Saturday, March 30, 2013

Catatan ke-26: Budaya “ngebut” Pengendara Lebanon



 
Salah satu "Geng Motor" saat beraksi di jalanan
 Dalam berkendaraan di jalan raya (terutama mobil), setiap orang pasti menghindari apa yang namanya “kecelakaan”. Jenisnya, ada yang dalam bentuk kecelakaan tunggal seperti menabrak dinding pembatas karena ngantuk dan sebagainya atau juga dalam bentuk kecelakaan ganda yang melibatkan pihak lain, entah menabrak atau ditabrak. Semua jenis kecelakaan ini akibatnya berujung pada satu kata, “rugi”. Kerugian yang diderita umumnya dari segi materiel, mulai dari badan mobil yang lecet, penyok, hingga hancur tak berbentuk. Sedangkan kerugian personel, bisa cuma sekedar badan lecet-lecet, patah tulang, hingga yang paling fatal meregang nyawa.
Untuk menghindari risiko buruk kecelakaan di jalan raya, semua orang akhirnya berusaha untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan dengan cara mengedepankan sikap kehati-hatian dalam berkendara. Contoh gampang, membawa kendaraan (baik mobil atau kendaraan roda dua) tidak dengan secara ugal-ugalan, tidak ngebut, tidak main potong jalan orang dan sebagainya. Dengan sikap ini maka selain tidak membahayakan diri sendiri, juga tidak membahayakan pula bagi orang lain.
Pengendara khas Lebanon dg motor kecilnya
Akan tetapi sikap kehati-hatian tersebut, ternyata tidak dimiliki sebagian warga Lebanon dalam berkendara di jalan raya. Untuk pengendara motor misalnya, bila kami “ berjalan-jalan” menyusuri jalanan dari kota Beirut ke kota Tyre, sering kami temui sekelompok geng motor yang melakukan aksinya terutama dengan “Standing free style”. Kalau sudah bertemu dengan kelompok pengendara ini maka kami pun harus ekstra hati-hati. “mendingan ngalah, daripada bermasalah” demikian prinsip kami, sehingga kalau belum diberi kesempatan untuk mendahului maka biasanya kami pun sabar, sembari menunggu akrobatik jalanan Lebanon itu beraksi di depan mata kami.
Lain kendaraan roda dua, lain pula dengan kendaraan roda empat. Untuk yang satu ini “lebih gila lagi!”. Pertama kali kami datang ke penugasan, kami sudah disuguhi dengan pengendara mobil yang  “ugal-ugalan”, asal menyalip, asal belok, asal menyeberang, asal ngerem dan asal-asalan lainnya. Beberapa kali aku melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah di area operasi Unifil pun, aku jarang melihat pengendara mobil yang benar-benar santun, mau mengalah, memberi jalan, menunggu dan sebagainya. Oleh karena itu untuk menghindari sesuatu yang tidak kami inginkan, biasanya kami benar-benar mengalah, mengalah kepada mobil yang mau masuk ke jalan dari gang sempit, mengalah kepada truk besar yang ingin mendahului termasuk juga terkadang mengalah kepada mobil bobrok yang “mengambil” hak jalan mobil kami.
Ciri khas mobil Unifil
Awalnya, kami membayangkan mobil Unifil bila di jalanan Lebanon bisa jadi akan menjadi “raja jalanan”. Kenyataannya sangat bertolak belakang. Meski semua jenis mobil Unifil sudah dibekali dengan ciri khusus seperti warnanya yang putih, tulisan UN di samping kanan dan kiri body mobil, plat mobil bertuliskan UNIFIL ….. dan sebuah bendera UN di tiang kecil yang tertancap di bagian belakang mobil, namun semua identitas ini seakan hanya sebagai pertanda bahwa itu mobil Unifil. Mobil Unifil meski sebagian besar lumayan bagus, tetap saja harus mengalah dengan mobil mana pun di Lebanon. Ini pula yang sering didengungkan oleh “petinggi” Unifil hingga tingkat Kontingen dari seluruh negara, intinya memang hanya satu, “mengalah daripada mencari perkara”.
Jalanan khas Lebanon yg lenggang tapi "rawan"
“Budaya mengalah” yang ditanamkan kepada seluruh prajurit Unifil dalam berkendara di jalan raya, selain mempertimbangkan kondisi jalanan Lebanon yang “kurang bersahabat” sebenarnya juga dikarenakan belajar dari pengalaman beberapa peristiwa kecelakaan lalu lintas yang dialami prajurit Unifil sebelumnya. Dari beberapa kasus Laka Lalin tersebut, meski dalam kondisi “normal” prajurit Unifil dalam posisi yang benar, umumnya mereka tetap “kalah” yang ujung-ujungnya harus membayar “uang damai” yang dipatok rata-rata 100 dolar per kasus. Alhasil, belajar dari kenyataan ini maka ada pameo di kalangan prajurit Unifil seperti, “kalau mau berkendara di jalan raya, siapkan minimal uang 100 dolar!” yang tujuannya untuk mengantisipasi terjadinya “tabrakan” atau “ditabrak”. Lucunya, peluang ini ditangkap pula oleh sebagian warga sehingga terkadang mereka sengaja “menabrak” atau “minta ditabrak” mobil Unifil, biar dapat ganti rugi sebesar itu. Hebat!
***

No comments:

Post a Comment