Friday, May 31, 2013

Catatan Ke-32 : Peristiwa Yang Tak Terduga



Setelah keluar dari area bandara menuju Madinah, aku dan rekan-rekan yang berada di dalam bus mulai melihat pemandangan di kanan kiri jalanan. Kesan yang kami tangkap, kondisi daerah negara yang terkenal kaya minyak ini sebenarnya mirip dengan daerah penugasan kami di Lebanon. Perbedaannya mungkin kalau di Lebanon lebih banyak dataran tingginya dengan jalan yang berkelok-kelok, naik turun serta didominasi pohon-pohon penghasil minyak zaitun. Akan tetapi di Arab ini, jalanan mulus dengan kualitas bahan yang aku yakin bagus pula, tetapi datarannya relatif rata, gersang dengan bukit-bukit batu dan tanah hitam yang gundul tanpa pepohonan serta tak ketinggalan dominasi pohon kurma yang memang menjadi ikon negeri tujuan “wisata religi” umat Islam sedunia. Melihat kondisi dataran Arab ini, aku tetap bersyukur dilahirkan di Indonesia dengan hamparan sawah yang hijau nan indah dan nyaman. Seperti bayanganku di Lebanon, aku rasa tidak akan “krasan” hidup di negara dengan kontur daerah yang berbalik 100 derajat dengan Indonesia, khususnya kampung halamanku di Tegal.
Setelah melewati daerah-daerah dengan kontur khas Arab Saudi, tak terasa tiga jam telah berlalu, dan tiba-tiba adzan Subuh sayup-sayup terdengar dari dalam bus yang kami tumpangi. Pemandu kami yang asli Madura dan sudah dua tahun tinggal di Arab Saudi meminta sopir untuk berhenti di mesjid yang tak jauh dari jalan. Sopir menurut, dan pada suatu tempat ia membelokkan kendaraannya keluar dari jalan raya, berhenti tak jauh dari sebuah mesjid yang lumayan besar berwarna putih dengan arsitektur bangunan khas mesjid Timur Tengah.
Di tempat ini, aku dan rombongan turun dan segera mengambil air wudlu yang berada di belakang mesjid. Saat itu Sholat Subuh berjamaah telah usai. Rombongan kami pun segera memasuki mesjid. Ketika kami akan melaksanakan sholat Subuh berjamaah, seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun dengan jubah berbalut sorban tiba-tiba mendatangi rombongan kami dan berbicara dengan seorang rekanku yang berniat menjadi imam sholat kami. Rekanku ini setuju, ia mempersilahkan sang lelaki tadi untuk “mengimami” kami. Sholat pun dimulai dan akhirnya selesai meski bagiku dan sebagian rekanku terasa kurang lengkap karena tidak ada “doa qunut”nya serta surat pilihan pada rakaat pertama (setelah al Fatihah) yang cukup panjang yakni “Surat Al Baqarah” yang kurang lazim bagiku yang sering menggunakan surat-surat pendek.
Usai sholat, satu persatu, kami keluar dari mesjid, kembali ke bus untuk meneruskan perjalanan. Akan tetapi di pintu keluar mesjid, kami melihat sesuatu yang cukup mengagetkan, sang lelaki yang menjadi imam sholat kami tadi sedang beradu mulut dengan seorang laki-laki tua penduduk lokal yang juga menjadi jamaah sholat Subuh. Kata-kata keras keluar secara bergantian dari mulut mereka berdua, memecahkan kesunyian di waktu Subuh itu. Bahkan hampir saja terjadi baku hantam, seandainya tidak dipisahkan olehku dan sebagian warga lokal. Usut punya usut, dari keterangan pemandu kami, sang lelaki tua menegur sang imam karena ada bacaan sholat yang “keliru” serta inisiatifnya menjadi imam kami adalah “tidak tepat” karena sebelumnya ia telah melaksanakan sholat fardhu Subuh. Menurut sang lelaki tua, tidak boleh seorang muslim sholat berjamaah di mana imam dan makmum niat sholatnya berlainan. Sang Imam niatnya sholat sunnah dan makmum sholat fardhu.
Kejadian tersebut membuat hatiku sedikit miris, baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Arab, kok sudah disuguhi dengan peristiwa semacam itu! Meski demikian, peristiwa tersebut tidak melunturkan niat kami untuk melaksanakan ibadah Umroh. Sebelum berangkat pun sebenarnya kami sudah dibekali dengan beberapa gambaran kehidupan beragama di tanah Arab yang multi madzhab/ aliran. Semuanya benar dan “tidak ada yang salah” sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing, ikut madzhab A atau B, C atau bahkan D tidak ada masalah.
Setelah kami mengadakan diskusi kecil mengupas kejadian “unik” tersebut, akhirnya pemimpin rombongan meminta kami semua untuk kembali ke dalam bus. Kami menurut. Dan dua jam kemudian, bus yang kami tumpangi akhirnya tiba di kota Madinah .

No comments:

Post a Comment