Saturday, October 19, 2013

Catatan ke-57 : “Hunting” Oleh-Oleh Khas Lebanon


Coklat Khas Lebanon
Membawa oleh-oleh untuk keluarga tercinta serta kerabat dekat termasuk para sahabat merupakan budaya yang sangat kental bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi bila tempat bepergiannya terbilang jauh semisal dari luar negeri, tentunya terasa kurang lengkap dan kurang afdol bila saat pulang ke tanah air “lenggang kangkung” atau tanpa membawa apa yang namanya oleh-oleh ini. Demikian pula dengan prajurit TNI yang sedang melaksanakan misi penugasan PBB di Lebanon, mereka juga memiliki pandangan yang sama, paling tidak membawa oleh-oleh dari daerah penugasan.
Aneka jajanan coklat yang cocok untuk oleh-oleh
Berbicara tentang oleh-oleh ini maka ada beberapa jenis oleh-oleh yang menjadi favoritku dan juga rekan-rekan Satgas yang lain. Oleh-oleh yang pertama adalah coklat khas Lebanon. Coklat dari negara yang sering dilanda konflik dengan Israel ini terkenal karena rasa dan kualitasnya yang terbilang tinggi. Bahkan untuk kawasan Timur Tengah, coklat Lebanon dianggap yang paling bagus dari segi rasa maupun variasinya. Aku yang beberapa kali mencobanya juga terasa ada “taste” yang berbeda, ada rasa gurih, renyah, manis dan harum dengan rasa coklat yang sangat terasa melekat di setiap gigitannya.
Salah satu toko coklat yang menjadi langganan prajurit TNI serta prajurit Unifil dari sejumlah negara lainnya adalah toko kepunyaan Ali, seorang pemuda Lebanon yang mewarisi usaha coklat dari keluarganya. Ali dengan dua saudara dan dua kawannya membuka sebuah toko coklat di kawasan pantai wisata Tyre, Lebanon. Di toko yang letaknya di seberang jalanan pantai yang ramai dikunjungi orang ini, tersedia coklat dengan puluhan rasa dan bentuknya yang unik. Coklat-coklat berukuran kecil ini dikemas dengan kertas pembungkus dengan pita kecil berwarna emas maupun perak yang menyolok dengan pilihan bentuknya yang unik seperti bulat, persegi panjang, kotak, lonjong dan sebagainya. Untuk harga 1 kilogram dengan kualitas coklat yang baik, Ali mematok harga US$ 8,00 atau sekitar Rp.84.000,- (untuk isi kemasan 1 kilo berisi sekitar 50 coklat kecil). Memang dibandingkan dengan Indonesia kelewat mahal, akan tetapi dengan melihat keunikan dan rasanya, harga tersebut malah terbilang murah.
Warung coklat di Tyre, Lebanon
Selain coklat, di toko Ali ini juga tersedia aneka panganan. Untuk yang satu ini, aku dan rekanku biasanya membeli buah tin yang sudah dikeringkan seharga US$ 10,00 untuk 3 bungkusnya. Kami juga membeli buah tin yang sudah dikemas rapi seberat 3 kilogram seharga US$ 20,00.  Buah Tin jenis ini rasanya kenyal dan manis dengan kemasan unik di mana setiap bijinya dibungkus tersendiri.

Dari Sunto, Oakley 
hingga “Tas Murah”
Untuk pernak-pernik lain sebagai oleh-oleh pulang tanah air, sebagian dari rekanku umumnya mengejar beberapa produk jam tangan, kacamata maupun sepatu. Produk-produk ini dijual lumayan cukup murah di toko milik Mahdi di Menghy Street, Naqoura, South Lebanon. Di toko yang juga menjual peralatan elektronik seperti laptop dan notebook ini, ratusan jam tangan dengan merk dan kualitas serta harga berbeda terpajang rapi. Untuk oleh-oleh, sebagian rekanku membeli beberapa jam tangan merk Casio yang cukup murah dengan harga rata-rata US$ 25-100, Edifice US$ 80-200, G-Shock US$ 100-300, atau ada pula yang membeli jam tangan merk Sunto Ambit yang harganya mencapai 350 Euro atau sekitar Rp. 5.250.000,- (bila 1 Euro dihitung Rp 15 ribu).
Sunto, tas militer dan kacamata Oakley
Barang lain yang paling sering dibeli untuk oleh-oleh adalah sepatu dan kacamata. Merk yang sering diincar adalah Oakley yang cukup mahal dengan kisaran harga lebih dari US$ 100,00. Oleh-oleh ini biasanya disiapkan untuk kerabat maupun titipan untuk “sang Komandan” satuan masing-masing. Barang-barang ini dapat dijumpai di sejumlah military shop/ store yang berada di sepanjang Menghy Street Naqoura atau Marjeyoun. Ada pula yang menjelajah di sejumlah PX atau Post Exchange (di Indonesia mirip Koperasi satuan/ lembaga) seperti di PX Internasional, PX Indonesia maupun PX Perancis yang terkenal dengan kelengkapan barangnya.
Selain jam tangan, sepatu dan kacamata, ada pula barang lain yang menjadi favorit oleh-oleh rekan-rekan Satgas Garuda, yakni pernak pernik tas militer. Tas model “Combat Pack” seperti tas punggung maupun tas pinggang dengan pilihan warna doreng gurun maupun doreng hijau merupakan yang paling banyak dibeli prajurit TNI. Tas dengan kualitas bahan dan jahitan yang cukup bagus dan kuat ini dibeli dengan harga bervariasi mulai dari harga termurah US$ 10 hingga US$ 100 dolar. Toko yang menyediakan peralatan dan barang ini ada di sepanjang Menghy Street Naqoura di Toko Mahmud, Abah Ali atau yang paling lengkap di toko milik George dan H. Nurdin di Marjeyoun.

Minyak dan Pohon Zaitun
Oleh-oleh favorit lainnya yang banyak dibawa prajurit Kontingen Garuda dari Lebanon adalah minyak dan pohon Zaitun. Minyak zaitun ini merupakan ektrak pertama dari buah zaitun tanpa campuran bahan kimia dan mempunyai kadar asid yang rendah. Khasiat dan manfaat minyak zaitun asli adalah bisa mengobati berbagai penyakit. Di pasaran minyak zaitun ini dikenal dengan sebutan “Virgin Olive Oil”. Beberapa khasiat dan manfaat minyak Zaitun antara lain  untuk mencerahkan wajah, anti penuaan dan untuk awet muda, mengobati sakit lutut, arthritis dan mengobati sendi-sendi yang ngilu, mengobati leukemia, obat sakit gigi dan gusi, mengobati sakit jantung, dijadikan minyak pijat atau urut serta menumbuhkan rambut.
Dengan pertimbangan khasiat minyak Zaitun yang sangat bermanfaat bagi keluarga dan banyak orang di tanah air tersebut maka hampir seluruh prajurit membawa minyak jenis ini untuk oleh-oleh pulang ke tanah air, meski pun hanya sekedar satu atau dua liter saja. Store atau toko oleh-oleh yang menyiapkan minyak Zaitun ini cukup banyak seperti yang ada di sepanjang jalan menuju kota Tyre, Marjayeoun hingga Naqoura. Ada pula yang lebih lengkap dengan variasi kemasan yang beraneka macam yang dijual dan tersedia di Super Market Al-Janaoub di kawasan Tyre, Lebanon. Harga per kilonya untuk minyak jenis ini cukup bervariasi sekitar US$ 8 hingga US$ 15 tergantung kualitas dan kemasannya (asli atau campuran). Aku sendiri untuk oleh-oleh jenis ini membawa sekitar 5 kilogram dengan harga per kilonya US$ 13,00 yang aku beli dari Jihad, seorang Language Assistant asli Lebanon yang mengaku memiliki usaha bisnis minyak zaitun, patungan dengan kerabatnya di Lebanon. Untuk membawanya ke tanah air harus dengan kemasan khusus karena barang ini merupakan salah satu jenis barang yang “haram” dibawa dengan pesawat terbang.
Minyak Zaitun (kiri), Pohon Zaitun dan Pohon Tin (kanan)
Selain minyak Zaitun, pohon Zaitun juga menjadi salah satu incaran prajurit TNI untuk dijadikan oleh-oleh dari daerah penugasan Lebanon. Pohon yang dibawa pulang ini umumnya berukuran kecil hasil dari stek yang dibeli dari beberapa tempat jual beli tanaman hias dengan harga sekitar 5- 10 dolar atau dari hasil cangkok sendiri. Ada pula pohon lain yang banyak dibawa rekan-rekan termasuk aku sendiri yakni pohon Tin yang pembudidayaannya lebih gampang dengan cara distek (di Indonesia seperti menanam singkong). Untuk membawanya, pohon Zaitun dan Tin dikemas sederhana, dengan menggunakan kemasan kecil Aqua botol sebagai potnya, kemudian dibungkus dengan kain atau kaos kaki bekas dan selanjutnya bisa dimasukkan ke dalam tas/ koper yang berukuran cukup besar.
Oleh-oleh tambahan lain yang juga sering dibawa rekan-rekan dari daerah Satgas Lebanon adalah pakaian untuk keluarga maupun kerabat. Kelebihan membeli oleh-oleh jenis ini adalah dari segi mutu dan kualitas yang umumnya cukup bagus dan selalu mengikuti trend mode mutakhir. Berbicara masalah harga, secara umum memang relatif mahal ketimbang pakaian sejenis yang dijajakan di boutiqe atau distro-distro yang ada di Indonesia. Meski demikian ada rasa kepuasan melihat kualitas dan mode yang ditampilkan.
Khusus untuk oleh-oleh berupa kaos penugasan yang umumnya akan dibagikan kepada teman-teman kantor atau saudara, sebagian besar prajurit memesannya langsung ke Indonesia lewat sejumlah rekan Satgas yang memiliki link langsung ke pabrik kaos. Umumnya kaos ini dipesan dalam jumlah yang cukup banyak sekitar 50-100 pieces dengan harga yang bervariasi dari 30 hingga 60 ribu rupiah. Untuk yang ini, aku sendiri memesan 100 kaos seharga 36 ribu per bijinya atau total US$ 343,00  yang aku pesan di salah seorang rekan Satgas Indo FPC yang memiliki pabrik kaos di Bandung.

“Wanti-Wanti” Kelebihan Muatan
Membawa oleh-oleh yang cukup banyak dari daerah penugasan sebenarnya merupakan idaman setiap prajurit untuk memuaskan permintaan maupun keinginan keluarga, saudara atau teman yang ada di tanah air. Akan tetapi semua itu tentu ada batasannya terutama terkait “jatah” bawaan masing-masing orang yang ditentukan agar bisa masuk pesawat dan bisa terbawa hingga ke tanah air.
Diperiksa dulu oleh MP Tanzania sebelum di bawa ke bandara
Tidak seperti halnya pesawat komersil yang mematok jatah bagasi penumpang sekitar 40 kg dan kabin 8 kg, maka untuk pesawat yang membawa aku dan rekan-rekan Satgas kembali ke tanah air merupakan pesawat carteran PBB dengan ketentuan bagasi yang lumayan lebih longgar. Sesuai dengan ketentuan yang disepakati, masing-masing dari kami mendapat jatah bagasi maksimal 100 kg. Jatah bagasi ini belum dikurangi barang perlengkapan Satgas seperti senjata dan peralatan organik lainnya yang memakan bagasi 25 kg per orang. Jadi setiap orang mendapat jatah bersih untuk barang di bagasi pesawat seberat 75 kg. Jumlah yang tentunya cukup lumayan buat mengangkut seluruh perlengkapan dan tentu saja oleh-oleh.
Dengan jumlah tersebut bagi yang “hobi” belanja memang terbilang masih kurang. Alhasil mereka pun akhirnya membatasi jumlah bawaan mereka terutama yang kecil-kecil tetapi cukup berat seperti minyak zaitun, coklat dan sebagainya. Mereka memilih aman mengurangi beban oleh-oleh, ketimbang “dipaksakan” dibawa, toh akhirnya tidak bisa masuk bagasi, dan akhirnya “terbuang” karena kelebihan muatan.
***

21 comments:

  1. Salam Garuda bang! Kalau tidak ada aral melintang, sesuai rencana, kami akan menjadi bagian dari Satgas pengganti Kontingen Garuda yang sekarang masih bertugas. Terima kasih atas informasi lengkapnya. Blog ini sangat bermanfaat dan menjadi bekal informasi yang sangat berharga bagi kami. Kami tunggu tulisan berikutnya. Garuda!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mas. Memang salah satu tujuan saya bikin tulisan2 ringan di blog ini adalah membantu memberikan sedikit informasi kepada masyarakat terutama rekan-rekan yang akan berangkat tugas ke Lebanon. Terima kasih atas atensinya dan Salam Garuda!

      Delete
  2. Garuda !!!

    Kang apa ada info untuk coklat "Ali" yang di Tyre, tepatnya dimana ? (sket atau Co. googlenya)
    trims bantuannya.

    adivarvya@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Posisi tokonya persis menghadap pantai, setelah pertigaan dari super market al janoub menuju pasar ikan.

      Delete
    2. @ Mr Syafrudin...kumpulan tulisan ini sangat baik dan sangat bernilai untuk dibukukan...dan bisa untuk bekal bagi mereka yang akan berangkat ke lebanon di tahun2 berikutnya....I hope u can do that GARUDA......

      Best Regard
      Mj Syamsul Cimic.co 2013/2014

      Delete
    3. Tks Major. Insya Allah, kumpulan tulisan di blog ini memang sudah ada rencana dibukukan (sudah ada penerbit yang siap membukukan). Sekarang saya lagi mencoba mengurus proses "perijinan" dari dinas. Selamat bertugas, semoga lancar dan sukses. Salam Garuda!

      Delete
  3. Wah, info yang sangat komplit Pak. Kalau pas tugas di Lebanon itu tidak ada jatah pulangnya ya? Misalnya, tiga bulan atau enam bulan sekali begitu, Pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan pihak Unifil (United Interim Force in Lebanon), setiap prajurit yang tergabung dalam misi penugasan di bawah bendera PBB di Lebanon ini mendapatkan hak cuti penugasan. Hak cuti setiap prajurit Unifil dihitung berdasarkan masa penugasan mereka. Hitungannya, untuk satu bulan penugasan, hak cutinya 2,5 hari ditambah hari besar internasional dan hari besar Unifil. Proses pengajuan cuti termasuk penentuan waktunya ditentukan masing-masing personel dan Satgas. Meski demikian untuk cuti periode pertama penugasan (enam bulan pertama penugasan), seluruh personel kontingen Garuda yang berada di Lebanon ditetapkan secara bersamaan waktunya dengan jumlah hari yang juga hampir sama. Untuk prajurit TNI yang berada di Sector West yang bermarkas di Naqoura dan sekitarnya, periode pertama cuti dibagi dalam empat gelombang dengan masing-masing gelombang mendapatkan hak cuti 25 hari. Sedangkan untuk prajurit Garuda yang tergabung dalam Indobat, Sempu dan lainnya yang berada di Sector East dibagi dalam 5 gelombang pemberangkatan cuti. Khusus untuk tentara Indonesia, sebagian waktu cuti dimanfaatkan untuk ibadah Umroh dan sebagian lagi untuk pulang ke tanah air (baca Catatan ke-29 : Umroh Cuma 750 US Dolar ). Tks atas atensinya

      Delete
  4. Oh iya Pak, mau tanya satu lagi. Kalau saat bapak di Lebanon, bagaimana komunkasinya. Maksud saya, hp. Apakah di sana bisa lancar berkomunikasi dengan hp? Mohon dijawab, Pak. Itu sangat penting untuk saya ketahui. Terimakasih. Wassalamualaikum.

    ReplyDelete
  5. Untuk komunikasi HP dengan kartu Indonesia cukup mahal karena roaming internasional, misal SMS dengan kartu XL tarifnya Rp. 7.500,- dan terima panggilan dari tanah air dengan sisa pulsa Rp. 50 ribu bisa langsung habis dengan durasi waktu kurang dari 1 menit. Untuk BB pakai kartu Indonesia bisa BBM atau WA tapi harus ada Wifi. Untuk komunikasi di sekitar kawasan Lebanon, lebih praktis beli kartu Lebanon. Sedangkan untuk komunikasi dengan keluarga di tanah air, lebih baik pakai Skype (harus ada wifi). Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear, Pa syafruddin. Utk kom dgn kluarga khususnya satgas mcou, cimic, fhqsu & hospital skarang gratis gunakan Wi-Fi SPRINT.

      Delete
  6. Assalammualaikum , salam garuda Pak. setelah saya membaca postingan bapak selama menjadi peacekeeping forces di Lebanon banyak menarik perhatian saya pak, sebelumnya perkenalkan saya Seno Prasetyo Mahasiswa Psikologi semester 7 di salah satu PTN di Jakarta pak. selama ini yang saya ketahui untuk menjadi perwira kesehatan kontingen garuda merupakan dokter militer yang mungkin di tugaskan di batalyon kesehatan. pertanyaannya pak, apakah anggota TNI yang berasal dari dinas psikologi TNI (AD,AL, dan AU) berpeluang diikut sertakan dalam misi perdamaian PBB bersama kontingen garuda, terima kasih salam hormat pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepengetahuan saya tim kesehatan yang dikirim ke Lebanon (selain tim kesehatan dari Yonmek) seperti Indomedik yang ditugaskan di Level II Hospital Naqoura, belum diikutkan seorang dokter/ahli psikologi. Posisi yang diisi Indonesia (sesuai kesepekatan dengan PBB) al dokter umum/ gigi, anestesi, radiologi. Untuk ke depan bisa saja psikolog diikutkan termasuk dalam penugasan Konga ke negara lain. Tks

      Delete
  7. It is really a very nice posting. I am greatly impressed after reading it. Thanks
    HP Lebanon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for your attention. hopefully helpful.

      Delete
  8. Garuda!!!
    Mantap sekali, tulisan yang sangat membantu kami konga XXIII-K

    ReplyDelete
  9. Terima kasih atas atensinya. Selamat Bertugas dan Salam Garuda!!

    ReplyDelete
  10. 23-L siap melanjutkan tugas.... Garuda....

    ReplyDelete
  11. wah dua jempol untuk tulisannya nih bang...jarang nih tentara mau nulis...hehehe. kalo bisa dibukuan dong ..dengan ilustrasi gambar..yang menarik. seperti bukunya pak rais abin...selamat deh bang terima kasih sudah bagi-bagi cerita. salam garuda !!

    ReplyDelete
  12. 🤔 kiro2... saiki 2019 ise po ra yo..

    ReplyDelete
  13. Assalamualaikum .mohon maaf sblumnya .saya mau nanya .apakah tahun ini adakah yg lg tugas di libanon ?? .bolehkan saya nitip minyak zaitun 1 Liter ?? .karena itu bnyk sekali manfaatnya apalagi itu sulingan pertama dan tanpa banhan kimia .mohon infonya .trimakasih sebelumnya .

    ReplyDelete