Tuesday, January 1, 2013

Catatan ke-7 : “Katrok” Lagi


Sebagai lembaga resmi yang merupakan kepanjangan tangan PBB, Unifil yang kini didukung pasukan dari 36 negara termasuk Kontingen Garuda dari Indonesia, tentu memperhatikan seluruh fasilitas dan aset yang ada di Lebanon. Dalam hal kenyamanan bagi seluruh pasukan yang ada di Lebanon misalnya, PBB dalam hal ini Unifil menyediakan fasilitas Korimek lengkap dengan dukungan air panas-dingin yang “tidak pernah habis” untuk keperluan mandi, cuci dan sebagainya.  Dengan fasilitas ini maka di saat musim dingin seperti kali ini, setiap personel Unifil dapat mandi dengan nyaman menggunakan air panas (tentunya tidak terlalu panas, agar badan tidak “melepuh”). Sedangkan sebaliknya di musim panas, setiap personel dapat memanfaatkan air dingin yang tersedia (kalau ada yang mau mandi air dingin).
Fasilitas air panas dan dingin yang disediakan Unifil di setiap Korimek pasukan seperti “prolog” di atas inilah yang akhirnya menjadi salah satu inspirasi dari catatanku yang ketujuh ini. Seperti telah disinggung dalam catatanku sebelumnya, setiap baris korimek di tempat tinggal kami di Soedirman dilengkapi 3 kamar mandi dengan toilet duduk,  satu mesin pemanas air, satu mesin cuci, tiga shower box dengan penutup tirai dan shower tray di bawahnya. Masing-masing shower box ini dilengkapi dengan satu kran putar kiri-kanan yang dapat mengeluarkan air dingin dan  . Fasilitas lain dalam korimek kamar mandi ini adalah satu buah wastafel panjang dengan tiga kran putar kirin kanan. Dari ujung kran-kran yang mengeluarkan air inilah cerita ini dimulai.
Cerita berawal ketika kami baru sampai di Korimek pada 1 Desember 2012 pagi. Saat itu rekanku Sersan “Sarno” berniat mandi untuk  menghilangkan rasa letih dan menyegarkan badan setelah hampir seharian “dihantam” goyangan pesawat Jakarta-Karachi-Beirut dan kendaraan Beirut-Naqoura, ditambah lagi goyangan badan di jalur tanjakan menuju Soedirman Kamp. Beberapa saat setelah berpamitan kepada kami berdua yang satu Korimek, sang Sersan tiba-tiba dengan handuk mandinya kembali ke dalam Korimek. Aku bertanya, “Kok cepat sekali mandinya” tanyaku yang sedang beres-beres perlengkapan pribadi. “ Airnya dingin sekali. Nggak jadi mandi” jawabnya pendek sembari melemparkan handuk ke atas tempat tidurnya. Saat itu memang kondisi cukup dingin. Aku sendiri pasti “ogah” mandi bila menggunakan air dingin. Badanku yang sudah terbungkus baju loreng dan jaket loreng di dalam ruanganpun masih tertembus hawa dingin, apalagi di luar korimek dan diguyur air dingin, sulit membayangkan dinginnya!.
Kejadian itu selanjutnya terlewati dan tidak aku pikirkan. Kami tetap melanjutkan kesibukan masing-masing, menyiapkan dan menata perlengkapan dan pakaian yang akan digunakan sehari-hari di Korimek dan selama penugasan. Esok paginya sekitar jam 7 pagi waktu Lebanon, kami diajak rekan kami dari Satgas lama yang akan kembali ke tanah air untuk makan pagi. Kami bertiga menurut dan mengikuti rekan kami ini menuju ruang makan dengan membawa masing-masing sendok dan piring pinjaman milik rekan kami tadi (katanya di ruang makan tidak tersedia sehingga harus bawa peralatan makan dari korimek masing-masing. Untuk Satgas saat ini ada perubahan di mana peralatan makan sudah tersedia di ruang makan).
Singkat cerita, usai menyantap makanan pertama Kamp Soedirman, kami bertiga kembali ke Korimek dengan membawa piring dan sendok yang masih kotor (wastafel di ruang makan airnya tidak mengalir). Sebelum masuk kamar Korimek, kami bertiga mampir ke kamar mandi korimek yang letaknya berdampingan dengan korimek kamar kami. Sasaran kami adalah wastafel (tempat cuci piring). Temanku yang pertama datang langsung mengambil busa pencuci piring dan mulai membersihkan kotoran yang menempel di atas piring. Temanku yang satu mengikuti, demikian pula aku. Saat membilas piring yang dipenuhi sabun cuci piiring dengan membuka kran wastafel dengan arah ke atas, temanku langsung berteriak” panas…. Airnya panas sekali!”. Temanku yang kedua mencoba membilas piring kotornya dan juga berteriak, “ Iya yo, panas sekali.”. Mereka berdua mencoba berulang-ulang, airnya tetap panas. Aku pun tak ketinggalan mencoba kran yang satunya dengan posisi kran aku naikkan ke atas, ternyata yang keluar airnya tidak terlalu panas. Aku coba putar serong kiri dengan posisin kran tetap ke atas, air yang keluar tidak terlalu panas tapi lama kelamaan sangat panas. Aku coba putar kebalikannya dengan memutar ke serong kanan penuh, air panas tetap keluar beberapa saat tetapi selanjutnya dingin. Di sinilah letak permasalahannya yang selanjutnya aku jelaskan kepada rekan-rekanku.
Dengan adanya kejadian di kamar mandi korimek tersebut, ingatanku seketika melayang ke peristiwa rekanku yang “tidak jadi” mandi pagi karena airnya “sangat dingin”. Aku yakin posisi kran saat itu serong kanan penuh sehingga air yang keluar adalah air dingin. Coba kalau posisi kran diubah serong kiri, pasti yang keluar air yang cukup puanasssssss. Dasar “katrok”, maklum sebagian dari kami termasuk aku sendiri berasal dari kampung nun jauh di Indonesia……………….

2 comments:

  1. Hahaha..
    Lucu ceritanya Pak..
    saya sendiri juga pernah ngalami.. gak berani mandi di hotel karena air nya panas.. ealaah ternyata salah puter kran..
    wkwkwkwk.. maklum baru sekali kalinya nginep di hotel, itu juga di bayari kantor pas ada training

    ReplyDelete
    Replies
    1. He..he..he..he .... maklum pak, sebagian dari kami memang asli "wong ndeso".... terima kasih atensinya.

      Delete