Tuesday, January 1, 2013

Catatan ke-8 : Menu Ayam Kalkun



Ayam Kalkun siap potong

Menurut beberapa sumber, “Kalkun “ atau ayam kalkun adalah sebutan untuk dua spesies burung berukuran besar dari ordo Galliformes genus Meleagris. Kalkun betina lebih kecil dan warna bulu kurang berwarna-warni dibandingkan kalkun jantan. Sewaktu berada di alam bebas, kalkun mudah dikenali dari rentang sayapnya yang mencapai 1,5-1,8 meter. Spesies kalkun asal Amerika Utara disebut M. gallopavo sedangkan kalkun asal Amerika Tengah disebut M. ocellata.
 Kalkun hasil domestikasi yang diternakkan untuk diambil dagingnya berasal dari spesies M. gallopavo yang juga dikenal sebagai kalkun liar (Wild Turkey). Sedangkan spesies M. ocellata kemungkinan adalah hasil domestikasi suku Maya. Ada orang yang berpendapat kalkun yang diternakkan untuk diambil dagingnya berasal dari kalkun suku Maya. Alasannya kalkun suku Maya lebih penurut dari kalkun liar asal Amerika Utara, tapi teori ini tidak didukung bukti morfologis. Kalkun hasil domestikasi mempunyai pial (bagian bergelambir di bawah paruh) sebagai bukti bahwa kalkun negeri berasal dari kalkun liar M. gallopavo. Kalkun M. ocellata yang dipelihara orang Maya tidak memiliki pial. Kalkun liar merupakan hewan buruan di Amerika Utara, tapi tidak seperti kalkun negeri, kalkun liar gesit dan pandai terbang.

Suasana ruang makan saat hari libur

Dulu semasa aku kecil, aku pernah memiliki seekor ayam kalkun yang menjadi salah satu binatang peliharaan kesayanganku, selain burung merpati. Ayam kalkunku waktu itu sudah cukup besar dan aku paling senang dengan bunyinya yang terdengar lucu, “ kluk-kluk-kluk….”. Aku teringat ketika aku “menangis” melihat ayam kalkun kesayanganku akhirnya dipotong karena sekian lama “sulit” untuk berkembang biak (karena tidak ada pasangannya). Aku tidak tega dan tidak mau memakan dagingnya, saking kasihan. Tetapi berapa puluh tahun kemudian, ketika kenangan itu hampir sirna dari pikiranku, aku justru “dipaksa” menyantap “daging ayam kalkun”. Dan inilah menu harian minggu pertama ketika aku bertugas di Lebanon. Hampir setiap hari, aku ketemu dengan daging ayam jenis kalkun ini, kalau tidak menu makan pagi, makan siang atau terkadang makan malam secara bergantian.
Karena seringnya kami (terutama untuk gelombang pertama) disuguhi dengan menu ayam kalkun ini maka akhirnya sebagian besar dari kami menjadi “bosan”. “ Lagi-lagi Kalkun, lagi-lagi kalkun! “ demikian celoteh rekan-rekan kami. Bahkan sebagian lagi menyebut “menu andalan daging tanpa tulang tanpa garam yang membosankan!”.

Menu opor ayam Kalkun ala Soedirman Kamp

Sebenarnya, di beberapa negara, menu daging ayam kalkun ini termasuk menu spesial, bahkan di Indonesia, ayam jenis ini per kilonya mencapai 40 ribu rupiah. Kelebihan dari daging ayam kalkun ini karena tekstur dagingnya lebih bagus ketimbang ayam. Dan juga karena kandungan proteinnya tinggi. Kandungan lemaknya rendah. Lemaknya tergolong tidak jenuh dan lebih berguna seperti Omega-6 dan Omega-9. “Kandungan Zn-nya dapat meningkatkan vitalitas,”  Dengan kandungan protein tetap tinggi (20-24%), berlemak rendah (4-7%) dan kolesterolnya hampir 0%, dagingnya menjadi lebih lezat dan sehat alami dan aman dikonsumsi. Umumnya ayam jenis ini dijual dalam bentuk hidup/bibit, sudah dipotong/karkas dan siap saji (kalkun guling/panggang, sate steak dll).
Permasalahannya, apa yang salah dengan menu daging ayam kalkun ini, sehingga sebagian besar dari kami cenderung cepat bosan? Selidik punya selidik, ternyata dari “teknik” pengolahannya yang kurang bervariasi, padahal untuk yang satu ini dapat dibuat menu lain selain “opor …. Opor…. dan opor kalkun lagi!”.

No comments:

Post a Comment