Sunday, January 6, 2013

Catatan ke-13 : “Ngacir” dari Toko



Beberapa toko makanan, mainan maupun pakaian Lebanon, ternyata tidak semuanya menampilkan “keramahtamahan” khas Lebanon seperti yang ditunjukkan si Umi dengan warungnya yang menjadi tempat sasaran belanja tentara Indonesia. Di beberapa tempat  terkadang dijumpai beberapa pelayan toko yang kurang ramah dan simpatik sehingga kami harus berhati-hati “menghindar” dan tidak harus “dipaksa “ untuk membeli.
Pengalaman kurang mengenakkan ini pernah aku alami ketika pada minggu ketiga, aku dan rekan-rekan kembali “refreshing” menyusuri jalan-jalan di Naqoura, Lebanon Selatan. Setelah menyambangi toko kelontong milik Umi yang menjadi langganan tentara Indonesia, kami berlima saat itu bergeser mencari-cari toko yang menjual peralatan militer termasuk seragam dan kaos oblong khas militer. Dan tempat ini kami jumpai tidak berapa jauh dari toko Umi.
Di toko kecil yang berukuran sekitar 3 kali 6 meter ini, kami melihat sejumlah kebutuhan perlengkapan militer mulai dari tas-tas tempur, tas punggung hingga pakaian olah raga. Di sudut kanan toko, menempel di dinding, tersusun rapi secara bertingkat beberapa model kaos oblong bertuliskan Unifil dengan logo khasnya yang biru. Warnanya bervariasi mulai dari putih, hitam hingga biru. Saat itu rekan-rekanku sedang sibuk melihat-lihat tas punggung besar yang modelnya cukup menarik, dengan harga yang aku dengar sekitar 250-300 dolar. Aku lebih tertarik melihat kaos-kaos ini yang kata rekanku yang pertama kali masuk, harganya berkisar 4 hingga 5 dolar. Aku coba beberapa model kaos tersebut sambil meneliti kualitas bahannya.  Saat itu aku berpikir, bagaimana bila kaos ini aku pesan untuk “oleh-oleh” ke Indonesia, tentunya dengan desain yang aku inginkan.
Dengan pikiran tersebut aku segera mengambil satu kaos berwarna putih dengan kualitas yang cukup baik. Aku datangi sang penjual yang aku taksir umurnya tidak lebih dari 30 tahun dengan perawakan sedang, berkumis dan berjenggot tipis khas orang timur tengah. “I’m sorry sir. How much for this shirt if I wiil be order one hundred pieces” tanyaku sambil menunjukkan kaos oblong tersebut kepada sang penjual. “ Anybody here can speak engglish?!!” jawabnya agak keras membuat aku tersentak kaget. Ini orang gendeng apa waras!! Demikian dalam hati aku berpikir. Aku tanya dengan bahasan Inggris (meski bahasa Inggrisku kurang sempurna, namun aku yakin semua orang mengerti pertanyaanku tersebut).   Buy one or one hundred, its same!!” katanya melanjutkan dengan suara yang masih terlalu keras di telingaku. “ But if you buy three, only ten dolar!!” lanjutnya  berucap sambil mengambil 3 potong kaos dengan sikap dan nada kurang simpatik. Aku tambah kaget. Benar-benar ini orang “gendeng, tidak waras”. Tadi ia bilang beli 1 atau 100 harganya sama saja, tidak ada diskon, tetapi kenapa kalau beli 3 potong yang seharusnya 12 dolar justru mendapat diskon dan hanya bayar 10 dolar! Pikirku yang sudah mulai kurang bersimpati dengan sang pejual “gendeng” ini.
Dalam kondisi tersebut tanpa ba-bi-bu, tanpa mengucapkan “Thank You verry much, see you next time” yang menjadi kebiasaanku kalau mengakhiri perjumpaan dengan seseorang, aku langsung “ngacir” dengan hati mendongkol. Meski demikian sampai saat ini aku masih mencari-cari titik kesalahan komunikasi kami, bahasa inggris ku yang kurang “beres” ataukah karena pribadi si penjual yang memang kurang simpatik. Dari hasil diskusi dengan beberapa rekanku yang kebetulan menjadi saksi dialog kami, akhirnya diambil kesimpulan, pertanyaanku yang mau pesan sebanyak 100 potong kaos mungkin dianggap main-main karena kemungkinan belum pernah ada tentara Unifil yang beli sebanyak itu. Kesimpulan kedua, suasana hatinya sedang kurang enak (entah habis berantem sama isteri atau lain-lain). Kesimpulan ketiga, ia menyangka kami cuma mampir sekedar “tanya-tanya”, tidak bakalan beli (melihat pengalaman pengunjung sebelumnya). Dari beberapa kesimpulan tersebut akhirnya kami sepakat yakin bahwa tokonya suatu saat pasti akan ditutup, karena jarang pembeli, apabila model pelayanannya tidak diubah (bukannya kami berdoa tidak baik).

No comments:

Post a Comment