Setelah keluar dari area bandara menuju Madinah, aku dan rekan-rekan
yang berada di dalam bus mulai melihat pemandangan di kanan kiri jalanan. Kesan
yang kami tangkap, kondisi daerah negara yang terkenal kaya minyak ini
sebenarnya mirip dengan daerah penugasan kami di Lebanon. Perbedaannya mungkin
kalau di Lebanon lebih banyak dataran tingginya dengan jalan yang
berkelok-kelok, naik turun serta didominasi pohon-pohon penghasil minyak zaitun.
Akan tetapi di Arab ini, jalanan mulus dengan kualitas bahan yang aku yakin
bagus pula, tetapi datarannya relatif rata, gersang dengan bukit-bukit batu dan
tanah hitam yang gundul tanpa pepohonan serta tak ketinggalan dominasi pohon
kurma yang memang menjadi ikon negeri tujuan “wisata religi” umat Islam
sedunia. Melihat kondisi dataran Arab ini, aku tetap bersyukur dilahirkan di Indonesia
dengan hamparan sawah yang hijau nan indah dan nyaman. Seperti bayanganku di
Lebanon, aku rasa tidak akan “krasan” hidup di negara dengan kontur daerah yang
berbalik 100 derajat dengan Indonesia, khususnya kampung halamanku di Tegal.
Setelah melewati daerah-daerah dengan kontur khas Arab Saudi, tak
terasa tiga jam telah berlalu, dan tiba-tiba adzan Subuh sayup-sayup terdengar
dari dalam bus yang kami tumpangi. Pemandu kami yang asli Madura dan sudah dua
tahun tinggal di Arab Saudi meminta sopir untuk berhenti di mesjid yang tak
jauh dari jalan. Sopir menurut, dan pada suatu tempat ia membelokkan
kendaraannya keluar dari jalan raya, berhenti tak jauh dari sebuah mesjid yang
lumayan besar berwarna putih dengan arsitektur bangunan khas mesjid Timur Tengah.
Di tempat ini, aku dan rombongan turun dan segera mengambil air
wudlu yang berada di belakang mesjid. Saat itu Sholat Subuh berjamaah telah
usai. Rombongan kami pun segera memasuki mesjid. Ketika kami akan melaksanakan
sholat Subuh berjamaah, seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun dengan jubah
berbalut sorban tiba-tiba mendatangi rombongan kami dan berbicara dengan
seorang rekanku yang berniat menjadi imam sholat kami. Rekanku ini setuju, ia
mempersilahkan sang lelaki tadi untuk “mengimami” kami. Sholat pun dimulai dan
akhirnya selesai meski bagiku dan sebagian rekanku terasa kurang lengkap karena
tidak ada “doa qunut”nya serta surat pilihan pada rakaat pertama (setelah al Fatihah)
yang cukup panjang yakni “Surat Al Baqarah” yang kurang lazim bagiku yang
sering menggunakan surat-surat pendek.
Usai sholat, satu persatu, kami keluar dari mesjid, kembali ke bus
untuk meneruskan perjalanan. Akan tetapi di pintu keluar mesjid, kami melihat
sesuatu yang cukup mengagetkan, sang lelaki yang menjadi imam sholat kami tadi
sedang beradu mulut dengan seorang laki-laki tua penduduk lokal yang juga
menjadi jamaah sholat Subuh. Kata-kata keras keluar secara bergantian dari
mulut mereka berdua, memecahkan kesunyian di waktu Subuh itu. Bahkan hampir
saja terjadi baku hantam, seandainya tidak dipisahkan olehku dan sebagian warga
lokal. Usut punya usut, dari keterangan pemandu kami, sang lelaki tua menegur
sang imam karena ada bacaan sholat yang “keliru” serta inisiatifnya menjadi
imam kami adalah “tidak tepat” karena sebelumnya ia telah melaksanakan sholat
fardhu Subuh. Menurut sang lelaki tua, tidak boleh seorang muslim sholat
berjamaah di mana imam dan makmum niat sholatnya berlainan. Sang Imam niatnya
sholat sunnah dan makmum sholat fardhu.
Kejadian tersebut membuat hatiku sedikit miris, baru pertama kali
menginjakkan kaki di tanah Arab, kok sudah disuguhi dengan peristiwa semacam
itu! Meski demikian, peristiwa tersebut tidak melunturkan niat kami untuk
melaksanakan ibadah Umroh. Sebelum berangkat pun sebenarnya kami sudah dibekali
dengan beberapa gambaran kehidupan beragama di tanah Arab yang multi madzhab/
aliran. Semuanya benar dan “tidak ada yang salah” sesuai dengan keyakinan
mereka masing-masing, ikut madzhab A atau B, C atau bahkan D tidak ada masalah.
Setelah kami mengadakan diskusi kecil mengupas kejadian “unik”
tersebut, akhirnya pemimpin rombongan meminta kami semua untuk kembali ke dalam
bus. Kami menurut. Dan dua jam kemudian, bus yang kami tumpangi akhirnya tiba
di kota Madinah .
No comments:
Post a Comment