| Suasana malam hari usai Sholat Maghrib di pelataran mesjid Nabawi |
Pada Minggu, 14 April 2013, sekitar pukul 11.00,
aku dan rombongan tiba di Madinah. Aku dan rombongan
sedikit bersyukur karena ditempatkan di sebuah hotel dengan nama Al Mubaroq yang
cukup lumayan fasilitas dan pelayanannya dengan jarak yang relatif dekat dengan
Mesjid Nabawi, Medinah yaitu sekitar 100 meter. Setelah check-in, aku dan rombongan segera memasuki kamar masing-masing,
mempersiapkan diri untuk segera melihat kebesaran dan keindahan mesjid Nabawi.
Di hotel Al Mubarok ini, aku menempati sebuah kamar yang cukup lumayan untuk
beristirahat dengan tiga orang rekanku dari satgas yang sama.
Usai santap siang bersama di ruang makan yang
posisinya di lantai bawah, aku dan rombongan segera bergegas pergi menuju
mesjid Nabawi. Dan rasa syukur segera menyeruak dalam hatiku ketika untuk
pertama kalinya aku mulai memasuki area mesjid Nabawi dari gate sembilan. Aku
benar-benar mengagumi desain arsitekturnya yang sangat luar biasa. Belum lagi
ditambah puluhan payung raksasa yang mengembang di sekeliling halaman mesjid,
depan, kanan, kiri dan juga belakang. Saat aku memasuki pelataran mesjid,
payung ini sedang mengembang untuk memayungi para jamaah yang ada di bawahnya
dari terik langsung sinar matahari. Menurut informasi yang aku terima, menjelang
maghrib, payung ini akan menutup secara otomatis dan akan membuka kembali esok
harinya.| Mesjid Nabawi di siang hari |
Dari beberapa literatur, Mesjid Nabawi adalah Mesjid tempat Rasulullah SAW memimpin para sahabatnya dalam “mendirikan” salat, berkhutbah, mengajarkan hadits dan
memusyawarahkan urusan-urusan umat Islam. Selama kepemimpinan
khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Masjid Nabawi ini tetap menjadi pusat perkembangan Islam (sebelum akhirnya dipindahkan oleh Muawiyah ke Damaskus).
Saat ini Mesjid Nabawi menjadi tujuan penting kedua bagi umat
Islam sedunia yang akan
melaksanakan Haji maupun Umroh (setelah Masjidil Haram di Makkah dengan Kabah sebagai Pusatnya). Kelebihan dari mesjid ini adalah di dalamnya terdapat makam
Rasulullah SAW, sehingga Masjid ini memiliki sebuah peran yang tak tergantikan,
yakni tempat umat Islam berziarah kepada Nabinya. Dan karena ini pula, Masjid
Nabawi selalu menyimpan pesonanya tersendiri dan menjadi tempat yang “wajib” didatangi terutama bagi mereka yang
akan melaksanakan ibadah haji maupun umroh.
Secara umum luas ruangan dalam Masjid Madinah sekitar 98.326 m2, dan mampu menampung
lebih dari 178.000 Jamaah. Bila musim haji tiba maka kapasitas ruangan
ibadah ini jelas tidak bisa menampung seluruh jamaah (untuk jamaah haji dari
Indonesia saja jumlahnya lebih dari 200 ribu). Dapat dibayangkan betapa padat
dan ramainya suasana mesjid di waktu musim haji tiba.
| Arsitektur yang luar biasa |
Dengan arsitektur dan desain interior yang mewah
dan elegan, mesjid Nabawi ini selalu memberikan rasa nyaman bagi
jamaahnya meski setiap saat dipadati jemaah yang datang dari seluruh penjuru
dunia. Kemegahan mesjid ini juga sangat kentara dengan melihat pilar-pilar
besar penyangga atap yang memiliki kelebihan sebagai sumber sanitasi utama udara di seluruh ruangan Masjid.
Udara dingin keluar dari “akar-akar pilar” dari tembaga berlobang yang dilalui
udara dingin. Melalui lobang-lobang di “akar” pilar ini, angin-angin dingin
dari AC central didistrubusikan ke seluruh ruangan Masjid Nabawi. Fasilitas lain di setiap lorong, pojok, dengan
jarak yang tak begitu jauh berderet puluhan drum berisi air zam-zam yang siap
minum. Di samping itu terdapat ratusan rak Al Qur’an yang tertata rapi yang
dapat dimanfaatkan para jamaah dalam mengalunkan kala Ilahi.
Salah satu keistimewaan lain Masjid Nabawi adalah adanya Roudhoh (Tempat antara kamar Rasulullah
SAW dan Mimbar Masjid Nabawi). Tempat ini memiliki pesona dan daya tarik
tersendiri bagi umat Muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat yang berada di posisi terdepan ini
ditandai dengan karpetnya yang berwarna hijau (karpet lain semuanya berwana
merah).
Selama 3 hari berturut-turut aku dan rombongan
berada di Madinah. Waktu yang sangat sempit ini kami manfaatkan untuk beribadah
di mesjid Nabawi, mulai dari sholat Tahajud, Subuh, Dhuhur, Azhar, Maghrib dan
Isya. Dengan interval waktu ibadah sholat fardhu yang pendek tersebut maka
praktis, aku dan rombongan hanya beberapa jam saja istirahat di hotel (jam 10
malam hingga pukul 2 pagi).
| Dengan seorang rekanku usai sholat Isya |
Sesekali untuk membayar keingintahuan kami
tentang kondisi mesjid Nabawi, kami sempatkan pula beberapa menit untuk
“berbelanja oleh-oleh” khas Medinah, mulai dari pakaian/ baju muslim, sajadah,
parfum, hingga peralatan ibadah lainnya. Aku sendiri cuma berbelanja oleh-oleh
sesuai pesanan anak dan isteriku seperti baju muslim, “pacar/ tatoo arab”, dan
baju Gamis plus beberapa sorban untuk kepentinganku sendiri. Oleh-oleh khas
Madinah ini tersebar di hampir setiap pojok jalanan, bahkan bagi mereka yang
ingin mencari harga yang miring dapat mendapatkannya di sepanjang lorong Gate
masuk mesjid Nabawi. Khusus yang terakhir ini, umumnya dijajakan oleh
perempuan-perempuan berbaju hitam bercadar (kelihatan matanya saja) yang
didominasi oleh perempuan “berkulit gelap”.
Keunikan para penjual “kaki lima” yang hingga kini masih aku ingat
adalah aksi para penjual lelakinya yang bersuara keras dalam menjajakan
dagangannya. Bahkan untuk kelompok penjual kerudung wanita, sang penjual
memiliki trik sendiri dalam mencari minat pembeli. Dengan ratusan kerudung yang
terhampar luas di area jualannya, sang penjual berdiri di atasnya dengan
“segepok” kerudung, lalu sembari berjalan dilemparkannya kerudung itu satu
persatu ke atas. Kelihatan aneh memang, tapi aku sendiri salut dengan trik
semacam ini yang aku yakin dapat menarik minat para pembeli.
Kembali ke masalah ibadah di mesjid Nabawi. Di
mesjid ini benar-benar aku merasakan suasana ibadah yang belum pernah aku alami
sebelumnya. Aku dan dua rekanku satu Satgas, Serda Suprapto dan Kopda Agus,
sering bertafakur di mesjid ini, melaksanakan sholat-sholat fardhu dan sunat
serta tidak henti-hentinya mengagumi keindahan dan kebesaran mesjid ini.
| Raudha dan makam Nabi Muhammad SAW |
Khusus agar bisa melaksanakan sholat di Raudhah
dengan khusyu, kami pun akhirnya bersepakat untuk saling “melindungi” agar kami
bisa ruku dan sujud dengan benar, serta tidak tergeser oleh orang lain (perlu
diketahui sholat di tempat ini cukup sulit karena harus berebutan dengan
ratusan jemaah lainnya yang juga berniat sama. Sedangkan usai sholat Isya
hingga menjelang Adzan Subuh, tempat ini hanya diperuntukkan bagi jemaah
perempuan). Meski berhasil beberapa kali sholat di tempat ini dengan kawalan
dua rekanku secara bergantian, namun aku merasa sholatku belum”khusyu” karena terganggu
jemaah lain yang terus berdesakan “memaksa” masuk ke area Roudah. Kekhusukan
dalam sholatku baru tercapai pada hari ketiga, saat mau meninggalkan Medinah
dan berniat “pamitan” ke makam rasulullah. Saat itu, sekitar jam sembilan
pagi, jemaah Roudhah yang biasanya
berdesakan diatur sedemikian rupa oleh 6 orang petugas yang mengatur jalan
masuk dan keluar para jemaah. Jemaah yang terlalu lama di tempat ini diminta
segera keluar melalui dua pintu keluar untuk selanjutnya digantikan jemaah baru
dari satu pintu masuk. Cara ini seharusnya bisa dipertahankan karena sangat
membantu jemaah khususnya dalam mencari kekhusukan dalam beribadah.
| Ziarah ke beberapa tempat bersejarah |
Tepat tiga hari usai beribadah penuh di mesjid
Nabawi serta menyempatkan diri untuk berziarah di tempat-tempat bersejarah
seperti pemakaman Baqi, mesjid-mesjid sahabat Rasulullah yang letaknya tak jauh
dari Nabawi, mengunjungi mesjid Quba, Jabal Uhud, mesjid Qiblatain dan Khandak
serta mampir di pasar/ kebun kurma, akhirnya perjalanan religi kami di kota
Madinah berakhir. Pada Selasa siang, 16 April 2013, usai makan siang dan sholat
Dhuhur, aku dan rombongan check-out hotel, berangkat ke Mekah dengan pakaian
ihram, siap untuk melaksanakan Umroh.
****
No comments:
Post a Comment