Wednesday, September 11, 2013

Catatan ke-47 : Melihat dari Dekat Ghajar Village


Ghajar Village yang selalu menebar "pesona" konflik Israel dan Lebanon

Setelah melakukan kunjungan ke markas Unifil untuk kawasan Timur (Sector East Headquarter), aku dan rombongan program Induction Training pada Kamis, 22 Agustus 2013 melakukan kunjungan ke Ghajar Village.
Ghajar (dalam bahasa Arab: غجر; atau dalam bahasa Ibrani: ע 'ג'ר atau רג'ר) adalah sebuah desa Arab di Sungai Hasbani yang terletak di kawasan perbatasan Lebanon dan bagian yang diduduki Israel di Dataran Tinggi Golan. Penduduk desa ini umumnya adalah anggota masyarakat Alawit dengan populasinya mencapai 2100 orang. Di peta, daerah ini dapat dilihat di koordinat 33°16′22″N 35°37′23″E.
Tiba di lokasi pemantauan dipandu personel OGL
Selama perjalanan menuju desa ini, rombongan kami dikawal oleh tiga panser Italia bersenjata lengkap yang dikirim dari Sector East HQ. Sekitar satu kilometer dari lokasi, rombongan kami melewati penjagaan tentara resmi Lebanon atau LAF (Lebanese Armed Force). Mereka ini merupakan satuan yang ditempatkan untuk memonitor dan mengawasi keamanan Ghajar Village di sisi yang diklaim menjadi wilayahnya.
Mendapat perlindungan ketat dari Ranpur Italia
Perkiraanku untuk memasuki Ghajar Village secara dekat ternyata meleset. Dengan pertimbangan faktor keamanan, aku dan rombonganku hanya melihat Ghajar Village dari sebuah dataran tinggi terbuka dengan jarak sekitar 200-300 meter terhalang lembah yang cukup dalam. Dari tempat penglihatan ini kami memang dapat melihat dengan jelas kondisi Ghajar Village yang cukup ramai dan padat penduduknya dengan daerahnya yang dikelilingi lembah. Dari tempat ini pula kami melihat garis “Blue Line” dengan mengikuti alur Technical Fence yang berdiri kokoh berkelok-kelok yang ujungnya terputus tepat dibagian tengah Ghajar Village.
Apa sih yang menarik dari Ghajar Village ini? Ternyata, seperti halnya yang terjadi di Sheikh Abad Tomb di mana makamnya terbagi menjadi dua untuk menghindari pertikaian, Ghajar Village pun mengalami nasib yang sama. Desa yang cukup subur ini terbagi menjadi dua, bagian utara dikuasai pihak Lebanon, sedangkan bagian selatannya masuk wilayah Israel.

Personel OGL menjelaskan situasi Ghajar Village
Keunikan Ghajar Village
Saat melihat dari dekat Ghajar Village, aku dan rombongan disambut oleh dua petugas OGL (Observer Group Lebanon) yang selanjutnya menjelaskan secara rinci mengenai kondisi Ghajar Village. Sedangkan untuk menjaga keamanan selama aktifitas kami di tempat tersebut, dua kendaraan tempur Italia jenis APC telah siapa di tempat itu dengan moncong laras senapan mesin di atasnya diarahkan ke Ghajar Village. Itupun didukung dengan adanya sejumlah personel bersenjata lengkap di antaranya sniper yang juga siap menjaga keamanan di sisi kanan dan kiri lokasi tempat kami berkumpul.
Technical Fence yang "terputus" di sisi tengah desa
Petugas OGL yang memandu kami selanjutnya memberikan beberapa informasi terkait dengan kondisi Ghajar Village tersebut. Menurutnya, warga di kedua sisi desa pada umumnya memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Namun penduduk desa di bagian utara sering memegang dua paspor Libanon dan Israel. Mereka ini bebas bekerja dan bepergian di wilayah Israel. Akan tetapi mereka yang tinggal di sisi Lebanon justru mengalami kesulitan menerima layanan dari pihak Israel. Di pintu masuk desa, ada pos pemeriksaan tentara Israel, ada pagar yang mengelilingi seluruh desa , tapi tidak ada pagar atau penghalang yang membagi sisi Israel dan Lebanon. Technical Fence yang mengikuti alur “Blue Line” pun hanya dibangun hingga mencapai sisi desa, yang selanjutnya diteruskan dari sisi desa sebaliknya.  
Dari beberapa literatur, menurut sejarah, 300 tahun lalu, Ghajar Village (kampung Ghajar) ini dikenal sebagai Taranjeh dan berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Pada tahun 1932, penduduk Ghajar, terutama Muslim Alawit, diberi pilihan untuk memilih kewarganegaraan mereka,  dan hasilnya sebagian besar dari mereka memilih untuk menjadi bagian dari Suriah, yang memiliki Muslim Alawit yang cukup besar.
Keindahan Ghajar Village yang menebar "pesona konflik"
Sebelum Perang Arab-Israel 1967, Ghajar dianggap sebagai bagian dari Suriah dan warganya dihitung dalam sensus 1960 Suriah. Ketika Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah pada tahun 1967 , Ghajar tetap tanah tak bertuan selama dua setengah bulan. Selanjutnya penduduk desa Alawi mempetisi gubernur Israel di Golan untuk memasukkan wilayah mereka ke wilayah Israel.  Hal ini dengan pertimbangan, mereka merasakan sebagai bagian dari wilayah Golan ketimbang Lebanon. Israel setuju untuk memasukkan Ghajar di wilayah yang didudukinya dari Suriah di dataran tinggi Golan dan kemudian penduduknya diterima hidup di bawah kekuasaan Israel . Pada tahun 1981 , sebagian besar warga Alawi menerima kewarganegaraan Israel di bawah Hukum Dataran Tinggi Golan.
Setelah “Litani Operation” pada tahun 1978, ketika Sekjen PBB membentuk United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil) yang bertugas mengatur penarikan mundur Israel dari Lebanon Selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, dan membantu pemerintah Lebanon mengembalikan efektif otoritas di daerahnya, Ghajar Village diperluas ke utara dan masuk wilayah Lebanon sebagai bagian dari dari kawasan Wazzani.
Pada tahun 1982 , Israel menginvasi Lebanon. Dan pada tahun 2000, menyusul janji kampanye dan pemilihan Ehud Barak sebagai Perdana Menteri, Israel menarik pasukan mereka dari Lebanon. Dalam upaya untuk mengatur perbatasan permanen antara Israel dan Libanon, PBB menentukan garis batas Israel-Lebanon yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Blue Line. Karena lokasi Ghajar Village ini, terjepit di antara Lebanon dan Israel, bagian utara desa berada di bawah kendali Lebanon dan bagian selatan tetap berada di bawah kendali Israel, maka Blue Line ini oleh PBB ditarik tepat berada di tengah-tengah desa. Pengaturan ini menciptakan banyak kebencian di antara warga Ghajar, yang menganggap diri mereka sebagai orang Suriah dari Dataran Tinggi Golan.
Salah satu bentuk bangunan rumah di Ghajar Village
Meskipun saat itu terjadi penarikan mundur tentara Israel dari Libanon, tetapi ketegangan tetap memuncak terutama karena munculnya ketegangan yang datangnya dari Ghajar Village ini.  Saat itu ditengarai, Hizbullah berulang kali mencoba menculik tentara Israel yang ada di wilayah Ghajar. Bahkan pada tahun 2005, Hizbullah melancarkan serangan roket terhadap Ghajar yang dianggap telah disusupi tentara Israel. Ketegangan pun semakin meningkat setelah Israel membalas serangan tersebut.
Penulis bersama peserta dari Turki, Malaysia dan Srilanka
Setelah Perang hebat di bulan Juli 2006 di mana Israel mencoba menginvasi Lebanon Selatan,  Israel kembali menduduki bagian utara Ghajar. Namun usai perang dengan dikeluarkannya Resolusi DK PBB 1701, ketegangan di Ghajar Village ini mereda dan Ghajar tetap dikuasai kedua pihak yang bertikai, Israel dan Lebanon.
Pada bulan April 2009, tentara Israel yang dikenal dengan sebutan Israeli Defence Force (IDF) setuju untuk menarik tentaranya dari Ghajar utara. Dan ini ditindaklanjuti pada November 2010, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberitahu Sekretaris Jenderal PBB akan niat Israel untuk secara sepihak menarik diri dari Ghajar , setelah gagal mencapai kesepakatan dengan Lebanon dan menyerahkan keamanan sepenuhnya ke tangan UNIFIL.
Hingga sekarang, desa ini telah dibagi oleh Blue Line menjadi dua ' kawasan negara ' yang berbeda namun penduduknya sendiri merasa “satu”. Mereka tidak merasa disebut sebagai penduduk Ghajar di selatan yang berarti menjadi bagian dari Israel atau dan al- Wazzani di utara yang berarti menjadi penduduk Lebanon.
***

No comments:

Post a Comment