Seperti biasa, selama menjalani penugasan di
Lebanon, aku selalu menjalin komunikasi dengan keluargaku di Jakarta dan juga
saudara-saudaraku yang lain, orang tua, kakak dan adikku yang ada di Tegal,
kakakku yang ada di Purbalingga, serta dua orang adikku yang tinggal di Malang
dan Surabaya. Komunikasi tersebut aku lakukan dengan menggunakan media
komunikasi yang ada sesuai dengan ketersediaan sarana komunikasi yang mereka
miliki. Ada yang lewat telepon, SMS, BBM, Wechat, Whatsapp, hingga skype serta
Facebook atau Facebook Video Call.
Melalui komunikasi rutin ini maka meskipun
jaraknya sangat jauh, lebih dari 8.750 km Lebanon-Indonesia, sedikit banyak aku
mengetahui informasi dan berita yang terjadi di tanah air khususnya yang
menyangkut kondisi keluargaku. Dan seperti biasanya, kalau aku terima berita
gembira seperti mendengar anakku serta keponakan-keponakanku meraih prestasi
yang membanggakan di sekolahnya, maka
otomatis aku pun ikut bergembira mendengarnya. Demikian pula sebaliknya
apabila ada berita atau informasi yang “menyedihkan” yang menyangkut
keluargaku, maka secara otomatis, aku ikut pula merasakannya seperti mereka.
Untuk yang terakhir ini aku akan sedikit menceritakan tentang pengalamanku saat
menerima informasi “kurang mengenakkan” yang menimpa keluargaku.
Saat itu di awal Agustus, Sabtu malam Minggu
dan masih berada di bulan Ramadhan. Usai menjalankan ibadah sholat Taraweh
sekitar pukul 10.30 PM waktu Lebanon (di Indonesia sekitar pukul 02.30 WIB),
seperti biasa aku buka Laptopku untuk mencoba berkomunikasi dengan keluarga
sekaligus mengingatkan mereka untuk mempersiapkan makan sahur. Saat membuka
Facebook, yang aku lihat pertama kali adalah daftar keluargaku yang saat itu
sedang Online (OL). Saat itu, aku melihat tanda OL pada status FB salah satu adik
perempuanku yang tinggal di desa Getaskerep, Kec. Talang, Kab. Tegal, bersama orang tuaku yang kini hanya tinggal
Mamaku seorang. Aku pun langsung buka kotak chat dengannya. Setelah basa-basi
sebentar, seperti biasa aku pun kemudian menanyakan kondisi semua keluarga yang
ada di Tegal. Jawabnya semua dalam keadaan baik dan sehat, kecuali Mama?.
Kenapa Mama? Tanyaku kaget. “ Mama seharian tidak bisa bangun dari tempat
tidurnya, tangan dan kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan”demikian jawab
adikku dalam kotak chat FBku. “ Sudah dibawa ke Rumah Sakit Ti” tanyaku kepada
adikku yang nama lengkapnyaTiti Mulyati ini. “ Belum sempat mas, tadi sudah
diurut tapi belum ada perubahan”. Saat itu pikiranku sudah mulai khawatir
dengan kesehatan Mamaku, salah satu orang yang sangat aku cintai dan kagumi tersebut.
“ Oke Ti, besok pagi kamu bawa Mama ke rumah sakit, pinjam mobil Yos dan minta
tolong segera antar ke rumah sakit” demikian perintahku kepada adikku tersebut.
“ Kalau perlu dirawat, minta tolong dokter suruh rawat inap saja. Selanjutnya
kamu informasikan kondisi Mama ke keluarga yang lain” lanjutku dalam ketikan
chat FB. Adikku menggiyakan. Aku pun sedikit lega.
![]() |
| Mamaku sayang |
Esoknya, saat aku buka FB aku menerima
beberapa pesan dari adik-adikku, Mama dirawat di RSI Muhamadiyah Adiwerna
Tegal. Hasil diagnosa dokter kemungkinan terkena Stroke Ringan, demikian kata
adikku. Hatiku sedikit lega karena Mama sudah tertangani dokter. Demikian pula
aku tidak lagi merasa khawatir ketika mendengar seluruh keluarga besarku sangat
peduli terhadap kondisi Mama. Kakakku Wachid Effendi, yang tinggal di
Purbalingga bersama istrinya, langsung meluncur ke Tegal. Demikian pula adikku
Triswanto, yang dinas di TNI AL
Surabaya, menyempatkan diri langsung pulang menjenguk Mama, termasuk juga
adikku Mujiono yang juga langsung “memboyong” anak dan istrinya ke Tegal,
menjenguk kondisi Mama.
Bagaimana dengan aku sendiri? Melihat
kepedulian dan kasih sayang adik dan kakak-kakakku yang begitu besar terhadap
Mama, aku bingung…. Aku juga ingin melihat dan menjenguk Mama yang saat itu
terkapar lemah di atas sprei rumah sakit… aku mau pulang …. Tapi melihat
kondisiku yang jauh di negeri orang …. Aku sedikit bingung…. Kalau pulang jelas
akan butuh waktu, harus melalui proses perijinan, harus ijin Komandan Satgasku
dan tentu saja harus melalui prosedur yang ada di Unifil… paling tidak butuh
waktu 1 minggu termasuk pemesanan tiket pesawat Beirut-Jakarta dan tetek bengek
lainnya.
Setelah berpikir matang akhirnya aku putuskan
untuk tidak pulang. Meskipun demikian, tidak hentinya aku berdoa terutama usai
sholat fardhu, memohon kepada Allah SWT supaya memberi kesembuhan kepada Mamaku
tersebut. Selain itu untuk menutupi ketidakhadiranku aku meminta Istriku,
anak-anakku Vio dan Lita serta juga mertuaku yang ada di Jakarta untuk segera
meluncur ke Tegal. Dan ini terpenuhi dengan baik sehingga pikiranku pun kembali
lega dan tenang.
![]() |
| Sebagian keluarga besarku di desa Getaskerep, Talang, Tegal |
Dengan kehadiran seluruh keluarga besarku,
termasuk isteri dan anak-anakku, kesehatan Mama akhirnya berangsur-angsur
membaik. Aku mengetahui ini setelah
berkomunikasi langsung dengan Mama melalui FB Video Call adikku atau Skype
isteriku. Seminggu kemudian Mamaku diperbolehkan pulang meski harus tetap
kontrol dan menjalani sejumlah terapi. Saat tulisan ini dibuat, kondisi Mama
sudah cukup baik, sudah bisa jalan dan bisa meninggalkan kursi rodanya. Terima
kasih Ya Allah!.
Mama (Ibu) seperti juga Abah (ayahku) dalam
pandanganku merupakan dua orang yang paling aku sayangi dan juga aku kagumi di
dunia ini. Tanpa mereka, aku tidak bisa “sukses” seperti sekarang ini. Oleh
karena itu, semenjak Abahku meninggal sekitar 1999 lalu, aku dan keluargaku
yang lain berusaha membahagiakannya di usianya yang sudah lanjut. Aku sendiri
merasa belum maksimal membahagiakannya sehingga aku tidak ingin “terlambat”
selama beliau masih hidup menghabiskan masa tuanya di kampung kelahiranku.
***


No comments:
Post a Comment