Sunday, January 6, 2013

Catatan ke-9 : Bersyukur Hidup di Indonesia

Pemandangan di salah satu kawasan Lebanon



 Melihat kondisi Lebanon yang sebagian besar berupa dataran yang didominasi oleh bebatuan, aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan YME yang menjadikan aku, keluargaku hidup di Indonesia. Jauh sekali perbedaannya dengan tanah air tercinta yang bernama Indonesia. Memang tidak salah lirik sebuah lagu dari grup musik legendaris Koes Plus yang menggambarkan kesuburan tanah Indonesia, “ …… ikan dan jala cukup menghidupi dirimu. Orang bilang tanah kita, tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman …… “.

Sebagian besar dataran Lebanon yang berbatu

Bagaimana dengan Lebanon? Dari awal perjalanan kami semenjak kaki ini menginjak tanah Lebanon, tepatnya di Beirut, aku yakin “betapa sulitnya” orang hidup di tanah yang cukup tandus ini. Sepanjang perjalanan dari Beirut ke Lebanon, meski sebagai pusat kota dengan gedung-gedung tinggi (dominasi bentuk kotak) tapi kurang tertata rapi karena bongkahan batu-batu gunung yang masih tersisa di hampir di seluruh bagiannya. Apalagi ketika aku dan tim kami melakukan kunjungan di beberapa desa pedalaman, pegunungan batu dengan lembah yang cukup dalam dengan sedikit rumah yang berjejer di kanan kiri jalan utama , rasanya ngeri aku hidup di daerah ini. Aku hanya melihat sebagian dataran-dataran tersebut yang dimanfaatkan untuk perkebunan, apalagi persawahan. Hanya terlihat yang menonjol adalah kebun jeruk, pisang yang juga kurang terawat. Apakah warganya yang malas? Dari penuturan salah seorang Language Assistant di kantor kami, kondisi tanah di Lebanon itulah yang menyebabkan sektor pertanian dan perkebunan “seperti” dilupakan. Hanya tanaman tertentu yang bisa hidup di tanah Lebanon, apalagi karena faktor pengairan yang juga cukup sulit.

Sekilas Tentang Lebanon
Lebanon adalah sebuah negara berbentuk republik di Timur Tengah, sepanjang Laut Tengah dengan total luas 10.452 km2 dengan 1,6 % terdiri dari lautan,. Negara kecil ini berbatasan di barat dengan Laut Tengah (garis pantai sepanjang: 225 kilometer) dan di timur dengan Depresi Suriah-Afrika. Lebanon berbatasan dengan Suriah sepanjang 375 km di utara dan di timur; dengan Israel sepanjang 79 km di selatan. Perbatasan dengan Israel telah disetujui oleh PBB (lihat Garis Biru (Lebanon), meskipun sebongkah tanah kecil disebut Shebaa Farms yang terletak di dataran tinggi Golan diklaim oleh Lebanon namun diduduki oleh Israel, yang mengklaim bahwa tempat itu merupakan tanah Siria. PBB telah mengumumkan secara resmi bahwa wilayah ini bukan merupakan milik Lebanon, namun pejuang Lebanon kadangkala melancarkan serangan terhadap orang Israel yang berada di dalamnya.

Bendera Lebanon

Bendera Lebanon menampilkan sebuah pohon aras berwarna hijau dengan latar belakang putih, diapit oleh dua garis merah horisontal di atas dan bawahnya. Karena keanekaragamannya yang sektarian, Lebanon menganut sebuah sistem politik khusus, yang dikenal sebagai konfesionalisme, yang dimaksudkan untuk membagi-bagi kekuasaan semerata mungkin di antara aliran-aliran agama yang berbeda-beda.
Nama Lebanon ("Lubnān" dalam bahasa Arab standar; "Lebnan" atau "Lebnèn" dalam dialek setempat) berasal dari akar bahasa Semit "LBN", yang terkait dengan sejumlah makna yang berhubungan erat dalam berbagai bahasa, seperti misalya putih dan susu. Ini dianggap sebagai rujukan kepada Gunung Lebanon yang berpuncak salju. Nama ini muncul dalam tiga dari 12 lempengan Epos Gilgames (2900 SM), teks perpustakaan Ebla (2400 SM), dan Alkitab. Kata Lebanon juga disebutkan 71 dalam Perjanjian Lama.
Sebelum Perang Saudara Lebanon (1975-1990), negara ini menikmati ketenangan dan kemakmuran yang relatif, didorong oleh sektor pariwisata, pertanian, dan perbankan dalam ekonominya. Lebanon dianggap sebagai ibukota perbankan di dunia Arab dan umumnya dianggap sebagai "Swiss di Timur Tengah" Karena kekuatan finansialnya, Lebanon juga menarik banyak sekali wisatawan, hingga ibukotanya, Beirut, dirujuk oleh banyak orang sebagai "Parisnya Timur Tengah." 
Usai perang, ada banyak upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian Lebanon dengan membangun kembali infrastruktur nasionalnya. Pada awal 2006, stabilitas yang cukup besar telah tercapai di hampir seluruh negeri, rekonstruksi Beirut hampir selesai, dan semakin banyak wisatawan asing yang datang ke resort-resort Lebanon. Namun, Perang Lebanon 2006 menimbulkan korban sipil dan militer, kerusakan hebat pada infrastruktur sipil, dan pengungsian besar-besaran dari 12 Juli 2006 hingga gencatan senjata diberlakukan pada 14 Agustus 2006. Pada September 2006, pemerintah Lebanon telah memberlakukan rencana pemulihan awal yang ditujukan untuk membangun kembali properti yang dihancurkan oleh serangan-serangan Israel di Beirut, Tirus, dan desa-desa lainnya di Lebanon selatan.
Lebanon dibagi menjadi enam kegubernuran (mohaafazaat, bahasa Arab محافظات —tunggal mohafazah, bahasa Arab محافظة) yang lebih lanjut dibagi ke dalam 25 distrik (aqdya—tunggal: qadaa). Distrik-distrik ini sendiri juga dibagi ke dalam sejumlah munisipal, masing-masing mencakup sekelompok kota atau desa.

Etnik dan Agama
Lebanon terdiri dari beragam grup etnik dan agama yakni Islam, Syi'ah, Druze, Katolik, Maronit, Ortodoks Yunani, Kristen (Koptik), dan lainnya. Secara umum, 55% beragama Islam dengan komposisi (Shia 30-33%, Sunni 18-23%, Druze: 3-5% dan Alawite 1.5%) dan Kristen 45% (Maronite 25-27%, Orthodox 8-10% dan Katolik 4%).
Selain itu,  tercatat ada kelompok minoritas kecil Yahudi yang tinggal di Beirut pusat, Byblos, dan Bhamdoun. Lebanon juga mempunyai sebuah komunitas kecil (kurang dari 1%) Kurdi (juga dikenal sebagai Mhallami atau Mardinli) yang umumnya bermigrasi dari Suriah timur laut dan Turki tenggara, diperkirakan jumlahnya antara 75.000 hingga 100.000 orang, yang termasuk dalam kelompok Sunni. Dalam tahun-tahun belakangan ini mereka memperoleh kewarganegaraan Lebanon sehingga menguntungkan kelompok Muslim dan Sunni khususnya. Selain itu, ada pula ribuan suku Beduin Arab di Bekaa dan di wilayah Wadi Khaled, yang kesemuanya tergolong Sunni, yang juga mendapatkan kewarganegaraan Lebanon. Ada sekitar 15 juta orang keturunan Lebanon, terutama Kristen, menyebar di seluruh dunia yang terbanyak adalah di Brasil. Argentina, Australia, Kanada, Kolombia, Perancis, Britania Raya, Meksiko, Venezuela dan Amerika Serikat juga memiliki komunitas Lebanon yang besar. Sedangkan ada sekitar 394.532 pengungsi Palestina telah terdaftar di Lebanon pada United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) sejak 1948.

Pembagian Jabatan
Lebanon adalah sebuah republik demokratis parlementer, yang memberlakukan sebuah sistem khusus yang dikenal sebagai konfesionalisme. Sistem ini, yang dimaksudkan untuk menjamin bahwa konflik sektarian akan dapat dihindari, berupaya untuk secara adil mewakili distribusi demografis aliran-aliran keagamaan dalam pemerintahan. Karena itu, jabatan-jabatan tinggi dalam pemerintahan disediakan untuk anggota-anggota kelompok-kelompok keagamaan tertentu. Misalnya, Presiden Lebanon, haruslah seorang Kristen Katolik Maronit, Perdana Menteri seorang Muslim Sunni, Wakil Perdana Menteri seorang Kristen Ortodoks, dan Ketua Parlemen seorang Muslim Syi'ah.  Pembagian ini merupakan hasil dari persetujuan tidak tertulis tahun 1943 antara Presiden (Maronit) dan Perdana Menteri waktu itu (Sunni) dan baru diformalkan dengan konstitusi pada tahun 1990. Kecenderungan ini berlanjut dalam distribusi ke-128 kursi parlemen yang dibagi dua antara Muslim dan Kristen. Sebelum 1990, rasionya adalah 6:5, yang menguntungkan orang Kristen. Namun, Persetujuan Taif, yang mengakhiri perang saudara 1975-1990, menyesuaikan rasio itu untuk memberikan representasi yang sama bagi para pemeluk dari kedua agama tersebut.
Demikian sekilas tentang Lebanon yang menjadi daerah penugasanku selama satu tahun ke depan. Semoga aku dapat “betah “ hidup di negara “gersang” dan “menikmati” tugas perdamaian yang dipercayakan bangsa dan negara dengan hanya satu kata “sukses, aman dan selamat hingga kembali ke tanah air”. Amin.

3 comments: