![]() |
Penulis bersama TCot B Leader, Mayor yang ramah dan Language Assistant |
Sesuai mandat
Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon), Satgas MCOU (Military
Community Outreach Unit) bertugas memberikan informasi dan mempengaruhi
penduduk lokal Lebanon tentang misi dan kegiatan UNIFIL melalui media massa
serta komunikasi langsung, sehingga tercipta suasana yang mendukung untuk
pencapaian operasi militer di bawah mandat Dewan Keamanan PBB, sesuai dengan
resolusi DK PBB Nomor 1701.
Komunikasi langsung yang
dilakukan tim MCOU dengan masyarakat dikenal dengan istilah “Outreach” atau juga “komunikasi tatap
muka-face to face communication”.
Komunikasi ini dijalankan secara rutin dua hingga tiga kali seminggu dengan
sasaran Local Leader seperti Mukhtar (di Indonesia setingkat Kepala Dusun) atau
Mayor (setingkat Kepala Desa atau Camat). Untuk waktu dan lokasi pertemuan
ditentukan sesuai kesepakatan dari pihak Unifil (MCOU) dengan pihak Mukhtar/
Mayor yang juga harus diketahui oleh pihak LAF (Lebanese Armed Force) yang
bertanggung jawab masalah keamanan selama kegiatan berlangsung. Waktu pertemuan
umumnya dari Senin hingga Jumat, sedangkan untuk tempatnya di kediaman sang
Local Leader atau di Municipality (kantor lurah atau camat).
Dalam satu kegiatan outreach atau
assesment ini, MCOU mengirimkan satu team Outreach, biasanya terdiri dari empat
personel yakni satu orang Outreach Leader dengan seorang pendamping, satu orang
Language Assistant (asli Lebanon) dan seorang Driver. Satu team outreach ini
bisa bertambah sesuai dengan kebutuhan termasuk di dalamnya tatkala melakukan
outreach dengan sasaran lembaga pendidikan (school engagement) yang biasanya
menyertakan satu team Engagement dengan peralatan lengkapnya seperti TV Spot,
Video camera dan Photo camera. Untuk kegiatan yang terakhir ini, personel yang
terlibat bisa 7-8 orang.
“Mayor “ yang Ketus dan Ramah
Kegiatan outreach/ assesment atau
kunjungan ke beberapa local leader (kepala Desa) yang dilakukan team outreach
MCOU pada beberapa kasus terkadang membawa sejumlah cerita suka maupun duka.
Cerita dukanya antara lain, ketika team outreach MCOU Indonesia melakukan
kunjungan ke daerah yang dipetakan Unifil (MCOU) sebagai daerah yang kurang
support dengan Unifil (low confidence), di mana mereka harus dihadapkan dengan
Mayor/ Mukhtar yang kurang familiar dengan adanya kunjungan tersebut.
Penyebabnya mungkin karena merasa daerahnya kurang diperhatikan Unifil, tidak
pernah mendapatkan proyek, klaim atau “protes” nya tidak pernah ditindaklanjuti
Unifil, atau mungkin pernah “berbenturan” dengan prajurit Unifil serta penyebab
lainnya.
Dalam situasi tersebut maka
praktis, team outreach MCOU kurang “leluasa” dalam membeberkan “talking point”
sesuai mandat Unifil. Yang ada, mereka selalu mendengarkan “ceramah” sang Mayor
yang isinya “tuntutan” atau klaim mengenai ini-itu, tuntutan mengenai realisasi
proyek yang dijanjikan Unifil (biasanya dijanjikan satgas lain pada pertemuan
sebelumnya), klaim terhadap tingkah laku atau mobilitas kendaraan Unifil yang
melewati daerahnya dan klaim-klaim lain yang terkadang membuat kuping team
outreach pedas. “ Anda tidak perlu menjelaskan apa itu peranan Unifil di sini,
mengenai kondisi perbatasan, blue line dan lainnya. Kami sudah paham itu. Yang
penting bagaimana realisasinya di lapangan. Bagaimanan dengan janji anda atau
kalau bukan dari tim anda sekarang, dari team lain yang menjanjikan ini-itu
tetapi realisasinya mana? ” demikian kata sang Mayor kepada team outreach MCOU
ketika suatu saat berkunjung ke kawasan yang memang sudah dicap Unifil sebagai
daerah yang kurang mendukung keberadaan Unifil di Lebanon. Bagaimana jalan
keluarnya? Dalam menghadapi situasi seperti itu maka team outreach MCOU hanya
bisa “berjanji” untuk menyampaikannya kepada Unifil sesuai rantai komando yang
ada, sembari tetap memberi pengertian dan pemahaman serta berusaha “meluruskan”
pandangan sang Mayor yang keliru sehingga diharapkan di masa yang akan datang,
pandangannya terhadap Unifil dapat berubah.
![]() |
Saat kunjungan ke kawasan Dibine, menjumpai Mayor yang ramah |
Gambaran kasus di atas anggap
saja sebagai pengalaman “apes” team outreach MCOU ketika berkunjung ke kawasan
yang memang daerahnya “kurang welcome” terhadap kedatangan prajurit Unifil.
Bagaimana dengan daerah lain? Sebagian besar tidak ada masalah. Sang local
leader sangat “welcome” menerima kunjungan team outreach MCOU, apalagi ketika
berkunjung ke daerah-daerah yang berada di bawah Area Operation (AO) batalyon
beberapa negara yang sangat “royal” memberikan bantuan proyek kepada penduduk
yang ada di Oanya, dijamin kunjungan akan berjalan mulus, diterima dengan ramah
serta disuguhi makanan ringan dan minuman yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Untuk yang terakhir ini, aku
berikan satu gambaran kecil ketika team outreach MCOU dari Indonesia melakukan
kunjungan ke seorang Mayor yang memimpin sebuah desa yang cukup ramai di
kawasan South Lebanon. Oleh Unifil, desa yang dipimpin sang Mayor ini diberi
kode V24 dengan nama Tibnin. Dalam lingkup tugas kami, desa ini berada di
Sector East. Posisinya sekitar 1 jam perjalanan dari kantor kami di Naqoura,
South Lebanon. Populasi penduduknya cukup padat, mencapai sekitar 3000 orang
dengan mayoritas penduduknya beraliran Shiah. Desa yang sebagian besar politic
affiliation condong ke Amal-Hisbullah
ini berada di daerah operasi Batalyon Indonesia (Indobatt).
Sebagaimana kunjungan ke
desa-desa lainnya, team tactical outreach MCOU mengirimkan empat personel untuk
berkunjung ke V24 Tibnin ini. Saat itu team kami terdiri dari Mayor Roy Fakhrul
Rozi, aku sendiri Csgt M.Syafrudin, Jihad Choufani sebagai Language Assistant
dan 2nd PVT Agus Hariyanto sebagai Driver. Dari kantor MCOU, kami
berangkat pukul 09.00 LT, menggunakan satu mobil Ford Everest putih dengan
tulisan UN di kanan kiri bodi mobil serta plat Unifil. Sesuai kesepakatan,
pertemuan akan dilakukan di Municipality pukul 10.00 LT.
Setelah melewati jalanan khas
Lebanon, menyusuri jalanan pinggir pantai Naqoura dan Tyre, tepat pukul 09.50
kami tiba di Tibnin dan langsung menuju ke kantor kepala desa (municipality).
Tiba di depan pintu gerbang kantor Kepala Desa ini, satu mobil LAF dengan tiga
personelnya sudah menunggu. Setelah menyapa mereka, aku, Mayor Fakhrul dan
Jihad pun segera masuk ke ruangan sang Mayor, sedangkan driver kami tetap di
dalam mobil, siap untuk “escape” apabila terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan. Setelah masuk dan
berkenalan, pertemuan dan “bincang-bincang” pun dimulai. Kami berbicara dengan
bahasa Inggris, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh LA, dijawab dengan
bahasa Arab oleh sang Mayor yang selanjutnya disampaikan kepada kami dalam
bahasa Inggris. Memang sedikit lucu. Tetapi demikianlah kondisinya, bahkan
terkadang menurut informasi, sang Mayor sebenarnya fasih berbahasa Inggris,
tetapi dalam komunikasi dengan kami, ia tetap menggunakan bahasa Arab yang
selanjutnya diterjemahkan oleh LA kami.
Dalam pandangan kami, sang Mayor
ini termasuk kategori yang cukup ramah, berbanding terbalik dengan gambaran
cerita kunjungan “apes” di atas. Di lihat dari sikap maupun tutur katanya cukup
baik. Seratus persen ia mendukung Unifil dan kegiatannya, bahkan berterima
kasih mendapatkan kunjungan kami dari MCOU Indonesia. Ia sangat terbuka dan
luwes dalam menerima kunjungan tersebut. Bukti keramahannya pun ditunjukkan
dengan dikeluarkannya kopi khas Lebanon (terasa pahit namun enak), serta
beberapa makanan kecil. Bahkan saking “ramahnya” dalam menawarkan makanan
ringan kecil seperti roti terbungkus kertas (di Indonesia sejenis jajanan
pasar), ia justru yang membuka bungkusnya melihat kami “pura-pura tidak mau”.
Saat itu jelas kami merasa tidak enak, karena di Indonesia belum pernah kami
ditawarkan makanan ringan di mana kertas kuenya sudah dibukakan sehingga
“kurang sopan”dalam pandangan budaya Indonesia (di Lebanon ternyata sudah
terbiasa dan lumrah terutama ketika ditujukan kepada tamu yang mereka hormati.
Bukan hanya kue, pisang pun mereka kupasin apabila menawarkan kepada tamu
sehingga tamu pun akan menerima, meski terkadang sedikit “terpaksa”).
Usai mencicipi makanan dan
minuman yang disediakan, kami pun pamitan untuk kembali ke kantor kami di MCOU,
Naqoura, South Lebanon. Namun meski sudah pamitan, sang Mayor mengajak kami
sedikit “berkeliling” ke beberapa gedung di dalam kantornya sembari memberikan
beberapa penjelasan. Kami pun menurut dan merasa lebih akrab dengan sang
“Mayor” yang ramah. Setelah puas berkeliling, kami pun pamitan dan kembali ke
Naqoura, menyiapkan tugas-tugas selanjutnya.
![]() |
Persepsi masyarakat Lebanon terhadap Unifil |
Keramahan dan keterbukaan
masyarakat Lebanon juga sangat ditunjukkan ketika kami melaksanakan kegiatan
outreach dengan sasaran lingkungan pendidikan yang kami sebut School Engagement
(dilaksanakan 2-3 kali dalam sebulan dengan sasaran sekolah-sekolah yang ada di
seluruh area operasi Unifil). Di lingkungan pendidikan ini kami benar-benar
diterima dengan baik dan bisa membaur bersama anak-anak Lebanon. Keseriusan
mereka ketika kami memberi penjelasan tentang Unifil, tentang Blue Line dan
Blue Barrelnya membuat kami bertambah semangat dalam menjalankan peran dan
tugas kami. Apalagi ketika melihat keceriaan dan kegembiraan mereka di saat
menerima sejumlah souvenir (novelty items) berupa peralatan tulis seperti buku
tulis, buku gambar, buku sticker, pensil warna, cat air, penghapus, bola volley/
sepak bola, menjadi kenangan tersendiri bagi kami.
Demikianlah sedikit gambaran bagaimana suka dukanya personel MCOU dalam melakukan
“outreach mission” dengan sasaran masyarakat lebanon, Local Leader, local
people dan lingkungan pendidikan.
***



No comments:
Post a Comment