Sunday, August 25, 2013

Catatan ke-45: Induction Training ala Unifil



Peserta Induction Training Unifil yang merupakan perwakilan dari sejumlah negara
 Setiap prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon dalam wadah United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil) mempunyai kewajiban mutlak (mandatory) untuk mengikuti program Induction Training. Program ini diselenggarakan untuk membekali dan mengenalkan kepada setiap prajurit tentang garis besar tugas Unifil beserta perangkatnya, pemahaman terhadap norma dan aturan baku yang berlaku bagi prajurit UN/ Unifil, pemahaman terhadap lingkup tugas satuan/ unit lain serta juga pengenalan terhadap area operasi Unifil di South Lebanon.
Program Induction Training ini seharusnya diikuti oleh setiap prajurit terutama untuk lingkup Perwira yang idealnya diikuti pada bulan-bulan pertama berada di daerah penugasan. Meski demikian karena sesuatu hal, program ini baru aku ikuti di bulan Agustus 2013 atau 8 bulan setelah aku berada di daerah penugasan. Tidak ada kata terlambat, demikian kataku dalam mengikuti program wajib Unifil ini. Aku merasa seperti ada sesuatu yang kurang dalam penugasan di Lebanon bila tidak mengikuti program ini, apalagi ada sertifikatnya yang lumayan buat menambah koleksi sertifikat yang aku dapatkan dalam menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon ini.
Dengan prinsip seperti itu akhirnya aku dan seorang rekanku Serka Sumarlin Nasution mendaftarkan diri mewakili satgasku Military Community Outreach Unit (MCOU) untuk mengikuti program tersebut. Dan dari hasil “final military participant list for induction training” yang dikeluarkan Unifil J7 branch, aku dan rekanku tersebut mendapatkan jatah (seat) untuk mengikuti program ini pada 19 hingga 22 Agustus 2013. Program ini diikuti oleh 45 personel militer dari sejumlah negara seperti Spanyol, Perancis, Jerman, Srilanka, Malaysia, Irlandia, India, Ghana, Turki, Italia, Nepal, Finlandia, Tanzania. Sebagian besar dari mereka (31 personel) berpangkat Perwira menengah mulai dari Mayor hingga Kolonel, sedangkan sisanya Perwira Pertama dan Bintara. Lokasi ruang kelas program Inducton Training ini terletak di lingkungan J7 Branch tepatnya di International Room, yang berada di kawasan Unifil HQ, Naqoura, South Lebanon.
Penyampaian materi dari salah seorang Instruktur
Materi yang diajarkan dalam program wajib prajurit UN ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan materi di saat aku dan rekanku digodok dalam program Pre Deployment Training (PDT) di markas PMPP, Sentul, Bogor, Jawa Barat, sebelum pemberangkatan ke Lebanon pada Agustus 2012 lalu. Di hari pertama pelatihan misalnya, aku mengikuti beberapa materi yang boleh dikatakan persis sama dengan apa yang aku peroleh dari program PDT seperti materi Political Briefing, UNSCR 1701, Unifil Mandate and Tasks, Human Right, Child Protection, Environmental Protection, Gender in Peace Keeping Operations, UN Values, Competencies & UN System, Conduct and Discipline/ Directives for Disciplinary Matters, Culture Awareness, Communications in Unifil. Sedikit berbeda hanya materi Familiarization Tour Briefing yang isinya sekedar menggambarkan secara teknis kegiatan “jalan-jalan” di hari terakhir untuk seluruh peserta pelatihan.
Pada hari kedua pelatihan, ada beberapa materi baru yang belum aku peroleh sehingga secara umum dapat menambah wawasanku. Materi pelatihan di hari kedua ini antara lain menjelaskan tentang HIV / AIDS and Sexually Transmitted Disease, Security Briefing, Unifil Mission Structure/ Logistics, Aviation, Vehicle Maintenance/ Servicing, ICT Security Awareness, Health, Hygiene, Medevac and Nine Lines Message, Land Mines/ UXO Briefing, Stress Management, Best Practice in Peacekeeping Ops, Camp Regulation and Service, Management of Stray and Owned Dogs and Cats in Unifil, UN Evaluation Report, Leave Regulations, and Welfare & Recreation.
Untuk hari Ketiga, tidak berbeda seperti hari kedua. Materi pelatihan dengan topik-topik umum sebagian besar telah aku pahami, di samping sebagian materi baru. Materi di hari ketiga ini menjelaskan tentang beberapa masalah seperti mengenai Civilian-Military Coordination, Military Information, Rules of Engagement/ State of Alert, MTF Mission, Main Task and Organization, Lebanese Army/ Identification of Weapon/ Equipment, Structure and Function of the Liaison  Branch, ICRC Mandate and Activities in Lebanon Relations ICRC-Unifil, Investigation Team, Blue Line and Technical Fence and Integrated Outreach Operations Coordination Cell Briefing.

Penyajian Materi yang “Menjenuhkan”
Selama tiga hari mengikuti pelatihan dalam program Induction Training yang diselenggarakan Unifil tersebut, kesan yang aku tangkap sebenarnya kurang begitu bagus dan sempurna. Menurutku ada beberapa kekurangan dan kelemahan yang seharusnya dapat segera diperbaiki oleh Uniifil agar program Induction Training ini dapat diambil manfaatnya secara optimal oleh para peserta.
Penyajian materi yang sangat padat, "kejar waktu"
Beberapa kekurangan tersebut antara lain dari sisi instruktur yang sebagian “kurang siap” dalam menyajikan materi dan juga dari teknik penyajian materi  yang sebagian besar terkesan membosankan. Memang bisa dimaklumi dengan materi yang cukup padat yang diberikan secara maraton dari pagi (08.00 am) hingga sore hari (04.30 pm), sebagian besar peserta jelas merasa “kewalahan”. Apalagi umumnya sebagian besar instruktur mengajar dengan bahan/materi yang cukup banyak tetapi alokasi waktu yang diberikan panitia terlalu sedikit (sekitar 30 menit), alhasil mereka menjejali materi-materi tersebut kepada peserta pelatihan dengan teknik “kejar waktu”, seakan tanpa memberi kesempatan kepada para peserta untuk memalingkan sejenak pandangan matanya ke arah lain selain kepada slide yang terpampang di depan kelas. Belum lagi dengan bahasa penyajian sang Instruktur, yang terkadang agak sulit ditangkap penjelasannya. Meski menggunakan bahasa internasional (bahasa Inggris) tetapi tidak akan terlepas dari logat bahasa asli negara sang instruktur seperti instruktur Italia mengucapkan kata-kata “good” saja, di telinga kita menjadi“ gud’e” atau instruktur dari Ghana menyebut “peace keeper”  dalam telinga kita menjadi “ pis kipah”.
Kemampuan Instruktur, perlu dibenahi
Dari beberapa kekurangan tersebut maka ke depan seharusnya Unifil dapat merevisi ulang kegiatan program induction Training ini misalnya dengan menambah waktu pelatihan dan memilih instruktur yang benar-benar profesional dalam menyiapkan dan menyajikan materi. Satu materi yang menurutku sangat bermanfaat dan tidak membosankan adalah ketika di hari kedua aku dan rekan-rekanku diperintahkan oleh instruktur untuk membentuk beberapa kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Selanjutnya masing-masing orang dari kelompok tersebut diberi selembar kertas berisi uraian sekilas tentang beberapa hal yang akan dialami selama penugasan di Unifil seperti tentang transfer of authority, hand over notes dan sebagainya. Masing-masing orang dalam kelompoknya kemudian harus bisa menjelaskan topik yang diterimanya tersebut kepada kedua rekannya dengan menggunakan bahasa Inggris. Dalam sesi ini aku kebetulan bergabung dengan dua prajurit Malaysia berpangkat Letkol dan Mayor. Alhamdulillah aku bisa menjelaskan secara gamblang kepada dua perwira dari Malaysia ini meski dengan bahasa Inggris yang sedikit “patah-patah”.

Tour Blue Line
Pada hari keempat sebagai hari terakhir program Unifil Induction Training, seluruh peserta program pelatihan ini “diajak” berkeliling ke sejumlah tempat penting di area operasi Unifil. Panitia bekerjasama dengan Movcon Unifil menyiapkan 3 bus sedang untuk peserta dan sejumlah kendaraan pengiring diantaranya dua kendaraan Jammer serta didukung dua kendaraan dari Military Police Tanzania yang mengawal rombongan selama tour berlangsung.
Mayor Made dari Indonesia, memimpin Tour Blue Line
Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Markas Besar Sektor Barat Unifil (Sector West Headqurter) yang berada di United Nations Pos (UNP) 2-3 di Shama, South Lebanon. Di lokasi yang juga menjadi markas batalyon Italia ini, rombongan kami menerima gambaran singkat mengenai situasi dan kondisi sektor barat di area operasi Unifil termasuk gambaran tugas, kekuatan serta penjelasan mengenai sejumlah wilayah yang menjadi hot spot yang patut diwaspadai oleh seluruh personel Unifil.
Dari lokasi pertama tersebut secara beriringan kami bergerak mengunjungi makam Sheikh Abad Tomb di UNP 8-33 yang kini dijaga pasukan dari Nepal untuk selanjutnya menuju Panorama Point yang merupakan tempat strategis di mana kami dapat melihat secara luas daerah perbatasan Israel-Lebanon. Dari tempat ini kami kemudian dibawa mengunjungi markas besar Unifil yang berada di Sektor Timur (Sector East Headqurter). Selanjutnya kami mengunjungi Ghajar Village sebelum berangkat ke lokasi kunjungan terakhir yaitu Force Commando Regiment (FCR), yang merupakan salah satu satuan lengkap Unifil dari Perancis.

***

No comments:

Post a Comment