Thursday, June 27, 2013

Catatan ke-36 : Menghadapi Mayor yang Ketus dan Ramah



Penulis bersama TCot B Leader, Mayor yang ramah dan Language Assistant

 Sesuai mandat  Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon), Satgas MCOU (Military Community Outreach Unit) bertugas memberikan informasi dan mempengaruhi penduduk lokal Lebanon tentang misi dan kegiatan UNIFIL melalui media massa serta komunikasi langsung, sehingga tercipta suasana yang mendukung untuk pencapaian operasi militer di bawah mandat Dewan Keamanan PBB, sesuai dengan resolusi DK PBB Nomor 1701.
 Komunikasi langsung yang dilakukan tim MCOU dengan masyarakat dikenal dengan istilah “Outreach” atau juga “komunikasi tatap muka-face to face communication”. Komunikasi ini dijalankan secara rutin dua hingga tiga kali seminggu dengan sasaran Local Leader seperti Mukhtar (di Indonesia setingkat Kepala Dusun) atau Mayor (setingkat Kepala Desa atau Camat). Untuk waktu dan lokasi pertemuan ditentukan sesuai kesepakatan dari pihak Unifil (MCOU) dengan pihak Mukhtar/ Mayor yang juga harus diketahui oleh pihak LAF (Lebanese Armed Force) yang bertanggung jawab masalah keamanan selama kegiatan berlangsung. Waktu pertemuan umumnya dari Senin hingga Jumat, sedangkan untuk tempatnya di kediaman sang Local Leader atau di Municipality (kantor lurah atau camat).

Dalam satu kegiatan outreach atau assesment ini, MCOU mengirimkan satu team Outreach, biasanya terdiri dari empat personel yakni satu orang Outreach Leader dengan seorang pendamping, satu orang Language Assistant (asli Lebanon) dan seorang Driver. Satu team outreach ini bisa bertambah sesuai dengan kebutuhan termasuk di dalamnya tatkala melakukan outreach dengan sasaran lembaga pendidikan (school engagement) yang biasanya menyertakan satu team Engagement dengan peralatan lengkapnya seperti TV Spot, Video camera dan Photo camera. Untuk kegiatan yang terakhir ini, personel yang terlibat bisa 7-8 orang.

 “Mayor “ yang Ketus dan Ramah
Kegiatan outreach/ assesment atau kunjungan ke beberapa local leader (kepala Desa) yang dilakukan team outreach MCOU pada beberapa kasus terkadang membawa sejumlah cerita suka maupun duka. Cerita dukanya antara lain, ketika team outreach MCOU Indonesia melakukan kunjungan ke daerah yang dipetakan Unifil (MCOU) sebagai daerah yang kurang support dengan Unifil (low confidence), di mana mereka harus dihadapkan dengan Mayor/ Mukhtar yang kurang familiar dengan adanya kunjungan tersebut. Penyebabnya mungkin karena merasa daerahnya kurang diperhatikan Unifil, tidak pernah mendapatkan proyek, klaim atau “protes” nya tidak pernah ditindaklanjuti Unifil, atau mungkin pernah “berbenturan” dengan prajurit Unifil serta penyebab lainnya.
Dalam situasi tersebut maka praktis, team outreach MCOU kurang “leluasa” dalam membeberkan “talking point” sesuai mandat Unifil. Yang ada, mereka selalu mendengarkan “ceramah” sang Mayor yang isinya “tuntutan” atau klaim mengenai ini-itu, tuntutan mengenai realisasi proyek yang dijanjikan Unifil (biasanya dijanjikan satgas lain pada pertemuan sebelumnya), klaim terhadap tingkah laku atau mobilitas kendaraan Unifil yang melewati daerahnya dan klaim-klaim lain yang terkadang membuat kuping team outreach pedas. “ Anda tidak perlu menjelaskan apa itu peranan Unifil di sini, mengenai kondisi perbatasan, blue line dan lainnya. Kami sudah paham itu. Yang penting bagaimana realisasinya di lapangan. Bagaimanan dengan janji anda atau kalau bukan dari tim anda sekarang, dari team lain yang menjanjikan ini-itu tetapi realisasinya mana? ” demikian kata sang Mayor kepada team outreach MCOU ketika suatu saat berkunjung ke kawasan yang memang sudah dicap Unifil sebagai daerah yang kurang mendukung keberadaan Unifil di Lebanon. Bagaimana jalan keluarnya? Dalam menghadapi situasi seperti itu maka team outreach MCOU hanya bisa “berjanji” untuk menyampaikannya kepada Unifil sesuai rantai komando yang ada, sembari tetap memberi pengertian dan pemahaman serta berusaha “meluruskan” pandangan sang Mayor yang keliru sehingga diharapkan di masa yang akan datang, pandangannya terhadap Unifil dapat berubah.

Saat kunjungan ke kawasan Dibine, menjumpai Mayor  yang ramah

Gambaran kasus di atas anggap saja sebagai pengalaman “apes” team outreach MCOU ketika berkunjung ke kawasan yang memang daerahnya “kurang welcome” terhadap kedatangan prajurit Unifil. Bagaimana dengan daerah lain? Sebagian besar tidak ada masalah. Sang local leader sangat “welcome” menerima kunjungan team outreach MCOU, apalagi ketika berkunjung ke daerah-daerah yang berada di bawah Area Operation (AO) batalyon beberapa negara yang sangat “royal” memberikan bantuan proyek kepada penduduk yang ada di Oanya, dijamin kunjungan akan berjalan mulus, diterima dengan ramah serta disuguhi makanan ringan dan minuman yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Untuk yang terakhir ini, aku berikan satu gambaran kecil ketika team outreach MCOU dari Indonesia melakukan kunjungan ke seorang Mayor yang memimpin sebuah desa yang cukup ramai di kawasan South Lebanon. Oleh Unifil, desa yang dipimpin sang Mayor ini diberi kode V24 dengan nama Tibnin. Dalam lingkup tugas kami, desa ini berada di Sector East. Posisinya sekitar 1 jam perjalanan dari kantor kami di Naqoura, South Lebanon. Populasi penduduknya cukup padat, mencapai sekitar 3000 orang dengan mayoritas penduduknya beraliran Shiah. Desa yang sebagian besar politic affiliation condong ke  Amal-Hisbullah ini berada di daerah operasi Batalyon Indonesia (Indobatt).
Sebagaimana kunjungan ke desa-desa lainnya, team tactical outreach MCOU mengirimkan empat personel untuk berkunjung ke V24 Tibnin ini. Saat itu team kami terdiri dari Mayor Roy Fakhrul Rozi, aku sendiri Csgt M.Syafrudin, Jihad Choufani sebagai Language Assistant dan 2nd PVT Agus Hariyanto sebagai Driver. Dari kantor MCOU, kami berangkat pukul 09.00 LT, menggunakan satu mobil Ford Everest putih dengan tulisan UN di kanan kiri bodi mobil serta plat Unifil. Sesuai kesepakatan, pertemuan akan dilakukan di Municipality pukul 10.00 LT.
Setelah melewati jalanan khas Lebanon, menyusuri jalanan pinggir pantai Naqoura dan Tyre, tepat pukul 09.50 kami tiba di Tibnin dan langsung menuju ke kantor kepala desa (municipality). Tiba di depan pintu gerbang kantor Kepala Desa ini, satu mobil LAF dengan tiga personelnya sudah menunggu. Setelah menyapa mereka, aku, Mayor Fakhrul dan Jihad pun segera masuk ke ruangan sang Mayor, sedangkan driver kami tetap di dalam mobil, siap untuk “escape” apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.  Setelah masuk dan berkenalan, pertemuan dan “bincang-bincang” pun dimulai. Kami berbicara dengan bahasa Inggris, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh LA, dijawab dengan bahasa Arab oleh sang Mayor yang selanjutnya disampaikan kepada kami dalam bahasa Inggris. Memang sedikit lucu. Tetapi demikianlah kondisinya, bahkan terkadang menurut informasi, sang Mayor sebenarnya fasih berbahasa Inggris, tetapi dalam komunikasi dengan kami, ia tetap menggunakan bahasa Arab yang selanjutnya diterjemahkan oleh LA kami.
Dalam pandangan kami, sang Mayor ini termasuk kategori yang cukup ramah, berbanding terbalik dengan gambaran cerita kunjungan “apes” di atas. Di lihat dari sikap maupun tutur katanya cukup baik. Seratus persen ia mendukung Unifil dan kegiatannya, bahkan berterima kasih mendapatkan kunjungan kami dari MCOU Indonesia. Ia sangat terbuka dan luwes dalam menerima kunjungan tersebut. Bukti keramahannya pun ditunjukkan dengan dikeluarkannya kopi khas Lebanon (terasa pahit namun enak), serta beberapa makanan kecil. Bahkan saking “ramahnya” dalam menawarkan makanan ringan kecil seperti roti terbungkus kertas (di Indonesia sejenis jajanan pasar), ia justru yang membuka bungkusnya melihat kami “pura-pura tidak mau”. Saat itu jelas kami merasa tidak enak, karena di Indonesia belum pernah kami ditawarkan makanan ringan di mana kertas kuenya sudah dibukakan sehingga “kurang sopan”dalam pandangan budaya Indonesia (di Lebanon ternyata sudah terbiasa dan lumrah terutama ketika ditujukan kepada tamu yang mereka hormati. Bukan hanya kue, pisang pun mereka kupasin apabila menawarkan kepada tamu sehingga tamu pun akan menerima, meski terkadang sedikit “terpaksa”).
Usai mencicipi makanan dan minuman yang disediakan, kami pun pamitan untuk kembali ke kantor kami di MCOU, Naqoura, South Lebanon. Namun meski sudah pamitan, sang Mayor mengajak kami sedikit “berkeliling” ke beberapa gedung di dalam kantornya sembari memberikan beberapa penjelasan. Kami pun menurut dan merasa lebih akrab dengan sang “Mayor” yang ramah. Setelah puas berkeliling, kami pun pamitan dan kembali ke Naqoura, menyiapkan tugas-tugas selanjutnya.

Persepsi masyarakat Lebanon terhadap Unifil

Keramahan dan keterbukaan masyarakat Lebanon juga sangat ditunjukkan ketika kami melaksanakan kegiatan outreach dengan sasaran lingkungan pendidikan yang kami sebut School Engagement (dilaksanakan 2-3 kali dalam sebulan dengan sasaran sekolah-sekolah yang ada di seluruh area operasi Unifil). Di lingkungan pendidikan ini kami benar-benar diterima dengan baik dan bisa membaur bersama anak-anak Lebanon. Keseriusan mereka ketika kami memberi penjelasan tentang Unifil, tentang Blue Line dan Blue Barrelnya membuat kami bertambah semangat dalam menjalankan peran dan tugas kami. Apalagi ketika melihat keceriaan dan kegembiraan mereka di saat menerima sejumlah souvenir (novelty items) berupa peralatan tulis seperti buku tulis, buku gambar, buku sticker, pensil warna, cat air, penghapus, bola volley/ sepak bola, menjadi kenangan tersendiri bagi kami.
Demikianlah sedikit gambaran bagaimana suka dukanya personel MCOU dalam melakukan “outreach mission” dengan sasaran masyarakat lebanon, Local Leader, local people dan lingkungan pendidikan. 
***

No comments:

Post a Comment