Membawa oleh-oleh untuk keluarga tercinta
serta kerabat dekat termasuk para sahabat merupakan budaya yang sangat kental
bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi bila tempat bepergiannya terbilang
jauh semisal dari luar negeri, tentunya terasa kurang lengkap dan kurang afdol
bila saat pulang ke tanah air “lenggang kangkung” atau tanpa membawa apa yang
namanya oleh-oleh ini. Demikian pula dengan prajurit TNI yang sedang
melaksanakan misi penugasan PBB di Lebanon, mereka juga memiliki pandangan yang
sama, paling tidak membawa oleh-oleh dari daerah penugasan.
![]() |
| Aneka jajanan coklat yang cocok untuk oleh-oleh |
Berbicara tentang oleh-oleh ini maka ada
beberapa jenis oleh-oleh yang menjadi favoritku dan juga rekan-rekan Satgas
yang lain. Oleh-oleh yang pertama adalah coklat khas Lebanon. Coklat dari
negara yang sering dilanda konflik dengan Israel ini terkenal karena rasa dan
kualitasnya yang terbilang tinggi. Bahkan untuk kawasan Timur Tengah, coklat
Lebanon dianggap yang paling bagus dari segi rasa maupun variasinya. Aku yang
beberapa kali mencobanya juga terasa ada “taste” yang berbeda, ada rasa gurih,
renyah, manis dan harum dengan rasa coklat yang sangat terasa melekat di setiap
gigitannya.
Salah satu toko coklat yang menjadi langganan
prajurit TNI serta prajurit Unifil dari sejumlah negara lainnya adalah toko kepunyaan
Ali, seorang pemuda Lebanon yang mewarisi usaha coklat dari keluarganya. Ali
dengan dua saudara dan dua kawannya membuka sebuah toko coklat di kawasan
pantai wisata Tyre, Lebanon. Di toko yang letaknya di seberang jalanan pantai
yang ramai dikunjungi orang ini, tersedia coklat dengan puluhan rasa dan
bentuknya yang unik. Coklat-coklat berukuran kecil ini dikemas dengan kertas pembungkus
dengan pita kecil berwarna emas maupun perak yang menyolok dengan pilihan
bentuknya yang unik seperti bulat, persegi panjang, kotak, lonjong dan
sebagainya. Untuk harga 1 kilogram dengan kualitas coklat yang baik, Ali
mematok harga US$ 8,00 atau sekitar Rp.84.000,- (untuk isi kemasan 1 kilo
berisi sekitar 50 coklat kecil). Memang dibandingkan dengan Indonesia kelewat
mahal, akan tetapi dengan melihat keunikan dan rasanya, harga tersebut malah
terbilang murah.
![]() |
| Warung coklat di Tyre, Lebanon |
Selain coklat, di toko Ali ini juga tersedia
aneka panganan. Untuk yang satu ini, aku dan rekanku biasanya membeli buah tin
yang sudah dikeringkan seharga US$ 10,00 untuk 3 bungkusnya. Kami juga membeli
buah tin yang sudah dikemas rapi seberat 3 kilogram seharga US$ 20,00. Buah Tin jenis ini rasanya kenyal dan manis
dengan kemasan unik di mana setiap bijinya dibungkus tersendiri.
Dari Sunto, Oakley
hingga “Tas Murah”
hingga “Tas Murah”
Untuk pernak-pernik lain sebagai oleh-oleh
pulang tanah air, sebagian dari rekanku umumnya mengejar beberapa produk jam
tangan, kacamata maupun sepatu. Produk-produk ini dijual lumayan cukup murah di
toko milik Mahdi di Menghy Street, Naqoura, South Lebanon. Di toko yang juga
menjual peralatan elektronik seperti laptop dan notebook ini, ratusan jam
tangan dengan merk dan kualitas serta harga berbeda terpajang rapi. Untuk
oleh-oleh, sebagian rekanku membeli beberapa jam tangan merk Casio yang cukup murah
dengan harga rata-rata US$ 25-100, Edifice US$ 80-200, G-Shock US$ 100-300,
atau ada pula yang membeli jam tangan merk Sunto Ambit yang harganya mencapai
350 Euro atau sekitar Rp. 5.250.000,- (bila 1 Euro dihitung Rp 15 ribu).
![]() |
| Sunto, tas militer dan kacamata Oakley |
Barang lain yang paling sering dibeli untuk
oleh-oleh adalah sepatu dan kacamata. Merk yang sering diincar adalah Oakley
yang cukup mahal dengan kisaran harga lebih dari US$ 100,00. Oleh-oleh ini
biasanya disiapkan untuk kerabat maupun titipan untuk “sang Komandan” satuan
masing-masing. Barang-barang ini dapat dijumpai di sejumlah military shop/
store yang berada di sepanjang Menghy Street Naqoura atau Marjeyoun. Ada pula
yang menjelajah di sejumlah PX atau Post Exchange (di Indonesia mirip Koperasi
satuan/ lembaga) seperti di PX Internasional, PX Indonesia maupun PX Perancis
yang terkenal dengan kelengkapan barangnya.
Selain jam tangan, sepatu dan kacamata, ada
pula barang lain yang menjadi favorit oleh-oleh rekan-rekan Satgas Garuda,
yakni pernak pernik tas militer. Tas model “Combat Pack” seperti tas punggung
maupun tas pinggang dengan pilihan warna doreng gurun maupun doreng hijau
merupakan yang paling banyak dibeli prajurit TNI. Tas dengan kualitas bahan dan
jahitan yang cukup bagus dan kuat ini dibeli dengan harga bervariasi mulai dari
harga termurah US$ 10 hingga US$ 100 dolar. Toko yang menyediakan peralatan dan
barang ini ada di sepanjang Menghy Street Naqoura di Toko Mahmud, Abah Ali atau
yang paling lengkap di toko milik George dan H. Nurdin di Marjeyoun.
Minyak dan Pohon
Zaitun
Oleh-oleh favorit lainnya yang banyak dibawa
prajurit Kontingen Garuda dari Lebanon adalah minyak dan pohon Zaitun. Minyak
zaitun ini merupakan ektrak pertama dari buah zaitun tanpa campuran bahan kimia
dan mempunyai kadar asid yang rendah. Khasiat dan manfaat minyak zaitun asli
adalah bisa mengobati berbagai penyakit. Di pasaran minyak zaitun ini dikenal
dengan sebutan “Virgin Olive Oil”. Beberapa
khasiat dan manfaat minyak Zaitun antara lain
untuk mencerahkan wajah, anti penuaan dan untuk awet muda,
mengobati sakit lutut, arthritis dan mengobati sendi-sendi yang ngilu,
mengobati leukemia, obat sakit gigi dan gusi, mengobati
sakit jantung, dijadikan minyak pijat atau urut serta menumbuhkan rambut.
Dengan
pertimbangan khasiat minyak Zaitun yang sangat bermanfaat bagi keluarga dan
banyak orang di tanah air tersebut maka hampir seluruh prajurit membawa minyak
jenis ini untuk oleh-oleh pulang ke tanah air, meski pun hanya sekedar satu
atau dua liter saja. Store atau toko oleh-oleh yang menyiapkan minyak Zaitun
ini cukup banyak seperti yang ada di sepanjang jalan menuju kota Tyre,
Marjayeoun hingga Naqoura. Ada pula yang lebih lengkap dengan variasi kemasan
yang beraneka macam yang dijual dan tersedia di Super Market Al-Janaoub di
kawasan Tyre, Lebanon. Harga per kilonya untuk minyak jenis ini cukup
bervariasi sekitar US$ 8 hingga US$ 15 tergantung kualitas dan kemasannya (asli
atau campuran). Aku sendiri untuk oleh-oleh jenis ini membawa sekitar 5
kilogram dengan harga per kilonya US$ 13,00 yang aku beli dari Jihad, seorang
Language Assistant asli Lebanon yang mengaku memiliki usaha bisnis minyak
zaitun, patungan dengan kerabatnya di Lebanon. Untuk membawanya ke tanah air
harus dengan kemasan khusus karena barang ini merupakan salah satu jenis barang
yang “haram” dibawa dengan pesawat terbang.
![]() |
| Minyak Zaitun (kiri), Pohon Zaitun dan Pohon Tin (kanan) |
Selain
minyak Zaitun, pohon Zaitun juga menjadi salah satu incaran prajurit TNI untuk
dijadikan oleh-oleh dari daerah penugasan Lebanon. Pohon yang dibawa pulang ini
umumnya berukuran kecil hasil dari stek yang dibeli dari beberapa tempat jual
beli tanaman hias dengan harga sekitar 5- 10 dolar atau dari hasil cangkok
sendiri. Ada pula pohon lain yang banyak dibawa rekan-rekan termasuk aku
sendiri yakni pohon Tin yang pembudidayaannya lebih gampang dengan cara distek
(di Indonesia seperti menanam singkong). Untuk membawanya, pohon Zaitun dan Tin
dikemas sederhana, dengan menggunakan kemasan kecil Aqua botol sebagai potnya,
kemudian dibungkus dengan kain atau kaos kaki bekas dan selanjutnya bisa
dimasukkan ke dalam tas/ koper yang berukuran cukup besar.
Oleh-oleh
tambahan lain yang juga sering dibawa rekan-rekan dari daerah Satgas Lebanon
adalah pakaian untuk keluarga maupun kerabat. Kelebihan membeli oleh-oleh jenis
ini adalah dari segi mutu dan kualitas yang umumnya cukup bagus dan selalu
mengikuti trend mode mutakhir. Berbicara masalah harga, secara umum memang
relatif mahal ketimbang pakaian sejenis yang dijajakan di boutiqe atau
distro-distro yang ada di Indonesia. Meski demikian ada rasa kepuasan melihat
kualitas dan mode yang ditampilkan.
Khusus
untuk oleh-oleh berupa kaos penugasan yang umumnya akan dibagikan kepada
teman-teman kantor atau saudara, sebagian besar prajurit memesannya langsung ke
Indonesia lewat sejumlah rekan Satgas yang memiliki link langsung ke pabrik
kaos. Umumnya kaos ini dipesan dalam jumlah yang cukup banyak sekitar 50-100
pieces dengan harga yang bervariasi dari 30 hingga 60 ribu rupiah. Untuk yang
ini, aku sendiri memesan 100 kaos seharga 36 ribu per bijinya atau total US$
343,00 yang aku pesan di salah seorang
rekan Satgas Indo FPC yang memiliki pabrik kaos di Bandung.
“Wanti-Wanti” Kelebihan Muatan
Membawa
oleh-oleh yang cukup banyak dari daerah penugasan sebenarnya merupakan idaman
setiap prajurit untuk memuaskan permintaan maupun keinginan keluarga, saudara
atau teman yang ada di tanah air. Akan tetapi semua itu tentu ada batasannya
terutama terkait “jatah” bawaan masing-masing orang yang ditentukan agar bisa
masuk pesawat dan bisa terbawa hingga ke tanah air.
![]() |
| Diperiksa dulu oleh MP Tanzania sebelum di bawa ke bandara |
Tidak
seperti halnya pesawat komersil yang mematok jatah bagasi penumpang sekitar 40
kg dan kabin 8 kg, maka untuk pesawat yang membawa aku dan rekan-rekan Satgas
kembali ke tanah air merupakan pesawat carteran PBB dengan ketentuan bagasi
yang lumayan lebih longgar. Sesuai dengan ketentuan yang disepakati,
masing-masing dari kami mendapat jatah bagasi maksimal 100 kg. Jatah bagasi ini
belum dikurangi barang perlengkapan Satgas seperti senjata dan peralatan
organik lainnya yang memakan bagasi 25 kg per orang. Jadi setiap orang mendapat
jatah bersih untuk barang di bagasi pesawat seberat 75 kg. Jumlah yang tentunya
cukup lumayan buat mengangkut seluruh perlengkapan dan tentu saja oleh-oleh.
Dengan
jumlah tersebut bagi yang “hobi” belanja memang terbilang masih kurang. Alhasil
mereka pun akhirnya membatasi jumlah bawaan mereka terutama yang kecil-kecil
tetapi cukup berat seperti minyak zaitun, coklat dan sebagainya. Mereka memilih
aman mengurangi beban oleh-oleh, ketimbang “dipaksakan” dibawa, toh akhirnya
tidak bisa masuk bagasi, dan akhirnya “terbuang” karena kelebihan muatan.
***






Salam Garuda bang! Kalau tidak ada aral melintang, sesuai rencana, kami akan menjadi bagian dari Satgas pengganti Kontingen Garuda yang sekarang masih bertugas. Terima kasih atas informasi lengkapnya. Blog ini sangat bermanfaat dan menjadi bekal informasi yang sangat berharga bagi kami. Kami tunggu tulisan berikutnya. Garuda!!!
ReplyDeleteSama2 mas. Memang salah satu tujuan saya bikin tulisan2 ringan di blog ini adalah membantu memberikan sedikit informasi kepada masyarakat terutama rekan-rekan yang akan berangkat tugas ke Lebanon. Terima kasih atas atensinya dan Salam Garuda!
DeleteGaruda !!!
ReplyDeleteKang apa ada info untuk coklat "Ali" yang di Tyre, tepatnya dimana ? (sket atau Co. googlenya)
trims bantuannya.
adivarvya@gmail.com
Posisi tokonya persis menghadap pantai, setelah pertigaan dari super market al janoub menuju pasar ikan.
Delete@ Mr Syafrudin...kumpulan tulisan ini sangat baik dan sangat bernilai untuk dibukukan...dan bisa untuk bekal bagi mereka yang akan berangkat ke lebanon di tahun2 berikutnya....I hope u can do that GARUDA......
DeleteBest Regard
Mj Syamsul Cimic.co 2013/2014
Tks Major. Insya Allah, kumpulan tulisan di blog ini memang sudah ada rencana dibukukan (sudah ada penerbit yang siap membukukan). Sekarang saya lagi mencoba mengurus proses "perijinan" dari dinas. Selamat bertugas, semoga lancar dan sukses. Salam Garuda!
DeleteWah, info yang sangat komplit Pak. Kalau pas tugas di Lebanon itu tidak ada jatah pulangnya ya? Misalnya, tiga bulan atau enam bulan sekali begitu, Pak?
ReplyDeleteSesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan pihak Unifil (United Interim Force in Lebanon), setiap prajurit yang tergabung dalam misi penugasan di bawah bendera PBB di Lebanon ini mendapatkan hak cuti penugasan. Hak cuti setiap prajurit Unifil dihitung berdasarkan masa penugasan mereka. Hitungannya, untuk satu bulan penugasan, hak cutinya 2,5 hari ditambah hari besar internasional dan hari besar Unifil. Proses pengajuan cuti termasuk penentuan waktunya ditentukan masing-masing personel dan Satgas. Meski demikian untuk cuti periode pertama penugasan (enam bulan pertama penugasan), seluruh personel kontingen Garuda yang berada di Lebanon ditetapkan secara bersamaan waktunya dengan jumlah hari yang juga hampir sama. Untuk prajurit TNI yang berada di Sector West yang bermarkas di Naqoura dan sekitarnya, periode pertama cuti dibagi dalam empat gelombang dengan masing-masing gelombang mendapatkan hak cuti 25 hari. Sedangkan untuk prajurit Garuda yang tergabung dalam Indobat, Sempu dan lainnya yang berada di Sector East dibagi dalam 5 gelombang pemberangkatan cuti. Khusus untuk tentara Indonesia, sebagian waktu cuti dimanfaatkan untuk ibadah Umroh dan sebagian lagi untuk pulang ke tanah air (baca Catatan ke-29 : Umroh Cuma 750 US Dolar ). Tks atas atensinya
DeleteOh iya Pak, mau tanya satu lagi. Kalau saat bapak di Lebanon, bagaimana komunkasinya. Maksud saya, hp. Apakah di sana bisa lancar berkomunikasi dengan hp? Mohon dijawab, Pak. Itu sangat penting untuk saya ketahui. Terimakasih. Wassalamualaikum.
ReplyDeleteUntuk komunikasi HP dengan kartu Indonesia cukup mahal karena roaming internasional, misal SMS dengan kartu XL tarifnya Rp. 7.500,- dan terima panggilan dari tanah air dengan sisa pulsa Rp. 50 ribu bisa langsung habis dengan durasi waktu kurang dari 1 menit. Untuk BB pakai kartu Indonesia bisa BBM atau WA tapi harus ada Wifi. Untuk komunikasi di sekitar kawasan Lebanon, lebih praktis beli kartu Lebanon. Sedangkan untuk komunikasi dengan keluarga di tanah air, lebih baik pakai Skype (harus ada wifi). Tks
ReplyDeleteDear, Pa syafruddin. Utk kom dgn kluarga khususnya satgas mcou, cimic, fhqsu & hospital skarang gratis gunakan Wi-Fi SPRINT.
DeleteAssalammualaikum , salam garuda Pak. setelah saya membaca postingan bapak selama menjadi peacekeeping forces di Lebanon banyak menarik perhatian saya pak, sebelumnya perkenalkan saya Seno Prasetyo Mahasiswa Psikologi semester 7 di salah satu PTN di Jakarta pak. selama ini yang saya ketahui untuk menjadi perwira kesehatan kontingen garuda merupakan dokter militer yang mungkin di tugaskan di batalyon kesehatan. pertanyaannya pak, apakah anggota TNI yang berasal dari dinas psikologi TNI (AD,AL, dan AU) berpeluang diikut sertakan dalam misi perdamaian PBB bersama kontingen garuda, terima kasih salam hormat pak
ReplyDeleteSepengetahuan saya tim kesehatan yang dikirim ke Lebanon (selain tim kesehatan dari Yonmek) seperti Indomedik yang ditugaskan di Level II Hospital Naqoura, belum diikutkan seorang dokter/ahli psikologi. Posisi yang diisi Indonesia (sesuai kesepekatan dengan PBB) al dokter umum/ gigi, anestesi, radiologi. Untuk ke depan bisa saja psikolog diikutkan termasuk dalam penugasan Konga ke negara lain. Tks
DeleteIt is really a very nice posting. I am greatly impressed after reading it. Thanks
ReplyDeleteHP Lebanon
Thank you for your attention. hopefully helpful.
DeleteGaruda!!!
ReplyDeleteMantap sekali, tulisan yang sangat membantu kami konga XXIII-K
Terima kasih atas atensinya. Selamat Bertugas dan Salam Garuda!!
ReplyDelete23-L siap melanjutkan tugas.... Garuda....
ReplyDeletewah dua jempol untuk tulisannya nih bang...jarang nih tentara mau nulis...hehehe. kalo bisa dibukuan dong ..dengan ilustrasi gambar..yang menarik. seperti bukunya pak rais abin...selamat deh bang terima kasih sudah bagi-bagi cerita. salam garuda !!
ReplyDelete🤔 kiro2... saiki 2019 ise po ra yo..
ReplyDeleteAssalamualaikum .mohon maaf sblumnya .saya mau nanya .apakah tahun ini adakah yg lg tugas di libanon ?? .bolehkan saya nitip minyak zaitun 1 Liter ?? .karena itu bnyk sekali manfaatnya apalagi itu sulingan pertama dan tanpa banhan kimia .mohon infonya .trimakasih sebelumnya .
ReplyDelete