Wednesday, September 11, 2013

Catatan ke-46 : Mengunjungi Sheikh Abad Tomb


Makam Sheikh Abad dalam versi Lebanon dan makam Rabi Ashi menurut pandangan warga Israel

Sejumlah hot spot penting yang menjadi lokasi kunjungan aku dan rekan-rekan program Induction Training Unifil pada akhir Agustus 2013 lalu, salah satunya adalah makam Sheikh Abad (atau lebih dikenal dengan sebutan Shiekh Abad Tomb).  Makam ini merupakan hot spot yang cukup populer di Unifil karena tempat ini ditengarai sering memunculkan ketegangan dan gesekan antara pihak Lebanon-Israel serta letaknya yang cukup strategis di perbatasan Israel-Lebanon, tepatnya di UNPos 8-33. Untuk mencapai lokasi ini, rombongan kami harus menempuh perjalanan darat yang cukup jauh, berkelok-kelok, naik turun mengikuti kontur daerahnya yang penuh dengan pebukitan.
No photograph!, No Weapon!
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan selama kurang lebih 2 jam dari Seqtor West HQ Unifil dari Shama, kami pun tiba di tempat ini. Tempat ini sebelumnya merupakan tanggung jawab dan area penugasan Kompi B dari Batalyon Indonesia, namun kini digantikan oleh satu kompi dari batalyon infanteri Nepal. Patung Garuda yang dibangun cukup unik terlihat masih terawat rapi, sebagai salah satu peninggalan tentara Indonesia. Di tempat ini, kami dilarang mengambil gambar foto atau video. Bila ini dilanggar dan terekam oleh pihak Israel melalui kamera intai yang selalu memonitor aktifitas kami maka mereka akan mengajukan klaim kepada pihak Unifil. Tentara Nepal yang menjaga tempat ini benar-benar menekankan masalah ini kepada kami sehingga sejumlah rekan yang berniat mengabadikan gambar, tidak jadi mengeluarkan kamera foto atau HP yang mereka bawa (Kecuali penulis yang masih berani “curi-curi” mengambil foto aktifitas, dengan mendapat backup dari sejumlah rekan lain)
Penjelasan seorang personel OGL
Usai dijamu minuman dan makanan kecil oleh tentara Nepal, rombongan kami menerima briefing dari petugas OGL (Observer Group Lebanon). Lokasi briefing berada di luar markas batalyon Nepal yang letaknya tidak begitu jauh dari blue line dan technical fence (pagar perbatasan) yang dibangun tentara Israel.  Sesuai prosedur bila ada aktifitas prajurit Unifil di lokasi perbatasan maka diharuskan ditandai dengan adanya bendera UN. Dan saat itu, memang terdapat seorang prajurit Nepal yang membawa bendera UN dengan warna dasar biru yang dililitkan di sepotong kayu panjang.
Bendera UN dikibarkan selama aktifitas
 Dari petugas OGL, aku dan rombongan menerima sejumlah gambaran tentang lokasi yang berada di UNP berkode 8-33 ini. Menurutnya lokasi ini menjadi salah satu titik perbatasan yang rawan konflik karena lokasinya yang sangat strategis berupa ketinggian efektif. Lokasi ketinggian strategis ini akhirnya dibagi menjadi dua bagian, Israel dan Lebanon. Uniknya di tempat ini pula ada sebuah makam yang sebelumnya ramai dikunjungi oleh penduduk kedua negara. Oleh pihak Lebanon makam tersebut merupakan makam Sheikh Abad sedangkan oleh warga Israel, makam itu merupakan makam seorang Rabi suci yang dikenal dengan nama Rabi Ashi. Karena pentingnya makam bagi kedua pihak akhirnya makam ini  “dibagi” menjadi dua bagian. Satu sisi makam menjadi milik Lebanon sedangkan separoh makam lainnya menjadi milik Israel.

Makam yang Dibagi Dua
Usai menerima penjelasan dari petugas OGL, rombongan kami diberi kesempatan oleh pihak penjaga makam dari tentara Nepal untuk mengunjungi makam tersebut secara bergantian dan berkelompok  yakni masing-masing maksimal enam orang dengan kawalan seorang prajurit Nepal yang kembali membawa bendera UN. Sebelum mengunjungi makam, aku dan seluruh rekan pelatihan diharuskan menitipkan sejumlah barang yang dianggap “haram” dibawa ke makam. Barang-barang itu antara lain senjata organik berupa pistol atau senjata api laras panjang, Hand Phone dan sejenisnya serta kamera foto maupun video. Barang ini ditaruh di atas meja yang telah disiapkan pihak Nepalese Army. Aku sendiri sebelum mengunjungi makam menitipkan pistol dan BB yang saat itu aku bawa. Setelah prosedur ini terlewati kami pun diperbolehkan mengunjungi makam yang selanjutnya diberi penjelasan langsung di depan makam oleh Wakil Komandan Kompi Nepal tentang kondisi makam.
Terbagi dua, bagaimana tanggapan si empunya makam ?
Melihat dari dekat makam yang terbagi dua, saat itu  hatiku miris, pertikaian yang berkepanjangan lah yang membuat makam orang yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu ini harus menerima getahnya, menjadi rebutan pihak Israel dan Lebanon.  Mungkin sang penghuni makam sendiri di dunia “sana” akan geleng-geleng kepala melihat makamnya terbagi menjadi dua dengan pagar kawat berduri yang menjadi pembatasnya.
Sebelum terjadi pertikaian antara Israel dan Lebanon, makam Sheikh Abad ini ramai dikunjungi para peziarah yang masih menghargai dan menghormati jasa-jasanya. Namun ada dua pandangan yang berbeda mengenai siapakah yang dikubur di dalam makam ini. Menurut kepercayaan tradisional orang Yahudi atau Israel, makam ini merupakan makam satu satu orang suci mereka yang disebut Rabi Ashi. Sedangkan kaum muslim Lebanon, mengklaim bahwa itu adalah makam seorang Muslim Syiah, bernama Sheikh Abbad, seorang pendiri gerakan Syiah di Lebanon yang hindup sekitar 500 tahun yang lalu.
Karena letaknya yang sangat strategis serta pentingnya arti makam tersebut bagi Israel maupun Lebanon maka makam ini menjadi rebutan kedua pihak. Israel menganggap lokasi tersebut masuk wilayahnya, demikian pula pihak Lebanon. Akhirnya pasukan penjaga perdamaian PBB pada Mei 2000, membagi lokasi makam ini menjadi dua bagian dengan mendirikan pagar pembatas berupa kawat berduri. Separuh makam menjadi miliki Israel, sedangkan separuh makam sisanya menjadi miliki Lebanon. PBB juga menentukan titik tengah makam ini menjadi salah satu lintasan blue line. Ketegasan PBB membagi lokasi makam menjadi dua bagian ini diterima kedua pihak dan akhirnya bias mengurangi terjadinya gesekan antara pasukan penjaga makam dari kedua belah pihak Israel dan Lebanon.
Bial diamati secara teliti, ada sesuatu yang sangat menyolok mengenai kondisi makam Sheikh Abad ini. Bila separoh makam yang masuk wilayah Lebanon hanya merupakan lapangan terbuka dengan sebagian di antaranya persis di depan makam berlantai keramik, namun separoh makam lainnya yang masuk wilayah Israel dipayungi oleh sebuah gedung besar mirip kapal laut yang dijadikan markas penjaga makam pihak tentara Israel dengan dukungan menara pengawas dan peralatan teknologi komunikasi yang menurutku cukup modern dan lengkap.
Menurut Kapten Manish dari Nepalese Army, yang juga menjadi Komandan Kompi Nepal “penjaga makam” di UNP 8-33, menara pengawas Israel di makam Sheik Abad tersebut dilengkapi dengan sejumlah peralatan seperti kamera intai yang cukup canggih dan semuanya diarahkan ke kawasan Lebanon. “ Beberapa bulan lalu, pihak Israel pernah mengajukan klaim ke Unifil karena kamera intai di sini merekam seorang prajurit Unifil yang sedang mengambil gambar yang jaraknya dari sini lima kilometer. Coba bayangkan, dari jarak sejauh itu, kamera intai di menara pengawas Israel ini mampu merekam gambar dari obyek yang cukup jauh tersebut. Tadinya mereka menganggap prajurit saya, tetapi setelah ditelusuri ternyata seorang rekan prajurit dari Cina. Namun kasus itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik oleh Unifil “ kata sang Kapten yang saat itu menjadi guide untuk menjelaskan kondisi makam kepada rombongan kami.
Foto bersama di depan patung Garuda peninggalan tentara Indonesia
Usai puas mengunjungi makam dan menyempatkan diri untuk berfoto bersama di bawah patung Garuda “Indonesia” yang masih berdiri tegak tak jauh dari pintu gerbang penjagaan, aku dan rombongan peserta program Induction Training Unifil segera melanjutkan perjalanan, mengunjungi lokasi berikutnya yang telah ditetakan pihak panitia.
***

No comments:

Post a Comment