Sunday, January 6, 2013

Catatan ke-12 : Mie Instan 11 Dolar

Penulis dengan Umi, pemilik warung langganan prajurit TNI di Naqoura, Lebanon Selatan


Setelah kurang lebih 2 minggu di penugasan, aku dan rekan-rekan satu Korimek mencoba jalan-jalan mencari “makanan ringan” di luar kamp kami. Ini kami lakukan di hari minggu, setelah pelaksanaan olah raga mandiri. Tempat yang kami tuju adalah toko kelontong yang menjadi langganan tentara Unifil khususnya dari Indonesia. Letak toko ini sekitar 2 km dari Kamp Soedirman, Naqoura, Lebanon Selatan.
Satu hal yang membuat aku heran adalah pemilik toko yang sering dipanggil oleh rekan-rekan kami “Umi” yang ternyata sedikit banyak tahu tentang penggunaan bahasa Indonesia. Perempuran setengah baya dengan wajah khas timur tengah ini sangat familiar dengan tentara Indonesia, termasuk rekan-rekan kami dari Satgas sebelumnya.  Di toko kelontong miliknya ini tersedia hampir sebagian besar keperluan kami mulai dari peralatan mandi (sabun, odol dsb), bumbu-bumbu dapur siap saji, makanan ringan hingga perlengkapan pribadi yang memang kami perlukan di Lebanon.
Dalam wawancara kecil dengan Umi (dengan bahasa campuran Inggris Indonesia karena ada kata-kata tertentu yang belum diketahuinya), kedekatan perempuan “sedikit gemuk” dengan tentara Indonesia ini dikarenakan “keramahtamahan” yang sering ditunjukkan tentara Indonesia ketika berbelanja di tokonya. Banyak senyum, banyak ngomong, banyak guyon dan sebagainya, demikian kata Umi. “Orangnya enak-enak kalau diajak bicara sehingga setiap mereka datang ke sini, saya selalu melayani mereka dengan baik dan juga ramah. Serta yang penting, terkadang saya kasih diskon, ini khusus tentara Indonesia “ demikian kata Umi sembari melayani belanjaan rekan-rekanku satu korimek dengan tetap tidak meninggalkan keramahtamahannya.

Sebelas Dolar
Setelah berbincang sebentar dengan Umi, aku pun mulai berbelanja. Yang aku butuhkan saat itu termasuk rekan-rekanku adalah beberapa jenis makanan ringan (sejenis chiki kesukaan anak-anak di Indonesia, permen maupun coklat), telur ayam serta mis instan. Khusus untuk sebungkus Chiki dengan berat 125 gr (dibungkusnya yang meriah tertulis Tortilla Chips, Spicy BBQ), Umi mematok harga 2 dolar, sedangkan bila beli 1 paket berisi 4 bungkus makanan ringan yang sama, dapat diskon 2 dolar, sehingga untuk 4 bungkus kami hanya bayar 6 dolar. Bagaimana dengan telur ayam? Untuk sekotak telur ayam berisi 30 biji, harganya 6 dolar.
Sedangkan untuk satu kardus mis instan (merk Indomie yang ternyata produk asli Indonesia meski dengan tambahan bahasa arab di bungkusnya), Umi mematok harga 11 dolar. “ Tidak bisa turun Umi? Sembilan atau sepuluh dolar saja?”  kataku menawar ketika beli mie instant ini. “ Tidak bisa, ini sudah saya diskon. Khusus untuk Indonesia, sebelas dolar” katanya dengan logat timur tengah yang kental. Akhirnya kami pun beli keperluan kami tersebut meski dalam hati sedikit “menggerutu” karena perbedaannya cukup jauh dengan Indonesia (di Indonesia, untuk satu kardus mie isi 40  bungkus harganya cuma berkisar 40-50 ribu rupiah, sedangkan di Lebanon dengan kurs sekitar 9.500 rupiah untuk satu dolarnya maka akan didapat angka seratus empat ribu lima ratus rupiah, suatu jumlah yang cukup besar, dua kali lipat lebih dengan harga Indonesia).

No comments:

Post a Comment