Sunday, September 22, 2013

Catatan ke-49 : Mendapatkan “UN Medal“ Dalam Indonesia Medal Parade 2013


Indonesia Medal Parade 2013 di Markas Indobat Adchit Al Qusyair, Lebanon

  
Medal Parade adalah suatu upacara militer dalam bentuk parade yang diselenggarakan dalam rangka memberikan penghargaan kepada seseorang/ kelompok karena jasa serta pengabdiannya kepada lembaga atau badan yang berwenang memberikan penghargaan tersebut.
Sebagian prajurit TNI yang menjalani misi penugasan PBB
Untuk Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon), Medal Parade ini diselenggarakan untuk memberi penghargaan kepada setiap prajurit yang telah melaksanakan tugas dengan baik dan berpartisipasi dalam menjaga perdamaian di Lebanon. Penghargaan yang diberikan PBB melalui Unifil berupa sertifikat penghargaan sebagai Peacekeeper, medali Peacekeeping PBB atau UN Peacekeeping Medal (tanda kehormatan UN Medal yang berhak dipasang di seragam prajurit yang bersangkutan), serta sebuah brevet kebanggaan kontingen Negara kontribusi masing-masing (Khusus Indonesia brevet “Garuda”).
Sedangkan mereka yang berhak mendapatkan UN Medal adalah seorang yang telah berpartisipasi dalam tugas misi perdamaian dunia, untuk militer adalah mereka baik yang diklasifikasikan sebagai Military Observer (Milobs), Staff Officer (SO) atau yang tergabung dalam kontingen besar seperti Kontingen Garuda dari Indonesia. Prajurit ini setidaknya berturut-turut selama satu periode penugasan atau 6 bulan telah bertugas dan berpartisipasi dengan baik sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB di Negara mana ia ditugaskan.
Komandan Indobat, satu tahun masa penugasan
Jadi PBB memberikan penghargaan UN Medal tersebut kepada mereka yang berada dalam misinya, yang telah bertugas minimal enam bulan. Untuk yang bertugas lebih dari itu, seperti prajurit dari Kontingen Indonesia dan beberapa dari kontingen lainnya yang bertugas di Unifil, di mana masa penugasannya mencapai dua periode penugasan (1 tahun) maka mereka berhak mendapatkan dua kali penghargaan UN Peacekeeping Medal. Namun pada umumnya penghargaan yang kedua diberikan secara “Pro Memory” seperti untuk Indonesia dengan memberikan tanda angka 2 pada UN Medal kepada setiap prajurit yang terlibat dalam misi PBB tersebut (terutama pada tanda kehormatan yang digunakan dalam baju PDH).

Penyematan UN Medal
Upacara parade pemberian UN Medal atau UN Peacekeeping Medal kepada seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda dilaksanakan pada 30 Agustus 2013 lalu di lapangan upacara Batalyon Mekanis Indonesia di United Nation Pos (UNP) berkode 7-1 di Adchit Al Qusyair, South Lebanon.
Pemeriksaan Pasukan oleh Inspektur Upacara
Secara umum, upacara UN Medal diawali dengan masuknya pasukan upacara yang terdiri dari lima peleton gabungan Perwira, Bintara dan Tamtama dari perwakilan seluruh Satgas Garuda. Selanjutnya setelah pasukan siap di lapangan upacara setelah sedikit menunjukkan kekompakannya dalam gerakan “periksa kerapian”, Inspektur Upacara yakni Deputy Force Commander Brigjen Patrick Pheland pun tiba di tempat upacara. Jenderal berbintang satu ini, terbang dari Naqoura dengan menggunakan Helikopter UN yang diparkir di landasan Heli markas Indobat.
Upacara pokok pun dimulai. Setelah penghormatan kepada UN Flag dan menerima penghormatan umum dari seluruh pasukan upacara, Brigjen Patrick Pheland kemudian melakukan inspeksi atau pemeriksaan pasukan didampingi sang Komandan Upacara. Berikutnya Irup dan seluruh pasukan upacara termasuk sekitar 500 tamu undangan yang hadir pada saat itu melakukan penghormatan militer kepada bendera UN, bendera Lebanon dan merah putih yang dikibarkan secara berurutan oleh enam orang pengerek bendera diiringi lagu kebangsaan Lebanon dan Indonesia Raya.

Prosesi penyematan UN Peacekeeping Medal

  Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penyematan UN Peacekeeping Medal kepada 1.169 prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda yang pada saat itu diwakili oleh para Komandan Satgas dan peserta upacara. Pada moment ini seluruh Komandan Satgas yang tergabung dalam Kontingen Garuda yakni Komandan Satgas Indonesia Batalyon (Indobatt), Military Community Outreach Unit (MCOU), Force Protection Company (FPC), Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Level II Hospital, Sector East Military Police (Sempu), Civil Military Coordination (Cimic), ditambah dengan Sector East Deputy Commander  dan Komandan Upacara tampil di depan mimbar Irup yang kemudian berturut-turut mulai dari Komandan Kontingen yang juga Komandan Satgas FHQSU menerima penyematan UN Medal langsung dari Irup Deputy Force Commander Brigjen Patrick Pheland.
Atraksi keterampilan prajurit
Usai menyematkan UN Medal kepada seluruh Komandan Satgas, Brigjen Patrick Pheland yang juga mewakili Head of Mission/ Unifil Force Commander Jenderal Paolo Serra, berkesempatan pula menyematkan UN Medal kepada peleton pembawa bendera UN dan peleton Perwira. Brigjen Pheland dengan gaya “patah-patah” dalam memberi dan membalas penghormatan prajurit secara marathon menyematkan UN Medal kepada mereka ini didampingi Komandan Kontingen Garuda. Sedangkan untuk peserta upacara lainnya, UN Medal disematkan oleh para Komandan Satgas yang dilaksanakan secara bersamaan di saat Irup melakukan penyematan kepada peleton pembawa bendera UN dan peleton Perwira.
Acara Medal Parade akhirnya ditutup dengan defile pasukan serta Atraksi Prajurit. Khusus untuk acara terakhir ini, Kontingen Garuda menampilkan beberapa atraksi antara lain tari Kecak dari Bali, Reog Ponorogo dan Martial Art yang mendapat sambutan dan aplaus luar biasa dari seluruh tamu undangan yang hadir pada kesempatan tersebut.

Bentuk UN Medal dan UN Sertificate
UN Peacekeeping Medal untuk misi Unifil
Seperti halnya bentuk medali kehormatan (terutama untuk lingkungan militer) Bentuk UN Medal secara umum terbagi menjadi dua bagian yakni lingkaran logam kuningan berdiameter sekitar 5 cm dengan sebuah pita penyangga persegi panjang berwarna warni dengan ukuran sekitar 5x 10 cm. Khusus untuk UN Medal dalam misi Unifil, lingkaran logam pada muka utama bergambar ukiran logo UN dengan muka belakangnya terukir tulisan, “ In The Service of Peace”. Sedangkan untuk pita penyangganya merupakan kombinasi beberapa warna yakni warna biru PBB berada di sisi kanan dan kiri, warna hijau daun di tengah, dan dua baris warna kecil merah-putih sebagai pembatas warna hijau dan biru. UN Medal dalam bentuk pita dapat dipasang di baju Pakaian Dinas Upacara (PDU), sedangkan untuk bentuk pita dapat dipasang di baju PDH (Pakaian Dinas Harian) prajurit TNI.
Ini lho bentuk medalinya!
UN Peacekeeping Certicate
Untuk sertifikat UN berupa secarik kertas tebal berukuran A4 dengan dasar warna biru dan logo UN samar-samar (blending sekitar 60 persen) untuk background tulisan. Di posisi paling atas terdapat gambar UN Medal yang diapit dua tulisan, United Nations di kiri dan Nations Unies di kanan. Selanjutnya di bawah logo yang merupakan konten utama sertifikat ini tercetak kalimat sebagai berikut, “ This is to certify that The Secretary General of The United Nations, has awarded The United Nations Peacekeeping Medal to MI 691414, Csgt Mohamad Syafrudin. In recognition of having completely met the requirement of eligibility for service as a military member of the United nations Interim Force in Lebanon. Given under my hand at Naqoura, Lebanon, this 27th day of August 2013. Force Commander” “ terjemahan bebasnya, Dengan ini menyatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB, menganugerahkan Medali Penjaga Perdamaian PBB kepada MI 691414 (nomor Unifil ID) atas nama Sersan Kepala Mohamad Syafrudin. Diakui sepenuhnya telah memenuhi persyaratan kelayakan untuk penugasan sebagai anggota militer Pasukan Sementara PBB di Lebanon. Diberikan di Naqoura, Lebanon, pada hari ini 27 Agustus 2013. Komandan Pasukan Unifil (Tanda Tangan Mayjen Paolo Serra dengan dibubuhi stempel Unifil).
Dengan diterimanya UN Peacekeeping Medal dan UN Peacekeeping Sertificate maka aku dan seluruh anggota kontingen Garuda  (sekitar 1.169 personel) yang menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon secara resmi telah diakui partisipasinya dalam menjalankan tugas-tugas perdamaian sebagai Peacekeeper di bawah bendera Unifil. Bahkan karena penugasan kami memakan waktu satu tahun atau dua periode penugasan maka kami pun berhak menyandang angka dua di UN Peacekeeping Medal terutama yang digunakan di baju PDH.
***

Tuesday, September 17, 2013

Catatan ke-48 : Kenangan Kami Bersama Sara Mariani



Sara (tengah) dalam sebuah poster yang tertempel di dinding kantorku

 Seperti pernah diulas dalam  catatan-catatan sebelumnya, dalam misi penugasan PBB di Lebanon, aku dan 17 orang rekan prajurit TNI lainnya tergabung dalam salah satu unit kecil Unifil  (United Nations Interim Force In Lebanon) yang dikenal dengan sebutan Military Community Outreach Unit (MCOU). Secara umum tugas tim kecil ini adalah melakukan “outreach” atau pendekatan dengan masyarakat yang dilakukan secara “face to face” atau “tatap muka" dengan pemuka masyarakat (local leader atau local people).
Saat ini, personel MCOU terdiri dari gabungan tiga Negara, yakni Indonesia dengan 18 personel, Italia 6 personel dan 6 personel civilian Lebanon yang bertugas sebagai Language Assistant. Personel gabungan tiga Negara ini bahu membahu, bekerjasama dengan baik dalam melaksanakan tugas-tugas MCOU sesuai dengan yang digariskan pihak Komando Unifil.
Khusus untuk masa penugasan, seperti halnya Satgas yang berada di bawah bendera “Indonesia Contingent”, personel MCOU menjalani penugasan selama 1 tahun. Sedangkan untuk rekan-rekan kerja dari Italia, masa penugasan mereka hanya berkisar 6 bulan untuk satu periode penugasan serta untuk rekan kerja LA dari Lebanon disesuaikan dengan kontrak kerja mereka dengan Unifil.
Dengan rotasi penugasan yang berbeda ini maka dalam satu periode penugasan, aku dan rekan-rekan MCOU dari Indonesia akan bertemu dan bekerjasama dengan tiga tim Italia yang berbeda. Dan saat ini memasuki bulan ke-9 penugasan kami di MCOU Unifil, kami telah bekerjasama dengan dua tim Italia yang berbeda. Pertama, bekerjasama dengan tim Italia di bawah komando Major Antonio Caragnano dan sekarang yang kedua dengan Komando Letkol Gabriel Murra. Sedangkan pada Nopember 2013 mendatang, direncanakan kami akan bekerjasama dengan tim Italia yang ketiga.
Foto bersama PDMC Section (Sara duduk kedua dari kanan)
Khusus untuk Product Development & Media Centre (PDMC) Section, salah satu unit di dalam MCOU, di mana aku dan empat orang rekanku bertugas, masa penugasan rekan kerja dari Italia yang menjadi Chief kami atau PDMC Chief sedikit berbeda dengan personel Italia lainnya. Bila lima personel Italia lainnya yang umumnya dikirim dari Esercito (Angkatan Darat Italia) Resimen 28 Pesaro, Italia masa penugasan mereka 6 bulan, akan tetapi khusus PDMC Chief ini sedikit bervariasi, ada yang lima bulan dan ada pula yang empat bulan. Untuk PDMC Chief yang pertama kami temui Major Pier Paolo De Salvo, masa penugasanya lima bulan, yang kedua OF1 Sara Mariani empat bulan dan saat ini PDMC Chief yang ketiga, OF1 Rosaria Talarico direncanakan empat bulan penugasan dan bekerjasama dengan kami di PDMC Section.
OF1 Sara Mariani
Perbedaan masa penugasan personel Italia yang mengisi jabatan PDM Chief ini dimungkinkan karena spesialisasi tugas yang harus dijalankan di seksi ini sehingga dibutuhkan orang-orang yang profesional dengan sistem kontrak kerja yang terbatas. Dan Italia mendapatkan orang-orang ini dari masyarakat umum yang berkompeten di bidangnya yakni orang yang profesional (biasanya dari kalangan akademisi atau sarjana) yang selanjutnya direkrut oleh The Italian Army untuk mengisi jabatan penting di sejumlah misi penugasan mereka, termasuk di Lebanon. Para profesional yang umumnya diterima melalui seleksi ini akan menjalani “kontrak kerja” dengan pemerintah Italia, dalam hal ini untuk bergabung dengan The Italian Army, yang kemudian dianugerahi “pangkat sementara” sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kebutuhan jabatan. Mereka ini dikenal dengan sebutan “Reserve” atau “tentara cadangan”. Pada Umumnya, setelah kontrak kerja habis dan kembali ke negaranya, maka mereka pun akan menanggalkan pangkat dan jabatan serta baju dinasnya. Dan personel inilah yang mengisi jabatan PDMC Chief di MCOU yang juga menjadi atasan langsung aku dan empat orang rekanku.

Selamat Jalan Sara
Sara Mariani dengan pangkat Officer 1 (2nd Liuteunant) atau di Indonesia Letnan Dua merupakan Chief PDMC kedua yang bekerjasama dengan kami di PDMC MCOU menggantikan PDMC Chief sebelumnya Major Pier Paolo De Salvo.
Pada April 2013 lalu, pertama kali rekan kerja Italia khususnya Major Paolo menginformasikan bahwa penggantinya seorang wanita cantik bernama Sara Mariani. Aku dan rekanku dari Indonesia tadinya sedikit kaget dengan nama tersebut, Sara Mariani!.  “ Kok seperti nama Indonesia yach! “ kata rekanku 2nd CPL Agus Hariyanto yang terkenal dengan sebutan “Ambon”. Setali tiga uang, aku juga berpikiran sama,” Betul juga Sara Mariani, seperti nama Indonesia. Bedanya mungkin kalau di Indonesia, Sara menjadi Sarah dan Mariani menjadi Mariyani, sehingga lengkapnya Sarah Mariyani” demikian aku berpikir.
Senyum Sara bersama anak-anak Lebanon
Tepat pada pertengahan April 2013, datanglah OF1 Sara Mariani di MCOU Unifil. Dengan diantar oleh Major Pier Paolo De Salvo,  OF1 Sara Mariani selanjutnya memperkenalkan diri kepada kami, khususnya anggota PDMC. Kesan pertama yang kami tangkap dari “tentara” Italia yang cantik berkacamata ini adalah seorang perempuan berkulit putih dengan kecantikan khas Italia, wajah keibuan, ramah, murah senyum dan juga pintar. Cukup sempurna bila dilihat dari wajah maupun kepribadiannya. Itupun di dukung dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat baik dan sempurna di atas rata-rata tentara Italia, baik dari intonasi maupun perbendaharaan kata-katanya. Dan akhirnya sejak bulan tersebut, OF1 Sara Mariani pun, “memimpin” kami mengurus PDMC Section mendukung tugas-tugas pokok MCOU.
Selama bergabung dengan kami, di sela-sela waktu senggang, aku dan juga rekanku sering berdiskusi ringan “ngalor ngidul” dengannya. Mulai dari “share” tentang masalah pengalaman pribadi, keluarga, budaya, hingga makanan khas Negara masing-masing, Indonesia maupun Italia. Dari cerita ini, kami terutama aku, sedikit banyak mengetahui tentang OF 1 Sara Mariani.  Ia merupakan anak tunggal dari keluarga yang cukup berada yang lahir di Spoleto, Italia. Sebelum menjadi “reserve” di Italian Army, ia bekerja di sebuah perusahaan asing yang cukup terkenal.  Bahkan ia juga mengaku, di tahun sebelumnya, pernah mengenyam penugasan di Negara yang sama yakni, Lebanon, bergabung  dengan Markas Unifil Sector West di Shama, South Lebanon.
"Sangat enjoy bekerjasama dengan tentara Indonesia!"
Berbicara tentang kepandaiannya, jangan ditanya, pengetahuan umum dan pengalamannya tentang beberapa hal termasuk dunia militer cukup luas. Maklum saja, ia pemegang dua master di dua perguruan tinggi yang berbeda di Italia. “ Salah satunya master International Relations and Diplomacy dari University of Bologna” katanya kepadaku ketika suatu saat kami duduk satu mobil dalam perjalanan ke sebuah sekolah yang menjadi lokasi School Engagement  MCOU Unifil.
Keramahannya juga membuat kami terasa “nyaman” dan enak serta bertambah semangat dan melaksanakan tugas sehari-hari. Ia tidak pernah marah dan tersinggung apabila “diledekin” rekan-rekanku yang terkadang sedikit “konyol” dengan penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, campuran Inggris-Indonesia atau bahasa Inggris murni yang terputus-putus  atau “terbata-bata”. Semuanya ditanggapi dengan mimiknya yang lucu dengan senyum kecilnya yang manis. Ia mengaku merasa sangat “enjoy” dan senang bergabung dengan kami di PDMC Section.
Sara (tengah) dalam kegiatan Engagement School
Keakraban kami di PDMC sebenarnya sedikit terganggu dengan adanya niat dari MCOU Chief Officer yang ingin “menukar” posisi OF1 Sara Mariani dari PDMC ke Chief TAA/TE (Target Audience Analysis/ Target Evaluation), seksi lain di unit MCOU Unifil. Alasannya sederhana, ia lebih dibutuhkan di pos tersebut dengan pertimbangan, kemampuan bahasa Inggrisnya yang sempurna. Akan tetapi niat ini tidak disetujuinya. Kami pun mendukungnya, “ Lebih baik ibu di sini saja. Kami lebih nyaman dan enak bekerjasama dengan ibu” demikian kata salah seorang rekanku ketika suatu saat ia meminta pendapat kepada kami tentang niat MCOU-CO tersebut. Dan akhirnya ini terkabul, ia tidak jadi bergeser ke pos lain selain di tempat kami.
Tak terasa empat bulan berlalu dengan cepat. Bulan Agustus pun tiba. Dan kami terpaksa harus berpisah. Ia harus kembali ke negaranya karena “kontraknya” habis dan untuk selanjutnya digantikan dengan seniornya 1st Liuteunant (OF1) Rosaria Talarico (seorang jurnalis kawakan dari harian La Stampa Italia yang juga bergabung dengan Italian Army dan juga memiliki pengalaman jurnalis di Lebanon).
Sara bersamaku dalam acara MCOU Party Night
Kami merasa “kehilangan” Sara Mariani. Akan tetapi kami yakin kenangan bersamanya “tidak akan hilang” dan akan selalu menjadi kenangan menarik selama penugasan kami di Lebanon.
 E scorrono nella mia mente sprazzi di vita, in questo momento dell'addio. Ricordi di tempi passati. Ricordi di te, che avrai per sempre un posto nel nostro cuore. Complimenti Sarah, e sicuro perseguire i sogni che avete vi aspirava obiettivi. Saluti alla famiglia, e non dimenticate che c'è una possibilità, venite a Indonesia.
***

Wednesday, September 11, 2013

Catatan ke-47 : Melihat dari Dekat Ghajar Village


Ghajar Village yang selalu menebar "pesona" konflik Israel dan Lebanon

Setelah melakukan kunjungan ke markas Unifil untuk kawasan Timur (Sector East Headquarter), aku dan rombongan program Induction Training pada Kamis, 22 Agustus 2013 melakukan kunjungan ke Ghajar Village.
Ghajar (dalam bahasa Arab: غجر; atau dalam bahasa Ibrani: ×¢ '×’'ר atau רג'ר) adalah sebuah desa Arab di Sungai Hasbani yang terletak di kawasan perbatasan Lebanon dan bagian yang diduduki Israel di Dataran Tinggi Golan. Penduduk desa ini umumnya adalah anggota masyarakat Alawit dengan populasinya mencapai 2100 orang. Di peta, daerah ini dapat dilihat di koordinat 33°16′22″N 35°37′23″E.
Tiba di lokasi pemantauan dipandu personel OGL
Selama perjalanan menuju desa ini, rombongan kami dikawal oleh tiga panser Italia bersenjata lengkap yang dikirim dari Sector East HQ. Sekitar satu kilometer dari lokasi, rombongan kami melewati penjagaan tentara resmi Lebanon atau LAF (Lebanese Armed Force). Mereka ini merupakan satuan yang ditempatkan untuk memonitor dan mengawasi keamanan Ghajar Village di sisi yang diklaim menjadi wilayahnya.
Mendapat perlindungan ketat dari Ranpur Italia
Perkiraanku untuk memasuki Ghajar Village secara dekat ternyata meleset. Dengan pertimbangan faktor keamanan, aku dan rombonganku hanya melihat Ghajar Village dari sebuah dataran tinggi terbuka dengan jarak sekitar 200-300 meter terhalang lembah yang cukup dalam. Dari tempat penglihatan ini kami memang dapat melihat dengan jelas kondisi Ghajar Village yang cukup ramai dan padat penduduknya dengan daerahnya yang dikelilingi lembah. Dari tempat ini pula kami melihat garis “Blue Line” dengan mengikuti alur Technical Fence yang berdiri kokoh berkelok-kelok yang ujungnya terputus tepat dibagian tengah Ghajar Village.
Apa sih yang menarik dari Ghajar Village ini? Ternyata, seperti halnya yang terjadi di Sheikh Abad Tomb di mana makamnya terbagi menjadi dua untuk menghindari pertikaian, Ghajar Village pun mengalami nasib yang sama. Desa yang cukup subur ini terbagi menjadi dua, bagian utara dikuasai pihak Lebanon, sedangkan bagian selatannya masuk wilayah Israel.

Personel OGL menjelaskan situasi Ghajar Village
Keunikan Ghajar Village
Saat melihat dari dekat Ghajar Village, aku dan rombongan disambut oleh dua petugas OGL (Observer Group Lebanon) yang selanjutnya menjelaskan secara rinci mengenai kondisi Ghajar Village. Sedangkan untuk menjaga keamanan selama aktifitas kami di tempat tersebut, dua kendaraan tempur Italia jenis APC telah siapa di tempat itu dengan moncong laras senapan mesin di atasnya diarahkan ke Ghajar Village. Itupun didukung dengan adanya sejumlah personel bersenjata lengkap di antaranya sniper yang juga siap menjaga keamanan di sisi kanan dan kiri lokasi tempat kami berkumpul.
Technical Fence yang "terputus" di sisi tengah desa
Petugas OGL yang memandu kami selanjutnya memberikan beberapa informasi terkait dengan kondisi Ghajar Village tersebut. Menurutnya, warga di kedua sisi desa pada umumnya memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Namun penduduk desa di bagian utara sering memegang dua paspor Libanon dan Israel. Mereka ini bebas bekerja dan bepergian di wilayah Israel. Akan tetapi mereka yang tinggal di sisi Lebanon justru mengalami kesulitan menerima layanan dari pihak Israel. Di pintu masuk desa, ada pos pemeriksaan tentara Israel, ada pagar yang mengelilingi seluruh desa , tapi tidak ada pagar atau penghalang yang membagi sisi Israel dan Lebanon. Technical Fence yang mengikuti alur “Blue Line” pun hanya dibangun hingga mencapai sisi desa, yang selanjutnya diteruskan dari sisi desa sebaliknya.  
Dari beberapa literatur, menurut sejarah, 300 tahun lalu, Ghajar Village (kampung Ghajar) ini dikenal sebagai Taranjeh dan berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Pada tahun 1932, penduduk Ghajar, terutama Muslim Alawit, diberi pilihan untuk memilih kewarganegaraan mereka,  dan hasilnya sebagian besar dari mereka memilih untuk menjadi bagian dari Suriah, yang memiliki Muslim Alawit yang cukup besar.
Keindahan Ghajar Village yang menebar "pesona konflik"
Sebelum Perang Arab-Israel 1967, Ghajar dianggap sebagai bagian dari Suriah dan warganya dihitung dalam sensus 1960 Suriah. Ketika Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah pada tahun 1967 , Ghajar tetap tanah tak bertuan selama dua setengah bulan. Selanjutnya penduduk desa Alawi mempetisi gubernur Israel di Golan untuk memasukkan wilayah mereka ke wilayah Israel.  Hal ini dengan pertimbangan, mereka merasakan sebagai bagian dari wilayah Golan ketimbang Lebanon. Israel setuju untuk memasukkan Ghajar di wilayah yang didudukinya dari Suriah di dataran tinggi Golan dan kemudian penduduknya diterima hidup di bawah kekuasaan Israel . Pada tahun 1981 , sebagian besar warga Alawi menerima kewarganegaraan Israel di bawah Hukum Dataran Tinggi Golan.
Setelah “Litani Operation” pada tahun 1978, ketika Sekjen PBB membentuk United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil) yang bertugas mengatur penarikan mundur Israel dari Lebanon Selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, dan membantu pemerintah Lebanon mengembalikan efektif otoritas di daerahnya, Ghajar Village diperluas ke utara dan masuk wilayah Lebanon sebagai bagian dari dari kawasan Wazzani.
Pada tahun 1982 , Israel menginvasi Lebanon. Dan pada tahun 2000, menyusul janji kampanye dan pemilihan Ehud Barak sebagai Perdana Menteri, Israel menarik pasukan mereka dari Lebanon. Dalam upaya untuk mengatur perbatasan permanen antara Israel dan Libanon, PBB menentukan garis batas Israel-Lebanon yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Blue Line. Karena lokasi Ghajar Village ini, terjepit di antara Lebanon dan Israel, bagian utara desa berada di bawah kendali Lebanon dan bagian selatan tetap berada di bawah kendali Israel, maka Blue Line ini oleh PBB ditarik tepat berada di tengah-tengah desa. Pengaturan ini menciptakan banyak kebencian di antara warga Ghajar, yang menganggap diri mereka sebagai orang Suriah dari Dataran Tinggi Golan.
Salah satu bentuk bangunan rumah di Ghajar Village
Meskipun saat itu terjadi penarikan mundur tentara Israel dari Libanon, tetapi ketegangan tetap memuncak terutama karena munculnya ketegangan yang datangnya dari Ghajar Village ini.  Saat itu ditengarai, Hizbullah berulang kali mencoba menculik tentara Israel yang ada di wilayah Ghajar. Bahkan pada tahun 2005, Hizbullah melancarkan serangan roket terhadap Ghajar yang dianggap telah disusupi tentara Israel. Ketegangan pun semakin meningkat setelah Israel membalas serangan tersebut.
Penulis bersama peserta dari Turki, Malaysia dan Srilanka
Setelah Perang hebat di bulan Juli 2006 di mana Israel mencoba menginvasi Lebanon Selatan,  Israel kembali menduduki bagian utara Ghajar. Namun usai perang dengan dikeluarkannya Resolusi DK PBB 1701, ketegangan di Ghajar Village ini mereda dan Ghajar tetap dikuasai kedua pihak yang bertikai, Israel dan Lebanon.
Pada bulan April 2009, tentara Israel yang dikenal dengan sebutan Israeli Defence Force (IDF) setuju untuk menarik tentaranya dari Ghajar utara. Dan ini ditindaklanjuti pada November 2010, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberitahu Sekretaris Jenderal PBB akan niat Israel untuk secara sepihak menarik diri dari Ghajar , setelah gagal mencapai kesepakatan dengan Lebanon dan menyerahkan keamanan sepenuhnya ke tangan UNIFIL.
Hingga sekarang, desa ini telah dibagi oleh Blue Line menjadi dua ' kawasan negara ' yang berbeda namun penduduknya sendiri merasa “satu”. Mereka tidak merasa disebut sebagai penduduk Ghajar di selatan yang berarti menjadi bagian dari Israel atau dan al- Wazzani di utara yang berarti menjadi penduduk Lebanon.
***