Beberapa
toko makanan, mainan maupun pakaian Lebanon, ternyata tidak semuanya
menampilkan “keramahtamahan” khas Lebanon seperti yang ditunjukkan si Umi
dengan warungnya yang menjadi tempat sasaran belanja tentara Indonesia. Di
beberapa tempat terkadang dijumpai
beberapa pelayan toko yang kurang ramah dan simpatik sehingga kami harus
berhati-hati “menghindar” dan tidak harus “dipaksa “ untuk membeli.
Pengalaman
kurang mengenakkan ini pernah aku alami ketika pada minggu ketiga, aku dan
rekan-rekan kembali “refreshing” menyusuri jalan-jalan di Naqoura, Lebanon Selatan. Setelah
menyambangi toko kelontong milik Umi yang menjadi langganan tentara Indonesia,
kami berlima saat itu bergeser mencari-cari toko yang menjual peralatan militer
termasuk seragam dan kaos oblong khas militer. Dan tempat ini kami jumpai tidak
berapa jauh dari toko Umi.
Di
toko kecil yang berukuran sekitar 3 kali 6 meter ini, kami melihat sejumlah
kebutuhan perlengkapan militer mulai dari tas-tas tempur, tas punggung hingga
pakaian olah raga. Di sudut kanan toko, menempel di dinding, tersusun rapi secara
bertingkat beberapa model kaos oblong bertuliskan Unifil dengan logo khasnya
yang biru. Warnanya bervariasi mulai dari putih, hitam hingga biru. Saat itu
rekan-rekanku sedang sibuk melihat-lihat tas punggung besar yang modelnya cukup
menarik, dengan harga yang aku dengar sekitar 250-300 dolar. Aku lebih tertarik
melihat kaos-kaos ini yang kata rekanku yang pertama kali masuk, harganya
berkisar 4 hingga 5 dolar. Aku coba beberapa model kaos tersebut sambil
meneliti kualitas bahannya. Saat itu aku
berpikir, bagaimana bila kaos ini aku pesan untuk “oleh-oleh” ke Indonesia,
tentunya dengan desain yang aku inginkan.
Dengan
pikiran tersebut aku segera mengambil satu kaos berwarna putih dengan kualitas
yang cukup baik. Aku datangi sang penjual yang aku taksir umurnya tidak lebih
dari 30 tahun dengan perawakan sedang, berkumis dan berjenggot tipis khas orang
timur tengah. “I’m sorry sir. How much for this shirt if I wiil be
order one hundred pieces” tanyaku sambil menunjukkan kaos oblong tersebut kepada
sang penjual. “ Anybody here can speak
engglish?!!” jawabnya agak keras membuat aku tersentak kaget. Ini orang
gendeng apa waras!! Demikian dalam hati aku berpikir. Aku tanya dengan bahasan
Inggris (meski bahasa Inggrisku kurang sempurna, namun aku yakin semua orang
mengerti pertanyaanku tersebut). “ Buy one or one hundred, its same!!”
katanya melanjutkan dengan suara yang masih terlalu keras di telingaku. “ But if you buy three, only ten dolar!!”
lanjutnya berucap sambil mengambil 3
potong kaos dengan sikap dan nada kurang simpatik. Aku tambah kaget.
Benar-benar ini orang “gendeng, tidak waras”. Tadi ia bilang beli 1 atau 100
harganya sama saja, tidak ada diskon, tetapi kenapa kalau beli 3 potong yang
seharusnya 12 dolar justru mendapat diskon dan hanya bayar 10
dolar! Pikirku yang sudah mulai kurang bersimpati dengan sang pejual “gendeng”
ini.
Dalam
kondisi tersebut tanpa ba-bi-bu, tanpa mengucapkan “Thank You verry much, see
you next time” yang menjadi kebiasaanku kalau mengakhiri perjumpaan dengan
seseorang, aku langsung “ngacir” dengan hati mendongkol. Meski demikian sampai
saat ini aku masih mencari-cari titik kesalahan komunikasi kami, bahasa inggris
ku yang kurang “beres” ataukah karena pribadi si penjual yang memang kurang
simpatik. Dari hasil diskusi dengan beberapa rekanku yang kebetulan menjadi
saksi dialog kami, akhirnya diambil kesimpulan, pertanyaanku yang mau pesan
sebanyak 100 potong kaos mungkin dianggap main-main karena kemungkinan belum
pernah ada tentara Unifil yang beli sebanyak itu. Kesimpulan kedua, suasana
hatinya sedang kurang enak (entah habis berantem sama isteri atau lain-lain).
Kesimpulan ketiga, ia menyangka kami cuma mampir sekedar “tanya-tanya”, tidak
bakalan beli (melihat pengalaman pengunjung sebelumnya). Dari beberapa
kesimpulan tersebut akhirnya kami sepakat yakin bahwa tokonya suatu saat pasti
akan ditutup, karena jarang pembeli, apabila model pelayanannya tidak diubah
(bukannya kami berdoa tidak baik).
No comments:
Post a Comment