Saturday, December 7, 2013

Catatan ke-59 : “Penghargaan” yang Aku Terima


UN Medal, Brevet garuda dan MCOU Unifil

 Sebagai prajurit TNI, meninggalkan keluarga untuk menjalankan tugas yang dibebankan negara merupakan suatu hal yang biasa. Bagi prajurit penugasan itu merupakan suatu kehormatan, kepercayaan dan juga penghargaan yang harus dilaksanakan dengan baik. Meski pun penugasan itu membutuhkan waktu yang lama serta jarak yang cukup jauh, serta juga terkadang mengandung risiko, mengorbankan “nyawa” sekalipun, itu tetap harus dilaksanakan.
Dalam prakteknya di lapangan, tugas itu dilaksanakan dengan tidak meminta pamrih apapun. Semua tugas bermuara kepada satu kata, “berhasilnya tugas pokok” dengan tidak mengharapkan imbalan apa pun, tidak mengharapkan penghargaan dan juga tidak mengharapkan suatu pujian. Kendati penghargaan dan pujian pada beberapa penugasan kadang-kadang “diterima” seiring dengan “berhasilnya” penugasan, namun pada gilirannya, sekedar dijadikan “feedback result” yang akan disandingkan dengan sejumlah kekurangan yang ada dalam tahap evaluasi penugasan..
“Moto” ini umum menjadi pegangan setiap prajurit utamanya para Komandan Satuan dalam “mengeksekusi” suatu tugas yang dibebankan kepadanya atau kepada Satuannya. Dan pemahaman terhadap tugas, risiko dan hasilnya ini akan semakin menguat apabila lingkup penugasannya sudah bukan saja membawa nama satuan atau TNI melainkan membawa nama negara dan bangsa, seperti halnya penugasan luar negeri di bawah bendera PBB. Pada konteks ini maka diyakini seluruh personel TNI akan berusaha bekerja maksimal sesuai bidang tugasnya masing-masing, berbuat  sesuatu yang terbaik dan juga berusaha menjadi yang terbaik. Mereka ini sadar, kesalahan sedikit saja, akan berimbas bukan saja pada nama satuan, angkatan dan TNI, namun juga imbasnya hingga ke tingkat negara di mana nama bendera “merah putih” lah yang dipertaruhkan.
Dengan pedoman tersebut di mana keberhasilan tugas pokok menjadi “main target” maka hal-hal lain yang mengiringinya seperti adanya penghargaan atau rewards dari orang, golongan, maupun negara lain hanyalah dianggap sebagai sesuatu yang “biasa” atau berpijak pada uraian sebelumnya, akan dijadikan bahan sandingan dalam tahap evaluasi penugasan dalam rangka mencapai format ideal untuk penugasan sejenis di masa yang akan datang.

Berinteraksi Dengan Seluruh Komponen
Di dalam kamus bebas “The Free Dictionary by Farlex”, rewards atau penghargaan diartikan sebagai, “ Something given or received in recompense for worthy behavior or in retribution for evil acts; a satisfying return or result; benefit resulting from some event or action; profit and psychology the return for performance of a desired behavior; positive reinforcement” (Sesuatu yang diberikan atau diterima sebagai balasan untuk perilaku yang layak atau retribusi untuk tindakan jahat, kembali memuaskan atau hasil, manfaat atau keuntungan yang dihasilkan dari sejumlah peristiwa atau tindakan; keuntungan psikologi untuk kinerja perilaku yang diinginkan, serta penguatan positif).
Berangkat dari pengertian reward atau penghargaan tersebut di atas maka rewards pada intinya merupakan suatu “balas jasa” terhadap apa yang telah kita lakukan dan kita berbuat. Terkait dengan ini maka aku akan sedikit memberi gambaran sejumlah “rewards” yang aku terima selama menjadi bagian dari “peacekeeper” PBB di Lebanon.
Seperti yang pernah diulas dalam tulisan sebelumnya, aku tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda XXX-C untuk misi Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon). Satgas yang berjumlah 18 prajurit TNI ini bergabung dengan Unifil di dalam unit Military Community Outreach Unit (MCOU). Unit kecil yang bertanggung jawab langsung kepada Unifil Chief Of Staff (COS) ini terdiri dari personel gabungan yakni Indonesia (18 personel), Italia (6 personel) dan Lebanon (6 personel). Secara sederhana tugas unit gabungan ini adalah melakukan kunjungan ke desa/ kelurahan di seluruh area operasi Unifil untuk bertemu dengan local leader/ local people (Mayor/ Mukhtar) dalam rangka “meningkatkan” kerjasama Unifil dengan masyarakat serta mengetahui permasalahan yang mereka hadapi. Desa-desa ini umumnya “dikuasai” atau menjadi tanggung jawab sejumlah kontingen pasukan dari berbagai negara termasuk Kontingen dari Indonesia (Indobatt).
Volume kunjungan ke desa-desa Lebanon tersebut terbilang cukup tinggi yakni 2-3 kali kunjungan dalam seminggu untuk dua tim (Italia dan Indonesia), yang berarti dalam seminggu MCOU melakukan kunjungan 4-6 kali kunjungan ke desa-desa Lebanon. Selain itu sekali dalam seminggu MCOU ini juga melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah  yang ada di area operasi untuk mengenalkan Unifil sekaligus memberikan bantuan alat tulis maupun peralatan sekolah. Dalam setiap kunjungan ini maka kami selalu didampingi oleh satu tim dari pasukan Lebanese Armed Forces (LAF) untuk mengamankan sekaligus membantu kelancaran tugas kami tersebut.
Dari pola kerja tersebut maka tim kami dari Indonesia, setiap harinya bersentuhan / berinteraksi dengan rekan kerja dari Italia, Lebanon termasuk LAF dan juga seluruh kontingen pasukan dari berbagai negara yang memiliki “otoritas” terhadap desa-desa yang kami kunjungi.
Dengan jalinan kerjasama yang tertata rapi dan erat tersebut akhirnya menjelang akhir penugasan, aku dan rekan-rekan mendapat sejumlah penghargaan atau rewards dari mereka, tak terkecuali penghargaan tertinggi bagi setiap prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian PBB yakni UN Peacekeeping Medal.

Penghargaan yang aku Terima
Tanda jasa gabungan dalam dan luar negeri
Selama menjalani penugasan di Lebanon dan menjadi bagian dari pasukan Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), aku dan rekan-rekan Satgas MCOU mendapatkan sejumlah penghargaan resmi antara lain UN Peacekeeping Medal. Penghargaan ini merupakan penghargaan yang diberikan PBB kepada setiap prajurit yang telah berpartisipasi dalam menjalankan tugas-tugas perdamaian di bawah payung PBB. Aku menerima Medali ini bertepatan dengan upacara Indonesia Medal Parade, 30 Agustus 2013 lalu, yakni upacara pemberian UN Medal kepada seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda. Sertifikat UN Medal ini ditandatangani oleh Komandan tertinggi pasukan Unifil atau dikenal dengan sebutan Unifil Head of Mission/ Force Commander Mayjen Paolo Serra.
Sebagian sertifikat
Berikutnya adalah Brevet Garuda, dengan sertifikat resmi yang ditandatangani Komandan Kontingen Garuda. Brevet yang sah untuk dipasang di baju PDH dan PDL TNI, merupakan tanda bahwa yang bersangkutan pernah menjadi bagian dari Kontingen “Garuda” Indonesia dalam penugasan PBB di luar negeri. Brevet lainnya antara lain Dixi Suasi Vici. Brevet ini identik dengan logo MCOU yang dibawahnya tertulis Motto, “Dixi, Suasi, Vici” (Speak, Change the Opinion, Win in the batle). Motto ini kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia adalah “ Mendatangi target audience, berbicara dengan mereka secara persuasi, berusaha membangun dan mengubah pendapat/ opini mereka, maka kita akan memenangkan segala pertempuran/ berhasil dalam melaksanakan tugas pokok”. Brevet ini diperoleh melalui program MCOU Induction Training yang juga merupakan Psyops Training, sedangkan untuk “prakteknya” diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari ketika melakukan kunjungan ke local leader/ local people atau kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada di seluruh area operasi Unifil. Brevet ini diberikan langsung oleh Komandan MCOU.
Selain penghargaan tersebut, kami juga menerima brevet dan sejumlah medali dari rekan kerja dari negara lain seperti dari pemerintah Lebanon, Italia, LAF, Paz Spanyol, CISM, dan juga sertifikat antara lain sertifikat Unifil Induction Training, MCOU Induction Training, Unifil Conduct And Dicipline, Peace Operation Training Insitute, Intermediate dan Advance Engglish Course.
***

21 comments:

  1. Apa bedanya 2 brevet garuda di pic yg pertama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Brevet Garuda pertama adalah penghargaan yang diberikan "Force Commander" (dikenal dengan sebutan Garuda tanpa kepala), sedangkan yang kedua penghargaan dari Indonesia Contico (Garuda utuh dengan kepala).

      Delete
    2. Kedua brevet garuda apa bisa dipke bersamaan di PDH? Kalo Milstaff apa dpt brevet begini juga?

      Delete
    3. Sebelumnya sy minta maaf, yg sy tulis disini tidak maksud dan tujuan apa2 hanya sekedar berbagi informasi.
      Untuk brevet Garuda yg pertama itu hasil dr gabungan ide2 prajurit kontingen garuda 23E 2010 s.d 2011. Jd brevet itu pertama kali diakui dan disahkan oleh Force commander dan Indonesian Contigent sewaktu sy bertugas disana. Trims.

      Delete
    4. kalo pak brigjend putranto dansatgas indobatt thn brp? Saya lihat beliau memakai brevet garuda utuh juga kalo garuda tanpa kepala kayak dipake mayor agus yudhoyono

      Delete
    5. Tks atas semua atensinya. Saya pribadi tidak tahu persis riwayat desain awal Brevet Garuda. Untuk Milstaf, setahu saya (mohon maaf kalau keliru), "tidak" mendapatkan brevet Garuda karena berada di luar sebutan "Kontingen Garuda ..... ". Kl Brigjen Putranto tergabung dalam Kontingen Garuda XXIII B (saat itu pangkatnya Letkol Inf)

      Delete
  2. I heard that Garuda Indonesia has conducted their duty well. From your writing and some stories of my friend (maybe he is your friend too), I believe that the rumors is true. Indonesia has very high pride out there, not just corruption issue and other political problem. Hope that Konga continues keeping their good work in the future.

    Selamat datang pasukan garuda....welcome back. Semoga dunia bisa semakin memberikan nilai positif kepada negara kita ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yang saudari dengar memang betul. Secara umum penugasan pasukan Garuda di Lebanon cukup memuaskan berbagai pihak sehingga meningkatkan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia khususnya untuk kinerja prajuritnya yang tergabung dalam wadah Unifil. Total dari sekitar 12 ribu pasukan PBB yang ada di Lebanon dari 38 Troop Contributiion Country (TCC), Indonesia bahkan tercatat sebagai TCC terbesar dalam pengiriman jumlah pasukan (data Juni 2013 lalu). Ini adalah salah satu bentuk apresiasi dan kepercayaan PBB terhadap pasukan Garuda Indonesia. Terima kasih

      Delete
  3. ada nomer contact saudara? ini untuk proses pengerjaan tugas akhir saya. kalau bisa tolong hubungi saya di nomer 081317276427 sekian dan terima kasih

    ReplyDelete
  4. Seluruh artikel di blog ini hanyalah sekelumit dari sejumlah penugasan Konga di Lebanon. Sebagai bahan referensi lengkap tugas saudara, ada baiknya kunjungi juga http://www.pkc-indonesia.com/ atau silahkan berkoordinasi dengan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Dunia (PMPP) TNI di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Khusus terkait dengan artikel yang ada di blog ini, saudara dapat menghubungi saya di nomor 081317556674. Tks atas atensinya.

    ReplyDelete
  5. Tks atas perhatian mas Suryo. Perlu diketahui sebagian besar prajurit TNI termasuk saya pribadi, menyerahkan pembuatan rangkaian tanda jasa pita (untuk PDH dan PDU IV) maupun dalam bentuk medali (untuk PDU) kepada "tukang" pembuat dan perangkai tanda jasa tersebut (Misalnya kl di Jakarta di komplek pertokoan Senen). Mereka mengaku "ahlinya" dalam penyusunan urutan karena sudah terbiasa dan sesuai dengan ketentuan (kata si tukang). Memang kita tidak harus percaya 100% kepada mereka, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan urutan dalam penyusunan tanda jasa tersebut.

    ReplyDelete
  6. Pada gambar kedua itu tanda jasa yg dipakai di seragam PDH apakah memang sebanyak itu untuk sekali tugas satgas PBB?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanda jasa yang ditampilkan dalam gambar sebagian besar adalah tanda jasa yang didapatkan sebelumnya di tanah air seperti SL Teladan, SL Kesetiaan VIII, XVI TH, SL Bakti dsb. Jadi bukan sekali penugasan langsung dapat tanda jasa sebanyak itu. Tks atas atensinya.

      Delete
  7. Berarti kedua brevet itu di pasang semua ya ndan di dada sebelah kanan? dan mau tanya lagi apakah semua satgas konga dimanapun berada mendapat brevet ini ndan?

    ReplyDelete
  8. Berarti kedua brevet itu di pasang semua ya ndan di dada sebelah kanan? dan mau tanya lagi apakah semua satgas konga dimanapun berada mendapat brevet ini ndan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, sesuai aturan, brevet/tanda jasa kehormatan dari luar negeri dipasang di sebelah kanan. Untuk semua Konga, sepengetahuan kami tergantung dari Komandan Satgas masing-masing untuk mengajukan usul pemakaian/ penggunaan brevet yang dimaksud. Tks

      Delete
    2. Ijin Dan saya mau tanya untuk urut-urutan pemasangan brivet
      Mulai dari satgas papua,kalimantan dan yg terakhir satgas kongo kemudian SL VIII tahun SL XVI tahun,biar tdk salah penempatan pada kemesja PDH ,ijin komandan trimakasih

      Delete
  9. Sy turut bahagia, bangga dan kagum sekali

    ReplyDelete
  10. selamat malam ndan,
    menanyakan satya lencana dari tanzania,nepal,spnyol,serbia,kamboja boleh kita buat sendiri walau pun gk ada sertifikatnya ?

    ReplyDelete