Sunday, August 25, 2013

Catatan ke-42: Berita Dari Kampung Halaman



Seperti biasa, selama menjalani penugasan di Lebanon, aku selalu menjalin komunikasi dengan keluargaku di Jakarta dan juga saudara-saudaraku yang lain, orang tua, kakak dan adikku yang ada di Tegal, kakakku yang ada di Purbalingga, serta dua orang adikku yang tinggal di Malang dan Surabaya. Komunikasi tersebut aku lakukan dengan menggunakan media komunikasi yang ada sesuai dengan ketersediaan sarana komunikasi yang mereka miliki. Ada yang lewat telepon, SMS, BBM, Wechat, Whatsapp, hingga skype serta Facebook atau Facebook Video Call.
Melalui komunikasi rutin ini maka meskipun jaraknya sangat jauh, lebih dari 8.750 km Lebanon-Indonesia, sedikit banyak aku mengetahui informasi dan berita yang terjadi di tanah air khususnya yang menyangkut kondisi keluargaku. Dan seperti biasanya, kalau aku terima berita gembira seperti mendengar anakku serta keponakan-keponakanku meraih prestasi yang membanggakan di sekolahnya, maka  otomatis aku pun ikut bergembira mendengarnya. Demikian pula sebaliknya apabila ada berita atau informasi yang “menyedihkan” yang menyangkut keluargaku, maka secara otomatis, aku ikut pula merasakannya seperti mereka. Untuk yang terakhir ini aku akan sedikit menceritakan tentang pengalamanku saat menerima informasi “kurang mengenakkan” yang menimpa keluargaku.
Saat itu di awal Agustus, Sabtu malam Minggu dan masih berada di bulan Ramadhan. Usai menjalankan ibadah sholat Taraweh sekitar pukul 10.30 PM waktu Lebanon (di Indonesia sekitar pukul 02.30 WIB), seperti biasa aku buka Laptopku untuk mencoba berkomunikasi dengan keluarga sekaligus mengingatkan mereka untuk mempersiapkan makan sahur. Saat membuka Facebook, yang aku lihat pertama kali adalah daftar keluargaku yang saat itu sedang Online (OL). Saat itu, aku melihat tanda OL pada status FB salah satu adik perempuanku yang tinggal di desa Getaskerep, Kec. Talang, Kab. Tegal, bersama orang tuaku yang kini hanya tinggal Mamaku seorang. Aku pun langsung buka kotak chat dengannya. Setelah basa-basi sebentar, seperti biasa aku pun kemudian menanyakan kondisi semua keluarga yang ada di Tegal. Jawabnya semua dalam keadaan baik dan sehat, kecuali Mama?. Kenapa Mama? Tanyaku kaget. “ Mama seharian tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, tangan dan kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan”demikian jawab adikku dalam kotak chat FBku. “ Sudah dibawa ke Rumah Sakit Ti” tanyaku kepada adikku yang nama lengkapnyaTiti Mulyati ini. “ Belum sempat mas, tadi sudah diurut tapi belum ada perubahan”. Saat itu pikiranku sudah mulai khawatir dengan kesehatan Mamaku, salah satu orang yang sangat aku cintai dan kagumi tersebut. “ Oke Ti, besok pagi kamu bawa Mama ke rumah sakit, pinjam mobil Yos dan minta tolong segera antar ke rumah sakit” demikian perintahku kepada adikku tersebut. “ Kalau perlu dirawat, minta tolong dokter suruh rawat inap saja. Selanjutnya kamu informasikan kondisi Mama ke keluarga yang lain” lanjutku dalam ketikan chat FB. Adikku menggiyakan. Aku pun sedikit lega.
Mamaku sayang


Esoknya, saat aku buka FB aku menerima beberapa pesan dari adik-adikku, Mama dirawat di RSI Muhamadiyah Adiwerna Tegal. Hasil diagnosa dokter kemungkinan terkena Stroke Ringan, demikian kata adikku. Hatiku sedikit lega karena Mama sudah tertangani dokter. Demikian pula aku tidak lagi merasa khawatir ketika mendengar seluruh keluarga besarku sangat peduli terhadap kondisi Mama. Kakakku Wachid Effendi, yang tinggal di Purbalingga bersama istrinya, langsung meluncur ke Tegal. Demikian pula adikku Triswanto, yang  dinas di TNI AL Surabaya, menyempatkan diri langsung pulang menjenguk Mama, termasuk juga adikku Mujiono yang juga langsung “memboyong” anak dan istrinya ke Tegal, menjenguk kondisi Mama.
Bagaimana dengan aku sendiri? Melihat kepedulian dan kasih sayang adik dan kakak-kakakku yang begitu besar terhadap Mama, aku bingung…. Aku juga ingin melihat dan menjenguk Mama yang saat itu terkapar lemah di atas sprei rumah sakit… aku mau pulang …. Tapi melihat kondisiku yang jauh di negeri orang …. Aku sedikit bingung…. Kalau pulang jelas akan butuh waktu, harus melalui proses perijinan, harus ijin Komandan Satgasku dan tentu saja harus melalui prosedur yang ada di Unifil… paling tidak butuh waktu 1 minggu termasuk pemesanan tiket pesawat Beirut-Jakarta dan tetek bengek lainnya.
Setelah berpikir matang akhirnya aku putuskan untuk tidak pulang. Meskipun demikian, tidak hentinya aku berdoa terutama usai sholat fardhu, memohon kepada Allah SWT supaya memberi kesembuhan kepada Mamaku tersebut. Selain itu untuk menutupi ketidakhadiranku aku meminta Istriku, anak-anakku Vio dan Lita serta juga mertuaku yang ada di Jakarta untuk segera meluncur ke Tegal. Dan ini terpenuhi dengan baik sehingga pikiranku pun kembali lega dan tenang.
Sebagian keluarga besarku di  desa Getaskerep, Talang, Tegal
Dengan kehadiran seluruh keluarga besarku, termasuk isteri dan anak-anakku, kesehatan Mama akhirnya berangsur-angsur membaik.  Aku mengetahui ini setelah berkomunikasi langsung dengan Mama melalui FB Video Call adikku atau Skype isteriku. Seminggu kemudian Mamaku diperbolehkan pulang meski harus tetap kontrol dan menjalani sejumlah terapi. Saat tulisan ini dibuat, kondisi Mama sudah cukup baik, sudah bisa jalan dan bisa meninggalkan kursi rodanya. Terima kasih Ya Allah!.
Mama (Ibu) seperti juga Abah (ayahku) dalam pandanganku merupakan dua orang yang paling aku sayangi dan juga aku kagumi di dunia ini. Tanpa mereka, aku tidak bisa “sukses” seperti sekarang ini. Oleh karena itu, semenjak Abahku meninggal sekitar 1999 lalu, aku dan keluargaku yang lain berusaha membahagiakannya di usianya yang sudah lanjut. Aku sendiri merasa belum maksimal membahagiakannya sehingga aku tidak ingin “terlambat” selama beliau masih hidup menghabiskan masa tuanya di kampung kelahiranku.
***

No comments:

Post a Comment