Monday, August 5, 2013

Catatan ke-41: Kunjungan Super Singkat



Truk sedang milik TCot Italia yang digunakan dalam kunjungan ke Local Leader


 Untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat terhadap keberadaan Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), termasuk untuk mengetahui permasalahan yang ada, Military Community Outreach Unit (MCOU) selalu melaksanakan kunjungan/ silaturahmi ke Local Leader/ Local People atau Mukhtar atau Mayor (di Indonesia sekelas, Kepala Dusun/ Desa/Camat). Komunikasi langsung (face to face) ini dilaksanakan secara bergantian di 162 desa yang ada di Area Operasi Unifil.
Dalam pelaksanaannya, Komunikasi langsung dengan Local Leader/ Local People ini dilakukan oleh suatu unit kecil di struktur organisasi MCOU yang dinamakan Tactical Community Outreach Team (Tcot). Saat ini tim outreach terbagi menjadi dua yakni Tcot Alfa dengan kekuatan dari personel Italia dan Tcot Beta yang berintikan personel dari Indonesia. Sedangkan dalam situasi tertentu, bisa terbentuk pula Tcot cadangan dengan nama Tcot Alpa1 maupun Tcot Beta1 yang beranggotakan personel campuran Indonesia-Italia. Sedangkan untuk volume kunjungan masing-masing Tcot adalah dua hingga 3 desa dalam setiap minggunya.
Meski memasuki bulan Ramadhan pada Juli hingga awal Agustus 2013 saat ini, volume dan tugas Tcot dalam melaksanakan kunjungan tersebut tidak berubah dan tidak berkurang. Tidak ada perbedaan yang menyolok dibandingkan volume kegiatan di luar bulan puasa. Semuanya harus terlaksana sesuai kalender kegiatan kunjungan yang telah tercantum di dalam Frago, kunjungan dua atau tiga kali harus tetap berjalan.
Obyek kunjungan Tcot di seluruh Area Operasi Unifil
Memang bagi personel Indonesia terutama untuk Tcot Beta, volume kunjungan yang tidak berbeda dengan hari-hari di luar bulan puasa, pada awalnya cukup berat dan “menjenuhkan”. Apalagi bila wilayah yang dikunjungi cukup jauh seperti di sector east, South Lebanon yang rata-rata harus ditempuh 2 jam perjalanan dari Naqoura, kondisi berpuasa tentunya memiliki tantangan tersendiri. Belum lagi bila dihadapkan dengan Mayor yang “ketus” dan kurang welcome dengan Unifil maka lengkaplah sudah tantangan itu. Namun demikian, semua itu dapat teratasi dengan baik dan pada akhirnya justru menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi Tcot Indonesia itu sendiri. Sedangkan khusus bagi Tcot Alfa yang berintikan personel Italia, kondisi puasa atau tidak, bukan menjadi halangan karena mereka semua non muslim, usai Outreach, mereka mau mampir ke restorant atau sekedar menikmati Piza atau Kebab Lebanon, no problem!.

Kunjungan Super Singkat
Dari puluhan kunjungan dalam satu bulan yang menjadi “makanan” sehari-hari Tcot Alfa Italia maupun Tcot Beta Indonesia, ada sejumlah kunjungan menarik yang aku alami sendiri di bulan puasa ini. Kunjungan pertama adalah ketika aku diminta memperkuat Tcot Alfa berkunjung ke sebuah desa bernama Sil’a dengan kode Unifil V12 yang berada di area operasi pasukan Malaysia.
Desa dengan populasi penduduk sekitar 3500 orang yang sebagian besar beraliran Syiah tersebut dipimpin seorang Mayor yakni Mr. Ali Ahmad Naim. Aku mengikuti rombongan Tcot Italia berkunjung ke desa ini pada Rabu, 31 Juli 2013. Aku sendiri Csgt M. Syafrudin, dua personel Italia yakni Properzio P. dan Marino M. dengan didampingi H. Aziz, penerjemah kami yang asli Lebanon. Dengan menggunakan kendaraan truk berukuran sedang milik Italia, kami berangkat dari kantor MCOU pukul 09.15 AM dan tiba di lokasi pukul 10.20 AM.
Seperti halnya kunjungan-kunjungan yang pernah aku ikuti sebelumnya, pada awalnya aku beranggapan tidak ada sesuatu yang menarik dalam kunjungan kali ini. Intinya pasti sama, bertemu dengan sang Mayor, berbincang tentang keberadaan Unifil dan keadaan desa, memberikan souvenir seperti majalah  Al Janoub dan leaflet 1701, selesai sudah dan selanjutnya pulang. Meski gambaran pokok rutinitas yang tidak pernah menyalahi dari “pakem” kunjungan itu tetap ada, namun ternyata ada sesuatu yang berbeda ketika kami telah tiba di lokasi.
Sesuatu yang menurut aku menarik adalah ketika aku diperlihatkan bahwa lokasi pertemuan yang menurut kebiasaan tidak terlepas dari dua tempat yakni kalau tidak di Municipality (kantor kelurahan/ kecamatan/ walikota) maka terkadang pula lokasi pertemuannya di rumah sang Mayor. Tetapi saat kami berkunjung ke V12 Sil’a ini kami bertemu dengan sang Mayor di sebuah toko kelontong miliknya. “ Apa ini tidak salah?” tanyaku menegaskan kepada Aziz, sang penterjemah yang asli Lebanon serta Marino M, Chief Convoy dari Italia. Memang sesuai yang aku baca di Komputer “Lotus” yang berada di atas meja kerjaku, lokasi meeting memang di shop atau toko, akan tetapi tetap saja aku masih heran sehingga aku tegaskan ketika tiba di lokasi pertemuan. “Yes, no mistake. This is location for meeting today. This village has no municipality building, consequently the Major changes his store is a temporary municipality office. More simple, while working to serve the citizens can also watch store (Ya, tidak ada yang salah. Inilah lokasi untuk pertemuan hari ini. Desa ini tidak mempunyai gedung kantor, akibatnya sang Mayor mengubah toko miliknya ini menjadi kantor municipality sementara. Lebih simple, sambil bekerja dan dan juga jaga toko) “  demikian penjelasana sang Chief Convoy dari Italia yang disampaikan dengan bahasa Inggrisnya yang beraksen Italia.
Singkat cerita, aku, Marino dan Aziz akhirnya masuk “municipality” dan diterima langsung oleh sang Mayor Sil’a Mr. Ali Ahmad Naim, seorang pria setengah baya, berusia sekitar 45 tahun dengan wajahnya yang khas Lebanon. Setelah duduk berhadapan di pojok ruangan di dalam toko, terhalang sebuah meja kerja atau “meja kasir” kami pun mulai berbincang-bincang. Dan perbincangan ini bagiku juga sedikit berbeda dari biasanya. Bila dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, peran Langguange Assistant (LA) atau intepreter sangat vital yakni menterjemahkan omongan kami ke dalam bahasa Arab yang langsung disampaikan kepada Mayor dan sebaliknya menterjemahkan bahasa Arab dari tanggapan sang Mayor ke dalam bahasa Inggris yang kemudian disampaikan kepada kami. Pada kunjungan ke Mayor Sil’a ini kami tidak membutuhkan intepreter karena sang Mayor sudah fasih memahami bahasa Inggris. Praktis akhirnya, H. Aziz, sang intepreter kami cuma jadi pelengkap, duduk di samping kami mengawani kami mengobrol.
Karena kenyataan tersebut maka kami pun langsung berbincang-bincang dengan sang Mayor tanpa harus melalui pihak ketiga yaitu sang intepreter bawaan kami tersebut. Kepada Mr. Ali Ahmad Naim, seperti pada kunjungan lainnya, Marino menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami yang selanjutnya disusul dengan keinginan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan persepsi sang Mayor dan warganya terhadap Unifil serta keinginan untuk mengetahui sejumlah permasalahan yang mungkin dihadapi oleh sang Mayor ataupun warga desanya.  Sang Mayor yang aku yakin dan mengetahui persis termasuk tipe orang yang tidak banyak bicara, menanggapi dan menjawab seluruh keinginan kami tersebut dengan cepat dan tidak bertele-tele. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, hanya sepatah dua patah kata dalam bahasa Inggris yang cukup fasih meski masih terlihat aksen timur tengahnya.
Melihat tanggapan yang singkat padat tersebut, kami pun tidak bisa banyak omong lagi. Hubungan dengan Unifil bagus, tidak ada masalah di daerahnya, kendaraan Unifil pun tidak mengganggu, tidak ada klaim atau protes, tidak ada informasi yang perlu digali lagi! Akhirnya karena “everything is okay” maka kami pun pamitan. Dan inilah mungkin “rekor” kunjungan tercepat yakni cuma sekitar 5 menit meski yang kami kunjungi termasuk tipe Mayor yang “welcome” terhadap Unifil.
Kunjungan super cepat tersebut tidak aku temui kembali ketika keesokan harinya, aku dengan team yang sama yakni Tcot Alfa Italia melaksanakan kunjungan ke desa Rishknayah yang berkode Y14, masih di area operasi pasukan kawan dari Malaysia. Di desa yang mayoritas Shiah ini rombongan kami ditemui Mr. Hussein Dibb, anggota Municipality yang saat itu mewakili Mr Raef Hashem, sang Mayor yang katanya berhalangan karena ada sesuatu yang urgent. Di dalam pertemuan ini, perbincangan kami cukup lama dan sangat hidup, di mana Mr Hussein Dibb menceritakan dan menanggapi semua pertanyaan dan pernyataan kami dengan cukup baik dan kalimat-kalimat yang cukup panjang yang saat itu diterjemahkan oleh N. Matta, Langguage Assistant kami.

No comments:

Post a Comment