Friday, July 26, 2013

Catatan ke-40 : Menghadiri Pesta Pernikahan Khas Lebanon




Tradisi pernikahan khas Lebanon yang meriah
  Pada Sabtu malam, 20 Juli 2013, aku dan seluruh anggota MCOU (Military Community Outreach Unit) Unifil Kontingen  Garuda XXX-C mendapat undangan kehormatan untuk hadir dalam pesta pernikahan rekan kerja kami Elie AKL, anggota Languange Assistant (LA) MCOU yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah di kawasan Marjayeoun, South Lebanon. Elie AKL yang berbadan subur ini menghabiskan masa lajangnya dengan mengawini Caroline, seorang gadis Lebanon yang cantik.
Kami berangkat dari Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon pukul 06.00 PM dengan mengendarai tiga mobil. Waktu pemberangkatan ini disesuaikan dengan rencana kami di mana kami harus tiba di markas Satgas Military Police Indonesia yakni Sector East Military Police Unit (Sempu) Marjayeoun sekitar pukul 08.00 PM di mana waktu tersebut adalah waktu berbuka puasa untuk kawasan South Lebanon. Dan perkiraan ini tidak meleset, tiga mobil kami memasuki markas Sempu ini tepat waktu berbuka. Setelah menggugurkan puasa dengan takjil yang telah disediakan rekan-rekan dari Sempu, kami melaksanakan sholat Maghrib berjamaah yang selanjutnya bergeser ke ruang makan untuk berbuka puasa bersama. Menu yang tersedia saat itu cukup menggugah selera makan kami, ayam goreng, soto kambing dan lalapan dengan rasa khas Indonesia yang sedap, gurih, pedas dan sedikit manis. Usai makan, tepat pukul 08.45 PM, kami pun keluar dari markas Sempu menuju tempat pesta pernikahan.

Masakan yang Asing
Salah satu rombongan Satgasku di depan meja makan
Pertama kali datang sekitar pukul 09.00 PM, rombongan kami langsung disambut oleh sepuluh orang laki-laki dan perempuan setengah baya dengan pakaian yang campuran (aku yakin mereka ini adalah kerabat maupun rekan-rekan). Setelah menerima ucapan selamat datang dari mereka ini, kami selanjutnya diarahkan menuju sebuah meja kecil yang ditunggui empat gadis Lebanon dengan pakaiannya yang cukup seksi, corak-corak putih berenda dengan belahan yang terbuka cukup lebar. Bagi kami mereka cukup anggun dengan kecantikan khas gadis Timur Tengah. Setelah perwakilan kami menulis dan menjelaskan tentang rombongan kami, keempat gadis tersebut dengan ramah mengarahkan kami untuk segera memasuki area pesta yang berada di halaman samping hotel berupa area taman hijau yang cukup luas dengan sebuah kolam renang kecil di tengah-tengahnya.
Saat kami memasuki area pesta taman ini, hampir seluruh meja bundar yang bernomor dengan sepuluh kursi yang mengelilinya telah terisi dengan para undangan. Tiga orang gadis cantik penerima tamu yang dandanannya tidak berbeda jauh dengan empat gadis yang pertama, mengantarkan rombongan kami ke dua buah meja yang tidak berada jauh dari tempat masuk yang saat itu masih belum terisi. Kami pun segera menempati tempat ini.
Menu masakan yang terasa asing untuk lidah Indonesia
Di atas meja kami masing-masing sudah tersedia makanan dan minuman yang cukup banyak. Kami tidak tahu persis apa namanya, akan tetapi setelah kami coba satu persatu, rasanya terlalu asing bagi kami dan tidak memungkinkan kami untuk memakannya. Aku dan rekan-rekan akhirnya hanya menghabiskan makanan ringan berupa kacang-kacangan serta beberapa piring cumi goreng tepung yang rasanya hampir sama dengan masakan Indonesia. Ketika acara selesai dan para pelayan menyuguhkan sekitar empat kali masakan baru, rasanya tetap saja, tidak sesuai dengan lidah dan rasa Indonesia. Untuk minumannya pun aku dan rekan-rekan hanya menghabiskan empat botol coca cola besar dan air putih. Sedangkan dua botol anggur “black label” yang berada diatas meja sedari kami datang tidak kami sentuh sama sekali. “ Hati-hati, ini bulan puasa, dan ini bisa membuat mabuk” demikian kata salah seorang senior kami mengingatkan agar kami tidak usah menyentuh minuman tersebut. Kami semua menurut. Jadi praktis, bila meja-meja lain di sekeliling kami makanannya cepat ludas dan cepat diganti dengan makanan baru yang mereka sukai, meja kami tetap utuh, sesekali kami hanya minta tambahan kacang goreng/kwaci, cumi goreng tepung, air putih maupun coca cola. 

Menikmati dan Mencoba Tarian “Dabke”
Setelah seperempat jam kami mencoba menikmati makanan khas Lebanon, acara pernikahan yang kami tunggu-tunggu pun dimulai. Tiba-tiba dengan diiringi musik Lebanon yang cukup keras, muncul enam orang penari pria dan empat penari wanita dengan dandanan khas yang unik, baju kedodoran warna putih kombinasi hitam dengan corak yang mengingatkan kita akan baju tokoh cerita “Ali Baba” berlari menuju pusat acara, yakni sebuah panggung yang dipayungi tenda warna biru yang berada di pinggir kolam. Dua di antara penari pria ini memainkan alat musik seperti drum dan rebana yang dipukul keras-keras mengiringi gerakan mereka.
Aksi penari tradisional Dabke
Tiba di tengah panggung, para penari ini selanjutnya melenggak-lenggokkan badannya mengikuti irama musik remix Lebanon yang keras dengan gerakan tangan dan langkah kaki yang teratur dan serempak. Gerakan-gerakan tari mereka ini cenderung mengandalkan koordinasi gerakan kaki yang menghentak-hentak lantai dengan keras yang sesekali diiringi dengan loncatan-loncatan kecil yang cukup dinamis dan menarik.
Dari informasi yang aku terima saat itu, yakni setelah berbincang-bincang dengan rekan Language Assitant MCOU lainnya yang hadir seperti Habib, Nisrine dan Jihad, aku dan rekan-rekan Satgas baru mengetahui bila tarian yang mereka mainkan tersebut dinamakan “Dabke”.  Dabke ini adalah tarian nasional Lebanon yang dilakukan hampir di setiap acara-acara penting keluarga seperti pernikahan dan juga di klub malam, restoran, dan tempat hiburan lainnya. Tarian Dabke ini akan selalu muncul untuk mewarnai kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Ciri khas tarian Dabke dengan kaki yang menghentak lantai
Pada awalnya "Dabke" adalah tarian yang dilakukan oleh penduduk yang berbeda dari kawasan pegunungan yang terbentang di antara pantai Mediterania dan Sungai Tigriss. Oleh karena itu tarian ini hanya milik desa-desa dan kota-kota kecil di Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Irak. Popularitas Dabke di pedesaan Lebanon pada akhirnya membawa keragaman irama tarian ini mulai dari sangat lambat hingga sangat cepat, langkah-langkah (mtanniye, mtallate, arja), dan lagu-lagu berirama dan melodi (dal'ouna, houwara, nadda, haykalo, zayno, dll). Tarian Dabke yang aku saksikan malam tersebut, kini merupakan landasan dari seni tari Lebanon modern meskipun gayanya  berbeda banyak dengan tarian lainnya.
Para penari Dabke, pemuda dan pemudi pada umumnya mengenakan pakaian meriah. Para wanita mengenakan rok terusan dengan balutan kemeja dan rompi panjang ditambah kerudung dan hiasan kepala dengan dekorasi yang indah dan manik-manik rumit yang menghiasi kepala mereka. Sedangkan para pria mengenakan sherwals dan labbadeh (celana baggy dan merasa topi) dengan rompi warna-warni di atas kemeja dan sepatu bot mereka. Dua diantaranya membawa derbake (drum kecil yang terbuat dari tanah liat kulit kambing silinder dan membentang).
Menyambut kedatangan pengantin wanita
Ketika musik mulai menghentak-hentak dengan suara keras dan membisingkan telinga, para penari ini berpegangan tangan dan mulai menari dengan iringan lagu daloonah, dasar lagu dari semua tarian Dabkes. Selanjutnya mereka menginjak-injak tanah dengan kaki yang kompak dan sementara yang lain bertepuk tangan sehingga tercipta suasana yang tepat.
Setelah sekitar sepuluh menit, para penari Dabke ini mempertontonkan kepiawaiannya dalam mengatur gerak dan lagu dalam alunan Dabke yang menghentak-hentak, tiba-tiba muncul rombongan pria yang mengantarkan Elie AKL sang pengantin pria menuju panggung tarian. Dan tiba di tempat ini, aku sempat kaget karena sang pengantin dan rombongannya langsung berbaur dengan “Dabke”. Sang pengantin yang berkemeja putih dengan dibalut jas hitam ternyata cukup mahir mengikuti gerakan para penari utama. Bahkan terkadang gerakannya lebih luwes meski harus menopang tubuhnya yang subur dan gempal.
Pengantin berbaur dalam tarian Dabke
Sepuluh menit kemudian, musik berganti lembut dan seluruh pandangan mata yang hadir saat itu dilayangkan ke pintu masak taman. Dari tempat ini, Caroline sang pengantin wanita dengan diiringi dua “dayang” wanitannya terlihat mulai memasuki tempat acara. Cara masuk mereka cukup unik, sang pengantin wanita yang mengenakan baju pengantin putih bak putri istana berjalan perlahan menembus gulungan asap putih dan percikan kembang api. Usai di panggung, seperti halnya pengantin pria, pengantin wanita ini pun langsung berbaur dan menyatu dalam hentakan tarian Dabke.
Demikianlah, selama kurang lebih dua jam setengah, kami disuguhi hentakan musik keras ala Lebanon untuk mengiringi tarian Dabke. Para undangan secara bergantian mengiringi kedua pengantin nge”dabke”. Bahkan secara khusus, sang pengantin mendatangi meja kami yang mungkin dianggap paling antik karena dari “Indonesia” yang sedikit berbeda budaya untuk ikut larut dalam kebahagiannya dengan mencoba dan merasakan tarian Dabke. Kami pun menurut, mencoba tarian Dabke degan gaya kami masing-masing.
Pemotongan kue perkawinan dengan pedang kehormatan
Acara pernikahan yang kami hadiri tersebut berakhir pada pukul 12.15 AM yang sebelumnya ditandai dengan pemotongan kue raksasa yang dipotong dengan menggunakan pedang kehormatan.
Dari tempat pesta, rombongan kami selanjutnya bergerak menuju markas Indobatt untuk beristirahat malam. Kami memilih menginap di markas rekan kami tersebut ketimbang langsung pulang ke Naqoura, dengan pertimbangan cukup berisiko karena kondisi yang cukup lelah, jalanan rawan karena dikelilingi jurang serta faktor keamanan lainnya. Esoknya usai melaksanakan Sahur dan sholat Subuh berjamaah, rombongan kami bergerak kembali ke Naqoura.

Usia Nikah dan Amplop Pernikahan
Menurut Elie, usia rata-rata pernikahan di Lebanon terutama yang berpendidikan dan tinggal di kota-kota besar adalah 30 tahun untuk perempuan dan usia 35 tahun untuk laki-laki.  Menurutnya banyak alasan di balik pernikahan yang kelewat lambat di antaranya karena faktor ekonomi seperti adanya upah yang cukup rendah sehingga mempengaruhi kesiapan calon suami maupun isteri, perumahan mahal, efek emigrasi pada kedua jenis kelamin, pernikahan laki-laki untuk pasangan asing, dan harapan hidup yang disebabkan oleh konsumerisme. Pencapaian pendidikan perempuan, kebebasan dari kontrol ekonomi laki-laki, dan ambisi karir juga memberikan kontribusi faktor.
Fotoku dengan kedua pengantin
Dari beberapa sumber lain terkait dengan tradisi pernikahan masyarakat Lebanon ini, di antara orang Islam dan Kristen, ada preferensi tradisional untuk pernikahan dengan seorang sepupu patrilineal. Namun, praktek ini telah ditinggalkan di beberapa kawasan kecuali kawasan / daerah yang paling konservatif atau kolot memegang aturan ini.  Meskipun poligami diperbolehkan di bawah hukum Islam, praktik ini jarang terjadi dalam budaya Lebanon. Hal ini dianggap sebagai tidak praktis karena beban keuangan akan semakin membengkak dan pada banyak kasus memunculkan komplikasi pribadi. Usia pernikahan pun bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Di beberapa desa, perempuan menikah di akhir remaja dan anak laki-laki menikah di awal dua puluhan. Di daerah perkotaan, pemuda menikah pada usia yang relatif lambat. Mereka yang berpendidikan tinggi menunda pernikahan mereka sampai akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Sedangkan  khusus untuk pernikahan antar agama dan pernikahan sipil tidak diizinkan. Akan tetapi banyak pasangan yang terkena aturan ini bepergian ke luar negeri dan menikah di negara tujuan, karena pernikahan sipil asing diakui oleh pemerintahan Lebanon.
Foto bersama pengantin dan Satgas MCOU
Bagaimana dengan amplop pernikahan? Seperti halnya di Indonesia, sebagian besar masyarakat Lebanon terutama yang berada di pedesaan, memberikan sekedar tanda tali kasih kepada mereka yang sedang berbahagia melaksanakan pernikahan dalam bentuk barang maupun uang. Untuk pemberian dalam bentuk uang, jumlahnya tidak dibatasi sesuai dengan kemampuan, tetapi rata-rata minimal 10 ribu liban untuk ekonomi kelas bawah ($1 = 1500 liban).
Tradisi lain yang sedikit berbeda adalah untuk perkawinan yang dilaksanakan oleh mereka yang dianggap kelas menengah ke atas yang pesta pernikahannya umumnya dilaksanakan di gedung-gedung maupun hotel-hotel, tidak ada amplop atau kotak amplop dalam acara mereka. Seperti halnya pernikahan rekan kami Elie AKL, amplop tali kasih dari undangan sudah diterima sebelum acara dalam bentuk tranfer antar rekening. Jadi pada umumnya Undangan Perkawinan yang mereka sebarkan itu, di dalamnya sudah tercantum nomor rekening calon pengantin. Model ini menurutku cukup praktis, sebab calon pengantin dapat merencanakan pesta sesuai dengan jumlah tamu undangan dan juga menyesuaikan dengan jumlah uang yang mereka terima dalam rekeningnya. 
***  

No comments:

Post a Comment