![]() |
| Truk sedang milik TCot Italia yang digunakan dalam kunjungan ke Local Leader |
Untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat
terhadap keberadaan Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), termasuk
untuk mengetahui permasalahan yang ada, Military Community Outreach Unit (MCOU)
selalu melaksanakan kunjungan/ silaturahmi ke Local Leader/ Local People atau Mukhtar
atau Mayor (di Indonesia sekelas, Kepala Dusun/ Desa/Camat). Komunikasi
langsung (face to face) ini dilaksanakan secara bergantian di 162 desa yang ada
di Area Operasi Unifil.
Dalam pelaksanaannya, Komunikasi langsung
dengan Local Leader/ Local People ini dilakukan oleh suatu unit kecil di
struktur organisasi MCOU yang dinamakan Tactical Community Outreach Team (Tcot).
Saat ini tim outreach terbagi menjadi dua yakni Tcot Alfa dengan kekuatan dari
personel Italia dan Tcot Beta yang berintikan personel dari Indonesia.
Sedangkan dalam situasi tertentu, bisa terbentuk pula Tcot cadangan dengan nama
Tcot Alpa1 maupun Tcot Beta1 yang beranggotakan personel campuran
Indonesia-Italia. Sedangkan untuk volume kunjungan masing-masing Tcot adalah
dua hingga 3 desa dalam setiap minggunya.
Meski memasuki bulan Ramadhan pada Juli
hingga awal Agustus 2013 saat ini, volume dan tugas Tcot dalam melaksanakan
kunjungan tersebut tidak berubah dan tidak berkurang. Tidak ada perbedaan yang
menyolok dibandingkan volume kegiatan di luar bulan puasa. Semuanya harus
terlaksana sesuai kalender kegiatan kunjungan yang telah tercantum di dalam
Frago, kunjungan dua atau tiga kali harus tetap berjalan.
![]() |
| Obyek kunjungan Tcot di seluruh Area Operasi Unifil |
Memang bagi personel Indonesia terutama untuk
Tcot Beta, volume kunjungan yang tidak berbeda dengan hari-hari di luar bulan
puasa, pada awalnya cukup berat dan “menjenuhkan”. Apalagi bila wilayah yang
dikunjungi cukup jauh seperti di sector east, South Lebanon yang rata-rata
harus ditempuh 2 jam perjalanan dari Naqoura, kondisi berpuasa tentunya
memiliki tantangan tersendiri. Belum lagi bila dihadapkan dengan Mayor yang
“ketus” dan kurang welcome dengan Unifil maka lengkaplah sudah tantangan itu.
Namun demikian, semua itu dapat teratasi dengan baik dan pada akhirnya justru
menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi Tcot Indonesia itu sendiri. Sedangkan
khusus bagi Tcot Alfa yang berintikan personel Italia, kondisi puasa atau
tidak, bukan menjadi halangan karena mereka semua non muslim, usai Outreach,
mereka mau mampir ke restorant atau sekedar menikmati Piza atau Kebab Lebanon,
no problem!.
Kunjungan
Super Singkat
Dari puluhan kunjungan dalam satu bulan yang
menjadi “makanan” sehari-hari Tcot Alfa Italia maupun Tcot Beta Indonesia, ada
sejumlah kunjungan menarik yang aku alami sendiri di bulan puasa ini. Kunjungan
pertama adalah ketika aku diminta memperkuat Tcot Alfa berkunjung ke sebuah
desa bernama Sil’a dengan kode Unifil V12 yang berada di area operasi pasukan
Malaysia.
Desa dengan populasi penduduk sekitar 3500
orang yang sebagian besar beraliran Syiah tersebut dipimpin seorang Mayor yakni
Mr. Ali Ahmad Naim. Aku mengikuti rombongan Tcot Italia berkunjung ke desa ini
pada Rabu, 31 Juli 2013. Aku sendiri Csgt M. Syafrudin, dua personel Italia
yakni Properzio P. dan Marino M. dengan didampingi H. Aziz, penerjemah kami
yang asli Lebanon. Dengan menggunakan kendaraan truk berukuran sedang milik
Italia, kami berangkat dari kantor MCOU pukul 09.15 AM dan tiba di lokasi pukul
10.20 AM.
Seperti halnya kunjungan-kunjungan yang
pernah aku ikuti sebelumnya, pada awalnya aku beranggapan tidak ada sesuatu
yang menarik dalam kunjungan kali ini. Intinya pasti sama, bertemu dengan sang
Mayor, berbincang tentang keberadaan Unifil dan keadaan desa, memberikan souvenir
seperti majalah Al Janoub dan leaflet
1701, selesai sudah dan selanjutnya pulang. Meski gambaran pokok rutinitas yang
tidak pernah menyalahi dari “pakem” kunjungan itu tetap ada, namun ternyata ada
sesuatu yang berbeda ketika kami telah tiba di lokasi.
Sesuatu yang menurut aku menarik adalah ketika
aku diperlihatkan bahwa lokasi pertemuan yang menurut kebiasaan tidak terlepas
dari dua tempat yakni kalau tidak di Municipality (kantor kelurahan/ kecamatan/
walikota) maka terkadang pula lokasi pertemuannya di rumah sang Mayor. Tetapi
saat kami berkunjung ke V12 Sil’a ini kami bertemu dengan sang Mayor di sebuah
toko kelontong miliknya. “ Apa ini tidak salah?” tanyaku menegaskan kepada
Aziz, sang penterjemah yang asli Lebanon serta Marino M, Chief Convoy dari
Italia. Memang sesuai yang aku baca di Komputer “Lotus” yang berada di atas
meja kerjaku, lokasi meeting memang di shop atau toko, akan tetapi tetap saja
aku masih heran sehingga aku tegaskan ketika tiba di lokasi pertemuan. “Yes, no mistake. This is location for
meeting today. This village has no
municipality building, consequently the Major changes
his store is a
temporary municipality office. More simple,
while working to
serve the citizens can also
watch store (Ya,
tidak ada yang salah. Inilah lokasi untuk pertemuan hari ini. Desa ini
tidak mempunyai gedung kantor, akibatnya sang Mayor mengubah toko miliknya ini
menjadi kantor municipality sementara. Lebih simple, sambil bekerja dan dan
juga jaga toko) “ demikian penjelasana
sang Chief Convoy dari Italia yang disampaikan dengan bahasa Inggrisnya yang
beraksen Italia.
Singkat cerita, aku, Marino dan Aziz akhirnya
masuk “municipality” dan diterima langsung oleh sang Mayor Sil’a Mr. Ali Ahmad
Naim, seorang pria setengah baya, berusia sekitar 45 tahun dengan wajahnya yang
khas Lebanon. Setelah duduk berhadapan di pojok ruangan di dalam toko,
terhalang sebuah meja kerja atau “meja kasir” kami pun mulai
berbincang-bincang. Dan perbincangan ini bagiku juga sedikit berbeda dari
biasanya. Bila dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, peran Langguange Assistant
(LA) atau intepreter sangat vital yakni menterjemahkan omongan kami ke dalam
bahasa Arab yang langsung disampaikan kepada Mayor dan sebaliknya
menterjemahkan bahasa Arab dari tanggapan sang Mayor ke dalam bahasa Inggris
yang kemudian disampaikan kepada kami. Pada kunjungan ke Mayor Sil’a ini kami
tidak membutuhkan intepreter karena sang Mayor sudah fasih memahami bahasa
Inggris. Praktis akhirnya, H. Aziz, sang intepreter kami cuma jadi pelengkap,
duduk di samping kami mengawani kami mengobrol.
Karena kenyataan tersebut maka kami pun
langsung berbincang-bincang dengan sang Mayor tanpa harus melalui pihak ketiga
yaitu sang intepreter bawaan kami tersebut. Kepada Mr. Ali Ahmad Naim, seperti pada
kunjungan lainnya, Marino menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami yang
selanjutnya disusul dengan keinginan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan
persepsi sang Mayor dan warganya terhadap Unifil serta keinginan untuk
mengetahui sejumlah permasalahan yang mungkin dihadapi oleh sang Mayor ataupun warga
desanya. Sang Mayor yang aku yakin dan
mengetahui persis termasuk tipe orang yang tidak banyak bicara, menanggapi dan
menjawab seluruh keinginan kami tersebut dengan cepat dan tidak bertele-tele.
Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, hanya sepatah dua patah kata dalam
bahasa Inggris yang cukup fasih meski masih terlihat aksen timur tengahnya.
Melihat tanggapan yang singkat padat
tersebut, kami pun tidak bisa banyak omong lagi. Hubungan dengan Unifil bagus,
tidak ada masalah di daerahnya, kendaraan Unifil pun tidak mengganggu, tidak
ada klaim atau protes, tidak ada informasi yang perlu digali lagi! Akhirnya
karena “everything is okay” maka kami pun pamitan. Dan inilah mungkin “rekor”
kunjungan tercepat yakni cuma sekitar 5 menit meski yang kami kunjungi termasuk
tipe Mayor yang “welcome” terhadap Unifil.
Kunjungan super cepat tersebut tidak aku
temui kembali ketika keesokan harinya, aku dengan team yang sama yakni Tcot
Alfa Italia melaksanakan kunjungan ke desa Rishknayah yang berkode Y14, masih
di area operasi pasukan kawan dari Malaysia. Di desa yang mayoritas Shiah ini rombongan
kami ditemui Mr. Hussein Dibb, anggota Municipality yang saat itu mewakili Mr
Raef Hashem, sang Mayor yang katanya berhalangan karena ada sesuatu yang
urgent. Di dalam pertemuan ini, perbincangan kami cukup lama dan sangat hidup,
di mana Mr Hussein Dibb menceritakan dan menanggapi semua pertanyaan dan
pernyataan kami dengan cukup baik dan kalimat-kalimat yang cukup panjang yang
saat itu diterjemahkan oleh N. Matta, Langguage Assistant kami.


No comments:
Post a Comment