Friday, July 19, 2013

Catatan ke-39 : Dari Sambel Pecel hingga Bakwan Goreng


Menyiapkan menu tambahan selain menu dapur

 Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sekitar 200 personel gabungan yang terdiri dari 150 orang personel Satgas Indonesian Force Protection Company IndoFPC), 50 orang Satgas Force Headquarter Support Unit (FHQSU), 18 orang Satgas Military Community Outreach Uniti (MCOU) dan 6 orang Satgas Cimic (Civic Military Coordination), pihak Unifil melalui Indo FPC yang merupakan “tuan rumah” Soedirman Camp di mana kami bertempat tinggal selama penugasan telah menyiapkan makanan dan minuman khas Indonesia dengan memanfaatkan fasilitas pendukung yang ada. Menunya cukup komplit dan melimpah dengan dominasi makanan berkoleterol tinggi seperti ayam (boiler dan kalkun), daging / hati sapi, daging kambing, udang, ikan laut/ tuna, cumi, sosis, ikan kalengan dan sebagainya yang diolah dengan ragam dan variasi menu ditambah sayuran hijau yang tidak pernah telat dalam setiap penyajiannya.
Meskipun telah disiapkan menu khas Indonesia, akan tetapi pada saat-saat tertentu terutama di kala bulan puasa saat ini, sebagian dari kami membuat racikan makanan sendiri. Ada yang cuma sekedar mengolah dengan menambahkan beberapa bumbu tertentu ke dalam menu makanan yang telah tersedia, ada pula yang “sengaja” membuat lauk tambahan karena dianggap makanan yang tersedia kurang memenuhi selera pada saat itu.
Membuat bakwan goreng di dalam korimek
Untuk contoh yang terakhir adalah seperti apa yang dilakukan olehku dan rekan-rekan seKorimek. Bila suatu kali mendapat bocoran dari “orang dapur” tentang lauk yang akan disajikan pada buka puasa ternyata menurut kami kurang mengundang selera makan meskipun “cukup mewah” maka biasanya kami mencari alternatif lauk tambahan yang kami siapkan secara bersama-sama. Menunya terkadang cukup sederhana, nasi goreng plus krupuk, tumis kangkung, sambal pecel dan terasi atau sambal petai cina yang bahannya tersedia di kebun korimek, atau pun membuat bakwan goreng yang bahannya sebagian di beli di warung langganan kami  di luar camp seharga 2-3 dolar. Untuk gizi dalam kondisi ini tidak kami permasalahkan, yang penting bisa menikmati buka puasa dan makan sahur dengan menu yang menurut kami saat itu paling enak (menu sederhana ini tidak ditemui di Lebanon kalau tidak kami sendiri yang mecari bahan dan membuatnya).
Bila menginginkan sesuatu yang sedikit “mewah” dibandingkan dengan masakan dapur, maka biasanya kami secara bersama-sama dengan rekan-rekan satu Satgas, satu atau dua korimek “saweran” beberapa dolar untuk membeli bahan masakan yang menurut kami bisa mengurangi rasa “kangen” kami terhadap masakan tertentu. Menu favorit yang kami sukai antara lain ayam dan ikan bakar, sate kambing dengan sejumlah menu pelengkapnya seperti nasi goreng, nasi putih, mie goreng, sambal terasi plus lalapan mentimun/kubis, krupuk dan lain-lainnya. Kalau sudah matang maka jadilah pesta kecil di mana kami bisa bersantap secara bersama-sama dengan iringan lagu khas Indonesia, dangdut. Untuk “pesta kecil” ini biasanya membutuhkan waktu penyiapan dan pengolahan yang cukup lama sehingga umumnya hanya bisa terlaksana di saat-saat senggang seperti malam minggu atau malam liburan lainnya dengan tempat memasak di halaman korimek atau di dapur kantor.
Bagaimana sich dengan rasanya? Jangan ditanya, meski kami semua adalah serdadu, akan tetapi untuk masalah masakan ini sebagian besar dari kami tidak alergi dengan apa yang namanya dapur, sehingga setiap bahan makanan yang kami olah umumnya menghasilkan makanan yang cita rasanya “luar biasa”.  Belum lagi dengan adanya satu-dua orang dari kami yang ternyata memang “jago masak”, maka hasil masakannya pun benar-benar enak dan gurih, “mak nyus!” demikian seperti kata pak Bondan, host khusus “pencicip makanan”  dalam salah satu acara televisi di Indonesia.  
Buka puasa bersama dengan menu khas Indonesia
Sebagai contoh betapa hebatnya “koki-koki” kami adalah ketika kami mengolah masakan seperti bakwan goreng. Rasanya dijamin jauh lebih enak dibandingkan dengan hasil olahan mbok-mbok atau mas-mas penjual gorengan yang menjajakan gorengannya dengan gerobak dorong di pinggir-pinggir jalan di ibukota Jakarta. Demikian pula untuk nasi goreng dan yang lain, meski pun bumbunya terkadang “pas-pasan” akan tetapi hasilnya cukup enak dan sanggup menggugah selera makan bagi siapa saja yang melihat dan mencium bau masakannya
Rasa yang terasa lebih enak dan nikmat bisa jadi dikarenakan jarangnya kami menikmati masakan tersebut, demikian seorang rekanku berseloroh yang menurutku masuk akal juga. Semakin lama kita tidak berjumpa dengan sesuatu maka bila suatu kali berjumpa dengannya maka rasanya akan melebihi dari perjumpaan yang pertama. Demikian juga dengan masalah masakan ini yang disadari atau tidak bila lama tidak menikmatinya, maka bila suatu kali bertemu maka rasanya jelas akan terasa lebih enak dan nikmat, meski dibuat dari bahan yang sama, bumbu-bumbu dan tempat yang sama serta diolah oleh orang yang sama pula.
Terkait dengan kegiatan masak memasak ini, memang terkesan sedikit aneh bila melihat prajurit TNI yang tergabung dalam misi PBB Unifil pada saat-saat senggang tersebut bergelut dengan kompor dan penggorengan, pisau dan bahan-bahan mentah masakan. Tapi keanehan itu aku yakin akan pupus bila anda terlibat di dalamnya atau pun melihat keseharian kami. Yang jelas bagi kami kebersamaan dalam “memasak” menurut kami bahkan bukan sekedar untuk menghilangkan sedikit kerinduan kepada makanan populer yang tidak kami rasakan selama berbulan-bulan di daerah penugasan, akan tetapi lebih dari itu, media “masak memasak “ ini semakin memperkuat persaudaran dan kerjasama kami sehingga pada gilirannya akan berpengaruh pula pada tingkat keberhasilan tugas yang kami emban selama menjalankan misi PBB di Lebanon.
***

No comments:

Post a Comment