Pada Sabtu 13 April
2013, tepat pukul 15.30 LT (waktu Lebanon), cuti penugasan untuk gelombang
kedua dengan tujuan Umroh-Arab Saudi diberangkatkan dari Soedirman Camp, Naqoura,
South Lebanon, menuju bandar udara internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon.
Gelombang cuti kedua ini terdiri dari 46 personel gabungan dari Indo Military Community Outreach Unit (MCOU), Force
Protection Company (FPC), Force Head
Quarter Support Unit (FHQSU), Level II Hospital dan Staff Officer (SO) Unifil. Aku termasuk dalam gelombang cuti ini dengan
3 orang rekanku dari Satgas yang sama yakni MCOU Unifil.
Setelah melaksanakan
“apel keberangkatan” yang tidak lupa diiringi dengan doa bersama, aku dan
rombongan akhirnya berangkat ke Rafic Hariri Airport dengan sebuah bus besar
yang cukup menampung jumlah kami sebanyak 46 orang.
Perjalanan dari
Naqoura-Beirut yang sebelumnya bagiku cukup membosankan, kali ini sedikit
berbeda. Bayangan tanah suci Mekah dengan Kabahnya serasa sudah begitu dekat
sehingga tak terasa bus yang kami tumpangi sudah memasuki area MEA (di
Indonesia seperti MA-Marshalling Area yang merupakan tempat transit/ persiapan
untuk kedatangan dan keberangkatan bagi setiap rombongan personel Unifil dari
dan kembali ke negaranya). Setelah beristirahat selama kurang lebih 1 jam untuk
menunaikan sholat Maghrib, akhirnya kami berangkat kembali menuju Dropp Zone
Rafic Hariri Airport yang lokasinya sekitar 5 menit perjalanan dari markas MEA.
| Tiba di Rafic Hariri International Airport |
Setiba di bandar
udara internasional Rafic Hariri, kami disambut Pak Rahman, seorang staf KBRI
yang akan membantu kami dalam pengurusan administrasi (tiket/ visa dll). Pada
pukul 19.00, aku dan rombongan secara bergantian melewati Security Check Point, yaitu tempat pemerikasaan penumpang pesawat
beserta bawa bawaan baik bagasi maupun kabin. Pemeriksaan barang bawaan akan
melalui peralatan xray sedangkan untuk orangnya akan melewati Walk Through
Metal Detector. Di tempat ini, seluruh benda logam seperti jam tangan, Handphone,
Kunci, dsb diperiksa melalui x-ray. Kami juga tidak diperkenankan membawa serta
barang-barang berbahaya, seperti pisau, cutter, korek api, korek gas, dsb. Bila
ini terbawa maka otomatis akan disita oleh petugas.
Setelah melewati Area Security Check Point, aku dan rombongan segera
menuju Area Check in Counter yaitu tempat untuk melapor di masing masing
Airline tentang keberangkatan kita. Sesuai dengan nama penerbangan yang kami
pesan maka kami menuju ke counter Qatar Airways. Secara bergantian, dalam
proses Check in Counter ini aku dan rombongan menerima Boarding Pass dan
sekaligus menyerahkan barang bawaan yang dibagasikan. Berat barang bawaan kami
yang diperbolehkan masuk bagasi maksimal 30 kg dan barang yang masuk kabin
(umumnya dimasukkan ke backpack) seberat 10 kg. Aku sendiri cuma membawa satu
backpack kecil dengan berat tak lebih dari 3 kilo berisi pakaian ganti. Koper
besar yang rencana akan dibawa pulang ke Indonesia aku titipkan kepada seorang
rekanku di Naqoura di mana nantinya usai Umroh, barang tersebut akan langsung
diantar ke bandara.
Setelah proses checkin selesai maka kami menuju ruang tunggu
keberangkatan. Sebenarnya sebagaimana lazimnya penumpang pesawat, dalam
perjalanan menuju ruang tunggu keberangkatan kami akan disuruh membayar Airport
Tax atau PJP2U atau Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara. Tarif PJP2U tiap
bandara berbeda. Untuk bandara besar biasanya dikenakan tarif sebesar Rp.
30.000 untuk penumpang domestic dan Rp. 150.000 untuk penumpang internasional.
PJP2U ini tidak termasuk dalam harga pembelian tiket. Penumpang yang dibebaskan dari PJP2U ini
adalah penumpang transit, bayi, air crew, tamu negara. Aku dan rombongan
dikategorikan sebagai tamu negara (diplomat) maka kami dibebaskan dari PJP2U
ini.
Sesaat setelah melewati dua belokan, kami tiba di ruang tunggu
keberangkatan yang cukup luas dengan puluhan kursi yang berjajar rapi di
tengah-tengah koridor menghadap puluhan store yang menjual pernak-pernak dan
merchandise. Di tempat ini, sembari menunggu waktu keberangkatan, aku dan
rekanku yang beragama Islam menyempatkan diri sholat Isya berjamaah di mushola
kecil yang berada di lantai 2 bandara. Di tempat ini pula kami melakukan santap
malam dengan menu yang kami bawa masing-masing dari Kamp Soedirman. Meski sudah
dingin, tapi cukup enak untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan
sejak keberangkatan kami dari Naqoura.
Usai menunggu sekitar 1 jam, pada pukul 21.30 LT, kami bergeser memasuki
ruang tunggu keberangkatan pesawat. Namun sebelum tiba di ruang tunggu
tersebut, kami berhadapan lagi dengan Area Security Check Point yang kedua.
Dalam Area Security Check Point yang kedua ini, barang yang akan kami bawa di kabin pesawat
dicek kembali. Barang bawaan ini dicheck melalui xray, sedangkan aku dan
rekan-rekanku yang berjumlah 46 orang melalui Walk Through Metal Detector.
Setelah melewati Area Security Check Point kedua maka kami menuju
ruang tunggu keberangkatan pesawat. Setiap Maskapai Penerbangan mempunyai jalur
atau pintu gate keberangkatan sendiri. Kami
menuju ruang tunggu keberangkatan sesuai dengan nomer gate yang tertera di
boarding pass kami.
Usai menunggu sekitar
setengah jam di ruang tunggu keberangkatan, kami dipersilahkan menuju pintu
koridor yang langsung menuju pintu pesawat. Sebelumnya satu per satu, boarding
pass serta pasport kami dicek oleh petugas yang cukup ramah. Akhirnya tepat pukul 10.45 PM, pesawat Qatar
Airways yang aku tumpangi, take off dari Bandara Internasional Rafic Hariri,
Beirut, Lebanon. Terbang dalam suasana malam yang cukup gelap menuju tempat
impian kami, kota suci Mekah ………
No comments:
Post a Comment