![]() |
| UN Medal, Brevet garuda dan MCOU Unifil |
Sebagai prajurit TNI, meninggalkan
keluarga untuk menjalankan tugas yang dibebankan negara merupakan suatu hal
yang biasa. Bagi prajurit penugasan itu merupakan suatu kehormatan, kepercayaan
dan juga penghargaan yang harus dilaksanakan dengan baik. Meski pun penugasan
itu membutuhkan waktu yang lama serta jarak yang cukup jauh, serta juga
terkadang mengandung risiko, mengorbankan “nyawa” sekalipun, itu tetap harus
dilaksanakan.
Dalam prakteknya di lapangan, tugas itu
dilaksanakan dengan tidak meminta pamrih apapun. Semua tugas bermuara kepada
satu kata, “berhasilnya tugas pokok” dengan tidak mengharapkan imbalan apa pun,
tidak mengharapkan penghargaan dan juga tidak mengharapkan suatu pujian.
Kendati penghargaan dan pujian pada beberapa penugasan kadang-kadang “diterima”
seiring dengan “berhasilnya” penugasan, namun pada gilirannya, sekedar
dijadikan “feedback result” yang akan disandingkan dengan sejumlah kekurangan
yang ada dalam tahap evaluasi penugasan..
“Moto” ini umum menjadi pegangan setiap
prajurit utamanya para Komandan Satuan dalam “mengeksekusi” suatu tugas yang
dibebankan kepadanya atau kepada Satuannya. Dan pemahaman terhadap tugas,
risiko dan hasilnya ini akan semakin menguat apabila lingkup penugasannya sudah
bukan saja membawa nama satuan atau TNI melainkan membawa nama negara dan
bangsa, seperti halnya penugasan luar negeri di bawah bendera PBB. Pada konteks
ini maka diyakini seluruh personel TNI akan berusaha bekerja maksimal sesuai
bidang tugasnya masing-masing, berbuat
sesuatu yang terbaik dan juga berusaha menjadi yang terbaik. Mereka ini
sadar, kesalahan sedikit saja, akan berimbas bukan saja pada nama satuan,
angkatan dan TNI, namun juga imbasnya hingga ke tingkat negara di mana nama
bendera “merah putih” lah yang dipertaruhkan.
Dengan pedoman tersebut di mana
keberhasilan tugas pokok menjadi “main target” maka hal-hal lain yang
mengiringinya seperti adanya penghargaan atau rewards dari orang, golongan,
maupun negara lain hanyalah dianggap sebagai sesuatu yang “biasa” atau berpijak
pada uraian sebelumnya, akan dijadikan bahan sandingan dalam tahap evaluasi
penugasan dalam rangka mencapai format ideal untuk penugasan sejenis di masa
yang akan datang.
Berinteraksi
Dengan Seluruh Komponen
Di dalam kamus bebas “The Free
Dictionary by Farlex”, rewards atau penghargaan diartikan sebagai, “ Something given or received in recompense
for worthy behavior or in retribution for evil acts; a satisfying return or
result; benefit resulting from some event or action; profit and psychology the
return for performance of a desired behavior; positive reinforcement” (Sesuatu yang diberikan atau diterima sebagai balasan untuk perilaku yang layak atau retribusi untuk
tindakan jahat, kembali memuaskan atau hasil,
manfaat atau keuntungan yang dihasilkan dari sejumlah
peristiwa atau tindakan; keuntungan psikologi untuk kinerja perilaku yang diinginkan, serta penguatan positif).
Berangkat dari pengertian
reward atau penghargaan tersebut di atas maka rewards pada intinya merupakan
suatu “balas jasa” terhadap apa yang telah kita lakukan dan kita berbuat.
Terkait dengan ini maka aku akan sedikit memberi gambaran sejumlah “rewards”
yang aku terima selama menjadi bagian dari “peacekeeper” PBB di Lebanon.
Seperti yang pernah diulas
dalam tulisan sebelumnya, aku tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kontingen
Garuda XXX-C untuk misi Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon).
Satgas yang berjumlah 18 prajurit TNI ini bergabung dengan Unifil di dalam unit
Military Community Outreach Unit (MCOU). Unit kecil yang bertanggung jawab
langsung kepada Unifil Chief Of Staff (COS) ini terdiri dari personel gabungan
yakni Indonesia (18 personel), Italia (6 personel) dan Lebanon (6 personel).
Secara sederhana tugas unit gabungan ini adalah melakukan kunjungan ke desa/
kelurahan di seluruh area operasi Unifil untuk bertemu dengan local leader/
local people (Mayor/ Mukhtar) dalam rangka “meningkatkan” kerjasama Unifil
dengan masyarakat serta mengetahui permasalahan yang mereka hadapi. Desa-desa
ini umumnya “dikuasai” atau menjadi tanggung jawab sejumlah kontingen pasukan
dari berbagai negara termasuk Kontingen dari Indonesia (Indobatt).
Volume kunjungan ke
desa-desa Lebanon tersebut terbilang cukup tinggi yakni 2-3 kali kunjungan
dalam seminggu untuk dua tim (Italia dan Indonesia), yang berarti dalam
seminggu MCOU melakukan kunjungan 4-6 kali kunjungan ke desa-desa Lebanon.
Selain itu sekali dalam seminggu MCOU ini juga melakukan kunjungan ke
sekolah-sekolah yang ada di area operasi
untuk mengenalkan Unifil sekaligus memberikan bantuan alat tulis maupun
peralatan sekolah. Dalam setiap kunjungan ini maka kami selalu didampingi oleh
satu tim dari pasukan Lebanese Armed Forces (LAF) untuk mengamankan sekaligus
membantu kelancaran tugas kami tersebut.
Dari pola kerja tersebut
maka tim kami dari Indonesia, setiap harinya bersentuhan / berinteraksi dengan
rekan kerja dari Italia, Lebanon termasuk LAF dan juga seluruh kontingen
pasukan dari berbagai negara yang memiliki “otoritas” terhadap desa-desa yang
kami kunjungi.
Dengan jalinan kerjasama
yang tertata rapi dan erat tersebut akhirnya menjelang akhir penugasan, aku dan
rekan-rekan mendapat sejumlah penghargaan atau rewards dari mereka, tak
terkecuali penghargaan tertinggi bagi setiap prajurit yang tergabung dalam misi
perdamaian PBB yakni UN Peacekeeping Medal.
Penghargaan
yang aku Terima
![]() |
| Tanda jasa gabungan dalam dan luar negeri |
Selama menjalani penugasan
di Lebanon dan menjadi bagian dari pasukan Unifil (United Nations Interim Force
In Lebanon), aku dan rekan-rekan Satgas MCOU mendapatkan sejumlah penghargaan
resmi antara lain UN Peacekeeping Medal. Penghargaan ini merupakan penghargaan
yang diberikan PBB kepada setiap prajurit yang telah berpartisipasi dalam
menjalankan tugas-tugas perdamaian di bawah payung PBB. Aku menerima Medali ini
bertepatan dengan upacara Indonesia Medal Parade, 30 Agustus 2013 lalu, yakni
upacara pemberian UN Medal kepada seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen
Garuda. Sertifikat UN Medal ini ditandatangani oleh Komandan tertinggi pasukan
Unifil atau dikenal dengan sebutan Unifil Head of Mission/ Force Commander
Mayjen Paolo Serra.
![]() |
| Sebagian sertifikat |
Berikutnya adalah Brevet
Garuda, dengan sertifikat resmi yang ditandatangani Komandan Kontingen Garuda.
Brevet yang sah untuk dipasang di baju PDH dan PDL TNI, merupakan tanda bahwa
yang bersangkutan pernah menjadi bagian dari Kontingen “Garuda” Indonesia dalam
penugasan PBB di luar negeri. Brevet lainnya antara lain Dixi Suasi Vici.
Brevet ini identik dengan logo MCOU yang dibawahnya tertulis Motto, “Dixi,
Suasi, Vici” (Speak, Change the Opinion, Win in the batle). Motto ini kalau
diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia adalah “ Mendatangi target audience,
berbicara dengan mereka secara persuasi, berusaha membangun dan mengubah
pendapat/ opini mereka, maka kita akan memenangkan segala pertempuran/ berhasil
dalam melaksanakan tugas pokok”. Brevet ini diperoleh melalui program MCOU
Induction Training yang juga merupakan Psyops Training, sedangkan untuk
“prakteknya” diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari ketika melakukan
kunjungan ke local leader/ local people atau kunjungan ke sekolah-sekolah yang
ada di seluruh area operasi Unifil. Brevet ini diberikan langsung oleh Komandan
MCOU.
Selain penghargaan
tersebut, kami juga menerima brevet dan sejumlah medali dari rekan kerja dari
negara lain seperti dari pemerintah Lebanon, Italia, LAF, Paz Spanyol, CISM, dan
juga sertifikat antara lain sertifikat Unifil Induction Training, MCOU
Induction Training, Unifil Conduct And Dicipline, Peace Operation Training
Insitute, Intermediate dan Advance Engglish Course.
***



Apa bedanya 2 brevet garuda di pic yg pertama..
ReplyDeleteBrevet Garuda pertama adalah penghargaan yang diberikan "Force Commander" (dikenal dengan sebutan Garuda tanpa kepala), sedangkan yang kedua penghargaan dari Indonesia Contico (Garuda utuh dengan kepala).
DeleteKedua brevet garuda apa bisa dipke bersamaan di PDH? Kalo Milstaff apa dpt brevet begini juga?
DeleteSebelumnya sy minta maaf, yg sy tulis disini tidak maksud dan tujuan apa2 hanya sekedar berbagi informasi.
DeleteUntuk brevet Garuda yg pertama itu hasil dr gabungan ide2 prajurit kontingen garuda 23E 2010 s.d 2011. Jd brevet itu pertama kali diakui dan disahkan oleh Force commander dan Indonesian Contigent sewaktu sy bertugas disana. Trims.
kalo pak brigjend putranto dansatgas indobatt thn brp? Saya lihat beliau memakai brevet garuda utuh juga kalo garuda tanpa kepala kayak dipake mayor agus yudhoyono
DeleteTks atas semua atensinya. Saya pribadi tidak tahu persis riwayat desain awal Brevet Garuda. Untuk Milstaf, setahu saya (mohon maaf kalau keliru), "tidak" mendapatkan brevet Garuda karena berada di luar sebutan "Kontingen Garuda ..... ". Kl Brigjen Putranto tergabung dalam Kontingen Garuda XXIII B (saat itu pangkatnya Letkol Inf)
DeleteI heard that Garuda Indonesia has conducted their duty well. From your writing and some stories of my friend (maybe he is your friend too), I believe that the rumors is true. Indonesia has very high pride out there, not just corruption issue and other political problem. Hope that Konga continues keeping their good work in the future.
ReplyDeleteSelamat datang pasukan garuda....welcome back. Semoga dunia bisa semakin memberikan nilai positif kepada negara kita ;)
Apa yang saudari dengar memang betul. Secara umum penugasan pasukan Garuda di Lebanon cukup memuaskan berbagai pihak sehingga meningkatkan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia khususnya untuk kinerja prajuritnya yang tergabung dalam wadah Unifil. Total dari sekitar 12 ribu pasukan PBB yang ada di Lebanon dari 38 Troop Contributiion Country (TCC), Indonesia bahkan tercatat sebagai TCC terbesar dalam pengiriman jumlah pasukan (data Juni 2013 lalu). Ini adalah salah satu bentuk apresiasi dan kepercayaan PBB terhadap pasukan Garuda Indonesia. Terima kasih
Deleteada nomer contact saudara? ini untuk proses pengerjaan tugas akhir saya. kalau bisa tolong hubungi saya di nomer 081317276427 sekian dan terima kasih
ReplyDeleteSeluruh artikel di blog ini hanyalah sekelumit dari sejumlah penugasan Konga di Lebanon. Sebagai bahan referensi lengkap tugas saudara, ada baiknya kunjungi juga http://www.pkc-indonesia.com/ atau silahkan berkoordinasi dengan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Dunia (PMPP) TNI di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Khusus terkait dengan artikel yang ada di blog ini, saudara dapat menghubungi saya di nomor 081317556674. Tks atas atensinya.
ReplyDeleteTks atas perhatian mas Suryo. Perlu diketahui sebagian besar prajurit TNI termasuk saya pribadi, menyerahkan pembuatan rangkaian tanda jasa pita (untuk PDH dan PDU IV) maupun dalam bentuk medali (untuk PDU) kepada "tukang" pembuat dan perangkai tanda jasa tersebut (Misalnya kl di Jakarta di komplek pertokoan Senen). Mereka mengaku "ahlinya" dalam penyusunan urutan karena sudah terbiasa dan sesuai dengan ketentuan (kata si tukang). Memang kita tidak harus percaya 100% kepada mereka, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan urutan dalam penyusunan tanda jasa tersebut.
ReplyDeletePada gambar kedua itu tanda jasa yg dipakai di seragam PDH apakah memang sebanyak itu untuk sekali tugas satgas PBB?
ReplyDeleteTanda jasa yang ditampilkan dalam gambar sebagian besar adalah tanda jasa yang didapatkan sebelumnya di tanah air seperti SL Teladan, SL Kesetiaan VIII, XVI TH, SL Bakti dsb. Jadi bukan sekali penugasan langsung dapat tanda jasa sebanyak itu. Tks atas atensinya.
DeleteMantap
ReplyDeleteTerima kasih mas.
DeleteBerarti kedua brevet itu di pasang semua ya ndan di dada sebelah kanan? dan mau tanya lagi apakah semua satgas konga dimanapun berada mendapat brevet ini ndan?
ReplyDeleteBerarti kedua brevet itu di pasang semua ya ndan di dada sebelah kanan? dan mau tanya lagi apakah semua satgas konga dimanapun berada mendapat brevet ini ndan?
ReplyDeleteBetul, sesuai aturan, brevet/tanda jasa kehormatan dari luar negeri dipasang di sebelah kanan. Untuk semua Konga, sepengetahuan kami tergantung dari Komandan Satgas masing-masing untuk mengajukan usul pemakaian/ penggunaan brevet yang dimaksud. Tks
DeleteIjin Dan saya mau tanya untuk urut-urutan pemasangan brivet
DeleteMulai dari satgas papua,kalimantan dan yg terakhir satgas kongo kemudian SL VIII tahun SL XVI tahun,biar tdk salah penempatan pada kemesja PDH ,ijin komandan trimakasih
Sy turut bahagia, bangga dan kagum sekali
ReplyDeleteselamat malam ndan,
ReplyDeletemenanyakan satya lencana dari tanzania,nepal,spnyol,serbia,kamboja boleh kita buat sendiri walau pun gk ada sertifikatnya ?