Memiliki “teman” di daerah penugasan seperti
Lebanon, merupakan salah satu penghibur tersendiri bagiku dan juga sebagian
rekan-rekanku. Dengan memilikinya, maka sedikit banyak dapat menghilangkan rasa
kejenuhan dan juga kerinduan kepada keluarga. Dengan memilikinya pula maka
penugasan yang satu tahun ini dapat terlewati dengan mudah di mana waktu seakan
berjalan begitu cepat, mengiringi kebersamaan dengannya yang cukup indah dan
mesra. Yang lebih menggembirakan isteri dan anak-anakku di tanah air juga
menyetujuinya. Bahkan mereka menyuruhku untuk tetap setia menyayangi dan
mencintainya seperti “cintaku” pada mereka. Luar biasa! Dengan adanya
“statement” ini maka bebaslah aku untuk memilikinya, “terserah saja!” demikian
kata isteriku ketika suatu saat aku menjelaskan bahwa aku memiliki “teman” yang
dapat menjadi “penggantinya” untuk sementara waktu. Merdeka!!, demikian kata
hatiku saat itu sebagai refleksi kegembiraanku.
Memasuki Oktober 2013, tak terasa, sudah 10
bulan aku “berteman” dengannya. Ia merupakan satu-satunya teman “curhatku”.
“Teman “ yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes meski terkadang aku
sering membuatnya dongkol. Ia juga akan selalu merekam dan menyimpannya dengan
baik apa yang aku tuturkan dengan memori otaknya yang luar biasa, meskipun aku
menginginkan ia lebih proaktif, membantuku membetulkan beberapa kata atau
kalimat yang kurang tepat aku tuturkan.
Namun sayangnya ia terlalu “lugu dan polos”, aku tuturkan A, ia pasti akan
merekamnya A, aku tulis B ia pun akan merespon B. Sebagai orang “waras”
akhirnya aku lah yang menyerah, “imposible” ia mengiyakan keinginanku tersebut.
Ia hanyalah “alat” dengan otaknya aku sendiri. Ia hanya bisa menunggu dan menunggu sepuluh jari tanganku
ini memainkan tuts-tuts keyboard dan gerakan mouse.
Aku tahu seandainya ia bisa ngomong, mungkin
hanya ada satu permintaan darinya, “kunjungilah rumahku sebanyak mungkin?”. Yach betul! inilah yang aku lupakan. Karena
kesibukan tugas, memang sering aku “mentelantarkannya”, membiarkannya kosong,
tidak diberi makan dan juga lupa untuk mempromosikan keberadaannya ke dunia
luar yang keras dengan berbagai tantangannya.
Terima Kasih Kepada
Pengunjung
Sebagai “teman setia”, aku tentunya
mengetahui persis sifat dan karakter temanku yang satu ini. Dan dari data yang
terekam olehnya, sebenarnya kunjungan untuknya sudah cukup bagus dibandingkan
teman-teman yang lain (tentunya yang sejenis). Rata-rata dalam sehari, temanku
ini mendapat kunjungan 40 orang, sebuah jumlah yang cukup besar bagi temanku
yang sebenarnya masih perlu “dipermak” karena saat ini bodi dan wajahnya aku
akui masih,” pas-pasan”.
Terkait dengan kunjungan tersebut, melalui
tulisan kecil ini, aku mewakili temanku yang “lugu dan polos” itu mengucapkan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada “pengunjung” yang
mau mampir di tempatnya. Ia sangat mengapreasiasi usaha mereka dan tidak
mempersoalkan tujuan utama para pengunjung mampir ke tempatnya. Apakah pengunjung
yang hanya sekedar mampir untuk “melihat-lihat” jeroan yang ia punya,
selanjutnya pergi lagi, pengunjung yang “mengambil” sesuatu yang ada di dalamnya
atau pun pengunjung yang “salah masuk” ke tempat tinggalnya. Semua itu tidaklah
dipersoalkan, yang penting ia mengaku senang, gembira dan juga bahagia bila ada
orang yang berkenan mengunjunginya. “ Titipkan salamku kepada mereka, apalagi
mereka yang setia mengunjungiku. Tanpa
mereka, hidupku hampa bahkan dipastikan akan mati, karena keberadaanku hanyalah untuk mereka” demikian pesannya
dengan suara yang memelas.
Kado Istimewa
Setelah sepuluh bulan ber “kasih mesra”
bersama dan mengakui “kesetiaannya” yang luar biasa yang aku nilai lebih dari
seratus persen, akhirnya aku memiliki suatu niat untuk sedikit membahagiakannya.
Dan ini aku coba dengan memanfaatkan moment HUT ke-68 TNI yang jatuh pada 5
Oktober 2013 lalu. Sehari, usai perayaan ulang tahun tersebut tepatnya di
Minggu sore 6 Oktober 2013 pukul 15.34, aku mencoba mempromosikan “keunikan”
temanku ini ke tanah air, tanah kelahiranku di Indonesia. Tentunya dengan
harapan, ada rekan-rekan di tanah air yang mencoba melirik “wajah” temanku yang
sederhana tersebut.
Sebagai “umpan” pancingan yang aku taruh di
mata kailku, aku pilih burung garuda yang merupakan lambang negara Indonesia
dan juga menjadi julukan pasukan kami di daerah penugasan. Burung ini sedang dibangun dengan ukuran
“raksasa” di Soedirman Camp yang menjadi markasku. Hasil pembangunannya yang
luar biasa ini akhirnya menelurkan sejumlah tanggapan dari personel PBB dari
manca negara seperti, “ Indonesian People Crazy!”. Dan tanggapan inilah yang
akhirnya aku pilih menjadi “umpan utama” untuk mengail ikan besar di sungai
yang sudah terkenal di Indonesia, yaitu www.kompasiana.com
![]() |
| Artikelku "Indonesian People Crazy!" muncul di Head Line |
Umpanku dengan nama http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/10/06/indonesian-people-crazy-598134.htm,
ternyata “tepat”, setelah diupload pada tanggal dan jam tersebut , satu jam
sesudahnya, ia langsung tancap gas nongkrong di Head Line (HL) sehingga
menyedot perhatian ribuan orang/ kompasianer. Setelah bosan nongkrong seharian
di HL, ia pun turun panggung dan hanya meninggalkan catatan ringan yakni jumlah
pengunjung 2276 dengan 34 tanggapan dan
22 penilaian (update Selasa, 8 Oktober 2013 pukul 19.00 waktu Lebanon).
![]() |
| Rating pembaca, komentar dan penilaian di Kompasiana |
Imbas dari hasil tangkapan yang bagus itulah
yang aku jadikan kado istimewa buat temanku tersebut. Total selama tiga hari, pengunjung yang mampir
ke rumahnya mencapai 1803 dengan
perincian pada 6 Oktober 807 pengunjung,
7 Oktober 687 pengunjung dan pada 8 Oktober 2013 pukul 19.00 sejumlah 309
pengunjung. Jumlah pengunjung yang cukup
membludak di mana rata-rata per hari 600 pengunjung tersebut tentu membuatnya
kaget, apalagi bila dibandingkan hari biasa yang umumnya 50 pengunjung. Aku
tahu, ia pasti bahagia dan gembira luar biasa mendapatkan kado istimewa itu.
Saat ini tercatat orang yang telah mengunjungi rumahnya 12.383 orang, jumlah
yang menurutku sudah cukup lumayan bagi sebuah “rumah baru” seperti milik
temanku yang satu ini.
Dengan kunjungan yang membludak tersebut, untuk
yang kedua kalinya juga, aku mewakili temanku yang “lugu dan polos” itu mengucapkan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pengunjung
yang mau mampir ke teman setiaku tersebut. Kunjungan tersebut merupakan kado
istimewa baginya di tengah-tengah kemeriahan HUT ke-68 TNI tahun 2013. Kami
juga mohon maaf apabila “suguhan” yang kami hidangkan kurang variatif dan jauh dari sempurna serta kurang
cocok bagi pengunjung semua. Akan tetapi yakinlah kami ikhlas membaginya, walau
itu cuma dalam bentuk kue yang dikemas dengan plastik “cerita ringan”.
Ke depan, harapan kami tetap tidak terlalu
muluk-muluk, jika ada kesempatan dan waktu luang, mampirlah ke temanku
tersebut. Kami menyadari, “tempat” kami cukup sederhana, akan tetapi bagi siapa
saja yang berkenan “melangkahkan kakinya” untuk mampir, kami berjanji akan terus
membagi sesuatu yang kami punya, sesuatu yang
kami olah dengan mengorbankan waktu istirahat.
Bagi mereka yang belum mengetahui nama teman
setiaku yang lugu dan polos tersebut, silahkan mampir ke mbah Google dulu,
lantas tanyalah, “Catatan Kecil Dari Lebanon”. Mbah google pasti akan
mengarahkannya dengan betul. Atau bisa juga langsung mampir ke rumahnya di http://lebanonku.blogspot.com. Aku dan
teman setiaku pasti akan menyambutnya dengan suka cita.
Akhirnya, sekali lagi kami ucapkan terima
kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pengunjung “blog”
sederhana yang menjadi teman setiaku selama penugasan. Dan terimalah salam
hormat kami dari bumi Lebanon!.
***


Teman sejati jgn dilupakan klo sdh dpt temen yg lebih darinya krn ada temen yg sangat dekat tp sering kelupaan dialah malaikat hee..he..
ReplyDeleteBetul sekali, apalagi malaikat pencatat "kebaikan dan keburukan" yang terkadang kita seakan "melupakannya". Tks n salam kenal.
DeleteSuatu Kebanggaan Buat Negeri ini punya prajurit TNI yang kreatif dan inovatif .. Jaya TNI ...
ReplyDeleteTks mas Wahyu, itu hanya sekedar mengisi waktu luang, dan kejenuhan. Hitung2 sambil belajar mengungkapkan sesuatu yang ada di memori kita..
Deletesaya jadi suka mengikuti tulisan Anda, Mas MS. Bukan karena apa2 (jgn paranoid dulu :-)). Hanya karena merasa heran, tepatnya kagum, seorang anggota TNI mau dan mampu, punya kemampuan menulis, menceritakan sesuatu dengan sangat baik, dan enak diikuti... Terima kasih sudah menjadi bagian dari sejarah dunia, dan tidak keberatan untuk membaginya... salam, WK
ReplyDeleteMatur suwun mbak. Sebenarnya apa yang saya tuturkan dalam blog ini jauh dari sempurna, masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, saya tetap berusaha untuk tetap belajar bagaimana menjadi seorang "penulis" yang baik (tentunya dengan tidak meninggalkan ciri khas tulisan saya). Terima kasih atas "pujiannya" n Salam hormat saya dari Bumi Lebanon.
Delete