beberapa sumber (kebetulan saya hobi baca), varian Airbus A330-200 ini
dikembangan untuk menyaingi kehandalan Boeing 767-300ER,
yang pada saat itu giat melakukan penetrasi pasar. Pengembangan varian ini
dilakukan karena penjualan A330-300 yang kurang menggembirakan, serta
permintaan maskapai akan pesawat yang lebih kecil dan jarak yang lebih jauh.
A330-200 mirip dengan A340-200 atau merupakan versi pendeknya A330-300. Dengan
penjualan A340-200 yang kurang (hanya 28 pesawat yang dibuat), Airbus
memutuskan untuk menggunakan badan pesawat A340-200 dengan sayap dan mesin
A330-300. Secara signifikan memperbaiki ekonomi pesawat dan membuat model
tersebut makin populer daripada varian empat mesin. sirip vertikalnya
lebih tinggi daripada A330-300 untuk mengembalikan efektivitasnya karena
pendeknya badan pesawat. Varian ini memiliki kapasitas bahan bakar tambahan
dan, seperti A330-300, memiliki MTOW 233 ton. Jarak tempuh dengan 253
penumpang pada konfigurasi tiga kelas adalah 12,500 km (6,750 mil nautikal).
Itulah sekilas pesawat Airbus
A330-200 Jordan Aviation yang kami tumpangi dari Halim PK Jakarta menuju
Beirut, Lebanon. Perjalanan Jakarta-Beirut menurut perkiraan sekitar 10-12 jam.
Suatu perjalanan yang cukup melelahkan bagiku seperti naik kereta api Argo
Bromo Anggrek Gambir-Pasar Turi.
Dasar
“Katrok”
Ada pengalaman menarik selama
menumpang burung besi jenis A330-200 ini. Ceritanya ketika kami baru terbang
kurang lebih 3 jam di mana saat itu sudah mulai “suntuk” karena monitor TV di depan kami hanya
menampilkan “iklan” biro perjalanan serta monitor kedudukan pesawat. Saat itu,
pesawat termonitor baru lepas dari gugusan kepulauan Indonesia. Dua pramugari
pesawat yang lumayan cantik khas wanita Timur Tengah didampingi dua “pramugara”
pesawat mulai membagikan boks makanan yang terbungkus plastik sebagai menu
makan malam kami saat itu. Karena saking laparnya tanpa “ba-bi-bu” kami
langsung membukanya. Bungkusan pertama yang kami cari, tentu bisa ditebak,
nasi. Yach di dalamnya memang tersedia satru kotak berisi nasi putih panas yang
setelah kami amati agak berbeda dengan nasi putih khas Indonesia. Kalau nasi
putih Indonesia besar-besar dan tidak terlalu putih, tapi nasi yang ada di
hadapan kami saat itu adalah nasi putih bersih yang bentuknya kecil-kecil,
lembut, lonjong. Di sampingnya ada potongan kecil-kecil daging panas (saya
yakin daging sapi) yang dimasak ala masakan rendang khas Indonesia. Karena
lapar, maka yang kami “sikat” makanan ini terlebih dahulu.
Setelah makanan pokok ludes masuk
perut, aku dan seorang Perwira dari Satgas Military Police Unit (MPU) yang
duduk di sebalhku, mulai beralih ke makanan lain yang ada di dalam boks. Di
situ masih tersisa satu kotak sayuran, sepotong daging panggang diiris tipis,
sepotong roti, salad, sauce, tusuk gigi dan sebungkus tisu. Aku dan Rekanku
yang dari MPU ini mulai tengok ke rekan-rekanku yang duduk di sebelah kiri,
terlihat 4 orang yang duduk di posisi tengah dan dua orang di ujung sebelah kiri
tempat duduk kami, sedang enak menikmati sayuran dalam kotak tadi dengan
potongan daging. Melihat mereka itu, aku lihat sang Perwira MPU akhirnya
mengikuti memakan sayuran campur daging dalam kotak itu. Secara otomatis aku
pun mengikuti mereka. Mengambil kotak sayuran dan seiris daging, menambah salad
ditambah sauce di atasnya, mengaduknya lalu mencoba rasa sayuran itu. Pertama
merasakan sayuran yang merupakan campuran potongan kecil wortel, kubis dan
lain-lain serta daging yang diiris tipis, bagiku terasa membingungkan dan
menimbulkan pertanyaan dalam hati, “ ini makanan penutup model apa?” sayuran
dengan campuran salad dan sauce plus daging. Meski demikian karena masih terasa
lapar, aku teruskan juga menyantap “makanan penutup” tersebut.
Karena bingung dengan cara makan teman-teman
yang asal “nyaplok”, sembari
menghabiskan sisa sayuran, aku mengamati kembali sisa makanan yang ada di dalam
boks. Di situ ada roti dan dibaliknya terdapat sebuah pisau kecil terbuat dari
plastik yang terbungkus kertas tisu. Melihat ini aku tertawa ngakak dalam hati.
Seharusnya roti tawar yang ada di dalam boks kita ambil terlebih dahulu, kita
belah pakai pisau yang tersedia, dan barulah diatasnya kita taruh irisan daging
panggang dan potongan sayuran plus salad
dan sauce secukupnya, lalu ditutup dengan roti belahan satunya, jadilah
“humberger”.
Setelah memakan sayuran, aku
lihat rekan-rekan di sebelah kiri mulai bisik-bisik setelah mulai mencicipi
roti tawar yang merupakan makanan terakhir kami. Rasanya memang “lebih hambar”
dari rasa sayuran tadi, karena namanya roti tawar yach, tanpa rasa. Yang salah
siapa? pihak maskapai yang setengah-setengah menyuguhkan “humberger”sehingga
kami yang diharuskan menjadi “kokinya” atau memang kami sendiri yang “katrok”
(kampungan/ ndeso dll)? Jawabnya, bisa anda tebak sendiri.

pak..itu mah mungkin maksudnya buat jaga2 kalu malemnya laper lagi, jadi gag disusun skalian sama yg bikin menu..kan gag enak kalu gag fresh makannya..heheheheee
ReplyDeletebetul kayaknya begitu. cuma maklum sj kami soko ndeso, jadi apa yang ada, yachhhh sikat sajaaaaaaaaa.!!!
ReplyDeleteSaya ketemu blog bapak sebelum keberangkatan mas arya. Alhamdulillah saya dapat banyak informasi bagaimana situasi di sana. Meski kangen tapi saya tidak terlalu khawatir. Terimakasih Bapak.
ReplyDeleteTks atas atensinya. Secara umum gambaran daerah penugasan memang dapat dipahami dari artikel yg ada di blog ini. Salam kenal n jg salam tuk klg yg kini sdg brtugas di Lebanon..
Delete