![]() |
Ayam Kalkun siap potong |
Menurut beberapa sumber, “Kalkun “ atau
ayam kalkun adalah sebutan untuk
dua spesies burung
berukuran besar dari ordo Galliformes genus Meleagris. Kalkun
betina lebih kecil dan warna bulu kurang berwarna-warni dibandingkan kalkun
jantan. Sewaktu berada di alam bebas, kalkun mudah dikenali dari rentang
sayapnya yang mencapai 1,5-1,8 meter. Spesies kalkun asal Amerika Utara
disebut M. gallopavo sedangkan kalkun asal Amerika Tengah disebut M.
ocellata.
Kalkun hasil domestikasi
yang diternakkan untuk diambil dagingnya berasal dari spesies M. gallopavo
yang juga dikenal sebagai kalkun liar (Wild Turkey). Sedangkan spesies M.
ocellata kemungkinan adalah hasil domestikasi
suku Maya.
Ada orang yang berpendapat kalkun yang diternakkan untuk diambil dagingnya
berasal dari kalkun suku Maya. Alasannya kalkun suku Maya lebih penurut dari
kalkun liar asal Amerika Utara, tapi teori ini tidak didukung bukti morfologis.
Kalkun hasil domestikasi mempunyai pial (bagian bergelambir di bawah paruh)
sebagai bukti bahwa kalkun negeri berasal dari kalkun liar M. gallopavo. Kalkun
M. ocellata yang dipelihara orang Maya tidak memiliki pial. Kalkun liar
merupakan hewan buruan di Amerika Utara, tapi tidak seperti kalkun negeri,
kalkun liar gesit dan pandai terbang.![]() |
Suasana ruang makan saat hari libur |
Dulu semasa aku kecil, aku pernah
memiliki seekor ayam kalkun yang menjadi salah satu binatang peliharaan
kesayanganku, selain burung merpati. Ayam kalkunku waktu itu sudah cukup besar
dan aku paling senang dengan bunyinya yang terdengar lucu, “ kluk-kluk-kluk….”.
Aku teringat ketika aku “menangis” melihat ayam kalkun kesayanganku akhirnya
dipotong karena sekian lama “sulit” untuk berkembang biak (karena tidak ada
pasangannya). Aku tidak tega dan tidak mau memakan dagingnya, saking kasihan. Tetapi
berapa puluh tahun kemudian, ketika kenangan itu hampir sirna dari pikiranku,
aku justru “dipaksa” menyantap “daging ayam kalkun”. Dan inilah menu harian
minggu pertama ketika aku bertugas di Lebanon. Hampir setiap hari, aku ketemu
dengan daging ayam jenis kalkun ini, kalau tidak menu makan pagi, makan siang
atau terkadang makan malam secara bergantian.
Karena seringnya kami (terutama
untuk gelombang pertama) disuguhi dengan menu ayam kalkun ini maka akhirnya
sebagian besar dari kami menjadi “bosan”. “ Lagi-lagi Kalkun, lagi-lagi kalkun!
“ demikian celoteh rekan-rekan kami. Bahkan sebagian lagi menyebut “menu
andalan daging tanpa tulang tanpa garam yang membosankan!”.
![]() |
Menu opor ayam Kalkun ala Soedirman Kamp |
Sebenarnya, di beberapa negara, menu daging ayam
kalkun ini termasuk menu spesial, bahkan di Indonesia, ayam jenis ini per
kilonya mencapai 40 ribu rupiah. Kelebihan dari daging ayam kalkun ini karena tekstur
dagingnya lebih bagus ketimbang ayam. Dan juga karena kandungan proteinnya
tinggi. Kandungan lemaknya rendah. Lemaknya tergolong tidak jenuh dan lebih
berguna seperti Omega-6 dan Omega-9. “Kandungan Zn-nya dapat meningkatkan
vitalitas,” Dengan kandungan protein
tetap tinggi (20-24%), berlemak rendah (4-7%) dan kolesterolnya hampir 0%,
dagingnya menjadi lebih lezat dan sehat alami dan aman dikonsumsi. Umumnya ayam
jenis ini dijual dalam bentuk hidup/bibit, sudah dipotong/karkas dan siap saji (kalkun
guling/panggang, sate steak dll).
Permasalahannya, apa yang salah dengan menu daging
ayam kalkun ini, sehingga sebagian besar dari kami cenderung cepat bosan?
Selidik punya selidik, ternyata dari “teknik” pengolahannya yang kurang
bervariasi, padahal untuk yang satu ini dapat dibuat menu lain selain “opor ….
Opor…. dan opor kalkun lagi!”.



No comments:
Post a Comment