![]() |
| Ghajar Village yang selalu menebar "pesona" konflik Israel dan Lebanon |
Setelah melakukan kunjungan ke markas Unifil
untuk kawasan Timur (Sector East Headquarter), aku dan rombongan program
Induction Training pada Kamis, 22 Agustus 2013 melakukan kunjungan ke Ghajar
Village.
Ghajar (dalam bahasa Arab: غجر; atau dalam bahasa Ibrani: ע 'ג'ר atau רג'ר) adalah sebuah
desa Arab di Sungai Hasbani yang
terletak di kawasan perbatasan Lebanon dan bagian
yang diduduki Israel di Dataran Tinggi Golan. Penduduk desa ini umumnya adalah anggota masyarakat Alawit
dengan populasinya mencapai 2100 orang. Di peta, daerah ini dapat dilihat
di koordinat 33°16′22″N 35°37′23″E.
![]() |
| Tiba di lokasi pemantauan dipandu personel OGL |
Selama perjalanan
menuju desa ini, rombongan kami dikawal oleh tiga panser Italia bersenjata
lengkap yang dikirim dari Sector East HQ. Sekitar satu kilometer dari lokasi,
rombongan kami melewati penjagaan tentara resmi Lebanon atau LAF (Lebanese
Armed Force). Mereka ini merupakan satuan yang ditempatkan untuk memonitor dan
mengawasi keamanan Ghajar Village di sisi yang diklaim menjadi wilayahnya.
![]() |
| Mendapat perlindungan ketat dari Ranpur Italia |
Perkiraanku untuk
memasuki Ghajar Village secara dekat ternyata meleset. Dengan pertimbangan
faktor keamanan, aku dan rombonganku hanya melihat Ghajar Village dari sebuah
dataran tinggi terbuka dengan jarak sekitar 200-300 meter terhalang lembah yang
cukup dalam. Dari tempat penglihatan ini kami memang dapat melihat dengan jelas
kondisi Ghajar Village yang cukup ramai dan padat penduduknya dengan daerahnya
yang dikelilingi lembah. Dari tempat ini pula kami melihat garis “Blue Line”
dengan mengikuti alur Technical Fence yang berdiri kokoh berkelok-kelok yang
ujungnya terputus tepat dibagian tengah Ghajar Village.
Apa sih yang menarik
dari Ghajar Village ini? Ternyata, seperti halnya yang terjadi di Sheikh Abad
Tomb di mana makamnya terbagi menjadi dua untuk menghindari pertikaian, Ghajar
Village pun mengalami nasib yang sama. Desa yang cukup subur ini terbagi
menjadi dua, bagian utara dikuasai pihak Lebanon, sedangkan bagian selatannya
masuk wilayah Israel.
![]() |
| Personel OGL menjelaskan situasi Ghajar Village |
Keunikan
Ghajar Village
Saat melihat dari
dekat Ghajar Village, aku dan rombongan disambut oleh dua petugas OGL (Observer Group Lebanon) yang
selanjutnya menjelaskan secara rinci mengenai kondisi Ghajar Village. Sedangkan
untuk menjaga keamanan selama aktifitas kami di tempat tersebut, dua kendaraan
tempur Italia jenis APC telah siapa di tempat itu dengan moncong laras senapan
mesin di atasnya diarahkan ke Ghajar Village. Itupun didukung dengan adanya
sejumlah personel bersenjata lengkap di antaranya sniper yang juga siap menjaga
keamanan di sisi kanan dan kiri lokasi tempat kami berkumpul.
![]() |
| Technical Fence yang "terputus" di sisi tengah desa |
Petugas OGL yang memandu kami selanjutnya
memberikan beberapa informasi terkait dengan kondisi Ghajar Village tersebut.
Menurutnya, warga di kedua sisi desa pada umumnya memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Namun penduduk desa di bagian utara sering memegang dua paspor Libanon
dan Israel.
Mereka ini bebas bekerja dan bepergian di
wilayah Israel.
Akan tetapi mereka yang tinggal di sisi Lebanon justru mengalami kesulitan menerima layanan dari pihak Israel. Di
pintu masuk desa, ada pos pemeriksaan tentara Israel,
ada pagar yang mengelilingi seluruh desa , tapi tidak ada
pagar atau penghalang yang
membagi sisi Israel dan Lebanon. Technical Fence
yang mengikuti alur “Blue Line” pun hanya dibangun hingga mencapai sisi desa,
yang selanjutnya diteruskan dari sisi desa sebaliknya.
Dari beberapa literatur, menurut sejarah, 300
tahun lalu, Ghajar Village (kampung Ghajar) ini dikenal sebagai Taranjeh dan berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Pada tahun 1932,
penduduk Ghajar, terutama Muslim Alawit, diberi pilihan untuk memilih
kewarganegaraan mereka,
dan hasilnya sebagian
besar dari mereka memilih untuk menjadi bagian dari
Suriah, yang memiliki Muslim
Alawit yang cukup besar.
![]() |
| Keindahan Ghajar Village yang menebar "pesona konflik" |
Sebelum Perang
Arab-Israel 1967, Ghajar dianggap sebagai bagian dari Suriah dan warganya
dihitung dalam sensus 1960 Suriah. Ketika Israel merebut
Dataran Tinggi Golan dari Suriah pada tahun 1967 , Ghajar tetap tanah tak bertuan
selama dua setengah bulan.
Selanjutnya penduduk desa Alawi mempetisi gubernur
Israel di
Golan untuk memasukkan wilayah mereka ke wilayah
Israel. Hal ini dengan
pertimbangan, mereka merasakan sebagai bagian dari wilayah Golan ketimbang
Lebanon. Israel setuju untuk memasukkan
Ghajar di wilayah yang didudukinya dari Suriah di dataran tinggi Golan dan kemudian
penduduknya diterima hidup di bawah
kekuasaan Israel . Pada tahun 1981 , sebagian besar warga Alawi menerima kewarganegaraan Israel
di bawah Hukum Dataran Tinggi Golan.
Setelah “Litani Operation” pada tahun 1978, ketika
Sekjen PBB membentuk United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil)
yang bertugas mengatur penarikan mundur Israel dari Lebanon
Selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, dan membantu pemerintah
Lebanon mengembalikan efektif otoritas di daerahnya, Ghajar Village
diperluas ke utara dan masuk wilayah Lebanon sebagai bagian dari dari
kawasan Wazzani.
Pada tahun 1982 ,
Israel menginvasi Lebanon. Dan pada tahun 2000, menyusul
janji kampanye dan pemilihan Ehud Barak sebagai Perdana Menteri, Israel menarik
pasukan mereka dari Lebanon. Dalam upaya untuk mengatur perbatasan permanen antara Israel dan Libanon, PBB menentukan
garis batas Israel-Lebanon yang selanjutnya dikenal dengan
sebutan Blue Line. Karena lokasi Ghajar Village ini, terjepit di antara Lebanon dan Israel, bagian utara desa berada di
bawah kendali Lebanon dan bagian selatan tetap berada di bawah kendali Israel, maka Blue Line ini
oleh PBB ditarik tepat berada di tengah-tengah desa. Pengaturan ini menciptakan banyak kebencian di antara warga Ghajar, yang menganggap
diri mereka sebagai orang Suriah dari Dataran Tinggi
Golan.
![]() |
| Salah satu bentuk bangunan rumah di Ghajar Village |
Meskipun saat itu terjadi penarikan mundur tentara
Israel dari Libanon, tetapi ketegangan tetap memuncak terutama
karena munculnya ketegangan yang datangnya dari Ghajar Village ini. Saat itu ditengarai, Hizbullah berulang kali mencoba menculik tentara Israel yang ada di wilayah Ghajar. Bahkan
pada tahun 2005, Hizbullah melancarkan serangan roket
terhadap Ghajar yang
dianggap telah disusupi tentara Israel. Ketegangan pun semakin meningkat
setelah Israel membalas serangan tersebut.
![]() |
| Penulis bersama peserta dari Turki, Malaysia dan Srilanka |
Pada bulan April
2009, tentara
Israel yang dikenal dengan sebutan Israeli Defence Force (IDF) setuju untuk menarik tentaranya dari Ghajar utara. Dan ini
ditindaklanjuti pada November 2010, ketika Perdana Menteri
Israel Benjamin Netanyahu memberitahu Sekretaris Jenderal PBB akan niat Israel untuk secara sepihak menarik diri dari Ghajar , setelah gagal
mencapai kesepakatan dengan Lebanon dan menyerahkan keamanan sepenuhnya ke tangan UNIFIL.
Hingga sekarang, desa ini telah dibagi oleh Blue Line menjadi dua ' kawasan negara ' yang
berbeda namun penduduknya sendiri merasa “satu”. Mereka tidak merasa disebut
sebagai penduduk Ghajar di selatan yang berarti menjadi bagian dari Israel atau dan al- Wazzani di utara yang berarti menjadi penduduk Lebanon.
***








No comments:
Post a Comment