Saturday, March 30, 2013

Catatan ke-27: Pak Ardi, Rekanku yang Sedang Dirundung "Malang"





Pak Ardi (nama samaran), adalah salah seorang rekanku yang kini sedang melaksanakan tugas dalam misi United Nation Interim Force in Lebanon (Unifil). Bedanya kalau aku tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Military Community Outreach Unit (MCOU), pak Ardi ini tergabung dalam Satgas  Force Protector Company (FPC) atau yang lebih dikenal dengan IndoFPC.
Aku mengenal baik pak Ardi yang kini berpangkat Sersan Mayor (Serma), bukan sekedar karena kami dari kesatuan yang sama yakni Korps Marinir TNI AL, lebih dari itu karena kami pernah bertugas di Batalyon infanteri yang sama, kompi senapan yang sama dan juga peleton senapan yang sama, yakni sewaktu kami bersama-sama menjadi bagian dari pasukan Candraca Yonif-4, Brigif-2 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan pada sekitar tahun 1990 hingga 1994. 
Sebelum keberangkatanku ke Lebanon, ketika nama pak Ardi pertama kali aku lihat dalam daftar personel satgas Kontingen Garuda 2012-2013 (sekitar Nopember 2012 lalu),  bayanganku saat itu terfokus pada sosok prajurit militan khas Marinir dengan  perawakannya yang kekar dan baju licin yang selalu “dikanji” serta kedisiplinannya yang luar biasa. Selain itu yang paling menonjol dalam ingatanku adalah kelebihannya dalam hal kesamaptaan jasmani sehingga selalu menjadi andalan batalyon kami dalam lomba pembinaan satuan mulai dari lomba regu tangguh, peleton tangkas maupun kompi teladan. Ia memiliki tenaga yang kuat sehingga dulu dijuluki “Ardi Badak”, ia mampu mengangkat dua tiga orang sekaligus ketika rekan-rekannya kesulitan menaklukan nomor “pensil” pada saat pertandingan halang rintang. Ia pun tidak segan-segan membawakan dua-tiga senjata SS-1 rekan kami sekaligus, ketika rekan-rekan kami “sudah tak bertenaga” dalam menyelesaikan lomba Cross Country (CC) atau pun “kebut gunung”.  Dengan kemampuan dan prestasinya tersebut maka tidaklah salah bila satuan akhirnya tetap mempertahankannya hingga terakhir pangkat Sersan Satu.
Sebagian kenangan tersebut ternyata masih membekas di hatiku, ketika untuk kedua kalinya aku bertemu dengan pria kelahiran Garut, Jawa Barat ini di Camp Soedirman, Naqoura, South Lebanon yang menjadi tempat tinggal kami selama masa penugasan di Lebanon. Sikapnya masih tak berubah, khas Marinir dengan semangat kerja yang tak pernah surut. Satu yang membedakan dari pak Ardi ini, adalah mukanya yang sudah mulai sedikit berkerut dimakan usia. Tempat tinggal kami (berupa korimek-baca catatan tentang korimek) berseberangan. Aku menempati barisan korimek F sedangkan pak Ardi tinggal di barisan korimek C, persis berseberangan, aku di depan, pak Ardi di belakangku.
Perbedaan lain yang aku lihat sepintas dari beberapa pertemuanku dengan bapak dua anak ini adalah sikapnya yang sering termenung dan tidak seceria dulu. Sering aku mengintip dari balik jendela kecil korimekku, ia sedang termenung sendiri atau sedang melakukan olah raga rutin  joging di sekitar kamp Soedirman dengan muka yang kelihatan kurang ceria. Ada apa yach dengan perubahan sikap seniorku yang satu ini? Demikian terkadang aku bertanya dalam hati memperhatikan perubahan sikapnya. Namun beberapa hari kemudian, akhirnya terjawab juga rasa penasaran dalam hatiku. Di minggu pagi, di awal Februari lalu, ketika aku sedang asyik memetik gitar kecilku, tiba-tiba datang pak Ardi ke kamarku. Saat itu aku langsung tawarkan ia untuk bernyanyi bersama. Ia menggeleng. Aku persilahkan ia duduk di samping pembaringanku. Ia pun menurut. Aku pun berniat untuk melanjutkan nyanyianku yang tadi terpotong akibat kedatangannya yang tiba-tiba di kamarku tersebut. Tetapi ketika aku memandangnya untuk kembali mengajak ia bernyanyi, aku kaget setengah mati. Aku lihat matanya berlinangan air mata. Seketika juga aku letakkan gitar di atas tempat tidur dan memandangnya. Apa yang menyebabkan orang setegar pak Ardi bisa menangis? Demikian hati kecilku bertanya. Akhirnya dengan suara terbata-bata ia bercerita. Sebuah cerita sedih dan duka yang membuat hatiku tersentuh dan ikut hanyut dalam ceritanya tersebut.
“ Aku dapat telepon anakku yang sulung, Weni (nama samaran), isteriku ngedrop lagi, isteriku kelihatan sudah menyerah. Apalagi si Weni ngomongnya juga sudah tidak karuan “ demikian kalimat awal yang meluncur dari mulut pak Ardi yang mampir di telingaku. “ Tenang dulu pak, sabar” kataku menyabarkan, “ Memangnya isteri bapak sakit apa? “ lanjutku bertanya pelan. Ia menarik nafas sebentar sembari mengusap air matanya. “ Gula darah isteriku kambuh lagi. Sekarang sudah tidak bisa jalan. Berbaring saja di tempat tidur” katanya dengan nada sedih. “ Sudah dibawa ke dokter” tanyaku. “ Sudah. Tapi belum ada perubahan. Si Wenie kebingungan. Kalau Mamanya sakit, siapa yang mau urus Anto (nama samaran) adiknya” katanya lagi dengan mata kembali berkaca-kaca karena linangan air mata. “ Ya sudah pak, yang penting sekarang isteri bapak dulu yang diutamakan kesehatannya. Bapak komunikasikan lagi dengan anak bapak atau saudara untuk membantu merawat isteri bapak” kataku sedikit memberi jalan keluar. “Sudah, tapi siapa yang mau merawat dan mengawasi Anto. Si Weni sudah bolos kuliah dan ngajar …. untuk membantu mengurus Mama dan adiknya tersebut” Lanjutnya dengan terbata-bata. “ Memang kenapa lagi dengan si Anto? “ tanyaku. “ Anto perlu perhatian khusus karena sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan selama ini, isteriku yang mengurus. Kalau isteriku sakit siapa yang mengurusnya?” lanjutnya dengan kata-kata yang membuat aku kembali menghela nafas. Dapat aku bayangkan betapa beratnya cobaan yang sedang dihadapi rekanku yang satu ini.
Setelah memberi sedikit masukan dan nasehat kepada Pak Ardi yang sudah makan asam garam penugasan di dalam negeri seperti di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Natuna, Aceh, Ambon dan Irian ini, akhirnya perbincangan kecil di minggu pagi tersebut berakhir. Pak Ardi kembali ke korimeknya dan aku pun melanjutkan kesibukanku, menyiapkan seragam yang akan aku pakai esok paginya.

Antara Tugas Negara dan Keluarga
Seminggu setelah perbincangan kecil di kamarku tersebut, di Minggu pagi usai melaksanakan kegiatan rutin berupa pembersihan lingkungan korimek, aku menyempatkan diri mampir ke kamarnya di korimek-C1. Kami berbincang-bincang cukup lama dengan tak lupa terlebih dahulu menanyakan masalah kondisi kesehatan keluarganya yang menurutnya sudah agak baikkan.
Dari perbincangan tersebut ada beberapa hal yang membuat aku sedikit kaget. Ternyata keberangkatannya ke Lebanon kurang direstui oleh isterinya. “ Isteriku terus terang saja kurang menyetujui saya berangkat ke Lebanon ini. Katanya aku sudah tua, sebentar lagi pensiun dan juga kasihan dengan si Anto” kata pak Ardi yang kelahiran 8 April 1961, yang berarti pada 8 April 2013 mendatang, ia memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP). “ Terus bagaimana dengan pandangan bapak sendiri? “ tanyaku memancing. “ Sebenarnya terus terang saja. Saya berangkat ke Lebanon ini antara siap dan tidak siap. Namun ini khan tugas negara dan juga perintah dari pimpinan, maka mau apa lagi. Terpaksa, saya tetap memilih tugas ini “. Katanya menjelaskan.
Pendiriannya yang teguh dan komitmennya yang masih sangat luar biasa terhadap dinas patut aku acungi jempol. Meski menjelang pensiun, ia masih bersemangat untuk menjalankan tugas. Tapi menurutku ada sedikit kekeliruan. Ia kurang mempertimbangkan kondisi keluarganya yang butuh perhatian terutama untuk anak keduanya, Anto, yang menurutnya sejak kecil sudah menunjukkan kelainan. Semenjak SD hingga sekarang sudah duduk di bangku SMP, selalu dijaga dan ditemani isterinya. Dalam kondisi seperti itu apabila isterinya sakit maka Anto kurang mendapat perhatian khusus sehingga dikhawatirkan terjadi sesuatu padanya. Demikian pula si Weni, putri sulungnya, aktifitasnya sehari-hari yang padat untuk kuliah dan praktek mengajar otomatis akan terganggu pula karena harus mengurus ibu dan adiknya yang sakit tersebut.
Memang kita akui, sebuah dilema bagi seorang prajurit TNI bila dihadapkan pada situasi seperti itu.  Dua pilihan yang cukup membingungkan, antara tugas dan juga kepentingan keluarga. Tetapi menurutku, alangkah baiknya apabila pilihan kedua yakni “kepentingan keluarga” lah yang hendaknya diutamakan. Kita yakin dinas pun mengerti dengan posisi kita. Dinas atau negara pasti akan cenderung memilih mereka yang “lebih siap” daripada mereka yang “dipaksakan” yang dampaknya jelas akan berpengaruh pada kinerja si prajurit ketika berada di daerah penugasan, apalagi penugasan luar negeri.
Kembali kepada masalah yang sedang dihadapi rekanku, pak Ardi ini, aku Cuma hanya bisa membantu berdoa kepada Tuhan YME agar kesehatan isteri dan anaknya pulih seperti sediakala sehingga tidak mempengaruhi tugasnya sebagai duta bangsa dalam misi penugasan di Lebanon. Ya Allah, bantulah rekanku yang satu ini……………….

***

No comments:

Post a Comment