Sunday, August 25, 2013

Catatan ke-42: Berita Dari Kampung Halaman



Seperti biasa, selama menjalani penugasan di Lebanon, aku selalu menjalin komunikasi dengan keluargaku di Jakarta dan juga saudara-saudaraku yang lain, orang tua, kakak dan adikku yang ada di Tegal, kakakku yang ada di Purbalingga, serta dua orang adikku yang tinggal di Malang dan Surabaya. Komunikasi tersebut aku lakukan dengan menggunakan media komunikasi yang ada sesuai dengan ketersediaan sarana komunikasi yang mereka miliki. Ada yang lewat telepon, SMS, BBM, Wechat, Whatsapp, hingga skype serta Facebook atau Facebook Video Call.
Melalui komunikasi rutin ini maka meskipun jaraknya sangat jauh, lebih dari 8.750 km Lebanon-Indonesia, sedikit banyak aku mengetahui informasi dan berita yang terjadi di tanah air khususnya yang menyangkut kondisi keluargaku. Dan seperti biasanya, kalau aku terima berita gembira seperti mendengar anakku serta keponakan-keponakanku meraih prestasi yang membanggakan di sekolahnya, maka  otomatis aku pun ikut bergembira mendengarnya. Demikian pula sebaliknya apabila ada berita atau informasi yang “menyedihkan” yang menyangkut keluargaku, maka secara otomatis, aku ikut pula merasakannya seperti mereka. Untuk yang terakhir ini aku akan sedikit menceritakan tentang pengalamanku saat menerima informasi “kurang mengenakkan” yang menimpa keluargaku.
Saat itu di awal Agustus, Sabtu malam Minggu dan masih berada di bulan Ramadhan. Usai menjalankan ibadah sholat Taraweh sekitar pukul 10.30 PM waktu Lebanon (di Indonesia sekitar pukul 02.30 WIB), seperti biasa aku buka Laptopku untuk mencoba berkomunikasi dengan keluarga sekaligus mengingatkan mereka untuk mempersiapkan makan sahur. Saat membuka Facebook, yang aku lihat pertama kali adalah daftar keluargaku yang saat itu sedang Online (OL). Saat itu, aku melihat tanda OL pada status FB salah satu adik perempuanku yang tinggal di desa Getaskerep, Kec. Talang, Kab. Tegal, bersama orang tuaku yang kini hanya tinggal Mamaku seorang. Aku pun langsung buka kotak chat dengannya. Setelah basa-basi sebentar, seperti biasa aku pun kemudian menanyakan kondisi semua keluarga yang ada di Tegal. Jawabnya semua dalam keadaan baik dan sehat, kecuali Mama?. Kenapa Mama? Tanyaku kaget. “ Mama seharian tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, tangan dan kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan”demikian jawab adikku dalam kotak chat FBku. “ Sudah dibawa ke Rumah Sakit Ti” tanyaku kepada adikku yang nama lengkapnyaTiti Mulyati ini. “ Belum sempat mas, tadi sudah diurut tapi belum ada perubahan”. Saat itu pikiranku sudah mulai khawatir dengan kesehatan Mamaku, salah satu orang yang sangat aku cintai dan kagumi tersebut. “ Oke Ti, besok pagi kamu bawa Mama ke rumah sakit, pinjam mobil Yos dan minta tolong segera antar ke rumah sakit” demikian perintahku kepada adikku tersebut. “ Kalau perlu dirawat, minta tolong dokter suruh rawat inap saja. Selanjutnya kamu informasikan kondisi Mama ke keluarga yang lain” lanjutku dalam ketikan chat FB. Adikku menggiyakan. Aku pun sedikit lega.
Mamaku sayang


Esoknya, saat aku buka FB aku menerima beberapa pesan dari adik-adikku, Mama dirawat di RSI Muhamadiyah Adiwerna Tegal. Hasil diagnosa dokter kemungkinan terkena Stroke Ringan, demikian kata adikku. Hatiku sedikit lega karena Mama sudah tertangani dokter. Demikian pula aku tidak lagi merasa khawatir ketika mendengar seluruh keluarga besarku sangat peduli terhadap kondisi Mama. Kakakku Wachid Effendi, yang tinggal di Purbalingga bersama istrinya, langsung meluncur ke Tegal. Demikian pula adikku Triswanto, yang  dinas di TNI AL Surabaya, menyempatkan diri langsung pulang menjenguk Mama, termasuk juga adikku Mujiono yang juga langsung “memboyong” anak dan istrinya ke Tegal, menjenguk kondisi Mama.
Bagaimana dengan aku sendiri? Melihat kepedulian dan kasih sayang adik dan kakak-kakakku yang begitu besar terhadap Mama, aku bingung…. Aku juga ingin melihat dan menjenguk Mama yang saat itu terkapar lemah di atas sprei rumah sakit… aku mau pulang …. Tapi melihat kondisiku yang jauh di negeri orang …. Aku sedikit bingung…. Kalau pulang jelas akan butuh waktu, harus melalui proses perijinan, harus ijin Komandan Satgasku dan tentu saja harus melalui prosedur yang ada di Unifil… paling tidak butuh waktu 1 minggu termasuk pemesanan tiket pesawat Beirut-Jakarta dan tetek bengek lainnya.
Setelah berpikir matang akhirnya aku putuskan untuk tidak pulang. Meskipun demikian, tidak hentinya aku berdoa terutama usai sholat fardhu, memohon kepada Allah SWT supaya memberi kesembuhan kepada Mamaku tersebut. Selain itu untuk menutupi ketidakhadiranku aku meminta Istriku, anak-anakku Vio dan Lita serta juga mertuaku yang ada di Jakarta untuk segera meluncur ke Tegal. Dan ini terpenuhi dengan baik sehingga pikiranku pun kembali lega dan tenang.
Sebagian keluarga besarku di  desa Getaskerep, Talang, Tegal
Dengan kehadiran seluruh keluarga besarku, termasuk isteri dan anak-anakku, kesehatan Mama akhirnya berangsur-angsur membaik.  Aku mengetahui ini setelah berkomunikasi langsung dengan Mama melalui FB Video Call adikku atau Skype isteriku. Seminggu kemudian Mamaku diperbolehkan pulang meski harus tetap kontrol dan menjalani sejumlah terapi. Saat tulisan ini dibuat, kondisi Mama sudah cukup baik, sudah bisa jalan dan bisa meninggalkan kursi rodanya. Terima kasih Ya Allah!.
Mama (Ibu) seperti juga Abah (ayahku) dalam pandanganku merupakan dua orang yang paling aku sayangi dan juga aku kagumi di dunia ini. Tanpa mereka, aku tidak bisa “sukses” seperti sekarang ini. Oleh karena itu, semenjak Abahku meninggal sekitar 1999 lalu, aku dan keluargaku yang lain berusaha membahagiakannya di usianya yang sudah lanjut. Aku sendiri merasa belum maksimal membahagiakannya sehingga aku tidak ingin “terlambat” selama beliau masih hidup menghabiskan masa tuanya di kampung kelahiranku.
***

Monday, August 5, 2013

Catatan ke-41: Kunjungan Super Singkat



Truk sedang milik TCot Italia yang digunakan dalam kunjungan ke Local Leader


 Untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat terhadap keberadaan Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), termasuk untuk mengetahui permasalahan yang ada, Military Community Outreach Unit (MCOU) selalu melaksanakan kunjungan/ silaturahmi ke Local Leader/ Local People atau Mukhtar atau Mayor (di Indonesia sekelas, Kepala Dusun/ Desa/Camat). Komunikasi langsung (face to face) ini dilaksanakan secara bergantian di 162 desa yang ada di Area Operasi Unifil.
Dalam pelaksanaannya, Komunikasi langsung dengan Local Leader/ Local People ini dilakukan oleh suatu unit kecil di struktur organisasi MCOU yang dinamakan Tactical Community Outreach Team (Tcot). Saat ini tim outreach terbagi menjadi dua yakni Tcot Alfa dengan kekuatan dari personel Italia dan Tcot Beta yang berintikan personel dari Indonesia. Sedangkan dalam situasi tertentu, bisa terbentuk pula Tcot cadangan dengan nama Tcot Alpa1 maupun Tcot Beta1 yang beranggotakan personel campuran Indonesia-Italia. Sedangkan untuk volume kunjungan masing-masing Tcot adalah dua hingga 3 desa dalam setiap minggunya.
Meski memasuki bulan Ramadhan pada Juli hingga awal Agustus 2013 saat ini, volume dan tugas Tcot dalam melaksanakan kunjungan tersebut tidak berubah dan tidak berkurang. Tidak ada perbedaan yang menyolok dibandingkan volume kegiatan di luar bulan puasa. Semuanya harus terlaksana sesuai kalender kegiatan kunjungan yang telah tercantum di dalam Frago, kunjungan dua atau tiga kali harus tetap berjalan.
Obyek kunjungan Tcot di seluruh Area Operasi Unifil
Memang bagi personel Indonesia terutama untuk Tcot Beta, volume kunjungan yang tidak berbeda dengan hari-hari di luar bulan puasa, pada awalnya cukup berat dan “menjenuhkan”. Apalagi bila wilayah yang dikunjungi cukup jauh seperti di sector east, South Lebanon yang rata-rata harus ditempuh 2 jam perjalanan dari Naqoura, kondisi berpuasa tentunya memiliki tantangan tersendiri. Belum lagi bila dihadapkan dengan Mayor yang “ketus” dan kurang welcome dengan Unifil maka lengkaplah sudah tantangan itu. Namun demikian, semua itu dapat teratasi dengan baik dan pada akhirnya justru menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi Tcot Indonesia itu sendiri. Sedangkan khusus bagi Tcot Alfa yang berintikan personel Italia, kondisi puasa atau tidak, bukan menjadi halangan karena mereka semua non muslim, usai Outreach, mereka mau mampir ke restorant atau sekedar menikmati Piza atau Kebab Lebanon, no problem!.

Kunjungan Super Singkat
Dari puluhan kunjungan dalam satu bulan yang menjadi “makanan” sehari-hari Tcot Alfa Italia maupun Tcot Beta Indonesia, ada sejumlah kunjungan menarik yang aku alami sendiri di bulan puasa ini. Kunjungan pertama adalah ketika aku diminta memperkuat Tcot Alfa berkunjung ke sebuah desa bernama Sil’a dengan kode Unifil V12 yang berada di area operasi pasukan Malaysia.
Desa dengan populasi penduduk sekitar 3500 orang yang sebagian besar beraliran Syiah tersebut dipimpin seorang Mayor yakni Mr. Ali Ahmad Naim. Aku mengikuti rombongan Tcot Italia berkunjung ke desa ini pada Rabu, 31 Juli 2013. Aku sendiri Csgt M. Syafrudin, dua personel Italia yakni Properzio P. dan Marino M. dengan didampingi H. Aziz, penerjemah kami yang asli Lebanon. Dengan menggunakan kendaraan truk berukuran sedang milik Italia, kami berangkat dari kantor MCOU pukul 09.15 AM dan tiba di lokasi pukul 10.20 AM.
Seperti halnya kunjungan-kunjungan yang pernah aku ikuti sebelumnya, pada awalnya aku beranggapan tidak ada sesuatu yang menarik dalam kunjungan kali ini. Intinya pasti sama, bertemu dengan sang Mayor, berbincang tentang keberadaan Unifil dan keadaan desa, memberikan souvenir seperti majalah  Al Janoub dan leaflet 1701, selesai sudah dan selanjutnya pulang. Meski gambaran pokok rutinitas yang tidak pernah menyalahi dari “pakem” kunjungan itu tetap ada, namun ternyata ada sesuatu yang berbeda ketika kami telah tiba di lokasi.
Sesuatu yang menurut aku menarik adalah ketika aku diperlihatkan bahwa lokasi pertemuan yang menurut kebiasaan tidak terlepas dari dua tempat yakni kalau tidak di Municipality (kantor kelurahan/ kecamatan/ walikota) maka terkadang pula lokasi pertemuannya di rumah sang Mayor. Tetapi saat kami berkunjung ke V12 Sil’a ini kami bertemu dengan sang Mayor di sebuah toko kelontong miliknya. “ Apa ini tidak salah?” tanyaku menegaskan kepada Aziz, sang penterjemah yang asli Lebanon serta Marino M, Chief Convoy dari Italia. Memang sesuai yang aku baca di Komputer “Lotus” yang berada di atas meja kerjaku, lokasi meeting memang di shop atau toko, akan tetapi tetap saja aku masih heran sehingga aku tegaskan ketika tiba di lokasi pertemuan. “Yes, no mistake. This is location for meeting today. This village has no municipality building, consequently the Major changes his store is a temporary municipality office. More simple, while working to serve the citizens can also watch store (Ya, tidak ada yang salah. Inilah lokasi untuk pertemuan hari ini. Desa ini tidak mempunyai gedung kantor, akibatnya sang Mayor mengubah toko miliknya ini menjadi kantor municipality sementara. Lebih simple, sambil bekerja dan dan juga jaga toko) “  demikian penjelasana sang Chief Convoy dari Italia yang disampaikan dengan bahasa Inggrisnya yang beraksen Italia.
Singkat cerita, aku, Marino dan Aziz akhirnya masuk “municipality” dan diterima langsung oleh sang Mayor Sil’a Mr. Ali Ahmad Naim, seorang pria setengah baya, berusia sekitar 45 tahun dengan wajahnya yang khas Lebanon. Setelah duduk berhadapan di pojok ruangan di dalam toko, terhalang sebuah meja kerja atau “meja kasir” kami pun mulai berbincang-bincang. Dan perbincangan ini bagiku juga sedikit berbeda dari biasanya. Bila dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, peran Langguange Assistant (LA) atau intepreter sangat vital yakni menterjemahkan omongan kami ke dalam bahasa Arab yang langsung disampaikan kepada Mayor dan sebaliknya menterjemahkan bahasa Arab dari tanggapan sang Mayor ke dalam bahasa Inggris yang kemudian disampaikan kepada kami. Pada kunjungan ke Mayor Sil’a ini kami tidak membutuhkan intepreter karena sang Mayor sudah fasih memahami bahasa Inggris. Praktis akhirnya, H. Aziz, sang intepreter kami cuma jadi pelengkap, duduk di samping kami mengawani kami mengobrol.
Karena kenyataan tersebut maka kami pun langsung berbincang-bincang dengan sang Mayor tanpa harus melalui pihak ketiga yaitu sang intepreter bawaan kami tersebut. Kepada Mr. Ali Ahmad Naim, seperti pada kunjungan lainnya, Marino menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami yang selanjutnya disusul dengan keinginan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan persepsi sang Mayor dan warganya terhadap Unifil serta keinginan untuk mengetahui sejumlah permasalahan yang mungkin dihadapi oleh sang Mayor ataupun warga desanya.  Sang Mayor yang aku yakin dan mengetahui persis termasuk tipe orang yang tidak banyak bicara, menanggapi dan menjawab seluruh keinginan kami tersebut dengan cepat dan tidak bertele-tele. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, hanya sepatah dua patah kata dalam bahasa Inggris yang cukup fasih meski masih terlihat aksen timur tengahnya.
Melihat tanggapan yang singkat padat tersebut, kami pun tidak bisa banyak omong lagi. Hubungan dengan Unifil bagus, tidak ada masalah di daerahnya, kendaraan Unifil pun tidak mengganggu, tidak ada klaim atau protes, tidak ada informasi yang perlu digali lagi! Akhirnya karena “everything is okay” maka kami pun pamitan. Dan inilah mungkin “rekor” kunjungan tercepat yakni cuma sekitar 5 menit meski yang kami kunjungi termasuk tipe Mayor yang “welcome” terhadap Unifil.
Kunjungan super cepat tersebut tidak aku temui kembali ketika keesokan harinya, aku dengan team yang sama yakni Tcot Alfa Italia melaksanakan kunjungan ke desa Rishknayah yang berkode Y14, masih di area operasi pasukan kawan dari Malaysia. Di desa yang mayoritas Shiah ini rombongan kami ditemui Mr. Hussein Dibb, anggota Municipality yang saat itu mewakili Mr Raef Hashem, sang Mayor yang katanya berhalangan karena ada sesuatu yang urgent. Di dalam pertemuan ini, perbincangan kami cukup lama dan sangat hidup, di mana Mr Hussein Dibb menceritakan dan menanggapi semua pertanyaan dan pernyataan kami dengan cukup baik dan kalimat-kalimat yang cukup panjang yang saat itu diterjemahkan oleh N. Matta, Langguage Assistant kami.

Friday, July 26, 2013

Catatan ke-40 : Menghadiri Pesta Pernikahan Khas Lebanon




Tradisi pernikahan khas Lebanon yang meriah
  Pada Sabtu malam, 20 Juli 2013, aku dan seluruh anggota MCOU (Military Community Outreach Unit) Unifil Kontingen  Garuda XXX-C mendapat undangan kehormatan untuk hadir dalam pesta pernikahan rekan kerja kami Elie AKL, anggota Languange Assistant (LA) MCOU yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah di kawasan Marjayeoun, South Lebanon. Elie AKL yang berbadan subur ini menghabiskan masa lajangnya dengan mengawini Caroline, seorang gadis Lebanon yang cantik.
Kami berangkat dari Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon pukul 06.00 PM dengan mengendarai tiga mobil. Waktu pemberangkatan ini disesuaikan dengan rencana kami di mana kami harus tiba di markas Satgas Military Police Indonesia yakni Sector East Military Police Unit (Sempu) Marjayeoun sekitar pukul 08.00 PM di mana waktu tersebut adalah waktu berbuka puasa untuk kawasan South Lebanon. Dan perkiraan ini tidak meleset, tiga mobil kami memasuki markas Sempu ini tepat waktu berbuka. Setelah menggugurkan puasa dengan takjil yang telah disediakan rekan-rekan dari Sempu, kami melaksanakan sholat Maghrib berjamaah yang selanjutnya bergeser ke ruang makan untuk berbuka puasa bersama. Menu yang tersedia saat itu cukup menggugah selera makan kami, ayam goreng, soto kambing dan lalapan dengan rasa khas Indonesia yang sedap, gurih, pedas dan sedikit manis. Usai makan, tepat pukul 08.45 PM, kami pun keluar dari markas Sempu menuju tempat pesta pernikahan.

Masakan yang Asing
Salah satu rombongan Satgasku di depan meja makan
Pertama kali datang sekitar pukul 09.00 PM, rombongan kami langsung disambut oleh sepuluh orang laki-laki dan perempuan setengah baya dengan pakaian yang campuran (aku yakin mereka ini adalah kerabat maupun rekan-rekan). Setelah menerima ucapan selamat datang dari mereka ini, kami selanjutnya diarahkan menuju sebuah meja kecil yang ditunggui empat gadis Lebanon dengan pakaiannya yang cukup seksi, corak-corak putih berenda dengan belahan yang terbuka cukup lebar. Bagi kami mereka cukup anggun dengan kecantikan khas gadis Timur Tengah. Setelah perwakilan kami menulis dan menjelaskan tentang rombongan kami, keempat gadis tersebut dengan ramah mengarahkan kami untuk segera memasuki area pesta yang berada di halaman samping hotel berupa area taman hijau yang cukup luas dengan sebuah kolam renang kecil di tengah-tengahnya.
Saat kami memasuki area pesta taman ini, hampir seluruh meja bundar yang bernomor dengan sepuluh kursi yang mengelilinya telah terisi dengan para undangan. Tiga orang gadis cantik penerima tamu yang dandanannya tidak berbeda jauh dengan empat gadis yang pertama, mengantarkan rombongan kami ke dua buah meja yang tidak berada jauh dari tempat masuk yang saat itu masih belum terisi. Kami pun segera menempati tempat ini.
Menu masakan yang terasa asing untuk lidah Indonesia
Di atas meja kami masing-masing sudah tersedia makanan dan minuman yang cukup banyak. Kami tidak tahu persis apa namanya, akan tetapi setelah kami coba satu persatu, rasanya terlalu asing bagi kami dan tidak memungkinkan kami untuk memakannya. Aku dan rekan-rekan akhirnya hanya menghabiskan makanan ringan berupa kacang-kacangan serta beberapa piring cumi goreng tepung yang rasanya hampir sama dengan masakan Indonesia. Ketika acara selesai dan para pelayan menyuguhkan sekitar empat kali masakan baru, rasanya tetap saja, tidak sesuai dengan lidah dan rasa Indonesia. Untuk minumannya pun aku dan rekan-rekan hanya menghabiskan empat botol coca cola besar dan air putih. Sedangkan dua botol anggur “black label” yang berada diatas meja sedari kami datang tidak kami sentuh sama sekali. “ Hati-hati, ini bulan puasa, dan ini bisa membuat mabuk” demikian kata salah seorang senior kami mengingatkan agar kami tidak usah menyentuh minuman tersebut. Kami semua menurut. Jadi praktis, bila meja-meja lain di sekeliling kami makanannya cepat ludas dan cepat diganti dengan makanan baru yang mereka sukai, meja kami tetap utuh, sesekali kami hanya minta tambahan kacang goreng/kwaci, cumi goreng tepung, air putih maupun coca cola. 

Menikmati dan Mencoba Tarian “Dabke”
Setelah seperempat jam kami mencoba menikmati makanan khas Lebanon, acara pernikahan yang kami tunggu-tunggu pun dimulai. Tiba-tiba dengan diiringi musik Lebanon yang cukup keras, muncul enam orang penari pria dan empat penari wanita dengan dandanan khas yang unik, baju kedodoran warna putih kombinasi hitam dengan corak yang mengingatkan kita akan baju tokoh cerita “Ali Baba” berlari menuju pusat acara, yakni sebuah panggung yang dipayungi tenda warna biru yang berada di pinggir kolam. Dua di antara penari pria ini memainkan alat musik seperti drum dan rebana yang dipukul keras-keras mengiringi gerakan mereka.
Aksi penari tradisional Dabke
Tiba di tengah panggung, para penari ini selanjutnya melenggak-lenggokkan badannya mengikuti irama musik remix Lebanon yang keras dengan gerakan tangan dan langkah kaki yang teratur dan serempak. Gerakan-gerakan tari mereka ini cenderung mengandalkan koordinasi gerakan kaki yang menghentak-hentak lantai dengan keras yang sesekali diiringi dengan loncatan-loncatan kecil yang cukup dinamis dan menarik.
Dari informasi yang aku terima saat itu, yakni setelah berbincang-bincang dengan rekan Language Assitant MCOU lainnya yang hadir seperti Habib, Nisrine dan Jihad, aku dan rekan-rekan Satgas baru mengetahui bila tarian yang mereka mainkan tersebut dinamakan “Dabke”.  Dabke ini adalah tarian nasional Lebanon yang dilakukan hampir di setiap acara-acara penting keluarga seperti pernikahan dan juga di klub malam, restoran, dan tempat hiburan lainnya. Tarian Dabke ini akan selalu muncul untuk mewarnai kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Ciri khas tarian Dabke dengan kaki yang menghentak lantai
Pada awalnya "Dabke" adalah tarian yang dilakukan oleh penduduk yang berbeda dari kawasan pegunungan yang terbentang di antara pantai Mediterania dan Sungai Tigriss. Oleh karena itu tarian ini hanya milik desa-desa dan kota-kota kecil di Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Irak. Popularitas Dabke di pedesaan Lebanon pada akhirnya membawa keragaman irama tarian ini mulai dari sangat lambat hingga sangat cepat, langkah-langkah (mtanniye, mtallate, arja), dan lagu-lagu berirama dan melodi (dal'ouna, houwara, nadda, haykalo, zayno, dll). Tarian Dabke yang aku saksikan malam tersebut, kini merupakan landasan dari seni tari Lebanon modern meskipun gayanya  berbeda banyak dengan tarian lainnya.
Para penari Dabke, pemuda dan pemudi pada umumnya mengenakan pakaian meriah. Para wanita mengenakan rok terusan dengan balutan kemeja dan rompi panjang ditambah kerudung dan hiasan kepala dengan dekorasi yang indah dan manik-manik rumit yang menghiasi kepala mereka. Sedangkan para pria mengenakan sherwals dan labbadeh (celana baggy dan merasa topi) dengan rompi warna-warni di atas kemeja dan sepatu bot mereka. Dua diantaranya membawa derbake (drum kecil yang terbuat dari tanah liat kulit kambing silinder dan membentang).
Menyambut kedatangan pengantin wanita
Ketika musik mulai menghentak-hentak dengan suara keras dan membisingkan telinga, para penari ini berpegangan tangan dan mulai menari dengan iringan lagu daloonah, dasar lagu dari semua tarian Dabkes. Selanjutnya mereka menginjak-injak tanah dengan kaki yang kompak dan sementara yang lain bertepuk tangan sehingga tercipta suasana yang tepat.
Setelah sekitar sepuluh menit, para penari Dabke ini mempertontonkan kepiawaiannya dalam mengatur gerak dan lagu dalam alunan Dabke yang menghentak-hentak, tiba-tiba muncul rombongan pria yang mengantarkan Elie AKL sang pengantin pria menuju panggung tarian. Dan tiba di tempat ini, aku sempat kaget karena sang pengantin dan rombongannya langsung berbaur dengan “Dabke”. Sang pengantin yang berkemeja putih dengan dibalut jas hitam ternyata cukup mahir mengikuti gerakan para penari utama. Bahkan terkadang gerakannya lebih luwes meski harus menopang tubuhnya yang subur dan gempal.
Pengantin berbaur dalam tarian Dabke
Sepuluh menit kemudian, musik berganti lembut dan seluruh pandangan mata yang hadir saat itu dilayangkan ke pintu masak taman. Dari tempat ini, Caroline sang pengantin wanita dengan diiringi dua “dayang” wanitannya terlihat mulai memasuki tempat acara. Cara masuk mereka cukup unik, sang pengantin wanita yang mengenakan baju pengantin putih bak putri istana berjalan perlahan menembus gulungan asap putih dan percikan kembang api. Usai di panggung, seperti halnya pengantin pria, pengantin wanita ini pun langsung berbaur dan menyatu dalam hentakan tarian Dabke.
Demikianlah, selama kurang lebih dua jam setengah, kami disuguhi hentakan musik keras ala Lebanon untuk mengiringi tarian Dabke. Para undangan secara bergantian mengiringi kedua pengantin nge”dabke”. Bahkan secara khusus, sang pengantin mendatangi meja kami yang mungkin dianggap paling antik karena dari “Indonesia” yang sedikit berbeda budaya untuk ikut larut dalam kebahagiannya dengan mencoba dan merasakan tarian Dabke. Kami pun menurut, mencoba tarian Dabke degan gaya kami masing-masing.
Pemotongan kue perkawinan dengan pedang kehormatan
Acara pernikahan yang kami hadiri tersebut berakhir pada pukul 12.15 AM yang sebelumnya ditandai dengan pemotongan kue raksasa yang dipotong dengan menggunakan pedang kehormatan.
Dari tempat pesta, rombongan kami selanjutnya bergerak menuju markas Indobatt untuk beristirahat malam. Kami memilih menginap di markas rekan kami tersebut ketimbang langsung pulang ke Naqoura, dengan pertimbangan cukup berisiko karena kondisi yang cukup lelah, jalanan rawan karena dikelilingi jurang serta faktor keamanan lainnya. Esoknya usai melaksanakan Sahur dan sholat Subuh berjamaah, rombongan kami bergerak kembali ke Naqoura.

Usia Nikah dan Amplop Pernikahan
Menurut Elie, usia rata-rata pernikahan di Lebanon terutama yang berpendidikan dan tinggal di kota-kota besar adalah 30 tahun untuk perempuan dan usia 35 tahun untuk laki-laki.  Menurutnya banyak alasan di balik pernikahan yang kelewat lambat di antaranya karena faktor ekonomi seperti adanya upah yang cukup rendah sehingga mempengaruhi kesiapan calon suami maupun isteri, perumahan mahal, efek emigrasi pada kedua jenis kelamin, pernikahan laki-laki untuk pasangan asing, dan harapan hidup yang disebabkan oleh konsumerisme. Pencapaian pendidikan perempuan, kebebasan dari kontrol ekonomi laki-laki, dan ambisi karir juga memberikan kontribusi faktor.
Fotoku dengan kedua pengantin
Dari beberapa sumber lain terkait dengan tradisi pernikahan masyarakat Lebanon ini, di antara orang Islam dan Kristen, ada preferensi tradisional untuk pernikahan dengan seorang sepupu patrilineal. Namun, praktek ini telah ditinggalkan di beberapa kawasan kecuali kawasan / daerah yang paling konservatif atau kolot memegang aturan ini.  Meskipun poligami diperbolehkan di bawah hukum Islam, praktik ini jarang terjadi dalam budaya Lebanon. Hal ini dianggap sebagai tidak praktis karena beban keuangan akan semakin membengkak dan pada banyak kasus memunculkan komplikasi pribadi. Usia pernikahan pun bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Di beberapa desa, perempuan menikah di akhir remaja dan anak laki-laki menikah di awal dua puluhan. Di daerah perkotaan, pemuda menikah pada usia yang relatif lambat. Mereka yang berpendidikan tinggi menunda pernikahan mereka sampai akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Sedangkan  khusus untuk pernikahan antar agama dan pernikahan sipil tidak diizinkan. Akan tetapi banyak pasangan yang terkena aturan ini bepergian ke luar negeri dan menikah di negara tujuan, karena pernikahan sipil asing diakui oleh pemerintahan Lebanon.
Foto bersama pengantin dan Satgas MCOU
Bagaimana dengan amplop pernikahan? Seperti halnya di Indonesia, sebagian besar masyarakat Lebanon terutama yang berada di pedesaan, memberikan sekedar tanda tali kasih kepada mereka yang sedang berbahagia melaksanakan pernikahan dalam bentuk barang maupun uang. Untuk pemberian dalam bentuk uang, jumlahnya tidak dibatasi sesuai dengan kemampuan, tetapi rata-rata minimal 10 ribu liban untuk ekonomi kelas bawah ($1 = 1500 liban).
Tradisi lain yang sedikit berbeda adalah untuk perkawinan yang dilaksanakan oleh mereka yang dianggap kelas menengah ke atas yang pesta pernikahannya umumnya dilaksanakan di gedung-gedung maupun hotel-hotel, tidak ada amplop atau kotak amplop dalam acara mereka. Seperti halnya pernikahan rekan kami Elie AKL, amplop tali kasih dari undangan sudah diterima sebelum acara dalam bentuk tranfer antar rekening. Jadi pada umumnya Undangan Perkawinan yang mereka sebarkan itu, di dalamnya sudah tercantum nomor rekening calon pengantin. Model ini menurutku cukup praktis, sebab calon pengantin dapat merencanakan pesta sesuai dengan jumlah tamu undangan dan juga menyesuaikan dengan jumlah uang yang mereka terima dalam rekeningnya. 
***