![]() |
| Menyiapkan menu tambahan selain menu dapur |
Untuk
memenuhi kebutuhan makan dan minum sekitar 200 personel gabungan yang terdiri
dari 150 orang personel Satgas Indonesian Force Protection Company IndoFPC), 50
orang Satgas Force Headquarter Support Unit (FHQSU), 18 orang Satgas Military
Community Outreach Uniti (MCOU) dan 6 orang Satgas Cimic (Civic Military Coordination),
pihak Unifil melalui Indo FPC yang merupakan “tuan rumah” Soedirman Camp di
mana kami bertempat tinggal selama penugasan telah menyiapkan makanan dan
minuman khas Indonesia dengan memanfaatkan fasilitas pendukung yang ada. Menunya
cukup komplit dan melimpah dengan dominasi makanan berkoleterol tinggi seperti
ayam (boiler dan kalkun), daging / hati sapi, daging kambing, udang, ikan laut/
tuna, cumi, sosis, ikan kalengan dan sebagainya yang diolah dengan ragam dan
variasi menu ditambah sayuran hijau yang tidak pernah telat dalam setiap
penyajiannya.
Meskipun
telah disiapkan menu khas Indonesia, akan tetapi pada saat-saat tertentu
terutama di kala bulan puasa saat ini, sebagian dari kami membuat racikan
makanan sendiri. Ada yang cuma sekedar mengolah dengan menambahkan beberapa
bumbu tertentu ke dalam menu makanan yang telah tersedia, ada pula yang
“sengaja” membuat lauk tambahan karena dianggap makanan yang tersedia kurang
memenuhi selera pada saat itu.
![]() |
| Membuat bakwan goreng di dalam korimek |
Untuk
contoh yang terakhir adalah seperti apa yang dilakukan olehku dan rekan-rekan
seKorimek. Bila suatu kali mendapat bocoran dari “orang dapur” tentang lauk
yang akan disajikan pada buka puasa ternyata menurut kami kurang mengundang
selera makan meskipun “cukup mewah” maka biasanya kami mencari alternatif lauk
tambahan yang kami siapkan secara bersama-sama. Menunya terkadang cukup
sederhana, nasi goreng plus krupuk, tumis kangkung, sambal pecel dan terasi
atau sambal petai cina yang bahannya tersedia di kebun korimek, atau pun
membuat bakwan goreng yang bahannya sebagian di beli di warung langganan kami di luar camp seharga 2-3 dolar. Untuk gizi
dalam kondisi ini tidak kami permasalahkan, yang penting bisa menikmati buka
puasa dan makan sahur dengan menu yang menurut kami saat itu paling enak (menu sederhana
ini tidak ditemui di Lebanon kalau tidak kami sendiri yang mecari bahan dan
membuatnya).
Bila
menginginkan sesuatu yang sedikit “mewah” dibandingkan dengan masakan dapur,
maka biasanya kami secara bersama-sama dengan rekan-rekan satu Satgas, satu
atau dua korimek “saweran” beberapa dolar untuk membeli bahan masakan yang
menurut kami bisa mengurangi rasa “kangen” kami terhadap masakan tertentu. Menu
favorit yang kami sukai antara lain ayam dan ikan bakar, sate kambing dengan
sejumlah menu pelengkapnya seperti nasi goreng, nasi putih, mie goreng, sambal
terasi plus lalapan mentimun/kubis, krupuk dan lain-lainnya. Kalau sudah matang
maka jadilah pesta kecil di mana kami bisa bersantap secara bersama-sama dengan
iringan lagu khas Indonesia, dangdut. Untuk “pesta kecil” ini biasanya
membutuhkan waktu penyiapan dan pengolahan yang cukup lama sehingga umumnya
hanya bisa terlaksana di saat-saat senggang seperti malam minggu atau malam
liburan lainnya dengan tempat memasak di halaman korimek atau di dapur kantor.
Bagaimana
sich dengan rasanya? Jangan ditanya, meski kami semua adalah serdadu, akan
tetapi untuk masalah masakan ini sebagian besar dari kami tidak alergi dengan
apa yang namanya dapur, sehingga setiap bahan makanan yang kami olah umumnya
menghasilkan makanan yang cita rasanya “luar biasa”. Belum lagi dengan adanya satu-dua orang dari
kami yang ternyata memang “jago masak”, maka hasil masakannya pun benar-benar
enak dan gurih, “mak nyus!” demikian seperti kata pak Bondan, host khusus
“pencicip makanan” dalam salah satu
acara televisi di Indonesia.
![]() |
| Buka puasa bersama dengan menu khas Indonesia |
Sebagai
contoh betapa hebatnya “koki-koki” kami adalah ketika kami mengolah masakan
seperti bakwan goreng. Rasanya dijamin jauh lebih enak dibandingkan dengan
hasil olahan mbok-mbok atau mas-mas penjual gorengan yang menjajakan
gorengannya dengan gerobak dorong di pinggir-pinggir jalan di ibukota Jakarta.
Demikian pula untuk nasi goreng dan yang lain, meski pun bumbunya terkadang
“pas-pasan” akan tetapi hasilnya cukup enak dan sanggup menggugah selera makan
bagi siapa saja yang melihat dan mencium bau masakannya
Rasa
yang terasa lebih enak dan nikmat bisa jadi dikarenakan jarangnya kami
menikmati masakan tersebut, demikian seorang rekanku berseloroh yang menurutku
masuk akal juga. Semakin lama kita tidak berjumpa dengan sesuatu maka bila
suatu kali berjumpa dengannya maka rasanya akan melebihi dari perjumpaan yang
pertama. Demikian juga dengan masalah masakan ini yang disadari atau tidak bila
lama tidak menikmatinya, maka bila suatu kali bertemu maka rasanya jelas akan
terasa lebih enak dan nikmat, meski dibuat dari bahan yang sama, bumbu-bumbu
dan tempat yang sama serta diolah oleh orang yang sama pula.
Terkait
dengan kegiatan masak memasak ini, memang terkesan sedikit aneh bila melihat
prajurit TNI yang tergabung dalam misi PBB Unifil pada saat-saat senggang tersebut
bergelut dengan kompor dan penggorengan, pisau dan bahan-bahan mentah masakan.
Tapi keanehan itu aku yakin akan pupus bila anda terlibat di dalamnya atau pun
melihat keseharian kami. Yang jelas bagi kami kebersamaan dalam “memasak”
menurut kami bahkan bukan sekedar untuk menghilangkan sedikit kerinduan kepada
makanan populer yang tidak kami rasakan selama berbulan-bulan di daerah
penugasan, akan tetapi lebih dari itu, media “masak memasak “ ini semakin
memperkuat persaudaran dan kerjasama kami sehingga pada gilirannya akan
berpengaruh pula pada tingkat keberhasilan tugas yang kami emban selama
menjalankan misi PBB di Lebanon.
***



No comments:
Post a Comment