Saturday, March 30, 2013

Catatan Ke-25 : Kejutan di Hari Ultahku



Aku dilahirkan di sebuah desa kecil di kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.  Namanya cukup antik “Getaskerep”. Sesuai catatan kelahiran termasuk semua data administrasi  yang aku miliki, kelahiranku tercatat pada 24 Februari. Bagiku pribadi, tanggal tersebut, bukanlah merupakan hari yang sangat istimewa. Bukan berarti karena aku termasuk orang yang “kurang menghargai” hari kelahiran yang bagi sebagian orang termasuk sangat istimewa, melainkan karena aku memiliki prinsip bahwa pada hakikatnya semua hari, semua tanggal adalah sama.
 Suatu hal yang selalu menjadi catatan dalam benakku, bila kalender sudah bergeser ke angka 24 di bulan Februari maka aku hanya bisa mensyukuri bahwa aku masih diberi anugerah kesehatan, keselamatan dan umur panjang oleh Allah SWT. Selebihnya aku selalu berdoa semoga di sisa hidupku, dengan umur bertambah tetapi “usia” justru berkurang, aku bisa berbuat sesuatu yang lebih baik dari garis batas di angka 24 Februari tersebut.
Semenjak kecil, seperti kebiasan sebagian besar warga desa lainnya, aku tidak pernah merasakan apa namanya kue “tart” ulang tahun, kue bulat terbuat dari coklat yang disusun sedemikian rupa dengan beberapa batang lilin kecil di atasnya. Demikian juga setelah aku dewasa hingga kemudian bergabung dengan kesatuan Korps Marinir, aku belum juga terlalu merisaukan dan “mendewakan” hari ulang tahunku yang semestinya bagi sebagian orang dirayakan. Namun kondisi ini sedikit berubah ketika aku mulai membina rumah tangga. Isteriku tercinta sering mengingatkanku tentang tanggal bersejarah tersebut. Meskipun tanpa perayaan, terkadang tanpa sepengetahuanku, tepat di pergantian tanggal 23 ke 24 Februari, tengah malam buta, aku dibangunkan, sekedar untuk meniup lilin yang tertancap di kue tart kecil segede kue donat. Aku bangga, betapa besar perhatian isteriku tercinta. Aku salut dengan perjuangannya! Meskipun yang disodorkan cuma kue tart kecil seharga 10 ribu rupiah, aku tetap bangga dan bahagia dengan kepedulian dan perhatian isteriku tersebut. Belum lagi bila esok paginya ia bersusah payah membuat nasi kuning plus goreng ayam dan “urab” yang sebagian dibagikan kepada tetangga, aku tambah merasa betapa hebatnya ia di mataku.
Kenangan yang seakan mulai mengingatkanku akan arti sebuah hari ulang tahun, sedikit demi sedikit mulai hilang dalam ingatanku ketika aku jauh dari keluargaku seperti saat sekarang ini, isteri dan kedua malaikat kecilku (anakku tersayang) di Jakarta, sedangkan aku di Naqoura, South Lebanon yang jaraknya sekitar delapan ribu lima ratus kilometer. Karena kesibukanku dalam misi penugasan Unifil Lebanon ini, aku tidak begitu mempedulikan lagi masalah ulang tahun. Aku yakin tidak ada kue tart kecil seharga sepuluh ribu, aku juga yakin tidak akan ada lagi nasi kuning, plus ayam goreng dengan uraban pedas kesukaanku. Oleh karena itu, menjelang peringatan hari kelahiranku, tepatnya pada pertengahan Februari lalu, kembali aku berpikir bahwa tidak ada sesuatu yang istimewa, semua berjalan apa adanya. Mengalir ibarat air.

Kejutan pertama
Pada 19 Februari 2013, menjelang kepulangaku dari tugas sehari-hari di MCOU UNIFIL, Naqoura, South Lebanon, dua rekan kerjaku dari Italia yakni PDMC Chief Major Pier Paolo De Salvo dan TAA/ TE Chief WO3 Gabriele de Vico, mendatangi tempat kerjaku dan meminta menyiapkan hasil editing video maupun foto kunjungan kami ke desa As Sidiqin. Besok pagi harus selesai karena akan dibawa dan diantar ke Direktur Public School di As Sidiqin, demikian pesan mereka kepadaku. Dengan kondisi yang cukup lelah bagi kami karena sebelumnya, seharian kami harus mengolah dan mengintegrasikan hasil rekaman suara Lama Kadado, Langguage Assistant kami ke dalam video yang akan diputar di depan anak-anak sekolah baik untuk versi arab maupun inggrisnya, kami seharusnya agak berkeberatan dengan perinta tersebut. Tetapi karena itu sudah merupakan risiko tugas maka akhirnya kami bersepakat untuk melaksanakan perintah itu.
Setelah berkutat cukup lama dengan peralatan andalam kami yakni komputer dari pukul 16.00 LT hingga pukul 22.15 LT, akhirnya perintah itu dapat terselesaikan dengan baik melalui kerjasama yang cukup baik antara aku dengan ketiga rekanku. Kami pun puas sehingga pada pukul 22.30 LT, aku putuskan untuk kembali ke korimek, istirahat.
Terima kasih atas perhatiannya, kawan!
Setelah kurang lebih sepuluh menit menyusuri jalanan beraspal di grren hill, yang berada di kawasan markas Unfil di Naqoura, akhirnya kami pun tiba di korimek. Saat itu aku masuk terlebih dahulu memasuki korimek yang menjadi tempat tinggal sementara selama penugasan kami dalam misi Unifil di Lebanon. Namun saat aku mau buka sepatu bootku yang bagiku mulai terasa berat, aku dikejutkan oleh kedatangan si Wahidin, tentara tulen asli Ajibarang, Bumiayu yang sebelumnya ikut “nglembur” dan juga tinggal sekorimek denganku. Dia menyodorkan sesuatu yang sesaat membuat aku bingung, sebuah kotak pipih berukuran segi empat terbuat dari karton. Aku disuruh membuka. Aku menurut. Dan isinya, …. sebuah piza kesukaanku. Dan saat itu juga ketiga rekanku yang lain, serentak menyanyikan lagu “happy birthday!”. Aku tambah bingung. Ternyata itulah hadiah “awal” menjelang hari ulang tahun kelahiranku di tanggal 24 bulan Februari. Saat itu keharuanku menyeruak. Aku teringat kepada isteriku yang selalu mengingatkanku akan hari ulang tahunku. Sekarang di sini, di Lebanon, jauh dari Jakarta, seseorang kembali mengingatkanku tentang hari “istimewa” tersebut. Bahkan ia rela menyisihkan sebagian uang sakunya untuk memberikan sesuatu yang menurutku sungguh sangat berkesan. Terima kasih kawan. 

Kejutan Kedua
Pada Sabtu sore, 23 Februari 2013, rekan-rekan Satgasku membuat acara sederhana, “masak-masak” kecil dengan membuat sejumlah menu makanan khas Indonesia, nasi goreng plus campuran ayam goreng dan ati ampela, mie goreng, dan bakwan. Aku dan sebagian rekan kami yang terkenal jago masak ikut menyiapkan segala keperluan acara ini.
Malam "eksekusi"
Malamnya, usai menyantap makanan yang jarang kami temui di daerah penugasan Lebanon tersebut, aku pun ikut bergabung dengan sebagian rekanku di luar korimek “welfare” yang menjadi tempat acara makan. Namun betapa kagetnya ketika aku sedang duduk dengan enaknya sembari menikmati musik yang mengalun merdu, tiba-tiba tanpa ba-bi-bu seorang rekanku dari samping sudah mengguyur kepalaku dengan seember air, “byur!!!!”. Gila! “ancaman” rekan-rekanku yang akan “mengeksekusiku” di malam ulang tahunku ternyata menjadi kenyataan. Tadinya aku pikir, itu cuma sekedar ancaman karena tindakan tersebut menurutku “kurang mendidik”.
Setelah merasakan seember air dingin, aku tetap tidak beranjak dari tempatku. Aku tetap mengobrol dengan sebagian rekanku yang masih tertawa-tawa melihat sikapku yang tidak berubah, tidak marah dan dendam kepada rekanku yang menyiramku dengan seember air. Bahkan dalam kesempatan obrolan kecil tersebut aku sempat “kelepasan ngomong” yang intinya “mengecilkan” rekan-rekanku yang cuma berani “mengguyurku” dengan air. Kata-kata inilah yang menjadi bumerang bagiku. Untuk keduakalinya, tanpa sepengetahuanku guyuran air dari ember yang telah disiapkan rekanku menimpa kepalaku, byur!!! Dan untuk keduakalinya, aku terperangah kaget. Bahkan kekagetanku bertambah ketika seorang rekanku melemparku dengan sebungkus tepung beras yang menimpa kepalaku. Busyet! Ini sich sudah bukan main-main lagi, demikian kataku dalam hati antara percaya dan tidak melihat kondisiku saat itu. Akan tetapi apa yang bisa aku perbuat? Ledakan tawa rekan-rekanku akhirnya justru membuatku sadar. Akupun ikut tertawa lepas. Ini memang hari ulang tahunku!
Esoknya di hari Senin, 25 Februari, sesuai tradisi di kantorku, secara resmi aku menerima ucapan “Ulang Tahun” dari seluruh personel Satgas MCOU, 17 personel dari Indonesia, 6 personel dari Italia dan 6 orang Language Assistant. Pada kesempatan ini pula aku menerima kado kartu ucapan ulang tahun yang cukup indah yang ditandatangani dan disampaikan langsung MCOU Commander Maj Antonio Caragnano.  Dengan adanya “penghargaan” ini maka lengkaplah sudah peringatan hari ulang tahunku yang akan aku jadikan sandaran dalam menapak kehidupanku di masa mendatang. Aku menyadari, dengan bertambahnya umur ini maka aku harus bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga.
*** 

No comments:

Post a Comment