Saturday, December 7, 2013

Catatan ke-60 : Selamat Tinggal Lebanon


Selamat Jalan Garuda!!!!!!!!!
Tanggal tiga belas di bulan Desember tahun dua ribu tiga belas........ Tak terasa sudah setahun plus tiga belas hari, masa penugasanku sebagai “Peace Keeper” di bumi Lebanon. Berbagai macam rasa bercampur aduk menjadi satu ketika badan ini bersiap meninggalkan bumi Lebanon. Saat itu hari Jumat petang menjelang malam, dalam suasana rintik hujan dan mendung tebal menggelayut di langit Lebanon, satu persatu kami bergerak ke lapangan Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon di mana sebuah bus besar berkapasitas 50 penumpang siap mengantarkan kami ke Bandara Internasional Rafic Hariri Beirut.
Setelah menempuh 3 jam perjalanan Naqoura-Beirut, kami pun tiba di area Marshailling Area (MA) Beirut yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari bandara. Di tempat ini rombongan kami bertemu dengan rombongan pasukan dari Indobatt (Indonesian Battalion) yang juga akan menjadi kawan perjalanan kami menuju tanah air. Usai istirahat makan dan sholat, kami pun sebanyak 234 personel gabungan Kontingen Garuda segera “digiring” ke bandara yang selanjutnya menerima tiga koper besar kami yang dikeluarkan dari kontainer, langsung check in, menunggu dan tepat pukul 23.00 LT, kami pun masuk ke Airbus Jordan Aviation yang menjadi langganan kami selama proses pemberangkatan dan pemulangan dari dan ke tanah air.
Ada rasa sedih ketika mata ini mengintip keluar dari jendela kaca pesawat saat pesawat mulai tinggal landas dari Rafic Hariri International Airport, terlihat kerlip-kerlip lampu yang bertebaran di kawasan yang sudah satu tahun aku berada di dalamnya. Mereka seakan mengucapkan salam perpisahan kepada kami, serombongan prajurit dari kawasan yang jaraknya sekitar 8.250 kilimeter yang telah membantu mereka dalam menciptakan suasana damai di Lebanon.
Banyak kenangan menarik yang aku peroleh dari tanah Lebanon ini. Kenangan ketika kami bahu membahu bekerja dalam satu atap dengan rekan kerja Italia, kenangan ketika berinteraksi dengan militer dari puluhan negara yang berbeda karakter dan budaya, kenangan kepada Sodirman Camp yang menjadi tempat tinggalku selama setahun hingga kenangan kepada anak-anak Lebanon yang lucu-lucu dan pintar ketika kami melakukan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah mereka. Semua kenangan ini akan tercatat indah dalam memori hidupku, menjadi bekal penugasanku di masa mendatang.
Ketika aku kembali mengintip suasana di luar pesawat lewat jendela bulat lonjong yang belum aku tutup, titik-titik lampu seperti kunang-kunang yang bertebaran di bawah pesawat masih terlihat samar-samar tertutup awan musim dingin yang mulai menyelimuti udara Lebanon. Aku menghela nafas, ada sesuatu yang aku pikirkan kembali tentang bumi Lebanon ini.
Aku prihatin dengan konflik berkepanjangan yang seakan tak pernah surut menimpa negeri ini. Dalam hati aku juga sedikit heran, sudah 35 tahun Unifil yang merupakan kepanjangan tangan dari Dewan Keamanan PBB melaksanakan tugasnya menjaga perdamaian di negeri ini. Suatu waktu yang menurutku cukup lama dan juga merupakan rekor penugasan PBB yang terlama. Akan tetapi hasilnya? Menurutku pribadi masih “kurang memuaskan” meski secara umum sudah cukup baik dan berhasil. Keberadaan PBB di negeri ini juga seakan kurang memberi dampak  “kapok” untuk Israel yang merupakan seteru abadi Lebanon dalam menjalankan aksi-aksinya. Untuk pelanggaran wilayah udara misalnya, tidak ada kata “segan” apalagi takut bagi pesawat Israel ini untuk “menyeberang” seenaknya melewati perbatasan terutama untuk jenis pesawat tanpa awaknya yakni Unmanned Aerial Vehicle atau UAV. Belum lagi dalam mengurusi dalam negeri Lebanon yang terkadang sering “cakar-cakaran” sendiri antara kelompok/ golongan. Entah berapa tahun lagi, Unifil harus angkat kaki dari bumi Lebanon dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat dengan jaminan tidak ada lagi “perang” yang memicu terganggunya perdamaian dunia utamanya di kawasan Timur Tengah. Tentu saja ini hanya sekilas pemikiran seorang prajurit yang tidak tahu menahu urusan “politik” tingkat atas, apalagi hingga tingkat tataran PBB.
Walaupun demikian tidak ada kata pesimis bagi prajurit TNI dalam melaksanakan misi penugasan di bumi Lebanon. Misi yang telah kami selesaikan dan kini dilanjutkan oleh rekan-rekan sesama TNI, secara bertahap pasti akan selalu meningkat hasilnya yang titik klimaksnya tentu saja ditandai dengan ditariknya tentara Unifil beserta perangkatnya dari Lebanon, sebagai awal terciptanya perdamaian yang hakiki bagi masyarakat Lebanon-Israel pada khususnya dan dunia internasional pada umumnya.

Gembira Bertemu Keluarga
Selain rasa sedih dan duka meninggalkan bumi Lebanon, ada pula rasa lain yang menyelimuti hati ini ketika pesawat mulai terbang jauh ke awan-awan tertinggi di atas 30000 feet, sehingga ketika melongok ke jendela, seakan-akan langit tanpa batas. Rasa tersebut adalah kegembiraan yang luar biasa apabila mengingat beberapa jam lagi aku dan juga seluruh rekanku satu pesawat akan kembali bertemu dengan keluarga di tanah air.
Bila mengingat keluarga, aku membayangkan betapa bahagia, gembira dan leganya hati ini bisa kembali bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga. Sesuai perjanjian awal, keluargaku akan langsung menungguku di bandara. Dan saat-saat inilah yang menurutku sangat menggembirakan dan sekaligus mengharukan. Aku yakin anakku paling bungsu Vio (4 tahun) dan Lita (9 tahun) dan juga isteriku pasti akan lari menubrukku ketika aku nongol dan keluar dari bandara dengan 3 tas bawaanku yang cukup berat. Selanjutnya si kecil ini pasti minta digendong, dan ini aku turuti meski badan ini masih terasa capai setelah menempuh sekitar 13 jam perjalanan melalui udara. Demikian pula dengan si Lita, ia juga tak mau kalau dengan adiknya dengan bergelayutan di tanganku diiringi dengan pertanyaan ini itu yang aku jawab dengan penuh sabar dan sayang. Tapi sayang bayangan itu sirna ketika pesawat yang membawa kami Landing di Halim PK Jakarta pada Sabtu, 14 Desember 2013 tepat pukul 19.00 WIB, kami diwajibkan masuk “karantina” sebelum bertemu keluarga, harus cek kesehatan lengkap esok harinya. Kalau hasilnya tidak ada “kelainan” kami pun nantinya diijinkan untuk bertemu keluarga. Dengan adanya aturan ini maka akhirnya aku bisa bertemu keluarga di esok harinya, menjelang malam. Betapa bahagia dan gembiranya hati ini melihat mereka, suatu kebahagiaan yang sulit digambarkan.
Aku dan keluargaku tercinta
 Memang, sebuah kebahagiaan dan kegembiraan yang aku rasakan sangat luar biasa setelah setahun kami tak bertemu secara langsung dikarenakan tugas di sebuah negara yang bernama Lebanon. Selamat Tinggal Lebanon! Dan ….  selamat bertemu kembali Indonesiaku tercinta!
***


21 comments:

  1. Saya seneng baca tulisan2 d blog bapa.. jadi sedikit banyak bisa tau bgaimana di lebanon, kebetulan "abang" saya jg sdg dlm misi prdamaian d sna, insya allah kembali ke tanah air tgl 15 desember nnti.. trimakasih bwt share ny, nice..

    Regards, febby

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks atas kunjungannya di blog yang sederhana ini. Alhamdulillah, bila isinya sekedar bisa membantu informasi tentang daerah penugasan di Lebanon. Salam kenal dan hormat dari kami.

      Delete
    2. Kami bangga sebagai bagian dari nkri tercinta, semoga kedamaian tercipta di negeri lebanon kami juga bangga sama bapak sebagai satgas indobatt unifill disana semoga smua yang pernah bapak laksanakan disana bersama rekan sesama TNI mendapatkan berkah dari Allah SWT...
      Dan semoga bapak dan keluarga besar selalu diberi rahmat dan lindungan dari yang maha kuasa amiiiiinnnn....

      Bravo TNI ku kami bangga padamu....

      Delete
  2. teteap semangat demi indonesia tercinta,,

    ReplyDelete
  3. mantap TNI.. bisa ga ya dapetin video TNI bertugas di lebanon pengen bngt ntn, Hidup TNI..

    ReplyDelete
  4. Kira2 setelah smpe ditanah air brp lama masuk karantina pak?apa bs 1 minggu?

    ReplyDelete
  5. Sesuai prosedur, setiap personel Satgas Garuda yang baru tiba dari daerah penugasan harus dikarantina dulu. Dalam proses ini setiap personel wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan termasuk pemberian vaksin untuk selanjutnya mengikuti kegiatan yang bersifat administratif. Lamanya kegiatan ini tergantung dari jumlah personel dan periode kedatangan ke tanah air. Waktu "karantina" akan terasa lama bagi mereka yang datang "duluan" (gelombang I) dan cukup singkat bagi mereka yang berada pada gelombang terakhir (misal gelombang V). "Karantina" dianggap selesai apabila seluruh anggota Kontingen sudah tiba di tanah air dan melaksanakan kegiatan tersebut di atas. Kegiatan terakhir biasanya cuma sekedar persiapan untuk upacara penutupan dan pembubaran kontingen.

    ReplyDelete
  6. Nangis,trharu baca tulisan bapak.saat ini sy bru mau ditinggal suami satgas kesana.blm diseleksi bru pengajuan.ttpi sdh kebayang sedihnya ditibggal setahun ntnya.apalg anak sy yg 1 umur 5 th,yg ke 2 umur 16 bln dan saat ini sy bru hamil lg 5 bulan.jauh dr org tua dan saudara.

    ReplyDelete
  7. Nangis,trharu baca tulisan bapak.saat ini sy bru mau ditinggal suami satgas kesana.blm diseleksi bru pengajuan.ttpi sdh kebayang sedihnya ditibggal setahun ntnya.apalg anak sy yg 1 umur 5 th,yg ke 2 umur 16 bln dan saat ini sy bru hamil lg 5 bulan.jauh dr org tua dan saudara.

    ReplyDelete
  8. Nangis,trharu baca tulisan bapak.saat ini sy bru mau ditinggal suami satgas kesana.blm diseleksi bru pengajuan.ttpi sdh kebayang sedihnya ditibggal setahun ntnya.apalg anak sy yg 1 umur 5 th,yg ke 2 umur 16 bln dan saat ini sy bru hamil lg 5 bulan.jauh dr org tua dan saudara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas atensinya bu. Saya doakan semoga suami ibu nantinya lulus seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk tugas ke luar negeri (Lebanon). Kalau itu terjadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena selama penugasan, hampir setiap hari bisa berkomunikasi dengan bantuan fasilitas internet (bisa via skype atau FB Video Call) sehingga meski jauh terlihat dekat karena dapat berkomunikasi langsung audio visual. Seperti pengalaman saya pribadi, dengan fasilitas ini bahkan saya bisa membantu anak-anak saya di rumah mengerjakan PR yang sulit (bisa dibaca dalam tulisan lain di blog ini juga). Salam tuk keluarga.

      Delete
  9. Apakah seleksinya ketat pak? Untuk menjadi bagian kontingen garuda yang bertugas disana?

    ReplyDelete
  10. Secara umum seleksi untuk menjadi bagian Kontingen Garuda disesuaikan dengan persyaratan standard pasukan PBB. Untuk Indonesia, karena kuotanya terbatas dibandingkan dengan jumlah peminat yang ada maka seleksinya diperketat dimulai dari seleksi tahap awal internal satuan hingga seleksi di tingkat Mabes Angkatan dan tingkat pusat di PMPP Sentul. Materi seleksi antara lain meliputi kesehatan lengkap, kesamaptaan jasmani, psikologi/ kesehatan jiwa, kemampuan berbahasa Inggris dan materi tes penunjang lainnya. Khusus untuk Satgas tertentu seperti satgas kami, kemampuan berbahasa Inggris lebih diutamakan karena persyaratan dari PBB, "English (proficient in both written and spoken)”. Oleh karena itu Materi tes kami diambil dari ADFELPS (Australian Defence Force English Language Profiling System) yang cukup rumit dan tingkat kesulitannya cukup tinggi. Calon personel yang akan ditugaskan dalam misi ini harus memiliki nilai minimal di level 6 ADFELPS. Tks atensinya.

    ReplyDelete
  11. Met siang juga mbak. Kalau memang ada kisah atau cerita di blog ini yang dapat mendukung pembuatan tugas/ jurnal nasional dll, silahkan saja. Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  12. Thanks for this very useful info you have provided us. I will bookmark this for future reference and refer it to my friends. More power to your blog.
    HP Lebanon

    ReplyDelete
  13. Mantap pak..semoga sehat selalu dan selalu semangat !!
    Saya masih mau daftar jadi prajurit melalui jalur PaPk.

    Kira2 anggota TNI yang bertugas di Lebanon adakah yg berasal dari jalur PaPk ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hingga saat ini, Perwira TNI yang bertugas di Lebanon terutama untuk Satgas Kesehatan (Indo Medic)di Unifil Hospital Naqoura semuanya dari PaPK termasuk beberapa pos jabatan lainnya seperti interpreter. Terima kasih atensinya. Salam

      Delete
  14. yaa allah semoga saya bisa berangkat tugas ke LIBANON PBB .aaminnn

    ReplyDelete
  15. Pak..Suami saya tahun depan akan mengajukan ke lebanon..bapak gak pulang ketanah air sama sekali kah sampe setahun selesai baru pulang?aman gak disana misal perang atau gmn makan disana dapet atau tdk atau kamar nya berapa org/kmr sesama indo atau beda"?mohon sekira nya menjawab..

    ReplyDelete