![]() |
Penulis dengan Umi, pemilik warung langganan prajurit TNI di Naqoura, Lebanon Selatan |
Setelah
kurang lebih 2 minggu di penugasan, aku dan rekan-rekan satu Korimek mencoba
jalan-jalan mencari “makanan ringan” di luar kamp kami. Ini kami lakukan di hari
minggu, setelah pelaksanaan olah raga mandiri. Tempat yang kami tuju adalah
toko kelontong yang menjadi langganan tentara Unifil khususnya dari Indonesia.
Letak toko ini sekitar 2 km dari Kamp Soedirman, Naqoura, Lebanon Selatan.
Satu
hal yang membuat aku heran adalah pemilik toko yang sering dipanggil oleh
rekan-rekan kami “Umi” yang ternyata sedikit banyak tahu tentang penggunaan
bahasa Indonesia. Perempuran setengah baya dengan wajah khas timur tengah ini
sangat familiar dengan tentara Indonesia, termasuk rekan-rekan kami dari Satgas
sebelumnya. Di toko kelontong miliknya
ini tersedia hampir sebagian besar keperluan kami mulai dari peralatan mandi
(sabun, odol dsb), bumbu-bumbu dapur siap saji, makanan ringan hingga
perlengkapan pribadi yang memang kami perlukan di Lebanon.
Dalam
wawancara kecil dengan Umi (dengan bahasa campuran Inggris Indonesia karena ada
kata-kata tertentu yang belum diketahuinya), kedekatan perempuan “sedikit
gemuk” dengan tentara Indonesia ini dikarenakan “keramahtamahan” yang sering
ditunjukkan tentara Indonesia ketika berbelanja di tokonya. Banyak senyum,
banyak ngomong, banyak guyon dan sebagainya, demikian kata Umi. “Orangnya
enak-enak kalau diajak bicara sehingga setiap mereka datang ke sini, saya
selalu melayani mereka dengan baik dan juga ramah. Serta yang penting,
terkadang saya kasih diskon, ini khusus tentara Indonesia “ demikian kata Umi
sembari melayani belanjaan rekan-rekanku satu korimek dengan tetap tidak
meninggalkan keramahtamahannya.
Sebelas
Dolar
Setelah
berbincang sebentar dengan Umi, aku pun mulai berbelanja. Yang aku butuhkan
saat itu termasuk rekan-rekanku adalah beberapa jenis makanan ringan (sejenis
chiki kesukaan anak-anak di Indonesia, permen maupun coklat), telur ayam serta
mis instan. Khusus untuk sebungkus Chiki dengan berat 125 gr (dibungkusnya yang
meriah tertulis Tortilla Chips, Spicy BBQ), Umi mematok harga 2 dolar,
sedangkan bila beli 1 paket berisi 4 bungkus makanan ringan yang sama, dapat
diskon 2 dolar, sehingga untuk 4 bungkus kami hanya bayar 6 dolar. Bagaimana
dengan telur ayam? Untuk sekotak telur ayam berisi 30 biji, harganya 6 dolar.
Sedangkan
untuk satu kardus mis instan (merk Indomie yang ternyata produk asli Indonesia
meski dengan tambahan bahasa arab di bungkusnya), Umi mematok harga 11 dolar. “
Tidak bisa turun Umi? Sembilan atau sepuluh dolar saja?” kataku menawar ketika beli mie instant ini. “
Tidak bisa, ini sudah saya diskon. Khusus untuk Indonesia, sebelas dolar”
katanya dengan logat timur tengah yang kental. Akhirnya kami pun beli keperluan
kami tersebut meski dalam hati sedikit “menggerutu” karena perbedaannya cukup
jauh dengan Indonesia (di Indonesia, untuk satu kardus mie isi 40 bungkus harganya cuma berkisar 40-50 ribu
rupiah, sedangkan di Lebanon dengan kurs sekitar 9.500 rupiah untuk satu dolarnya
maka akan didapat angka seratus empat ribu lima ratus rupiah, suatu jumlah yang
cukup besar, dua kali lipat lebih dengan harga Indonesia).

No comments:
Post a Comment