Friday, May 31, 2013

Catatan Ke-33 : Ibadah di Mesjid Nabawi



Suasana malam hari usai Sholat Maghrib di pelataran mesjid Nabawi
Pada Minggu, 14 April 2013, sekitar pukul 11.00, aku dan rombongan tiba di Madinah. Aku dan rombongan sedikit bersyukur karena ditempatkan di sebuah hotel dengan nama Al Mubaroq yang cukup lumayan fasilitas dan pelayanannya dengan jarak yang relatif dekat dengan Mesjid Nabawi, Medinah yaitu sekitar 100 meter. Setelah check-in, aku dan rombongan segera memasuki kamar masing-masing, mempersiapkan diri untuk segera melihat kebesaran dan keindahan mesjid Nabawi. Di hotel Al Mubarok ini, aku menempati sebuah kamar yang cukup lumayan untuk beristirahat dengan tiga orang rekanku dari satgas yang sama.
     Usai santap siang bersama di ruang makan yang posisinya di lantai bawah, aku dan rombongan segera bergegas pergi menuju mesjid Nabawi. Dan rasa syukur segera menyeruak dalam hatiku ketika untuk pertama kalinya aku mulai memasuki area mesjid Nabawi dari gate sembilan. Aku benar-benar mengagumi desain arsitekturnya yang sangat luar biasa. Belum lagi ditambah puluhan payung raksasa yang mengembang di sekeliling halaman mesjid, depan, kanan, kiri dan juga belakang. Saat aku memasuki pelataran mesjid, payung ini sedang mengembang untuk memayungi para jamaah yang ada di bawahnya dari terik langsung sinar matahari. Menurut informasi yang aku terima, menjelang maghrib, payung ini akan menutup secara otomatis dan akan membuka kembali esok harinya.

Mesjid Nabawi di siang hari
Dari beberapa literatur, Mesjid Nabawi adalah Mesjid tempat Rasulullah SAW memimpin para sahabatnya dalam “mendirikan salat, berkhutbah, mengajarkan hadits dan memusyawarahkan urusan-urusan umat Islam. Selama kepemimpinan khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Masjid Nabawi ini tetap menjadi pusat perkembangan Islam (sebelum akhirnya dipindahkan oleh Muawiyah ke Damaskus).
Saat ini Mesjid Nabawi menjadi tujuan penting kedua bagi umat Islam sedunia yang akan melaksanakan Haji maupun Umroh (setelah Masjidil Haram di Makkah dengan Kabah sebagai Pusatnya).  Kelebihan dari mesjid ini adalah di dalamnya terdapat makam Rasulullah SAW, sehingga Masjid ini memiliki sebuah peran yang tak tergantikan, yakni tempat umat Islam berziarah kepada Nabinya. Dan karena ini pula, Masjid Nabawi selalu menyimpan pesonanya tersendiri dan menjadi tempat yang “wajib” didatangi terutama bagi mereka yang akan melaksanakan ibadah haji maupun umroh.
Secara umum luas ruangan dalam Masjid Madinah sekitar 98.326 m2, dan mampu menampung lebih dari 178.000 Jamaah. Bila musim haji tiba maka kapasitas ruangan ibadah ini jelas tidak bisa menampung seluruh jamaah (untuk jamaah haji dari Indonesia saja jumlahnya lebih dari 200 ribu). Dapat dibayangkan betapa padat dan ramainya suasana mesjid di waktu musim haji tiba.
Arsitektur yang luar biasa
Dengan arsitektur dan desain interior yang mewah dan elegan, mesjid Nabawi ini selalu memberikan rasa nyaman bagi jamaahnya meski setiap saat dipadati jemaah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Kemegahan mesjid ini juga sangat kentara dengan melihat pilar-pilar besar penyangga atap yang memiliki kelebihan sebagai sumber sanitasi utama udara di seluruh ruangan Masjid. Udara dingin keluar dari “akar-akar pilar” dari tembaga berlobang yang dilalui udara dingin. Melalui lobang-lobang di “akar” pilar ini, angin-angin dingin dari AC central didistrubusikan ke seluruh ruangan Masjid Nabawi. Fasilitas lain di setiap lorong, pojok, dengan jarak yang tak begitu jauh berderet puluhan drum berisi air zam-zam yang siap minum. Di samping itu terdapat ratusan rak Al Qur’an yang tertata rapi yang dapat dimanfaatkan para jamaah dalam mengalunkan kala Ilahi.
Salah satu keistimewaan lain Masjid Nabawi adalah adanya Roudhoh (Tempat antara kamar Rasulullah SAW dan Mimbar Masjid Nabawi). Tempat ini memiliki pesona dan daya tarik tersendiri bagi umat Muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat yang berada di posisi terdepan ini ditandai dengan karpetnya yang berwarna hijau (karpet lain semuanya berwana merah).
Selama 3 hari berturut-turut aku dan rombongan berada di Madinah. Waktu yang sangat sempit ini kami manfaatkan untuk beribadah di mesjid Nabawi, mulai dari sholat Tahajud, Subuh, Dhuhur, Azhar, Maghrib dan Isya. Dengan interval waktu ibadah sholat fardhu yang pendek tersebut maka praktis, aku dan rombongan hanya beberapa jam saja istirahat di hotel (jam 10 malam hingga pukul 2 pagi).
Dengan seorang rekanku usai sholat Isya
Sesekali untuk membayar keingintahuan kami tentang kondisi mesjid Nabawi, kami sempatkan pula beberapa menit untuk “berbelanja oleh-oleh” khas Medinah, mulai dari pakaian/ baju muslim, sajadah, parfum, hingga peralatan ibadah lainnya. Aku sendiri cuma berbelanja oleh-oleh sesuai pesanan anak dan isteriku seperti baju muslim, “pacar/ tatoo arab”, dan baju Gamis plus beberapa sorban untuk kepentinganku sendiri. Oleh-oleh khas Madinah ini tersebar di hampir setiap pojok jalanan, bahkan bagi mereka yang ingin mencari harga yang miring dapat mendapatkannya di sepanjang lorong Gate masuk mesjid Nabawi. Khusus yang terakhir ini, umumnya dijajakan oleh perempuan-perempuan berbaju hitam bercadar (kelihatan matanya saja) yang didominasi oleh perempuan “berkulit gelap”.  Keunikan para penjual “kaki lima” yang hingga kini masih aku ingat adalah aksi para penjual lelakinya yang bersuara keras dalam menjajakan dagangannya. Bahkan untuk kelompok penjual kerudung wanita, sang penjual memiliki trik sendiri dalam mencari minat pembeli. Dengan ratusan kerudung yang terhampar luas di area jualannya, sang penjual berdiri di atasnya dengan “segepok” kerudung, lalu sembari berjalan dilemparkannya kerudung itu satu persatu ke atas. Kelihatan aneh memang, tapi aku sendiri salut dengan trik semacam ini yang aku yakin dapat menarik minat para pembeli.
Kembali ke masalah ibadah di mesjid Nabawi. Di mesjid ini benar-benar aku merasakan suasana ibadah yang belum pernah aku alami sebelumnya. Aku dan dua rekanku satu Satgas, Serda Suprapto dan Kopda Agus, sering bertafakur di mesjid ini, melaksanakan sholat-sholat fardhu dan sunat serta tidak henti-hentinya mengagumi keindahan dan kebesaran mesjid ini. 

Raudha dan makam Nabi Muhammad SAW
Khusus agar bisa melaksanakan sholat di Raudhah dengan khusyu, kami pun akhirnya bersepakat untuk saling “melindungi” agar kami bisa ruku dan sujud dengan benar, serta tidak tergeser oleh orang lain (perlu diketahui sholat di tempat ini cukup sulit karena harus berebutan dengan ratusan jemaah lainnya yang juga berniat sama. Sedangkan usai sholat Isya hingga menjelang Adzan Subuh, tempat ini hanya diperuntukkan bagi jemaah perempuan). Meski berhasil beberapa kali sholat di tempat ini dengan kawalan dua rekanku secara bergantian, namun aku merasa sholatku belum”khusyu” karena terganggu jemaah lain yang terus berdesakan “memaksa” masuk ke area Roudah. Kekhusukan dalam sholatku baru tercapai pada hari ketiga, saat mau meninggalkan Medinah dan berniat “pamitan” ke makam rasulullah. Saat itu, sekitar jam sembilan pagi,  jemaah Roudhah yang biasanya berdesakan diatur sedemikian rupa oleh 6 orang petugas yang mengatur jalan masuk dan keluar para jemaah. Jemaah yang terlalu lama di tempat ini diminta segera keluar melalui dua pintu keluar untuk selanjutnya digantikan jemaah baru dari satu pintu masuk. Cara ini seharusnya bisa dipertahankan karena sangat membantu jemaah khususnya dalam mencari kekhusukan dalam beribadah.
Ziarah ke beberapa tempat bersejarah
Tepat tiga hari usai beribadah penuh di mesjid Nabawi serta menyempatkan diri untuk berziarah di tempat-tempat bersejarah seperti pemakaman Baqi, mesjid-mesjid sahabat Rasulullah yang letaknya tak jauh dari Nabawi, mengunjungi mesjid Quba, Jabal Uhud, mesjid Qiblatain dan Khandak serta mampir di pasar/ kebun kurma, akhirnya perjalanan religi kami di kota Madinah berakhir. Pada Selasa siang, 16 April 2013, usai makan siang dan sholat Dhuhur, aku dan rombongan check-out hotel, berangkat ke Mekah dengan pakaian ihram, siap untuk melaksanakan Umroh.
****

No comments:

Post a Comment