Aku
dilahirkan di sebuah desa kecil di kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Namanya cukup antik “Getaskerep”. Sesuai
catatan kelahiran termasuk semua data administrasi yang aku miliki, kelahiranku tercatat pada 24
Februari. Bagiku pribadi, tanggal tersebut, bukanlah merupakan hari yang sangat
istimewa. Bukan berarti karena aku termasuk orang yang “kurang menghargai” hari
kelahiran yang bagi sebagian orang termasuk sangat istimewa, melainkan karena
aku memiliki prinsip bahwa pada hakikatnya semua hari, semua tanggal adalah
sama.
Suatu hal yang selalu menjadi catatan dalam
benakku, bila kalender sudah bergeser ke angka 24 di bulan Februari maka aku
hanya bisa mensyukuri bahwa aku masih diberi anugerah kesehatan, keselamatan
dan umur panjang oleh Allah SWT. Selebihnya aku selalu berdoa semoga di sisa
hidupku, dengan umur bertambah tetapi “usia” justru berkurang, aku bisa berbuat
sesuatu yang lebih baik dari garis batas di angka 24 Februari tersebut.
Semenjak
kecil, seperti kebiasan sebagian besar warga desa lainnya, aku tidak pernah
merasakan apa namanya kue “tart” ulang tahun, kue bulat terbuat dari coklat
yang disusun sedemikian rupa dengan beberapa batang lilin kecil di atasnya.
Demikian juga setelah aku dewasa hingga kemudian bergabung dengan kesatuan
Korps Marinir, aku belum juga terlalu merisaukan dan “mendewakan” hari ulang
tahunku yang semestinya bagi sebagian orang dirayakan. Namun kondisi ini
sedikit berubah ketika aku mulai membina rumah tangga. Isteriku tercinta sering
mengingatkanku tentang tanggal bersejarah tersebut. Meskipun tanpa perayaan,
terkadang tanpa sepengetahuanku, tepat di pergantian tanggal 23 ke 24 Februari,
tengah malam buta, aku dibangunkan, sekedar untuk meniup lilin yang tertancap
di kue tart kecil segede kue donat. Aku bangga, betapa besar perhatian isteriku
tercinta. Aku salut dengan perjuangannya! Meskipun yang disodorkan cuma kue
tart kecil seharga 10 ribu rupiah, aku tetap bangga dan bahagia dengan
kepedulian dan perhatian isteriku tersebut. Belum lagi bila esok paginya ia
bersusah payah membuat nasi kuning plus goreng ayam dan “urab” yang sebagian
dibagikan kepada tetangga, aku tambah merasa betapa hebatnya ia di mataku.
Kenangan
yang seakan mulai mengingatkanku akan arti sebuah hari ulang tahun, sedikit
demi sedikit mulai hilang dalam ingatanku ketika aku jauh dari keluargaku
seperti saat sekarang ini, isteri dan kedua malaikat kecilku (anakku tersayang)
di Jakarta, sedangkan aku di Naqoura, South Lebanon yang jaraknya sekitar
delapan ribu lima ratus kilometer. Karena kesibukanku dalam misi penugasan
Unifil Lebanon ini, aku tidak begitu mempedulikan lagi masalah ulang tahun. Aku
yakin tidak ada kue tart kecil seharga sepuluh ribu, aku juga yakin tidak akan
ada lagi nasi kuning, plus ayam goreng dengan uraban pedas kesukaanku. Oleh
karena itu, menjelang peringatan hari kelahiranku, tepatnya pada pertengahan Februari
lalu, kembali aku berpikir bahwa tidak ada sesuatu yang istimewa, semua berjalan
apa adanya. Mengalir ibarat air.
Kejutan
pertama
Pada
19 Februari 2013, menjelang kepulangaku dari tugas sehari-hari di MCOU UNIFIL,
Naqoura, South Lebanon, dua rekan kerjaku dari Italia yakni PDMC Chief Major
Pier Paolo De Salvo dan TAA/ TE Chief WO3 Gabriele de Vico, mendatangi tempat
kerjaku dan meminta menyiapkan hasil editing video maupun foto kunjungan kami
ke desa As Sidiqin. Besok pagi harus selesai karena akan dibawa dan diantar ke
Direktur Public School di As Sidiqin, demikian pesan mereka kepadaku. Dengan
kondisi yang cukup lelah bagi kami karena sebelumnya, seharian kami harus
mengolah dan mengintegrasikan hasil rekaman suara Lama Kadado, Langguage
Assistant kami ke dalam video yang akan diputar di depan anak-anak sekolah baik
untuk versi arab maupun inggrisnya, kami seharusnya agak berkeberatan dengan
perinta tersebut. Tetapi karena itu sudah merupakan risiko tugas maka akhirnya
kami bersepakat untuk melaksanakan perintah itu.
Setelah
berkutat cukup lama dengan peralatan andalam kami yakni komputer dari pukul
16.00 LT hingga pukul 22.15 LT, akhirnya perintah itu dapat terselesaikan dengan
baik melalui kerjasama yang cukup baik antara aku dengan ketiga rekanku. Kami
pun puas sehingga pada pukul 22.30 LT, aku putuskan untuk kembali ke korimek,
istirahat.
![]() |
| Terima kasih atas perhatiannya, kawan! |
Setelah
kurang lebih sepuluh menit menyusuri jalanan beraspal di grren hill, yang
berada di kawasan markas Unfil di Naqoura, akhirnya kami pun tiba di korimek.
Saat itu aku masuk terlebih dahulu memasuki korimek yang menjadi tempat tinggal
sementara selama penugasan kami dalam misi Unifil di Lebanon. Namun saat aku
mau buka sepatu bootku yang bagiku mulai terasa berat, aku dikejutkan oleh
kedatangan si Wahidin, tentara tulen asli Ajibarang, Bumiayu yang sebelumnya
ikut “nglembur” dan juga tinggal sekorimek denganku. Dia menyodorkan sesuatu
yang sesaat membuat aku bingung, sebuah kotak pipih berukuran segi empat terbuat
dari karton. Aku disuruh membuka. Aku menurut. Dan isinya, …. sebuah piza
kesukaanku. Dan saat itu juga ketiga rekanku yang lain, serentak menyanyikan
lagu “happy birthday!”. Aku tambah bingung. Ternyata itulah hadiah “awal”
menjelang hari ulang tahun kelahiranku di tanggal 24 bulan Februari. Saat itu
keharuanku menyeruak. Aku teringat kepada isteriku yang selalu mengingatkanku
akan hari ulang tahunku. Sekarang di sini, di Lebanon, jauh dari Jakarta,
seseorang kembali mengingatkanku tentang hari “istimewa” tersebut. Bahkan ia
rela menyisihkan sebagian uang sakunya untuk memberikan sesuatu yang menurutku
sungguh sangat berkesan. Terima kasih kawan.
Kejutan
Kedua
Pada
Sabtu sore, 23 Februari 2013, rekan-rekan Satgasku membuat acara sederhana,
“masak-masak” kecil dengan membuat sejumlah menu makanan khas Indonesia, nasi
goreng plus campuran ayam goreng dan ati ampela, mie goreng, dan bakwan. Aku
dan sebagian rekan kami yang terkenal jago masak ikut menyiapkan segala
keperluan acara ini.
![]() |
| Malam "eksekusi" |
Setelah
merasakan seember air dingin, aku tetap tidak beranjak dari tempatku. Aku tetap
mengobrol dengan sebagian rekanku yang masih tertawa-tawa melihat sikapku yang
tidak berubah, tidak marah dan dendam kepada rekanku yang menyiramku dengan
seember air. Bahkan dalam kesempatan obrolan kecil tersebut aku sempat
“kelepasan ngomong” yang intinya “mengecilkan” rekan-rekanku yang cuma berani
“mengguyurku” dengan air. Kata-kata inilah yang menjadi bumerang bagiku. Untuk
keduakalinya, tanpa sepengetahuanku guyuran air dari ember yang telah disiapkan
rekanku menimpa kepalaku, byur!!! Dan untuk keduakalinya, aku terperangah
kaget. Bahkan kekagetanku bertambah ketika seorang rekanku melemparku dengan
sebungkus tepung beras yang menimpa kepalaku. Busyet! Ini sich sudah bukan
main-main lagi, demikian kataku dalam hati antara percaya dan tidak melihat
kondisiku saat itu. Akan tetapi apa yang bisa aku perbuat? Ledakan tawa
rekan-rekanku akhirnya justru membuatku sadar. Akupun ikut tertawa lepas. Ini
memang hari ulang tahunku!
Esoknya
di hari Senin, 25 Februari, sesuai tradisi di kantorku, secara resmi aku
menerima ucapan “Ulang Tahun” dari seluruh personel Satgas MCOU, 17 personel
dari Indonesia, 6 personel dari Italia dan 6 orang Language Assistant. Pada
kesempatan ini pula aku menerima kado kartu ucapan ulang tahun yang cukup indah
yang ditandatangani dan disampaikan langsung MCOU Commander Maj Antonio
Caragnano. Dengan adanya “penghargaan”
ini maka lengkaplah sudah peringatan hari ulang tahunku yang akan aku jadikan
sandaran dalam menapak kehidupanku di masa mendatang. Aku menyadari, dengan
bertambahnya umur ini maka aku harus bisa lebih baik dari tahun sebelumnya.
Semoga.
***



No comments:
Post a Comment