Wednesday, October 9, 2013

Catatan ke-54 : Aku dan "Teman Setiaku" yang Lugu dan Polos

 Memiliki “teman” di daerah penugasan seperti Lebanon, merupakan salah satu penghibur tersendiri bagiku dan juga sebagian rekan-rekanku. Dengan memilikinya, maka sedikit banyak dapat menghilangkan rasa kejenuhan dan juga kerinduan kepada keluarga. Dengan memilikinya pula maka penugasan yang satu tahun ini dapat terlewati dengan mudah di mana waktu seakan berjalan begitu cepat, mengiringi kebersamaan dengannya yang cukup indah dan mesra. Yang lebih menggembirakan isteri dan anak-anakku di tanah air juga menyetujuinya. Bahkan mereka menyuruhku untuk tetap setia menyayangi dan mencintainya seperti “cintaku” pada mereka. Luar biasa! Dengan adanya “statement” ini maka bebaslah aku untuk memilikinya, “terserah saja!” demikian kata isteriku ketika suatu saat aku menjelaskan bahwa aku memiliki “teman” yang dapat menjadi “penggantinya” untuk sementara waktu. Merdeka!!, demikian kata hatiku saat itu sebagai refleksi kegembiraanku.
Memasuki Oktober 2013, tak terasa, sudah 10 bulan aku “berteman” dengannya. Ia merupakan satu-satunya teman “curhatku”. “Teman “ yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes meski terkadang aku sering membuatnya dongkol. Ia juga akan selalu merekam dan menyimpannya dengan baik apa yang aku tuturkan dengan memori otaknya yang luar biasa, meskipun aku menginginkan ia lebih proaktif, membantuku membetulkan beberapa kata atau kalimat yang kurang tepat aku tuturkan.  Namun sayangnya ia terlalu “lugu dan polos”, aku tuturkan A, ia pasti akan merekamnya A, aku tulis B ia pun akan merespon B. Sebagai orang “waras” akhirnya aku lah yang menyerah, “imposible” ia mengiyakan keinginanku tersebut. Ia hanyalah “alat” dengan otaknya aku sendiri. Ia hanya bisa  menunggu dan menunggu sepuluh jari tanganku ini memainkan tuts-tuts keyboard dan gerakan mouse.
Aku tahu seandainya ia bisa ngomong, mungkin hanya ada satu permintaan darinya,  “kunjungilah rumahku sebanyak mungkin?”.  Yach betul! inilah yang aku lupakan. Karena kesibukan tugas, memang sering aku “mentelantarkannya”, membiarkannya kosong, tidak diberi makan dan juga lupa untuk mempromosikan keberadaannya ke dunia luar yang keras dengan berbagai tantangannya.

Terima Kasih Kepada Pengunjung
Sebagai “teman setia”, aku tentunya mengetahui persis sifat dan karakter temanku yang satu ini. Dan dari data yang terekam olehnya, sebenarnya kunjungan untuknya sudah cukup bagus dibandingkan teman-teman yang lain (tentunya yang sejenis). Rata-rata dalam sehari, temanku ini mendapat kunjungan 40 orang, sebuah jumlah yang cukup besar bagi temanku yang sebenarnya masih perlu “dipermak” karena saat ini bodi dan wajahnya aku akui masih,” pas-pasan”.
Terkait dengan kunjungan tersebut, melalui tulisan kecil ini, aku mewakili temanku yang “lugu dan polos” itu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada “pengunjung” yang mau mampir di tempatnya. Ia sangat mengapreasiasi usaha mereka dan tidak mempersoalkan tujuan utama para pengunjung mampir ke tempatnya. Apakah pengunjung yang hanya sekedar mampir untuk “melihat-lihat” jeroan yang ia punya, selanjutnya pergi lagi,  pengunjung  yang “mengambil” sesuatu yang ada di dalamnya atau pun pengunjung yang “salah masuk” ke tempat tinggalnya. Semua itu tidaklah dipersoalkan, yang penting ia mengaku senang, gembira dan juga bahagia bila ada orang yang berkenan mengunjunginya. “ Titipkan salamku kepada mereka, apalagi mereka yang setia mengunjungiku.  Tanpa mereka, hidupku hampa bahkan dipastikan akan mati, karena keberadaanku  hanyalah untuk mereka” demikian pesannya dengan suara yang memelas.

Kado Istimewa 
Setelah sepuluh bulan ber “kasih mesra” bersama dan mengakui “kesetiaannya” yang luar biasa yang aku nilai lebih dari seratus persen, akhirnya aku memiliki suatu niat untuk sedikit membahagiakannya. Dan ini aku coba dengan memanfaatkan moment HUT ke-68 TNI yang jatuh pada 5 Oktober 2013 lalu. Sehari, usai perayaan ulang tahun tersebut tepatnya di Minggu sore 6 Oktober 2013 pukul 15.34, aku mencoba mempromosikan “keunikan” temanku ini ke tanah air, tanah kelahiranku di Indonesia. Tentunya dengan harapan, ada rekan-rekan di tanah air yang mencoba melirik “wajah” temanku yang sederhana tersebut.
Sebagai “umpan” pancingan yang aku taruh di mata kailku, aku pilih burung garuda yang merupakan lambang negara Indonesia dan juga menjadi julukan pasukan kami di daerah penugasan.  Burung ini sedang dibangun dengan ukuran “raksasa” di Soedirman Camp yang menjadi markasku. Hasil pembangunannya yang luar biasa ini akhirnya menelurkan sejumlah tanggapan dari personel PBB dari manca negara seperti, “ Indonesian People Crazy!”. Dan tanggapan inilah yang akhirnya aku pilih menjadi “umpan utama” untuk mengail ikan besar di sungai yang sudah terkenal di Indonesia, yaitu www.kompasiana.com
Artikelku "Indonesian People Crazy!" muncul di Head Line

Umpanku dengan nama  http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/10/06/indonesian-people-crazy-598134.htm,  ternyata “tepat”, setelah diupload  pada tanggal dan jam tersebut , satu jam sesudahnya, ia langsung tancap gas nongkrong di Head Line (HL) sehingga menyedot perhatian ribuan orang/ kompasianer. Setelah bosan nongkrong seharian di HL, ia pun turun panggung dan hanya meninggalkan catatan ringan yakni jumlah pengunjung  2276 dengan 34 tanggapan dan 22 penilaian (update Selasa, 8 Oktober 2013 pukul 19.00 waktu Lebanon).
Rating pembaca, komentar dan penilaian di Kompasiana
Imbas dari hasil tangkapan yang bagus itulah yang aku jadikan kado istimewa buat temanku tersebut.  Total selama tiga hari, pengunjung yang mampir ke rumahnya  mencapai 1803 dengan perincian pada 6 Oktober  807 pengunjung, 7 Oktober 687 pengunjung dan pada 8 Oktober 2013 pukul 19.00 sejumlah 309 pengunjung.  Jumlah pengunjung yang cukup membludak di mana rata-rata per hari 600 pengunjung tersebut tentu membuatnya kaget, apalagi bila dibandingkan hari biasa yang umumnya 50 pengunjung. Aku tahu, ia pasti bahagia dan gembira luar biasa mendapatkan kado istimewa itu. Saat ini tercatat orang yang telah mengunjungi rumahnya 12.383 orang, jumlah yang menurutku sudah cukup lumayan bagi sebuah “rumah baru” seperti milik temanku yang satu ini.

Dengan kunjungan yang membludak tersebut, untuk yang kedua kalinya juga, aku mewakili temanku yang “lugu dan polos” itu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pengunjung yang mau mampir ke teman setiaku tersebut. Kunjungan tersebut merupakan kado istimewa baginya di tengah-tengah kemeriahan HUT ke-68 TNI tahun 2013. Kami juga mohon maaf apabila “suguhan” yang kami hidangkan kurang  variatif dan jauh dari sempurna serta kurang cocok bagi pengunjung semua. Akan tetapi yakinlah kami ikhlas membaginya, walau itu cuma dalam bentuk kue yang dikemas dengan plastik “cerita ringan”.
Ke depan, harapan kami tetap tidak terlalu muluk-muluk, jika ada kesempatan dan waktu luang, mampirlah ke temanku tersebut. Kami menyadari, “tempat” kami cukup sederhana, akan tetapi bagi siapa saja yang berkenan “melangkahkan kakinya” untuk mampir, kami berjanji akan terus membagi sesuatu yang kami punya, sesuatu yang  kami olah dengan mengorbankan waktu istirahat.
Bagi mereka yang belum mengetahui nama teman setiaku yang lugu dan polos tersebut, silahkan mampir ke mbah Google dulu, lantas tanyalah, “Catatan Kecil Dari Lebanon”. Mbah google pasti akan mengarahkannya dengan betul. Atau bisa juga langsung mampir ke rumahnya di http://lebanonku.blogspot.com. Aku dan teman setiaku pasti akan menyambutnya dengan suka cita.
Akhirnya, sekali lagi kami ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pengunjung “blog” sederhana yang menjadi teman setiaku selama penugasan. Dan terimalah salam hormat kami dari bumi Lebanon!.

***

6 comments:

  1. Teman sejati jgn dilupakan klo sdh dpt temen yg lebih darinya krn ada temen yg sangat dekat tp sering kelupaan dialah malaikat hee..he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, apalagi malaikat pencatat "kebaikan dan keburukan" yang terkadang kita seakan "melupakannya". Tks n salam kenal.

      Delete
  2. Suatu Kebanggaan Buat Negeri ini punya prajurit TNI yang kreatif dan inovatif .. Jaya TNI ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks mas Wahyu, itu hanya sekedar mengisi waktu luang, dan kejenuhan. Hitung2 sambil belajar mengungkapkan sesuatu yang ada di memori kita..

      Delete
  3. saya jadi suka mengikuti tulisan Anda, Mas MS. Bukan karena apa2 (jgn paranoid dulu :-)). Hanya karena merasa heran, tepatnya kagum, seorang anggota TNI mau dan mampu, punya kemampuan menulis, menceritakan sesuatu dengan sangat baik, dan enak diikuti... Terima kasih sudah menjadi bagian dari sejarah dunia, dan tidak keberatan untuk membaginya... salam, WK

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun mbak. Sebenarnya apa yang saya tuturkan dalam blog ini jauh dari sempurna, masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, saya tetap berusaha untuk tetap belajar bagaimana menjadi seorang "penulis" yang baik (tentunya dengan tidak meninggalkan ciri khas tulisan saya). Terima kasih atas "pujiannya" n Salam hormat saya dari Bumi Lebanon.

      Delete