Sebagai bagian
dari Satgas MCOU Unifil yang personelnya dituntut untuk mahir berbahasa asing
terutama Inggris baik lisan maupun tulisan, maka aku berusaha untuk mencari
sasaran untuk “mengetes” kemampuan bahasa Inggrisku ketika pertama kali tiba di
Beirut, Lebanon. Dan kesempatan itu terbuka lebar ketika kami sedang rehat
menunggu acara penyambutan rombongan kontingen garuda oleh Dubes RI untuk
Lebanon. Saat itu aku lihat sekitar 6 orang prajurit LAF (Lebanese Armed
Force), tentara regulernya Lebanon yang mengawal rombongan kami sedang
berbincang-bincang di belakang bus-bus kami.
![]() |
Foto bersama dengan tentara LAF |
Saat aku
berusaha datang, tiga orang dari mereka pergi bergeser entah ke mana, sedangkan
yang tiga orang masih berbincang-bincang. Sekitar lima langkah dari mereka, aku
membuka perkenalan dengan mereka dengan kata-kata universal, “ Halo!” mereka
menjawab juga dengan kata yang sama. “ You”re LAF?” mereka bingung saling
lirik, “ You’re from Lebanese Armed Force?”. Mereka menjawab hampir serempak, “
Yes, yes, “. Aku ngomong lagi, “ I’m
from Indonesia, can you help me?” mereka mengangguk, entah mengerti atau tidak.
“You know, how long
the trip from Beirut to Naqoura using
vehicle like that?” tanyaku sambil menunjuk bus putih
bertuliskan UN yang ada di depan kami.
Setelah mendengar pertanyaan ini, mereka saling lirik dan bengong untuk
menjawabnya. Aku juga mulai kebingungan, bahasa Inggrisku yang enggak bener
atau mereka yang “kurang mengerti”. Akhirnya aku ulangi, “ Sorry, I ask you, how
long the trip from Beirut to Naqoura using
vehicle like that?” mereka tambah kebingungan. Seorang di
antara mereka bahkan menjawab dengan bahasa Arab yang kurang kumengerti.
Akhirnya aku tak kehilangan akal, bahasa
Tarzan pun mulai diterapkan. Aku
berkata, “ Beirut-Naqoura, three or two hours or…. “ dengan dua jari atau tiga
jari tangan terangkat secara bergantian. Mereka tersenyum dan berganti
mengangkat 3 jari tangan. “ So, Beirut- Lebanon …. Wahid, Isnen, Salasa, … tiga
jam?” (bahasaku mulai campur aduk). Mereka malah ketawa ngakak, “ yes, yes ….
Anan. Wahied, itnan, talata ….. “ mereka mengangkat 3 jari tangan. Selanjutnya
menjabat tanganku dengan erat, “Ahlan wa sahlan, Lebanon”. Aku jawab “ Thank
You, terima kasih, Garuda!”
Three Mohamad
Setelah perkenalan singkat tersebut, selanjutnya kami berkenalan, masih
dengan menggunakan bahasa Tarzan. Dua dari tiga orang tentara LAF yang aku
jumpai ini mengaku bernama Mohamad. Aku pun mengenalkan diri dengan nama yang
sama. Mereka tertawa, satu di antaranya berkata, “ Three Mohammad! “ sambil
mengangkat tiga jari tangan kanannya. Aku ikut tertawa dan mengangguk-angguk
tanda setuju. Akhirnya meski dengan bahasa Tarzan, kami mulai berkomunikasi
dengan mereka. Rekan-rekan kamipun mulai ikut nimbrung sehingga awal perkenalan
kami dengan tentara LAF ini bertambah hidup dan akrab. Perkenalan tak resmi ini
ditutup dengan kegiatan foto bersama

ijin membaca pak...
ReplyDeleteSilahkan mas. Tks
ReplyDeleteBangganya baca tulisan Bapak ini.
ReplyDeleteBetapa supel nya TNI di medan tugas. TNI bisa mengharumkan nama Indonesia di manapun mereka berada.
Bahasa Inggris nya juga bagus Pak. Saluuuttt
Terima kasih. Salam Garuda!!
ReplyDelete