Sunday, December 30, 2012

Catatan ke-5 : Menuju Kamp Sudirman


Setelah disambut secara resmi oleh Dubes RI untuk Lebanon Dimas Samodra Rum di Beirut, rombongan kami bergerak menuju markas Unifil di Naqoura, Lebanon Selatan, Sabtu, 1 Desember 2012 pukul 02.15 LT.
Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam, seluruh personel Satgas diperintahkan untuk mengenakan perlengkapan tempur standard Unifil berupa rompi anti peluru (life jacket) dan helm tempur.  Dengan dua perlengkapan yang cukup berat, helm di kepala dan rompi anti peluru yang menempel di badan, ingatanku teringat pada masa-masa penugasan tempur.
Bagiku meski helm tempur lumayan berat, namun fungsinya cukup penting untuk pengamanan diri terutama melindungi kepala dari terjangan pelor panas maupun serpihan granat atau mortir di saat terjadi pertempuran. Sedangkan rompi anti peluru yang kelewat berat, fungsinya juga tidak kalah vital, karena dengan rompi, tubuh kita terutama organ penting seperti jantung dan sebagainya dapat terlindungi dari terjangan munisi lawan (asal jangan roket maupun munisi lain yang kalibernya non konvensional).
Selama perjalanan, di dalam bus, aku amati dan pegang rompi anti peluru yang akan melindungi kami dalam kondisi darurat ini. Aku yakin seperti yang pernah aku tahu, rompi anti peluru ini terbuat dari keramik, lempengan logam atau komposit. Bentuknya yang tebal dan berat menjadikannya tidak nyaman digunakan, hingga jarang dikenakan dalam tugas keseharian. Hanya dalam tugas khusus yang beresiko tinggi seperti di Lebanon saat ini, operasi militer atau operasi khusus lainnya.
Prinsip kerja rompi anti peluru ini adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi kinetik peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk menyerap energi laju tersebut dan memecahnya ke penampang rompi anti peluru yang luas, sehingga energi tersebut tidak cukup lagi untuk membuat peluru dapat menembus rompi anti peluru. Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain. Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi kinetik bola tersebut akan diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali di sekitarnya bertambah panjang dan kemudian tekanan tali akan dialirkan ke tiang gawang. Dalam menyerap laju energi peluru, kevlar mengalami deformasi yang menekan ke arah dalam, tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh lebih dari 44 mm. Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna rompi anti peluru akan mengalami luka dalam yang tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa.
Meski aku merasa aman dengan menggunakan rompi anti peluru, namun anggapan bahwa pemakai rompi anti peluru dapat terhindar sepenuhnya dari cidera yang dihasilkan oleh tembakan adalah salah. Perlu diketahui, fungsi utama rompi anti peluru hanyalah untuk menahan peluru sehingga peluru tidak sampai masuk ke dalam tubuh pemakai rompi anti peluru. Tidak jarang akibat tekanan yang ditimbulkan peluru tadi, pemakai rompi anti peluru akan menderita luka memar hingga patah tulang. Tentunya cidera juga tergantung dari jenis rompi anti peluru yang digunakan. Ini menunjukkan bahwa istilah rompi anti peluru (bullet proof vest) tidaklah tepat, istilah yang benar adalah rompi balistik (ballistic vest). Standar rompi balistik yang paling banyak digunakan adalah standar NIJ (National Institute of Justice) Amerika. Berdasarkan standar ini, rompi balistik dibagi menjadi beberapa tingkatan (level), yaitu level I, II-A, II, III-A, III, dan IV. Level I adalah tingkatan yang terendah, rompi balistik hanya dapat menahan peluru yang berkaliber kecil. Sedangkan mulai level III rompi balistik akan dilengkapi dengan lempengan besi, sehingga mampu untuk menahan shotgun. Dengan menggunakan material yang sekarang, makin tinggi tingkat keamanan yang diberikan, maka akan semakin tebal dan berat rompi balistik yang harus dikenakan. Dengan gambaran tersebut, aku yakin rompi anti peluru yang aku pakai saat itu dan selama penugasan di Lebanon berada pada level III atau bahkan IV, melihat beratnya yang “nggak ketulungan”.Itulah sekelumit informasi tentang rompi peluru yang aku pakai bersama rombongan selama perjalanan dari Beirut ke Naqoura, Lebanon Selatan.
Selanjutnya selama perjalanan dari Beirut ke markas Unifil di Naqoura yang memakan waktu sekitar 3 jam tersebut, tidak ada kejadian yang mengkhawatirkan rombongan kami. Di sepanjang perjalanan, dari balik kaca bus yang membawa aku dan rombongan, aku hanya melihat satu atau dua orang penduduk asli Lebanon yang pada jam-jam tersebut masih terlihat di jalanan. Satu kejadian yang menurutku agak aneh adalah ketika rombongan sudah berjalan sekitar satu setengah jam, iring-iringan mobil kami tiba-tiba berhenti. Aku lihat pengemudi busa yang orang Austria keluar dari bus, menancapkan bendera UN selebar 90 cm yang telah terikat di sepotong besi di sisi kiri bus bagian depan. Aku tanya pada sang pengemudi, “What happen, sir?”. Sang pengemudi dengan santai menjawab pendek, “ SOP sir” (maksudnya sesuai dengan Standard Operation Procedure yang telah ditetapkan Unifil). Padahal kalau dipikir terasa aneh, mobil UN jelas berbeda dengan mobil umum, berwarna putih dengan tulisan UN di sisi kanan kirinya. Kenapa harus ditambah dengan bendera UN lagi (Pertanyaan ini terjawab setelah tiba di markas Unifil, di mana pemasangan bendera itu wajib digunakan oleh setiap mobil Unifil ketika sudah memasuki Area Operation).

“Orientasi “ yang  Menjengkelkan
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Beirut, akhirnya kami tiba di Markas Unifil di Naqoura, Lebanon Selatan. Kami diturunkan di Main Gate (pintu gerbang utama) Unifil yang dijaga dengan super ketat oleh pasukan Garuda dan pasukan “Jambo “ dari Tanzania. Namun saat kami tiba di tempat ini, suasana cukup sepi dan gelap.
Saat itu kami diterima oleh seorang Perwira senior dari kontingen Garuda yang rencana tugasnya akan kami gantikan. Dengan suara berapi-api, sang Perwira menyatakan kata-kata selamat datang kepada kami semua. “ Selamat datang kami ucapkan kepada rekan-rekan, yang baru datang dari Indonesia. Inilah markas besar pasukan Unifil di Lebanon, di mana kalian akan menjadi bagian dari mereka”. Demikian sang Perwira berkata kepada kami sesaat setelah kami turun dari kendaraan dan usai pengecekan perlengkapan dan personel. “Kalian lihat di sebelah sana, itulah kamp Sudirman, di mana kalian akan bertempat tinggal selama penugasan kalian di Lebanon”. Perwira itu menunjuk perbukitan tinggi di depan kami yang saat itu cukup gelap. Sebagian di antara perbukitan tersebut terlihat kerlap kerlip lampu, tempat inilah yang ditunjuk oleh sang Perwira tadi. “ Agar kalian lebih mengenal tempat penugasan di Lebanon ini, maka kami sengaja menurunkan kalian di sini. Sedangkan untuk mencapai kamp Sudirman kalian harus berjalan kaki. Kalian mengerti!? “ . Berjalan kaki, melewati perbukitan yang menurut kami cukup tinggi dan cukup jauh? Kami semua terdiam. “ Hei, Kalian dengar, prajurit! Kalian prajurit bukan!!!!” kata-kata keras mulai terlontar dari mulut sang Perwira melihat kami hanya terdiam dan dari raut muka terpancar rasa ketidaksetujuan.  Kami semua hampir berpikiran sama, ini daerah operasi mas!, di mana profesionalisme lah yang diutamakan, bukan latihan fisik lagi seperti di pendidikan! Demikian celoteh kami dalam hati. Lagipula sang Perwira lupa bahwa di antara rombongan kami, terdapat beberapa perwira seniornya yang berpangkat Perwira Menengah yang ikut berbaris mendengarkan “kutbahnya”. Dalam hati aku berpikir, “kena nich Perwira ini!”
Perhitunganku dan rekan-rekan lain yang menilai sang Perwira penyambut rombongan sudah “keterlaluan” akhirnya terbukti. Meski aku tidak bisa “menguping” pembicaraannya, beberapa perwira menengah kami mulai “protes” kepadanya. Hanya kedengaran kata-kata, “ Siap! Siap!” (kena juga khan!!!). Meski demikian pada akhirnya atas perintah Komandan Satgas masing-masing, kami pun mengikuti perintah awal, yaitu berjalan kaki naik menyusuri jalan ke markas kami di Kamp Sudirman.

Berjalan kaki menuju kamp Soedirman

Seandainya tidak dalam kondisi capai setelah menempuh perjalanan selama puluhan jam dari Jakarta dan perjalanan darat dari Beirut- Naqoura, perjalalanan dari bawah ke atas menuju kamp Soedirman sebenarnya cukup nyaman dan indah meski suhu udara saat itu cukup dingin, seakan menusuk tulang. Tetapi karena kondisi capai ditambah beban berat rompi anti peluru dan helm baja di kepala, pemandangan indah di pagi hari sepanjang jalan menuju kamp menjadi kurang indah. Yang ada hanya rasa “mendongkol” yang dikeluarkan dengan kata-kata lirih “duancuk!!!!”.
Setelah kurang lebih 20 menit berjalan, akhirnya kami tiba juga di Kamp Sudirman. Di tempat ini kami merasakan suasana yang lebih ramah, beda jauh dengan penerimaan di tempat yang pertama. Inilah penyambutan khas militer Indonesia ketika melihat rekan penggantinya datang. Kami diterima dengan ramah dan selanjutnya masing-masing Satgas diarahkan menuju tempat yang telah ditentukan.

6 comments:

  1. I have been surfing online more than 3 hours today,
    yet I never found any interesting article like yours. It's pretty worth enough for me.
    Personally, if all webmasters and bloggers made good content as you
    did, the internet will be a lot more useful than ever before.


    my website - media promosi (http://pabrikhelmcustom.com/)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for your attention. This blog is attempted to be told objectively according to what we see everyday in the field

      Delete
  2. sekarang masih di Lebanon ya pak ? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, baru balas. Sekarang masih di Lebanon mbak. Salam kenal n salam juga tuk keluarga. Tks atas atensinya.

      Delete