Setelah menempuh
perjalanan sekitar dua jam, pada pukul 01.45 LT besi bulat panjang yang bisa terbang berwana
putih dengan tulisan Qatar di bodi kanan kirinya itu landing dengan mulus di landasan
pacu King Abdul Aziz International
Airport, Jeddah, Arab Saudi. Aku dan 45 orang rekan Satgas lainnya segera berkemas
dan keluar dari pesawat melalui tangga yang telah disiapkan dan segera menaiki
mobil jemputan bandara.
Setelah
berputar-putar sekitar sepuluh menit menapaki jalanan mulus di area bandara,
mobil jemputan kami pun tiba di international
arrival flight status. Di tempat ini aku dan rekan-rekanku sempat kaget
melihat ratusan penumpang yang sudah mengantri di depan loket-loket pengecekan visa. Mereka ini didominasi oleh kaum perempuan “berkulit
gelap” dengan balutan baju berkerudung dengan warna yang mencolok. Sebagian
dari mereka mengantri giliran pengecekan, sebagian duduk sembari ngobrol dengan
rekannya, dan sebagian lagi tertidur di atas lantai keramik. Sekilas ada rasa
kasihan dalam hatiku melihat kondisi mereka dalam situasi antrian seperti itu.
Ketika aku tanya seorang di antara mereka yang sedang duduk-duduk dengan
beberapa temannya, ia mengatakan sudah mengantri sekitar dua jam, tetapi
antrian tetap penuh. Waktu yang cukup lama dan aku rasa sangat membosankan,
apalagi untuk perempuan-perempuan yang sebagian besar datang dari benua hitam
Afrika tersebut.
Aku tidak berpikir lebih lama lagi tentang kondisi mereka, ketika
seorang petugas didampingi seorang guide yang ternyata sudah menunggu kami, memanggil
rombonganku untuk masuk ke pintu khusus yang baru saja dibuka. Aku dan
rombonganku pun segera bergegas ke pintu paling kiri sesuai arahan sang petugas
tadi. Puluhan penumpang selain rombonganku pun seketika ikut bergabung dengan
kami mengantri di jalur yang baru dibuka. Tetapi mereka ini akhirnya
dikeluarkan dari antrean kami oleh seorang petugas, “Maaf, ini pintu khusus
diplomat!” demikian petugas tersebut memberi pengertian kepada puluhan
penumpang lain selain rombongan kami dengan bahasa Inggris dengan logat Timur
Tengah, yang selanjutnya dimengerti dengan baik oleh mereka sehingga akhirnya
mereka keluar dari antrean kami.
Melewati pintu khusus ini aku dan juga mungkin rekanku sedikit
berbangga. Berbekalkan pasport dinas berwana hijau gelap dengan status prajurit
UN yang sedang bertugas di Lebanon, kami dikategorikan sebagai diplomat yang
memiliki pintu khusus dengan tulisan “Diplomat” di gerbang pemeriksaan visa.
Aku membayangkan berapa jam waktu tunggu yang dibutuhkan apabila mengikuti
antrian penumpang reguler? 2-3 jam lagi? Jelas akan sangat membosankan. Aku yakin
ratusan pasang mata yang sudah mengantri berjam-jam, mungkin sedikit “ngiri”
melihat rombonganku yang “sedikit distimewakan” dengan penumpang lainnya. “Kok
enak sekali, baru datang, langsung dilayani!” mungkin demikianlah kata hati
mereka.
Setelah menunjukkan pasport/ visa disertai Unifil ID, aku yang
berada di antrian paling belakang akhirnya keluar dari pintu pemeriksaan dan
selanjutnya bergabung dengan rekan-rekan lainnya menuju tempat parkir mobil
penjemput yang jaraknya sekitar 30 m. Di tempat ini sebuah bus bus besar berAC
sudah menunggu dan siap mengantar kami ke Madinah. Dan kami masuk ke bus ini
yang selanjutnya “tancap gas” menuju ke Madinah.
***

di Saudi Arabia memang urusan Imigrasi di bandara sangat bagus, bahkan selain memberikan jalur khusus buat para Diplomat juga menyediakan jalus Khusus buat pribumi orang saudi sendiri, berbeda sekali dengan pelayanan di Negeri kita, di bandara Indonesia Anak Negeri sendiri menjadi masyarakat kelas dua dan memberikan jalus khusus buat bule-bule di Bandara kedatangan International....
ReplyDeleteBetul, sejauh pengamatan saya urusan imigrasi di bandara King Abdul Azis cukup bagus. Khusus untuk jalur diplomat di beberapa bandara internasional juga menyediakan jalur ini seperti di Rafic Hariri International Airport, Beirut, Lebanon disiapkan gate (jalur) untuk UN/ Diplomate. Memang harus ada "sedikit" pembenahan untuk pelayanan di bandara-bandara yang ada di Indonesia. Tks atas atensinya.
Delete