![]() |
| Selamat Jalan Garuda!!!!!!!!! |
Tanggal tiga belas di bulan Desember tahun dua ribu tiga
belas........ Tak
terasa sudah setahun plus tiga belas
hari, masa
penugasanku sebagai “Peace Keeper” di
bumi Lebanon. Berbagai macam rasa
bercampur aduk menjadi satu ketika badan ini bersiap meninggalkan bumi Lebanon. Saat itu hari
Jumat petang menjelang malam, dalam suasana rintik hujan dan mendung tebal
menggelayut di langit Lebanon, satu persatu kami bergerak ke lapangan Soedirman
Camp, Naqoura, South Lebanon di mana sebuah bus besar berkapasitas 50 penumpang
siap mengantarkan kami ke Bandara Internasional Rafic Hariri Beirut.
Setelah menempuh 3 jam perjalanan Naqoura-Beirut, kami
pun tiba di area Marshailling Area (MA) Beirut yang letaknya kurang lebih satu
kilometer dari bandara. Di tempat ini rombongan kami bertemu dengan rombongan
pasukan dari Indobatt (Indonesian Battalion) yang juga akan menjadi kawan
perjalanan kami menuju tanah air. Usai istirahat makan dan sholat, kami pun sebanyak
234 personel gabungan Kontingen Garuda segera “digiring” ke bandara yang
selanjutnya menerima tiga koper besar kami yang dikeluarkan dari kontainer, langsung
check in, menunggu dan tepat pukul 23.00 LT, kami pun masuk ke Airbus Jordan
Aviation yang menjadi langganan kami selama proses pemberangkatan dan
pemulangan dari dan ke tanah air.
Ada rasa sedih ketika mata ini mengintip keluar dari jendela
kaca pesawat saat pesawat mulai tinggal landas dari Rafic Hariri International
Airport, terlihat kerlip-kerlip lampu yang bertebaran di kawasan yang sudah
satu tahun aku berada di dalamnya. Mereka seakan mengucapkan salam perpisahan
kepada kami, serombongan prajurit dari kawasan yang jaraknya sekitar 8.250
kilimeter yang telah membantu mereka dalam menciptakan suasana damai di
Lebanon.
Banyak kenangan menarik yang aku peroleh dari tanah Lebanon
ini. Kenangan ketika kami bahu membahu bekerja dalam satu atap dengan rekan
kerja Italia, kenangan ketika berinteraksi dengan militer dari puluhan negara
yang berbeda karakter dan budaya, kenangan kepada Sodirman Camp yang menjadi
tempat tinggalku selama setahun hingga kenangan kepada anak-anak Lebanon yang
lucu-lucu dan pintar ketika kami melakukan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah
mereka. Semua kenangan ini akan tercatat indah dalam memori hidupku, menjadi
bekal penugasanku di masa mendatang.
Ketika aku kembali mengintip suasana di luar pesawat lewat
jendela bulat lonjong yang belum aku tutup, titik-titik lampu seperti
kunang-kunang yang bertebaran di bawah pesawat masih terlihat samar-samar
tertutup awan musim dingin yang mulai menyelimuti udara Lebanon. Aku menghela
nafas, ada sesuatu yang aku pikirkan kembali tentang bumi Lebanon ini.
Aku prihatin dengan konflik berkepanjangan yang seakan tak
pernah surut menimpa negeri ini. Dalam hati aku juga sedikit heran, sudah 35
tahun Unifil yang merupakan kepanjangan tangan dari Dewan Keamanan PBB
melaksanakan tugasnya menjaga perdamaian di negeri ini. Suatu waktu yang
menurutku cukup lama dan juga merupakan rekor penugasan PBB yang terlama. Akan
tetapi hasilnya? Menurutku pribadi masih “kurang memuaskan” meski secara umum
sudah cukup baik dan berhasil. Keberadaan PBB di negeri ini juga seakan kurang
memberi dampak “kapok” untuk Israel yang
merupakan seteru abadi Lebanon dalam menjalankan aksi-aksinya. Untuk
pelanggaran wilayah udara misalnya, tidak ada kata “segan” apalagi takut bagi
pesawat Israel ini untuk “menyeberang” seenaknya melewati perbatasan terutama
untuk jenis pesawat tanpa awaknya yakni Unmanned Aerial Vehicle atau UAV. Belum
lagi dalam mengurusi dalam negeri Lebanon yang terkadang sering “cakar-cakaran”
sendiri antara kelompok/ golongan. Entah berapa tahun lagi, Unifil harus angkat
kaki dari bumi Lebanon dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat
dengan jaminan tidak ada lagi “perang” yang memicu terganggunya perdamaian
dunia utamanya di kawasan Timur Tengah. Tentu saja ini hanya sekilas pemikiran
seorang prajurit yang tidak tahu menahu urusan “politik” tingkat atas, apalagi
hingga tingkat tataran PBB.
Walaupun demikian tidak ada kata pesimis bagi prajurit TNI
dalam melaksanakan misi penugasan di bumi Lebanon. Misi yang telah kami
selesaikan dan kini dilanjutkan oleh rekan-rekan sesama TNI, secara bertahap
pasti akan selalu meningkat hasilnya yang titik klimaksnya tentu saja ditandai
dengan ditariknya tentara Unifil beserta perangkatnya dari Lebanon, sebagai
awal terciptanya perdamaian yang hakiki bagi masyarakat Lebanon-Israel pada
khususnya dan dunia internasional pada umumnya.
Gembira Bertemu Keluarga
Selain rasa sedih dan duka meninggalkan bumi Lebanon, ada
pula rasa lain yang menyelimuti hati ini ketika pesawat mulai terbang jauh ke
awan-awan tertinggi di atas 30000 feet, sehingga ketika melongok ke jendela,
seakan-akan langit tanpa batas. Rasa tersebut adalah kegembiraan yang luar
biasa apabila mengingat beberapa jam lagi aku dan juga seluruh rekanku satu
pesawat akan kembali bertemu dengan keluarga di tanah air.
Bila mengingat keluarga, aku membayangkan betapa bahagia,
gembira dan leganya hati ini bisa kembali bertemu dan berkumpul kembali dengan
keluarga. Sesuai perjanjian awal,
keluargaku akan langsung menungguku di bandara. Dan saat-saat inilah yang
menurutku sangat menggembirakan dan sekaligus mengharukan. Aku yakin anakku
paling bungsu Vio (4 tahun) dan Lita (9 tahun) dan juga isteriku pasti akan
lari menubrukku ketika aku nongol dan keluar dari bandara dengan 3 tas bawaanku
yang cukup berat. Selanjutnya si kecil ini pasti minta digendong, dan ini aku
turuti meski badan ini masih terasa capai setelah menempuh sekitar 13 jam
perjalanan melalui udara. Demikian pula dengan si Lita, ia juga tak mau kalau
dengan adiknya dengan bergelayutan di tanganku diiringi dengan pertanyaan ini
itu yang aku jawab dengan penuh sabar dan sayang. Tapi sayang bayangan itu sirna ketika pesawat
yang membawa kami Landing di Halim PK Jakarta pada Sabtu, 14 Desember 2013 tepat
pukul 19.00 WIB, kami diwajibkan masuk “karantina” sebelum bertemu keluarga, harus
cek kesehatan lengkap esok harinya. Kalau hasilnya tidak ada “kelainan” kami
pun nantinya diijinkan untuk bertemu keluarga. Dengan adanya aturan ini maka
akhirnya aku bisa bertemu keluarga di esok harinya, menjelang malam. Betapa
bahagia dan gembiranya hati ini melihat mereka, suatu kebahagiaan yang sulit digambarkan.
![]() |
| Aku dan keluargaku tercinta |
Memang, sebuah kebahagiaan dan kegembiraan yang aku rasakan sangat luar biasa setelah
setahun kami tak bertemu secara langsung dikarenakan tugas di sebuah negara
yang bernama Lebanon. Selamat Tinggal Lebanon! Dan …. selamat bertemu kembali Indonesiaku tercinta!
***


Saya seneng baca tulisan2 d blog bapa.. jadi sedikit banyak bisa tau bgaimana di lebanon, kebetulan "abang" saya jg sdg dlm misi prdamaian d sna, insya allah kembali ke tanah air tgl 15 desember nnti.. trimakasih bwt share ny, nice..
ReplyDeleteRegards, febby
Tks atas kunjungannya di blog yang sederhana ini. Alhamdulillah, bila isinya sekedar bisa membantu informasi tentang daerah penugasan di Lebanon. Salam kenal dan hormat dari kami.
DeleteKami bangga sebagai bagian dari nkri tercinta, semoga kedamaian tercipta di negeri lebanon kami juga bangga sama bapak sebagai satgas indobatt unifill disana semoga smua yang pernah bapak laksanakan disana bersama rekan sesama TNI mendapatkan berkah dari Allah SWT...
DeleteDan semoga bapak dan keluarga besar selalu diberi rahmat dan lindungan dari yang maha kuasa amiiiiinnnn....
Bravo TNI ku kami bangga padamu....
teteap semangat demi indonesia tercinta,,
ReplyDeletemantap TNI.. bisa ga ya dapetin video TNI bertugas di lebanon pengen bngt ntn, Hidup TNI..
ReplyDeleteKira2 setelah smpe ditanah air brp lama masuk karantina pak?apa bs 1 minggu?
ReplyDeleteSesuai prosedur, setiap personel Satgas Garuda yang baru tiba dari daerah penugasan harus dikarantina dulu. Dalam proses ini setiap personel wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan termasuk pemberian vaksin untuk selanjutnya mengikuti kegiatan yang bersifat administratif. Lamanya kegiatan ini tergantung dari jumlah personel dan periode kedatangan ke tanah air. Waktu "karantina" akan terasa lama bagi mereka yang datang "duluan" (gelombang I) dan cukup singkat bagi mereka yang berada pada gelombang terakhir (misal gelombang V). "Karantina" dianggap selesai apabila seluruh anggota Kontingen sudah tiba di tanah air dan melaksanakan kegiatan tersebut di atas. Kegiatan terakhir biasanya cuma sekedar persiapan untuk upacara penutupan dan pembubaran kontingen.
ReplyDeleteNangis,trharu baca tulisan bapak.saat ini sy bru mau ditinggal suami satgas kesana.blm diseleksi bru pengajuan.ttpi sdh kebayang sedihnya ditibggal setahun ntnya.apalg anak sy yg 1 umur 5 th,yg ke 2 umur 16 bln dan saat ini sy bru hamil lg 5 bulan.jauh dr org tua dan saudara.
ReplyDeleteNangis,trharu baca tulisan bapak.saat ini sy bru mau ditinggal suami satgas kesana.blm diseleksi bru pengajuan.ttpi sdh kebayang sedihnya ditibggal setahun ntnya.apalg anak sy yg 1 umur 5 th,yg ke 2 umur 16 bln dan saat ini sy bru hamil lg 5 bulan.jauh dr org tua dan saudara.
ReplyDeleteNangis,trharu baca tulisan bapak.saat ini sy bru mau ditinggal suami satgas kesana.blm diseleksi bru pengajuan.ttpi sdh kebayang sedihnya ditibggal setahun ntnya.apalg anak sy yg 1 umur 5 th,yg ke 2 umur 16 bln dan saat ini sy bru hamil lg 5 bulan.jauh dr org tua dan saudara.
ReplyDeleteTerima kasih atas atensinya bu. Saya doakan semoga suami ibu nantinya lulus seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk tugas ke luar negeri (Lebanon). Kalau itu terjadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena selama penugasan, hampir setiap hari bisa berkomunikasi dengan bantuan fasilitas internet (bisa via skype atau FB Video Call) sehingga meski jauh terlihat dekat karena dapat berkomunikasi langsung audio visual. Seperti pengalaman saya pribadi, dengan fasilitas ini bahkan saya bisa membantu anak-anak saya di rumah mengerjakan PR yang sulit (bisa dibaca dalam tulisan lain di blog ini juga). Salam tuk keluarga.
DeleteApakah seleksinya ketat pak? Untuk menjadi bagian kontingen garuda yang bertugas disana?
ReplyDeleteSecara umum seleksi untuk menjadi bagian Kontingen Garuda disesuaikan dengan persyaratan standard pasukan PBB. Untuk Indonesia, karena kuotanya terbatas dibandingkan dengan jumlah peminat yang ada maka seleksinya diperketat dimulai dari seleksi tahap awal internal satuan hingga seleksi di tingkat Mabes Angkatan dan tingkat pusat di PMPP Sentul. Materi seleksi antara lain meliputi kesehatan lengkap, kesamaptaan jasmani, psikologi/ kesehatan jiwa, kemampuan berbahasa Inggris dan materi tes penunjang lainnya. Khusus untuk Satgas tertentu seperti satgas kami, kemampuan berbahasa Inggris lebih diutamakan karena persyaratan dari PBB, "English (proficient in both written and spoken)”. Oleh karena itu Materi tes kami diambil dari ADFELPS (Australian Defence Force English Language Profiling System) yang cukup rumit dan tingkat kesulitannya cukup tinggi. Calon personel yang akan ditugaskan dalam misi ini harus memiliki nilai minimal di level 6 ADFELPS. Tks atensinya.
ReplyDeleteMet siang juga mbak. Kalau memang ada kisah atau cerita di blog ini yang dapat mendukung pembuatan tugas/ jurnal nasional dll, silahkan saja. Semoga bermanfaat.
ReplyDeleteThanks for this very useful info you have provided us. I will bookmark this for future reference and refer it to my friends. More power to your blog.
ReplyDeleteHP Lebanon
Thank you for your attention. Hopefully helpful
DeleteMantap pak..semoga sehat selalu dan selalu semangat !!
ReplyDeleteSaya masih mau daftar jadi prajurit melalui jalur PaPk.
Kira2 anggota TNI yang bertugas di Lebanon adakah yg berasal dari jalur PaPk ?
Hingga saat ini, Perwira TNI yang bertugas di Lebanon terutama untuk Satgas Kesehatan (Indo Medic)di Unifil Hospital Naqoura semuanya dari PaPK termasuk beberapa pos jabatan lainnya seperti interpreter. Terima kasih atensinya. Salam
Deleteyaa allah semoga saya bisa berangkat tugas ke LIBANON PBB .aaminnn
ReplyDeletePak..Suami saya tahun depan akan mengajukan ke lebanon..bapak gak pulang ketanah air sama sekali kah sampe setahun selesai baru pulang?aman gak disana misal perang atau gmn makan disana dapet atau tdk atau kamar nya berapa org/kmr sesama indo atau beda"?mohon sekira nya menjawab..
ReplyDeletePak syafrudin sehat selalu
ReplyDelete